Indonesia
NovelToon NovelToon

Sembilan Tahun Pelarian

BAB 1

Arin menurunkan keranjang besar berisi baju bersih Bu Tini. Tangannya terasa pegal dan kebas setelah seharian bekerja mulai dari mencuci, menjemur sampai menyetrikanya. Niatnya, nanti sore akan Arin antar ke tempat Bu Tini.

Menjadi tukang cuci adalah pekerjaan satu-satunya yang bisa Arin lakukan untuk mengisi dapur mereka agar tak kosong. Meski tak banyak orang mau mencucikan pakaian mereka pada Arin, tapi masih ada juga walau satu sampai lima orang dalam per Minggu. Itu saja sudah cukup bagi Arin.

Tiba-tiba pintu rumah kayu Arin terbuka dan muncul sosok Zayyan, putranya yang masih kelas dua SD. Penampilannya berantakan dan baju seragamnya tampak kotor, yang membuat hati Arin sesak adalah melihat wajah putranya yang sembab.

“Zayyan…..” panggil Arin segera mendekat dan berlutut di depan Zayyan.

“Zayyan kenapa? Siapa yang nakal sama kamu. Bilang sama ibu!!” mencoba mencari alasan kenapa naknya ini menangis pulang sekolah.

Secara mengejutkan, Zayyan langsung menepis tangan Arin dengan kasar. Dan menatap tajam ke arah ibunya.

“Jangan sentuh-sentuh Zayyan.” teriak Zayyan di depan muka Arin.

Arin terkejut, tidak biasanya Zayyan bersikap seperti ini. Pasti ada sesuatu yang menyakiti putranya.

“Zayyan kenapa marah saat ibu. Ibu ada salah. Bilang sama ibu. Biar ibu bisa tahu gimana caranya minta maaf sama Zayyan "

“Zayyan benci sama ibu!. Zayyan benci semua orang. Semua orang jahat sama zayyan. Ngga ada yang sayang.” Bocah itu kembali berdiri dengan nafas memburu, dan air mata yang luruh membasahi pipinya.

"kenapa bilang gitu, ibu sayang kok sama Zayyang. Sayang banget."

“Taoi kenapa Teman-teman Zayyan di sekolah ngga ada yang mau main sama Zayyan. Mereka usir Zayyan”.

“Kenapa mereka usir Zayyan, bilang sama ibu. Biar nanti ibu bilang sama orang tua mereka.” Bujuk Arin sembari menghapus air mata Zayyan.

“Gak usah. Ibu nggak usah sok peduli. Ibu juga jahat sama Zayyan.” Jari kecil Zayyan menunjuk Arin dengan gemetar.

“Mereka bilang Zayyan anak haram….mereka bilang Zayyan ngga punya ayah karena ibu perempuan ngga benar. Ibu yang bikin Zayyan dihina. Ibu yang bikin Zayyan ngga punya teman. Semua salah ibu.” Ucapnya dengan nafas ngos-ngosan diiringi Isak tangisnya.

Arin menahan sesak yang mendalam di hatinya, membuat ulu hatinya sakit. " Siapa bilang Zayyan ngga punya ayah. Zayyan punya ayah kok. Ayah Zayyan lagi kerja jauh sekali"

" Ngga usah bohongi Zayyan, kalo ayah pergi kerja kenapa ngga pernah pulang, ibu juga kenapa harus kerja lagi."

“Ini semua salah ibu, kenapa Zayyan harus lahir kalo mau dibuat bahan ejekan. Ibu senang kan Zayyan di ejek anak haram. Zayyan malu punya ibu”

Deg.

Kata-kata itu meluncur seperti belati menusuk hati Arin. Rasa malu, perih dan sesak bercampur menjadi satu. Arin tak menginginkan takdir seperti ini. Dia juga ingin putranya ini tumbuh dengan sosok ayah yang bertanggungjawab, tapi takdir berkata lain.

Untuk pertama kalinya, Arin tak tahan menghadapi sikap putranya itu. Apalagi kata-kata Zayyan yang menyakitkan.

“Zayyan jaga bicara kamu ya,.... Ibu ngga pernah ngajarin kamu ngomong kayak gitu. Siapa yang ngajarin hah. Siapa yang ngajarin kamu bicara gitu ke ibu, ada ibu ajarin hah.” Bentak Arin kelepasan.

Zayyan terlonjak kaget mendengar bentakan ibunya yang biasanya lemah lembut. Bukannya takut bocah itu semakin marah. Dia sama sekali takut melihat wajah marah Arin.

