Cahaya matahari pagi yang menyeruak di antara celah gedung SMA Tunas Bangsa menyinari sosok Kanza Arumi yang sedang beradu argumen dengan waktu.
Kanza berlari kecil, napasnya tersengal, sementara tangan kanannya sibuk menata ujung hijab parisnya yang terus-menerus tertekuk ditiup angin.
Penampilannya adalah definisi dari kata "darurat". Kemeja putihnya yang tidak sempat disetrika dengan licin memperlihatkan garis lipatan yang jelas.
Dasi abu-abu yang seharusnya melingkar rapi di kerah, kini melorot rendah hingga ke kancing kedua, memberikan kesan pemberontak yang tidak disengaja.
Di bawah matanya yang bulat, terdapat bayangan gelap tipis saksi bisu maraton drama Korea Twenty-Five Twenty-One yang ia tonton hingga pukul tiga pagi tadi.
“Kanza Arumi! Lo mau sekolah atau mau ikut audisi jadi gembel?” Suara melengking itu menghentikan langkah Kanza tepat di depan gerbang.
Yuma, sahabatnya sejak SMP, berdiri tegak dengan tangan bersilang di dada.
Penampilan Yuma adalah antitesis dari Kanza: hijab instannya tegak sempurna tanpa kerutan sedikit pun, sepatu hitamnya mengilap, dan aroma parfum vanilla tercium manis bahkan dari jarak dua meter.
“Umi... Umi pelit banget, Yum,” rengek Kanza sambil mengatur napas.
“Gue telat bangun, dan beliau cuma nontonin gue panik sambil nyeruput teh. Katanya, 'Ini simulasi kehidupan dewasa, Za'. Simulasi apaan kalau gue hampir kena kunci gerbang!”
Yuma menggeleng, namun tangannya terulur untuk memperbaiki dasi Kanza yang miring.
“Gue heran, sistem bertahan hidup lo tuh gimana sih? Keajaiban macam apa yang bikin lo belum pernah kena sanksi poin berat?”
Kanza hanya menyengir lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi dan satu lesung pipi yang muncul samar.
“Pesona anak tunggal, Yum. Tak terkalahkan.”
Hari itu berlalu seperti kaset yang diputar lambat. Di dalam kelas, Kanza duduk bersandar sambil sesekali mencoret-coret pinggiran buku paket Biologinya dengan gambar karakter kartun.
Suara dengung kipas angin di langit-langit kelas yang berdecit ritmis seolah menjadi lagu pengantar tidur yang sempurna bagi matanya yang berat.
Namun, di balik sifat pelupa dan cerobohnya seperti saat ia hampir masuk ke kelas 12 IPS padahal ia anak kelas 11 Kanza adalah nyawa bagi kelasnya. Ia punya stok cerita konyol yang tak ada habisnya.
Saat jam istirahat di pojokan kantin, di atas meja kayu yang penuh coretan tipe-x, Kanza memegang sebuah bakwan jagung seolah itu adalah mikrofon.
“Lo tahu nggak? Semalam Abi ceramah dua jam cuma gara-gara gue lupa jemur baju. Beliau bilang gini,” Kanza mendehem, memberatkan suaranya hingga terdengar lucu.
“Kanza, kamu itu anak perempuan. Masa depan itu dibangun dengan tanggung jawab, bukan cuma dengan duduk manis nungguin aktor Korea jemput pakai mobil mewah.”
Yuma hampir menyemburkan es tehnya.
“Tapi Abi lo bener, Za. Lo kalau di rumah emang manja kuadrat.”
“Gue bukannya manja, Yum,” Kanza membela diri sambil mengunyah bakwan.
“Gue cuma lagi menikmati masa transisi. Dunia orang dewasa itu kelihatan... abu-abu. Ribet. Harus mikir cicilan, kerjaan, rumah tangga. Ih, mending gue mikir gimana caranya dapet nilai 75 di ulangan Matematika besok.”
Kanza merasa dunianya sudah sangat cukup. Sekolah, Yuma, pisang goreng Umi, dan omelan hangat Abi.
Ia merasa aman dalam gelembung masa mudanya yang berwarna-warni.
Malam itu, suasana rumah terasa lebih tenang dari biasanya. Kanza sudah berganti kostum tempur: kaus tidur oversized warna kuning dengan gambar kelinci yang telinganya sudah mulai pudar, dan celana kain longgar.
Rambutnya diikat asal-asalan ke atas hingga menyerupai sanggul kecil yang berantakan.
Ia baru saja hendak membalas pesan di grup WhatsApp kelas ketika Abi memanggilnya dari sofa ruang tengah.
Abi baru saja melipat sajadah, wajahnya tampak segar setelah berwudhu, namun ada gurat keseriusan yang tidak biasa di matanya.
“Kanza, sini sebentar. Simpan dulu HP-nya,” panggil Abi lembut.
Kanza merinding seketika. Pikirannya langsung melayang ke segala kesalahan yang mungkin ia lakukan hari ini.
