Indonesia
NovelToon NovelToon

Cinta Anak SMA

PERKENALAN TOKOH!!

WAJIB DIBACA!!

KARYA DAN KARANGAN INI MILIK SAYA SENDIRI, TIDAK MENCOPY KARYA ORANG LAIN!🙏📝

HARAP JANGAN PLAGIAT KARYA INI!!

Lyra Cahyani Putri, seorang gadis Remaja SMA yang memiliki sifat ceria, sopan dan cenderung sangat empatik.

Lyra adalah seorang gadis keluarga sederhana yang dibesarkan dengan sopan santun, sehingga ia selalu sopan saat ditemui oleh orang lain.

Lyra sangat suka membaca Novel, baginya Novel itu hidupnya, sehingga ia lebih mengerti suasana cerita novel dari pada pelajaran di kelas.

Lyra terpaksa menerima perjodohan yang dibuat oleh keluarganya dan keluarga cowo, mereka mencoba menerima menjalani hidup walaupun terikat.

Arthan Pratama, seorang cowo Remaja SMA yang memiliki sifat serius, dingin dan tatapan tajam.

Arthan adalah seorang cowo yang dibesarkan oleh keluarga mampu, walaupun ia dari keluarga mampu, ia tetap menolong dan berbakti kepada orang tua.

Arthan adalah seorang cowo yang sangat antusias belajar, karena dia telah mendapatkan juara lomba perwakilan sekolahnya tingkat nasional bahkan mau internasional.

Arthan juga seorang ketos di sekolah Lyra, dia sangat terpopuler di sekolahnya, karena ketampanannya dan kepintarannya

Arthan memang sangat cuek, tapi juga dingin kepada wanita kecuali Lyra, yang dijodohkan dengannya.

Amelia maharani, biasa dipanggil amel dan teman dekat Lyra. Amel berasal dari keluarga yang cukup mampu.

Amel adalah seorang gadis yang disiplin dan rajin, ia sangat dekat dengan Lyra karena mereka teman sejak SD.

Amel adalah orang yang memberinya es krim sejak kecil, amel adalah orang yang sangat terbuka dan bisa diajak mengobrol.

Amel adalah orang kedua setelah orang tuanya yang menasehati Lyra demi kebaikan Lyra kedepannya.

Minda Ratu Cahya, biasa dipanggil Minda dan temannya Lyra.

Minda adalah orang yang sangat berjasa kepada Lyra. Bagaimana tidak, Minda adalah orang yang menolong Lyra saat dalam bahaya, dikejar oleh orang yang tidak dikenal.

Minda adalah orang yang sangat berani dan minda juga bisa silat. Minda adalah teman SMP Lyra.

Gilang Ramadhan, seorang cowo Remaja SMA temannya Arthan.

Gilang berasal dari keluarga sangat mampu. ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara di keluarganya.

Gilang orangnya cukup rajin dan gilang juga salah satu anak organisasi yaitu Osis, seperti Arthan. Gilang adalah orang yang dipilih Arthan untuk mengobrol soal pribadi atau masalahnya karena gilang adalah sosok yang dewasa.

Vandro Raja Pratama, adalah seorang cowo remaja SMA dan temannya Arthan.

Vandro adalah seorang keluarga yang cukup terpandang, tapi Vandro tetap menjalani harinya seperti anak-anak biasa yaitu anak-anak sederhana.

Vandro orangnya suka bercanda, namun juga serius, tergantung situasi dia berada.

Vandro adalah anak kapten basket, yang juga digemari banyak siswi di sekolah Lyra.

Vandro adalah orang jenius, sama seperti Arthan. Namun, Vandro lebih mudah didekati orang lain karena dia cukup ramah, dibanding Arthan

Bima Sakti Cakra, biasa dipanggil Bima.

Bima adalah orang yang mengejar Lyra sejak masuk SMA. Ia sangat menyukai Lyra, namun tidak dengan Lyra.

Karena bagi Lyra, walaupun Bima cukup lumayan, tapi hatinya tidak bisa dipaksakan untuk suka walaupun Bima anak kepala sekolah.

Namun... perasaan Bima mulai menghilang, sejak perasaannya lama tidak dibalas oleh Lyra.

Andi Mahekasa, biasa dipanggil andi.

