Indonesia
NovelToon NovelToon

Rock Lee Kebangkitan Cheat Di Konoha

BAB 1: Hijau yang Menyilaukan dan Sebuah Penyesalan

Kepala itu rasanya seperti dihantam oleh palu gada seberat sepuluh ton. Denyutannya berpola, dug, dug, dug, beriringan dengan rasa mual yang mengocok isi perut.

Reymond mengerang lirih. Kesadaran pertamanya kembali bukan lewat mata, melainkan lewat bau tanah basah dan aroma obat-obatan yang menyengat hidung. Dia mencoba menggerakkan jemari tangannya, namun rasa kaku langsung menjalar dari pergelangan hingga ke bahu.

"Ugh..." Reymond melenguh, perlahan kelopak matanya yang terasa seberat timah mulai terbuka.

Pandangannya kabur. Langit-langit yang pertama kali dia lihat bukanlah plafon kamar kosnya yang penuh dengan noda bocor, melainkan langit-langit kayu sederhana dengan gorden putih di sisi kiri yang melambai ditiup angin.

Di mana ini? pikirnya, bingung. Apakah semalam aku pingsan setelah begadang nge-push rank di game mobile Naruto itu?

Reymond mencoba duduk. Sialnya, seluruh tubuhnya menolak perintah itu. Rasa sakit yang luar biasa menusuk-nusuk di area kaki, seolah-olah tulang-tulangnya baru saja dipatahkan lalu disambung kembali secara paksa. Dia menunduk, mencoba melihat tubuhnya sendiri.

Detik itu juga, jantung Reymond serasa berhenti berdetak.

"T-tunggu... Apa-apaan ini?!"

Dia melotot. Tangannya—tidak, ini bukan tangan Reymond yang berkulit sawo matang khas anak kuliahan yang jarang berolahraga. Tangan yang dia lihat saat ini dipenuhi oleh lilitan perban putih yang tebal. Ketika dia meraba wajahnya, rambutnya terasa mangkok, kaku, dan... tebal?

Dengan panik yang mulai menjalar ke ubun-ubun, Reymond menyibak selimut rumah sakit yang menutupi kakinya. Dia memakai celana ketat berwarna hijau tua yang sangat familiar. Terlalu familiar sampai-sampai matanya membelalak sempurna.

"Hah? Hijau? Enggak, enggak mungkin..."

Reymond menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Di atas meja kecil di samping ranjang, terdapat sebuah cermin kecil. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan hingga urat lehernya menonjol, dia meraih cermin tersebut.

Tangan Reymond gemetar hebat. Begitu bayangan di cermin terlihat jelas, cermin itu hampir saja lolos dari genggamannya.

"Demi apa?!" pekik Reymond, suaranya melengking tinggi, jauh lebih cempreng dari suara aslinya. "Kenapa mukaku jadi kotak begini?! Alis ini... Alis ulat bulu ini apa-apaan?!"

Di dalam cermin, seorang remaja laki-laki dengan mata bulat sempurna, rambut bergaya mangkok super rapi, dan sepasang alis hitam yang tebalnya tidak masuk akal sedang menatap balik ke arahnya dengan ekspresi horor yang sama.

Itu adalah Rock Lee.

Karakter fiksi dari anime Naruto. Si jenius kerja keras yang tidak bisa menggunakan Ninjutsu maupun Genjutsu.

"Kenapa harus Rock Lee?!" Reymond berteriak frustrasi, menjambak rambut mangkoknya sendiri tanpa peduli rasa sakit. "Tuhan, kalau memang aku harus reinkarnasi atau masuk ke dunia anime, minimal jadikan aku Sasuke! Atau Neji yang keren! Atau kalau mau yang santai, jadi Shikamaru saja! Kenapa harus si hijau mandiri yang kerjanya cuma push-up sepuluh ribu kali sehari ini?!"

Reymond benar-benar ingin menangis. Mengingat bagaimana nasib Rock Lee di masa depan—bertarung mati-matian melawan Gaara sampai kakinya hancur, lalu hampir menjadi penonton di sepanjang sisa cerita Shippuden—membuat masa depannya di dunia ini terasa sangat suram. Belum lagi ancaman Madara, Akatsuki, dan alien Otsutsuki yang bisa menghancurkan dunia dalam sekejap.

