"Ketahuilah Radini, mulai sekarang kamu adalah pengikutku! tidak ada yang bisa memutuskan tali perjanjian ini dan aku jamin hidupmu akan sejahtera dan kamu akan menjadi perempuan paling di hormati di tempat ini"
Seorang perempuan sedang bersimpuh di depan cermin dalam ruangan yang seluruhnya berwarna merah darah, di sekelilingnya ada banyak lilin yang di buat melingkari dirinya.
Dia adalah Radini Prastiwi Sukarna seorang perempuan berusia tiga puluh tahun dan merupakan seorang keturunan bangsawan yang di hormati di kampung Curug, namanya bahkan mampu bersanding dengan nama nama besar para orang terpandang di kampung yang begitu luas itu.
Hartanya juga tak kalah banyak dengan harta milik Bintang Darmawan dan Galuh Raharja di kampung itu, Radini adalah pengusaha perhiasan emas dan juga perkebunan yang di hormati di kampung itu sekaligus di takuti, karena Radini yang masih lajang di usianya itu sama sekali tidak segan segan meludahi laki laki yang datang untuk melamarnya.
"Ingat baik baik Radini, aku akan menagih janjimu dan jangan pernah mencoba untuk lepas dariku karena itu tidak akan mungkin! perjanjian sudah di buat dan kalau kamu ingkar, nyawamu dan seluruh keturunan Sukarna terutama keturunanmu akan aku lenyapkan!" ucap sosok bertanduk yang memiliki tubuh berwarna hitam menyeringai ke arah Radini.
"Baik tuanku! hanya engkau sesembahan ku dan tiada yang lebih agung dan berkuasa di banding engkau" ucap Radini bersujud di depan cermin yang merupakan tempat tinggal Iblis yang dia sembah.
"Katakan apa yang kamu inginkan?" tanya iblis itu
"Tanah Darmawan tuanku, tanah itu, aku menginginkannya" jawab Radini
"Hahahaha... kamu memilih sesuatu yang salah Radini, kalau kamu menginginkan tanah itu maka taklukkan dulu pemiliknya, karena tanah itu di lindungi sosok yang tak mudah untuk di kalahkan meskipun kamu bisa bebas keluar masuk area tanah itu tanpa kepanasan seperti penyembah iblis lain" ucap Iblis itu
"Mereka bahkan tidak menyadari kalau aku pemuja iblis" ucap Radini
"Dekati anaknya dan jadilah pengendali untuk keluarga itu, sesatkan mereka dan aku akan memberikan semua yang kamu inginkan" ucap Iblis itu tertawa
"Baik tuanku, targetku selanjutnya adalah... Dirga Bintang Darmawan" jawab Radini
Dirga Bintang Darmawan merupakan saudara kembar dari Delisha Bintang Darmawan, adik dari Dimas Darmawan yang merupakan putra pertama Bintang Darmawan.
Keluarga Darmawan sama berpengaruhnya dengan keluarga Sukarna dan Raharja karena Darmawan memiliki banyak tanah peninggalan Bagaskara Darmawan dan juga beberapa aset lain yang di kembangkan Bintang dan Dimas seperti bengkel dan juga sebuah rumah sakit yang didirikan oleh Bintang, bekerja sama dengan besannya Galuh Raharja dan Zaki Alamsyah Smith yang merupakan mertua dari Delisha putri Bintang.
Radini keluar dari ruangan itu setelah menaburkan kembang tujuh rupa dan minyak kelapa di setiap sudut ruangan itu. Radini juga mengunci kembali ruangannya supaya tidak ada siapapun yang masuk karena hanya dirinya yang boleh ke sana setiap tiga bulan sekali untuk melayani iblis sesembahannya yang selama sepuluh tahun ini memberikan banyak kekayaan untuk dirinya dan keluarganya.
Radini bukan tanpa alasan menyembah iblis itu, dia adalah keturunan ke empat dari keluarganya yang di pilih untuk menjadi pengantin Iblis setelah berusia dua puluh tahun dan Radini menerima tanggung jawab itu setelah dia sakit hati pada seorang laki laki yang sudah meninggalkan dia dalam keadaan hamil, bahkan bayi yang dia kandung dia tumbalkan untuk iblis tersebut.
