Bab 1
Mobil Porsche hitam itu berhenti cukup lama di pinggir jalan kawasan vila Bukit Menteng. Dari luar mobil itu terlihat biasa saja, hanya seperti mobil mahal milik orang kaya yang sedang menunggu gerbang dibuka. Namun jika ada orang yang berdiri cukup dekat, ia pasti akan melihat kaca mobil bagian dalam sudah dipenuhi embun tipis, dan mendengar napas dua orang yang masih belum benar-benar teratur.
Arka Pradana duduk di balik kemudi dengan tubuh kaku. Kedua tangannya masih mencengkeram setir, padahal mobil sudah berhenti sejak beberapa menit lalu. Kemeja hitam seragam Nirwana Club yang ia pakai tampak kusut, beberapa kancing atasnya terbuka, dan rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan seperti baru saja keluar dari keributan besar.
Di kursi samping, Maya Santoso justru terlihat jauh lebih tenang. Wanita itu menarik ritsleting gaun hitamnya dengan gerakan pelan, seolah baru saja merapikan gaun setelah turun dari pesta, bukan setelah membuat seorang laki-laki muda hampir kehilangan akal di dalam mobil. Rambutnya sedikit berantakan di bahu, lipstiknya memudar di sudut bibir, dan kulit lehernya masih menyimpan bekas merah samar yang membuat Arka tidak berani menatap terlalu lama.
Maya menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengatur napas. Dadanya naik turun lebih lambat dari Arka, tetapi mata wanita itu tetap hidup, basah, dan malas.
Maya menoleh ke arah Arka dan tersenyum tipis saat melihat laki-laki itu masih seperti kehilangan separuh nyawanya.
"Kenapa diam begitu? Menyesal?" tanya Maya dengan suara serak yang terdengar malas, seolah kejadian beberapa menit lalu bukan sesuatu yang bisa membuat seorang pelayan biasa seperti Arka kehilangan pekerjaan, bahkan mungkin kehilangan nyawa.
Arka ingin menjawab, tapi lidahnya terasa kelu. Bagaimana mungkin dia tidak panik? Wanita di sampingnya bukan wanita biasa. Maya Santoso adalah pemilik Nirwana Club, wanita yang selalu dikelilingi orang kuat dan dikenal dekat dengan Jaya Harim, salah satu nama paling ditakuti di dunia malam Jakarta. Arka hanya pelayan biasa yang malam ini mendapat tugas mengantar Maya pulang karena wanita itu sedikit mabuk setelah minum bersama teman-temannya.
Awalnya semua masih normal. Arka menyetir dengan hati-hati, sementara Maya duduk di sampingnya sambil memejamkan mata. Aroma parfum mahal wanita itu memenuhi kabin mobil, bercampur dengan wangi wine yang tersisa dari napasnya. Arka sudah berusaha untuk tidak melirik, tapi gaun hitam Maya terlalu pas di tubuhnya. Kain itu mengikuti lekuk tubuhnya dengan cara yang tidak perlu sengaja menggoda pun sudah cukup membuat laki-laki waras kehilangan fokus.
Maya rupanya menyadari itu. Di tengah perjalanan, tepat saat mobil berhenti di lampu merah yang sepi, wanita itu membuka mata dan menatap Arka dari samping.
"Kamu tegang sekali. Aku menakutkan ya?"
"Tidak, Bu Maya," jawab Arka cepat.
Maya tertawa kecil. "Kalau tidak takut, kenapa dari tadi menelan ludah terus?"
Arka langsung salah tingkah. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya hanya fokus menyetir, tapi Maya sudah lebih dulu melepas sabuk pengaman. Bunyi klik itu terdengar kecil, namun di kabin yang tertutup rapat rasanya seperti tanda bahaya. Wanita itu condong mendekat, ujung jarinya menyentuh kerah kemeja Arka, lalu turun perlahan ke dadanya.
"Pria sepertimu lucu juga," bisik Maya dekat telinganya. "Kelihatan takut, tapi tubuhmu tidak bilang begitu."
Sebelum Arka sempat memahami maksud ucapan itu, Maya sudah menarik dagunya dan mencium bibirnya. Ciuman itu tidak terburu-buru. Ia menggigit pelan, melepas, lalu kembali mendekat dengan napas hangat yang membuat kepala Arka kosong.
Selama lima tahun Arka hidup seperti pria yang tidak lengkap. Ia sudah pergi ke dokter, minum obat, mencoba terapi, bahkan diam-diam menemui orang pintar karena terlalu putus asa. Semua tidak berguna. Namun malam ini, hanya karena ciuman seorang wanita matang yang berbahaya, tubuhnya seperti tersentak bangun dari tidur panjang.
Arka sempat ingin menjauh. Ia ingat dirinya sudah menikah. Ia juga ingat Maya bukan wanita yang boleh disentuh sembarang orang. Tapi Maya tidak memberinya kesempatan untuk berpikir terlalu lama. Wanita itu kembali menciumnya, kali ini lebih dalam, lebih berani, dan Arka yang sudah terlalu lama merasa mati sebagai laki-laki akhirnya kehilangan kendali.
Kursi mobil dimundurkan. Maya menarik bahu Arka, sementara Arka menahan pinggang wanita itu dengan tangan yang awalnya masih gemetar. Maya merasakan kegugupan itu dan tertawa rendah di bibirnya.
"Baru begini saja sudah kacau?" bisiknya.
Kalimat itu seperti tamparan halus. Arka yang semula masih kaku tiba-tiba menahan pinggang Maya lebih kuat. Wanita itu tidak marah. Justru sudut bibirnya naik, seolah akhirnya melihat sesuatu yang menarik keluar dari laki-laki yang sejak tadi hanya berusaha sopan.
Ruang di dalam mobil sempit, membuat tubuh mereka saling menempel tanpa jarak. Maya menuntun tangan Arka ke tempat yang ia inginkan, menahan napasnya tepat di telinga laki-laki itu, lalu sengaja berhenti sebentar hanya untuk melihat Arka dibuat gelisah oleh jeda yang ia ciptakan.
"Jangan cuma berani di pikiran," ucap Maya pelan.
