Bab 01 - Paket yang Tidak Boleh Dibuka
Siang itu, klinik kecil Bu Ratna tidak terlalu ramai.
Hanya ada dua pasien lansia yang menunggu obat hipertensi, satu anak kecil yang baru selesai diperiksa batuknya, dan suara kipas angin tua yang berputar pelan di sudut ruangan.
Ratna Wulandari melepas stetoskop dari lehernya, lalu menulis dosis obat di kertas resep.
"Diminum setelah makan, ya, Bu. Jangan lupa kontrol lagi minggu depan."
Perempuan tua di depannya mengangguk. "Iya, Dok. Kalau Bu Dokter yang bilang, saya nurut."
Ratna tersenyum kecil.
Di Kampung Cempaka, orang lebih sering memanggilnya Bu Dokter daripada Bu Ratna. Padahal usianya sudah enam puluh. Rambutnya sudah banyak putihnya, meski ia selalu memotong pendek agar mudah diatur. Punggungnya masih tegak. Tangannya masih cekatan. Kalau ada anak jatuh dari sepeda, ibu hamil mual berat, atau bapak-bapak mendadak pusing setelah makan kambing, mereka selalu datang ke kliniknya dulu sebelum ke Puskesmas.
Ponselnya bergetar di atas meja.
Ratna melirik layar.
Bambang.
Suaminya jarang mengirim pesan di jam seperti ini. Kalau pun mengirim, biasanya cuma singkat, menyuruh beli sesuatu atau bertanya makan siang.
Ia membuka WhatsApp.
Bambang: Ambil paketku di warung Bu Rini. Kodenya 3921.
Ratna membalas singkat.
Ratna: Iya. Nanti setelah klinik sepi.
Ia hendak meletakkan ponsel, tetapi pesan baru masuk lagi.
Bambang: Jangan dibuka. Itu punyaku.
Ratna menatap kalimat itu agak lama.
Jangan dibuka.
Ia hampir tertawa. Selama tiga puluh tujuh tahun menikah, paket di rumah selalu ia yang buka. Paket sabun, minyak angin, sandal cucu, baju koko Bambang, alat pancing murah yang diam-diam dibeli suaminya, semuanya Ratna yang terima, Ratna yang buka, Ratna yang bereskan kardusnya.
Bambang bahkan tidak pernah peduli kardus bekas itu nanti disimpan di mana.
Kalau kardus sudah banyak, Ratna ikat rapi, lalu dijual ke tukang rongsok. Uangnya ia pakai beli gula atau telur.
Sekarang, untuk pertama kalinya, Bambang mengingatkan dua kali.
Jangan dibuka.
Ratna tidak langsung curiga. Ia hanya merasa aneh.
Sore menjelang, setelah pasien terakhir pulang, ia menutup klinik setengah hari. Klinik itu berada di samping rumah, hanya dipisahkan halaman kecil dan pohon mangga tua. Ratna mengunci lemari obat, mencuci tangan, lalu mengambil motor matik tuanya.
Warung Bu Rini hanya lima menit dari rumah.
Di depan warung, beberapa ibu sedang membeli sayur, sambil membicarakan undangan pengajian malam Jumat. Seperti biasa, begitu Ratna datang, kepala mereka menoleh.
"Bu Dokter, ambil paket?" tanya Bu Rini dari balik etalase.
"Iya. Atas nama Bambang Santoso."
Bu Rini mencari di tumpukan paket J&T, Shopee Express, dan kardus kecil yang disusun sampai hampir menutup rak rokok.
"Ini, Bu. Ada tiga. Dua atas nama Bu Ratna, satu atas nama Pak Bambang."
Ratna menerima semuanya. Dua paketnya ringan, ia tahu pasti isinya dari Melati, anak perempuannya. Melati sering mengirim sabun cuci, vitamin, atau popok untuk anaknya kalau kebetulan menitip cucu.
Paket Bambang berbeda.
Tidak terlalu besar. Dibungkus plastik hitam. Di labelnya tidak ada nama toko. Hanya alamat rumah mereka dan nomor telepon Bambang.
"Dari mana, Bu?" Bu Rini ikut melirik.