"Sumantri! cari tahu di mana Dirga putra dari Bintang Darmawan bekerja" perintah Radini
"Baik nyai, apa ada yang lain?" tanya Sumantri yang merupakan orang kepercayaan Radini
"Untuk sementara hanya itu, selebihnya biar aku yang mengurusnya" jawab Radini
"Baik nyai" jawabnya menunduk sopan.
•••••••••••••
Di kediaman Bintang Darmawan.
"Hantcim!"
"Yarhamukallah" ucap Bintang saat Dirga yang sudah pulang dari pesantren satu bulan lalu bersin.
"Yahdikumullah"
"Katanya kalau bersin itu ada yang membicarakan kita" ucap Dimas
"Mitos" ucap Dirga terkekeh
"Pa, lihat Dirga kita setelah bertahun tahun tinggal di pesantren rasanya aneh ya" ungkap Dimas
"Ko aneh?" tanya Bintang
"Aneh pa, soalnya Dimas biasa lihat si Dirga yang punya dua istri di kampung halaman Sigit" jawab Dimas terkekeh.
"Dirga yang ini beda kak, Dirga ini mah setia, bahkan pacaran juga belum pernah" ucap Dirga
"Kamu sudah tiga puluh tujuh tahun loh nak, cepat cari jodoh" ucap Silvia
"Biar Abah yai Adrian yang mencarikan ma, katanya sedang di cari yang cocok" jawab Dirga
"Kenapa tidak dengan Khanza saja pa, kan Khanza sudah delapan belas tahun" ucap Dimas
"Dia mau memangnya sama adik kamu yang sudah tua ini?" tanya Bintang
"Iya pa, Khanza itu di taksir banyak laki laki di kampus, Sakti juga suka dia" ucap Ardana putra kedua Dimas yang sudah berusia dua puluh tahun.
"Sakti bukannya suka sama Ayana ya?" tanya Dimas meledek.
"Jangan mulai pa, Ayana sedang fokus sarapan" gerutu Ayana adik kembar Ardana.
"Sama adiknya kak Gerhana saja pa, cocok usianya juga sudah dua puluh tiga tahun" ucap Bimantara putra pertama Dimas yang sudah berusia dua puluh tiga tahun.
"Cukup, Om akan menikah dengan pilihan Abah yai, sudah tidak ada perdebatan lagi, titik" ucap Dirga tegas
"Kenapa pulang kalau maunya menikah dengan pilihan Abah yai Adrian?" tanya Dimas
"Justru Dirga pulang juga di minta Abah yai" jawab Dirga
"Pasti ada tugas itu kalau di suruh pulang, jangan jangan sebenarnya Dirga ini sudah menikah dan istrinya di sembunyikan, seperti di drama drama itu, ku sembunyikan istriku dari keluargaku karena dia miskin" celetuk Sahara yang tiba tiba ada di samping Dirga.
"Iya, aku sudah menikah tapi istriku selingkuh dan punya suami empat, namanya Sahara dan dia sudah punya anak tiga" jawab Dirga membuat Sahara tersipu malu.
"Hihihi... Sahara salting parah!" pekik Sahara terbang mengelilingi ruang makan rumah Bintang.
"Benar benar Sahara ini, Sahara memangnya kamu tidak ke bengkel? Di bengkel tidak ada yang menjaga" ucap Dimas.
"Sahara bosan jaga bengkel, maunya jaga hatinya Dirga saja" jawab Sahara kembali tertawa membuat Bintang terkekeh.
"Rayuannya sudah bukan rayuan pulau kelapa lagi, Sahara sudah naik tingkat jadi ahli merayu paling top di dunia jin" ucap Bintang.
"Cah Bagus benar, Sahara memang tidak terkalahkan, Sahara yang terbaik dan yang paling cantik" jawab Sahara
"Yang paling GeEr an dan yang paling gampang salting juga" ledek Dimas
"Benar sekali" jawab Ardana dan Ayana menaikkan jempol tangannya.