Mata Arka berubah.
Setelah itu, permainan tidak lagi hanya milik Maya. Arka menariknya lebih dekat, membuat wanita matang itu untuk pertama kalinya mengeluarkan suara tertahan yang tidak sempat ia atur. Maya sempat menatapnya dengan alis terangkat, seolah terkejut melihat pelayan muda yang penurut itu tiba-tiba punya tenaga sebesar itu. Namun keterkejutan itu cepat berubah menjadi senyum puas.
"Nah," Maya berbisik, napasnya mulai pecah, "ternyata bisa."
Gaun hitamnya bergeser di paha. Kaca depan semakin berkabut. Arka mencium leher Maya, sementara tangan wanita itu meremas rambutnya dan menariknya lebih dalam ke dekat tubuhnya. Maya masih mencoba mengendalikan ritme, tetapi setiap kali Arka menekan lebih tegas, kelopak matanya bergetar dan senyumnya sedikit retak.
Saat batas terakhir benar-benar mereka lewati, Maya menahan napas panjang. Ia memeluk bahu Arka, menekan wajahnya ke sisi leher laki-laki itu, lalu mengeluarkan tawa kecil yang basah dan serak.
"Pelan-pelan, anak muda," katanya, tetapi pinggangnya justru menarik Arka lebih dekat.
Kata-kata itu membuat darah Arka semakin panas. Ia tidak lagi merasa seperti laki-laki yang rusak. Sesuatu yang lima tahun hilang darinya seperti kembali di dalam kabin sempit itu. Maya masih mencoba tersenyum mengejek, tetapi setelah beberapa kali ritme Arka membuat napasnya terputus, wanita itu tidak lagi sempat bicara sebanyak tadi.
Arka tidak tahu berapa lama semuanya berlangsung. Yang ia ingat hanya kaca depan yang semakin buram, aroma parfum Maya yang semakin pekat, tumit sepatu wanita itu yang beberapa kali membentur pintu mobil, dan suara Maya yang berubah dari tawa menggoda menjadi napas tertahan di dekat telinganya.
Bahkan saat tubuhnya masih gemetar halus, Maya masih sempat menggigit pelan bibir bawah Arka dan tertawa di sela napasnya.
"Ternyata kamu tidak selemah wajahmu."
Kalimat itu membuat Arka seperti disiram air dingin. Setelah panas itu mereda, rasa takut langsung datang. Ia sadar apa yang baru saja mereka lakukan. Ia sadar siapa Maya. Ia juga sadar dirinya sendiri masih punya istri di rumah, istri yang selama ini ia pikir paling sabar menerima kekurangannya.
Maya menyalakan rokok tipis. Asap mint menyebar pelan di dalam mobil. Ia tidak tampak menyesal, malah seperti menikmati wajah Arka yang masih kacau.
"Pulanglah," ucap Maya sambil membuang asap ke samping. "Anggap saja malam ini tidak pernah terjadi."
Arka menoleh padanya. "Bu Maya..."
"Jangan banyak bertanya." Maya merapikan kerah kemejanya dengan jari yang masih hangat. Gerakannya terlihat lembut, tapi tatapannya tetap membuat Arka tidak berani macam-macam. "Kalau aku membutuhkanmu, aku akan menghubungimu."
Arka hanya bisa mengangguk. Ia turun dari mobil dengan langkah yang hampir tidak stabil, lalu berjalan meninggalkan kawasan vila. Di belakangnya, Maya masih menatap dari dalam mobil. Wanita itu mengisap rokok sekali lagi, kemudian tersenyum kecil melihat punggung Arka yang terlihat seperti orang baru saja selamat dari kecelakaan.
"Penakut," gumamnya, "tapi menarik."
Saat Arka sampai di kontrakan kecilnya di Tebet, langit sudah mulai terang. Gang sempit di depan kontrakan masih sepi, hanya ada suara motor lewat sesekali dan pedagang bubur yang baru menata gerobaknya di ujung jalan. Kontrakan Arka jauh sekali dari vila tempat Maya tinggal. Dindingnya lembap, sofa ruang tamunya sudah robek di salah satu sisi, dan di atas meja masih berserakan tagihan pinjaman online, cicilan motor, serta catatan utang keluarga Hana yang jumlahnya membuat kepala siapa pun pening.
Arka melepas sepatu dengan pelan. Dari kamar mandi terdengar suara air. Hana sedang mandi.
Mendengar suara istrinya, rasa bersalah yang sejak tadi bersembunyi di dada Arka langsung muncul lagi. Selama ini Hana selalu terlihat sabar di hadapannya. Mereka berpacaran sejak kuliah, lalu menikah meski hidup mereka jauh dari mapan. Hana tahu Arka punya masalah sebagai laki-laki, tapi ia tetap berkata tidak apa-apa. Hana juga tetap bertahan saat keluarga mereka dikejar utang hampir Rp4,8 miliar akibat bisnis orang tua Hana yang gagal. Karena itulah Arka bekerja siang malam. Siang mengantar makanan, malam menjadi pelayan di Nirwana Club, kadang menerima pekerjaan apa pun asal bisa membawa pulang uang.
Arka duduk di sofa sambil menunduk. Ia merasa seperti laki-laki paling brengsek di dunia karena baru saja melewati batas dengan Maya. Namun di sisi lain, ada bagian dirinya yang tidak bisa membohongi kenyataan bahwa tubuhnya yang mati lima tahun justru hidup kembali malam ini. Ia tidak tahu harus senang atau takut.
Ia berpikir untuk bicara baik-baik dengan Hana. Mungkin tidak perlu mengakui semuanya malam itu juga, tapi setidaknya ia ingin memperbaiki pernikahan mereka. Kalau tubuhnya sudah kembali normal, mungkin ia bisa menebus semua penantian Hana. Pikiran itu baru saja muncul saat ponsel Hana yang tergeletak di sofa bergetar beberapa kali.
Arka awalnya tidak ingin menyentuhnya. Ia bukan tipe suami yang suka memeriksa ponsel istri. Tapi layar ponsel itu menyala tanpa kunci, dan nama Bima muncul begitu jelas di sana. Bima Hartono. Sahabat dekat Hana yang selama ini selalu disebut hanya teman lama, pria yang juga mengenalkan Arka ke Nirwana Club.