Ratna tersenyum biasa. "Mungkin alat pancing."
Ibu-ibu di depan warung tertawa kecil. Mereka tahu Pak Bambang suka memancing, walau lebih sering pulang membawa cerita daripada ikan.
Ratna memasukkan paket ke keranjang motor. Dalam perjalanan pulang, pesan Bambang kembali masuk.
Bambang: Sudah diambil?
Ratna berhenti sebentar di pinggir jalan, di bawah pohon jambu milik Pak RT.
Ratna: Sudah.
Bambang: Simpan saja di kamar. Jangan dibuka. Aku pulang agak malam.
Ratna menatap layar lagi.
Ada sesuatu yang ganjil di dadanya. Bukan sakit. Bukan sesak. Hanya perasaan kecil yang mengusik, seperti duri halus tertinggal di ujung jari.
Sesampainya di rumah, Ratna membuka dua paket miliknya. Benar, isinya sabun cair, kapas, dan obat gosok untuk cucunya. Ia menata semuanya di lemari.
Paket hitam milik Bambang ia letakkan di meja ruang tengah.
Ia pergi ke dapur, menanak nasi, memotong tempe, membuat sayur bening. Tangannya bergerak seperti biasa, tetapi matanya beberapa kali melirik ke meja.
Jangan dibuka.
Kalimat itu seperti duduk di sana, di atas plastik hitam, menunggu ditantang.
Ratna bukan perempuan yang suka mencari masalah. Sejak muda ia terbiasa mengalah. Ketika orang tuanya menyuruhnya pulang dari kota dan meninggalkan pekerjaan di RSUD karena Bambang butuh istri yang tinggal dekat keluarga, ia pulang. Ketika Bambang berkata dua anak laki-laki mereka butuh rumah masing-masing, Ratna bekerja lebih keras. Ketika cucu-cucu lahir, ia membantu mengasuh meski klinik masih harus dibuka.
Ia bukan perempuan yang suka membongkar rahasia.
Tapi Bambang tidak pernah punya rahasia dari paket.
Ratna berdiri di depan meja.
"Kalau isinya alat pancing, kenapa takut?" gumamnya pelan.
Rumah sepi. Hanya suara kompor dan kipas angin.
Ia mengambil gunting dari laci.
Tangannya sempat berhenti di atas plastik hitam.
Ia merasa seperti sedang melakukan sesuatu yang salah. Padahal itu rumahnya. Meja itu mejanya. Paket itu dikirim ke alamat rumah yang ia rawat puluhan tahun. Bambang adalah suaminya.
Kenapa ia harus merasa seperti pencuri?
Ratna menghela napas, lalu menggunting ujung plastik.
Di dalamnya ada kotak kardus kecil yang dibalut bubble wrap. Ia membuka pelan. Lapis demi lapis. Setelah bubble wrap terlepas, tampak sebuah kotak besi tua berwarna hitam kusam.
Kotak itu bukan barang baru.
Permukaannya lecet. Engselnya berkarat. Bentuknya seperti kotak penyimpanan zaman dulu, jenis yang biasa dipakai orang untuk menyimpan surat, foto, atau perhiasan kecil.
Ratna menatap kotak itu lama.
Jantungnya mulai berdetak lebih keras.
Ia membuka tutupnya.
Foto-foto lama tumpah ke meja.
Kertasnya menguning. Beberapa sudutnya terlipat. Di foto pertama, seorang pemuda berdiri di depan pohon besar, memakai kemeja putih lengan pendek. Rambutnya tebal. Senyumnya lebar.
Ratna mengenali wajah itu.
Bambang.
Suaminya ketika muda.
Di sebelah Bambang berdiri seorang perempuan muda dengan rambut panjang sebahu. Perempuan itu tertawa ke kamera, tangannya menggenggam tangan Bambang. Bukan sekadar teman. Bukan sekadar kenalan.
Ratna mengambil foto kedua.
Bambang dan perempuan itu duduk di tepi sungai. Bahu mereka saling menempel. Di belakang foto, ada tulisan tangan.