"Aku cuma manusia biasa yang hobi rebahan! Bagaimana bisa aku bertahan di dunia penuh monster ini tanpa Ninjutsu?!" gumamnya meratap, menyandarkan punggungnya ke dinding dengan lemas. Air mata frustrasi mulai menggenang di sudut mata bulatnya.

Tepat ketika Reymond berada di puncak kepanikannya, sebuah suara mekanis yang dingin tiba-tiba bergaung langsung di dalam tempurung kepalanya.

[Sistem mendeteksi sinkronisasi jiwa pengguna dengan tubuh inang selesai.]

[Mengaktifkan program modifikasi eksternal yang tertanam dalam ID Pengguna: 'Anti-Kalah-Gacha'.]

Reymond tersentak. Tangisannya langsung terhenti. "Hah? Suara siapa itu? Sistem? Cheat?"

Sebagai pencinta novel dan game, dia tentu tahu apa arti suara ini. Namun, nama program yang disebutkan barusan terdengar sangat tidak asing di telinganya. Anti-Kalah-Gacha... Itu adalah nama akun yang dia gunakan untuk membuat script modifikasi ilegal di game mobile Naruto tiga hari yang lalu!

[Menerapkan fungsi Cheat yang berhasil dimodifikasi secara mandiri oleh pengguna sebelum konversi dimensi:]

[Regenerasi Tak Terbatas (Unlimited Health Regeneration): Mengembalikan kondisi sel, chakra, dan fisik ke keadaan prima dalam waktu instan tanpa batas.]

[Kekebalan Ilusi Absolut (Absolute Genjutsu Immunity): Mengunci aliran chakra di jalur otak dari intervensi luar, memberikan kekebalan total terhadap segala bentuk manipulasi pikiran dan ilusi.]

[Proses penyuntikan kode selesai. Selamat berjuang di dunia ninja.]

Keheningan melingkupi kamar rawat itu selama beberapa detik. Reymond berkedip berkali-kali, mencerna apa yang baru saja dia dengar.

"Tunggu dulu..." Reymond mengingat-ingat.

Tiga hari lalu, dia memang frustrasi setengah mati karena selalu kalah dalam mode duel PVP di game mobile Naruto. Dia terus-menerus terkena kombo Genjutsu dari karakter lawan dan kehabisan darah dengan cepat. Karena kesal, sebagai seorang mahasiswa teknik informatika yang agak menyimpang, dia menghabiskan waktu dua malam suntuk tanpa tidur untuk meretas data game tersebut dan menyuntikkan dua cheat sederhana itu: darah yang tidak bisa habis dan anti-Genjutsu.

Dia membuat cheat itu mati-matian hanya agar tidak diejek "lemah" oleh pemain lain di chat global. Siapa sangka, cheat sederhana yang dia buat dengan modal dendam itu justru ikut terbawa ke dunia nyata ini!

"Kalau ini nyata..." Reymond menatap tangannya yang dibalut perban.

Sreeek!

Tanpa ragu, Reymond menarik perban di lengan kanannya. Di balik perban itu, terlihat kulitnya yang lebam kebiruan dan lecet-lecet parah, kemungkinan akibat latihan ekstrem yang dilakukan Rock Lee yang asli sebelum dia mengambil alih tubuh ini.

Namun, fenomena ajaib terjadi di depan matanya.

Begitu udara luar menyentuh luka lebam itu, uap putih tipis mulai mengepul dari pori-pori kulitnya. Rasa perih yang awalnya menyengat tiba-tiba memudar, digantikan oleh rasa hangat yang nyaman. Dalam hitungan detik, warna biru keunguan di kulitnya memudar, berganti menjadi warna kulit sehat yang bersih tanpa cacat. Rasa kaku di tubuhnya lenyap seketika.

Reymond mengepalkan tangannya. Kuat. Sangat kuat. Energi hangat terasa mengalir deras di setiap sudut pembuluh darahnya.