"Apa Umi lapor kalau gue nggak sengaja mecahin tutup wadah bekal tadi pagi? Atau soal pesanan alat listrik yang lupa gue ambil?"
“Duduk sini,” pinta Abi lagi, menepuk ruang kosong di sampingnya.
Kanza duduk dengan kaku, bantal sofa ia dekap erat seolah menjadi tameng pelindung.
“Bi... Kanza janji bakal ganti tutup wadah bekal Umi. Tapi jangan potong uang jajan ya? Sumpah, itu tadi licin banget...”
Abi terkekeh pelan, namun tawanya tidak bertahan lama.
Ia menarik napas panjang, menatap putri bungsunya yang masih terlihat seperti anak kecil itu dengan tatapan haru sekaligus berat.
“Ini bukan soal wadah bekal, Za. Abi mau tanya... tapi Abi ingin jawaban jujur dari hati kamu.” Abi menjeda sejenak.
“Kalau ada seorang laki-laki yang datang ke rumah ini untuk meminang kamu... untuk menjadikan kamu istrinya, apakah kamu sudah siap?”
Dunia Kanza seolah berhenti berputar. Suara TV yang samar dari ruang dalam mendadak hilang.
Ia merasa seperti baru saja dijatuhkan dari lantai sepuluh ke tumpukan kasur, tidak sakit, tapi sangat mengejutkan hingga paru-parunya lupa cara bernapas.
“Bi...” Kanza memulai, suaranya naik satu oktav.
“Abi habis salah minum obat? Atau ini gara-gara Kanza telat bangun terus Abi mau 'membuang' Kanza dengan cara halus?”
“Abi serius, Kanza Arumi,” potong Abi dengan nada yang lebih dalam.
“Laki-laki ini orang baik. Keluarganya sahabat lama Abi. Dia sudah mapan, agamanya bagus, dan dia yang meminta izin langsung ke Abi untuk mengenalmu lebih jauh lewat jalur yang benar.”
Kanza mendadak ambruk. Ia menjatuhkan tubuhnya ke karpet, tengkurap dengan wajah terbenam di lengan.
“Ya Allah... ini pasti mimpi buruk akibat nonton drama genre thriller kemarin. Bi, Kanza ini masih anak SMA! Kanza aja masih suka nangis kalau kuota internet habis. Masa Kanza mau jadi istri orang? Nanti kalau suaminya minta makan, Kanza kasih sereal tiap hari gimana?”
Abi tersenyum pahit, mengusap kepala putrinya yang tertutup rambut berantakan itu.
“Abi tidak memintamu menikah besok pagi, Za. Tapi lamaran ini nyata. Dia bersedia menunggu sampai kamu lulus, atau membimbingmu sambil kamu kuliah. Dia hanya ingin mengikat janji.”
Kanza mengangkat kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca karena panik.
“Tapi Kanza belum siap dewasa, Bi. Kanza masih mau jadi 'pajangan' di rumah ini. Kanza masih mau jadi anak kecil yang dimarahin Abi gara-gara lupa jemur baju.”
Malam itu, di ruang tengah yang hangat, Kanza menyadari satu hal yang menyakitkan: gerbang masa kecilnya perlahan mulai tertutup, dan ia dipaksa melihat sebuah jalan baru yang sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya.
"Tenang, Sayang. Abi dan Umi nggak akan memaksakan. Cuma, coba kamu pikirkan baik-baik. Kita akan ngobrol lagi nanti kalau kepala kamu sudah dingin, ya."
Suara Abi mengalun tenang, sejuk seperti air di tengah padang pasir, namun bagi Kanza Arumi, kata-kata itu justru terasa seperti beban berat yang dijatuhkan tepat di atas dadanya.
Kanza hanya bisa mengangguk pelan, sebuah gerakan mekanis yang tidak sinkron dengan isi kepalanya yang sedang berputar hebat seperti gasing yang kehilangan kendali.
Biasanya, kapasitas otaknya hanya penuh dengan tiga hal: rumus trigonometri yang tidak pernah ia pahami, kuah seblak kantin yang level pedasnya menantang maut, dan analisis mendalam mengapa tokoh utama di drama China favoritnya harus menderita di episode terakhir.
Sekarang? File-file itu terhapus paksa, digantikan oleh satu kata raksasa yang berkedip merah: PERNIKAHAN.
Kanza menoleh ke arah Abi dengan tatapan penuh selidik, menyipitkan mata seolah sedang menginterogasi tersangka di kantor polisi.
“Bi... cowoknya beneran manusia, kan? Maksud Kanza, dia napas pake paru-paru kan? Bukan makhluk halus atau jin kiriman Umi biar Kanza rajin bantuin cuci piring karena takut dihantui?”
Tawa Abi meledak seketika. Beliau sampai harus memegang perutnya yang sedikit buncit, sementara Umi hanya geleng-geleng kepala sambil menahan senyum di balik cangkir tehnya.