B dan S, 1984. Kalau bukan sekarang, nanti kita tetap akan bersama.
Jari Ratna menegang.
S.
Sari.
Nama itu muncul dari ingatan lama, seperti pintu berdebu yang tiba-tiba terbuka.
Sari Handayani.
Perempuan yang dulu pernah disebut-sebut ibu mertua Ratna. Cinta pertama Bambang. Perempuan yang katanya tidak direstui keluarga karena terlalu miskin, lalu pergi merantau ke kota.
Ratna dulu tidak pernah cemburu. Untuk apa cemburu pada masa lalu? Ia menikah dengan Bambang. Ia melahirkan anak-anak Bambang. Ia menemani Bambang dari hidup susah sampai mereka punya rumah, punya sawah kecil, punya klinik.
Masa lalu seharusnya tinggal masa lalu.
Tapi foto-foto itu tidak terasa seperti masa lalu.
Beberapa foto tampak baru dicetak ulang. Ada amplop kecil di dasar kotak. Ratna membuka amplop itu.
Di dalamnya ada struk restoran.
Tanggalnya malam tahun baru, enam bulan lalu.
Dua pax.
Restoran hotel di Bandung.
Ratna menatap tanggal itu.
Malam tahun baru, Bambang bilang ada acara reuni teman lama. Ia pulang keesokan paginya, membawa bau parfum yang bukan miliknya. Ratna tidak bertanya. Ia pikir orang tua juga butuh bertemu teman.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Bambang menelepon.
Ratna melihat nama suaminya di layar. Tangannya dingin.
Ia tidak mengangkat.
Telepon berhenti, lalu pesan masuk.
Bambang: Paketku aman?
Ratna menatap foto-foto di meja.
Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun menikah, ia tidak tahu harus membalas apa.
Ia merapikan foto-foto itu bukan untuk menyembunyikan lagi, melainkan agar tidak ada satu pun tercecer. Aneh, bahkan di saat seperti itu, tangannya masih bekerja rapi. Mungkin karena kalau tangannya berhenti, hatinya akan mulai pecah.
Di dapur, nasi sudah matang.
Ratna menatap magic com, lalu menutupnya kembali.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah masih ingin menunggu suaminya makan.
Bab 02 - Perempuan di Foto Lama
Ratna tidak menjawab pesan Bambang.
Ia mematikan kompor, lalu duduk di kursi kayu ruang tengah. Sayur bening yang baru matang dibiarkan begitu saja. Aroma bayam dan bawang putih menyebar sampai ruang depan, tetapi perutnya terasa kosong, seperti tidak ada tempat untuk makanan.
Foto-foto itu masih berserakan di meja.
Ia mengambil satu demi satu, mencoba mencari alasan yang masuk akal.
Mungkin kotak itu dikirim seseorang tanpa sepengetahuan Bambang.
Mungkin Sari hanya ingin mengembalikan barang lama.
Mungkin Bambang panik karena tidak ingin Ratna salah paham.
Mungkin.
Terlalu banyak mungkin.
Ratna menutup mata sebentar.
Selama ini ia selalu hidup dari kata mungkin. Mungkin Bambang lelah, jadi ia kasar. Mungkin Bambang lupa ulang tahunnya karena sibuk. Mungkin Bambang tidak pernah membantu pekerjaan rumah karena memang laki-laki desa seusianya tidak biasa begitu. Mungkin Bambang pulang pagi setiap tahun baru karena benar-benar ada urusan teman lama.
Mungkin, mungkin, mungkin.
Pada usia enam puluh, Ratna tiba-tiba merasa semua mungkin itu melelahkan.
Ponsel Bambang tergeletak di meja kecil dekat televisi.
Ratna baru sadar Bambang tadi pagi meninggalkannya ketika terburu-buru keluar. Biasanya ia tidak pernah menyentuh ponsel suaminya. Mereka bukan pasangan muda yang saling mengecek isi pesan. Setelah puluhan tahun menikah, kepercayaan bukan lagi sesuatu yang dibicarakan. Kepercayaan hanya seperti piring di rak dapur, selalu ada karena tak pernah ada yang menjatuhkan.