"Ini... ini beneran?" Reymond bergumam tak percaya. Senyum tipis mulai terukir di wajah kotaknya, yang perlahan melebar menjadi seringai lebar.

"Regenerasi tak terbatas... Kebal Genjutsu..." Reymond terkekeh geli, lalu tawanya pecah memenuhi ruangan. "Hahaha! Hahahahaha! Sialan, aku tidak perlu takut mati karena latihan lagi!"

Jika Rock Lee yang asli harus mengorbankan otot dan tulangnya hingga hampir cacat demi mendapatkan kekuatan Taijutsu, maka Reymond tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi. Dia bisa membuka Gerbang Delapan (Hachimon Tonko) sesuka hatinya tanpa takut tubuhnya hancur menjadi abu! Efek samping dari pembukaan gerbang batin yang merusak otot akan langsung disembuhkan oleh regenerasi tak terbatas miliknya dalam hitungan milidetik!

Braaak!

Pintu kamar rawat digeser dengan kasar hingga menghantam dinding pembatas.

"Lee!!! Muridku yang penuh dengan masa muda!"

Sebuah raungan menggelegar memotong tawa Reymond. Di ambang pintu, berdiri seorang pria dewasa dengan penampilan yang... seratus persen identik dengan dirinya saat ini, hanya saja dalam versi lebih besar, lebih berotot, dan memiliki karisma yang aneh. Pria itu mengenakan pakaian ketat hijau yang berkilau, sabuk merah, dan pelindung kepala Konoha yang diikatkan di pinggangnya.

Mata pria itu berkaca-kaca, dipenuhi oleh air mata dramatis yang mengalir seperti air terjun.

Might Guy. Guru dari Rock Lee.

Reymond langsung membeku di tempatnya. Teori di kepalanya adalah satu hal, tapi melihat monster Taijutsu setingkat Might Guy menangis bombastis di depannya secara langsung membuat mental Reymond sedikit terguncang.

"G-Guru Guy..." Reymond berucap terbata-bata, mencoba menyesuaikan diri dengan ingatan samar milik Rock Lee yang tersisa di otaknya.

Guy menerjang maju, langsung memeluk Reymond dengan sangat erat hingga terdengar bunyi krek dari tulang punggung Reymond. Jika bukan karena cheat regenerasinya yang langsung bekerja menyembuhkan tekanan itu, Reymond yakin dia sudah pingsan lagi.

"Maafkan aku, Lee! Ini semua karena kesalahanku sebagai gurumu! Aku membiarkanmu berlatih terlalu keras hingga melampaui batas kemampuan tubuhmu!" Guy meratap sambil mengguncang-guncang bahu Reymond. "Melihatmu terbaring di sini sendirian membuat api masa mudaku serasa meredup!"

Reymond meringis, mencoba melepaskan diri dari pelukan maut itu. "Anu... Guru Guy, bisa tolong lepaskan dulu? Aku... aku sudah tidak apa-apa, sungguh."

Guy melepaskan pelukannya, menatap Reymond dengan tatapan tidak percaya. "Tidak apa-apa? Jangan memaksakan dirimu, Lee! Medik ninja bilang otot-otot kakimu mengalami robekan parah. Kamu harus istirahat minimal satu minggu—"

Sebelum Guy menyelesaikan kalimatnya, Reymond langsung melompat turun dari ranjang rumah sakit. Kedua kakinya menapak di lantai dengan kokoh. Dia bahkan melakukan beberapa gerakan squat dan melompat-lompat kecil di depan gurunya yang melotot tidak percaya.

"Lihat? Aku benar-benar sudah sembuh total, Guru!" Reymond tersenyum lebar, menirukan pose khas Rock Lee dengan mengacungkan jempolnya yang berkilau.

Di dalam hatinya, Reymond menghela napas lega. Untung saja cheat ini bekerja dengan sempurna. Kalau tidak, aku pasti sudah menjerit kesakitan sekarang.

Guy menatap muridnya dari atas sampai bawah dengan mulut terperangah. Dia maju seangkah, meraba otot kaki Reymond, lalu menekan beberapa titik vital. Tidak ada reaksi kesakitan sama sekali dari Reymond. Malah, Guy bisa merasakan vitalitas yang sangat kuat memancar dari tubuh remaja di depannya ini.

