Hujan turun dengan deras membasahi tanah yang sudah berubah warna menjadi merah pekat.
Bau anyir darah menguar kuat di udara bercampur dengan aroma mesiu yang menyengat.
Lin Yuan berdiri diam di tengah reruntuhan bangunan yang sudah rata dengan tanah.
Di bawah kakinya, puluhan tubuh tak bernyawa tergeletak dengan posisi yang tidak wajar.
Mereka adalah pasukan elit dari organisasi pembunuh bayaran terbesar di dunia bawah.
Namun di hadapan pria ini, mereka semua hanyalah tumpukan sampah yang tidak berguna.
Lin Yuan menatap telapak tangannya yang kapalan dan penuh dengan bekas luka pertempuran.
Seorang pria dengan seragam militer robek merangkak mendekatinya sambil terbatuk darah.
Pria itu adalah musuh terakhir yang masih memiliki sisa napas di tempat neraka ini.
Uhuk.
Pria itu memuntahkan darah segar ke sepatu bot militer milik Lin Yuan.
Lin Yuan hanya menatap pria itu dengan pandangan kosong yang sangat dingin.
"Kau iblis, kau tidak akan pernah bisa hidup tenang."
Pria itu mengutuk dengan suara serak sebelum akhirnya tubuhnya kaku tak bernyawa.
Lin Yuan menghela napas panjang melihat musuh terakhirnya sudah mati.
'Mungkin dia benar, tapi setidaknya aku harus mencoba mencari ketenangan itu.'
Lin Yuan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah lencana perak berukiran naga.
Lencana itu adalah simbol kekuasaan mutlak miliknya sebagai Raja Tentara Bayaran.
Sebuah gelar mematikan yang membuat seluruh pemimpin dunia bawah gemetar ketakutan hanya dengan mendengar namanya.
Tapi gelar itu juga yang telah merenggut banyak hal dari kehidupan manusiawinya.
Kring.
Lencana perak itu jatuh berdenting membentur bebatuan yang hancur.
Lin Yuan berbalik dan melangkah pergi menembus derasnya hujan tanpa menoleh lagi.
Dia meninggalkan masa lalunya yang tragis dan berlumuran darah di reruntuhan itu.
Mulai hari ini, Raja Tentara Bayaran sudah mati dan menghilang dari dunia.
Tiga bulan kemudian di Kota Hai.
Matahari bersinar terik memanggang jalanan aspal yang dipadati oleh kendaraan berlalu lalang.
Lin Yuan berdiri di trotoar sambil mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan.
Dia mengenakan kaus putih polos yang sudah agak kusam dan celana jins pudar.
Penampilannya benar benar terlihat seperti pengangguran biasa yang tidak punya masa depan.
Lin Yuan mendongak menatap sebuah gedung pencakar langit megah berlapis kaca di depannya.
Sebuah logo besar bertuliskan Grup Shen terpampang gagah di puncak gedung tersebut.
'Kudengar perusahaan ini memberikan gaji yang lumayan besar untuk posisi penjaga keamanan.'
Lin Yuan tersenyum tipis dan melangkah santai memasuki area lobi gedung yang sangat luas.
Udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyapa kulitnya yang terasa panas.
Lantai marmer mengkilap memantulkan bayangan orang orang yang berjalan dengan pakaian rapi.
Lin Yuan berjalan menuju meja resepsionis dengan langkah malas yang diseret.
Seorang wanita cantik berseragam rapi menatapnya dengan pandangan menilai dari atas ke bawah.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
Wanita itu bertanya dengan nada sopan yang terdengar agak dipaksakan.
"Aku dengar perusahaan ini sedang mencari penjaga keamanan baru."
Lin Yuan menopang dagunya di atas meja resepsionis sambil tersenyum ramah.
"Aku ingin melamar untuk posisi itu, di mana aku bisa mengambil formulirnya?"
Resepsionis itu mengerutkan kening melihat sikap Lin Yuan yang terlalu santai.
"Mohon maaf, tapi lowongan itu hanya untuk mereka yang memiliki pengalaman."
Wanita itu menjawab dengan nada yang mulai terdengar sedikit meremehkan.
"Penampilanmu sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang bisa menjaga keamanan gedung ini."