“Ya Allah, Kanza… imajinasimu itu terlalu jauh pengaruhnya dari tontonan tiap malam!” ujar Abi di sela tawa.
Malam itu ditutup dengan pemandangan yang tak biasa di ruang tengah: Kanza yang biasanya ceria, kini tengkurap pasrah di atas karpet bulu.
Pipinya menempel di lantai dingin, matanya menatap kosong ke kolong meja kopi sambil menggumamkan doa-doa acak, campuran antara Istighfar dan permohonan agar besok pagi ia bangun dan mendapati bahwa ini semua hanyalah konten prank tersembunyi.
Keesokan paginya, Kanza Arumi muncul di gerbang sekolah seperti zombi yang salah kostum.
Langkahnya gontai, kakinya seolah berat melangkah di atas aspal. Seragam putih-abunya tampak sangat menderita.
Satu sisi kerah mencuat ke atas, dasi merah marunnya melilit longgar di bawah kerah yang kendor, dan tas ranselnya yang berat diseret di atas lantai koridor seperti membawa beban dosa satu kelurahan.
Begitu sampai di bangku kelas, Kanza tidak meletakkan tas. Ia langsung melakukan "pendaratan darurat".
Wajahnya jatuh pasrah, menempel di atas buku cetak Matematika yang permukaannya dingin dan keras.
Yuma, yang sedang asyik memoles lip balm aroma jeruk, langsung menghentikan kegiatannya.
Ia menatap sahabatnya dengan ekspresi seperti sedang melihat fenomena alam yang langka.
"Za? Lo kenapa? Muka lo ditekuk lebih parah dari kertas origami yang gagal. Habis liat saldo ShopeePay sisa seribu perak gara-gara flash sale semalam?" tegur Yuma heran.
Kanza hanya mengeluarkan suara erangan pelan yang teredam permukaan meja.
"Yum... gue... gue bakal tamat. Hidup gue berakhir."
"Hah? Lo di-DO? Atau lo ketahuan nyontek PR Sejarah di perpus?"
Kanza duduk tegak dengan gerakan lambat, matanya yang sembab menatap Yuma dengan intensitas yang menakutkan.
"Yum... gue... dilamar."
Dunia Yuma mendadak freeze. Tangannya yang memegang lip balm menggantung di udara. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka.
"Hah?! Dilamar? Lo? Kanza Arumi yang kalau makan cilok bumbunya sering belepotan di jilbab itu? Yang kemarin hampir nangis gara-gara pensil mekaniknya patah?"
Kanza mengangguk lemah, seolah kepalanya adalah pemberat timbangan.
"Serius, Yum. Semalam. Habis Maghrib. Abi bilang ada cowok yang mau minang gue. Katanya anak baik, mapan, saleh, sudah kerja, rajin menabung, dan... pokoknya kalau lo denger kriterianya, lo bakal mikir dia itu karakter fiksi yang kesasar ke dunia nyata."
Yuma membelalak makin lebar, meletakkan lip balm-nya dengan kasar ke atas meja.
"Itu mah bukan calon suami, Za! Itu daftar prestasi murid teladan tingkat nasional! Siapa tuh? Malaikat mana yang GPS-nya rusak terus malah nyasar ke rumah lo?"
Kanza mengelus dadanya, mencoba mengatur napas yang tiba-tiba terasa sesak lagi.
"Gue juga bingung, Yum. Gue bahkan belum tahu bedanya lengkuas sama jahe, kalau disuruh bikin sayur asem mungkin jadinya jus jeruk hangat. Masa tiba-tiba harus jadi istri orang?"
Yuma mulai cengengesan, insting jahilnya mulai bangkit setelah kejutan awal mereda.
"Gue salut sih sama tuh cowok. Dia punya nyali gede buat 'pelihara' bocah kayak lo. Lo tuh belum bisa nyetrika jilbab sampai rapi, eh udah 'laku' duluan. Hidup lo fast track banget, Za. Gue baru semalem nangis gara-gara ending anime, lo udah dikirim undangan."
Kanza mengacak-acak hijabnya yang memang sudah berantakan, membuatnya tampak seperti habis tersengat listrik.
"Gue pengen nolak, Yum. Tapi sorot mata Abi tuh... penuh harapan. Kayak beliau baru dapet hadiah grand prize tapi hadiahnya itu calon mantu ini. Gue nggak tega bilang 'nggak' saat itu juga."
Yuma mengangguk-angguk, memasang raut wajah serius ala detektif yang sedang menangani kasus besar.
"Oke, kesimpulannya... lo dalam status Siaga Satu. Kita butuh rencana taktis. Plan A: Kita bikin lo jadi buronan. Lo ngumpet di gudang belakang rumah gue, atau kita kabur ke desa terpencil di kaki gunung. Lo ganti nama jadi Romlah, jualan krupuk keliling, dan kita hapus jejak digital lo!"