"Pagi kak Sigit" sapa Dirga yang ikut bersama Bintang ke sawah yang hari itu sudah mulai panen.
"Pagi juga Dirga, sudah mulai nyaman ke sawah?" ledek Sigit karena terakhir saat ikut Bintang, Dirga terpeleset dan jatuh ke dalam lumpur membuat bajunya kotor semua.
Dirga hanya tersenyum dia memang lebih terbiasa mengajar para santri di pondok di banding ke sawah ataupun ke kebun meskipun di tempat Adrian juga banyak sawah dan kebun, tapi memang Dirga hanya fokus ke pendidikan agama yang sudah dia cintai sejak dia dan Delisha pesantren di tempat itu bersama Ghafar dan Ghifari.
"Sudah lebih ahli sekarang kak" jawab Dirga
"Apa padi padi kita terserang hama tikus seperti padi para warga?" tanya Bintang yang menyerahkan semua urusan kebun dan sawah miliknya pada Sigit dan Herman.
"Alhamdulillah tidak Om, hasil panen di sawah Om dan Om Galuh selalu bagus dan hasilnya selalu meningkat setiap kali panen" jawab Sigit
"Tapi ya itu...."
"Ya itu apa?" tanya Bintang
"Ada yang menyebarkan gosip kalau sawah Om Bintang dan Om Galuh itu pakai pesugihan supaya tidak kena hama tikus ataupun yang lain, dan setiap ada pekerja di sini yang sakit sering di kaitkan dengan pesugihan itu" jawab Sigit
"Itu kan memang sudah terjadi sejak dulu, tapi mereka tidak pernah bisa membuktikan pesugihan apa yang aku lakukan, jika tanah ini subur, itu memang karena kita mengurusnya dengan baik dan tahu kapan harus menanam padi dan kapan harus di ganti dengan tanaman lain" jawab Bintang
"Mungkin mereka lupa pa kalau papa ini sarjana pertanian" ucap Dirga
"Iya, tapi anak anak papa tidak ada yang kuliah di jurusan pertanian" keluh Bintang
"Memangnya Bimantara tidak termasuk ya pa, dia juga kan kuliah di jurusan pertanian dan sudah lulus" ucap Dirga
"Bima mah cucu papa" jawab Bintang
"Yang penting kan ada keturunan Darmawan yang melanjutkan ritual keluarga" jawab Dirga terkekeh.
"Ritual keluarga, kamu pikir papa ini pemuja iblis yang harus melakukan ritual dan harus ada keluarga yang meneruskan nya" gerutu Bintang
"Hihihi... bicara soal ritual, Sahara mimpi ada seorang pemuja Iblis yang mengincar tanah Bagaskara" ucap Sahara yang sudah menempel di punggung Bintang.
"Kamu lihat wajahnya?" tanya Bintang
"Tidak, tapi punggungnya ada tanda telapak tangan iblis" jawab Sahara melirik Dirga.
Dirga mengernyitkan alisnya, dia juga memimpikan hal yang sama, ada seorang perempuan yang tidur di ranjangnya dan punggung perempuan itu memiliki tanda telapak tangan yang cukup besar dan berwarna hitam.
"Dirga memimpikan itu juga semalam pa, dia memanggil nama Dirga" ucap Dirga
"Nah... benar kan, di pasti pemuja iblis yang cukup kuat sampai sampai Sahara tidak bisa merasakan keberadaannya" ucap Sahara
"Jika iya, mungkin Dirga yang dia incar, hati hati nak" ucap Badaruddin yang terdengar dalam kalung yang di pakai Sigit.