Lin Yuan hanya tertawa kecil mendengar penilaian dangkal dari wanita tersebut.
"Jangan menilai buku dari sampulnya, Nona cantik."
Lin Yuan mengedipkan sebelah matanya dengan gaya yang sangat percaya diri.
"Aku mungkin terlihat biasa saja, tapi aku bisa menjamin tidak ada nyamuk yang berani masuk jika aku berjaga disini."
Belum sempat resepsionis itu menjawab, sebuah suara berat yang kasar menyela pembicaraan mereka.
"Siapa yang membiarkan gembel ini masuk ke lobi utama Grup Shen?"
Seorang pria berbadan besar dengan seragam kepala keamanan berjalan mendekati mereka.
Pria itu memiliki wajah garang dan otot lengan yang menonjol di balik seragam ketatnya.
"Namaku Wang, aku kepala keamanan di sini, dan aku tidak butuh orang sepertimu."
Kepala Keamanan Wang menatap Lin Yuan dengan tatapan merendahkan.
"Pergi dari sini sebelum aku menyeretmu keluar dengan paksa."
Lin Yuan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana tanpa merasa terintimidasi sedikit pun.
"Aku hanya ingin melamar pekerjaan, apakah Grup Shen selalu memperlakukan para tamunya dengan kasar?"
Lin Yuan bertanya dengan nada datar yang anehnya membuat Wang merasa tersinggung.
"Kau berani mengajariku bagaimana cara bekerja, dasar sampah."
Wang melangkah maju dan mengulurkan tangannya yang besar untuk mencengkeram kerah kaus Lin Yuan.
Lin Yuan masih berdiri santai seolah tidak melihat tangan besar yang mengarah kepadanya.
Namun tepat sebelum tangan Wang menyentuh bajunya, suasana di lobi tiba tiba berubah sunyi.
Tak tak tak.
Suara langkah sepatu hak tinggi bergema memecah keheningan lobi yang mendadak beku.
Semua karyawan dan penjaga keamanan langsung berdiri tegak dengan kepala menunduk.
Wang buru buru menarik tangannya dan membalikkan badan dengan sikap hormat.
Lin Yuan menoleh dengan santai ke arah pintu masuk utama.
Seorang wanita muda berjalan masuk dengan aura dingin yang membekukan udara di sekitarnya.
Wanita itu memiliki wajah yang sangat cantik tanpa cela, seperti dewi yang turun dari langit.
Rambut hitamnya yang panjang dan lurus dibiarkan tergerai indah melewati bahunya.
Dia mengenakan blus kerja putih yang cukup ketat membungkus tubuh bagian atasnya.
Proporsi tubuhnya sangat sempurna dengan lekuk pinggang yang ramping bagaikan jam pasir.
Rok pensil berwarna hitam memeluk erat pinggulnya, menonjolkan kaki panjangnya yang jenjang.
Setiap langkahnya memancarkan otoritas dan kepercayaan diri yang sangat luar biasa.
Dia adalah Shen Yuxuan, CEO dari Grup Shen, wanita yang terkenal tidak kenal ampun di dunia bisnis.
Lin Yuan menatap wanita itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dengan tatapan menilai.
'Gadis ini benar benar memiliki aset yang luar biasa untuk ukuran seorang wanita karier.'
Lin Yuan membatin sambil menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan.
Shen Yuxuan berjalan melewati meja resepsionis tanpa melirik sedikit pun ke arah Lin Yuan.
Tatapannya lurus ke depan dengan raut wajah yang sama sekali tidak menunjukkan emosi.
Namun, ketenangan di lobi itu hancur dalam hitungan detik.
Seorang pria paruh baya yang memakai topi lusuh tiba tiba melompat dari balik pilar besar.
Pria itu berlari kencang ke arah Shen Yuxuan dengan wajah yang dipenuhi urat kemarahan.
"Shen Yuxuan, kau menghancurkan perusahaanku, aku akan membawamu mati bersamaku."
Pria itu berteriak histeris sambil menarik sebilah pisau belati yang sangat tajam dari balik jaketnya.
Jarak antara pria gila itu dan Shen Yuxuan hanya tersisa kurang dari tiga meter.
Semua orang di lobi berteriak ketakutan melihat kejadian yang berlangsung sangat cepat itu.
