Indonesia
NovelToon NovelToon

Semar Mesem

1

PROLOG

Semilir angin menembus gorden jendela usang di kamar kostnya.

Lusi melirik jam dindin bututnya di pojok bilik, menunjukkan jarum panjang dan pendeknya hampir bertemu di angka duabelas.

Malam itu, waktu yang pas malam selasa kliwon di bulan suro.

Kata buku itu ritual Semar Mesem paling ampuh dilakukan di malam hari, saat dunia berada diambang hari. Bukan hari ini, bukan pula hari esok. Saat dimana batas antara yang nyata dan yang ghoib hanya setipis kulit bawang.

Kamar kost sederhana nomor 17 itu kini menjadi altar.

Ukurannya cuma tiga kali empat meter dengan single bed menempel di sudut, lemari pakaian plastik dua pintu di seberangnya, dan sebuah meja belajar kecil yang penuh sesak oleh benda-benda yang tak seharusnya dimiliki oleh seorang mahasiswi.

Tujuh lilin merah dalam gelas kaca bekas selai, sebuah bokor tembaga berisi air bunga tujuh rupa, kemenyan yang sudah dibakar dan mengeluarkan asap tebal beraroma manis menusuk.

Serta…

Segenggam bunga kuburan yang masih basah oleh embun malam.

Tangan kiri Lusi mengepal erat di atas bunga-bunga itu. Kelopak melati dan kenanga bercampur jadi satu, warnanya sudah kecokelatan karena baru saja dipetik dari pusara Nyai Ratminah leluhur desa yang ketiga, yang konon semasa hidupnya adalah istri seorang dukun sakti.

“Maafkan aku, Nyai.” bisik Lusi disela-sela mantra, suaranya parau penuh dengan kemarahan yang tertahan di tenggorokannya,

“Aku cuma pinjam bunganya sedikit…”

Tiba-tiba…

CEKLEK.

WUUUSSSHHHHH…

Suara datang dari arah jendela.

Lusi menoleh cepat, jantungnya langsung berlari sprint ke tenggorokan. Tapi tidak ada apa-apa diluar, hanya tirainya yang menari-nari tertiup angin. Dan suara cicak yang berlarian dibalik lemarinya yang butut dan hampir memudar warnanya.

“Sial…” umpatnya pelan.

Tersadar, ia langsung buru-buru menutup mulutnya, jelas di buku itu tertulis tidak boleh marah, tidak boleh ngomong kasar, itu pantangan.

Ia kembali ke posisinya. Bersila. Punggung tegak. Kedua tangan diletakkan di atas lutut dengan telapak tangan membuka ke atas mudra yang diajarkan buku itu. Foto Irawan tergeletak di depannya, tepat di tengah lingkaran lilin. Foto ukuran 4R yang dulu ia simpan di dompet dengan penuh cinta. Foto yang sama yang dulu sering ia tatap sebelum tidur sambil tersenyum-senyum sendiri.

Sekarang foto itu cuma secarik kertas yang memicu mual.

“Sun amatek adjiku Semar Mesem…”

Mulutnya kembali melafalkan mantra. Kali ini lebih mantap. Lebih keras. Tapi tetap saja ada getar di ujung suaranya. Getar antara keyakinan dan ketakutan yang bercampur aduk jadi satu.

Dupa menyala lebih terang. Asapnya mengepul seperti ular yang merayap di udara. Bau cendana semakin pekat. Kepala Lusi mulai terasa ringan, seperti melayang. Matanya setengah terpejam, tapi bibirnya terus bergerak.

“Tumancep kumanthil ono ing sanubariku…”

“... Yoiku si jabang bayine Irawan.”

Kalimat itu ia ucapkan dalam hati, seperti yang diperintahkan buku. Nama target tidak boleh diucapkan keras-keras. Harus ditanam di batin. Harus jadi rahasia antara dirinya dan semesta.

Lusi membayangkan wajah Irawan.