Arka menatap layar itu beberapa detik. Ada rasa tidak enak yang tiba-tiba muncul, lebih kuat dari rasa lelahnya. Akhirnya ia mengambil ponsel itu dan membuka pesan yang masuk.
Wajah Arka berubah pelan.
Bima menanyakan apakah Hana sudah memasukkan obat ke kopi Arka hari ini. Hana menjawab sudah, bahkan menambah dosis agar Arka tetap tidak bisa menjadi laki-laki normal. Pesan berikutnya membuat dada Arka terasa seperti diremas. Mereka membicarakan dirinya seperti bahan lelucon. Hana menulis bahwa ia paling suka melihat Arka merasa bersalah, sementara Bima menertawakan kerja keras Arka yang setiap hari membayar utang keluarga Hana. Di pesan terakhir, mereka bahkan menyinggung asuransi jika suatu hari Arka benar-benar hancur dan mati.
Arka membaca semuanya berkali-kali karena otaknya seperti menolak percaya. Tangannya perlahan mengencang di sekitar ponsel. Jadi selama lima tahun ini bukan penyakit, bukan stres, dan bukan nasib buruk seperti yang ia kira. Hana dan Bima yang membuatnya seperti itu. Mereka meracuni kopi yang ia minum hampir setiap hari, lalu berpura-pura menjadi orang yang paling peduli saat Arka jatuh dalam rasa malu dan putus asa.
Pintu kamar mandi terbuka.
Hana keluar dengan handuk putih melilit tubuh. Rambutnya basah, wajahnya masih segar setelah mandi. Biasanya pemandangan itu akan membuat Arka merasa bersalah karena tidak bisa menjadi suami yang baik. Pagi ini, yang muncul hanya rasa muak.
Hana berhenti saat melihat ponsel di tangan Arka.
"Arka? Kenapa kamu pegang ponselku?"
Arka mengangkat layar ponsel itu ke arahnya. "Obat apa yang kamu campur ke kopiku?"
Wajah Hana langsung berubah. Ia memang cepat sekali menutupinya, tapi Arka sudah melihat cukup jelas. Kepanikan kecil di mata Hana membuat semua pesan itu tidak perlu dijelaskan lagi.
"Aku tidak tahu maksudmu," ucap Hana, berusaha terdengar marah. "Kamu pulang pagi-pagi, bukannya jelasin dari mana, malah nuduh macam-macam."
Arka berdiri dari sofa. "Masih mau akting?"
Hana menatapnya beberapa saat. Mungkin ia sadar tidak ada gunanya lagi berpura-pura. Wajah cantik yang selama ini selalu terlihat lembut di depan Arka perlahan berubah dingin. Ia mengencangkan handuk di tubuhnya, lalu tersenyum sinis.
"Iya, aku yang melakukannya. Terus kamu mau apa?"
Arka tidak langsung menjawab. Ia merasa seperti mendengar sesuatu pecah di dalam dadanya. Bukan cinta, karena mungkin cinta itu sudah lama membusuk tanpa ia sadari. Yang pecah adalah sisa kepercayaan bodoh yang selama ini membuatnya tetap bertahan.
Hana melipat tangan di depan dada. "Kamu benar-benar pikir aku menikah denganmu karena cinta? Arka, lihat hidupmu. Kamu miskin, tidak punya masa depan, bahkan sebagai laki-laki saja kamu gagal. Kalau bukan karena kamu gampang dimanfaatkan, mana mungkin aku mau tinggal di tempat seperti ini?"
"Jadi utang keluargamu..."
"Kamu yang mau bayar sendiri." Hana tertawa pendek. "Aku tidak pernah memaksamu. Kamu saja yang bodoh, merasa jadi suami paling bertanggung jawab. Aku dan Bima sampai capek tertawa setiap melihatmu pulang dengan wajah lelah."
Arka menatap wanita di depannya. Wanita yang dulu ia bela dari omongan orang, wanita yang ia pilih meski hidupnya sendiri berantakan, ternyata selama ini hanya menjadikannya sapi perah.
"Kamu bahkan menunggu aku mati demi asuransi?"
Hana tidak menjawab langsung. Tapi senyum di wajahnya sudah cukup.
Darah Arka naik ke kepala. Ia melangkah maju, membuat Hana tanpa sadar mundur sedikit. Namun Hana masih mencoba menyelamatkan harga dirinya dengan ancaman yang selama ini mungkin selalu berhasil membuat Arka diam.
"Jangan macam-macam. Bima itu anak angkat Bos Jaya. Kalau dia tahu kamu berani menyentuhku, kamu bisa hilang dari Jakarta."
Arka berhenti tepat di depan Hana. Tatapannya tidak lagi bingung, tidak lagi lemah seperti dulu. Untuk pertama kalinya Hana melihat sesuatu yang asing di mata suaminya, dan hal itu membuat tenggorokannya mendadak kering.
"Dulu aku pikir kamu rumah," ucap Arka pelan. "Ternyata aku cuma numpang di kandang yang penuh racun."
Tamparan itu mendarat di wajah Hana. Tidak sampai membuatnya terluka parah, tapi cukup keras untuk membuatnya jatuh terduduk di sofa. Hana memegangi pipinya dengan mata melebar. Selama ini Arka bahkan jarang membentak. Melihatnya berani menampar balik membuat Hana akhirnya sadar bahwa laki-laki di depannya bukan lagi orang bodoh yang bisa ia injak sesuka hati.
"Ganti baju," kata Arka.
Hana menatapnya penuh kebencian. "Kamu mau apa?"
"Urus perceraian."
"Kamu pikir aku takut?"
Arka mengambil ponselnya sendiri, memotret seluruh percakapan, lalu mengirim salinannya ke email pribadinya. Setelah itu ia menatap Hana dengan wajah dingin.