Kanza meledakkan tawa yang sangat keras hingga teman-teman di barisan depan menoleh dengan tatapan bingung. Rasa sesak di dadanya sedikit terangkat.
"Yum! Gue bukan buronan negara! Nikah itu ibadah, bukan kabur dari penggerebekan!"
"Yah, siapa tahu seru, kan? Kayak di drama china yang pendek-pendek itu. Cewek kabur dari lamaran, ketemu cowok ganteng di desa, eh malah nikah beneran sama cowok desa itu. Plotnya lebih dapet!" timpal Yuma sambil tertawa lepas.
Di sela tawa mereka, Kanza memeluk tasnya erat-erat. Walau kepalanya masih penuh dengan tanda tanya dan perutnya serasa diaduk setiap kali mengingat kata 'pinangan', ia bersyukur.
Setidaknya di antara tumpukan tugas sekolah dan masa depan yang tiba-tiba mengetuk pintu, ia masih punya Yuma untuk menertawakan kegilaan ini bersama-sama sebelum bel pelajaran pertama berbunyi.
~~~NEXT~~~
Salam Hangat Dari Penulisss....
Sore itu, kamar Kanza Arumi tampak seperti medan perang pasca-badai.
Tas ranselnya tergeletak pasrah dengan ritsleting terbuka di dekat pintu, sementara pemiliknya sudah "tumbang" di atas kasur tanpa sempat melepas kaus kaki yang warnanya sudah mulai kusam akibat debu sekolah.
Hijab instannya melintir tak keruan, hampir mencekik lehernya sendiri akibat ditarik asal saat ia merebahkan diri tadi.
Kanza menatap hampa ke arah poster aktor drama China favoritnya yang tertempel di dinding, merasa hidupnya baru saja mengalami plot twist paling buruk yang sanggup mengalahkan naskah drama makjang manapun.
Tok! Tok!
Ketukan itu ritmis, tenang, dan memiliki otoritas yang halus, ciri khas Umi. Sebelum Kanza sempat memasang posisi pura-pura tidur yang meyakinkan, pintu kayu jati itu terbuka.
Umi masuk dengan keanggunan seorang guru ngaji senior, duduk di tepi kasur yang spreinya sudah berantakan layaknya kapal pecah.
Tangan Umi yang hangat mulai mengusap puncak kepala Kanza yang terbungkus hijab berantakan.
"Masih mau mogok makan gara-gara obrolan Abi semalam?" tanya Umi lembut, namun ada nada geli yang terselip di sana.
Kanza hanya meringkuk lebih dalam, memeluk bantal gulingnya seperti tameng pelindung dari serangan kenyataan.
"Umi... Kanza ini masih butuh asupan cilok dan es teh plastik tanpa beban pikiran. Masa tiba-tiba disuruh mikirin mahar? Emang Kanza sudah kelihatan kayak ibu-ibu apa?"
Umi terkekeh pelan. "Kanza, dengar. Yang datang ke Abi itu bukan sembarangan. Namanya Hanan Arkan. Keluarganya pemegang estafet pesantren besar. Beliau itu... paket lengkap yang Abi cari. Sudah mandiri, punya bisnis sendiri, usianya tujuh tahun di atas kamu. Matang, tenang, dan sangat santun."
Kanza langsung bangkit duduk, rambutnya yang mencuat liar dari balik hijab membuatnya tampak seperti singa kecil yang baru saja tersengat listrik.
"Tujuh tahun?! Umi, itu bukan kakak-adik namanya, itu jarak senior-junior yang terpaut satu masa jabatan presiden! Terus apa tadi? Anak Kiai? Wah, fiks... nanti kalau Kanza bangun telat sepuluh menit aja, bukan disiram air lagi, tapi diruqyah berjamaah satu komplek!"
Umi menahan tawa sambil menepuk kaki Kanza.
"Dia nyata, Kanza. Bukan karakter fiksi yang bisa kamu skip episodenya. Waktu ditanya Abi, dia menjawab dengan sangat mantap: 'Saya ingin menjaga dan membimbingnya'. Dia tidak datang untuk mengekang mimpimu, tapi untuk menjadi kompas."
"Kompas kalau arahnya ke kutub utara yang dingin gimana, Mi? Nanti Kanza dilarang dengerin lagu pop, terus disuruh hapus semua aplikasi drakor dan TikTok di HP? Hidup Kanza bakal jadi monokrom!" gumam Kanza ketus, meski jauh di lubuk hatinya, ada rasa penasaran yang mulai merayap pelan.
Hari penentuan itu tiba dengan suasana yang mencekam bagi Kanza. Rumahnya mendadak wangi pengharum ruangan aroma melati yang menusuk hidung, dan lantai ruang tamu sudah mengilap seperti cermin, mungkin saking licinnya, lalat pun bakal terpeleset di sana.
Kanza duduk di pojokan dengan wajah yang sengaja dibuat semuram mungkin, mengenakan gamis yang dipilihkan Umi dengan perasaan dongkol yang meluap-halu.