Andi adalah orang yang menyukai diam diam kepada Lyra saat mereka bertemu di kenaikan kelas.

Andi adalah orang yang sangat manis dan perhatian, kata mereka. Andi juga baik dan dia sangat ramah kepada teman sekelasnya.

Lyra hanya senyum-senyum ketika melihat Andi salah tingkah karena Lyra yang melihatnya. mungkin karena gugup, pikirnya.

Zena Amanda Putri, biasa dipanggil Zena.

Zena adalah teman sekelas Lyra saat masuk SMA. Zena tidak dekat kepada Lyra, karena Zena juga mempunyai rasa iri kepada Lyra.

Zena adalah anak remaja dari keluarga cukup mampu, ia sangat boros dan tidak mengerti orang lain.

Zena adalah musuh Lyra saat di kelas dan Zena tidak suka Lyra karena banyak cowo yang suka kepada Lyra termasuk cowo yang disukainya itu juga menyukai Lyra, Zena menyukai Bima.

___________________

Hallo guyss!! 🥳

Jangan lupa follow akun ini (@dinda.glow), like dan komen disetiap cerita yaw-!!

Cerita ini (CINTA ANAK SMA) akan di upload setiap hari ya!! pantau terus ^^

Diupload setiap jam 09:00 WIB dan 21:00 WIB 🤗📌

Instagramku: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you ~

Bab 1. Kekonyolan Lyra di pagi hari

Matahari pagi menyusup lembut melalui celah jendela kamar vintage milik Lyra, menyinari buku bersampul kulit yang tergeletak di atas meja kayu.

Udara sejuk di pagi hari berpadu dengan aroma bunga yang samar, menciptakan suasana pagi yang tenang dan menenangkan di dalam ruangannya.

Cahaya keemasan menyapa seprai putih dan koleksi tanaman hias mini di ambang jendela.

Suara kicau burung bersahutan terdengar dari kejauhan. Di atas kasur, seorang gadis bernama Lyra masih terlelap dengan sangat nyenyak, meringkuk di balik selimutnya yang tebal. Tidurnya santai tanpa ada rasa bersalah.

Sementara itu, dari arah dapur tercium aroma harum masakan. Masakan yang sangat enak untuk disantap saat bersama keluarga.

Ibu sedang sibuk menyiapkan sarapan di pagi hari, Ayah meminta Ibu untuk membangunkan putri mereka yang masih berada di kamar.

Ibu pun melangkah menuju kamar Lyra dengan langkah cepat, Ibu masih menggunakan celemek berwarna hijau yg di celemeknya terdapat gambar beruang kecil yang lucu.

Sesampainya di sana, ia melihat anak gadisnya tidur dengan sangat nyaman seperti tak punya beban. Anak gadisnya tidur dalam keadaan posisi memeluk bantal guling yang bergambar domba putih dan wajahnya sedikit menempel di bantal gulingnya, terlihat siapa saja gemas melihatnya.

"Lyra, bangun, Sayang," panggil Ibu dengan suara lembut sambil menepuk pipinya.

Tak ada respons. Gadis itu bahkan tidak bergerak sedikit pun.

Ibu mulai meninggikan suaranya, memanggil nama anaknya itu hingga beberapa kali, namun Lyra tetap tak bergeming.

Kesabarannya diuji, Ibu akhirnya berjalan mendekat dan menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Lyra.

Whoosh..... (Suara selimut di tarik)

Bukannya bangun, Lyra justru mengeratkan kembali selimutnya, memeluknya erat-erat karena masih merasa malas untuk bangkit dari kasur.

Ibu menghela napas panjang. Ia menepuk pipi Lyra dengan lembut namun tegas.

"Lyra.. bangun.. ini udah pagi, besok mau sekolah," ucap Ibu sambil berusaha menggoyangkan tubuh gadis itu dan mencubit pipi anak gadisnya itu.

Bagaimanapun juga, ia harus berhasil membangunkan anak gadisnya yang kebo ini. Jangan sampai anak gadisnya itu seperti kerbau, yang tidur bisa dalam keadaan waktu yang lama dengan sikap santai dengan muka yang tidak berdosa seperti itu. Jangan sampai anak gadisnya di omongin oleh tetangga tetangga lain karena seorang gadis yang pemalas dan bangun lambat di pagi hari. "Duh, jauh-jauhlah," pikirnya

Mendengar kata "sekolah", mata Lyra tiba-tiba terbuka lebar.

