Indonesia
NovelToon NovelToon

DARAH PEWARIS DEWA

MALAM SEGEL ITU

Hujan turun seperti tidak punya niat untuk berhenti.

Bukan sekadar air yang jatuh dari langit, tapi seperti sesuatu yang dipaksa turun—seolah langit sedang menahan tangis yang terlalu lama disimpan.

Di sebuah kota pinggiran bernama Kota Senja, lampu-lampu jalan berkedip lemah. Beberapa mati, beberapa menyala seperti napas yang tersengal.

Di salah satu rumah sederhana, Atlas berdiri diam di depan pintu kamar.

Tangannya mengepal.

Namun bukan karena marah.

Tapi karena takut.

Oliver berdiri di belakangnya, tidak seperti biasanya yang penuh suara dan candaan. Malam ini, adiknya itu hanya diam.

Sunyi yang aneh.

Sunyi yang terasa salah.

“Aku… nggak suka suasana malam ini,” gumam Oliver pelan.

Atlas tidak menjawab. Matanya terpaku pada pintu kamar yang tertutup setengah.

Di balik pintu itu, ibu mereka sedang terbaring.

Dan mereka tahu… waktunya tidak lama lagi.

Beberapa jam sebelumnya, semuanya masih terasa normal.

Ibu mereka masih memaksa tersenyum, meski wajahnya pucat seperti kertas yang hampir robek.

“Aku sudah masak,” katanya pelan. “Kalian harus makan.”

Atlas sempat ingin menolak. Oliver sempat bercanda seperti biasa.

Tapi ibu mereka hanya menatap.

Dan untuk pertama kalinya… tidak ada ruang untuk membantah.

Malam itu, mereka makan bersama dalam keheningan yang tidak nyaman.

Seperti ada sesuatu yang sedang menunggu di balik dinding.

Seperti dunia sedang menghitung mundur.

Sekarang.

Atlas akhirnya mendorong pintu itu.

KREK…

Suara engsel terdengar terlalu keras untuk ruangan yang hampir tidak memiliki kehidupan.

Lampu kamar redup, berkedip pelan.

Di atas ranjang sederhana itu, ibu mereka terbaring.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang berada di ambang kematian.

Atlas melangkah mendekat.

“Ibu…” suaranya hampir tidak keluar.

Oliver mengikuti dari belakang, menggigit bibirnya.

“Ibu jangan tidur dulu…” kata Oliver, mencoba terdengar biasa.

Namun tidak ada jawaban langsung.

Sampai akhirnya…

Mata sang ibu terbuka.

Dan ruangan itu berubah.

Udara menjadi dingin.

Bukan dingin biasa—tapi dingin yang masuk sampai ke tulang, seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia manusia.

Lampu kamar berkedip cepat.

Satu. Dua. Tiga.

Atlas langsung menoleh ke lampu.

“Kenapa listriknya—”

Namun kalimatnya terputus.

Karena di udara, sesuatu mulai “terasa”.

Seperti dunia sedang menahan sesuatu yang ingin keluar.

Sang ibu mengangkat tangannya perlahan.

Di telapak tangannya, muncul cahaya samar berbentuk simbol kuno.

Simbol itu tidak dikenal oleh manusia biasa.

Tapi tubuh Atlas dan Oliver… bereaksi.

Dada mereka terasa panas.

Seperti sesuatu di dalam darah mereka baru saja “bangun”.

Oliver mundur setengah langkah.

“Apa itu…?” suaranya bergetar.

Sang ibu menatap mereka lama.

Dan untuk pertama kalinya, di matanya bukan hanya kelembutan.

Tapi juga ketakutan.

“Atlas…” suara ibu mereka lirih.

Lalu pandangannya berpindah.

“Oliver…”

Dua nama itu diucapkan seperti doa terakhir.

Atau perpisahan.

Atlas mendekat. “Ibu, kita panggil dokter lagi. Kita—”

“Tidak.” suara itu memotongnya.

Lemah.

Tapi tegas.

Sang ibu menghela napas panjang.

Dan untuk sesaat… ruangan itu seperti berhenti.

“Selama ini aku menahan segel itu…” katanya pelan. “Aku pikir… kalian tidak akan pernah bangun.”

Oliver mengerutkan kening.

“Segel apa maksudnya?”

Sang ibu tidak langsung menjawab.

Matanya menatap mereka berdua seperti sedang melihat masa depan yang paling berbahaya.

“Kalian bukan manusia biasa.”

Hening.

“Darah kalian… berasal dari sesuatu yang sudah dilupakan dunia.”

Tiba-tiba—

BRAK!

Jendela kamar bergetar keras.

Retakan halus muncul di kaca.

Seperti ada sesuatu di luar sana… yang sedang memperhatikan.

Oliver langsung menoleh.

“Itu apa lagi?!”

Atlas maju selangkah, refleks ingin melindungi.

Namun tubuhnya berhenti sendiri.

Karena dari dalam dirinya… ada sesuatu yang “menjawab” getaran itu.

Sesuatu yang belum pernah ia sadari sebelumnya.

Sesuatu yang seperti… darah kedua.

Sang ibu membuka mata lebih lebar.

“Tidak…” bisiknya.

“Sudah terlambat…”

Lampu kamar padam.

Total.

Kegelapan menyelimuti segalanya.

Namun dalam kegelapan itu…

Atlas dan Oliver bisa merasakan sesuatu.

Bukan dengan mata.

Tapi dengan darah mereka sendiri.

Sesuatu di luar jendela bergerak.

Bukan manusia.

Bukan binatang.

Dan bukan sesuatu yang seharusnya ada di dunia ini.

Sang ibu menarik napas terakhirnya yang paling panjang.