Para penjaga keamanan, termasuk Wang, berdiri membeku karena terkejut dan tidak sempat bereaksi.
Shen Yuxuan menghentikan langkahnya dan matanya sedikit membelalak melihat pisau yang mengarah padanya.
Untuk pertama kalinya, topeng es di wajah cantiknya retak oleh rasa terkejut.
Dia tidak bisa menghindar karena hak sepatunya yang terlalu tinggi membuat pergerakannya terbatas.
Pisau itu berjarak satu jengkal dari wajah cantiknya saat sebuah bayangan melesat melewatinya.
Wushhh.
Angin berhembus kencang menyapu rambut panjang Shen Yuxuan saat bayangan itu bergerak.
Lin Yuan sudah berdiri tepat di depan pria gila itu dengan tangan yang terulur ke depan.
Dia mencengkeram pergelangan tangan pria itu dengan sangat santai, seolah hanya sedang memegang ranting pohon.
Pria gila itu meronta ronta dan mencoba menusukkan pisaunya, tapi tangannya tidak bisa bergerak satu inci pun.
"Mencoba melukai wanita cantik di siang bolong adalah perbuatan yang sangat tidak jantan, Paman."
Lin Yuan berkata dengan nada malas sambil menguap kecil.
Dia kemudian memutar pergelangan tangan pria itu sedikit saja tanpa mengeluarkan banyak tenaga.
Krak.
"Arggghh"
Suara tulang patah terdengar sangat jelas di lobi yang sunyi itu.
Pria gila itu menjerit kesakitan dan belati tajamnya jatuh berdenting ke lantai marmer.
Lin Yuan menendang pelan bagian belakang lutut pria itu hingga dia jatuh berlutut tak berdaya.
Kejadian itu berlangsung sangat singkat, namun efeknya membuat Shen Yuxuan kehilangan keseimbangan.
Shen Yuxuan melangkah mundur karena terkejut, namun hak sepatunya tersandung ujung karpet lobi.
Tubuh indahnya limbung ke belakang dan dia refleks memejamkan mata bersiap menyentuh lantai yang keras.
Namun rasa sakit yang ditunggunya tidak pernah datang.
Sebuah lengan yang kokoh melingkar dengan pas di pinggang rampingnya yang berbalut blus ketat.
Lin Yuan telah bergerak dalam sekejap mata untuk menahan tubuh sang CEO agar tidak terjatuh.
Shen Yuxuan membuka matanya dan langsung bertatapan dengan wajah Lin Yuan dalam jarak yang sangat dekat.
Dia bisa merasakan panas tubuh pria itu menembus kain blusnya.
Tangan Lin Yuan memegang pinggangnya dengan erat, merasakan tekstur lembut di balik pakaian ketat tersebut.
Untuk sesaat, waktu terasa berhenti di lobi Grup Shen.
Shen Yuxuan menahan napas melihat pria asing berpakaian kusam yang berani memeluknya begitu saja.
Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat, namun bukan karena romansa, melainkan karena syok.
Lin Yuan menatap wajah cantik di lengannya dengan tatapan yang sangat polos.
"Pinggangmu lumayan lembut juga, tapi kau ternyata agak berat ya."
Lin Yuan melontarkan komentar itu dengan nada jujur yang terdengar sangat menyebalkan.
Rona merah samar muncul di pipi pucat Shen Yuxuan, namun seketika berubah menjadi tatapan membunuh.
"Lepaskan tangan kotormu itu dariku, sekarang."
Shen Yuxuan mendesis dingin dan langsung menepis kasar lengan Lin Yuan dari pinggangnya.
Dia berdiri tegak sambil merapikan blus dan rok pensilnya yang sedikit kusut akibat insiden tadi.
Napasnya memburu karena marah, merusak citra tenang yang selalu dijaganya selama ini.
"Kau seharusnya berterima kasih karena aku menyelamatkan pantat indahmu dari ciuman lantai marmer ini."
Lin Yuan menggosok hidungnya santai tanpa peduli dengan tatapan mematikan dari sang CEO.
"Beraninya kau bicara lancang pada Nona Shen."
Wang akhirnya sadar dari keterkejutannya dan langsung berlari maju mencoba mencari muka.