"Baik Opa" jawab Dirga
"Den Bintang"
"Iya kang Deden" jawab Bintang
"Nyai Radini kemarin bertemu dengan saya di jalan, dia bertanya apakah padi di sini akan di jual? jika iya nyai Radini ingin membeli sekitar satu ton untuk di bagikan pada para pekerja katanya dan untuk stok di rumahnya" tanya Deden
"Sampaikan maaf saya ya kang Deden, sudah sejak lama padi di sini di jual pada pak Kusoy dan sebagian juga kan saya simpan untuk persediaan di rumah dan sedekah pada para warga" jawab Bintang
"Baik den, nanti akan saya sampaikan" jawab Deden lalu kembali melanjutkan menimbang padi yang belum dia timbang.
"Siapa nyai Radini pa?" tanya Dirga
"Dia adalah putri dari nyai Radiah, katanya masih keturunan bangsawan jaman dulu dan di hormati di kampung Curug ujung, dia tinggal di sana" jawab Bintang.
"Ko Dirga tidak tahu?" tanya Dirga
"Iya lah kamu tidak tahu, dia itu sekolah di kota dan pulang saat usianya dua puluh tahun, setelah itu dia langsung jadi penerus ibunya, dia juga belum menikah, usianya tiga puluh tahun kalau tidak salah, mau papa lamarkan? Karena ibunya pernah menawarkan perjodohan pada papa, dia baik dan sopan juga orangnya" ucap Bintang
"Tidak, Dirga hanya mau yang di bawa Abah yai" jawab Dirga tegas membuat Sigit tertawa.
"Mungkin Abah yai mau menikahkan Dirga dengan cicitnya Om, kan ada tuh cicitnya yang masih bayi" ledek Sigit
"Keburu ubanan Dirga kak" keluh Dirga dan mereka tertawa.
"Papa!" panggil Khanza putri dari Sigit berlari dan memberikan rantang makan siang untuk Sigit dan yang lain.
"Bawa apa?" tanya Sahara masih di punggung Bintang.
"Bawa ayam goreng sama cah kangkung, sambal terasi dan... rendang jengkol" jawab Khanza terkekeh.
"Hueekkk.. Sahara tidak suka jengkol, Sahara mau pulang saja minta rendang daging sama Silvia" kesal Sahara menghilang dari sana.
"Hahaha... cucuku memang hebat, hanya kamu yang bisa mengusir Sahara dengan mudah" ungkap Badaruddin.
"Siapa dulu dong kakeknya" jawab Khanza
Dirga juga tersenyum karena interaksi keluarganya dengan para mahluk halus itu bisa di bilang sudah seperti keluarga mereka sendiri, mengobrol, makan bahkan kegiatan mereka juga selalu di ikuti oleh para mahluk halus yang sudah bersama mereka dari sebelum Dirga lahir.
"Kak Dirga, Khanza yang masak ayamnya loh, kalau asin itu artinya Khanza minta segera di lamar kak Dirga" ucap Khanza langsung berlari dari sana karena malu.
Bahkan Dirga sampai tertawa karena Khanza tidak menoleh lagi Karena malu dan berlari menabrak beberapa orang sampai terjatuh.
"Anak itu..." kaget Sigit begitupun Bintang.
"Sigit, sepertinya kita akan jadi besan" ledek Bintang
"Sepetinya Sigit harus kirim foto Khanza pada Abah yai Om" balas Sigit bercanda karena dia pikir tidak mungkin Dirga mau dengan Khanza yang ceplas ceplos dan sedikit genit saat bertemu Dirga.
"Kak Sigit bisa saja" ucap Dirga merasa sedikit canggung.
"Ayo kita duduk di gubuk saja, ini akan membutuhkan waktu lama jadi kita berteduh dulu sambil minta makanan Sigit" ajak Bintang
"Memangnya Om tidak bawa bekal Om?" tanya Sigit meledek.
"Bawa, tapi habis di makan Sahara" jawab Bintang.