Dagu tegasnya. Alis tebalnya yang selalu jadi bahan godaan teman-temannya. Lesung pipi di pipi kiri yang muncul setiap kali ia tersenyum. Dulu, membayangkan wajah itu selalu membuat perut Lusi berdesir hangat. Sekarang, yang muncul justru rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki ke ubun-ubun.

Karena begitu ia memejamkan mata, yang muncul bukan cuma wajah Irawan.

Tapi juga wajah tiga laki-laki lain.

Dan suara kamera ponsel yang berbunyi klik... klik... klik...

"GRRRHHH!"

Lusi membanting kepalan tangannya ke lantai. Suaranya seperti geraman binatang yang terluka. Matanya terbuka lebar. Napasnya memburu. Dadanya naik turun seperti habis lari maraton.

Jangan emosi. Jangan emosi. Tarik napas. Hembuskan.

Ia memejamkan mata lagi. Kali ini lebih lama. Mencoba mengosongkan pikirannya dari semua bayangan itu. Tapi semakin ia mencoba menghapusnya, semakin jelas bayangan itu muncul.

Hotel murah di kawasan Pasuruan. Kamar nomor 305. Bau rokok dan alkohol murahan yang masih terngiang di hidungnya sampai sekarang. Tangan-tangan yang menjamah ke mana-mana. Dan suara Irawan yang berbisik di telinganya sebelum semuanya gelap.

"Tenang, Lus... cuma sekali doang. Temen-temenku udah bayar mahal, lho..."

Beberapa jam yang lalu…

Lusi masih berdiri di depan gerbang makam umum Sendang Wening, menggigil kedinginan.

Habis magrib, hujan deras mengguyur kota. Dan sekarang, pukul sepuluh malam, sisa-sisa air masih menetes dari daun-daun pohon kamboja yang berbaris rapi di sepanjang jalan setapak pemakaman. Angin berembus pelan membawa bau tanah basah dan bunga layu. Di kejauhan, suara anjing melolong pertanda buruk, kata orang-orang tua.

“Tenang Lus, gaada hantu disini. Hantu itu lemah, yang kuat cuma ada di film.”

Ia mencoba menguatkan dirinya sendiri meski seluruh tubuhnya merinding.

Ia menghibur diri sendiri sambil mendorong gerbang besi yang sudah karatan. Suara engselnya melengking panjang, memecah keheningan malam.

“Taliwangke samparwangke jembaro kubure lepaso parane…”

Ia mengingat wejangan mbah buyutnya. (“Baca mantra ini Nduk jika kamu takut, lebih baik jika diiringi ayat kursi.”)

Halaman makam itu gelap. Cuma diterangi satu dua lampu bohlam kuning yang menggantung di tiang listrik. Cahayanya redup, lebih banyak menciptakan bayangan daripada menerangi. Nisan-nisan batu berdiri seperti gigi-gigi raksasa yang mencuat dari tanah. Beberapa sudah miring dimakan usia. Yang lain tertutup lumut tebal.

Lusi melangkah dengan hati-hati, menghindari menginjak gundukan tanah yang mungkin adalah kuburan. Di tangan kanannya, ia memegang senter kecil. Di tangan kirinya, kantong plastik hitam berisi gunting, kembang telon yang dibeli di pasar sore tadi, dan selembar kertas berisi nama leluhur di desanya: NYAI RATMINAH BINTI KROMODIWIRYO.

"Kalau kata Mbah, makamnya ada di pojok timur... dekat pohon beringin..."

Ia menyapu area sekitar dengan senternya. Nisan... nisan... nisan... dan... astaga.

Jantung Lusi nyaris copot.

Sesosok tubuh duduk di atas salah satu nisan.

Senter di tangannya bergetar hebat. Sorot cahayanya menari-nari ke mana-mana, tak mampu diarahkan dengan stabil. Sosok itu tidak bergerak. Hanya duduk diam. Membelakanginya. Tubuhnya besar. Terlalu besar untuk ukuran manusia. Berwarna hitam pekat, seperti gumpalan asap yang memadat.