Ia terkesiap dan langsung terduduk tegak di atas kasurnya dengan ekspresi wajahnya yang bercampur aduk, seperti keadaan bentuk rambut yang tidak rapi karena baru bangun tidur dan wajah kagetnya dengan mulut terbuka dan matanya yang membulat.

"HAH?! Hari ini sekolah?!" jerit Lyra panik saat melihat jam dinding yang berada di kamarnya yang menunjukkan pukul 06:30 WIB.

Dengan gerakan secepat kilat, ia melompat turun dari kasurnya, melesat melewati ibunya, dan langsung berlari ngibrit masuk ke dalam kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahunya.

Melihat tingkah heboh sang anak yang salah mengira hari sehingga anaknya langsung berlari kencang meninggalkan ibunya yang belum sempat membalas ucapan Lyra, kalau hari ini bukan hari Lyra masuk sekolah namun besok, Ibu pun hanya bisa terdiam keheranan.

Brakk!! (Suara pintu tertutup kencang)

Ibu Lyra kaget, Ia berdiri mematung menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat, lalu tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepala dan Ibu pun mulai berjalan meninggalkan kamar Lyra menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.

_____________

Ibu keluar dari dapur dengan langkah yang tenang, membawa nampan berisi makanan hangat yang baru saja dimasak.

Ibu menaruh piring-piring makanan di atas meja makan kayu yang bersih. Di atas meja terdapat makanan yang sangat enak, yaitu: ada ayam goreng yang dilumuri cabe hijau, sayur tumis dan ada Ikan asin yg dilumuri cabe merah yang membuat ruangan tempat mereka berada menjadi harum karena masakan yang dibuat oleh Ibu hari ini.

Di sekeliling meja, Ayah dan adik perempuan sudah duduk rapi menanti hidangan siap disantap.

Saat Ibu duduk di kursinya, suasana masih terasa damai.

Tiba-tiba Ayah menoleh dan melirik ke arah kamar, lalu bertanya dengan nada lembut, "Apakah Lyra sudah bangun?"

Ibu tersenyum hangat dan menjawab pertanyaan Ayah,"Iya, Lyra sudah bangun"

Ibu memberikan kepastian bahwa Lyra itu sebentar lagi akan bergabung di ruang makan.

Sebelum Lyra datang, ketiganya larut dalam obrolan ringan sambil sesekali merapikan posisi piring atau gelas.

_______________

Di sisi lain...

Suasana pagi menjadi riuh oleh langkah kaki Lyra yang tergesa-gesa.

Suara gemercik air yang baru saja dimatikan menyisakan keheningan singkat sebelum ia membuka pintu kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya.

Waktu menunjukkan pukul 06.40 WIB. Lyra sadar ia harus segera bersiap cepat, ia melirik jam tangannya dan menatap cermin.

Sembari menahan napas, ia memoles wajahnya dengan sentuhan bedak tipis dan lipstik bernuansa merah muda agar wajahnya tak terlihat pucat.

Dengan gerakan cepat, ia mengenakan setelan atasannya yang rapi: sebuah kemeja putih yang dipadukan dengan rok atau bawahan berwarna biru yaitu baju SMP-nya.

Perhatiannya kemudian beralih ke sudut kamar. Tas jinjing miliknya sudah dipersiapkan dan ditata sejak malam, berisi dokumen-dokumen penting, dompet, dan sebuah buku agenda.

Ia segera menyambar tas tersebut, memastikan tidak ada barang yang tertinggal, lalu meraih ponsel di atas meja rias.

Setelah merapikan sedikit kerah bajunya, Lyra melangkah keluar dari kamar ke arah ruang makan dengan napas yang mulai teratur, siap untuk memulai hari.

___________

Lyra melangkah dengan percaya diri menuju ruang makan dan duduk di kursinya.

Dengan ceria ia menyapa keluarganya, "Semangat! Selamat pagi semuanya!"

Awalnya, Ayah, Ibu, dan adik perempuannya yang sedang menyantap sarapan merespons dengan anggukan biasa.

