Indonesia
NovelToon NovelToon

ASISTEN DUDA TAJIR MELINTIR

CEO YANG KU TABRAK.

Hujan tipis mengguyur kota New York sejak pagi. Deretan gedung pencakar langit berdiri megah, memantulkan cahaya matahari yang tertutup awan kelabu. Di antara bangunan-bangunan itu, berdiri Wesley Corporation, perusahaan teknologi dan investasi terbesar yang dipimpin seorang CEO muda yang terkenal dingin sekaligus berpengaruh, Galaxy Adelion Wesley.

Di hari pertamanya sebagai anak magang, jantung Grizella Madeline Dealova berdegup jauh lebih cepat daripada biasanya.

Ia merapikan blazer hitam yang sedikit kebesaran, lalu menarik napas panjang.

"Aku tidak boleh gagal. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."

Grizella berasal dari keluarga sederhana. Mendapatkan kesempatan magang di perusahaan kelas dunia adalah impiannya sejak lama. Ia bertekad membuktikan bahwa kemampuan lebih penting daripada koneksi.

Begitu pintu lobi terbuka, matanya langsung dibuat kagum oleh kemewahan interior perusahaan. Lantai marmer mengilap, lampu kristal raksasa, serta para karyawan yang berlalu-lalang dengan pakaian formal membuatnya sedikit gugup.

Namun rasa gugup itu segera berubah menjadi semangat.

"Aku pasti bisa."

Seorang staf HR menghampirinya.

"Selamat datang, Nona Grizella. Mari saya antar ke ruang orientasi."

Grizella mengangguk sopan.

Selama pengarahan, para peserta magang diberi tahu mengenai aturan perusahaan. Salah satunya adalah larangan mengganggu CEO.

"Kalau bertemu Tuan Galaxy," ujar HR, "usahakan jangan membuat kesalahan sekecil apa pun."

Beberapa peserta langsung saling berbisik.

"Aku dengar beliau pernah memecat direktur hanya karena laporan terlambat lima menit."

"Katanya wajahnya saja sudah bikin orang gemetar."

Grizella hanya tersenyum tipis.

"Sehebat apa pun seorang CEO, dia tetap manusia."

Sementara itu...

Di lantai paling atas.

Galaxy Adelion Wesley sedang memandang hamparan kota New York dari balik jendela kaca setinggi langit-langit.

Setelan jas hitam yang dikenakannya membuat sosoknya terlihat semakin berwibawa.

Wajahnya tampan dengan tatapan tajam yang sulit ditebak.

Namun di balik semua itu, masih tersimpan luka yang belum sembuh.

Pandangannya tanpa sengaja berhenti pada sebuah bingkai foto yang terletak di sudut ruangan.

Foto pernikahannya.

Dengan satu gerakan dingin, ia membalik bingkai itu hingga menghadap meja.

"Jangan pernah percaya pada cinta lagi..."

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.

"Masuk."

Sekretarisnya datang membawa jadwal.

"Tuan Galaxy, hari ini ada orientasi anak magang."

Galaxy hanya mengangguk.

"Batalkan semua yang tidak penting."

"Baik, Tuan."

Di sisi lain, Grizella diminta mengantarkan beberapa dokumen ke ruang arsip.

Ia membawa setumpuk map sambil membaca petunjuk lokasi di ponselnya.

"Ruang arsip... belok kanan... lalu lift khusus?"

Karena terlalu fokus membaca arah, ia tidak menyadari seseorang berjalan dari arah berlawanan.

Bruk!

Seluruh map terlempar ke lantai.

Bahkan secangkir kopi panas ikut tumpah mengenai jas hitam mahal milik pria itu.

Suasana lorong seketika membeku.

Semua karyawan yang melihat kejadian itu langsung menahan napas.

"Waduh..."

"Itu... CEO!"

Grizella mendongak.

Matanya bertemu dengan sepasang mata tajam yang memancarkan wibawa luar biasa.

Pria itu tinggi, tampan, dan memiliki aura dingin yang membuat siapa pun enggan mendekat.

Galaxy Adelion Wesley.

CEO perusahaan ini.

Grizella langsung berdiri.

"Maaf. Saya tidak sengaja."

Galaxy menatap noda kopi di jasnya.

Tatapannya dingin.

"Kau pikir kata maaf bisa membersihkan jas ini?"

Nada bicaranya datar, tetapi cukup membuat seluruh lorong terasa mencekam.

Grizella mengangkat dagunya.

"Saya memang salah. Tapi Tuan juga berjalan sangat cepat tanpa melihat depan."

Semua orang langsung membelalakkan mata.

Tidak ada yang pernah berani membantah Galaxy.

Sudut bibir Galaxy bergerak tipis.

Bukan marah.

Melainkan... tertarik.

"Namamu?"

"Grizella Madeline Dealova."

"Anak magang?"

"Ya."

Galaxy menatapnya beberapa detik.

Berbeda dengan semua orang yang selalu gemetar di hadapannya, gadis ini justru berani menatap balik.

Keberanian itu terasa... menyegarkan.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Galaxy berjalan meninggalkannya.

Para karyawan langsung mengerumuni Grizella.

"Kau gila?"

"Itu CEO!"

"Kupikir tadi kau bakal langsung dipecat."

Grizella menghela napas pelan.

"Kalau memang harus dipecat karena kecelakaan, berarti perusahaan ini tidak seadil yang kukira."

Ucapan itu tanpa sengaja terdengar oleh Galaxy yang belum benar-benar pergi.

Pria itu berhenti melangkah.

Lalu tersenyum sangat tipis.

Senyuman yang bahkan belum pernah dilihat para direksi.

Sore harinya...

Grizella dipanggil ke lantai paling atas.

Semua peserta magang memandangnya dengan rasa iba.