Dia memerintahkan anak buahnya untuk segera menyeret pria gila yang masih mengerang kesakitan di lantai.
"Nona Shen, saya mohon maaf atas kelalaian ini, saya akan segera mengusir gembel ini keluar."
Wang menunjuk wajah Lin Yuan dengan penuh amarah untuk menutupi rasa malunya karena telat bertindak.
Shen Yuxuan mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar Wang diam.
Mata indahnya menatap Lin Yuan dengan pandangan tajam seolah sedang membedah isi kepala pria itu.
Dia mengingat kembali kecepatan dan refleks pria ini saat menahan serangan pisau tadi.
Gerakannya terlalu mulus dan tenang untuk ukuran orang biasa yang kebetulan lewat.
Pria ini jelas memiliki kemampuan bertarung, meski mulutnya sangat tidak tahu aturan.
"Siapa namamu dan apa tujuanmu datang ke perusahaanku?"
Shen Yuxuan bertanya dengan nada memerintah yang sangat kental.
"Namaku Lin Yuan, dan aku hanya orang miskin yang ingin melamar kerja sebagai penjaga keamanan."
Lin Yuan membalas tatapan Shen Yuxuan dengan senyum malas yang tidak pernah luntur dari wajahnya.
"Tapi kepala keamanan mu yang botak ini bilang aku tidak pantas kerja di sini karena aku terlihat seperti gembel."
Lin Yuan menunjuk Wang dengan dagunya, membuat kepala keamanan itu mengertakkan gigi menahan marah.
Shen Yuxuan terdiam sejenak, memikirkan sebuah rencana gila yang mendadak muncul di kepalanya.
Keluarganya terus mendesaknya untuk menerima pertunangan dengan tuan muda keluarga kaya yang sangat arogan.
Dia butuh seorang pria yang tidak punya latar belakang, punya mental baja, dan cukup gila untuk menentang keluarga kaya.
Melihat bagaimana Lin Yuan bersikap santai setelah mematahkan tangan orang dan berani menghinanya secara langsung, pria ini mungkin kandidat yang tepat.
Seorang satpam rendahan bermulut tajam adalah alat yang sempurna untuk mempermalukan tunangannya nanti.
"Bawa dia ke departemen sumber daya manusia dan berikan dia seragam keamanan."
Shen Yuxuan memberikan perintah singkat kepada Wang dengan nada yang tidak terbantahkan.
Wang membelalakkan matanya tidak percaya mendengar keputusan bosnya.
"Tapi Nona, orang ini tidak punya sopan santun dan latar belakangnya tidak jelas."
Wang mencoba memprotes karena dia benar benar tidak menyukai pria bernama Lin Yuan ini.
"Apa aku perlu mengulangi perintahku, Kepala Keamanan Wang?"
Shen Yuxuan menatap Wang dengan pandangan dingin yang membuat pria besar itu langsung menelan ludah.
"Ti- tidak, Nona, saya akan segera mengurusnya."
Wang menundukkan kepalanya dalam dalam, tidak berani menatap mata CEO nya lagi.
Shen Yuxuan kembali menatap Lin Yuan untuk terakhir kalinya sebelum dia berbalik.
"Mulai hari ini kau bekerja untukku, dan pastikan kau tutup mulutmu yang menyebalkan itu saat bertugas."
Shen Yuxuan melangkah pergi menuju lift khusus eksekutif dengan langkah anggunnya.
Lin Yuan menatap punggung ramping yang perlahan menjauh itu sambil bersiul pelan.
'Bekerja dengan bos yang memiliki temperamen seburuk itu sepertinya akan membuat hidupku sedikit lebih berwarna.'
Lin Yuan bergumam dalam hati sambil mengikuti Wang yang menatapnya dengan penuh kebencian.
Raja Tentara Bayaran yang selalu hidup dalam bayangan kematian, kini resmi menjadi satpam berupah rendah.
Dia tidak pernah menyangka bahwa keputusannya kembali ke kota akan membawanya ke dalam masalah yang lebih merepotkan daripada medan perang.
Namun setidaknya, ada pemandangan indah yang bisa dia nikmati setiap hari mulai sekarang.