Namun sedetik kemudian, mereka menghentikan kunyahannya. Mereka menoleh secara serempak ke arah Lyra, saling bertukar pandang dengan wajah bingung.

Ayah pun memecah keheningan, "Kenapa pakai baju sekolah, Lyra?" tanya Ayah dengan alis terangkat.

Lyra menatap mereka dengan tampang polos. "Kan katanya hari ini jadwalnya sekolah?" jawab Lyra santai, mengambil piringnya dan menuangkan air putih ke gelasnya.

Mendengar jawaban itu, keheningan lenyap seketika.

"Bwahaahahaha".... (Suara tawa)

Ibu, Ayah, dan adik perempuannya tiba-tiba tertawa lepas tanpa bisa ditahan. Tawa mereka begitu keras sampai memegang perut, adik perempuannya sampai memegang pipinya juga karena paling lucu dan momen langka.

Lyra hanya bisa berkedip heran melihat reaksi keluarganya yang berlebihan.

"Kenapa pada ketawa sih?" tanya Lyra, mulai merasa tidak enak, wajahnya berubah bertanya-tanya.

Di sela-sela tawanya, adik perempuannya menjawab sambil terpingkal-pingkal, "Ya ampun Kak! Kakak masuk sekolahnya besok, bukan sekarang!"Gelak tawa pun semakin menggema di ruangan itu.

Seketika itu juga wajah Lyra memerah padam karena malu. Ia menepuk jidatnya keras-keras, menyadari kebodohannya.

"Bwaahahahaha".... (Suara Tawa)

Tanpa membuang waktu, Lyra menoleh dan menatap tajam adik perempuannya yang sedang tertawa puas di sampingnya, merasa benar-benar kesal karena adik perempuan mengejeknya.

Lyra dan adiknya terlibat adu mulut hebat di meja makan karena sang adik mengejek penampilan Lyra yang terlihat konyol.

"Tuh lah, makanya jangan tidur seperti kebo kak. Jadi malu kan jadinya," ejek adiknya, yang membuat mulut Lyra gatal untuk tidak adu mulut dengan adik manisnya yang di hadapannya ini.

"Dasar!! Adik nyebelin!! adik juga pernah pun pakai kaos kaki yang salah, jangan merasa paling benar deh." ejek Lyra yang tidak mau kalah dengan sikap sombongnya, melipat kedua tangannya di dada.

"Uuu... cuma itu pun, dari pada kakak, lebih parah karena terlalu rajin." balas adik perempuannya dengan menjulurkan lidahnya mengejek, mengajak berantem.

Emosi Lyra memuncak hingga ia bersiap memukul adiknya. Matanya tajam, tangannya mengepal keras menahan amarah dan mulutnya gatal, siap menghabisi adik perempuannya secara habis-habisan di saat itu juga. namun sang ayah segera melerai dan menengahi, meminta mereka fokus menyantap hidangan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perkelahian dengan makan yang khidmat.

Suasana meja makan yang awalnya hangat mendadak berubah menjadi arena ketegangan.

Lyra menatap tajam adiknya sambil mengepalkan tangan, bersiap melayangkan pukulan.

"Udah, udah!" sergah suara tegas sang ayah dari ujung meja.

Ayah meletakkan sendoknya dengan tenang namun penuh wibawa.

Lyra masih menatap adiknya dengan napas memburu, sementara sang adik menjulurkan lidah tanda meledek, memancing emosi kakaknya lebih jauh lagi.

"Kalian ini mau makan atau mau berantem, sih?" tanya sang ayah menengahi keduanya, menghentikan adu mulut yang semakin memanas.

"Hari ini kita lagi makan. Jadi, fokus makan dulu. Perkara berantemnya nanti dilanjutin lagi setelah perut kalian kenyang"

Mendengar ucapan sang ayah, Lyra menurunkan tangannya dengan perasaan kesal dengan mulut yang masih komat-kamit.

Sang adik juga terdiam dan kembali duduk dengan benar di kursinya. Ketegangan perlahan mencair dan mereka pun akhirnya mengambil makanan masing-masing lalu menyantapnya dengan tenang dan hikmat.

____________

Begitu sendok terakhir berdentang di atas piring, suasana meja makan kembali menegang.

Lyra langsung menegakkan punggungnya, menatap sang adik dengan pandangan yang siap menerkam.