"Habis sudah."

"Pasti mau dipecat."

Grizella mengetuk pintu ruang CEO.

"Masuk."

Ruangan itu begitu luas dengan pemandangan seluruh kota New York.

Galaxy berdiri membelakanginya.

Tanpa berbalik, ia berkata,

"Mulai besok kau tidak perlu mengikuti program magang."

Grizella mengepalkan tangan.

"Kalau memang saya dipecat, saya terima."

Galaxy akhirnya berbalik.

Tatapan matanya lurus ke arah Grizella.

"Bukan."

Ia berjalan perlahan hingga berdiri tepat di depan gadis itu.

"Aku punya pekerjaan yang jauh lebih cocok untukmu."

Grizella mengernyit bingung.

Galaxy menyelipkan kedua tangannya ke saku celana.

Mulutnya membentuk senyum tipis yang sulit diartikan.

"Mulai besok..."

"Kau menjadi asisten pribadiku."

Grizella membeku.

Ia bahkan tidak sempat menjawab ketika Galaxy menambahkan satu kalimat lagi.

"Dan ada satu syarat yang tidak bisa ditawar."

"Bersiaplah tinggal bersamaku di penthouse mulai besok."

Deg!

Jantung Grizella seolah berhenti berdetak.

Sementara di balik pintu ruang CEO, sepasang mata wanita misterius memperhatikan semuanya dengan tatapan penuh kebencian.

"Aku tidak akan membiarkan wanita itu merebut Galaxy dariku..."

Grizella memeluk erat setumpuk map berisi dokumen yang harus diantarkan ke ruang arsip. Ia terus melangkah menyusuri lorong panjang Wesley Corporation sambil sesekali melihat petunjuk arah di ponselnya.

"Ruang arsip... belok kanan, lalu lift khusus," gumamnya pelan.

Karena terlalu fokus membaca petunjuk, ia tidak menyadari seseorang sedang berjalan dari arah berlawanan dengan langkah cepat dan mantap.

Bruk!

Tubuh mereka bertabrakan cukup keras.

Map-map yang dibawa Grizella berhamburan ke lantai. Bersamaan dengan itu, secangkir kopi panas yang dibawa salah satu staf ikut terlepas dan tumpah tepat mengenai jas hitam pria tersebut.

Suasana lorong mendadak sunyi.

Semua mata langsung tertuju kepada pria yang kini berdiri diam dengan jas mahalnya yang ternoda kopi.

Beberapa karyawan langsung menelan ludah.

"Astaga..."

"Itu Tuan Galaxy..."

"Anak magang itu tamat."

Grizella buru-buru berjongkok mengambil dokumen yang berserakan.

"Maaf... saya benar-benar tidak sengaja."

Tidak ada jawaban.

Saat ia mendongak, napasnya tertahan.

Pria di hadapannya memiliki postur tinggi, wajah yang nyaris sempurna, serta tatapan dingin yang membuat udara di sekitar terasa membeku.

Dialah Galaxy Adelion Wesley.

CEO Wesley Corporation.

Galaxy melirik noda kopi di jasnya, lalu kembali menatap Grizella.

"Kau pikir satu kata maaf cukup?"

Nada suaranya tenang, tetapi begitu tajam hingga membuat semua orang bergidik.

Grizella menarik napas panjang.

"Saya memang salah karena tidak melihat jalan."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Tapi Tuan juga berjalan sangat cepat tanpa memperhatikan orang lain."

Kalimat itu membuat seluruh lorong seolah kehilangan suara.

Tidak ada seorang pun yang pernah berani membalas ucapan Galaxy seperti itu.

Seorang manajer bahkan hampir menepuk dahinya sendiri.

"Habis sudah..."

Namun yang terjadi justru di luar dugaan.

Galaxy menatap Grizella beberapa detik lebih lama.

Tatapan gadis itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Yang ada hanyalah keberanian dan rasa tanggung jawab.

Hal itu membuat Galaxy merasa penasaran.

"Siapa namamu?"

"Grizella Madeline Dealova."

"Anak magang?"

"Ya."

Galaxy mengangguk tipis.

"Berani juga."

"Bukan berani," jawab Grizella tenang. "Saya hanya mengatakan kenyataannya."

Beberapa karyawan nyaris pingsan mendengar jawaban itu.

Galaxy memalingkan wajahnya.

"Aaron."

Seorang pria berkacamata segera menghampiri.

"Ya, Tuan."

"Ganti jas ini."

"Baik, Tuan."

Galaxy kembali menatap Grizella sebelum berjalan melewatinya.

Namun sebelum benar-benar pergi, ia sempat berkata tanpa menoleh,

"Jangan membuat kesalahan lagi."

Grizella menghela napas lega.

"Saya akan berusaha."

Setelah Galaxy pergi, suasana langsung riuh.

"Kamu luar biasa."

"Aku kira kamu langsung dipecat."

"Belum pernah ada yang berani membantah CEO."

Grizella hanya tersenyum tipis.

"Aku hanya tidak ingin diperlakukan seperti orang yang bersalah sendirian."

Dari kejauhan, Galaxy yang belum masuk ke lift sempat mendengar ucapan itu.

Entah mengapa, sudut bibirnya terangkat sangat tipis.

Sudah bertahun-tahun tidak ada orang yang berani berbicara jujur di hadapannya.

Dan gadis magang itu... berbeda.

Tanpa diketahui Grizella, sejak saat itu perhatian sang CEO mulai tertuju kepadanya.

Pintu lift terbuka perlahan.

Begitu keluar, Grizella langsung disambut suasana yang jauh berbeda dari lantai-lantai lain. Koridor dipenuhi dekorasi mewah, lantai marmer mengilap, dan jendela kaca yang memperlihatkan panorama Kota New York dari ketinggian.