"Ini... ini keajaiban masa muda!" Guy berteriak histeris, menjambak rambutnya sendiri. "Semangatmu yang membara telah mempercepat penyembuhan tubuhmu secara tidak masuk akal! Luar biasa, Lee! Kamu benar-benar perwujudan dari kerja keras!"

Reymond hanya bisa tersenyum canggung, keringat dingin setitik menetes di pelipisnya. Bukan semangat, Guru... Ini namanya cheat ilegal.

"Baiklah! Karena kamu sudah sembuh, ayo kita rayakan ini dengan berlari mengitari Konoha lima ratus putaran dengan tangan!" Guy berpose, menunjuk ke arah jendela luar dengan latar belakang matahari sore yang mulai terbenam.

Mendengar itu, senyum di wajah Reymond langsung runtuh. "Hah? Lima ratus putaran? Menggunakan tangan?!"

"Tentu saja! Jika kita tidak bisa menyelesaikannya sebelum matahari tenggelam, kita akan melakukan sepuluh ribu kali tendangan!" Guy memamerkan giginya yang putih bersih, memantulkan kilatan cahaya fiktif yang menyilaukan mata Reymond.

Reymond menelan ludah. Meskipun dia tahu tubuhnya tidak akan rusak berkat regenerasi tak terbatas, tapi rasa lelah secara mental dan bayangan harus merangkak keliling desa dengan tangan kosong benar-benar membuatnya ngeri.

Sialan, batin Reymond sambil meratapi nasib barunya. Sepertinya hidup sebagai Rock Lee akan jauh lebih melelahkan daripada yang kubayangkan. Selamat tinggal hari-hari rebahanku...

BAB 2: Berat yang Tak Terlihat dan Pandangan yang Meremehkan

Angin sore berembus lambat, membawa aroma daun pinus kering yang khas dari arah hutan belakang Konoha. Di jalur tanah yang memutari area luar desa, dua sosok dengan pakaian hijau ketat sedang bergerak dengan posisi terbalik. Kepala di bawah, tangan di bawah, dan kaki lurus menghadap ke langit.

"Dua ratus tiga puluh satu... dua ratus tiga puluh dua..."

Reymond menghitung dalam hati, giginya terkatup rapat. Keringat bercucuran deras dari dahinya, menetes langsung ke tanah kering yang mereka lewati. Telapak tangannya terasa panas membara, tergesek oleh kerikil tajam dan ranting patah di sepanjang jalan. Setiap kali berat badannya bertumpu pada pergelangan tangan, dia bisa mendengar bunyi krek samar yang menandakan sendinya tertekan hebat.

Namun, keajaiban cheat itu bekerja di balik layar. Begitu rasa sakit menusuk di pergelangan tangannya, kehangatan misterius mengalir dalam hitungan milidetik, memperbaiki jaringan ikat yang hampir robek dan meredakan rasa panas di kulitnya. Secara fisik, dia selalu kembali ke kondisi prima. Tapi secara mental? Reymond merasa jiwanya hampir terbang keluar dari ubub-ubun.

"Ayo, Lee! Jangan kendurkan kecepatanmu! Matahari sudah hampir tenggelam di balik patung para Hokage!" Guy berteriak dari sampingnya, bergerak dengan kecepatan dua kali lipat lebih cepat dengan ekspresi yang sangat santai, seolah-olah dia hanya sedang berjalan-jalan di taman.

"B-baik, Guru Guy!" Reymond menjawab dengan napas yang mulai tersengal. Mengontrol napas ternyata jauh lebih sulit daripada mengatasi rasa sakit fisik. "Saya... saya masih bisa!"

"Bagus! Itulah api masa muda yang sesungguhnya!" Guy tertawa menggelegar, membalikkan tubuhnya di udara dengan gerakan akrobatik yang sempurna, lalu mendarat dengan kedua kakinya. "Cukup untuk hari ini! Kita sudah menyelesaikan dua ratus lima puluh putaran. Anggap saja ini pemanasan pasca kamu keluar dari rumah sakit!"