“Jika kalian mendengar ini…” suaranya hampir hilang.

“Jangan percaya dunia yang kalian lihat…”

Dan sebelum semuanya benar-benar gelap…

Sebuah suara halus terdengar dari luar kamar.

Seperti bisikan dari langit yang retak.

Dan dunia… mulai berubah.

Kegelapan di dalam kamar itu tidak lagi terasa seperti ketiadaan cahaya.

Tapi seperti sesuatu yang hidup.

Atlas tidak bisa melihat apa pun, namun tubuhnya merasakan tekanan aneh di udara—seolah ruangan itu kini dipenuhi sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.

Oliver meraba-raba udara di sampingnya.

“Mas… aku nggak bisa lihat apa-apa,” suaranya tegang.

Atlas tidak menjawab. Matanya berusaha menyesuaikan, tapi justru yang ia rasakan bukan penglihatan… melainkan denyut.

Denyut dari darahnya sendiri.

Seperti ada sesuatu yang ikut berdetak di dalam tubuhnya, mengikuti irama yang bukan miliknya.

Di sisi lain ranjang, suara napas ibu mereka semakin lemah.

Sangat lemah.

Namun sebelum semuanya benar-benar berhenti—

BRAK!

Jendela kamar pecah dari luar.

Bukan pecah biasa.

Kaca itu tidak hanya retak—tetapi seperti didorong oleh sesuatu yang tidak memiliki bentuk pasti.

Angin dingin masuk.

Sangat dingin, sampai udara terasa seperti menusuk kulit.

Oliver mundur.

“Apa itu?! Mas, itu bukan angin biasa!”

Atlas melangkah maju tanpa sadar.

Dan di detik itu juga…

Sesuatu masuk ke dalam kamar.

Makhluk Pertama

Ia tidak memiliki bentuk jelas.

Bayangannya seperti manusia… tapi tidak utuh.

Seperti seseorang yang dilupakan oleh dunia.

Kulitnya hitam pekat, namun bukan kulit—lebih seperti asap yang dipadatkan.

Matanya tidak ada, tapi dua titik merah menyala di wajahnya.

Makhluk itu tidak berbicara.

Namun keberadaannya saja sudah membuat udara terasa berat.

Oliver langsung mundur sampai menyentuh dinding.

“Mas… itu apaan…”

Atlas tidak menjawab.

Karena tubuhnya… justru tidak takut.

Aneh.

Seharusnya ia takut.

Seharusnya ia lari.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya—

Darahnya terasa panas.

Seperti ada sesuatu yang selama ini tertidur… akhirnya membuka mata.

Makhluk itu bergerak.

Sangat cepat.

Dalam satu kedipan, ia sudah berada di dekat ranjang.

Dan sasarannya adalah ibu mereka.

“JANGAN!!”

Atlas bergerak tanpa berpikir.

Tangannya terangkat—

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Dunia berhenti sejenak.

Kebangkitan Pertama

Udara di sekitar Atlas berubah.

Bukan hanya dingin atau panas.

Tapi seperti ruang itu sendiri menahan napas.

Di bawah kulitnya, sesuatu menyala.

Cahaya merah keemasan merambat dari dadanya ke lengannya.

Oliver tertegun.

“Mas… tanganmu…”

Makhluk itu berhenti.

Untuk pertama kalinya.

Seolah ia merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini.

Atlas sendiri tidak mengerti apa yang terjadi.

Namun tangannya bergerak sendiri.

Dan saat ia mengayunkan tangan itu—

DUARRR!

Dorongan energi meledak dari telapak tangannya.

Bukan api.

Bukan listrik.

Tapi sesuatu yang lebih tua dari keduanya.

Makhluk itu terpental menghantam dinding.

Retakan besar muncul.

Tapi ia tidak mati.

Ia hanya… bangkit perlahan.

Seperti marah.

Oliver yang Terbangun

Makhluk itu kini mengalihkan perhatian.

Ke Oliver.

Oliver langsung panik.

“Kenapa gue?! Gue nggak ngapa-ngapain!”

Makhluk itu melompat.

Cepat.

Terlalu cepat.

Atlas berusaha bergerak, tapi jaraknya terlalu jauh.

Namun tepat sebelum makhluk itu menyentuh Oliver—

Oliver berteriak.

Bukan karena keberanian.

Tapi karena insting.

Dan saat itu—

sesuatu di dalam dirinya ikut “terbuka”.

Cahaya biru pucat muncul dari bawah kakinya.

Tanah di kamar itu—ya, lantai kamar—membentuk pola lingkaran kuno.

Waktu di sekitar Oliver melambat.

Gerakan makhluk itu menjadi berat.

Seperti terjebak dalam air.

Atlas tertegun.

“Oliver…?”

Oliver sendiri shock.

“Aku… aku nggak tahu ini apa!!”

Makhluk itu menembus perlambatan itu secara paksa.

Namun cukup lama bagi Atlas untuk bereaksi.

Atlas melompat.

Dan dengan satu pukulan kedua—

DUAARR!

Makhluk itu hancur sebagian.

Tubuhnya pecah menjadi asap hitam yang menjerit tanpa suara.

Lalu perlahan… menghilang.

Keheningan Setelahnya

Kamar kembali sunyi.

Tidak ada suara selain hujan di luar.

Oliver jatuh terduduk.

Tangannya gemetar.

“Apa… tadi itu…?”

Atlas berdiri diam.

Tangannya masih menyala samar.

Namun yang paling mengejutkan bukan itu.

Melainkan tubuh ibu mereka.

Detak jantungnya berhenti.

Semuanya terlambat.

Oliver langsung menunduk.