Di ujung lorong, terpampang sebuah pintu besar dengan tulisan berwarna emas:

CEO – Galaxy Adelion Wesley

Grizella menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.

"Masuk."

Suara berat itu terdengar tenang, tetapi penuh wibawa.

Ia membuka pintu perlahan.

Ruangan itu sangat luas. Di balik meja kerja berwarna hitam, Galaxy sedang berdiri menghadap jendela, membelakangi Grizella.

"Selamat sore, Tuan. Anda memanggil saya?"

Galaxy tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang membuat Grizella semakin gugup.

Akhirnya, Galaxy berbalik.

Tatapan matanya kembali bertemu dengan mata Grizella.

"Namamu Grizella Madeline Dealova."

"Benar, Tuan."

"Kau tahu kenapa kupanggil?"

Grizella menelan ludah.

"Kalau karena kejadian tadi... saya sungguh minta maaf."

Galaxy menggeleng pelan.

"Aku tidak pernah memanggil orang hanya untuk mendengar permintaan maaf."

Ia berjalan mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah.

"Aku memperhatikanmu sejak pagi."

Grizella mengernyit bingung.

"Nilaimu selama seleksi magang paling tinggi. Kau juga satu-satunya orang yang berani membantahku tanpa kehilangan sopan santun."

Grizella terdiam.

Ia sama sekali tidak menyangka Galaxy mengetahui hasil seleksinya.

"Tapi..." lanjut Galaxy, "aku melihat sesuatu yang lebih berharga."

"Apa itu?"

"Kejujuran."

Ruangan kembali sunyi.

Galaxy menatapnya lekat-lekat.

"Aku membutuhkan seseorang yang berani mengatakan kebenaran, bukan seseorang yang hanya pandai menjilat."

Jantung Grizella berdegup semakin cepat.

"Apa maksud Tuan?"

Galaxy kembali ke mejanya, lalu mengambil sebuah map berwarna hitam.

Ia meletakkannya tepat di hadapan Grizella.

"Mulai besok, kau tidak lagi menjadi anak magang."

Grizella membeku.

"Apa... saya dipecat?"

"Tidak."

Galaxy menyilangkan kedua tangannya.

"Aku mengangkatmu menjadi asisten pribadiku."

Mata Grizella membelalak.

"Sa-saya?"

"Ya."

"Tapi saya belum punya pengalaman."

"Itu urusanku."

"Tapi masih banyak karyawan yang lebih senior."

Galaxy tersenyum tipis.

"Mereka berpengalaman."

"Lalu kenapa saya?"

"Karena aku memilihmu."

Jawaban singkat itu membuat Grizella kehabisan kata-kata.

Galaxy lalu menyerahkan sebuah dokumen kontrak.

"Ada satu syarat."

Grizella mulai membaca isi kontrak itu.

Semakin dibaca, matanya semakin melebar.

"Ini..."

"Kau harus tinggal di penthouse milikku selama menjadi asisten pribadiku."

"Apa?!"

Galaxy tetap tenang.

"Asisten pribadiku harus siap bekerja kapan pun dibutuhkan."

Grizella langsung menggeleng.

"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa menerima syarat seperti itu."

Galaxy menatapnya tanpa berkedip.

"Kau boleh menolak."

"Tapi kesempatan ini tidak akan datang dua kali."

Ucapan itu membuat Grizella terdiam.

Di luar ruangan, seorang wanita bergaun putih berdiri sambil mengepalkan tangan.

Tatapannya dipenuhi kebencian saat melihat Grizella keluar dari ruang CEO membawa kontrak di tangannya.

Wanita itu tersenyum sinis.

"Galaxy..."

"Aku sudah kembali."

"Dan aku akan memastikan gadis itu menyesali hari ketika dia bertemu denganmu."

Sementara itu, Grizella sama sekali tidak menyadari bahwa sejak hari pertama magangnya, ia telah menjadi sasaran kebencian seseorang dari masa lalu Galaxy.

Grizella harus memutuskan dalam waktu 24 jam—menerima tawaran menjadi asisten pribadi CEO sekaligus tinggal satu atap dengannya, atau menolak kesempatan yang bisa mengubah hidupnya selamanya.

KONTRAK YANG MENGUBAH HIDUP HIDUP

Grizella masih memandangi map hitam yang berada di pangkuannya sejak keluar dari ruang CEO.

Isi kontrak itu terus berputar di kepalanya.

Asisten Pribadi CEO.

Wajib tinggal di penthouse selama masa kerja.

Ia bahkan beberapa kali mencubit lengannya sendiri untuk memastikan semua ini bukan mimpi.

"Kenapa justru aku?"

Sesampainya di apartemen kecil tempat tinggalnya, Grizella langsung merebahkan tubuh di sofa. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

Menjadi asisten pribadi CEO perusahaan terbesar di New York adalah kesempatan emas yang diimpikan banyak orang.

Namun syarat tinggal serumah dengan atasannya membuatnya ragu.

"Kalau orang lain tahu, pasti mereka salah paham..."

Ponselnya bergetar.

Nomor yang tidak dikenal.

"Selamat sore, Nona Grizella."

Suara pria yang tenang terdengar dari seberang telepon.

"Saya Aaron, sekretaris pribadi Tuan Galaxy."

Grizella segera duduk tegak.

"Selamat sore."

"Saya hanya ingin mengingatkan bahwa Tuan Galaxy menunggu keputusan Anda sebelum pukul delapan malam."

"Baik."

"Jika Anda menerima, mobil perusahaan akan menjemput Anda."

Telepon pun terputus.

Grizella memejamkan mata.

Ia tahu kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.

Setelah berpikir cukup lama, ia akhirnya menggenggam kontrak itu erat.

"Aku akan membuktikan bahwa aku diterima karena kemampuan, bukan karena belas kasihan."