Tapi hari ini, piring itu retak.
Ratna menatap ponsel itu.
Layarnya menyala karena ada notifikasi masuk.
Sari H.
Ratna merasa napasnya berhenti sekejap.
Pesan itu muncul di layar terkunci.
Sari H: Paketnya sudah sampai? Jangan sampai dibuka Ratna, Bang.
Bang.
Ratna menggenggam ujung meja.
Tangannya gemetar, tetapi pikirannya justru menjadi sangat jernih.
Ia tahu PIN ponsel Bambang. Bukan karena pernah mengintip. Bambang sendiri yang dulu memberitahu ketika meminta Ratna membalas pesan tukang bangunan. Tanggal lahir Bambang, empat angka yang sama sejak bertahun-tahun lalu.
Ratna memasukkan PIN.
Ponsel terbuka.
WhatsApp Bambang dipenuhi grup RT, grup mancing, grup keluarga, dan satu percakapan yang disematkan paling atas.
Sari H.
Foto profilnya perempuan paruh baya dengan kerudung krem, wajah masih terawat, senyum tipis, matanya percaya diri. Ratna mengenalinya dari foto lama. Perempuan itu sudah tua, tentu saja. Tetapi garis wajahnya sama.
Ratna membuka percakapan itu.
Pesan terakhir masih di sana.
Sari: Paketnya sudah sampai? Jangan sampai dibuka Ratna, Bang.
Di atasnya, Bambang membalas beberapa jam lalu.
Bambang: Tenang. Dia tidak akan macam-macam. Ratna itu orangnya nurut.
Ratna membaca kalimat itu pelan.
Nurut.
Ia hampir tertawa, tetapi tenggorokannya sakit.
Ia menggulir layar ke atas. Tidak jauh, ada foto restoran. Dua gelas jus, dua piring steak, sepotong kue dengan lilin kecil. Caption dari Sari.
Sari: Tahun baru lagi sama kamu. Walau cuma sehari setahun, aku tetap bahagia.
Bambang: Maaf belum bisa lebih sering.
Sari: Aku sudah menunggu sejak muda. Menunggu setahun sekali juga tidak apa-apa, asal kamu tetap ingat aku.
Ratna meletakkan ponsel di meja, lalu mengambilnya lagi.
Jarinya bergerak pelan, terus menggulir.
Ada foto-foto lain. Bukan hanya tahun ini. Tahun lalu. Dua tahun lalu. Tiga tahun lalu. Mereka makan malam, duduk di taman hotel, berjalan di pusat kota, bahkan ada foto Bambang memakai kemeja yang Ratna sendiri setrika.
Ratna mengenali kemeja biru tua itu.
Ia membelinya di pasar kecamatan karena Bambang bilang ingin baju baru untuk reuni.
Reuni.
Ratna menutup mulut dengan punggung tangan.
Ia tidak menangis. Air matanya seperti tertahan di belakang mata, panas tetapi tidak jatuh.
Di percakapan itu, Sari sering menulis hal-hal manis.
Bang, kalau dulu kita jadi menikah, mungkin hidup kita beda.
Bang, aku tidak pernah benar-benar bisa melupakan kamu.
Bang, kapan kita bisa tidak sembunyi-sembunyi lagi?
Dan Bambang menjawab.
Sabar.
Tunggu waktu yang tepat.
Aku juga tidak bahagia di rumah.
Ratna membaca kalimat terakhir berkali-kali.
Aku juga tidak bahagia di rumah.
Rumah yang ia bangun dengan uang praktik sampai malam. Rumah yang lantainya ia pel setiap pagi. Rumah tempat anak-anak mereka tumbuh. Rumah tempat cucu-cucu berlari dan menumpahkan susu. Rumah yang ia jaga ketika Bambang sakit paru-paru dan harus dirawat di kota.
Bambang tidak bahagia di rumah.
Ratna berdiri.
Ia berjalan ke kamar, membuka lemari besi kecil tempat dokumen keluarga disimpan. Sertifikat rumah, akta nikah, Kartu Keluarga, akta lahir anak-anak, surat tanah, semua tersusun rapi karena ia yang mengurus. Bambang tidak pernah tahu letaknya sampai hal-hal kecil seperti fotokopi KTP pun selalu meminta padanya.