“Tidak… jangan…”

Atlas tidak bergerak.

Tapi matanya kosong.

Namun sebelum kesedihan benar-benar mengambil alih—

Sang ibu membuka mata untuk terakhir kalinya.

Dan tersenyum kecil.

Seolah semua ini memang sudah ia ketahui sejak awal.

“Sudah… bangun…” suaranya hampir tidak terdengar.

Atlas menoleh cepat. “Ibu!!”

Sang ibu mengangkat tangan perlahan.

Menunjuk dada Atlas.

“Darah itu… akhirnya… kembali…”

Lalu pandangannya berpindah ke Oliver.

“Jangan… saling meninggalkan…”

Dan cahaya di matanya padam.

Retakan Dunia

Tiba-tiba.

Langit di luar rumah bergetar.

Bukan secara fisik.

Tapi seperti dunia itu sendiri sedang “tersentak”.

Atlas dan Oliver merasakan hal yang sama.

Sesuatu yang sangat besar… baru saja memperhatikan mereka.

Dari tempat yang jauh di atas langit.

Dari Alam yang tidak seharusnya bisa disentuh manusia.

Oliver berdiri perlahan.

“Mas…”

Atlas menatap ke arah jendela yang pecah.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berkata pelan:

“Kita… bukan manusia biasa.”

Di luar sana, hujan masih turun.

Tapi sekarang..

Dunia tidak lagi sama.Karena dua darah yang selama ini tersegel…

telah bangkit.

Dan perang lama… baru saja dimulai.

KOTA YANG MULAI RETAK

Hujan berhenti menjelang fajar.

Langit Kota Senja masih dipenuhi awan kelabu, sementara embun tipis menggantung di antara pepohonan dan atap-atap rumah. Jalanan yang biasanya mulai ramai pada pagi hari justru terasa lengang, seolah seluruh kota sedang menahan napas setelah malam yang tidak seharusnya terjadi.

Di dalam rumah sederhana itu, suasana masih diselimuti keheningan.

Atlas berdiri di dekat jendela kamar ibunya. Pecahan kaca yang berserakan belum sempat dibersihkan. Angin pagi terus masuk membawa udara dingin yang menusuk kulit.

Tatapannya kosong.

Semalam, semuanya berubah.

Ia masih bisa mengingat dengan jelas makhluk hitam yang menyerang, cahaya yang keluar dari tubuhnya, dan kata-kata terakhir sang ibu.

"Darah itu... akhirnya kembali."

Sementara itu, Oliver duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Matanya sembap karena menangis semalaman, tetapi pikirannya jauh lebih kacau daripada air matanya.

"Mas..."

Atlas tidak menoleh.

"Menurutmu... apa yang sebenarnya terjadi?"

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian Atlas mengembuskan napas panjang.

"Aku tidak tahu."

"Itu bukan mimpi, kan?"

"Bukan."

Oliver kembali menunduk.

"Berarti... selama dua puluh tiga tahun hidupku, aku bahkan nggak tahu siapa diriku sendiri."

Ucapan itu membuat Atlas mengepalkan tangan.

Selama ini mereka hidup sederhana. Ayah mereka telah meninggal sejak Oliver masih kecil. Sang ibu membesarkan mereka berdua seorang diri tanpa pernah mengeluh.

Namun ternyata...

Ibunya menyimpan rahasia sebesar itu.

Rahasia tentang darah yang mengalir dalam tubuh mereka.

Beberapa jam kemudian, pemakaman sederhana selesai dilaksanakan.

Tetangga berdatangan memberikan belasungkawa.

Tak seorang pun mengetahui kejadian semalam.

Bagi mereka, ibu Atlas dan Oliver meninggal karena sakit yang telah lama dideritanya.

Atlas memilih diam.

Oliver juga.

Mereka sadar tidak ada yang akan percaya jika mereka menceritakan tentang makhluk bayangan.

Setelah seluruh pelayat pulang, rumah kembali sunyi.

Atlas sedang merapikan barang-barang ibunya ketika matanya tertuju pada sebuah peti kayu tua yang tersembunyi di bawah ranjang.

"Aneh..."

Selama bertahun-tahun tinggal di rumah itu, ia tidak pernah melihat peti tersebut.

Debunya tebal, tetapi tidak terlihat lapuk.

Seolah waktu tidak pernah menyentuhnya.

Oliver ikut mendekat.

"Itu punya Ibu?"

"Mungkin."

Atlas mencoba mengangkatnya.

Berat.

Sangat berat.

Padahal ukurannya tidak terlalu besar.

Di bagian atas peti terdapat lambang berbentuk matahari yang dikelilingi sembilan lingkaran.

Begitu Atlas menyentuh lambang itu...

Brak!

Cahaya merah keemasan menyala dari telapak tangannya.

Lambang tersebut ikut bersinar.

Oliver membelalakkan mata.

"Mas..."

Terdengar bunyi klik dari dalam peti.

Kuncinya terbuka sendiri.

Atlas perlahan mengangkat tutupnya.

Di dalamnya hanya ada tiga benda.

Sebuah gulungan kain hitam.

Kalung batu giok berwarna putih kebiruan.

Dan sebuah surat.

Atlas mengambil surat itu terlebih dahulu.

Di bagian depan hanya tertulis dua kata.

Untuk Anak-anakku.

Tangannya bergetar ketika membuka lipatan surat yang sudah menguning itu.

Tulisan tangan ibunya memenuhi halaman.

"Jika kalian membaca surat ini, berarti aku sudah tidak lagi bersama kalian."

Oliver menahan napas.

"Maafkan Ibu karena menyembunyikan semuanya. Bukan karena Ibu tidak percaya kepada kalian, tetapi karena semakin lama darah pewaris tertidur, semakin aman hidup kalian."