Ayah yang melihat hal itu hanya menghela napas, bersiap dengan skenario lanjutan.

"Selesai makan, kan? Sekarang ayo maju!" tantang Lyra sambil berdiri dari kursinya.

Sang adik langsung menciut melihat kakaknya yang tampak sangat serius untuk memukulnya. Ia segera berlari dan bersembunyi di balik punggung besar sang ayah, mencari perlindungan aman.

"Yah, lihat Kak Lyra! Padahal dia emang konyol pakai baju sekolah begitu!" teriak adiknya dari belakang kursinya.

"Sini kamu! Jangan sembunyi di balik Ayah!" bentak Lyra yang emosinya kembali tersulut.

Ayah segera merentangkan kedua tangannya, menghalangi Lyra yang sudah bersiap melayangkan pukulan.

"Hap! Cukup, cukup. Enggak ada yang boleh pukul-pukulan di rumah ini," ucap ayah tegas.

Mendengar ucapan Ayah, Lyra mendengus kesal namun akhirnya menurunkan kepalan tangannya.

Sang adik pun menjulurkan lidah dengan jail dari balik punggung Ayah, tahu bahwa ia sudah aman dari amukan kakaknya pagi itu

Satu kata untuk hari ini, "Huh, konyolnya aku hari ini," batin Lyra menarik napas.

Bersambung ~~~

Yuhu!! 🥳🥳 Halo apa kabar? jangan lupa Follow akun ini, like, komen dan share ceritanya ya!! 🤗

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

ditunggu cerita selanjutnya ya!! 😉

see you~~

Bab 2. Bermain bersama Teman

Usai makan bersama keluarga di ruang tamu, Lyra izin mengundurkan diri ke kamar untuk mengganti pakaian.

Ia menanggalkan pakaian yang salah tadi ketika ia makan di ruang makan bersama keluarganya dan memilih baju rumahan yang lebih santai.

Baju santai rumah untuk Lyra mencerminkan kepribadiannya yang praktis, namun tetap memiliki sentuhan khas remaja perempuan.

Bagaimana tidak, pakaian yang digunakan adalah setelan piyama katun lokal bermotif minimalis, seperti motif kotak-kotak kecil (gingham) berwarna pastel (hijau sage atau biru muda).

Kancing paling atasnya sengaja dibuka agar tidak gerah. Saku di bagian dada tempat ia biasa menyelipkan jepit rambut atau menyembunyikan earphone.

Lyra terlihat rapi namun tetap santai, tipe remaja yang siap menerima paket dari kurir di depan pagar tanpa harus ganti baju dulu.

Kamar Lyra adalah cerminan khas seorang gadis remaja yang bergaya aesthetic.

Dindingnya didominasi warna pastel lembut yang dihiasi gantungan foto polaroid bersama teman-teman serta rak ambalan berisi buku harian.

Di sudut ruangan, terdapat meja belajar minimalis yang dipenuhi alat tulis dan cermin rias.

Karpet bulu halus terbentang di lantai, memberikan kesan nyaman di ruangan yang rapi namun penuh sentuhan personal tersebut.

Selesai berganti pakaian, Lyra melangkah menuju tempat tidur dan merebahkan diri.

Dengan rasa penasaran, ia meraih ponsel (HP) dari atas nakas. Jari-jarinya mulai menggeser layar di handphone nya, memeriksa apakah ada balasan pesan penting yang sedari tadi ia nantikan. Ia membuka Tiktok, Instagram dan terakhir.. Ia membuka WhatsApp dengan icon logo gambar telepon di tengah logonya yang berwarna putih dan sekitarnya yang berwarna hijau itu.

Ia melihat satu persatu pesan di Whatsappnya dengan jari lentik nya, agar tidak ada pesan penting yang terlewati yang merugikan dirinya karena ketinggalan info sekolah baru ataupun sekolah lama, SMP-nya.

Setelah lama melihat WhatsApp dan menemukan pesan tersebut, ia menjadi sangat serius membalas dan terlibat dalam percakapan yang cukup panjang.

Selesai berbalas pesan, kebiasaan jemarinya membawanya membuka aplikasi TikTok kembali.

Ia mulai menggulir layar, menonton berbagai video pendek yang menghibur hingga tanpa sadar ia melewatkan jam tayang film kesukaannya di televisi.