Lalu, sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar.
Seorang pria turun dengan langkah yang sangat teratur. Tidak ada kesan terburu-buru, seolah setiap langkahnya sudah dihitung dengan rumus fisika.
Saat ia melangkah masuk, aroma parfum oud yang mewah namun menenangkan langsung menguasai ruangan, dengan telak mengalahkan bau opor ayam yang menyeruak dari dapur.
Pria itu mengenakan kemeja putih yang disetrika sangat licin, begitu sempurna hingga Kanza yakin semut pun akan mengalami dislokasi kaki jika mencoba berjalan di atas pundaknya.
“Assalamu’alaikum,” suaranya berat, bariton yang tertata rapi tanpa cela.
Kanza menoleh sekilas, lalu batinnya menjerit histeris.
"Astagfirullah, ini mah bukan calon suami! Ini vibe-nya kayak dosen penguji skripsi yang bakal nanyain revisi bab satu sampai lima lengkap dengan daftar pustakanya!"
Pria bernama Hanan itu duduk dengan adab yang sempurna. Punggungnya tegak, tangannya diletakkan di atas lutut, dan ini yang paling membuat Kanza syok: ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku kemejanya. Sebuah buku catatan! Di zaman serba digital ini!
“Perkenalkan, saya Hanan Arkan,” ucapnya sambil menatap Abi dengan hormat yang luar biasa.
“Maaf, saya mungkin terlihat terlalu serius bagi Kanza,” tambah Hanan tiba-tiba, seolah-olah ia memiliki kemampuan telepati untuk membaca pikiran Kanza yang sedang ricuh.
Matanya yang tenang kini beralih menatap Kanza sejenak, membuat gadis itu merasa seperti sedang diaudit oleh kantor pajak.
Kanza menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberanian remajanya.
“Oh, santai saja kok, Ustaz.”
Ruangan mendadak hening. Abi terbatuk kecil menutupi keterkejutannya, sementara Umi melotot tajam dari balik pintu dapur, isyarat maut agar Kanza menjaga lisan.
Hanan sedikit mengernyit, namun kemudian sebuah senyum tipis, sangat tipis namun tulus muncul di sudut bibirnya.
“Abang saja, saya rasa itu lebih baik untuk saat ini."
“Iya, Bang. Tapi kayaknya 'Ustaz' lebih pas deh,” sahut Kanza nekat, tidak mau kalah.
“Soalnya aura Anda itu... serius banget. Mirip Ustaz yang sedang ceramah di TV jam empat subuh. Tegas, terstruktur, dan bikin orang mau jaga jarak aman biar nggak kena kultum mendadak.”
Abi hampir menyemburkan tehnya, sementara Hanan justru terkekeh pelan.
Sebuah tawa yang ternyata terdengar sangat renyah, hangat, dan sama sekali tidak sekaku penampilannya.
Besoknya di sekolah, Kanza duduk di bangku taman belakang yang kayunya mulai rapuh dimakan usia.
Hijabnya sudah miring ke kanan karena ia terlalu banyak menggaruk kepala, dan wajahnya tampak seperti orang yang baru saja lolos dari interogasi intelijen negara tingkat tinggi.
Yuma datang membawa dua gelas es teh manis jumbo dengan es batu yang melimpah, seolah tahu sahabatnya sedang mengalami kekeringan jiwa.
"Nih, asupan gula buat calon Ibu Ustazah. Gimana? Orangnya beneran pakai surban setinggi tumpukan piring dan jenggot sepanjang pinggang?" goda Yuma.
Kanza menyeruput es tehnya sampai bunyi srettt terdengar nyaring dan menyedihkan.
"Lebih horor, Yum! Namanya Hanan Arkan, tapi gue resmi manggil dia Ustaz. Karena jujur ya, duduk di depan dia itu rasanya kayak lagi nungguin pengumuman kelulusan yang nilainya mepet KKM. Tegak banget! Wangi oud-nya bikin gue ngerasa harus langsung taubat nasuha saat itu juga."
Yuma tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya yang kaku.
"Jadi, gimana? Rencana kita kabur ke desa terpencil dan ganti nama jadi Romlah masih jalan?"
Kanza menatap sisa es batu di gelasnya dengan tatapan melankolis yang dalam.
"Kayaknya nggak bisa, Yum. Persembunyian di manapun bakal ketemu kalau lawannya modelan 'Uztad Kaku' kayak dia. Dia punya buku catatan, Yum! Buku catatan! Jangan-jangan semua kesalahan tata krama gue tadi malam langsung dicatat buat bahan evaluasi mingguan di depan Abi."
"Tapi ganteng nggak?" tanya Yuma penasaran, menyikut lengan Kanza.
Kanza terdiam sejenak. Bayangan wajah Hanan yang tenang, sorot matanya yang teduh, dan tawa renyahnya saat dipanggil "Ustaz" melintas sekilas.