“Ngga ada yang ngajarin, Zayyan yang dengar sendiri.” Teriak Zayyan suaranya melengking menantang Arin.

“Zayyan tahu karena semua orang bilang gitu sama Zayyan. Ibu yang egois, ibu yang ngga pernah ngertiin perasaan Zayyan.”

“Zayyan udah ya, jangan marah lagi.” Bujuk Arin, sembari mendekat dan memegang pundak putranya.

“Jangan pegang-pegang Zayyan. Zayyan benci ibu.” Bocah itu mengamuk dan menyambar semua yang ada di sekitarnya buku tulis di atas menjadi, botol minum pelastik lalu melemparkannya ke segala arah Samapi menabrak dinding.

“Zayyan udah ya…..” bujuk Arin bahkan air matanya sudah mengalir, dia berusaha memegang tangan putranya agar tak bergerak liar.

“Ngga mau. Kenapa ibu lahiran zayyan ke dunia ini. Lebih baik dulu ibu bunuh Zayyan aja.”

Dengan kemarahan yang memuncak Zayyan menendang keranjang yang berisi baju bersih milik Bu Tini sampai berguling, dan isinya berserakan di atas lantai yang kasar.

“Zayyan malu punya kayak ibu. Zayyan benci sama ibu…”

Setelah meneriakkan kalimat yang menyakitkan itu Zayyan langsung masuk ke dalam kamar dan menutupnya dengan kasar, hingga menimbulkan suara keras.

BRAKK…

Arin langsung terpaku, marahnya tadi langsung menguap entah kemana, digantikan rasa hancur dan gagal. Dia hancur mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut putranya. Dia tak menutup telinga, Arin tahu semua yang dikatakan putranya. Dia sadar akan hal itu. Bahkan dia juga sudah mendapatkan julukan sebagai perempuan tak benar di kampung ini. Tapi, dia hanya bisa diam saja dan menganggap angin lalu.

Arin juga merasa gagal. Gagal karena dulu menjadi perempuan bodoh. Gagal menjadi ibu yang baik dan memberi kehidupan yang layak untuk putranya. Sampai putranya juga jadi korban ucapan orang lain.

Zayyan adalah alasan satu-satunya untuk hidup.

“Zayyan ibu minta maaf….ibu minta maaf.” Ucap Arin di depan pintu yang baru saja ditutup keras, bahkan isak tangis juga lolos dari tenggorokannya.

Ia harus mencuci ulang semua baju ini. Bu Tari orang yang sangat pembersih dan cerewet, jika melihat ada noda sedikit saja, Arin tidak akan dibayar, atau worse, ia bisa kehilangan langganan satu-satunya yang paling royal di kampung ini. Dengan sisa tenaga yang ada, Arin memasukkan kembali baju-baju kotor itu ke dalam keranjang, lalu membawanya ke arah sumur di belakang rumah. Pikirannya kalut, namun tangannya tetap bergerak karena tuntutan hidup.

Setelah merendam kembali baju-baju itu, Arin melangkah mendekati pintu kamar sang putra. Ia meletakkan telapak tangannya di permukaan pintu kayu.

"Zayyan..." panggil Arin, suaranya parau dan habis.

"Zayyan sudah makan? Ibu tadi bawakan kue cucur dari rumah Bu tini. Ibu taruh di meja, ya?"

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang melempar balik pertanyaan Arin.

"Zayyan... Ibu minta maaf ya. Ibu ngga bermaksud membentakmu tadi," lanjut Arin, air matanya menetes lagi, membasahi pipinya yang kuyu.

"Zayyan jangan benci ibu yaa... Ibu cuma punya Zayyan di dunia ini. Kalo Zayyan benci sama ibu, ibu ngga akan punya siapa-siapa lagi di dunia ini"

Di dalam kamar, Zayyan yang meringkuk di bawah kolong tempat tidur sebenarnya mendengar suara ibunya. Bocah itu membekap mulutnya sendiri dengan bantal, menangis sejadi-jadinya, terombang-ambing antara rasa bersalah karena telah membentak ibunya dan rasa benci serta malu karena omongan teman-temannya di sekolah.

BAB 2

Sinar matahari menerobos dinding rumah kayu Arin, membentuk garis-garis pantulan cahaya. Sejak pagi buta dia sudah bangun dengan mata memerah karena kurang tidur.