Filmnya tentang seorang anak remaja yang dingin tiba-tiba di akhirnya jatuh cinta kepada seorang gadis yang dijodohkannya. Awalnya mereka tidak saling kenal dan baru bertemu beberapa hari dan orang tua mereka menjodohkannya, dengan terpaksa mereka menerimanya. Sampai akhirnya mereka menjalani kehidupan bersama dengan rasa saling suka di masa sekolah mereka.

Menyadari hal tersebut, Lyra akhirnya tergiur dan beralih fokus menonton film itu secara penuh dan asyik di layar ponselnya.

Sayangnya, keasyikan menonton itu harus buyar seketika.

Tok.. tok... tok...

Suara ketukan pintu dan panggilan sang ibu menginterupsi dunianya.

"Lyra... bantuin adikmu di kamarnya dong, dia lagi kesusahan," teriak ibunya melengking dari arah luar pintu kamar lyra.

Teriakan Ibunya secara tidak langsung memintanya untuk segera menyudahi waktu layar (screen time) dan membantu adiknya menyiapkan perlengkapan sekolah untuk esok hari.

Huftt.....

Dengan sedikit helaan napas namun tetap tersenyum, Lyra mematikan ponselnya dan beranjak dari tempat tidur untuk membantu adiknya.

___________

Tak... tak.. tak....

Dengan langkah menghentak kesal, Lyra melangkah menuju kamar sang adik.

Ia membuka pintu dan mendapati ruangan yang sangat khas anak-anak SMP; dindingnya penuh tempelan poster idol, pernak-pernik lucu, dan buku-buku yang sedikit berantakan di sudut meja belajar.

Adik perempuannya sedang memakai pakaian kesukaannya, yaitu: Kaos rajut tipis atau katun terry yang nyaman untuk beraktivitas.

Desain terusan (celana dan baju menyatu) dengan kancing jepret di bagian pundak atau depan.

Terkadang ada tudung lampu (hoodie) dengan kuping kelinci atau beruang kecil di atasnya.

Sesampainya di sana, Lyra menatap adiknya tajam.

Bukannya merasa takut, sang adik langsung mengerti dan malah membalas tatapan itu dengan wajah meledek.

Suasana ruang makan yang panas kembali terbayang, membuat Lyra geram dan bersiap mengejar adiknya yang langsung berlari mengitari kasur.

Sambil ngos-ngosan tertawa, adiknya meraih boneka lalu berkata, "Aduh... ahahaha sudah ka, ga kuat!"

"Dasar adik ngeselin!" seru Lyra yang terus mengejarnya mengelilingi kasur adik perempuannya.

Kejar-kejaran itu membawa mereka sampai ke ruang tamu dan melewati sang ibu yang sedang duduk santai.

Melihat pemandangan itu, ibunya hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan pusing.

"Kalau mereka berdekatan, pasti tidak akan pernah akur, ada saja yang dilakukan untuk berantem," ucap sang ibu, menggelengkan kepalanya.

"Mungkin kalau dipisah, baru mereka nangis," lanjutnya diiringi tawa ringan dan senyuman membayangkan tingkah kedua buah hatinya.

___________

Napas Lyra dan adik perempuannya masih memburu, suara napas mereka terengah-engah di tempat mereka berada sekarang.

Mereka terduduk lemas di sofa ruang tamu setelah aksi kejar-kejaran yang mengitari hampir seluruh penjuru rumah.

Saat Lyra hendak mengatakan sesuatu, ketukan pintu menghentikannya.

Tok... tok.. tok...

Sang adik langsung berlari membuka pintu.

"Kakak!!.... sini dulu!!... Kakak!!..... cepat!!" teriakan adik perempuannya yang berasal dari ujung pintu ruang tamu dengan suara melengking.

Adik perempuannya malah berteriak memanggil kakaknya berulang kali tanpa menjelaskan siapa yang datang, membuat Lyra merasa kesal.

Sebelum Lyra sempat menegur.

"Ada apa si?!!--" ucap lyra terhenti, melihat siapa yang datang di hadapannya.

langkah kakinya terhenti oleh rasa terkejut; dua sosok yang berdiri di ambang pintu bukanlah orang asing, melainkan teman-temannya sendiri, Amel dan Minda.