"Ya... kalau di drakor sih, dia tipe pemeran utama yang bakal bikin penonton kena second lead syndrome saking sempurnanya. Tapi tetep aja, Yum! Gue belum siap kalau tiap sore diajak diskusi soal strategi pendidikan nasional daripada diskusi soal ending drama China!"
Kanza hanya bisa mendesah pasrah, menyadari bahwa hidupnya yang biasanya "setel kendor" kini harus berhadapan dengan seseorang yang "setel kencang".
Sebuah awal dari drama kehidupan baru yang naskahnya sama sekali tidak pernah ia tulis sendiri.
~~~NEXT~~~
Yuma sudah tertawa terbahak-bahak sampai wajahnya memerah.
Ia berusaha keras menahan suaranya agar tidak menarik perhatian guru piket yang sedang mondar-mandir di kejauhan koridor.
“Gue tuh, ya,” lanjut Kanza sambil meremas gelas plastik es tehnya dengan gemas hingga es batunya berderak.
“Waktu itu gue lagi di lantai atas, ngintip dari balik tirai kamar yang gue buka cuma selebar kelingking. Cuma sekilas doang, Yum! Tapi sedetik itu sudah cukup buat otak gue ngebentuk seribu asumsi liar yang bikin gue pengen pindah planet.”
“Fisiknya gimana? Coba, cerita yang detil. Gue penasaran tingkat dewa nih! Deskripsikan dari ujung rambut sampai ujung sepatunya!” desak Yuma, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu yang tidak sehat.
“Putih. Rapi banget, sampai gue curiga dia setrika kemejanya pakai penggaris biar garis lipatannya presisi. Wajahnya bersih banget, Yum, nggak ada kumis atau brewok. Ganteng sih, tapi tipe ganteng yang bikin lo merasa berdosa kalau mau ngajak dia ngobrol kasar. Auranya tuh... kayak abang-abang yang sering lewat di fyp atau ngisi kajian di YouTube dengan judul 'Cara Menata Hati'. Wibawanya kebanyakan! Gue sampai pengen sujud syukur pas dia pamit pulang karena tekanan batin gue rasanya langsung turun drastis.”
Yuma sampai terbatuk menahan tawa yang meledak di tenggorokan.
“Terus, dia kan sempat ngomong, Suaranya gimana?”
“Ngomong! Dan sumpah ya, lo tahu nggak apa kalimat pertama yang keluar dari mulutnya pas ngenalin diri? Suaranya tuh berat, jenis suara yang kalau dia ngomong 'Halo', lo langsung pengen istighfar.”
Kanza menirukan dengan suara yang diberatkan dan penuh dramatisasi yang dibuat-buat.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan, nama saya Hanan Arkan. Orang-orang di pesantren memanggil saya Gus Hanan"
“GUS HANAN???” pekik Yuma tertahan, mulutnya menganga lebar.
“IYAAA! ADA GELAR 'GUS'-NYA! Lo pikir gue siap dipanggil ‘Istri Gus’? Nama gue Kanza, Yum, bukan Sayyidah! Gue masih pengen dengerin lagu galau sambil nangis di pojokan kamar kalau drakor favorit gue sad ending, bukan nyiapin air wudhu buat suami setiap jam tiga pagi!”
“HAHAHA! ZA...YA ALLAH, GILA SIH LO!” Yuma memegangi perutnya yang mulai kaku karena tertawa.
Kanza menghela napas panjang, menatap langit sekolah dengan nanar seolah sedang mencari jawaban dari semesta.
“Dan Umi gue malah senyum-senyum, sudah kayak ngefans berat sama artis religi. Abi pun bilang, ‘Kanza, insya Allah dia calon imam yang baik’. Lah, doa masuk WC saja gue masih sering tertukar sama doa makan, gimana mau dibimbing imam modelan begitu? Bisa-bisa setiap hari gue kena kultum!”
Suasana rumah Kanza sore itu terasa hangat sekaligus mencekam bagi sang pemilik rumah.
Ruang tamu telah disulap menjadi sangat rapi, dihiasi bunga sedap malam yang aromanya memenuhi ruangan, berpadu dengan wangi reed diffuser vanila yang lembut.
Pintu depan terbuka, dan Hanan datang bersama kedua orang tuanya, Umah dan Abah.
Hanan tampak sangat bersahaja dengan kemeja putih bersih yang disetrika licin dan celana hitam bahan yang sepertinya tidak memiliki satu kerutan pun.
Wajahnya teduh, khas orang yang jarang absen tahajud.
"Assalamualaikum, Umi, Abi," sapa Umah dengan suara lembut yang menyejukkan, tipikal ibu mertua idaman di novel-novel religi.
Setelah basa-basi mengenai kabar, Abah Hanan berdehem ringan, memulai pembicaraan inti yang membuat jantung Kanza berdetak lebih cepat dari ketukan perkusi.
"Kami sudah banyak mendengar cerita tentang Kanza dari penuturan Abi. Hanan pun tampaknya sudah memantapkan niat setelah istikharahnya," ucap Abah penuh wibawa.