Setelah mencuci kembali baju-bajunya Bu Tini, Arin langsung menyetrikanya. Untungnya semalam cuaca cerah dan pakaian itu bisa kering kembali.

Pukul enam pagi Arin menata sarapan di atas menjadi kayu, hanya dia piring nasi goreng kampung. Dengan bumbu garam dan bawang seadanya tanpa telur mata sapi.

Pintu kamar terbuka perlahan, Zayyan keluar dengan langkah gontai sembari mengucek matanya. Bocah itu belum memakai seragam merah putihnya, pakainya masih sama dengan yang semalam. Zayyan berjalan begitu saja melewati Arin tanpa meliriknya.

" Zayyan udah bangun, gimana semalam tidurnya nyenyak ngga. Kan biasanya Zayyan tidur di peluk ibu." sapa Arin, melempar senyum terbaiknya.

"Ayo mandi dulu, biar airnya ibu timba. habis itu sarapan. Nanti telat lagi ke sekolah."

Zayyan tak menjawab. bocah itu diam saja dan berjalan ke sudut ruangan, menyalakannya tv lama mereka disana.

Arin menghela nafas panjang, lalu berjalan dan duduk di samping putranya. Ia tahu dia salah dan harus meminta maaf pada putranya.

"Zayyan mandi dulu yuk, habis itu sarapan. Seragam Zayyan juga semalam udah ibu cuci lagi. Jadi udah bersih sekarang." bujuk Arin menyentuh pundak kecil Zayyan dengan lembut.

"Zayyan ngga mau sekolah." ucapnya dengan nada datar. Matanya masih tetap tertuju pada acara yang di tampilkan di televisi.

"kenapa ngga mau sekolah. Kan Zayyan udah kelas dua bentar lagi ujian dan naik kelas tiga. Emang Zayyan mau tinggal kelas."

Zayyan menoleh dengan cepat, menatap ibunya dengan penuh luka.

" Ibu sengaja yaa, nyuruh aku sekolah. Biar aku di ejek sama teman-temanku." Suara Zayyan kembali meninggi, meski tak sekuat semalam.

"Aku ngga mau ke sekolah lagi, mereka selalu hina aku ngga punya ayah. Mereka selalu panggil Zayyan anak haram"

"Zayyan......"

"Ibu ngga tau rasanya jadi aku. Sakit Bu. Zayyan selalu takut pergi sekolah. Di kelas ngga ada yang mau deket-deket sama Zayyan cuma Ujang yang mau. Pas istirahat juga ngga ada mau main sama Zayyan mereka bilang jangan dekat sama dia, dia lahir ngga punya ayah. Zayyan sakit hati Bu." Zayyan berdiri dengan dada naik turun.

"Aku ngga mau sekolah lagi."

Setelah mengatakan itu Zayyan langsung berlari masuk ke dalam kamar.

BRAK....

Pintu itu kembali tertutup rapat, meninggalkan Arin yang terduduk lemari di ruang tamu. Andai ia punya sedikit uang sudah pasti Arin akan membawa putranya pergi jauh dan hidup normal.

Sarapan yang ia buat dengan penuh hati kini telah dingin. Arin tersadar jika luka yang di rasakan putranya ternyata jauh lebih sakit dari yang ia kira, apalagi dia masih kecil dan belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Arin menatap pintu yang tertutup rapat, hatinya sakit sekali mendengar pengakuan putranya. Kali ini dia tak akan diam saja, Arin harus segera minta maaf dan menyembuhkan luka putranya.

Dengan langkah pelan Arin membuka pintu kamar itu. pemandangan di dalam membuat hatinya semakin sakit. Zayyan tengah berbaring di kasur tipis mereka dengan wajah di telungkupkan ke bantal menahan Isak tangisnya.

Arin melangkah mendekat, dengan hati-hati. Tanpa aba-aba dia langsung mendekap kuat tubuh putranya.

"Lepasin. Lepasin Zayyan. Zayyan ngga mau dipeluk ibu." Zayyan langsung memberontak, berusaha melepaskan dekapan ibunya. Tangannya memukul-mukul dada Arin dan kakinya berusaha menjauh melepaskan diri.

" Ibu dengar ngga sih, aku ngga mau dipeluk sama ibu." teriak Zayyan.

Namun Arin tak menggubrisnya, malah semakin mendekapnya dengan erat. Entahlah dia takut sekali jika melepaskan pelukannya Zayyan akan pergi menjauh darinya.

Arin menciumi ujung kepala Zayyan. Dan mengelus punggung putranya.