Kisah panjang tentang seorang bodyguard biasa di kota metropolitan ini baru saja dimulai.
Ruang ganti penjaga keamanan Grup Shen terasa pengap dan berbau keringat pria.
Lin Yuan berdiri di depan cermin panjang sambil mengancingkan seragam biru mudanya.
Seragam itu jelas satu ukuran lebih kecil dari tubuhnya.
Kain murah itu mencetak jelas otot dada dan lengannya yang keras seperti baja.
'Baju ini benar benar membuatku terlihat seperti tukang pukul bayaran murahan.'
Lin Yuan terkekeh pelan sambil merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut.
Dia mengambil topi berlambang Grup Shen dan menaruhnya sembarangan di atas kepala.
Penampilannya sekarang seratus persen terlihat seperti satpam pemalas yang tidak bisa diandalkan.
Brak.
Pintu ruang ganti didorong dengan kasar dari luar.
Kepala Keamanan Wang melangkah masuk dengan wajah yang ditekuk masam.
Di belakangnya ada dua orang penjaga keamanan lain yang berbadan gempal.
Mereka menatap Lin Yuan dengan tatapan permusuhan yang sangat jelas.
Wang melipat tangannya di dada sambil menatap Lin Yuan dari atas ke bawah.
"Dengar baik baik anak baru, aku tidak peduli trik murahan apa yang kau pakai untuk merayu Nona Shen."
Wang meludah ke lantai untuk menunjukkan rasa jijiknya.
"Di departemen keamanan ini, akulah bosnya dan aturan ada di tanganku."
Lin Yuan hanya berbalik santai dan bersandar di deretan loker besi.
"Tentu saja Bos Wang, aku hanya bawahan yang siap menerima perintah darimu."
Lin Yuan menjawab dengan senyum malas yang selalu menempel di wajahnya.
Wang mendengus kesal melihat senyum yang menurutnya sangat meremehkan itu.
"Bagus kalau kau sadar diri."
Wang menunjuk ke arah pintu keluar dengan ibu jarinya.
"Tugas pertamamu adalah berpatroli di area parkir bawah tanah blok C."
Dua penjaga keamanan di belakang Wang saling melempar senyum mengejek.
Area blok C adalah tempat parkir paling ujung yang sirkulasi udaranya sangat buruk.
Tempat itu panas, pengap, dan penuh dengan debu knalpot mobil.
Tidak ada penjaga yang mau berlama lama di sana.
"Pastikan tidak ada satupun mobil direktur yang lecet, kau mengerti?"
Wang memberi perintah dengan nada mengancam.
Lin Yuan hanya mengangkat tangannya dan memberi hormat ala militer yang sangat asal asalan.
"Siap laksanakan, Bos Wang yang terhormat."
Lin Yuan berjalan melewati mereka bertiga dengan langkah diseret yang terdengar malas.
Dia sama sekali tidak peduli dengan niat buruk Wang yang ingin menyiksanya di hari pertama.
Bagi seseorang yang pernah bertahan hidup di padang pasir Afrika selama berminggu minggu, panasnya parkiran bawah tanah hanyalah lelucon.
Tap tap tap.
Langkah sepatu boot Lin Yuan bergema di area parkir bawah tanah yang sepi.
Udara di sini memang terasa panas dan bau bensin cukup menyengat hidung.
Deretan mobil mewah terparkir rapi di bawah cahaya lampu neon yang agak redup.
Lin Yuan berjalan santai sambil bersiul pelan menyusuri lorong beton tersebut.
Dia menemukan sebuah sudut yang cukup tersembunyi di dekat pilar besar.
Tanpa pikir panjang, Lin Yuan duduk bersandar di pilar itu dan meregangkan kakinya.
Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus rokok yang sudah lecek.
Ctak.
Suara pemantik api berbunyi memecah keheningan parkiran bawah tanah.
Lin Yuan menghembuskan asap rokoknya ke udara dengan wajah sangat puas.
'Pekerjaan ini benar benar surga dibandingkan harus menghindari peluru setiap hari.'
Dia memejamkan mata dan bersiap untuk tidur siang di hari pertamanya bekerja.
Namun ketenangannya hanya bertahan selama sepuluh menit.
Brak brak brak.