Tepat pukul tujuh malam, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan apartemennya.

Seorang sopir membukakan pintu dengan sopan.

"Nona Grizella?"

"Ya."

"Silakan. Tuan Galaxy sudah menunggu."

Sepanjang perjalanan, Grizella hanya bisa menatap gemerlap lampu Kota New York dari balik jendela.

Beberapa menit kemudian, mobil memasuki kawasan apartemen paling eksklusif di kota itu.

Gedung pencakar langit itu menjulang megah, dijaga petugas keamanan selama dua puluh empat jam.

Lift pribadi membawa Grizella langsung menuju lantai paling atas.

Pintu lift terbuka.

Sebuah penthouse yang sangat luas terbentang di hadapannya.

Interiornya didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih dengan desain modern yang elegan.

Jendela kaca raksasa memperlihatkan panorama kota yang menakjubkan.

Grizella tanpa sadar berdecak kagum.

"Ini rumah... atau hotel bintang tujuh?"

"Tidak keduanya."

Suara berat itu membuat Grizella menoleh.

Galaxy berdiri dengan pakaian santai berwarna hitam. Meski tanpa jas, kharismanya tetap begitu kuat.

"Selamat datang."

Grizella sedikit membungkuk.

"Terima kasih, Tuan."

Galaxy berjalan melewatinya.

"Ikut."

Grizella segera mengikuti langkahnya.

Galaxy membawanya ke sebuah kamar yang ukurannya hampir sebesar apartemen Grizella sebelumnya.

"Ini kamarmu."

Grizella terpaku.

"Untuk saya?"

"Kalau tidak suka, bilang sekarang."

"Bukan begitu..."

Ia tersenyum tipis.

"Kamarnya terlalu bagus."

Galaxy hanya mengangguk singkat.

"Aaron sudah menyiapkan pakaian kerja dan kebutuhanmu."

"Terima kasih."

Setelah itu, Galaxy menyerahkan sebuah kartu akses.

"Ada beberapa aturan."

Grizella langsung memperhatikan.

"Pertama, jangan masuk ke ruang kerjaku tanpa izin."

"Kedua, jangan mengganggu waktuku setelah tengah malam kecuali keadaan darurat."

"Ketiga..."

Galaxy berhenti sejenak.

"Jangan berbohong kepadaku."

Tatapan matanya berubah lebih dingin.

Grizella dapat merasakan ada sesuatu di balik kalimat sederhana itu.

Seolah-olah kebohongan adalah hal yang paling dibenci pria tersebut.

"Saya mengerti."

Galaxy kembali berbicara dengan nada datar.

"Besok pukul enam pagi kita berangkat ke kantor."

"Jangan terlambat."

"Baik."

Galaxy berbalik hendak pergi.

Namun sebelum pintu tertutup, ia berkata pelan tanpa menoleh,

"Selamat datang di hidupku, Grizella."

Kalimat singkat itu membuat Grizella membeku.

Entah mengapa, untuk sesaat ia melihat kesepian yang begitu dalam di balik sosok CEO yang selalu tampak sempurna itu.

Ia belum tahu bahwa tinggal di penthouse ini bukan hanya akan mengubah kariernya.

Tetapi juga... mengubah hatinya.

Pukul lima tiga puluh pagi, alarm di kamar Grizella berbunyi nyaring.

Ia langsung bangun, mandi, lalu mengenakan setelan kerja berwarna krem yang telah disiapkan oleh Aaron. Rambut panjangnya diikat rapi, membuat wajah cantiknya terlihat semakin segar.

Hari ini adalah hari pertamanya sebagai asisten pribadi Galaxy Adelion Wesley.

"Aku tidak boleh membuat kesalahan."

Tepat pukul enam pagi, Grizella turun ke ruang makan.

Ia mendapati Galaxy sudah duduk di meja makan sambil membaca laporan bisnis di tablet. Secangkir kopi hitam mengepul di sampingnya.

"Selamat pagi, Tuan."

Galaxy hanya mengangguk singkat.

"Duduk."

Grizella duduk di hadapannya.

Beberapa pelayan segera menyajikan sarapan.

Suasana begitu hening hingga suara sendok yang menyentuh piring terdengar jelas.

Grizella merasa tidak nyaman.

"Begini terus setiap pagi?"

Galaxy tidak mengalihkan pandangannya dari tablet.

"Ada masalah?"

"Tidak."

"Tapi makan tanpa bicara sedikit pun terasa aneh."

Galaxy akhirnya menatapnya.

"Aku tidak suka berbicara saat sarapan."

Grizella mengangkat bahu.

"Kalau begitu saya akan menyesuaikan."

Jawaban itu membuat Galaxy sedikit terkejut.

Ia mengira Grizella akan membantahnya seperti kemarin.

Sesampainya di Wesley Corporation, perhatian seluruh karyawan langsung tertuju kepada mereka.

Grizella turun dari mobil yang sama dengan Galaxy.

Bisik-bisik mulai terdengar.

"Itu anak magang kemarin."

"Sekarang dia datang bersama CEO?"

"Jangan-jangan..."

Grizella dapat merasakan tatapan sinis dari berbagai arah.

Namun ia memilih mengabaikannya.

Galaxy berjalan lebih dulu menuju lift khusus.

"Ayo."

Grizella segera mengikutinya.

Begitu pintu lift tertutup, hanya ada mereka berdua.

Galaxy menyerahkan sebuah tablet.

"Mulai hari ini jadwalku adalah tanggung jawabmu."

Grizella membuka data di dalamnya.

Matanya membelalak.

"Rapat delapan kali?"

"Ya."

"Dua presentasi."

"Benar."

"Makan siang hanya lima belas menit?"

Galaxy mengangguk.

Grizella menatapnya tidak percaya.