Lusi ingin lari. Otot-otot kakinya sudah menegang, siap berbalik dan kabur. Tapi sesuatu menahannya. Bukan kekuatan gaib. Bukan mantra. Hanya satu hal: harga diri.

'Aku keturunan Ki Sarowang. Aku nggak boleh takut.'

"Permisi..." suaranya bergetar, tapi ia paksakan untuk tetap bersuara. "Saya... saya cucunya Ki Sarowang Prawangsa. Saya ke sini... mau minta izin ambil bunga di makam Nyai Ratminah..."

Hening.

Lalu, tanpa aba-aba, sosok itu bergerak. Bukan berjalan. Bukan bangkit. Tapi... bergeser. Melayang perlahan ke samping, lalu lenyap begitu saja di balik nisan besar, seperti asap yang tertiup angin.

Lusi berdiri mematung selama tiga puluh detik penuh sebelum akhirnya berani menggerakkan kakinya lagi. Keringat dingin sudah membasahi seluruh punggungnya. Tapi bibirnya justru tersenyum tipis.

"Tuh, kan. Aku nggak takut.”

Bohong. Jantungnya berdetak sangat cepat seperti genderang perang.

\[BERSAMBUNG…\]

2

Bab 2

Kembali ke kamar kost Lusi…

Tangan Lusi yang mengepal di atas bunga kuburan mulai berkeringat. Kelopak-kelopak bunga itu sudah remuk di genggamannya, mengeluarkan bau anyir bercampur wangi yang aneh.

Mantra terus mengalir.

"Sun amatek adjiku semar mesem... ajiku semar mesem... ajiku semar mesem..."

Semakin lama suaranya semakin dalam, semakin berat, seolah bukan lagi suara gadis dua puluh tahun, melainkan suara seorang perempuan tua yang sudah melewati puluhan tahun menjalani hidup pahit. Lusi sendiri tidak sadar dengan perubahan itu. Ia sudah masuk ke trance ringan setengah sadar, setengah melayang. Pikirannya kosong, tapi mulutnya terus melafalkan mantra yang seperti sudah dihafal oleh lidahnya sejak lahir.

“...tumancep kumanthil ono ing ati…”

Di depannya, foto Irawan mulai terlihat... berbeda.

Mungkin cuma trik cahaya lilin. Mungkin cuma halusinasi akibat puasa tiga hari. Tapi Lusi bisa bersumpah, mata Irawan di foto itu seperti berkedip. Dan senyumnya senyum yang dulu begitu ia cintai sekarang terlihat seperti senyum setan yang tertangkap basah.

"Kamu jahat, Wan..."

Lusi tiba-tiba berbicara sendiri. Suaranya kini berubah lagi. Kali ini seperti anak kecil yang merengek. Rapuh. Pecah.

"Kamu jahat banget... aku sayang kamu... tapi kamu apain aku?"

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tapi ia tahan. Ia tidak boleh menangis. Bukan saat ini. Air mata bisa merusak energi ritual, katanya. Air mata bisa melemahkan niat.

Tapi siapa yang bisa menahan tangis ketika mengingat kembali semuanya?

Ketika setiap kali memejamkan mata, ia masih bisa merasakan tangan-tangan kasar yang menyentuhnya di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Ketika ia masih bisa mendengar suara tawa mereka yang memekik di telinganya. Ketika video berdurasi delapan menit dua puluh tiga detik itu terlanjur tersimpan di otaknya, terputar berulang-ulang seperti film horor yang tidak bisa dimatikan.

"AKU SUMPAHIN KAMU, WAN!"

Lusi menjerit. Suaranya pecah. Lilin-lilin di depannya berkedip serempak, nyaris padam sebelum akhirnya menyala lagi tapi dengan warna api yang berbeda. Lebih redup. Lebih... biru.

Napasnya memburu. Dadanya naik turun. Tangannya kini menggenggam foto itu, meremasnya, membuat kertasnya kusut. Wajah Irawan di foto itu kini terlipat, terdistorsi. Persis seperti jiwa Lusi yang sudah terlipat dan terdistorsi oleh pengkhianatan.