Ratna mencari nama Sari di ingatannya.
Sari Handayani.
Ia dulu bukan dari kampung ini. Keluarganya tinggal di kampung sebelah, dekat jalan lama menuju pasar. Setelah gagal menikah dengan Bambang, katanya ia bekerja di penginapan di kota, lalu menikah dengan sopir bus. Suaminya meninggal beberapa tahun lalu. Ia punya seorang anak perempuan.
Ratna ingat ibu mertua pernah menyebut nama itu dengan nada kasihan.
"Kasihan Sari. Cintanya sama Bambang dalam, tapi jodoh tidak ke mana. Untung Bambang dapat kamu, Rat. Kamu anaknya tenang."
Tenang.
Nurut.
Kata-kata itu dulu terdengar seperti pujian.
Sekarang terasa seperti tali yang mengikat leher.
Ponsel Bambang berdering lagi.
Sari menelepon.
Ratna menatap layar yang bergetar di meja.
Ia tidak mengangkat.
Telepon mati. Pesan baru masuk.
Sari: Bang, kok tidak jawab? Aku takut Ratna buka paketnya. Kalau dia tahu soal foto dan surat-surat itu, bagaimana?
Surat-surat?
Ratna kembali ke kotak besi.
Di bawah lapisan foto, ada beberapa amplop. Ia tadi belum memeriksa semuanya. Ia membuka amplop pertama. Isinya surat lama, tulisan tangan rapi, penuh panggilan sayang.
Amplop kedua berisi bukti transfer bertahun-tahun terakhir. Tidak besar di awal. Lima ratus ribu. Satu juta. Dua juta. Lalu semakin besar.
Amplop ketiga membuat Ratna berhenti.
Fotokopi kuitansi pembayaran booking kavling makam.
Nama pemesan: Bambang Santoso.
Nama pendamping makam: Sari Handayani.
Ratna membaca dua nama itu.
Bambang Santoso.
Sari Handayani.
Mereka tidak hanya makan bersama setiap tahun baru.
Mereka bahkan sudah merencanakan tempat berbaring bersama setelah mati.
Ratna merasa dunia di sekelilingnya menjadi hening.
Ia tidak mendengar suara motor lewat. Tidak mendengar azan dari musala. Tidak mendengar panci di dapur yang tutupnya bergetar karena air mendidih.
Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri.
Pelan, tetapi keras.
Tiga puluh tujuh tahun.
Ia menemani Bambang dari toko kecil yang bangkrut, dari utang keluarga, dari anak-anak demam tengah malam, dari operasi paru-paru, dari masa ketika mereka hanya makan tahu tempe selama seminggu.
Dan Bambang menyiapkan makamnya bersama perempuan lain.
Pintu depan tiba-tiba diketuk.
"Bu Ratna!"
Suara Bu Rini.
Ratna cepat-cepat mengumpulkan foto dan surat ke dalam kotak, tetapi satu foto terjatuh ke lantai. Foto Bambang muda menggenggam tangan Sari.
Ratna memungutnya.
"Bu Ratna, ada di rumah?"
Ratna menarik napas panjang, menutup kotak besi, lalu berjalan ke pintu.
Ketika pintu terbuka, Bu Rini berdiri dengan kantong plastik berisi gula.
"Maaf, Bu. Tadi gula yang Ibu pesan ketinggalan di warung."
Ratna menerima kantong itu. "Terima kasih."
Bu Rini menatap wajahnya. "Bu Dokter pucat. Sakit?"
Ratna menggeleng. Bibirnya mencoba tersenyum.
"Tidak. Cuma agak lelah."
Bu Rini tidak langsung pergi. Matanya melirik ke dalam rumah, mungkin melihat meja yang masih berantakan, mungkin juga hanya kebiasaan tetangga yang ingin tahu.
"Pak Bambang belum pulang?"
"Belum."
"Oh. Katanya tadi siang saya lihat motornya ke arah pasar kota."
Ratna diam.
Pasar kota.