"Sudah tidak aneh kalau hantu itu ikut, dia bahkan mampu menghabiskan satu gerobak bakso kalau tidak di ingatkan" ucap Sigit
"Dirga mau beli air minum ya pa, sepertinya air minum habis" ucap Dirga
"Iya, pesan air galon juga untuk para pekerja dan makanan ringan, kue kue biasanya ada di toko Cici" jawab Bintang
"Baik pa" jawab Dirga
"Iya, pesan air galon juga untuk para pekerja dan makanan ringan, kue kue biasanya ada di toko Cici" jawab Bintang
"Baik pa" jawab Dirga
Dirga pergi ke arah jalan besar, dia harus melewati beberapa sawah dan juga kebun di lahan Bintang untuk sampai ke jalan itu, tapi Dirga tidak lupa karena jalan di sana tidak banyak yang berubah, semuanya masih sama bahkan jalan aspal juga tidak di perbesar supaya tidak ada yang merusak kampung itu dan melakukan banyak pembangunan yang mungkin akan merusak kualitas air ataupun tanah di sana.
"Ci beli air minum ukuran besar sama dua galon air, di kirim ke sawah papa ya Ci" ucap Dirga
"Eh Dirga, iya nanti Cici minta si Ujang untuk antar ke sana, mau beli apa lagi?" tanya pemilik warung bernama Amel tapi sering di panggil Cici itu.
"Kue kue sama makanan ringan lain Ci" jawab Dirga
"Mau coba ini tidak? ini buatan warga kampung Sukun, kue onde-onde sama kue lapis"
"Boleh Ci, bungkus saja semuanya untuk para pekerja" jawab Dirga
"Ini airnya tiga, kue kue dan keripik, galon dua, sama ada keroket dan tahu isi semuanya jadi seratus delapan puluh ribu" ucap Cici
"Ini uangnya Ci"
Dirga memberikan uang di ratus ribu pada Cici, tapi tangannya tiba tiba bersentuhan dengan seorang perempuan yang akan mengambil sebatang coklat di depan meja kasir dan Dirga langsung menarik tangannya lagi.
Bahkan Dirga mundur beberapa langkah karena perempuan itu terlalu dekat dengannya sampai tubuhnya hampir menempel dengan tubuh Dirga dan itu membuat Dirga tidak nyaman.
"Maaf, saya mau beli coklat ini untuk keponakan saya" ucap perempuan itu yang ternyata adalah Radini.
"Ada nyai Radini, mau beli coklat? nanti ya saya layani Dirga dulu" ucap Cici
"Silahkan Ci" jawab Radini masih menatap Dirga yang sama selama tidak menatapnya.
"Ini kembaliannya ya Dirga, sama ini ada bonus untuk para pekerja" ucap Cici memberikan satu pak roti pada Dirga.
"Terima kasih Ci" jawab Dirga langsung pergi.
"Tunggu" panggil Radini tapi Dirga sama sekali tidak berhenti.
"Dirga! kamu di panggil nyai Radini" panggil Cici dan barulah Dirga berhenti.
Radini, tadi Dirga lupa tapi sekarang dia ingat dengan nama itu, nama yang sempat di bicarakan Deden tadi di sawah, dan Dirga berbalik untuk melihat perempuan yang katanya seorang keturunan bangsawan itu.
"Iya" jawab Dirga begitu dia berbalik dan menatap mata Radini.
Mata mereka bertemu, pandangan mereka beradu tapi tidak ada yang istimewa. Bagi Dirga Radini layaknya para perempuan kampung Curug yang kebanyakan masih memakai kebaya kecuali para anak muda yang memakai pakaian gaul seperti anak kota.
"Maaf, tadi saya dengar kamu mau ke sawah pak Bintang, boleh saya ikut?" tanyanya
"Anda mau apa?" tanya Dirga
"Saya mau membeli padi di tempat pak Bintang" jawabnya
"Maaf, tapi kata papa padi padi itu sudah di beli pak Kusoy, jadi kalau mau beli tinggal hubungi pak Kusoy saja" jawab Dirga
"Tapi saya ingin bicara dengan pak Bintang langsung, tolong, boleh kan?" tanyanya memelas.
"Baiklah, silahkan" jawab Dirga berjalan lebih dulu dan Radini mengikutinya dari belakang dengan senyum tipis di bibirnya.
Matanya juga tidak lepas dari sosok Sahara yang ada di punggung Dirga, menatap curiga Radini tapi Radini berpura pura tidak melihat Sahara dan hanya tersipu malu seolah dia senang bisa ikut bersama Dirga.