"AKU SUMPAHIN KAMU SAMA TEMEN-TEMENMU! KALIAN BAKAL NGERASAIN APA YANG AKU RASAIN! KALIAN BAKAL…”

Braakk…

Brakkkk …

Brakkk…

Pintu kamar kost Lusi tiba-tiba bergetar…

Lusi langsung membeku. Mulutnya setengah terbuka, menggantung di udara. Matanya melebar, menatap pintu kost-nya yang terbuat dari kayu triplek tipis.

Siapa?

Siapa yang mendobrak pintu tengah malam begini?

Pikirnya.

"Lus?"

Suara itu. Suara yang dikenalnya. Suara yang tidak mungkin ada di sini. Tidak mungkin ada di depan kamarnya pada pukul dua belas malam.

"Lus, kamu di dalam? Ini aku... Irawan."

Darah Lusi berhenti mengalir.

Dan foto yang ada di tangannya... mendadak terasa panas seperti bara api.

Satu tahun lalu, Universitas Adiloka, Surabaya.

Hari pertama kuliah selalu jadi neraka buat Lusi.

Bukan karena mata kuliahnya susah. Bukan karena dosennya galak. Tapi karena satu hal yang selalu membuat perutnya mual sejak bangun tidur: manusia. Terlalu banyak manusia. Terlalu banyak suara. Terlalu banyak mata yang menatap dan menurut paranoia Lusi menghakimi.

"Eh, liat deh. Itu anak baru ya? Kok jalannya aneh gitu?"

"Ck, cupu banget sih fashion-nya. Jaman sekarang masih ada yang pake jilbab warna cokelat susu gitu?"

"Sendirian mulu deh kayaknya. Nggak punya temen kali."

Lusi mendengar semuanya. Atau mungkin dia cuma mengira mendengar. Kadang-kadang dia nggak bisa bedain mana bisikan nyata dan mana bisikan di kepalanya sendiri. Tapi tetap saja, setiap kali ada segerombolan mahasiswa yang lewat dan tertawa, dia langsung merasa merekalah yang menertawakan dirinya.

Tangannya mengepal di samping tubuh. Kepalanya menunduk. Langkahnya dipercepat menuju gedung Fakultas Ekonomi bangunan tua bergaya kolonial Belanda yang catnya sudah mengelupas di sana-sini, tapi tetap berdiri angkuh dengan pilar-pilar besar dan jendela-jendela tinggi.

Cepet masuk kelas. Duduk paling belakang. Jangan ngomong sama siapa-siapa. Pulang.

Itu mantra yang Lusi ucapkan pada dirinya sendiri setiap pagi. Bukan mantra warisan leluhur, cuma strategi bertahan hidup ala anak introvert dengan kepercayaan diri setipis kulit bawang.

Tapi hari itu, semesta punya rencana lain.

"WOI, ANAK BARU!"

Lusi baru saja menapaki anak tangga ketiga menuju lantai dua ketika suara itu menggelegar di belakangnya. Suara berat, penuh intimidasi, dan jelas-jelas diarahkan padanya. Kaki Lusi langsung berhenti. Punggungnya menegang. Bulu-bulu halus di tengkuknya berdiri.

Jangan noleh. Jangan noleh. Pura-pura nggak denger.

"EH, LO! YANG PAKE JILBAB COKELAT! TULI YA?"

Kali ini suaranya lebih dekat. Dan lebih banyak. Lusi bisa mendengar langkah kaki beberapa pasang sepatu naik ke arahnya. Suara tawa cekikikan menyertai. Perempuan dan laki-laki.

Dengan gerakan lambat seperti robot yang kehabisan baterai, Lusi berbalik.

Empat orang.

Dua laki-laki, dua perempuan. Semuanya memakai jaket almamater yang sama dengan lambang Universitas Adiloka di dada kiri. Tiga dari mereka terlihat seperti mahasiswa biasa. Tapi satu yang berdiri paling depan yang tadi berteriak jelas bukan mahasiswa biasa.