Di arah itu juga ada kantor pemasaran pemakaman swasta yang tertulis di kuitansi.
Bu Rini akhirnya pamit. Ratna menutup pintu, lalu bersandar di baliknya.
Ponsel Bambang kembali menyala.
Bambang: Aku pulang sebentar lagi. Paket jangan disentuh.
Ratna menatap pesan itu dari jauh.
Lalu untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengetik balasan tanpa ragu.
Ratna: Pulanglah. Kita bicara.
Bab 03 - Kavling Makam
Bambang tidak langsung pulang.
Ratna menunggu dari sore sampai magrib, dari magrib sampai isya. Nasi di magic com sudah dua kali ia aduk agar tidak kering. Sayur bening di panci sudah dingin. Tempe goreng yang tadi renyah berubah lembek.
Ia tidak makan.
Ponsel Bambang dibawanya ke kamar. Kotak besi disimpan di atas meja rias, tidak lagi disembunyikan. Ratna duduk di tepi ranjang, memandangi benda itu seperti memandangi seseorang yang datang membawa kabar kematian.
Mungkin memang begitu.
Hari ini ada sesuatu yang mati.
Bukan Bambang. Bukan Sari. Bukan pernikahan mereka di mata hukum.
Yang mati adalah kepercayaan Ratna.
Pukul sembilan lewat, Bambang mengirim pesan.
Bambang: Aku ada urusan. Pulang agak malam. Jangan tidur dulu kalau mau bicara.
Ratna membaca pesan itu tanpa ekspresi.
Ia ingin menelepon. Ia ingin bertanya, "Urusan apa? Dengan siapa? Di mana?"
Tapi ia menahan diri.
Puluhan tahun menjadi dokter membuatnya terbiasa menunggu gejala jelas sebelum memberi diagnosis. Sakit kepala bisa karena kurang tidur, tekanan darah, atau tumor. Demam bisa karena infeksi ringan atau sesuatu yang lebih berat. Kalau hanya menebak, orang bisa salah obat.
Malam ini ia tidak ingin salah obat.
Ia ingin bukti.
Ratna mengambil kuitansi kavling makam dari amplop. Di bagian bawah ada nomor telepon kantor pemasaran.
Jarinya berhenti di atas layar ponsel pribadinya.
Malam sudah larut. Tidak pantas menelepon kantor saat ini.
Tapi ada akun WhatsApp bisnis tertera di kuitansi.
Ratna menyimpan nomor itu dengan nama "Makam". Lalu ia mengirim pesan.
Ratna: Selamat malam. Maaf mengganggu. Saya ingin menanyakan pembayaran kavling makam atas nama Bambang Santoso. Apakah masih bisa dibantu?
Ia tidak berharap dibalas.
Namun beberapa menit kemudian, tanda centang berubah biru.
Makam Nirwana: Selamat malam, Ibu. Untuk pengecekan data, mohon nama lengkap dan nomor pemesanan.
Ratna mengetik nomor yang tertera di kuitansi.
Balasan datang cepat.
Makam Nirwana: Baik, Ibu. Data ditemukan. Kavling pasangan Blok Melati B-17 dan B-18. Atas nama Bapak Bambang Santoso dan Ibu Sari Handayani.
Ratna menutup mata.
Pasangan.
Kata itu lebih tajam dari pisau dapur.
Ia membalas.
Ratna: Saya istri sah Bambang Santoso. Nama saya Ratna Wulandari. Saya ingin tahu status pembayaran.
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Lalu pesan masuk.
Makam Nirwana: Mohon maaf, Ibu. Untuk data detail kami hanya bisa berikan kepada pemesan atau kontak pendamping yang terdaftar.
Ratna menatap layar.
Kontak pendamping yang terdaftar.
Sari.
Ia mengetik lagi.
Ratna: Apakah kontak pendampingnya Sari Handayani?
Makam Nirwana: Betul, Ibu. Mohon maaf, apakah Ibu Sari ingin melakukan perubahan data?
Ratna hampir menjatuhkan ponsel.
Mereka mengira ia Sari.