Atlas membaca semakin cepat.

"Kalian bukan manusia biasa. Kalian adalah keturunan langsung Penjaga Langit dari Alam Dewa. Nenek moyang kita bersumpah menjaga keseimbangan dunia dari makhluk yang lahir dari kegelapan."

Oliver perlahan mundur.

"Alam Dewa..."

Atlas melanjutkan.

"Makhluk yang datang semalam hanyalah prajurit paling lemah. Setelah segel darah kalian terbuka, mereka semua akan mengetahui keberadaan kalian."

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

"Pergilah ke Kuil Gerbang Langit jika ingin mengetahui kebenaran. Jangan percaya kepada siapa pun sebelum kalian menemukan Penjaga Terakhir."

Surat itu berakhir dengan satu kalimat yang membuat Atlas membeku.

"Atlas... Oliver... perang yang berakhir ribuan tahun lalu akan dimulai kembali."

Keheningan memenuhi ruangan.

Tak seorang pun berbicara.

Hanya suara detak jam dinding yang terdengar pelan.

"Apa kita benar-benar harus pergi?"

Oliver memecahkan keheningan.

Atlas menatap surat itu sekali lagi.

"Kita tidak punya pilihan."

"Tapi kita bahkan nggak tahu kuil itu ada di mana."

Atlas mengangguk pelan.

"Itu sebabnya kita harus mencarinya."

Oliver menghela napas panjang.

"Rasanya baru kemarin kita masih ribut soal tagihan listrik."

Ucapan itu membuat Atlas tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal.

Namun senyum itu tidak bertahan lama.

Karena tiba-tiba...

Lampu rumah berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Lalu padam.

"Mas..."

Oliver berdiri perlahan.

Suara angin di luar menghilang.

Tidak ada burung.

Tidak ada suara kendaraan.

Bahkan suara dedaunan pun lenyap.

Sunyi.

Sunyi yang sama seperti semalam.

Atlas langsung mengambil gulungan kain hitam dari dalam peti.

Begitu kain itu dibuka...

Sebuah pedang kuno bersarung hitam muncul.

Sarungnya dipenuhi ukiran emas yang membentuk naga dan burung garuda saling berhadapan.

Saat Atlas menggenggam gagangnya, cahaya merah kembali muncul di sepanjang lengannya.

Pedang itu bergetar pelan.

Seolah mengenali pemiliknya.

Oliver mengambil kalung batu giok.

Begitu kalung menyentuh telapak tangannya, cahaya biru lembut menyelimuti tubuhnya.

Kalung itu otomatis menggantung di lehernya.

"Ini..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya...

DUARRR!!

Pintu depan rumah hancur berkeping-keping.

Debu beterbangan memenuhi ruang tamu.

Dari balik asap, tampak tiga sosok berjubah hitam berdiri tanpa bergerak.

Wajah mereka tertutup topeng putih tanpa ekspresi.

Di tangan masing-masing terdapat tombak berwarna hitam.

Salah satu dari mereka melangkah maju.

Suaranya berat, dingin, dan tidak memiliki emosi.

"Atlas."

"Oliver."

"Kalian diperintahkan untuk ikut bersama kami."

Oliver menelan ludah.

"Kalau kami menolak?"

Ketiga sosok itu mengangkat tombaknya secara bersamaan.

"Kalau begitu..."

"...kami akan membawa mayat kalian ke Alam Dewa."

Atlas perlahan menghunus pedangnya.

Suara logam kuno bergema memenuhi rumah.

Matanya yang semula dipenuhi kesedihan kini berubah tajam.

"Aku tidak tahu siapa kalian."

"Tapi satu hal yang pasti..."

Ia mengarahkan ujung pedang ke depan.

"Kalian salah memilih rumah."

Di luar, langit Kota Senja kembali menghitam.

Awan berputar membentuk pusaran raksasa.

Dan untuk pertama kalinya...

Perang yang diwariskan oleh darah para dewa benar-benar dimulai.

Angin dingin berembus memasuki rumah yang pintu depannya telah hancur.

Debu masih beterbangan ketika tiga sosok berjubah hitam melangkah masuk dengan tenang. Langkah mereka seragam, tanpa suara, seolah kaki mereka tidak benar-benar menyentuh lantai.

Atlas berdiri di depan Oliver, menggenggam erat pedang kuno yang baru saja diwariskan kepadanya. Bilah pedang itu memancarkan cahaya merah keemasan yang berdenyut mengikuti detak jantungnya.

Sementara itu, kalung batu giok di leher Oliver memancarkan sinar biru lembut yang perlahan menyelimuti tubuhnya.

Ketiga sosok berjubah itu berhenti sekitar lima meter di depan mereka.

"Serahkan diri kalian," ujar salah seorang di antaranya dengan suara datar. "Perlawanan hanya akan mempercepat kematian."

Atlas mengangkat pedangnya.

"Aku tidak mengenal kalian."

"Kami juga tidak ingin mengenalmu," balas sosok itu. "Kami hanya menjalankan perintah."

"Perintah siapa?"

Tidak ada jawaban.

Sebagai gantinya, ketiga sosok itu mengangkat tombak hitam mereka secara bersamaan.

Dalam sekejap, mereka menghilang.

"Mereka di belakang!" teriak Oliver.

Atlas berbalik secepat mungkin.

Trang!

Pedang dan tombak bertemu, memercikkan cahaya merah yang menerangi seluruh ruangan.

Benturan itu membuat lantai rumah retak.

Atlas terdorong beberapa langkah ke belakang, tetapi berhasil menahan serangan pertama.