Perempuan. Tinggi. Badannya langsing tapi kekar, seperti atlet bela diri. Rambutnya dikuncir kuda, diwarnai pirang ombre yang kontras banget sama kulit sawo matangnya. Matanya tajam, hidungnya mancung, dan bibirnya tersenyum miring senyum khas predator yang sudah menemukan mangsanya.

Namanya Ratih.

"A... ada apa, Kak?" suara Lusi bergetar. Matanya langsung menunduk, menghindari kontak mata.

"Ada apa? LO TANYA ADA APA?" Ratih tertawa keras, diikuti oleh tiga pengikutnya. "Gue cuma mau kenalan, adik kecil. Lo anak baru ya? Jurusan apa?"

"A... Akuntansi..."

"AKUNTANSI!" seru Ratih dramatis, lalu menoleh ke teman-temannya. "Denger tuh, cupu banget jurusannya. Pantesan gayanya kayak orang stress gara-gara utang."

Tawa meledak. Beberapa mahasiswa lain yang lewat di sekitar anak tangga mulai memperhatikan. Ada yang ikut nyengir, ada yang cuma melirik kasihan lalu buru-buru pergi, dan ada yang mengeluarkan ponsel. Zaman sekarang, semuanya adalah konten.

Lusi berdiri mematung di anak tangga. Tangannya yang menggenggam tali tas ransel bergetar hebat. Matanya masih menunduk, menatap ujung sepatu conversenya yang sudah kusam. Ia ingin ngomong sesuatu, apa saja, tapi lidahnya terasa mati rasa.

"Eh, ngomong dong! Lo bisu ya?!" Ratih maju selangkah. Sekarang jarak mereka cuma setengah meter. Lusi bisa mencium parfum murahan yang dipakai kakak tingkat itu. Manis, tapi menusuk. "Sini gue liat muka lo. Jilbabnya dibuka dulu kali ya biar keliatan..."

Tangan Ratih terangkat. Menjulur ke arah kepala Lusi.

Dan saat itu juga…

"RATIH."

Suara bariton yang tenang tapi tajam. Bukan teriakan. Justru karena nggak berteriak, suara itu jadi lebih mengancam. Seperti pisau yang diasah diam-diam sebelum menusuk.

Ratih berhenti. Tangannya menggantung di udara. Ekspresinya langsung berubah dari beringas jadi... waspada.

Lusi memberanikan diri mendongak.

Dari ujung koridor lantai dua, seorang laki-laki berjalan mendekat. Langkahnya santai, tangannya dimasukkan ke saku celana jeans hitam. Rambutnya hitam agak gondrong, disisir ke belakang. Kulitnya putih bersih terlalu bersih buat ukuran mahasiswa di Surabaya yang biasanya gosong kena matahari. Rahangnya tegas, alisnya tebal, dan di pipi kirinya ada lesung pipi yang muncul saat dia tersenyum tipis.

Lesung pipi itu yang pertama kali ditangkap oleh mata Lusi.

Lesung pipi itu yang entah kenapa langsung membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

[BERSAMBUNG…]

3

Bab 3

"Irawan," Ratih mendesis. Tangannya turun. "Ngapain lo ke sini?"

"Ngapain gue ke sini?" Irawan berhenti tepat di samping Lusi. Tubuhnya lebih tinggi setengah kepala. "Ini koridor umum, Ra. Bukan punya bapak lo."

Ketiga pengikut Ratih mulai mundur selangkah. Satu di antaranya perempuan berambut pendek bahkan menarik-narik ujung jaket Ratih, memberi isyarat untuk pergi. Tapi Ratih tidak bergerak.

"Gue cuma bercanda, Wan. Santuy aja kali."

"Bercanda?" Irawan melirik Lusi sekilas. Mata mereka bertemu untuk pertama kalinya. Mata Irawan berwarna cokelat muda, hampir keemasan, dan tatapannya... hangat. Seperti sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela. "Kayaknya adik kita yang ini nggak ketawa deh."