Barangkali karena nomor Bambang sudah menghubungi sebelumnya. Barangkali karena di data mereka, perempuan yang berhak bertanya memang Sari.
Istri sahnya tidak ada di mana pun.
Ratna menatap foto pernikahannya dan Bambang yang tergantung di dinding kamar. Foto itu diambil hampir empat puluh tahun lalu. Ratna memakai kebaya putih sederhana, Bambang memakai jas pinjaman dari pamannya. Senyum mereka kaku. Waktu itu Ratna tidak terlalu mengenal Bambang, tetapi ia percaya pernikahan adalah jalan yang akan mereka pelajari bersama.
Ternyata ia belajar sendirian.
Ponsel di tangannya bergetar lagi.
Makam Nirwana: Bapak Bambang sempat menghubungi siang tadi untuk konfirmasi pelunasan tahap berikutnya. Apakah ada yang ingin dibantu, Ibu Sari?
Ratna menatap kalimat itu.
Siang tadi.
Jadi Bu Rini benar. Bambang pergi ke arah pasar kota bukan tanpa alasan.
Ratna mengetik pelan.
Ratna: Tidak. Terima kasih.
Ia menghapus nama kontak itu setelah menutup percakapan, tetapi tangkapan layar sudah ia simpan.
Pukul sepuluh lewat, suara motor Bambang akhirnya terdengar di halaman.
Ratna tidak bergerak dari kamar.
Pintu depan dibuka. Bambang masuk sambil batuk kecil, seperti biasa ketika ingin memberi tanda bahwa ia pulang. Dulu Ratna akan segera keluar, bertanya sudah makan atau belum. Malam ini ia tetap duduk.
"Rat?" panggil Bambang.
Tidak ada jawaban.
Langkahnya mendekat ke kamar.
Begitu Bambang membuka pintu, wajahnya berubah.
Matanya langsung tertuju pada kotak besi di atas meja rias.
"Kamu buka paketku?"
Suara itu bukan suara orang lelah. Itu suara orang tertangkap.
Ratna menatap suaminya.
Bambang masih memakai jaket cokelat. Rambutnya agak berantakan. Di lehernya ada bau parfum asing, samar tetapi jelas. Bukan minyak kayu putih, bukan sabun mandi rumah mereka.
"Iya," jawab Ratna.
Bambang melangkah cepat ke meja, mengambil kotak itu, membuka isinya dengan panik. Foto-foto diperiksa, amplop dihitung, seolah Ratna adalah pencuri yang mungkin mengambil sesuatu.
"Kenapa kamu buka? Aku sudah bilang jangan dibuka!"
Ratna berdiri pelan. "Karena kamu bilang jangan dibuka."
"Itu barang lama!"
"Kuitansi makam juga barang lama?"
Bambang terdiam.
Ratna mengambil ponselnya, membuka tangkapan layar dari Makam Nirwana, lalu memperlihatkannya.
"Blok Melati B-17 dan B-18. Atas nama Bambang Santoso dan Sari Handayani. Kavling pasangan."
Wajah Bambang memucat, lalu memerah.
"Kamu menghubungi mereka?"
"Aku istrimu. Aku berhak tahu kenapa suamiku menyiapkan makam dengan perempuan lain."
"Itu tidak seperti yang kamu pikir."
Ratna hampir tersenyum.
Kalimat itu ternyata benar-benar ada. Kalimat yang sering ia dengar di sinetron, di cerita pasien, di rumah tangga orang lain. Ia tidak pernah menyangka suatu hari Bambang akan mengucapkannya di kamar mereka.
"Lalu seperti apa?" tanyanya.
Bambang mengusap wajah. "Sari itu... dia tidak punya siapa-siapa. Suaminya sudah meninggal. Anaknya jauh. Dia takut nanti kalau meninggal tidak ada yang mengurus."
"Jadi kamu mengurus makamnya?"
"Aku hanya membantu."
"Dengan membeli dua kavling berdampingan?"
Bambang membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Ratna melanjutkan, suaranya tetap pelan. "Dan makan malam tahun baru setiap tahun? Itu juga membantu?"
"Ratna."
"Kemeja biru yang aku setrika untuk reuni. Itu dipakai makan malam dengannya?"