Pemanasan kepalamu kotak! Reymond mengumpat dalam hati sambil ikut membalikkan tubuhnya. Dia mendarat dengan agak limbung, sebelum akhirnya berdiri tegak. Dia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara malam yang mulai dingin. Anehnya, rasa lelah yang luar biasa di ototnya hilang hanya dalam waktu tiga kali tarikan napas. Kulit tangannya yang tadi lecet-lecet kini sudah mulus kembali.

Guy memperhatikan muridnya dengan mata menyipit. Ada kilatan herisik di tatapan jounin berpengalaman itu. "Lee, biasanya setelah latihan seperti ini, napasmu akan memburu selama lima belas menit dan otot lenganmu akan gemetar. Tapi sekarang... kamu terlihat sangat cepat pulih."

Jantung Reymond berdegup kencang. Gawat, apa dia menyadarinya?

Dengan cepat, Reymond memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan, memasang ekspresi se-antusias mungkin khas Rock Lee. "Ini karena motivasiku sedang membara, Guru! Berbaring di ranjang rumah sakit kemarin membuatku sadar betapa berharganya setiap detik untuk berlatih! Aku tidak ingin membuang waktu lagi!"

Guy terdiam sesaat, lalu tiba-tiba air mata dramatis kembali membanjiri wajahnya. Dia merangkul pundak Reymond dengan kasar. "Oh, Lee! Kamu benar-benar membuatku terharu! Jenius kerja keras sepertimu adalah kebanggaan terbesarku! Pergilah ke kedai dango atau mandi di pemandian air panas untuk merenggangkan ototmu. Besok pagi, kita akan bertemu dengan rekan timmu yang lain di area latihan nomor tiga!"

"Rekan tim?" Reymond memiringkan kepalanya. "Neji dan Tenten?"

"Benar! Mereka sudah menyelesaikan misi solo mereka masing-masing hari ini. Besok adalah latihan tim pertama kita setelah kamu sembuh. Jangan terlambat, Lee!" Setelah meneriakkan itu, Guy berputar dan melesat pergi, meninggalkan kepulan debu tebal yang membuat Reymond terbatuk-batuk.

"Uhuk! Uhuk! Sialan, cepat sekali dia menghilang," gumam Reymond sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya.

Kini dia sendirian di jalanan Konoha yang mulai temaram oleh lentera-lentera jalan yang baru dinyalakan. Reymond berjalan pelan menuju arah pusat desa. Pemandangan di sekitarnya benar-benar terasa surealis. Bangunan-bangunan kayu bergaya jepang kuno, orang-orang yang berjalan dengan pakaian tradisional, dan beberapa shinobi yang melompat dari atap ke atap dengan sangat lincah.

Saat berjalan melewati area pasar, Reymond merasakan perubahan atmosfer yang kurang nyaman. Beberapa penduduk desa yang sedang merapikan dagangan mereka melirik ke arahnya. Tatapan mereka... bukan tatapan benci seperti yang mereka berikan pada Naruto, melainkan tatapan meremehkan. Tatapan kasihan yang bercampur dengan cemoohan terselubung.

"Lihat, itu si anak cacat dari klan Lee," bisik seorang pedagang sayur kepada temannya, tidak terlalu pelan hingga Reymond masih bisa mendengarnya.

"Ah, si bocah yang tidak bisa Ninjutsu itu? Kasihan sekali. Mau jadi ninja seperti apa kalau cuma mengandalkan pukulan dan tendangan? Di zaman sekarang, anak itu hanya akan jadi umpan meriam di medan perang," sahut yang lain sambil menggelengkan kepala.

Reymond menghentikan langkahnya sejenak. Tangannya yang berada di dalam saku celana mengepal erat. Sebagai Reymond yang dulu hidup di dunia modern, dia jarang sekali menerima diskriminasi langsung seperti ini. Ada rasa hangat yang membakar dadanya—bukan karena cheat, melainkan karena ego dan sisa-sisa emosi milik Rock Lee yang asli yang tersinggung.

Umpan meriam? Reymond tersenyum sinis dalam hati. Kalian tidak tahu saja. Jika aku membuka Gerbang Kedelapan sekarang, seluruh pasar ini bisa rata dengan tanah dalam sekejap.