Umi tersenyum melirik putrinya yang duduk mematung.
"Iya, Kanza memang anak yang ceria. Namun, tentu kami ingin memastikan semuanya berjalan baik, terutama mengenai kelanjutan mimpinya."
Hanan yang sejak tadi duduk dengan sikap sempurna, punggung tegak namun tidak kaku pun angkat bicara. Suaranya mengisi ruangan dengan ketenangan yang aneh.
"Saya saat ini mengabdi sebagai dosen di perguruan tinggi. Insya Allah, jika memang dipertemukan dalam ikatan pernikahan, saya ingin membimbingnya dengan sebaik-baiknya tanpa membatasi cita-citanya. Menikah bukan berarti berhenti bertumbuh, justru kita bertumbuh bersama."
Abi memandang Kanza yang duduk di sudut sofa, seolah-olah sedang memberikan mik kepada saksi kunci.
"Bagaimana menurutmu, Kanza? Tentu ini adalah keputusan besar dalam hidupmu."
Kanza yang sejak tadi gelisah mencoba menghindari sorotan mata semua orang. Di kepalanya, ia sedang menggerutu hebat.
“Anjir, ini sih rasanya kayak lagi sidang skripsi mendadak tanpa revisi! Mana pengujinya modelan begini lagi, wangi oud dan hafal kitab kuning!”
Namun, entah karena grogi atau memang otaknya sedang dalam mode bertahan hidup, yang keluar dari mulutnya justru metafora yang ajaib.
“Anu, Abi, Umi... Kanza sih masih merasa kalau nikah itu seperti... menghadapi Ujian Nasional yang nggak bisa diulang kalau gagal. Kanza masih butuh waktu buat belajar jadi dewasa, takutnya nanti Kanza malah jadi beban negara di rumah tangga.”
Hanan tersenyum sabar, tatapannya tetap tenang, tidak terganggu oleh jawaban absurd Kanza.
"Kami paham sepenuhnya. Proses menuju kebaikan memang harus dijalani dengan kesungguhan hati, bukan keterpaksaan. Saya bersedia menunggu proses itu."
Umah menimpali sambil mengelus tangan Kanza, "Kami ingin Kanza merasa nyaman. Hanan mungkin terlihat sangat serius karena pekerjaannya di kampus, tapi dia adalah pria yang sangat lembut terhadap keluarganya."
Kanza menatap Hanan sebentar. Hatinya campur aduk seperti es campur di kantin sekolah.
Ia sebenarnya ingin menolak mentah-mentah, tapi melihat ketulusan Hanan dan keramahan Umah, lidahnya mendadak kelu.
Ia merasa terjebak dalam skenario Tuhan yang jauh lebih rapi dari skrip drama China manapun.
Tentu, mari kita pertajam alur ceritanya dengan detail yang lebih sinematik, memperkuat monolog batin Kanza yang kocak, serta memberikan gambaran suasana ruang tamu yang lebih hidup.
“Gue malas banget ada di situasi formal begini, tapi mau gimana lagi... Pasrah adalah jalan ninja gue saat ini,” batin Kanza sambil meremas ujung gamisnya di bawah meja, berusaha menjaga agar kakinya tidak bergoyang karena grogi.
Di seberangnya, Umah ibu dari Hanan menatap Kanza dengan binar mata yang begitu teduh, seolah-olah sedang melihat berlian yang baru saja ditemukan.
“Alhamdulillah, Kanza ini ternyata aslinya anak yang sangat sopan dan manis ya, Umi,” puji Umah tulus.
Suaranya selembut sutra, membuat Kanza merasa sedikit berdosa karena di sekolah tadi ia sempat berencana kabur lewat gerbang belakang.
Umi tersenyum bangga, senyum yang bagi Kanza berarti “Awas kamu kalau berani macem-macem”
“Iya, Alhamdulillah. Memang kadang tingkahnya suka unik dan sedikit di luar nalar, tapi anaknya sangat patuh pada orang tua.”
“Kami tidak mencari menantu yang sempurna,” Abah Hanan ikut menyahut, suaranya berat dan berwibawa.
“Kami hanya ingin Hanan memiliki pasangan yang bisa menjadi teman hidup dan saling menguatkan. Hanan itu orangnya terlalu serius kalau sedang bekerja, dia butuh sosok penyeimbang yang ceria seperti Kanza.”
“Penyeimbang sih penyeimbang, tapi jangan sampai gue yang malah kena mental gara-gara dijadiin objek dakwah tiap hari!” batin Kanza cemberut.
Ia melirik Hanan yang duduk tegak dengan tangan tertata rapi di atas lutut. Pria itu tampak sangat tenang, terlalu tenang.
“Wah, kalau tenang banget mending jadi kursi tunggu di puskesmas aja sekalian, diam dan dingin,” batin Kanza lagi, mulai sewot sendiri.