"Kalau seperti ini, Tuan bisa sakit."

Galaxy menjawab datar.

"Aku tidak punya waktu untuk sakit."

Grizella langsung menggeleng.

"Itu bukan alasan."

Galaxy menatapnya tajam.

"Kau sedang mengajariku?"

"Saya hanya mengingatkan."

Beberapa detik mereka saling menatap.

Kemudian...

Galaxy justru tersenyum tipis.

"Sekarang aku mengerti kenapa kau berani membantahku."

"Saya membantah kalau memang perlu."

Jawaban itu membuat Galaxy terkekeh pelan.

Sangat pelan.

Sampai-sampai Grizella tidak yakin apakah pria itu benar-benar baru saja tertawa.

Rapat pertama berlangsung selama dua jam.

Grizella berdiri di samping Galaxy sambil mencatat seluruh keputusan penting.

Ketika salah seorang direktur mencoba menyembunyikan kesalahan laporan keuangan, Grizella menyadari ada angka yang tidak sesuai.

Ia ragu sejenak.

Haruskah ia diam?

Atau berbicara?

Galaxy meliriknya.

"Katakan."

Grizella menarik napas.

"Maaf, Tuan."

Ia menunjuk salah satu halaman laporan.

"Data keuntungan kuartal ini berbeda dengan lampiran sebelumnya."

Ruangan mendadak hening.

Direktur itu langsung pucat.

Galaxy mengambil dokumen tersebut.

Setelah memeriksanya beberapa saat, wajahnya berubah dingin.

"Kenapa bisa berbeda?"

Direktur itu terbata-bata.

"Itu... mungkin kesalahan cetak."

Galaxy melempar dokumen ke atas meja.

"Jangan pernah berbohong di ruang rapatku."

Suasana menjadi sangat tegang.

Tak lama kemudian, rapat ditutup.

Saat semua orang keluar, Galaxy menghampiri Grizella.

"Kerja bagus."

Grizella tersenyum kecil.

"Itu memang tugas saya."

Galaxy menatapnya beberapa saat.

Semakin lama mengenal Grizella, semakin ia sadar bahwa gadis ini tidak pernah mencari pujian.

Ia hanya melakukan apa yang menurutnya benar.

Dan justru itulah yang membuat Galaxy semakin tertarik.

Namun tanpa mereka sadari, dari balik dinding kaca ruang rapat, sepasang mata sedang mengawasi setiap interaksi mereka.

Seorang wanita berambut panjang mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Galaxy..."

"Aku baru pergi beberapa tahun."

"Dan sekarang sudah ada wanita lain di sisimu?"

Tatapan penuh kebencian itu tertuju lurus kepada Grizella.

"Permainan ini baru saja dimulai."

Hari pertama Grizella sebagai asisten pribadi akhirnya berakhir menjelang malam.

Setelah menyelesaikan rapat terakhir, ia mengikuti Galaxy kembali ke penthouse. Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan. Galaxy sibuk membaca laporan di tabletnya, sementara Grizella memilih menikmati pemandangan lampu-lampu Kota New York yang berkilauan dari balik jendela mobil.

Sesampainya di penthouse, Grizella langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian.

"Capek juga ternyata jadi asisten CEO," gumamnya sambil meregangkan bahu.

Tak lama kemudian, perutnya berbunyi.

Ia pun keluar menuju dapur.

Namun dapur yang luas itu ternyata kosong.

"Pelayan sudah pulang?"

Saat membuka kulkas, Grizella hanya menemukan beberapa bahan makanan sederhana.

Ia tersenyum kecil.

"Untung aku masih bisa memasak."

Tanpa berpikir panjang, ia mulai menyiapkan makan malam sederhana berupa sup hangat dan pasta.

Aroma masakan perlahan memenuhi seluruh ruangan.

Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar dari arah ruang kerja.

Galaxy keluar sambil memijat pelipisnya.

Ia tampak lelah.

Tatapan dinginnya sedikit memudar dibanding biasanya.

Galaxy menghentikan langkah ketika mencium aroma makanan.

"Kau memasak?"

Grizella mengangguk.

"Kalau Tuan belum makan, silakan ikut."

Galaxy menatap meja makan selama beberapa detik.

Sudah lama tidak ada seseorang yang mengajaknya makan bersama.

Biasanya ia makan sendirian... atau bahkan melewatkan makan malam.

Tanpa banyak bicara, ia duduk.

Grizella menyendokkan sup ke mangkuknya.

"Silakan."

Galaxy mencicipinya.

Untuk pertama kalinya hari itu, ekspresi wajahnya berubah sedikit lebih hangat.

"Enak."

Grizella tersenyum puas.

"Syukurlah."

Suasana makan malam terasa jauh lebih nyaman dibanding sarapan tadi pagi.

Sesekali Grizella bercerita tentang masa kuliahnya, sedangkan Galaxy hanya mendengarkan.

Meski jawabannya singkat, setidaknya ia tidak lagi bersikap sedingin biasanya.

Selesai makan, Grizella membereskan meja.

Ketika melewati ruang kerja Galaxy, ia melihat pintunya sedikit terbuka.

Lampu di dalam masih menyala.

Ia berniat mengetuk pintu untuk menanyakan apakah masih ada pekerjaan.

Namun langkahnya terhenti.

Di dalam ruangan, Galaxy sedang duduk sendirian.

Di tangannya terdapat sebuah bingkai foto.

Wajah dingin pria itu berubah sendu.

Tatapannya dipenuhi luka yang belum benar-benar sembuh.

"Aku sudah memberikan segalanya..."

"Tapi kenapa kau tetap memilih mengkhianatiku...?"

Suara itu lirih.

Nyaris tak terdengar.

Grizella terdiam.

Kini ia mulai mengerti mengapa Galaxy begitu membenci kebohongan.

