Hujan turun tanpa ampun, membasahi jalanan kota yang telah lama dikuasai oleh rasa takut. Kilatan petir sesekali menyambar langit, memperlihatkan sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan yang malam itu dikelilingi puluhan pria bersenjata. Tak seorang pun berani bergerak tanpa perintah. Bahkan suara napas mereka terdengar tertahan, seolah kematian sedang mengintai di balik setiap sudut ruangan.
Di tengah gudang yang remang-remang, seorang pria duduk santai di kursi kayu. Jas hitamnya tetap rapi meski bercak darah menghiasi lengan dan kerah bajunya. Wajahnya tampan, namun tatapan matanya sedingin musim dingin. Tidak ada rasa takut, tidak ada penyesalan, hanya ketenangan yang membuat siapa pun bergidik.
Dialah Raven Alvaro.
Nama yang menjadi mimpi buruk bagi seluruh dunia bawah tanah.
Orang-orang menjulukinya Sang Don Berdarah, pria yang membangun kekaisaran mafianya dengan peluru, darah, dan pengkhianatan. Bagi Raven, kesetiaan adalah hukum tertinggi. Siapa pun yang mengkhianatinya tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi.
Di hadapannya, seorang pria paruh baya berlutut dengan kedua tangan terikat. Tubuhnya penuh luka akibat pukulan para anak buah Raven. Darah menetes dari pelipisnya hingga membasahi lantai semen yang dingin.
"Aku... aku tidak bermaksud mengkhianatimu," ucap pria itu dengan suara gemetar. "Aku dipaksa... mereka mengancam keluargaku."
Raven mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya begitu tajam hingga membuat pria itu menunduk ketakutan.
"Di duniaku," ujar Raven dengan suara rendah namun penuh tekanan, "tidak ada alasan yang cukup untuk membenarkan pengkhianatan."
Pria itu menangis.
"Tolong... ampuni aku. Aku sudah mengabdi selama dua puluh tahun."
Raven berdiri. Langkahnya pelan, tetapi setiap hentakan sepatu kulitnya terdengar seperti hitungan mundur menuju kematian.
Ia berhenti tepat di depan pria itu.
"Dua puluh tahun kesetiaanmu hancur karena satu malam pengkhianatan."
Tanpa mengubah ekspresi, Raven mengeluarkan pistol berwarna hitam dari balik jasnya. Ia menempelkan moncong senjata itu ke dahi pria tersebut.
"Tuan... jangan..."
Dor!
Suara tembakan memecah keheningan.
Tubuh pria itu roboh tanpa sempat mengucapkan kata terakhir. Darah mengalir perlahan di lantai, bercampur dengan air hujan yang masuk melalui celah pintu gudang.
Tak seorang pun berani bereaksi.
Semua orang hanya menundukkan kepala.
Raven menyerahkan pistolnya kepada Leo, tangan kanan yang selalu berada di sisinya.
"Bersihkan tempat ini."
"Baik, Tuan."
Raven melangkah keluar gudang. Hujan langsung membasahi rambut hitamnya, tetapi ia sama sekali tidak peduli. Matanya menatap langit yang gelap, seolah mencari jawaban yang tak pernah datang.
Tak ada yang tahu bahwa jauh di balik sosoknya yang kejam, Raven menyimpan luka yang tak pernah sembuh.
Dua puluh tahun lalu, ia hanyalah seorang anak kecil yang menyaksikan kedua orang tuanya dibantai di depan matanya sendiri. Malam itu, rumah mereka dibakar hingga menjadi abu, sementara seorang pria bertopeng mengambil sesuatu yang sangat berharga sebelum menghilang tanpa jejak.
Sejak saat itu, Raven bersumpah akan menemukan pelaku pembantaian tersebut.
Ia rela mengotori tangannya dengan darah. Ia rela menjadi monster yang ditakuti seluruh kota. Baginya, hanya orang paling kuat yang mampu bertahan hidup.
Namun takdir selalu memiliki cara yang kejam untuk mempermainkan manusia.
Di belahan kota yang lain, seorang dokter muda bernama Aurora Valentia baru saja menyelesaikan giliran kerjanya di rumah sakit. Tanpa ia sadari, langkahnya malam itu akan membawanya pada sebuah kejadian yang mengubah seluruh hidupnya.