"Ayo masuk!" seru adik Lyra dengan riang, mempersilakan kedua tamu itu masuk tanpa beban.

Lyra yang masih duduk kebingungan di sofa, hanya bisa mengelus dada.

Rasa kesal karena dipanggil-panggil tanpa kejelasan oleh sang adik seketika menguap, berganti dengan rasa heran melihat kehadiran Amel dan Minda yang tiba-tiba muncul di sore hari.

"Kalian berdua kenapa keringatan begini? Kayaknya seru banget mainnya," sapa Amel sambil tersenyum ramah.

Ia melangkah masuk membawa kantong plastik berisi kudapan, diikuti oleh Minda yang sibuk merapikan tas selempangnya.

"Iya nih, kami baru selesai kejar-kejaran," jawab Lyra sambil berdiri dan merapikan sedikit bajunya yang agak berantakan.

"Tumben kalian main ke sini? Ada perlu apa?" lanjutnya penasaran.

Amel tertawa kecil sambil meletakkan bawaannya di atas meja ruang tamu.

"Nggak ada apa-apa, Ly. Kebetulan tadi kami berdua sepakat janjian mau main bareng samamu gitu tanpa memberitahu mu, terus mampir deh, ingin buat kejutan gitu."

Mendengar kata main, adik perempuan Lyra menepuk tangan dengan antusias.

Ia melompat kecil dan berkata, "Wah, kalau gitu aku ikut gabung ya, Kak!"Lyra menatap adiknya dengan sebelah alis terangkat, namun akhirnya ia tersenyum pasrah.

Kekesalan sesaat karena insiden di pintu tadi benar-benar menguap. Suasana ruang tamu yang awalnya tenang setelah lelah berlari kini kembali meriah oleh celoteh dan tawa mereka berempat.

__________

Suasana sore itu berubah menjadi penuh tawa karena sebuah kejadian konyol yang tidak terduga.

Saat mereka berempat sedang asyik mengobrol di ruang tamu sambil menikmati camilan.

"Kres..kresss!.." (Suara keripik singkong, ya..mereka sedang makan camilan bersama)

Adik Lyra tiba-tiba mengajukan ide untuk bermain tebak gerakan dengan kedua tangan di pinggang.

Amel dan Minda langsung setuju dengan antusias.

Adik Lyra mendapat giliran pertama untuk memperagakan sebuah kata, sementara Lyra, Minda, dan Amel bertugas menebak.

Dengan penuh semangat, sang adik mulai meloncat-loncat heboh, mengayunkan tangannya ke atas dan ke bawah, lalu membuat pose seperti menerkam sesuatu."Kera!" tebak Minda cepat.

Adik Lyra menggeleng kuat-kuat."Harimau kesurupan?" sahut Amel polos.

Gelengan adiknya semakin kencang.

Lyra yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik aneh adiknya langsung mendengus menahan tawa.

"Itu pasti gerakan waktu kamu dikejar kucing tetangga kemarin, kan?!" tebak Lyra asal, sambil meniru kejadian di kejar kucing.

Mendengar itu, sang adik langsung berhenti bergerak dan melotot kaget. "Ih, Kak Lyra kok tahu sih?! Tapi bukan itu jawabannya! Jawabannya itu... Kak Lyra kalau lagi marah!" seru adiknya tanpa dosa.

"Bwaahahaha...." (suara tawa)

Seketika itu juga, Amel dan Minda ledakan tawa mereka sampai terpingkal-pingkal. Wajah Lyra langsung memerah menahan malu sekaligus gemas.

Ternyata, gerakan meloncat-loncat dan menerkam heboh yang diperagakan adiknya adalah tiruan saat Lyra mengomelinya karena lupa mengangkat jemuran minggu lalu.

Kekesalan Lyra langsung mencair saat melihat Amel sampai menangis karena terlalu banyak tertawa, sementara adiknya justru menjulurkan lidah dengan usil. Pertemuan sore itu pun sukses ditutup dengan tawa yang menghapus seluruh rasa lelah mereka setelah seharian berlarian.

Bersambung ~~

Hayo.... Bagaimana dengan ceritanya? lucu tak? semoga suka ya!! 🤗

Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share ceritanya ya!! 🤩😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow (Cerita PERMEN AJAIB🍬🍬)

See you~~

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!