Lusi langsung menunduk lagi. Jantungnya masih berdebar, tapi kali ini karena alasan yang berbeda.

Ratih mendengus keras. "Apa urusan lo sih? Pacar baru lo?"

"Bukan urusan lo juga kali, Ra." Irawan tersenyum lesung pipinya semakin jelas tapi matanya tetap dingin menatap Ratih. "Mending lo pergi sekarang. Sebelum gue laporin ke Warek 3. Kayaknya dosen-dosen udah pada capek denger nama lo lagi, deh."

Ancaman itu mempan. Wajah Ratih memucat sedikit. Ia menatap Irawan dengan kebencian yang nyaris telanjang, lalu meludah ke samping tepat mengenai ujung sepatu Lusi.

"Cih. Cupu lo semua."

Dan ia pergi. Tiga pengikutnya mengikuti di belakang seperti bebek yang kehilangan induknya padahal induknya sendiri baru saja kabur.

Koridor mendadak sepi. Mahasiswa yang tadi menonton sudah bubar begitu drama selesai. Sekarang tinggal Lusi dan Irawan, berdiri di anak tangga yang sama, dalam keheningan yang canggung.

Lusi ingin bilang terima kasih. Sungguh. Tapi mulutnya terkunci rapat. Lidahnya masih mati rasa. Bertahun-tahun jadi korban bullying membuatnya terbiasa diam. Diam adalah pertahanan. Diam adalah baju besi.

"Aduh, sepatu lo kena ludah tuh."

Suara Irawan memecah keheningan. Laki-laki itu berjongkok, mengeluarkan selembar tisu dari sakunya, dan…

"Eh, Kak, jangan!"

Tapi terlambat. Irawan sudah menyeka ludah Ratih dari ujung sepatu Lusi. Dengan tisu putih. Dengan tangannya sendiri. Dengan santainya, seperti sedang membersihkan debu dari mejanya sendiri.

Lusi terpaku. Mulutnya setengah terbuka. Matanya melebar. Sepanjang hidupnya, belum pernah ada yang melakukan hal seperti itu untuknya. Bahkan teman-teman SD-nya dulu cuma diam saat ia diolok-olok. Bahkan gurunya cuma bilang "sabar ya, Lusi".

Dan sekarang, seorang kakak tingkat, kakak tingkat populer pula berjongkok membersihkan sepatunya?

"Nah, beres." Irawan berdiri, melipat tisu kotornya, dan memasukkannya ke saku bukan dibuang sembarangan. "Lo jangan diam aja kalo digituin. Mereka tuh kayak anjing. Makin lo diem, makin digonggongin. Kadang perlu digonggongin balik."

"A... aku... makasih, Kak..."

Suara Lusi keluar akhirnya. Kecil. Parau. Seperti anak kucing yang baru belajar mengeong.

Irawan menatapnya. Ia benar-benar melihat Lusi. Bukan cuma melirik. Matanya memindai wajah Lusi dengan tatapan yang sulit diartikan. penasaran, mungkin. Atau iba. Atau sesuatu yang lain.

"Lo namanya siapa?"

"Lusi... Lusi Arimbi."

"Arimbi?" Alis Irawan terangkat. "Kayak nama wayang ya? Istri Bima kan?"

Lusi terkejut. Tidak banyak anak muda yang tahu nama Arimbi dari cerita Mahabharata. "Kakak... tahu wayang?"

"Kakek gue dalang." Irawan nyengir. Lesung pipinya muncul lagi. "Jadi gue dipaksa nonton wayang dari umur tiga tahun. Lumayan hafal beberapa tokoh. Arimbi itu cantik deh, kayak..."

Ia berhenti. Tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi pipinya sedikit memerah.

Lusi juga tidak melanjutkan. Pipinya juga memerah. Dan untuk beberapa detik, mereka cuma berdiri di anak tangga, saling menghindari tatapan, dengan wajah merah padam seperti dua anak SD yang baru pertama kali mengenal cinta monyet.

Plok!

Suara buku jatuh membuyarkan momen canggung itu.