Sebuah mobil hitam melaju kencang di jalan yang sepi. Dari dalamnya terdengar suara tembakan bertubi-tubi. Aurora yang panik berusaha menyelamatkan diri, tetapi matanya justru menangkap sosok pria berjas hitam yang berdiri tenang di tengah hujan, memegang pistol dengan ekspresi tanpa belas kasihan.
Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik.
Namun beberapa detik itu sudah cukup untuk mengubah takdir keduanya.
Aurora telah melihat wajah pria yang seharusnya tak boleh dilihat siapa pun.
Dan Raven Alvaro tidak pernah membiarkan seorang saksi hidup begitu saja.
Malam itu menjadi awal dari permainan paling berbahaya, ketika cinta, dendam, dan kekuasaan saling bertabrakan di dunia yang dipenuhi darah. Tidak semua orang akan bertahan hidup, dan tidak semua rahasia akan tetap terkubur. Dalam dunia mafia, kepercayaan adalah kemewahan, sedangkan pengkhianatan selalu dibayar dengan nyawa.
Suara sirene ambulans menggema di sepanjang jalan kota yang diguyur hujan deras. Aurora Valentia baru saja menyelesaikan operasi darurat selama hampir enam jam tanpa henti. Tubuhnya terasa lelah, tetapi sebagai seorang dokter, ia sudah terbiasa mengorbankan waktu istirahat demi menyelamatkan nyawa orang lain.
Ia melepas masker medisnya sambil mengembuskan napas panjang.
"Akhirnya selesai juga," gumamnya pelan.
Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah sakit mulai sepi. Aurora mengambil tasnya, berpamitan kepada beberapa perawat yang masih berjaga, lalu berjalan menuju area parkir.
Hujan turun semakin deras.
Aurora membuka payung dan melangkah menuju mobilnya. Jalanan tampak lengang. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya di atas aspal yang basah, menciptakan suasana yang sunyi sekaligus mencekam.
Entah mengapa, malam itu hatinya terasa gelisah.
Baru saja ia hendak membuka pintu mobil, suara deru mesin terdengar dari kejauhan.
Bruummm!
Sebuah mobil SUV hitam melaju sangat kencang melewati rumah sakit.
Beberapa detik kemudian...
Dor! Dor! Dor!
Rentetan tembakan memecah keheningan malam.
Aurora refleks menunduk.
"Astaga!"
Ia berlari mencari perlindungan di balik sebuah pilar beton. Dadanya berdebar sangat cepat.
Suara ban berdecit keras.
Dua mobil hitam saling kejar sambil melepaskan tembakan.
Kaca mobil pecah berhamburan.
Orang-orang yang masih berada di sekitar rumah sakit berteriak panik dan berhamburan menyelamatkan diri.
Aurora memejamkan mata sesaat.
Ketika suara tembakan mulai mereda, rasa penasarannya justru muncul.
Perlahan ia mengintip dari balik pilar.
Salah satu mobil berhenti di tengah jalan.
Empat pria bersenjata keluar dengan tergesa-gesa.
Belum sempat mereka mengangkat senjata...
Dor!
Dor!
Dor!
Tiga tembakan terdengar hampir bersamaan.
Ketiga pria itu langsung roboh bersimbah darah.
Aurora membekap mulutnya agar tidak berteriak.
Dari balik bayangan hujan, seorang pria tinggi mengenakan jas hitam melangkah dengan tenang.
Tangannya menggenggam pistol yang masih mengeluarkan asap tipis.
Wajahnya begitu tampan, tetapi sorot matanya sedingin es.
Ia berjalan melewati tubuh-tubuh yang bergelimpangan tanpa sedikit pun menunjukkan rasa iba.
Seolah membunuh seseorang hanyalah rutinitas biasa.
Pria itu berhenti di depan korban terakhir yang masih bernapas.
"Tuan... ampuni aku..." lirih pria tersebut.
Tatapan pria berjas hitam tetap datar.
"Aku sudah memberimu kesempatan."
Dor!
Satu peluru bersarang tepat di kepala pria itu.
Sunyi.
Yang terdengar hanya suara hujan.
Aurora gemetar hebat.
Ia baru saja menyaksikan pembunuhan dengan mata kepalanya sendiri.
Tanpa sengaja, kakinya mundur beberapa langkah.
Krek...
Sebuah ranting patah.
Suara kecil itu membuat pria berjas hitam langsung menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya Aurora melihat jelas wajah pria tersebut.
Sangat tampan.
Namun juga sangat mengerikan.
Tatapan dinginnya membuat Aurora seolah kehilangan kemampuan untuk bernapas.