Bukan karena sifatnya yang keras.

Melainkan karena hatinya pernah dihancurkan oleh orang yang paling ia cintai.

Grizella perlahan mundur agar Galaxy tidak menyadari kehadirannya.

"Jadi... itu alasan di balik tatapan sedihnya."

Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Pria yang selama ini terlihat sempurna ternyata menyimpan kesepian yang begitu dalam.

Sekitar pukul sebelas malam...

Keheningan penthouse tiba-tiba dipecahkan oleh suara bel pintu.

Ting... tong...

Galaxy keluar dari ruang kerjanya dengan wajah datar.

Siapa yang datang selarut ini?

Begitu pintu dibuka...

Seorang wanita cantik berdiri di depan.

Ia mengenakan gaun putih elegan dengan senyum yang seolah penuh penyesalan.

"Halo, Galaxy..."

"Aku pulang."

Galaxy langsung membeku.

Sorot matanya yang biasanya tenang berubah dingin dalam sekejap.

Wanita itu adalah...

Vanessa Hartley.

Mantan istrinya.

Dari lantai dua, Grizella yang mendengar suara di depan pintu tanpa sengaja melihat pemandangan itu.

Tatapan Vanessa beralih kepada Grizella.

Senyumnya perlahan menghilang, berganti dengan sorot mata penuh kebencian.

"Oh..."

"Jadi sekarang sudah ada wanita lain yang tinggal di rumahmu?"

Galaxy mengepalkan tangannya.

Sementara Grizella hanya bisa berdiri terpaku, sama sekali tidak menyangka bahwa malam pertamanya di penthouse akan menjadi awal dari badai yang jauh lebih besar.

Vanessa datang bukan hanya untuk meminta maaf. Ia membawa sebuah rahasia dari masa lalu yang bisa menghancurkan kepercayaan Galaxy kepada Grizella bahkan sebelum benih cinta mereka benar-benar tumbuh.

mantan istri yang kembali

Suasana penthouse yang biasanya tenang berubah menjadi begitu dingin.

Galaxy masih berdiri di depan pintu, menatap wanita yang sudah lama tidak ia lihat.

Vanessa Hartley.

Wanita yang pernah menjadi istrinya.

Wanita yang pernah ia cintai lebih dari siapa pun.

Namun juga wanita yang meninggalkan luka paling dalam dalam hidupnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Suara Galaxy terdengar datar.

Tidak ada kebahagiaan.

Tidak ada kerinduan.

Hanya jarak.

Vanessa tersenyum kecil, meski sorot matanya menyimpan kesedihan.

"Aku datang untuk berbicara denganmu."

"Kita tidak punya apa pun untuk dibicarakan."

Jawaban Galaxy begitu cepat hingga Vanessa terdiam.

Dari tangga, Grizella masih berdiri tanpa sengaja menyaksikan semuanya.

Ia tahu seharusnya ia pergi.

Namun ada sesuatu dalam ekspresi Galaxy yang membuatnya sulit bergerak.

Pria itu terlihat berbeda.

Bukan CEO dingin yang selalu mengendalikan keadaan.

Melainkan seseorang yang sedang berusaha keras menahan luka lama.

Vanessa akhirnya melangkah masuk.

"Aku tahu kau membenciku."

Galaxy tertawa kecil tanpa humor.

"Benci?"

Ia menatap wanita itu.

"Aku bahkan tidak tahu apakah masih punya perasaan untuk marah."

Kalimat itu membuat Vanessa terdiam.

Grizella menunduk.

Ia tidak pernah melihat Galaxy selemah ini.

"Kau masih tinggal di sini?"

Tatapan Vanessa beralih ke arah Grizella.

Nada suaranya berubah.

Grizella segera turun dari tangga.

"Ya."

Vanessa memperhatikan pakaian kerja Grizella.

"Lalu siapa dia?"

Sebelum Grizella menjawab, Galaxy berbicara lebih dulu.

"Dia asisten pribadiku."

Vanessa tersenyum tipis.

"Asisten?"

Matanya menatap Grizella dari atas sampai bawah.

"Menarik."

Grizella bisa merasakan nada sindiran itu.

Namun ia memilih tetap tenang.

"Saya Grizella Madeline Dealova."

Vanessa tidak membalas perkenalannya.

Ia hanya kembali melihat Galaxy.

"Aku tidak menyangka kau akan membiarkan wanita lain tinggal di rumah ini."

Galaxy mengeraskan rahangnya.

"Jaga ucapanmu."

"Kenapa?"

Vanessa mendekat sedikit.

"Dulu rumah ini adalah tempat kita."

Suasana langsung berubah.

Grizella merasa seperti sedang berdiri di tengah cerita masa lalu yang bukan miliknya.

Ia hendak pergi agar memberi mereka ruang.

Namun suara Galaxy menghentikannya.

"Grizella."

Ia menoleh.

"Tetap di sini."

Grizella terkejut.

"Kenapa?"

Galaxy menatapnya.

"Karena tidak ada alasan bagimu untuk pergi."

Kalimat sederhana itu membuat Vanessa mengepalkan tangan.

Jelas sekali Galaxy sedang melindungi Grizella.

Sesuatu yang dulu pernah menjadi miliknya.

Malam semakin larut.

Vanessa akhirnya duduk di ruang tamu.

Galaxy berdiri berhadapan dengannya.

"Apa tujuanmu datang?"

Vanessa menarik napas.

"Aku ingin memperbaiki semuanya."

Galaxy menatap dingin.

"Sudah terlambat."

"Aku berubah."

"Kau mengatakan hal yang sama dulu."

Vanessa terdiam.

Grizella yang mendengar dari kejauhan mulai memahami satu hal.

Pernikahan Galaxy dan Vanessa tidak berakhir karena hal kecil.