"Tenaga mereka... luar biasa."

Belum sempat ia mengambil napas, dua penyerang lain sudah datang dari sisi kanan dan kiri.

Oliver mengangkat kedua tangannya secara refleks.

Cahaya biru dari kalungnya melebar membentuk lingkaran.

Gerakan kedua penyerang itu tiba-tiba melambat.

"Bisa sekarang, Mas!"

Atlas memanfaatkan kesempatan itu.

Ia melesat maju sambil mengayunkan pedangnya.

Sreet!

Ujung pedang berhasil menggores lengan salah satu penyerang.

Namun bukannya mengeluarkan darah, tubuh berjubah hitam itu berubah menjadi asap pekat sebelum kembali menyatu.

"Mereka bukan manusia..." gumam Atlas.

"Tentu saja bukan," jawab sosok berjubah itu. "Kami adalah Penjaga Gerbang."

Kalimat itu membuat Atlas teringat isi surat ibunya.

"Makhluk yang datang hanyalah prajurit paling lemah."

Kalau ini adalah prajurit terlemah...

Seberapa kuat musuh yang sesungguhnya?

Pertarungan kembali pecah.

Salah satu Penjaga Gerbang menghentakkan tombaknya ke lantai.

Seketika bayangan hitam menyebar ke seluruh ruangan seperti air.

Bayangan itu bergerak menuju kaki Atlas dan Oliver.

"Hati-hati!" teriak Atlas.

Begitu bayangan menyentuh meja kayu, meja itu langsung membusuk hingga hancur menjadi debu.

Oliver membelalakkan mata.

"Itu bisa menghancurkan apa saja!"

Atlas melompat menghindar, tetapi bayangan tersebut terus mengejarnya.

Pedang di tangannya tiba-tiba bergetar.

Suara yang sangat pelan terdengar di dalam kepalanya.

"Ikuti aliran darahmu..."

Atlas terkejut.

Ia menoleh ke kanan dan kiri.

Tidak ada siapa pun.

"Jangan gunakan tenaga. Gunakan warisan."

Suara itu kembali terdengar.

Tanpa sadar, Atlas memejamkan mata selama satu tarikan napas.

Ketika membukanya kembali, dunia di sekelilingnya terasa berbeda.

Ia bisa melihat aliran energi merah yang mengalir di tubuh ketiga Penjaga Gerbang.

Ia juga dapat melihat titik cahaya kecil di dada masing-masing.

"Itu... kelemahan mereka."

Tanpa ragu, Atlas melompat.

Gerakannya jauh lebih cepat daripada sebelumnya.

Salah satu Penjaga Gerbang mencoba menusukkan tombaknya.

Namun Atlas berputar di udara, menghindari serangan itu, lalu mengayunkan pedangnya tepat ke titik cahaya di dada lawannya.

Crassh!

Tubuh Penjaga Gerbang itu retak seperti kaca.

Sesaat kemudian, seluruh tubuhnya berubah menjadi pecahan cahaya hitam yang lenyap tertiup angin.

"Dihancurkan...?"

Dua Penjaga Gerbang yang tersisa tampak terkejut.

"Keturunan darah itu sudah mulai terbangun."

"Kita harus menghabisinya sekarang!"

Mereka menyerang bersamaan.

Oliver kembali mengaktifkan kekuatannya.

Lingkaran cahaya biru kali ini jauh lebih besar.

Seluruh ruang tamu dipenuhi simbol-simbol kuno yang berputar perlahan.

Waktu di dalam lingkaran itu kembali melambat.

Namun Oliver mulai terengah-engah.

"Mas... aku nggak bisa menahan mereka lama!"

Atlas mengangguk.

"Aku selesai secepat mungkin."

Ia menerjang Penjaga Gerbang kedua.

Pedangnya beradu dengan tombak berkali-kali.

Setiap benturan memunculkan gelombang energi yang memecahkan kaca-kaca jendela rumah.

Akhirnya Atlas menemukan celah.

Satu tebasan lurus menghancurkan titik cahaya di dada lawannya.

Penjaga Gerbang kedua lenyap.

Kini tinggal satu.

Sosok terakhir itu tidak lagi menyerang.

Ia justru mundur beberapa langkah.

Di balik topeng putihnya terdengar suara tawa pelan.

"Kami memang bukan lawan kalian."

"Tugas kami hanya memastikan satu hal."

"Apa maksudmu?" tanya Atlas.

Sosok itu mengangkat satu tangannya ke langit.

"Segel kalian benar-benar telah terbuka."

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, tubuhnya berubah menjadi kabut hitam dan menghilang.

Rumah kembali sunyi.

Hanya napas Atlas dan Oliver yang terdengar berat.

Belum sempat mereka merasa lega, langit di luar berubah.

Awan hitam membentuk pusaran raksasa tepat di atas Kota Senja.

Kilatan petir merah menyambar tanpa suara.

Seluruh kota mendadak gelap meskipun hari masih siang.

Oliver keluar rumah sambil menatap langit.

"Itu... bukan badai biasa."

Atlas mengikuti pandangannya.

Di tengah pusaran awan, perlahan terbuka sebuah celah bercahaya keemasan.

Sangat jauh.

Namun cukup jelas untuk dilihat.

Di balik celah itu tampak siluet bangunan-bangunan megah yang berdiri di atas awan.

Istana.

Menara.

Jembatan cahaya.

Sebuah dunia yang tidak mungkin berada di langit manusia.

"Alam Dewa..." bisik Oliver.

Namun pemandangan itu hanya berlangsung beberapa detik.

Celah tersebut kembali menutup.

Langit kembali normal seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Atlas menggenggam surat peninggalan ibunya.

"Apa pun yang terjadi..."