Pria itu menyipitkan mata.
"Siapa di sana?"
Aurora tersentak.
Ia segera berbalik dan berlari sekuat tenaga.
"Hei! Berhenti!"
Aurora tak peduli.
Ia terus berlari menembus hujan.
Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa akan meledak.
Di belakangnya terdengar langkah kaki beberapa orang.
"Cepat tangkap dia!"
Aurora menoleh sekilas.
Lima pria bersenjata sedang mengejarnya.
Air mata mulai bercampur dengan air hujan.
"Aku harus selamat..."
Ia memasuki gang sempit yang gelap.
Namun langkahnya mendadak terhenti.
Di depannya berdiri pria berjas hitam yang tadi ia lihat.
Entah bagaimana caranya, pria itu sudah berada di sana lebih dulu.
Aurora membeku.
Pria itu mendekatinya perlahan.
"Tolong... jangan bunuh aku," ucap Aurora dengan suara bergetar.
Pria itu menatap wajah Aurora cukup lama.
Matanya yang dingin seolah sedang membaca isi pikirannya.
"Apa kau melihat wajahku?"
Aurora tidak menjawab.
Diamnya justru menjadi jawaban.
Pria itu menghela napas pelan.
"Sayang sekali."
Aurora menutup mata.
Ia yakin malam ini adalah akhir hidupnya.
Namun suara tembakan yang ia tunggu tak kunjung terdengar.
Sebaliknya, pria itu justru memasukkan pistolnya kembali ke balik jas.
"Masukkan dia ke mobil."
"Dengan senang hati, Tuan Raven," jawab salah seorang anak buahnya.
Aurora membuka mata dengan bingung.
"Apa... apa maksudnya?"
Pria bernama Raven itu menatapnya tanpa ekspresi.
"Kau terlalu banyak melihat."
"Aku tidak akan melapor ke polisi. Aku bersumpah!"
"Aku tidak percaya pada sumpah."
"Demi Tuhan..."
"Aku hanya percaya pada kendaliku sendiri."
Dua pria berbadan besar langsung memegang kedua lengan Aurora.
"Lepaskan aku!"
Aurora meronta sekuat tenaga, tetapi tenaganya tak sebanding dengan mereka.
Dalam hitungan detik ia sudah didorong masuk ke dalam mobil hitam mewah.
Pintu ditutup rapat.
Mobil melaju meninggalkan lokasi.
Aurora memandang keluar jendela dengan napas memburu.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Ia tidak tahu ke mana dirinya akan dibawa.
Yang ia tahu, hidupnya tak akan pernah sama lagi sejak malam ketika ia melihat wajah pria bernama Raven Alvaro—Don mafia paling kejam yang namanya membuat seluruh dunia bawah tanah gemetar.
Aurora memukul-mukul kaca mobil dengan panik.
"Lepaskan aku! Kalian tidak berhak menculikku!"
Tidak ada jawaban.
Dua pria berbadan besar yang duduk di sampingnya hanya menatap lurus ke depan. Wajah mereka datar tanpa sedikit pun menunjukkan emosi.
Di kursi paling belakang, Raven Alvaro duduk dengan tenang sambil membaca beberapa dokumen di tablet miliknya. Seolah-olah wanita yang sedang meronta di depannya hanyalah angin lalu.
Aurora menatap pria itu penuh amarah.
"Hei! Apa kau tuli? Aku bicara padamu!"
Raven tetap diam.
Sikap acuh tak acuh itu justru membuat Aurora semakin kesal.
"Aku dokter, bukan penjahat! Kau tidak punya hak membawaku seperti ini."
Baru beberapa detik kemudian Raven mengangkat kepalanya.
Tatapan mata abu-abunya begitu dingin hingga Aurora tanpa sadar menelan ludah.
"Kau selesai?"
Aurora terdiam sesaat.
"Aku akan melaporkanmu."
Raven terkekeh pelan.
"Kepada polisi?"
"Iya!"
"Kau yakin polisi bisa menyentuhku?"
Ucapan itu membuat Aurora terdiam.
Raven kembali menatap layar tabletnya.
"Di kota ini, hukum memiliki harga."
Mobil terus melaju hingga memasuki sebuah kawasan perbukitan yang dipenuhi pepohonan tinggi.
Di balik gerbang baja setinggi lima meter berdiri sebuah mansion megah bak istana.
Puluhan pria bersenjata berjaga di setiap sudut.
Gerbang terbuka otomatis ketika mobil mereka mendekat.