"Ibu minta maaf ya, ibu banyak salah sama Zayyan." Bisik Arin dengan air mata yang susah membasahi pipinya.

Zayyan terus meronta. "Ngga mau. Aku ngga mau maafin ibu. Gara-gara ibu aku ngga punya ayah. Gara-gara ibu juga aku selalu di hina dan ngga punya teman."

"iya...ini smua salah ibu. Ibu yang salah." Arin mendekap kepala Zayyan, dan mengelus-elus punggung bocah itu yang bergetar.

" maafin ibu ya, ibu belum bisa ngasih Zayyan kehidupan yang baik. Ibu juga minta maaf gara-gara ibu Zayyan dihina, Zayyan ngga punya teman. Ibu banyak salah sama kamu."

Begitu mendengar suara ibunya yang begitu parau dan menyesakkan. Perlahan rontaan Zayyan melemah. Amarahnya yang begitu meluap-luap di dadanya semalam meluap begitu saja, digantikan dengan rasa sedih yang teramat sangat.

Tangan Zayyan yang tadi memukul-mukul dada ibunya perlahan berganti meremas daster lusuh yang dipakai ibunya. Ia bersandar di dada ibunya dan menangis sejadi-jadinya.

"Zayyan capek Bu.......Zayyan takut..... Tiap kali kaluar rumah kalo ngga ada ibu aku selalu takut. Mereka selalu sinis sama Zayyan. Aku ngga tahu salah aku apa bu....." Isak Zayyan suaranya terdengar begitu menyakitkan.

"iya ibu tahu..... Ibu tahu baget apa yang Zayyan rasain." ucap Arin tangannya terus mengusap-usap kepala putranya.

"Tapi tolong jangan benci ibu ya.... Kalo Zayyan benci sama ibu nanti ibu sama siapa. Ibu ngga punya siapa-siapa lagi selain Zayyan. "

Zayyan perlahan mengangkat wajahnya yang sembab dan memerah, karena terlalu lama menangis.

"Apa.... Apa ayah ngga sayang sama Zayyan". tanyanya lirih.

Arin tahu cepat atau lambat pertanyaan itu harus ia jawab. Tapi sekarang dia belum bisa menjawabnya dengan pasti, ada banyak hal yang belum dia selesaikan.

" Zayyan dengarin ibu baik-baik ya. Ayah ngga ninggalin Zayyan kok. Ayah sayang sama Zayyan."

"Tapi ayah ninggalin kita kan bu. Sama kayak Jaka ayahnya ninggalin dia sama ibunya, bedanya ayahnya sering datang jemput dia." sela Zayyan dengan mata yang berkaca-kaca.

"untuk saat ini Ada banyak hal yang belum bisa ibu ceritain sama zayyan."

"kenapa?."

"Karena Zayyan masih kecil"

"kalo Zayyan udah besar" Tanya bocah itu.

"Kalo Zayyan udah besar dan udah bisa mengerti. Ibu bakal ceritain semuanya ngga ada lagi yang ibu sembunyikan dari Zayyan." ucap Arin dengan sungguh-sungguh.

"Tapi sekarang...." ucap Arin menggenggam kedua tangan putranya. "Zayyan harus tahu, ibu sangat....sayang sama Zayyan."

"Sejak ibu tahu Zayyan ada di perut ibu, ibu udah berjanji untuk jaga Zayyan seumur hidup ibu. Walau ibu kerja sampai malam. Ibu di hina orang. Hidup kita susah, tapi sekalipun ibu ngga pernah nyesal punya Zayyan."

"Tapi kenapa ayah ngga nyari kita, dia ngga kasih sama ibu. Aku aja kasihan lihat ibu di bentak-bentak orang kalo cuciannya terlambat di antar." lirih Zayyan memandangi mata ibunya.

Arin tidak bisa menjawabnya, tapi dia sudah bahagia karena Zayyan mau memperhatikan nya. Ia hanya menarik tubuh Zayyan kembali ke dalam pelukannya.

"Ibu janji.....Suatu hari nanti, Zayyan akan tahu semuanya, Dan saat hari itu datang.....Ibu berharap Zayyan tetap menjadi anak yang berhati baik."

Zayyan terdiam lama. Tangisnya mulai reda, hanya sesekali terdengar isakan kecil.

"Bu..."

"Iya, kenapa sayang."

Zayyan tertunduk menatap tangannya yang berada di genggaman ibunya. "Zayyan minta maaf, karena tadi udah bilang malu punya ibu."