Ada pengkhianatan besar yang membuat Galaxy kehilangan kepercayaan.

Namun sebelum ia sempat mengetahui lebih banyak...

Vanessa mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.

"Aku membawa sesuatu."

Galaxy menatap amplop itu dengan curiga.

"Apa itu?"

Vanessa tersenyum tipis.

"Sesuatu yang akan membuatmu tahu bahwa selama ini kau salah menilai seseorang."

Tatapan Galaxy berubah tajam.

Sedangkan Grizella merasakan firasat buruk.

Karena ia tidak tahu...

Bahwa rahasia dalam amplop itu akan menjadi awal dari kesalahpahaman terbesar antara dirinya dan Galaxy.

Ruang tamu penthouse terasa semakin dingin.

Galaxy masih berdiri di depan Vanessa, sementara wanita itu memegang sebuah amplop putih yang terlihat sederhana.

Namun entah mengapa, hanya melihat benda itu saja membuat ekspresi Galaxy berubah.

"Aku tidak tertarik dengan apa pun yang kau bawa."

Suara Galaxy terdengar tegas.

Vanessa menatapnya dengan tatapan terluka.

"Kau bahkan belum melihat isinya."

"Aku tidak perlu."

Galaxy berjalan mendekati meja.

"Bertahun-tahun lalu, aku sudah memberimu kesempatan untuk menjelaskan."

"Dan apa yang terjadi?"

Vanessa menunduk.

Keheningan memenuhi ruangan.

Grizella yang masih berada tidak jauh dari mereka memperhatikan tanpa sengaja.

Ia tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu mereka, tetapi ia bisa merasakan luka yang sangat besar di antara keduanya.

Vanessa akhirnya meletakkan amplop itu di meja.

"Aku tahu kau membenciku."

"Tapi sebelum kau memutuskan untuk membenciku selamanya, lihat ini."

Galaxy tidak langsung mengambilnya.

"Aku tidak punya alasan untuk mempercayaimu."

Vanessa tersenyum pahit.

"Begitu juga dulu aku tidak punya alasan untuk menyangka kau akan meninggalkanku."

Mata Galaxy langsung berubah dingin.

"Jangan membalik keadaan."

Nada suaranya membuat Vanessa terdiam.

Grizella memilih kembali ke kamarnya.

Ia merasa tidak pantas berada di tengah masalah mereka.

Namun pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan ekspresi Galaxy.

Pria itu terlihat sangat kuat di depan semua orang.

Tapi malam ini...

Ia terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha menyembunyikan luka.

"Kenapa aku jadi memikirkan dia?"

Grizella menggelengkan kepalanya.

"Dia hanya atasanku."

Sementara itu di ruang tamu...

Galaxy akhirnya mengambil amplop tersebut.

Ia membukanya perlahan.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen dan foto.

Semakin lama membaca, wajah Galaxy semakin sulit ditebak.

Vanessa memperhatikan reaksinya.

"Aku tahu ini sulit dipercaya."

Galaxy mengangkat pandangannya.

"Apa maksud semua ini?"

Vanessa menarik napas.

"Aku ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat pernikahan kita berakhir."

Galaxy menggenggam dokumen itu lebih erat.

Selama ini ia percaya bahwa Vanessa mengkhianatinya.

Bahwa semua yang ia lihat saat itu adalah kenyataan.

Namun dokumen di tangannya membuat pikirannya mulai dipenuhi pertanyaan.

"Aku tidak pernah bermaksud menghancurkan pernikahan kita."

Vanessa menatapnya.

"Ada seseorang yang sengaja membuat kita saling menghancurkan."

Galaxy tetap diam.

Ia tidak mudah percaya.

Trauma membuatnya selalu waspada.

"Aku akan memeriksanya sendiri."

Vanessa mengangguk.

"Aku tidak meminta kau langsung memaafkanku."

Ia berdiri.

"Aku hanya ingin kau tahu kebenarannya."

Sebelum pergi, Vanessa berhenti di dekat pintu.

Matanya beralih ke arah tangga.

Ke tempat Grizella tadi berdiri.

"Dia terlihat seperti wanita yang baik."

Galaxy tidak menjawab.

"Tapi hati-hati, Galaxy."

"Kadang orang yang terlihat paling jujur justru bisa menjadi orang yang paling menyakiti."

Setelah mengatakan itu, Vanessa pergi.

Keesokan paginya...

Grizella sudah berada di meja kerja kecilnya di kantor.

Ia berusaha fokus menyelesaikan jadwal Galaxy.

Namun pikirannya terus kembali pada kejadian semalam.

Tanpa sadar, ia memperhatikan Galaxy yang sedang membaca laporan di ruangannya.

Pria itu kembali memakai wajah dinginnya.

Seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.

"Tuan Galaxy."

"Hm?"

Grizella menyerahkan beberapa dokumen.

"Jadwal rapat hari ini sudah saya susun."

Galaxy menerimanya.

"Bagus."

Grizella ragu beberapa detik.

Lalu bertanya,

"Apakah Anda baik-baik saja?"

Galaxy berhenti membaca.

Pertanyaan itu membuatnya menatap Grizella.

Tidak ada seorang pun yang pernah menanyakan hal itu kepadanya.

Biasanya orang hanya peduli pada kekuasaan dan hartanya.

"Bukan urusanmu."

Jawaban Galaxy terdengar dingin.

Grizella sedikit tersinggung.

"Benar. Saya lupa."

Ia mengambil dokumen lain.

"Saya hanya bertanya sebagai manusia."

Kalimat itu membuat Galaxy terdiam.

Untuk pertama kalinya setelah lama...

Ada seseorang yang melihat dirinya bukan sebagai CEO.

Melainkan sebagai manusia biasa.