Aurora membelalakkan mata.
Tempat itu lebih mirip markas militer daripada rumah tinggal.
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.
"Keluar."
Aurora menggeleng.
"Aku tidak mau."
Salah satu anak buah membuka pintu mobil.
"Maaf, Nona."
Dengan mudah ia mengangkat Aurora keluar.
"Lepaskan aku!"
Aurora terus memberontak hingga akhirnya Raven berjalan mendekat.
"Cukup."
Suaranya tidak keras.
Namun semua orang langsung berhenti bergerak.
Raven berdiri tepat di depan Aurora.
"Kau akan tinggal di sini."
"Aku bukan tahananmu."
"Mulai malam ini, kau adalah tamuku."
Aurora mendengus.
"Tamumu? Kau menculikku!"
"Kalau aku ingin membunuhmu, kau sudah mati sejak di gang tadi."
Ucapan itu membuat Aurora tak mampu membalas.
Raven berbalik.
"Bawa dia ke kamar."
Dua pelayan wanita datang menghampiri.
Mereka mengantar Aurora menuju lantai dua mansion.
Kamar yang diberikan sangat luas.
Kasur king size, balkon pribadi, lemari pakaian penuh baju baru, bahkan kamar mandi mewah dengan marmer putih.
Namun semua kemewahan itu terasa seperti penjara.
Begitu pintu ditutup, Aurora langsung mencoba membukanya.
Klik.
Terkunci dari luar.
"Brengsek..."
Ia memukul pintu beberapa kali.
"Biarkan aku keluar!"
Tak ada jawaban.
Aurora akhirnya terduduk di lantai.
Air mata kembali mengalir.
Ia teringat ibunya yang pasti sedang mencarinya.
Rumah sakit juga pasti panik karena ia menghilang tanpa kabar.
Sementara itu...
Di ruang kerja mansion.
Leo menyerahkan sebuah map kepada Raven.
"Semua identitas wanita itu sudah kami selidiki."
Raven membuka map tersebut.
Nama: Aurora Valentia.
Usia: dua puluh empat tahun.
Profesi: dokter umum.
Riwayat hidupnya bersih.
Tidak memiliki hubungan dengan organisasi kriminal mana pun.
Leo menghela napas.
"Dia benar-benar orang biasa."
"Itulah masalahnya."
"Maksudmu?"
"Orang biasa lebih sulit dikendalikan."
Leo mengangguk pelan.
"Tapi kalau dia dilepaskan..."
"Semua yang dia lihat malam ini akan menjadi ancaman."
Raven menutup map itu.
"Aku tidak suka mengambil risiko."
Belum sempat percakapan berlanjut, seorang penjaga masuk dengan tergesa-gesa.
"Tuan!"
"Ada apa?"
"Kami menangkap mata-mata di area timur."
Raven berdiri.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah."
Beberapa menit kemudian...
Seorang pria dengan wajah babak belur dilempar ke lantai.
"Tuan... aku tidak bersalah."
Raven berjalan mendekat.
"Siapa yang mengirimmu?"
"Aku... aku hanya kurir."
"Tidak."
Pria itu mulai gemetar.
"Aku benar-benar tidak tahu."
Raven mengambil sebilah belati dari meja.
Tanpa ragu ia menusukkan belati itu tepat di telapak tangan pria tersebut.
"Aaaaargh!"
Jeritan memenuhi ruangan.
Raven tetap tenang.
"Kesempatanmu tinggal satu."
Pria itu menangis.
"Aku disuruh Vittorio De Luca! Dia ingin mengetahui jadwal pengiriman senjata!"
Raven tersenyum tipis.
Akhirnya.
Nama itu kembali muncul.
Musuh yang selama bertahun-tahun berusaha menghancurkan keluarga Alvaro.
"Buang mayatnya setelah selesai."
"Tuan... jangan..."
Kalimat pria itu terputus ketika suara tembakan menggema.
Dor!
Tubuhnya jatuh tak bernyawa.
Raven membersihkan darah di tangannya menggunakan sapu tangan putih.
Ekspresinya tetap datar.
Baginya, membunuh bukanlah kemarahan.
Melainkan keputusan.
Di lantai atas, Aurora yang baru saja keluar ke balkon tanpa sengaja mendengar suara tembakan itu.
Tubuhnya membeku.
Kini ia semakin yakin.
Ia benar-benar berada di sarang monster.
Dan monster itu bernama Raven Alvaro.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!