"Kita harus menemukan Kuil Gerbang Langit."

Oliver mengangguk mantap.

"Dan kita harus mencari Penjaga Terakhir."

Atlas menatap rumah yang kini porak-poranda.

Rumah yang selama ini menjadi tempat mereka tumbuh telah berubah menjadi medan pertempuran.

Ia sadar...

Tidak ada jalan untuk kembali menjalani kehidupan seperti dulu.

Di tempat yang sangat jauh, di singgasana tertinggi Alam Dewa, sepasang mata perlahan terbuka.

Suara berat bergema memenuhi aula yang sunyi.

"Para pewaris telah bangkit."

"Mulailah persiapan."

"Perang Langit akan segera dimulai."

perjalanan menuju pintu gerbang langit

Sisa puing rumah masih mengeluarkan aroma hangus.

Dinding yang retak, lantai yang pecah, dan kaca yang berserakan menjadi saksi bahwa sesuatu yang bukan manusia baru saja datang dan pergi dari tempat itu.

Atlas berdiri di tengah ruang tamu yang hancur, memandangi semuanya dalam diam.

Oliver berdiri di dekat pintu, tangannya masih gemetar meski cahaya biru dari kalung gioknya sudah meredup.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit.

Hanya suara angin yang masuk dari pintu yang hancur.

Akhirnya Oliver memecah keheningan.

“Jadi… ini baru permulaan?”

Atlas tidak langsung menjawab.

Matanya tertuju pada langit di luar jendela yang kini kembali normal, seolah tidak pernah terjadi pusaran raksasa beberapa jam lalu.

“Kalau mereka benar datang dari tempat yang kita lihat tadi…” Atlas berhenti sejenak. “Berarti kita sudah ditandai.”

Oliver menghela napas panjang.

“Ditandai oleh apa?”

Atlas mengangkat surat ibunya.

“Ini.”

Kalimat itu sederhana, tapi berat.

Oliver menatap surat itu lagi, meskipun ia sudah membacanya berkali-kali.

“Kuil Gerbang Langit…”

“Dan Penjaga Terakhir,” tambah Atlas.

Perjalanan Dimulai

Mereka tidak punya banyak pilihan.

Tidak ada keluarga lain. Tidak ada tempat aman. Tidak ada kehidupan lama yang bisa dipertahankan.

Semua sudah runtuh di malam ketika segel darah mereka terbuka.

Atlas memasukkan pedang kuno ke dalam sarung hitamnya.

Saat bilah itu tertutup, cahaya merahnya meredup, tetapi masih terasa seperti sesuatu yang hidup.

Oliver menyentuh kalung giok di lehernya.

“Kalau ini semua nyata… berarti ibu kita benar-benar bagian dari sesuatu yang besar.”

Atlas mengangguk pelan.

“Dia bukan hanya bagian.”

“Dia penjaga.”

Kota yang Tidak Lagi Sama

Mereka keluar dari rumah menjelang siang.

Namun Kota Senja terasa berbeda.

Langit tetap cerah, kendaraan tetap berlalu-lalang, orang-orang tetap beraktivitas.

Tapi bagi Atlas dan Oliver…

Semua terlihat palsu.

Seolah ada lapisan tipis yang menutupi dunia sebenarnya.

Oliver menatap sekeliling.

“Aneh ya… orang-orang ini nggak tahu apa-apa.”

Atlas menjawab pelan.

“Itu mungkin lebih baik.”

Namun saat mereka berjalan melewati gang kecil menuju jalan utama…

Atlas berhenti.

“Ada yang mengawasi kita.”

Oliver langsung menegang.

“Yang tadi malam?”

Atlas menggeleng.

“Bukan.”

Ia menatap ke atap gedung di kejauhan.

Tidak ada siapa pun.

Namun insting di dalam tubuhnya berteriak.

Bahaya.

Sosok di Atap

Di atas gedung tua berlantai lima, seorang sosok berdiri diam.

Ia tidak memakai jubah seperti Penjaga Gerbang sebelumnya.

Ia mengenakan pakaian hitam sederhana seperti manusia biasa.

Namun matanya berbeda.

Matanya berwarna abu keperakan, seperti kabut yang tidak pernah menetap.

Sosok itu memperhatikan Atlas dan Oliver dari kejauhan.

“Dua pewaris…” gumamnya pelan.

Suaranya tidak terdengar oleh orang lain.

Hanya angin yang membawa bisikan itu.

Ia mengangkat tangannya sedikit.

Di udara muncul garis-garis cahaya tipis, seperti peta yang sedang terbentuk.

“Segel kedua sudah retak lebih cepat dari perkiraan.”

Sosok itu menurunkan tangannya.

“Menarik.”

Lalu ia menghilang dari atap itu tanpa suara.

Pertemuan Tak Terduga

Sementara itu di jalan bawah…

Oliver mulai merasa tidak nyaman.

“Mas, kita ini mau ke mana sebenarnya?”

Atlas membuka surat ibunya lagi.

Ada satu kalimat yang sebelumnya mereka abaikan.

"Pergilah ke tempat di mana matahari tidak pernah menyentuh tanah."

Oliver mengernyit.

“Itu maksudnya apa?”

Atlas berpikir sejenak.

“Tempat tanpa matahari…”

“Bawah tanah?”

Belum sempat mereka menyimpulkan lebih jauh—

BRRRAK!

Sebuah motor hampir menabrak Oliver dari samping.

Atlas langsung menarik adiknya ke belakang.

“AWAS!”

Motor itu berhenti mendadak.

Pengendaranya adalah seorang pria muda berjaket lusuh.

Ia melepas helmnya perlahan.