Namun sebelum suasana berubah lebih baik, ponsel Galaxy berbunyi.

Sebuah pesan masuk.

Wajahnya langsung berubah.

Pesan itu berasal dari nomor tidak dikenal.

"Kalau kau masih percaya pada Grizella, kau akan menyesal."

Galaxy menatap layar ponselnya.

Lalu tanpa sadar menoleh kepada Grizella.

Dan untuk pertama kalinya...

Benih keraguan mulai muncul.

Pesan misterius itu masih terpampang di layar ponsel Galaxy.

"Kalau kau masih percaya pada Grizella, kau akan menyesal."

Tatapan Galaxy berubah dingin.

Ia tidak mudah terpengaruh oleh ancaman atau permainan orang lain. Selama bertahun-tahun memimpin perusahaan, ia sudah terbiasa menghadapi banyak orang yang ingin menjatuhkannya.

Namun kali ini berbeda.

Nama yang disebut dalam pesan itu adalah Grizella.

Wanita yang baru beberapa hari masuk ke dalam hidupnya.

Wanita yang tanpa sadar mulai menarik perhatiannya.

Galaxy meletakkan ponselnya di meja.

"Siapa yang mengirim ini?"

Grizella yang sedang memeriksa jadwal rapat menoleh.

"Ada masalah?"

"Tidak."

Jawaban Galaxy terlalu cepat.

Grizella memperhatikan wajahnya.

Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan pria itu.

Namun ia tidak memaksa bertanya.

Hari itu berjalan seperti biasa.

Grizella tetap menjalankan tugasnya sebagai asisten pribadi.

Ia mengatur jadwal rapat, menyiapkan dokumen, dan memastikan semua kebutuhan Galaxy terpenuhi.

Namun ada satu hal yang berubah.

Galaxy menjadi lebih diam.

Jika sebelumnya ia mulai menunjukkan sisi yang lebih lembut, hari ini ia kembali memasang jarak.

"Tuan Galaxy."

"Hm?"

"Rapat dengan investor akan dimulai sepuluh menit lagi."

Galaxy hanya mengangguk.

"Letakkan dokumennya."

Grizella meletakkan berkas di meja.

Ia hendak pergi ketika Galaxy tiba-tiba berkata,

"Grizella."

"Ya?"

Galaxy menatapnya beberapa saat.

Seolah ingin mengatakan sesuatu.

Namun akhirnya ia mengurungkan niatnya.

"Tidak apa-apa."

Grizella mengerutkan kening.

Aneh.

Biasanya Galaxy selalu terlihat yakin dengan setiap keputusan.

Tapi hari ini...

Ia seperti sedang melawan pikirannya sendiri.

Malam harinya, setelah kembali ke penthouse, Grizella menemukan Galaxy masih bekerja.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Laptop di meja masih menyala.

Dokumen berserakan.

"Kau belum makan malam."

Galaxy tidak mengangkat kepala.

"Aku tidak lapar."

Grizella menghela napas.

"Kebiasaan buruk."

Galaxy akhirnya menatapnya.

"Kau selalu mengkritikku?"

"Kalau memang salah, iya."

Untuk sesaat, suasana terasa seperti awal pertemuan mereka.

Perdebatan kecil.

Tatapan tajam.

Namun kali ini berbeda.

Tidak ada rasa marah.

Hanya ada sesuatu yang tidak mereka mengerti.

Grizella meletakkan makanan di meja.

"Makanlah."

"Aku bisa mengurus diriku sendiri."

"Saya tahu."

Grizella menatapnya.

"Tapi bukan berarti orang lain tidak boleh peduli."

Kalimat itu membuat Galaxy terdiam.

Kata-kata sederhana itu kembali mengingatkannya pada sesuatu.

Dulu...

Ia juga pernah memiliki seseorang yang mengatakan hal yang sama.

Namun orang itu akhirnya menjadi alasan terbesar mengapa ia sulit percaya.

Saat Grizella hendak pergi, Galaxy tiba-tiba bertanya,

"Kenapa kau melakukan ini?"

Grizella berhenti.

"Melakukan apa?"

"Peduli."

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Tapi bagi Galaxy, itu adalah sesuatu yang sulit ia pahami.

Grizella berpikir sejenak.

"Lalu kenapa tidak?"

Galaxy menatapnya.

"Karena tidak semua orang pantas dipercaya."

Grizella tersenyum kecil.

"Mungkin benar."

"Tapi kalau semua orang berpikir begitu, tidak akan ada yang pernah memiliki hubungan baik."

Galaxy tidak menjawab.

Ia hanya memperhatikan Grizella yang berjalan kembali ke kamarnya.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama...

Ia merasa ingin mempercayai seseorang lagi.

Namun keesokan paginya...

Sebuah masalah besar menunggu.

Saat Grizella tiba di kantor, beberapa karyawan terlihat berkumpul di depan ruang arsip.

Wajah mereka tampak panik.

"Ada apa?"

Salah satu karyawan menatapnya ragu.

"Nona Grizella..."

"Ada dokumen perusahaan yang hilang."

Grizella terdiam.

"Lalu?"

Karyawan itu menelan ludah.

"Kamera keamanan menunjukkan seseorang masuk ke ruang arsip tadi malam."

"Siapa?"

Semua orang saling berpandangan.

Kemudian seseorang menyerahkan rekaman CCTV.

Grizella menatap layar.

Wajahnya langsung berubah pucat.

Karena orang dalam rekaman itu...

Adalah dirinya.

Dan dari kejauhan, Galaxy baru saja datang.

Matanya langsung tertuju pada layar tersebut.

Tatapan yang dulu penuh ketertarikan...

Kini berubah menjadi penuh pertanyaan.

"Grizella..."

Suaranya terdengar dingin.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan di ruang arsip malam itu?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!