"Kalau kamu tidak ikut, semua bukti ini aku kirim ke rumah sakit tempatmu kerja, ke keluarga besarmu, ke polisi, dan kalau perlu ke media. Cerita istri yang meracuni suami lima tahun demi selingkuhan dan uang asuransi pasti ramai dibaca orang."
Wajah Hana yang tadi masih sombong mulai pucat. Ia tahu Arka tidak sedang menggertak. Atau mungkin lebih tepatnya, untuk pertama kalinya ia tidak yakin bisa mengendalikan Arka lagi.
"Arka..."
"Jangan panggil namaku seolah kita masih suami istri."
Hana terdiam.
Arka melempar pakaian Hana dari kursi ke arahnya. "Sepuluh menit. Kalau kamu masih belum siap, aku mulai kirim buktinya satu per satu."
Hana menggigit bibir, marah sekaligus takut. Namun ia akhirnya bangkit dan masuk ke kamar dengan langkah berat.
Arka berdiri di ruang tamu yang sempit itu sambil menatap ponsel di tangannya. Dari dalam kamar terdengar suara lemari dibuka dengan kasar, disusul isak tertahan Hana yang masih berusaha menahan marah.
"Waktumu tinggal sembilan menit," ucap Arka tanpa menoleh.
Bab 2
Hana keluar dari kamar dengan wajah pucat dan mata merah. Ia sudah mengganti handuknya dengan kemeja panjang dan celana bahan, tapi rambutnya masih basah. Biasanya ia akan mengeluh jika Arka menyuruhnya keluar pagi-pagi seperti itu, apalagi tanpa sempat berdandan. Kali ini ia tidak berani banyak bicara.
Arka menyimpan ponselnya ke saku, lalu membuka pintu kontrakan. "Ayo."
"Arka, kita bisa bicara dulu baik-baik," ucap Hana dengan suara yang sudah jauh lebih lunak. "Aku tadi emosi. Pesan itu juga tidak seperti yang kamu pikirkan."
Arka berhenti di depan pintu dan menatapnya. "Kamu mau aku kirim satu foto sekarang?"
Hana langsung menutup mulutnya.
Mereka pergi ke kantor catatan sipil dan pengadilan agama dengan suasana yang lebih mirip dua orang asing daripada suami istri. Prosesnya tidak selesai hari itu juga, tapi berkas awal sudah masuk. Ada masa tunggu dan prosedur yang harus dilewati, namun bagi Arka, pernikahan itu sudah selesai sejak ia membaca pesan Hana dan Bima.
Saat keluar dari gedung, Hana masih mencoba menarik lengannya.
"Kamu benar-benar tega? Lima tahun kita bersama, Arka."
Arka menepis tangannya. "Lima tahun aku minum racun dari tanganmu sendiri."
Hana menggigit bibir, tidak bisa membantah. Ia menatap Arka dengan mata basah, entah karena sedih atau marah karena rencananya berantakan.
"Bima tidak akan tinggal diam."
"Bagus. Suruh dia datang."
Hana terdiam. Ia seperti baru sadar bahwa ancaman yang dulu selalu membuat Arka menunduk kini tidak lagi berguna. Setelah beberapa detik, ia berbalik dan menghentikan taksi online di pinggir jalan, lalu masuk tanpa menoleh lagi.
Arka berdiri di depan gedung sambil menyalakan rokok. Ia bukan perokok berat, tapi pagi itu dadanya terlalu penuh. Ia mengisap sekali, lalu menatap lalu lintas Jakarta yang mulai padat. Orang-orang berjalan terburu-buru, motor saling mendahului, suara klakson bercampur dengan teriakan tukang parkir. Dunia tetap berjalan seperti biasa, seolah hidupnya tidak baru saja jungkir balik.
Saat merogoh saku, jarinya menyentuh liontin kecil di lehernya. Liontin itu dulu diberikan Hana saat mereka menikah. Bentuknya seperti mata hitam, katanya peninggalan neneknya untuk menjaga keselamatan. Dulu Arka menyimpannya dengan hati-hati karena merasa itu tanda cinta. Sekarang benda itu terasa seperti lelucon.
Ia masuk ke sebuah toko gadai kecil tidak jauh dari gedung itu. Pemilik toko, pria paruh baya berkacamata tebal, memeriksa liontin tersebut sebentar sebelum mengangkat bahu.
"Kalau rantainya masih lumayan. Liontinnya tidak ada harga. Saya berani kasih dua ratus ribu."
Arka menatap pria itu. "Cuma dua ratus ribu?"
"Mas, ini bukan batu mulia. Model begini banyak di online shop. Rantainya saja yang masih bisa dihitung."
Arka tertawa pendek. Peninggalan keluarga, katanya. Jimat keselamatan, katanya. Bahkan hadiah pernikahan Hana pun ternyata tidak lebih dari barang murahan.
Ia mengambil liontin itu kembali dan keluar dari toko. Di pinggir jalan, tanpa banyak pikir, ia membanting liontin itu ke aspal.
Liontin itu pecah.
Namun begitu pecahannya menyentuh tanah, dada Arka tiba-tiba terasa panas. Panas itu bukan seperti terbakar di kulit, tapi seperti ada sesuatu yang merambat masuk ke dalam tubuhnya. Arka mencengkeram kerah bajunya dan mundur beberapa langkah sampai punggungnya membentur dinding toko.
"Mas, kenapa?" pemilik toko ikut keluar dengan panik.
Arka tidak menjawab. Di dada kirinya, tepat di balik kemeja, muncul rasa berdenyut yang semakin kuat. Ia masuk ke gang sempit di samping toko dan membuka kancing bajunya. Di kulit dadanya terlihat pola mata hitam yang sama persis dengan liontin tadi, seolah gambar itu hidup dan menempel di sana.
Kepalanya mendadak penuh oleh informasi asing. Bukan suara yang jelas seperti orang bicara, melainkan potongan pengetahuan yang mengalir begitu saja. Ilmu pengobatan, membaca aura, jimat, tenaga dalam, feng shui, sampai cara menilai batu dan barang antik. Semuanya masuk sekaligus hingga Arka hampir muntah.
Ia bersandar pada dinding cukup lama. Keringat dingin membasahi punggungnya, tapi setelah rasa sakit itu mereda, pikirannya justru terasa lebih jernih dari sebelumnya.