“Kalau mau mati, jangan berdiri di tengah jalan.”

Oliver langsung kesal.

“Hei, lo yang hampir nabrak kami!”

Namun Atlas memperhatikan sesuatu.

Pria itu…

Tidak biasa.

Ada luka kecil di lehernya yang bersinar sangat samar, seperti bekas tanda energi.

Pria itu menatap Atlas.

Lalu tersenyum kecil.

“Kalian berdua… baru saja ‘bangun’, kan?”

Oliver langsung waspada.

“Siapa kamu?”

Pria itu turun dari motornya.

“Aku bukan musuh.”

Ia menunjuk ke arah timur kota.

“Tapi kalau kalian benar-benar ingin hidup… kalian harus meninggalkan kota ini sebelum malam.”

Atlas menatap tajam.

“Kenapa?”

Pria itu menghela napas.

“Karena kalian sudah mulai mengeluarkan ‘bau darah’.”

Tanda Pemburu

Oliver tidak mengerti.

“Bau darah? Itu apaan?”

Pria itu tidak langsung menjawab.

Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Sebuah koin kecil berwarna hitam.

Saat koin itu dilempar ke udara—

koin itu tidak jatuh.

Melainkan melayang.

Dan berputar.

Di sekelilingnya muncul simbol-simbol merah samar.

Atlas langsung merasakan tekanan di dadanya.

“Apa itu?”

Pria itu menangkap kembali koinnya.

“Alat pendeteksi.”

“Pendeteksi apa?”

Pria itu menatap mereka serius.

“Pewaris yang bangkit.”

Oliver terdiam.

Atlas mengepalkan tangan.

“Jadi kamu juga dari dunia itu.”

Pria itu tidak menyangkal.

“Aku pernah menjadi bagian dari penjaga.”

“Tapi sekarang aku cuma orang yang mencoba bertahan hidup.”

Ia menunjuk lagi ke arah timur.

“Kuil Gerbang Langit yang kalian cari… bukan tempat yang mudah dicapai.”

“Dan perjalanan ke sana akan menarik semua yang ingin kalian mati.”

Arah Baru

Angin mulai bertiup lebih kencang.

Langit kembali terasa tidak stabil.

Atlas menatap Oliver.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, ia tidak langsung mengambil keputusan sendiri.

“Gimana?”

Oliver menatap jalan di depan mereka.

Lalu menatap pria asing itu.

“Aku nggak percaya dia…”

“...tapi aku juga nggak punya pilihan lain.”

Atlas mengangguk.

Mereka kembali menatap pria itu.

“Kami ikut.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Bagus.”

Ia menyalakan motornya.

“Naik.”

Di kejauhan, awan mulai berubah warna menjadi abu gelap.

Dan tanpa mereka sadari…

Sesuatu yang lebih besar dari Penjaga Gerbang sebelumnya sudah mulai bergerak.

Motor melaju meninggalkan Kota Senja.

Angin yang menerpa wajah terasa lebih dingin dari biasanya, seperti udara yang mereka lewati bukan lagi bagian dari dunia yang sama.

Atlas duduk di belakang, satu tangan memegang erat pegangan motor, sementara tangan lainnya tetap berada dekat sarung pedangnya. Oliver duduk di paling belakang, tubuhnya sedikit kaku, matanya terus mengamati jalan yang semakin lama semakin sepi.

Di depan mereka, pria misterius itu mengendarai motor tanpa banyak bicara.

Nama yang ia berikan tadi belum benar-benar mereka terima. Bahkan Atlas masih menahan rasa curiga.

“Jauh lagi?” tanya Oliver akhirnya, memecah kebisuan.

Pria itu tidak menoleh.

“Kalau kalian masih hidup sampai malam, baru kita sampai setengah jalan.”

Oliver mendengus pelan.

“Jawaban paling menyebalkan yang pernah gue denger.”

Atlas tetap diam, tapi matanya tidak berhenti mengamati sekitar.

Jalanan yang mereka lewati semakin aneh.

Asphalt yang awalnya normal mulai retak-retak, seperti tanah yang sudah lama tidak disentuh manusia. Tiang listrik berdiri miring, dan beberapa rumah di pinggir jalan tampak kosong seperti sudah ditinggalkan bertahun-tahun.

Padahal mereka masih berada tidak jauh dari kota.

“Ini… masih wilayah Kota Senja?” Oliver bertanya pelan.

Pria di depan akhirnya menjawab.

“Secara peta, iya.”

“Tapi secara dunia… sudah tidak.”

Atlas langsung menatapnya lebih tajam.

“Maksudmu apa?”

Pria itu menghela napas.

“Kalian sudah pernah melihat Alam Dewa, kan?”

Oliver langsung menegang.

Atlas tidak menjawab, tapi ekspresinya cukup untuk memberi jawaban.

Pria itu melanjutkan.

“Begitu segel darah kalian retak, dunia mulai ‘melihat’ kalian.”

“Dan ketika dunia mulai melihat… batas antara lapisan akan ikut terbuka.”

Oliver menelan ludah.

“Lapisan?”

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru mengangkat tangan sedikit.

Di udara, sesuatu terlihat seperti gelombang tipis—mirip panas di jalanan, tapi berbentuk lebih teratur.

“Dunia ini tidak hanya satu,” katanya pelan.

“Ada lapisan manusia… lapisan bayangan… dan lapisan atas.”

Atlas mengerutkan kening.

“Alam Dewa.”

Pria itu mengangguk.

“Dan sekarang kalian berada di titik retakan di antara semuanya.”

Jalan yang Tidak Lagi Stabil

Tiba-tiba motor berhenti.

Oliver hampir jatuh ke belakang.

“Hei! Kenapa berhenti?!”