Arin kembali membawa putranya ke dalam pelukannya. "iya ngga papa. Ibu udah maafin semua kesalahan Zayyan. Ibu tahu tadi Zayyan sedang terluka kan."

BAB 3

Sore harinya, Arin akan pergi ke rumah Bu Tini untuk mengantar semua pakaian yang sudah dia cuci dan setrika tadi. Arin mengangkat keranjang itu ke atas kepalanya, lalu melirik Zayyan yang akan mandi.

"Airnya udah ibu timba ya, nanti jangan lama-lama mandinya. Kena demam nanti." ujar Arin sebelum pergi.

"Iya Bu."

Setelah mendengar jawaban putranya Arin segera bergegas ke rumah Bu Tini, takut nanti kelamaan lagi. Harusnya cucian ini di antar semalam tapi karena insiden Zayyan yang menendang keranjangnya jadilah hari ini dia antar.

Arin tiba di rumah Bu tini yang pagarnya ber cat putih dan menjulang tinggi. Rumah paling besar di kampung ini. Anak-anaknya juga sukses dan semua bekerja di kota.

"Assalamualaikum Bu Tini...." ucap Arin dari pintu samping belakang rumah.

"Waalaikumsalam Rin, masuk aja. pintunya ngga di kunci." ucap Bu Tini dari dalam rumah.

Begitu Arin masuk wanita paruh baya yang memakai daster mahal itu terlihat membelakangi Arin sambil terus mengaduk sesuatu di atas panci.

siapa yang tidak mengenal Bu Tini, satu kampung ini sampai ke kampung sebelah pasti tahu dia. Orang paling kaya dan paling dermawan di kampung ini, dan juga salah satu orang yang paling baik pada Arin. Tak sering Bu Tini membantu finansial Arin meski tak secara langsung.

"Kok nganter nya lama amat Rin, biasanya jam sepuluh sudah kamu anatar." omel Bu Tini langsung tanpa basa basi, tangannya berdecak pinggang.

"Saya sempat mikir kamu bawa baju-baju saya kabur loh Rin. Susah mau saya laporin kamu. Mana ada gamis yang mau saya pake pengajian nanti malam lagi."

"Arin minta maaf Bu, semalam ada kendala. Jadi baju-bajunya saya cuci lagi, takut ngga bersih." ucap Arin dengan nada lirih, menundukkan kepalanya tanpa berani menatapnya lansung.

Bu Tini mendekati keranjang, memeriksa lipatan baju satu per satu dengan teliti. Mulutnya sudah bersiap untuk mengomel lagi, namun gerakannya tiba-tiba terhenti saat melihat wajah Arin. Meskipun Arin sudah berusaha menutupinya dengan bedak tipis, mata sembap, kantung mata hitam, dan wajah pucatnya tidak bisa berbohong.

Bu Tini menghela napas panjang, lalu menjatuhkan daster yang sedang diperiksanya ke dalam keranjang. Sikap ketus dan cerewetnya tiba-tiba mengendur.

"Kamu kenapa, Rin? Berantem lagi sama orang kampung? Atau si Zayyan sakit?" tanya Bu Tini, nadanya melunak, meski tetap terdengar blak-blakan.

Arin langsung menggeleng pelan. "Nggak Bu, ini cuma kurang tidur aja. Akhir-akhir ini banyak yang minta di cuciin bajunya sama Arin."

"Halah, bohong kamu. Muka kayak mayat hidup begitu dibilang gak apa-apa," ketus Bu Tini. Perempuan itu berjalan ke arah dompetnya yang terletak di atas meja makan, mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu menyelipkannya langsung ke tangan Arin. Jumlahnya jauh lebih banyak dari tarif mencuci biasanya.

"Bu....ini... ini kebanyakan," ujar Arin kaget, mencoba mengembalikan uang lebihnya.

"Sudah, ambil saja. Gak usah sok menolak. Anggap saja rezekinya Zayyan!" potong Bu Tini, namun matanya menatap Arin dengan iba.

"Saya memang cerewet, Rin. Tapi saya gak buta. Saya tahu kamu kerja keras sendirian buat anak kamu. Itu uang lebihnya buat kamu beli lauk kalian atau beliin si Zayyan jajan. Tadi saya dengar dari ibu-ibu di warung, kemarin anak-anak pada ngatain Zayyan, ya?"

Arin tersentak. Ternyata berita itu sudah menyebar secepat itu. Dada Arin kembali berdenyut perih.