Warisan Hantala.
Itu nama yang muncul di kepalanya. Sebuah warisan kuno yang mengatur keseimbangan hidup dan mati, panas dan dingin, tubuh dan jiwa. Arka tidak tahu apakah ia sedang gila, tapi pola mata di dadanya terlalu nyata untuk disebut halusinasi.
Ia juga mulai memahami kenapa tubuhnya semalam mendadak kembali hidup saat bersama Maya. Racun yang selama ini diberikan Hana memang merusak tubuhnya, tapi liontin itu menekan kerusakannya. Begitu ada rangsangan kuat dan liontin pecah, warisan yang tertidur ikut bangun.
"Brengsek," gumam Arka sambil menutup kemejanya lagi. "Jadi barang murahan ini malah lebih jujur daripada pemiliknya."
Pemilik toko masih berdiri di depan gang, menatapnya seperti melihat orang kerasukan.
"Mas yakin tidak perlu ke klinik?"
"Tidak perlu."
Arka berjalan pergi. Langkahnya masih sedikit goyah, tapi matanya sudah berbeda. Ia pulang ke kontrakan, mengunci pintu, lalu duduk bersila di lantai ruang tamu mengikuti cara pernapasan yang muncul di kepalanya. Semakin lama ia bernapas, semakin jelas ia merasakan aliran panas di dada bergerak ke seluruh tubuh.
Saat membuka mata, hari sudah menjelang sore.
Arka hampir lupa bahwa ia masih harus masuk kerja.
Ia buru-buru mandi, mengganti seragam, lalu pergi ke Nirwana Club. Baru sampai di lobi belakang, Pak Darto, kepala shift yang biasanya galak, langsung memanggilnya.
"Arka! Bos Jaya nunggu kamu di VIP utama."
Langkah Arka berhenti sebentar. Nama Jaya Harim membuat beberapa pelayan di sekitar mereka langsung menoleh. Di Nirwana Club, tidak ada yang berani bercanda dengan nama itu. Jaya adalah pemilik sebenarnya dari klub tersebut, orang yang dikenal bisa membuat urusan apa pun selesai, entah dengan uang atau dengan cara yang tidak ingin diketahui orang biasa.
Arka teringat Maya. Jika wanita itu membuka mulut tentang kejadian semalam, hidupnya mungkin benar-benar tamat.
Namun setelah mengalami semua yang terjadi hari itu, rasa takut Arka tidak lagi sebesar dulu. Ia mengetuk pintu ruang VIP utama dan masuk setelah mendengar suara berat dari dalam.
Ruangan itu dipenuhi asap rokok dan bau alkohol mahal. Jaya Harim duduk di sofa tengah dengan kemeja batik gelap, dua pria besar berdiri di belakangnya. Di meja ada gelas kristal, buah potong, dan sebuah pistol yang diletakkan begitu saja seolah hanya pemantik rokok.
Jaya menatap Arka dari atas sampai bawah.
"Maya bilang kamu bisa bawa mobil dengan baik."
Arka menahan napas. Jadi Maya tidak mengadu. Atau mungkin ini cara Jaya mengetesnya.
"Saya hanya menjalankan tugas, Bos."
Jaya melemparkan kunci Porsche ke arahnya. Arka menangkapnya dengan refleks yang bahkan membuat dirinya sendiri sedikit kaget.
"Mulai hari ini kamu jadi sopir pribadi Maya. Gaji tiga puluh juta sebulan. Kalau dia minta antar ke mana pun, kamu antar. Kalau dia minta tunggu, kamu tunggu. Kalau dia minta diam, kamu tutup mulut."
Arka menatap kunci di tangannya. Tiga puluh juta sebulan. Angka itu lebih besar dari semua penghasilannya selama beberapa bulan jika digabung.
"Baik, Bos."
Jaya menyipitkan mata. "Jangan kecewakan dia."
Arka mengangguk, lalu keluar dari ruangan. Punggungnya baru terasa dingin setelah pintu tertutup. Ia belum tahu apa permainan Maya, tapi yang jelas wanita itu sengaja menariknya lebih dekat.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Maya masuk.
[Hari ini kamu boleh pulang. Besok jam dua belas siang, datang ke vila. Jangan telat.]
Arka menatap pesan itu beberapa saat, lalu menyimpan ponselnya. Ia baru berbalik hendak menuju pintu belakang saat melihat dua pria menyeret seorang wanita ke salah satu ruang karaoke di ujung koridor.
Wanita itu tampak lemas. Kepalanya terkulai, rambutnya menutupi sebagian wajah. Namun ketika salah satu lampu koridor mengenai wajahnya, Arka langsung berhenti.
Yulia Maheswari.
Guru Bahasa Indonesia waktu SMA.
Dulu Yulia baru lulus kuliah ketika mengajar di sekolahnya. Cantik, lembut, dan selalu tersenyum saat menjelaskan puisi di depan kelas. Bagi banyak siswa laki-laki, termasuk Arka, Yulia adalah cinta diam-diam yang tidak pernah berani disebut.
Arka melihat dua pria itu mengunci pintu dari luar lalu pergi ke arah toilet. Tanpa pikir panjang, ia berjalan cepat ke ruangan itu, membuka kunci dengan kartu cadangan staf yang tergantung di dinding servis, lalu masuk.
Lampu ruangan redup. Yulia terbaring di sofa dengan napas tidak teratur. Gaun kremnya kusut, rambutnya menempel di pipi, dan wajahnya merah tidak wajar.
Arka mendekat, lalu berjongkok di sampingnya.
"Bu Yulia?"
Yulia membuka mata sedikit, tapi jelas tidak benar-benar sadar. Arka menggertakkan gigi. Ia melepas jas seragamnya dan menutupi tubuh Yulia, lalu mengangkatnya keluar melalui pintu servis sebelum dua pria tadi kembali.
Beberapa menit kemudian, Porsche melaju keluar dari parkiran Nirwana.
Arka baru sadar satu masalah saat mobil sudah berada di jalan besar. Ia tidak tahu alamat Yulia.