Lusi menoleh. Tiga buku catatannya terlepas dari tas ransel yang tadi ia buka setengah. Lembar-lembar kertas berhamburan di lantai koridor.

"Oh, sial…" Ia langsung berjongkok, membereskan. Tapi tangannya gemetar selalu gemetar setelah berhadapan dengan konfrontasi dan bukunya malah jatuh lagi.

"Santai, gue bantu."

Irawan ikut berjongkok. Tangannya yang putih dan jenjang mulai mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan. Sesekali ia membaca tulisan di kertas itu, lalu senyum-senyum sendiri. "Wah, catatannya rapi banget. Berwarna-warna lagi. Pasti nilai lo bagus-bagus ya?"

"B... biasa aja..."

"Siapa sih, bilang biasa aja, tapi pake stabilo tiga warna gini?" Irawan tertawa pelan. "Lo tuh tipe yang perfeksionis ya?"

Itu bukan pujian yang spesial. Bukan kata-kata gombal yang puitis. Tapi entah kenapa, mendengar Irawan mengatakan itu dengan suara baritonnya yang tenang dan lesung pipinya yang muncul saat tersenyum, Lusi merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Dilihat.

Irawan melihatnya. Bukan sebagai anak baru cupu yang jalannya aneh. Bukan sebagai korban bullying yang mudah digertak. Tapi sebagai... seseorang.

"Udah, nih." Irawan menyerahkan tumpukan kertas yang sudah rapi. Jemarinya menyentuh jemari Lusi sekilas. Sentuhan itu cuma sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat Lusi merinding. "Hati-hati ya, Lus. Kalo si Ratih ganggu lagi, kabarin gue aja. Gue di Manajemen, lantai tiga."

"Makasih... Kak..."

"Panggil Irawan aja. Atau Wan. Jangan Kakak-kakak, keliatan tua gue."

Irawan berdiri, memasukkan tangannya lagi ke saku, dan berjalan pergi. Sepuluh langkah. Lima belas langkah. Dua puluh langkah. Lusi masih berdiri di anak tangga yang sama, memeluk buku-bukunya di dada, menatap punggung laki-laki itu sampai menghilang di tikungan koridor.

Jantungnya masih berdetak kencang.

Malamnya, Lusi tidak bisa tidur.

Bukan karena dihantui wajah Ratih yang menyeramkan. Bukan karena masih mual mengingat ludah yang mendarat di sepatunya. Tapi karena satu hal yang jauh lebih mengganggu: lesung pipi.

Setiap kali ia memejamkan mata, lesung pipi itu muncul. Setiap kali ia mencoba menghitung domba, yang muncul malah suara bariton yang berkata, "Lo tuh tipe yang perfeksionis ya?"

Lusi mengerang frustasi di atas kasur kost-nya yang cuma selebar satu setengah meter. Tangannya meraih ponsel. Membuka Instagram. Mengetik nama di kolom pencarian: Irawan Adiloka.

Muncul.

Akun dengan centang biru. Followers-nya dua belas ribu. Bio-nya cuma satu baris: "Manajemen '20 | Kafein & wayang enthusiast."

Lusi menggulir feed-nya. Foto-foto Irawan dengan teman-temannya. Foto di kafe. Foto di kampus. Foto sedang memegang wayang kulit di sebuah acara budaya. Dan di setiap foto, senyum yang sama. Lesung pipi yang sama.

Ia berhenti di satu foto. Foto Irawan sedang duduk di tangga kampus tangga yang sama di mana mereka bertemu tadi siang. Caption-nya: "Kadang, jadi tempat sandaran orang lain itu lebih berarti daripada jadi pusat perhatian."

Lusi menekan tombol follow.

Dan detik itu juga, tanpa sadar, ia sudah menanam benih.

Malam ini, ia cuma seorang gadis lugu yang tersenyum-senyum sendiri di atas kasur, menatap layar ponsel, dan berbisik pelan pada dirinya sendiri:

"Irawan..."

\---

\[BERSAMBUNG…\]

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!