Namun, dia memilih untuk mengabaikan mereka. Dia melanjutkan perjalanannya menuju rumah kecil tempat Rock Lee tinggal sendirian. Rumah itu sangat sederhana, hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan ruang latihan kecil di halaman belakang yang dipenuhi oleh tiang-tiang kayu yang sudah retak-retak akibat pukulan konstan.

Reymond duduk di lantai kayu teras belakang, menatap bulan sabit yang mulai menggantung di langit malam. Dia membuka telapak tangannya, mencoba memfokuskan pikirannya.

Bagaimana cara merasakan chakra? pikirnya.

Di dalam ingatan Lee, chakra adalah sesuatu yang asing karena jalur chakranya tersumbat atau tidak berkembang dengan baik untuk Ninjutsu. Namun, setelah cheat itu menyatu dengan jiwanya, Reymond bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda. Di dalam perut bagian bawahnya, ada sebuah pusaran energi biru yang sangat padat. Energi itu mengalir dengan lancar, mengitari seluruh tubuhnya tanpa ada hambatan sama sekali.

"Tunggu..." Reymond bergumam, matanya membelalak. "Jalur chakraku... tidak tersumbat? Malah terasa sangat bersih!"

Dia mencoba mengalirkan energi itu ke telapak tangannya. Wush! Sebuah tekanan angin tipis tercipta di sekitar jemarinya. Ini bukan chakra biasa. Berkat cheat regenerasi tak terbatas, aliran chakra dalam tubuhnya terus memperbarui diri. Setiap kali dia menggunakan atau membuang sebagian chakra, pusaran di perutnya langsung mengisinya kembali hingga penuh dalam sekejap.

artinya, dia tidak hanya memiliki darah yang tidak bisa habis, tetapi juga Chakra Tak Terbatas.

Reymond menelan ludah, tubuhnya gemetar karena kombinasi rasa takut dan kegembiraan yang luar biasa. "Kalau begini ceritanya... keterbatasan Rock Lee yang tidak bisa Ninjutsu bukan lagi masalah karena cacat tubuh, melainkan karena aku memang belum belajar caranya!"

Namun, dia segera menggelengkan kepalanya keras-keras. "Tidak, tidak boleh serakah. Fokus utamaku saat ini adalah Taijutsu. Dengan tubuh yang bisa beregenerasi instan, Taijutsu adalah senjata paling mematikan yang bisa kuhasilkan tanpa perlu membuang waktu mempelajari segel tangan yang rumit."

Dia berdiri, menatap tiang kayu latihan di depannya. Reymond memasang kuda-kuda dasar Gouken (Gaya Tinju Keras) yang sudah mendarah daging di tubuh Lee.

"Mari kita coba seberapa cepat aku bisa berkembang," bisiknya pada kegelapan malam.

Bum!

Pukulan pertamanya menghantam tiang kayu, meninggalkan retakan baru yang cukup dalam. Kulit buku jarinya sempat pecah dan berdarah, namun sebelum darah sempat menetes ke tanah, uap putih muncul dan menyembuhkannya dalam waktu kurang dari satu detik. Reymond tersenyum puas. Latihan neraka yang sesungguhnya baru saja dimulai.

BAB 3: Pertemuan Tim dan Keangkuhan Sang Jenius Hyuga

Matahari pagi baru saja mengintip dari balik cakrawala ketika Reymond—yang kini sudah sepenuhnya menerima identitasnya sebagai Rock Lee—berjalan menuju Area Latihan Nomor Tiga. Dia mengenakan pakaian hijau ketatnya yang sudah dicuci bersih, lengkap dengan beban berat yang terikat di kedua pergelangan kakinya.

Sesampainya di lapangan berumput yang luas itu, dia melihat dua orang sudah berdiri di dekat tiang kayu besar.

Yang pertama adalah seorang gadis dengan rambut cokelat yang disanggul dua mirip bakpao, mengenakan baju bergaya Tiongkok berwarna merah muda dan putih. Tenten. Dia sedang sibuk memeriksa gulungan-gulungan senjata di tas pinggangnya.