Pria itu turun perlahan.

“Karena kita sudah masuk zona retakan.”

Atlas langsung ikut turun, tangannya sudah siap menarik pedang jika perlu.

Di depan mereka, jalan terlihat… salah.

Bukan rusak secara fisik, tapi seperti “terlipat”.

Mobil yang lewat di kejauhan tampak seperti bayangan yang bergerak terlalu lambat, lalu tiba-tiba menghilang seperti tidak pernah ada.

Oliver menggosok matanya.

“Ini… ilusi?”

Atlas menggeleng pelan.

“Bukan.”

“Ini dunia yang mulai tumpang tindih.”

Pria itu menunjuk ke udara.

“Lihat.”

Atlas fokus.

Dan untuk pertama kalinya, ia melihatnya dengan jelas.

Retakan kecil di udara.

Seperti kaca yang pecah, tapi tidak jatuh.

Di dalam retakan itu, terlihat sekilas pemandangan berbeda—

menara tinggi dari cahaya,

langit berlapis emas,

dan sesuatu yang bergerak seperti bayangan besar di kejauhan.

Oliver mundur satu langkah.

“Gue nggak suka ini…”

“Bagus,” kata pria itu singkat. “Kalau kalian mulai suka, berarti kalian sudah mati.”

Serangan Pertama di Jalan Retak

Tanpa peringatan, retakan di udara melebar.

Sesuatu keluar dari dalamnya.

Bukan Penjaga Gerbang.

Bukan manusia.

Tapi makhluk yang bentuknya seperti gabungan antara bayangan dan tulang yang patah.

Matanya kosong, tubuhnya terlalu panjang, dan setiap langkahnya membuat tanah di bawahnya menghitam.

Oliver langsung mundur.

“Itu apaan lagi?!”

Pria itu tidak terlihat terkejut.

“Pemburu Retakan.”

Atlas langsung menarik pedangnya.

“Dari Alam Dewa?”

Pria itu mengangguk.

“Mereka dikirim untuk menghapus jejak kalian.”

Makhluk itu menoleh ke arah Atlas.

Dan dalam satu detik—

ia melesat.

Cepat.

Terlalu cepat.

Atlas menahan serangan pertama dengan pedang.

CLANG!

Benturan itu membuat lengannya bergetar keras.

“Berat…” gumam Atlas.

Makhluk itu menekan lebih kuat.

Oliver langsung bereaksi.

Kalung giok di lehernya menyala.

Waktu di sekitar makhluk itu melambat.

“Sekarang, Mas!”

Atlas memanfaatkan celah itu.

Ia memutar tubuhnya dan menebas ke arah dada makhluk tersebut.

Namun pedangnya hanya meninggalkan goresan.

“Tidak mempan?!”

Pria itu berteriak dari belakang.

“Bukan tubuhnya yang harus diserang!”

“Cari inti retaknya!”

Atlas mengerutkan kening.

“Inti?”

Ia memaksa fokus.

Dan di tengah tubuh makhluk itu… ia melihatnya.

Sebuah titik hitam berdenyut, seperti luka di realitas.

Atlas mengayunkan pedangnya sekali lagi.

CRASH!

Titik hitam itu hancur.

Makhluk itu berhenti bergerak.

Lalu tubuhnya pecah menjadi serpihan bayangan yang tersapu angin.

Oliver terengah.

“Gila… itu baru satu?”

Pria itu mengangguk pelan.

“Dan itu yang paling lemah.”

Kebenaran Tentang Pria Misterius

Setelah makhluk itu lenyap, jalan kembali sunyi.

Retakan di udara perlahan menutup.

Atlas menatap pria itu.

“Kamu belum bilang siapa kamu sebenarnya.”

Pria itu diam beberapa saat.

Lalu melepas helm motornya sepenuhnya.

Wajahnya terlihat jelas sekarang.

Usianya tidak jauh dari Atlas. Mungkin sedikit lebih tua.

Namun matanya… menyimpan sesuatu yang jauh lebih tua dari usianya.

“Aku pernah disebut sebagai penjaga.”

“Tapi sekarang aku hanya orang yang tersisa.”

Oliver menyipitkan mata.

“Tersisa dari apa?”

Pria itu menatap ke arah langit.

“Dari perang yang kalian baru saja masuk ke dalamnya.”

Ia menghela napas.

“Namaku Raka.”

“Dan aku dulu bagian dari unit yang menjaga Gerbang Langit.”

Atlas langsung menegang.

“Penjaga Gerbang Langit…”

Raka mengangguk.

“Tapi unit itu sudah hancur.”

“Karena seseorang membuka segel yang tidak seharusnya dibuka.”

Ia menatap Atlas dan Oliver bergantian.

“Dan sekarang… segel itu ada di dalam darah kalian.”

Arah ke Kuil

Malam mulai turun lebih cepat dari biasanya.

Langit berubah gelap tanpa transisi.

Raka kembali menyalakan motornya.

“Kita harus lanjut sekarang.”

Oliver bertanya cepat.

“Ke mana sebenarnya?”

Raka menatap ke depan.

“Ke tempat yang bahkan Alam Dewa tidak ingin kalian temukan dengan mudah.”

“Kuil Gerbang Langit.”

Atlas naik kembali ke motor tanpa ragu.

Oliver mengikuti, meski wajahnya masih penuh keraguan.

Motor kembali melaju.

Namun kali ini…

jalan di depan mereka sudah tidak lagi dunia manusia.

Di kejauhan, langit terlihat seperti robek halus.

Dan di baliknya…

bayangan sebuah kuil raksasa perlahan mulai terlihat.

Seolah dunia sendiri sedang membuka jalannya

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!