"Rin..." Bu Tini menepuk bahu Arin agak keras, membuat Arin mendongak.

"Mulut orang kampung ini memang kayak sampah, gak usah kamu dengerin. Yang penting kamu kerjanya halal, kamu gak minta makan sama mereka. Pasti semalam Zayyan nangis-nangis kan.Kmu juga kalo si Zayyan nangis Jangan tunjukin muka lemah kamu di depan dia."

Air mata Arin akhirnya lolos juga. Di balik sifat Bu Tini yang bermulut tajam dan suka mengomel, wanita inilah satu-satunya orang di kampung yang tidak pernah menghakimi masa lalu Arin, dan selalu mengulurkan bantuan tepat di saat Arin hampir menyerah.

"Makasih banyak, Bu Tini... Makasih, saya ngga tahu harus gimana balas semua kebaikan ibu." bisik Arin, menggenggam uang itu dengan erat sebagai penyambung hidupnya dan Zayyan untuk beberapa hari ke depan.

Keluar dari pagar rumah Bu Tini, Arin menggenggam erat sisa uang di dalam kantong dasternya. Langkahnya terasa sedikit lebih ringan karena kebaikan wanita itu.

Arin memutuskan mampir ke warung Mbak Sri di ujung gang. Ia ingin membelikan sesuatu yang istimewa untuk membujuk Zayyan.

"Mbak Sri, beli ayamnya seperempat kilo ya. Tolong dipotong agak kecil-kecil," ucap Arin pelan saat tiba di warung yang kebetulan sedang ramai oleh beberapa ibu-ibu.

Seketika itu juga, suasana warung yang tadinya riuh langsung senyap. Beberapa pasang mata melirik Arin dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bisik-bisik tetangga mulai terdengar, sengaja dikeraskan agar Arin mendengarnya.

"Tumben beli ayam, biasanya cuma beli tempe buntel," bisik seorang wanita bergelang emas tebal di dekat rak sayur.

"Halah, paling juga dapat belas kasihan lagi dari Bu Tini lagi. Jalur kasihan kan paling manjur buat yang gak jelas asal-usulnya," sahut yang disusul tawa kecil yang tertahan.

"Kasihan ya anaknya, masih kecil sudah harus nanggung sebutan anak..."

"Ini ayamnya, Rin. Totalnya lima belas ribu," potong Mbak Sri cepat, sengaja memotong kalimat tajam ibu-ibu tersebut karena merasa tidak tega melihat wajah Arin yang kian memucat.

"Makasih, Mbak. Ini uangnya," Arin menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan, mengambil kembalian dan kantong kreseknya, lalu bergegas pergi tanpa menoleh lagi.

Sesampainya di rumah, Arin perlahan membuka pintu kayu yang sengaja ia kunci tadi. Keadaan rumah tampak lebih rapi. Begitu melangkah ke ruang tengah, Arin tertegun sekaligus lega.

Zayyan sudah duduk di atas tikar. Rambutnya basah, badannya wangi sabun, dan ia sudah mengganti kaos lusuhnya dengan baju kaus bersih bermotif garis-garis. Meski matanya masih menyisakan rona merah akibat tangis semalam, wajahnya juga sudah terlihat jauh lebih tenang.

Mendengar langkah kaki, Zayyan menoleh. Bocah itu menatap kantong kresek hitam yang dibawa ibunya dengan pandangan penasaran yang tak bisa disembunyikan.

"Ibu bawa apa itu?" tanya Zayyan.

Arin tersenyum lebar, rasa lelahnya menguap begitu saja melihat putranya sudah mau mengajaknya bicara lagi. Ia melangkah mendekat dan memperlihatkan isi kantong plastik itu.

"Ibu beli ayam ini sedikit. Tadi dapat rezeki lebih dari Bu Tini. Kata Bu Tini sisanya buat Zayyan nanti." jawab Arin lembut.

"Zayyan mau ngga, Ibu masakan ayam goreng ketumbar kesukaan Zayyan?"

Zayyan hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, lalu kembali menatap lantai.

"Zayyan tunggu sebentar, ya. Ibu bersihkan dulu ayamnya, terus kita makan malam sama-sama," kata Arin sembari mengusap lembut rambut basah putranya.

Zayyan tidak menolak usapan itu. Di sudut hatinya yang paling dalam, bocah kecil itu tahu bahwa tidak peduli seberapa kejam dunia luar menghakiminya, selagi masih ada ibu di sampingnya semuanya akan baik-baik saja.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!