Yang kedua adalah seorang remaja laki-laki dengan rambut hitam panjang yang diikat longgar di bagian ujung. Dia berdiri dengan menyilangkan dada, matanya yang berwarna putih susu tanpa pupil menatap lurus ke depan dengan tatapan dingin dan arogan. Neji Hyuga. Sang jenius nomor satu di angkatan mereka.

"Oh, Lee! Kamu sudah datang?" Tenten melambaikan tangannya dengan senyum ceria begitu melihat kedatangan Lee. "Kudengar dari Guru Guy kemarin kamu masuk rumah sakit karena kelelahan. Bagaimana keadaanmu? Jangan dipaksakan kalau masih sakit."

Lee berjalan mendekat, membalas lambaian tangan Tenten dengan senyum lebar. "Terima kasih perhatiannya, Tenten! Aku sudah sembuh seratus persen! Malah, aku merasa lebih segar dari biasanya!"

Neji melirik Lee sekilas dari sudut matanya, lalu mendengus pelan, suara yang sarat akan nada cemoohan. "Menyembuhkan diri dengan cepat tidak akan mengubah takdirmu, Lee. Seorang pencundang yang memaksakan diri melampaui batasnya hanya akan berakhir merusak dirinya sendiri. Kerja keras tidak akan pernah bisa melampaui bakat alami."

Kata-kata itu terdengar sangat menusuk telinga. Tenten yang mendengarnya langsung menghela napas panjang, tampak sudah terbiasa dengan sikap dingin Neji. Dia melirik Lee dengan tatapan khawatir, takut kalau rekan timnya yang sensitif itu akan langsung meledak marah atau menangis drama seperti biasanya.

Namun, reaksi Lee kali ini justru membuat kedua remaja itu tertegun.

Lee tidak berteriak. Dia tidak menangis, dan tidak juga membantah dengan kalimat "Masa muda tidak mengenal batas!" yang biasa dia gembar-gemborkan. Sebaliknya, Lee hanya menatap Neji dengan tatapan datar, seulas senyum tipis yang sulit diartikan terukir di sudut bibirnya.

"Takdir, ya?" Lee bergumam pelan, suaranya terdengar sangat tenang, hampir seperti suara orang dewasa yang sedang mendengarkan celoteh anak kecil. "Kita lihat saja nanti, Neji. Apakah takdir yang kamu agung-agungkan itu bisa menahan pukulanku atau tidak."

Neji sedikit mengernyitkan alisnya. Ada yang berbeda dengan Lee hari ini. Sorot mata bulat yang biasanya dipenuhi oleh ambisi menggebu-gebu dan rasa rendah diri yang ditutupi oleh teriakan, kini terlihat... sangat dalam dan tenang. Seperti air telaga yang tidak beriak.

"Sombong sekali," Neji mendesis, aura di sekitarnya mendadak mendingin. "Kamu ingin mencoba bertarung denganku sekarang? Aku tidak keberatan mengingatkanmu kembali di mana posisimu berada."

"Boleh juga," Lee menjawab santai, melangkah maju dua langkah dan langsung mengambil posisi kuda-kuda bertarung. "Anggap saja sebagai pemanasan sebelum Guru Guy datang."

"Eh? Tunggu dulu, kalian berdua! Jangan bertarung di sini!" Tenten mencoba melerai dengan panik, namun kedua pria di depannya sama sekali tidak mengindahkannya.

Neji membuka kedua kakinya, menurunkan pusat gravitasinya, dan menjulurkan tangan kanannya ke depan dengan telapak tangan terbuka. Kuda-kuda khas Juken (Tinju Lembut) klan Hyuga. "Jangan menyesal jika kamu harus kembali ke rumah sakit, Lee."

Syuuwt!

Tanpa peringatan, Neji melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa untuk ukuran seorang Genin. Dalam sekejap, dia sudah berada di depan Lee, telapak tangannya mengarah langsung ke arah dada kiri Lee, mengincar salah satu titik tenketsu (titik aliran chakra) untuk menghentikan pergerakan jantungnya.