Ia sedang berpikir untuk membawanya ke rumah sakit ketika Yulia tiba-tiba bergerak. Wanita itu membuka mata dengan pandangan berkabut, lalu meraih lengan Arka.
"Panas..." bisiknya.
Arka menepi dengan cepat. Namun sebelum mobil benar-benar berhenti, Yulia sudah condong ke arahnya. Bibirnya menyentuh rahang Arka tanpa arah, tangannya mencengkeram kemeja laki-laki itu.
"Tolong..."
Arka menahan bahu Yulia agar tidak jatuh ke pangkuannya. Aroma tubuh wanita itu, napas panasnya, dan kenangan masa SMA yang tiba-tiba muncul membuat kepala Arka kacau. Namun warisan di dadanya berdenyut, mengingatkannya pada sesuatu yang jauh lebih penting.
Ia menekan dua jari ke titik di bawah tulang selangka Yulia, mengikuti pengetahuan yang baru saja ia dapatkan.
Tubuh Yulia bergetar pelan.
"Bu Yulia, tahan sebentar," ucap Arka, menahan napasnya sendiri. "Saya bukan orang yang mau memanfaatkan keadaan seperti ini."
Yulia menatapnya dengan mata setengah terbuka. "Arka...?"
Nama itu keluar begitu lemah sampai hampir tenggelam oleh suara mesin mobil.
Bab 3
Arka memarkirkan Porsche di pinggir jalan yang cukup sepi. Ia menyalakan lampu hazard, lalu memeriksa keadaan Yulia dengan wajah tegang. Wanita itu masih gemetar, tapi napasnya mulai lebih teratur setelah Arka menekan beberapa titik di tubuhnya.
Pengetahuan yang muncul dari warisan Hantala terasa aneh, tetapi bekerja. Arka bisa merasakan ada panas tidak wajar yang mengalir di tubuh Yulia, seperti obat perangsang yang dipaksa masuk ke pembuluh darah. Jika dibiarkan, wanita itu tidak hanya kehilangan kendali, tapi juga bisa pingsan atau mengalami gangguan jantung.
"Bu Yulia, dengar saya," ucap Arka pelan. "Tarik napas. Jangan ikuti rasa panasnya."
Yulia menggigit bibir. Wajahnya masih merah, rambutnya berantakan, dan matanya dipenuhi rasa malu saat kesadarannya pelan-pelan kembali. Ia menatap Arka seperti baru sadar siapa yang sedang memegang bahunya.
"Arka?" suaranya pecah. "Kamu... muridku dulu?"
"Iya. Saya Arka Pradana."
Yulia langsung menjauh sebisanya, menutup tubuhnya dengan jas yang diberikan Arka. Wajahnya semakin pucat saat menyadari keadaannya. "Maaf. Aku tidak tahu tadi... aku benar-benar..."
"Tidak perlu minta maaf. Ibu dibius."
Mata Yulia berkaca-kaca. Ia menunduk, berusaha merapikan gaun dan rambutnya dengan tangan yang masih gemetar. Bagi seorang wanita yang pernah berdiri di depan kelas dengan sikap anggun, terlihat kacau di depan mantan muridnya pasti jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik.
"Tolong jangan ceritakan pada siapa pun," ucapnya lirih. "Aku mohon."
Arka mengangguk. "Saya tidak akan cerita. Tapi saya harus antar Ibu pulang atau ke rumah sakit."
"Tidak perlu."
"Kondisi Ibu belum aman."
Yulia tetap menggeleng. Ia membuka pintu mobil, turun dengan langkah goyah, lalu menghentikan taksi online yang kebetulan lewat setelah beberapa menit. Arka tidak memaksanya. Namun begitu taksi itu pergi, ia langsung menyalakan mesin dan mengikuti dari belakang.
Ada yang janggal. Dua pria tadi jelas tidak sekadar iseng. Yulia juga terlalu takut untuk pulang dengan tenang. Selain itu, saat Arka memakai tenaga Hantala, ia merasakan sesuatu yang membuatnya terkejut. Yulia sudah menikah, tapi tubuhnya tidak menunjukkan tanda seperti wanita yang hidup sebagai istri dalam arti sebenarnya. Bukan urusan Arka sebenarnya, tapi justru itu membuat semuanya semakin aneh.
Taksi berhenti di sebuah apartemen cukup mewah di kawasan Kuningan. Yulia turun, masuk ke lobi, lalu naik lift. Arka menunggu beberapa saat sebelum ikut masuk melalui tangga darurat.
Saat sampai di lantai lima belas, ia mendengar suara laki-laki dari salah satu unit yang pintunya tidak tertutup rapat.
"Dia janji tutup mulut, kan?"
Arka berhenti.
Ia mendekat tanpa suara dan menyalakan perekam di ponselnya.
Di dalam unit, seorang pria berkacamata dengan piyama mahal sedang mencengkeram pergelangan tangan Yulia. Arka mengenalnya. Raka Surya, putra kepala sekolah tempat Yulia dulu mengajar, sekaligus suami Yulia.
"Kamu bilang cuma diminta menemani minum," suara Yulia bergetar karena marah. "Tapi kamu menjualku ke temanmu sendiri. Kamu masih manusia?"
Raka menamparnya.
Yulia terhuyung dan membentur rak sepatu. Arka hampir langsung menendang pintu, tapi ia menahan diri beberapa detik untuk merekam lebih banyak.
"Jangan sok suci!" bentak Raka. "Kalau bukan keluargaku yang membayar biaya rumah sakit bapakmu, dia sudah lama mati. Kamu tinggal di apartemen ini, makan dari uangku, pakai nama keluargaku. Sekali saja aku minta kamu bantu, kamu malah membuat malu!"
"Membantu?" Yulia menatapnya seperti tidak percaya. "Kamu menyuruh istrimu tidur dengan pria lain supaya rahasiamu tidak terbongkar."
Wajah Raka berubah. Ia mencengkeram rambut Yulia dan menariknya ke arah pintu. "Sekarang kamu ikut aku. Bima sudah marah besar. Kamu harus minta maaf padanya."
Nama Bima membuat mata Arka langsung dingin.