"Cih... so tersipu padahal kamu sering meludahi laki laki yang melamar kamu, Dirga tidak akan mau dengar kamu yang sombong, dia sukanya perempuan seperti Sahara, anggun, perhatian, cantik paripurna dan keibuan, tidak seperti kamu yang jelek mirip kambing bertanduk" sinis Sahara mendelik tapi tidak bisa terlihat karena wajahnya tertutup rambut.
Radini mendengar semua itu dan mengepalkan tangannya, tapi dia tidak bisa membuka penyamarannya yang berpura pura tidak bisa melihat hantu dan berakting sebagai seorang nyai terhormat di kampung itu.
"Dirga, kamu jangan mau sama dia ya, Sahara lebih setuju kamu dengan si centil Khanza daripada sama dia, setidaknya Khanza itu masih segel tidak seperti dia yang sudah bobol" bisik Sahara membuat Dirga tersenyum teduh.
"Sudah jangan mengganggu dia, kenapa kembali?" tanya Dirga berbisik juga tapi Radini bisa mendengarnya dan dia cukup terkejut mengetahui kalau Dirga mengetahui keberadaan Sahara yang ada di punggungnya.
"Sahara kembali karena ternyata Kenanga tidak buat rendang jengkol, Kenanga buatnya rendang tempe, jadi Sahara mau minta, si Khanza centil itu bohongin Sahara" jawab Sahara
"Aku pikir dia tidak bisa melihat jin tapi ternyata jin itu adalah peliharaannya juga, bukan hanya Bintang Darmawan" batin Radini.
Dirga berhenti, dia berbalik ke arah Radini yang seketika itu juga langsung berhenti dan menatap kaget Dirga karena khawatir Dirga juga bisa mendengar kata hatinya.
"Ke.. Kenapa mas?" tanya Radini tersenyum canggung.
"Papa ada di gubuk sana sedang makan, kamu langsung ke sana saja karena saya mau bawa galon ini dulu, kasihan mang Ujang" jawab Dirga membuat Radini lega.
"Ba.. baik mas" jawabnya
"Baik mas" ejek Sahara mencebikkan bibirnya.
"Ssttt...."
"Sahara kesal lihat dia so cantik dan so anggun padahal aslinya menyebalkan!" gerutu Sahara saat Dirga memintanya untuk diam.
"Sahara apa kamu merasakan sesuatu yang aneh dari perempuan itu?" tanya Dirga
"Iya, Sahara merasakan itu tapi tidak tahu juga, dia tidak bisa melihat Sahara atau dia hanya berbohong, tapi Sahara juga tidak lihat dia punya ilmu ataupun jin di tubuhnya" jawab Sahara
"Atau mungkin dia menyembunyikan semuanya dengan rapat, sama seperti sebuah rahasia yang harus di kubur rapat rapat supaya tidak ada yang tahu" ungkap Dirga
"Sama sepertiku yang harus berpura pura tidak tahu apapun seperti apa yang di katakan Abah yai, bersikaplah seperti air yang tenang tapi mampu menenggelamkan segala sesuatu yang masuk ke dalamnya" ungkap Dirga
"Sama seperti Sahara yang tenggelam dalam cinta Dirga... Eaaaa" ucap Sahara cekikikan bahkan sampai berguling guling di rumput.
"Hantu ini, entah kapan dia akan serius, tapi sekalinya serius malah buat orang takut" keluh Dirga menyimpan galon air yang sudah dia buka itu di pinggir pematang sawah.
Dirga melihat sekeliling, dia tidak merasakan ada yang aneh tapi untuk berjaga jaga dia membacakan sesuatu ke dalam galon air itu dan tiba tiba airnya langsung bergerak, tapi kemudian jadi tenang setelah Dirga melepaskan tangannya.
"Lindungi kami Ya Allah, karena sepertinya musuh kami sekarang tidak terlihat dan tidak mudah di kalahkan" batin Dirga
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!