Lee tidak menghindar. Dia sengaja ingin menguji seberapa efektif cheat regenerasinya menghadapi gaya bertarung Juken yang merusak organ dalam.

Plak!

Serangan Neji mendarat telak di dada Lee. Gelombang chakra murni milik Hyuga menyusup masuk melalui kulit, mencoba menghancurkan jaringan chakra dan organ dalam di balik tulang rusuk Lee. Neji sudah bersiap untuk melihat Lee memuntahkan darah dan berlutut kesakitan.

Namun, sedetik... dua detik... tidak ada yang terjadi.

Mata Neji membelalak tak percaya. Di depan matanya, Lee bahkan tidak bergeser satu sentimeter pun dari posisinya. Aliran chakra perusak yang disuntikkan Neji ke dalam tubuh Lee langsung diserap dan dinetralkan oleh sistem regenerasi instan milik Lee dalam sekejap mata. Sel-sel organ dalam yang sempat tertekan langsung pulih ke kondisi semula sebelum rasa sakit sempat mencapai otak Lee.

"Hanya segini kekuatan dari sang jenius?" Lee berbisik di telinga Neji, suaranya terdengar dingin di tengah keheningan lapangan latihan.

"A-apa?!" Neji tersentak, insting shinobinya berteriak bahaya. Dia mencoba menarik tangannya kembali untuk mundur, namun pergelangan tangannya sudah dicengkeram erat oleh tangan kiri Lee yang sekeras baja.

Cengkeraman itu sangat kuat, membuat Neji meringis kecil. "Lepaskan!" Neji berteriak, tangan kirinya bergerak cepat menyerang wajah Lee.

Lee menggunakan momen itu untuk melepaskan cengkeramannya dan sedikit memiringkan kepala ke kanan, membiarkan angin serangan Neji melewati pipinya. Di saat yang sama, Lee memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan memutar yang mengincar rusuk Neji.

Bum!

Neji berhasil menyilangkan kedua lengannya tepat waktu untuk menangkis tendangan itu, namun kekuatan mentah di balik tendangan Lee jauh melampaui perkiraannya. Tubuh Neji terseret mundur hingga lima meter di atas tanah, meninggalkan dua jalur tanah yang terkikis sebelum akhirnya dia berhasil menstabilkan posisinya.

Napas Neji sedikit memburu. Kedua lengannya terasa mati rasa akibat menahan benturan tadi. Dia menatap Lee dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh rasa tidak percaya yang mendalam, bercampur dengan sedikit kemarahan yang mulai membakar egonya.

Di sisi lain, Tenten berdiri di tepi lapangan dengan mulut terbuka lebar, tangannya menutup mulut karena terkejut. "Lee... dia berhasil memukul mundur Neji dalam satu pertukaran serangan?!"

Lee menurunkan kakinya, berdiri tegak dengan santai sambil menepuk-nepuk debu imajiner di celana hijaunya. Dia menatap Neji yang tampak sangat syok.

"Pertahanan yang bagus, Neji," kata Lee dengan nada memuji yang tulus, namun di telinga Neji, itu terdengar seperti ejekan yang paling sarkastik. "Tapi seperti yang kukatakan tadi... takdir adalah sesuatu yang bisa diubah jika pukulanmu cukup kuat."

Tepat ketika Neji bersiap untuk mengaktifkan Byakugan miliknya karena merasa terhina, sebuah suara tawa yang sangat akrab menggema dari atas pohon di dekat mereka.

"Hahaha! Pertarungan yang sangat memukau di pagi hari yang cerah ini!" Guru Guy melompat turun dari dahan pohon, mendarat tepat di antara Lee dan Neji dengan pose andalannya. "Masa muda kalian berdua benar-benar meledak-ledak! Tapi simpan dulu energi kalian, karena hari ini kita memiliki misi penting dari Hokage!"

Aura tegang di antara kedua remaja itu perlahan memudar, meskipun Neji masih menatap Lee dengan tatapan tajam yang penuh selidik. Lee sendiri hanya tersenyum tipis, merasa sangat puas dengan hasil eksperimen pertamanya pagi ini. Hidup di dunia ini ternyata mulai terasa menarik.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!