Bima lagi.
Rupanya pria itu bukan hanya meracuni hidupnya bersama Hana, tapi juga menyeret Yulia ke dalam permainan busuknya.
"Aku tidak mau!" Yulia berusaha melepaskan diri. "Lebih baik aku mati daripada kembali ke sana."
Pintu unit ditendang dari luar.
Raka terkejut dan baru menoleh saat tubuhnya sudah lebih dulu dihantam tendangan Arka. Pria itu terlempar ke meja ruang tamu sampai gelas di atasnya pecah berantakan.
"Arka?" Yulia menatapnya dengan wajah syok.
Arka menarik Yulia ke belakangnya, lalu menatap Raka yang sedang memegangi perut.
"Sentuh dia lagi, aku patahkan tanganmu."
Raka mencoba berdiri. "Siapa kamu berani ikut campur urusan rumah tangga orang?"
"Mantan muridnya." Arka mengangkat ponsel dan memutar sebagian rekaman. Suara Raka yang mengaku menjual istrinya sendiri terdengar jelas dari speaker. "Dan kebetulan, aku punya hobi menyimpan bukti."
Wajah Raka langsung pucat.
"Yulia, kamu kerja sama dengan dia?"
Yulia belum sempat menjawab. Raka sudah mengambil pisau buah dari meja dan menerjang Arka. Gerakannya kacau, lebih banyak marah daripada berani.
Bagi Arka, gerakan itu terasa lambat. Ia menggeser tubuh sambil menarik Yulia menjauh, lalu menangkap pergelangan tangan Raka. Teknik kuncian dari warisan Hantala bergerak begitu saja melalui tubuhnya.
Krek.
Raka berteriak dan jatuh berlutut. Pisau buah terlepas ke lantai.
Arka sendiri sedikit terkejut melihat pergelangan tangan pria itu terkilir begitu mudah. Namun ia tidak menunjukkannya. Ia menunduk dan berbicara dekat wajah Raka.
"Kalau besok rekaman ini sampai ke keluarga besar sekolahmu, menurutmu ayahmu masih bisa jadi kepala sekolah?"
Raka meringis kesakitan, tapi tidak berani menjawab.
Arka menarik Yulia keluar dari unit. Di lift, wanita itu berdiri diam dengan wajah pucat. Begitu mereka sampai di parkiran dan masuk ke mobil, Yulia akhirnya menangis tanpa suara. Arka mengambil tisu dari dashboard dan menyerahkannya.
"Aku antar ke tempat aman," ucap Arka sambil menyalakan mesin.
Yulia menerima tisu itu, tapi tidak langsung mengusap air matanya. Ia menatap tangannya sendiri cukup lama, seakan baru sadar tubuhnya masih gemetar. Obat yang tadi masuk ke tubuhnya memang sudah ditekan oleh Arka, namun sisa panasnya belum sepenuhnya hilang. Ditambah semua yang baru saja terjadi di apartemen, napas Yulia terdengar tidak stabil.
"Aku tidak punya tempat aman," katanya pelan.
Arka tidak langsung menjawab.
Yulia menyeka pipinya, lalu menatap kaca depan yang gelap. "Dari luar, semua orang pikir hidupku baik. Suami anak kepala sekolah, tinggal di apartemen bagus, punya biaya untuk merawat ayah. Padahal aku hanya seperti barang jaminan."
"Kamu bisa keluar dari sana."
"Dengan uang apa? Biaya rumah sakit ayahku saja puluhan juta per bulan. Raka selalu memakai itu untuk menahanku." Yulia tertawa kecil, tapi suaranya pecah. "Lucu ya? Dulu aku mengajar murid-muridku supaya berani melawan hidup. Aku sendiri malah terkurung."
Arka menoleh. Ia masih belum terbiasa mendengar Yulia bicara serapuh itu. Dalam ingatannya, wanita ini selalu berdiri di depan kelas dengan suara lembut dan senyum tenang, bukan duduk di kursi penumpang dengan gaun kusut dan mata sembap seperti sekarang.
Yulia menatapnya. Sisa obat membuat pipinya masih merah, tetapi matanya sudah jernih. Rasa malu di wajahnya bahkan lebih jelas justru karena ia sadar sepenuhnya. Tangannya bergerak dari pangkuan, menyentuh punggung tangan Arka di dekat tuas persneling, lalu menahannya di sana.
"Jangan antar aku pulang dulu," ucapnya.
Arka menoleh.
Yulia tidak memberi pidato. Ia melepas jas dari bahunya dan melemparkannya ke kursi belakang. Gaun kremnya kusut, bagian bawahnya tersingkap sampai memperlihatkan paha yang masih gemetar. Ia malu, tetapi saat Arka belum bergerak, Yulia justru meraih kerah kemejanya.
"Jangan cuma lihat," bisiknya.
Arka mematikan mesin, menarik rem tangan, lalu mengunci pintu mobil. Klik kecil itu seperti memotong sisa keraguan di antara mereka. Detik berikutnya, ia sudah menarik pinggang Yulia dan mencium bibirnya.
Ciuman itu keras, panas, dan tidak memberi ruang untuk kalimat panjang. Yulia sempat menahan dada Arka dengan kedua tangan, tetapi dorongan itu segera berubah menjadi cengkeraman. Bibirnya membalas dengan canggung, napasnya berantakan, tubuhnya masih terlalu hijau untuk menyembunyikan reaksi sendiri.
Arka menurunkan sandaran kursi dan menariknya ke pangkuan. Ruang Porsche yang sempit membuat lutut mereka saling menabrak, membuat gaun Yulia semakin naik. Wanita itu mengeluarkan suara tertahan ketika paha telanjang menyentuh celana Arka yang panas oleh tubuhnya. Wajahnya langsung merah sampai ke telinga.
"Arka..." panggilnya, lebih mirip keluhan daripada penolakan.
Arka tidak menjawab. Telapak tangannya bergerak dari pinggang ke punggung, menekan tubuh Yulia agar menempel lebih rapat, lalu turun menyusuri pahanya. Sentuhan itu membuat Yulia kaku seketika. Matanya terpejam rapat, bahunya tegang, tetapi tangannya justru meremas kemeja Arka sampai kusut.