Suara pukulan pada benda logam terdengar dari arah deretan mobil di sebelah kiri.
Lin Yuan membuka sebelah matanya dengan malas karena merasa terganggu.
Dia mematikan rokoknya dan berjalan mendekati sumber suara tersebut.
Seorang wanita muda berseragam kantor sedang menendang ban sebuah mobil sedan merah dengan kesal.
Wanita itu mengenakan kemeja putih ketat yang kancing atasnya terbuka sedikit.
Keringat membasahi keningnya, membuat beberapa helai rambut menempel di wajahnya yang cantik dan imut.
Rok kerjanya yang sebatas paha sedikit tersingkap saat dia menendang ban mobil itu lagi.
Dia memiliki proporsi dada yang luar biasa besar untuk ukuran tubuhnya yang mungil.
Kacamata berbingkai bulat bertengger di hidungnya, menambah kesan polos pada dirinya.
"Aduh, kenapa harus mogok sekarang sih."
Wanita itu menggerutu dengan suara lembut yang terdengar hampir menangis.
Dia menunduk untuk melihat bagian bawah mobilnya, membuat kemejanya semakin mengetat di bagian dada.
Pemandangan itu membuat Lin Yuan mau tidak mau menghentikan langkahnya sejenak untuk menikmati pemandangan indah.
'Grup Shen benar benar sarangnya wanita cantik dengan tubuh mematikan.'
Lin Yuan berdeham pelan untuk menyadarkan wanita itu akan kehadirannya.
"Ada yang bisa kubantu, Nona berkacamata?"
Wanita itu terkejut dan langsung berdiri tegak sambil merapikan roknya yang berantakan.
Wajahnya memerah malu karena tertangkap basah sedang mengamuk pada mobilnya sendiri.
"Ah, kamu penjaga keamanan baru itu ya?"
Dia menatap Lin Yuan dengan mata bulatnya yang berkedip cepat.
"Mobilku tiba tiba tidak mau menyala, padahal aku harus segera mengantar dokumen ini ke luar kota."
Lin Yuan berjalan mendekat dan bersandar di kap mobil merah tersebut.
"Buka kap mesinnya, biar montir tampan ini yang memeriksanya."
Wanita itu buru buru membuka tuas kap mesin dari dalam mobil.
Lin Yuan mengangkat kap mesin dan melihat ke dalam dengan tatapan menilai.
Bukan mesinnya yang dia perhatikan, tapi wangi parfum manis dari wanita yang berdiri di sebelahnya.
"Namamu siapa, Nona cantik yang sedang terburu buru?"
Lin Yuan bertanya sambil berpura pura memeriksa beberapa kabel di dekat aki mobil.
"Aku Su Mengting, sekretaris pribadi Nona Shen."
Su Mengting menjawab dengan suara gugup karena jarak mereka yang cukup dekat.
Dia bisa melihat dengan jelas otot lengan Lin Yuan yang menonjol dari seragam sempitnya.
Ada bekas luka melintang yang mengintip dari balik kerah baju Lin Yuan, membuatnya terlihat liar dan berbahaya.
"Sekretaris pribadi ya, pantas saja kau terlihat sangat sibuk dan menggemaskan."
Lin Yuan melontarkan godaan santai tanpa mengalihkan pandangannya dari mesin mobil.
Wajah Su Mengting semakin merah seperti kepiting rebus mendengar pujian tiba tiba itu.
"Ka-kamu jangan bicara sembarangan seperti itu, hmpp."
Su Mengting memalingkan wajahnya yang memanas ke arah lain.
Lin Yuan tertawa kecil melihat reaksi polos dari sekretaris mungil ini.
Dia mencabut sebuah kabel busi yang ternyata hanya longgar dan memasangnya kembali dengan kencang.
"Coba nyalakan sekarang, Mengting."
Lin Yuan memanggil nama depannya dengan nada akrab seolah mereka sudah saling kenal bertahun tahun.
Su Mengting masuk ke dalam mobil dan memutar kunci kontaknya dengan ragu ragu.
Brummm.
Mesin sedan merah itu langsung menyala dengan halus tanpa masalah.
Mata Su Mengting berbinar senang dan dia langsung keluar dari mobil.
"Wah, kamu hebat sekali, terima kasih banyak ya."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!