“Serius banget sih Gus satu ini, auranya kayak lagi nunggu hasil sidang isbat tiap detik.”
Hanan Arkan tiba-tiba menatap Kanza. Sorot matanya tidak tajam, melainkan teduh namun tetap menjaga jarak yang sangat sopan.
Jarak yang menurut Kanza adalah "jarak aman protokol kesehatan hati".
“Saya paham mungkin ini terasa sangat mendadak bagimu, Kanza,” ucap Hanan pelan.
Suaranya bariton, sangat tertata seolah setiap kata sudah melewati proses edit berkali-kali.
“Namun, niat saya datang ke sini adalah untuk saling mengenal dengan lebih baik. Kita bisa memulainya dari pertemanan yang santun, insya Allah.”
Kanza terdiam sejenak. Otaknya berputar cepat, mencoba mencari jawaban yang terlihat dewasa dan berkelas ala tokoh wanita di drama China kesukaannya.
Namun, karena sistem sarafnya sudah overload, yang keluar justru kepolosan yang absurd.
“Temenan boleh saja, Gus. Tapi tolong satu hal... jangan tiba-tiba ngajak belajar bareng Matematika, ya? Kanza sudah trauma tingkat dewa sama rumus. Kalau Gus ngajak bahas logaritma, Kanza angkat tangan duluan.”
Hening satu detik. Lalu, suasana yang tadinya kaku seperti semen kering seketika pecah oleh tawa kecil.
Umah dan Abah saling melempar pandang, tampak sangat terhibur dengan kejujuran gadis di depan mereka.
Bahkan Hanan pun harus menunduk sedikit untuk menyembunyikan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya.
Abi berdehem, mencoba mengembalikan wibawa meski matanya juga ikut berbinar jenaka.
“Kanza sekarang sudah kelas 3 SMA, jadi prioritas kami memang ingin dia fokus menyelesaikan sekolahnya dulu. Namun, jika memang ada niat baik yang tulus, tidak ada salahnya jika kita mulai menyusun langkah sejak sekarang.”
Umi menimpali dengan senyum penuh arti yang membuat Kanza merinding.
“Insya Allah, setelah Kanza lulus nanti, kami sangat terbuka jika memang jodohnya sudah datang mengetuk pintu.”
Umah mengangguk penuh pengertian.
“Kami pun tidak ingin terburu-buru. Kami ingin Hanan memiliki pasangan yang bisa ia bimbing dengan ilmu dan agama. Sebaliknya, kami juga berharap Hanan bisa belajar banyak hal baru dari pasangannya nanti.”
Hanan tersenyum tipis sambil mengangguk kecil.
“Nggak buru-buru? Lah, ini perasaan sudah kayak dilamar via live streaming nasional gini!” keluh Kanza dalam hati.
“Oke, Kanza, tenang. Jangan nangis di sini. Senyum saja, meskipun ini senyum penuh penderitaan layaknya nungguin paket kurir yang nggak sampai-sampai.”
Tiba-tiba, Abi menoleh ke arahnya dengan tatapan bertanya yang serius.
“Kanza, ada hal lain yang ingin kamu sampaikan kepada Gus Hanan atau keluarganya?”
Kanza kaget setengah mati. Ia gelagapan, tangannya mendadak sedingin es batu di kantin sekolah.
“E-eh, Kanza sih… eehh… cuma mau nanya… ini beneran proses lamaran, ya? Soalnya Kanza belum siap mental sama sekali, Abi. Kanza belum kuat! Bahkan...” Kanza menarik napas panjang.
“Bahkan Kanza belum sempat menghafalkan Surat Al-Mulk sampai tuntas! Baru nyampe setengah sudah sering lupa lagi!”
Lagi-lagi, tawa pelan terdengar merdu di ruang tamu itu. Hanan menahan senyum sambil menunduk sopan, sementara Umah dan Abah makin terlihat simpatik.
Bagi mereka, kejujuran Kanza yang meledak-ledak tanpa filter justru menambah kesan bahwa gadis ini sangat tulus dan apa adanya, sebuah penyeimbang yang sempurna untuk sifat Hanan yang pendiam dan terstruktur.
Umi menepuk lembut punggung tangan putrinya, mencoba menenangkan "mesin" Kanza yang sedang panas.
“Sudah, Kanza, tenang saja. Hari ini agenda kita hanya mengobrol santai. Belum sampai ke tahap akad, kok.”
Kanza hanya bisa nyengir pasrah sambil merapikan jilbabnya yang sebenarnya sudah sangat rapi. Ia menoleh ke arah Hanan, yang tanpa sengaja juga sedang meliriknya.
“Ya Allah… sepertinya masa depan gue bakal berubah drastis 180 derajat gara-gara pria kaku yang hobi bawa buku catatan dan wangi parfum oud ini...” batinnya pasrah, sambil membayangkan playlist lagu galau-nya yang mungkin akan segera berganti menjadi murottal pagi dan petang.
Salam Hangat Dari Penuliss....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!