Ia memang pernah menjadi istri Raka, tetapi tubuhnya tidak punya kebiasaan seorang wanita yang dicintai laki-laki. Setiap sentuhan Arka terasa asing, panas, dan membuatnya panik oleh reaksinya sendiri.
Arka mencium lehernya. Yulia menggigil, lalu memiringkan kepala tanpa sadar, memberi ruang lebih banyak. Ketika jemari Arka menyusup ke balik lipatan gaunnya dan menemukan panas basah yang tidak bisa ia sembunyikan, napas Yulia langsung patah. Pahanya sempat merapat karena malu, namun Arka menahannya dengan satu tangan, cukup kuat untuk membuatnya tidak bisa kabur dari rasa yang sudah ia bangunkan sendiri.
"Terlalu sensitif," gumam Arka di dekat telinganya.
Yulia menggigit bibir. Matanya basah oleh malu, bukan tangis. "Jangan tertawa."
"Aku belum tertawa."
"Kamu pasti mau."
Arka menunduk dan menggigit ringan bahunya. Yulia terkejut, tubuhnya menegang, lalu suara kecil lolos sebelum sempat ia tahan. Suara itu membuat mata Arka menggelap. Ia menarik Yulia lebih rapat, membiarkan wanita itu merasakan sendiri betapa panasnya laki-laki yang sejak tadi ia tarik mendekat.
Yulia mencoba membalas. Tangannya yang gemetar turun dari bahu Arka, meraba dengan takut-takut, lalu berhenti mendadak saat menyentuh panas keras yang menunggu di balik kain. Ia seperti tersengat. Wajahnya memerah hebat, dan untuk sesaat ia benar-benar tidak tahu harus meletakkan tangan di mana.
Arka menangkap pergelangan tangannya, menuntunnya pelan.
"Begini," ucapnya rendah.
Yulia mengikuti dengan kikuk. Gerakannya kacau, terlalu lembut, kadang terlalu takut, namun justru kepolosan itu membuat napas Arka semakin berat. Ia menahan tengkuk Yulia dan menciumnya lagi, lebih dalam dari sebelumnya, sampai wanita itu tidak sempat bertanya apa pun.
Kaca mobil mulai berkabut. Jaket Arka jatuh menutupi konsol tengah, rambut Yulia lepas dari ikatan, dan gaunnya sudah tidak lagi rapi. Tubuhnya berkali-kali menegang saat Arka mengubah posisi, seakan setiap kedekatan baru membuatnya belajar ulang bagaimana bernapas. Ia masih malu, tetapi saat Arka sedikit menjauh, lengannya langsung melingkar di leher laki-laki itu.
"Jangan pergi," bisiknya di sela napas.
"Aku di sini."
"Kalau begitu..." Yulia menunduk, suaranya hampir hilang. "Lebih dekat."
Permintaan pendek itu membuat Arka tidak lagi menahan diri. Ia memegang pinggang Yulia lebih erat, menuntunnya pelan sampai tubuh mereka benar-benar melewati batas terakhir. Pada detik itu, Yulia membeku. Napasnya tertahan panjang, kedua tangannya mencengkeram bahu Arka, dan wajahnya pucat merah seperti tidak tahu harus menangis atau memaki. Rasa asing yang terlalu penuh membuat tubuhnya menegang kuat, hampir menolak karena gugup, tetapi lengannya justru memeluk Arka semakin erat.
"Peluk aku," bisiknya dengan suara bergetar.
Arka menahan pinggangnya, membiarkan Yulia menyesuaikan napas. Beberapa saat kemudian, tubuh kaku itu mulai melunak sedikit demi sedikit. Malu masih memenuhi wajahnya, tetapi ketika Arka bergerak lagi, Yulia hanya menenggelamkan wajah di bahunya dan menggigit kain kemejanya agar suara yang keluar tidak terlalu keras.
Setelah batas itu terlewati, Arka membimbing tubuhnya mengikuti ritme yang lebih dalam dan lebih panas. Awalnya Yulia masih kacau, terlalu rapat, terlalu gugup, membuat setiap gerakan terasa seperti membuka rasa malu yang sudah bertahun-tahun terkunci. Namun semakin lama, kekakuan itu berubah menjadi pelukan yang putus asa. Tubuhnya berkali-kali mengunci dan melemah di atas pangkuan laki-laki itu, seolah baru kali ini ia benar-benar mengerti mengapa tubuh perempuan bisa kehilangan kendali.
Di luar, lampu parkiran berkedip redup. Tidak ada yang melihat apa yang terjadi di dalam Porsche gelap itu. Dari luar, mobil itu hanya tampak diam sesekali bergoyang pelan, kaca filmnya tertutup embun. Di dalam, napas mereka saling berburu, kain bergeser di ruang sempit, dan Yulia semakin sulit menyembunyikan betapa tubuhnya menjawab setiap gerakan Arka.
"Pelan sedikit..." Yulia merintih rendah, lalu segera memeluknya lebih erat seolah takut Arka benar-benar melambat.
Arka tertawa serak di dekat telinganya. "Kamu sendiri yang menarikku."
Yulia tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, malu setengah mati, tetapi pinggangnya bergerak lebih jujur daripada mulutnya. Arka menahan dagunya dan memaksanya menatap. Mata Yulia berkabut, bibirnya merah karena terlalu sering digigit, dan wajah anggun mantan gurunya itu kini runtuh oleh panas yang tidak lagi bisa ia pura-purakan.
Setelah itu, Porsche di sudut parkiran benar-benar tidak tenang. Yulia beberapa kali menutup mulutnya sendiri, tetapi suara kecil tetap lolos di antara jari-jarinya. Setiap kali tubuhnya menegang, Arka memeluknya lebih kuat, membuatnya tidak jatuh, membuatnya tidak punya tempat untuk berpura-pura tenang.
Jauh di luar mobil, lift parkiran berdenting.
Yulia langsung membeku di pelukan Arka, napasnya masih berantakan, sementara bayangan seseorang muncul dari arah lobi apartemen.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!