Bambang menegang. "Kamu baca pesan?"
"Aku baca cukup banyak."
"Kamu keterlaluan. Itu ponselku."
Ratna menatapnya lama.
"Pernikahan kita juga hidupku, Bang."
Bambang terdiam lagi.
Untuk beberapa detik, hanya suara jam dinding terdengar. Tik. Tik. Tik.
Ratna menunggu. Mungkin masih ada penjelasan yang bisa menyelamatkan sesuatu. Mungkin Bambang akan meminta maaf. Mungkin ia akan berkata semuanya kesalahan besar dan berhenti.
Bambang justru berkata, "Kamu jangan membesar-besarkan. Di usia kita, orang butuh teman bicara. Aku dan Sari hanya saling menguatkan."
Ratna mengulang pelan, "Saling menguatkan."
"Iya."
"Selama sepuluh tahun?"
Bambang kaget. "Siapa bilang sepuluh tahun?"
Ratna membuka salah satu foto restoran paling lama yang ia temukan di chat. "Tanggalnya ada. Kamu pikir aku tidak bisa menghitung?"
Bambang membuang muka.
Ratna merasakan lututnya sedikit lemas, tetapi ia tidak duduk. Ia ingin berdiri ketika mendengar semua ini. Ia tidak mau terlihat seperti perempuan yang sedang meminta belas kasihan.
"Aku ini apa bagimu?" tanya Ratna.
Bambang tampak kesal. "Kamu istriku. Ibu dari anak-anakku. Tidak ada yang berubah."
"Tidak ada yang berubah?"
"Aku tetap pulang ke rumah. Aku tetap memberi uang."
Ratna tertawa pendek.
"Uang apa, Bang? Uang belanja yang bahkan tidak cukup kalau klinik tidak jalan? Uang rokokmu saja kadang dari laci dapur."
Wajah Bambang mengeras. "Jangan mulai menghina."
"Aku tidak menghina. Aku mengingatkan."
"Kamu selalu begini. Diam-diam menyimpan semua, lalu keluar seperti orang paling benar."
Ratna menatap suaminya seolah baru pertama kali melihatnya.
Selama ini Bambang jarang marah besar, tetapi kalau tersudut, ia selalu membalikkan keadaan. Ratna dulu memilih diam karena tidak suka ribut. Malam ini, diam terasa seperti ikut membantu kebohongan.
"Aku mau bertemu Sari," kata Ratna.
Bambang langsung menoleh. "Untuk apa?"
"Untuk mendengar dari mulutnya. Kalau kalian hanya saling menguatkan, tidak perlu takut."
"Jangan bikin malu."
"Malu pada siapa?"
"Pada orang-orang."
Ratna mengangguk pelan. "Jadi kamu tahu ini memalukan."
Bambang kehilangan kata.
Ratna berjalan ke lemari, mengambil satu map kosong, lalu memasukkan fotokopi kuitansi, tangkapan layar yang sudah ia cetak dari printer klinik kecil, dan beberapa foto lama yang paling jelas.
Bambang melihatnya dengan curiga.
"Mau kamu bawa ke mana itu?"
"Besok aku akan menemui Melati."
"Jangan libatkan anak-anak."
Ratna berhenti.
Ia berbalik.
"Saat kamu memakai uang rumah untuk Sari, kamu sudah melibatkan anak-anak. Saat kamu membuat ibunya terlihat bodoh selama bertahun-tahun, kamu sudah melibatkan mereka. Saat kamu menyiapkan makam dengan perempuan lain, kamu sudah mengubur aku hidup-hidup di depan keluarga ini."
Bambang menatapnya, tercengang.
Mungkin Bambang tidak pernah mendengar Ratna bicara sepanjang itu tanpa gemetar.
Ratna sendiri juga hampir tidak mengenali suaranya.
Tapi ia tidak menyesal.
"Besok aku bertemu Melati," ulangnya. "Setelah itu, Dimas dan Raka juga harus tahu."
"Ratna, jangan gila."
Ratna memegang map itu di depan dadanya.
"Aku justru baru waras malam ini."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!