Bab 1
Terjaga di Gubuk Cibungur
"Ma... Mama nggak apa-apa? Kenapa matanya beda?"
"Jangan panggil dia Mama. Dia bukan Mama kita."
Suara kedua terdengar lebih keras, tetapi getarnya tak bisa disembunyikan. Disusul bunyi sesuatu yang bergesek di lantai, lalu embusan napas dua anak yang sama-sama ditahan.
Karina membuka mata.
Rasa sakit langsung menghantam belakang kepalanya. Pandangannya berputar, perutnya melilit kosong, dan tulang punggungnya seolah ditusuk satu per satu oleh anyaman tikar kasar di bawah tubuhnya.
Ia tidak mengenali langit-langit rendah di atasnya.
Bambu penyangga yang menghitam oleh asap. Atap rumbia dengan lubang kecil di dekat sudut. Dinding tanah yang lembap dan bernoda kehijauan. Udara dini hari masuk dari celah jendela tanpa kaca, membawa bau tanah basah, abu dingin dari tungku, dan kandang ayam.
Kukuruyuk terdengar jauh di luar.
Ini bukan kamar kosnya. Bukan pula laboratorium tempat ia terakhir kali memeriksa kultur sampai lewat tengah malam.
Karina mengangkat siku untuk bangun.
"Jangan bergerak!"
Sebuah sapu melesat ke depan.
Ujung lidi yang sudah mekar dan berbulu menggesek lehernya. Kulit di bawah rahangnya terasa perih. Karina membeku dengan satu telapak tangan masih menekan lantai.
Di dekat pintu berdiri seorang anak laki-laki yang terlalu kurus untuk usianya. Kedua tangannya menggenggam gagang sapu sekuat tenaga. Buku-buku jarinya memutih, bahunya terangkat, dan kedua kakinya terbuka dalam kuda-kuda yang goyah.
Mungkin enam tahun, pikir Karina.
Anak itu mengenakan kaus lengan panjang yang kebesaran dan celana kusam dengan lutut penuh tambalan. Rambutnya berantakan. Ada lebam kekuningan di pelipisnya, sementara satu garis kebiruan menyembul dari balik kerah.
Namun yang membuat dada Karina tercekat bukan luka-luka itu.
Tatapan anak tersebut terlalu siap untuk disakiti.
Di belakangnya, seorang bocah yang sedikit lebih kecil mencengkeram bagian belakang kaus sang kakak. Wajahnya pucat di balik lapisan debu. Bulu matanya basah. Satu tangannya menutup mulut, tangan yang lain menekan perutnya sendiri.
Kausnya terangkat sedikit. Kulit di atas pusarnya memerah oleh tekanan jemari yang berusaha membungkam lapar.
Kruuk.
Bunyi itu kecil, nyaris tenggelam oleh kokok ayam. Bocah tersebut tetap tersentak. Ia buru-buru menekan perut lebih kuat, lalu melirik Karina dengan ketakutan seolah tubuhnya baru saja melakukan kesalahan besar.
"Maaf," bisiknya.
Hanya karena lapar, anak itu meminta maaf.
Karina menahan napas. Tenggorokannya mendadak panas.
"Lucas, jangan bicara," ujar anak yang memegang sapu. Ia bergeser setapak, menutup adiknya lebih rapat. "Di belakang Kakak."
Lucas.
Nama itu jatuh di benak Karina seperti batu ke permukaan air. Riak pertama belum hilang ketika nama lain muncul dari tempat yang tak ia kenali, lengkap dengan wajah, suara, dan serpihan kejadian.
Nathan.
Nathan Wijaya dan Lucas Wijaya.
Tidak mungkin.
Karina memejamkan mata, tetapi gelombang ingatan telanjur menerjang. Sebagian adalah miliknya sendiri: meja laboratorium, aroma alkohol, layar ponsel yang menyala di kamar gelap, dan novel daring yang ia baca sampai pagi. Sebagian lagi terasa asing dan kotor di dalam kepalanya: pintu yang dibanting, uang yang disembunyikan, tangis anak-anak, serta sapu yang sama ketika diayunkan ke betis kecil.
Napas Karina tersangkut.
Ia mengenal adegan ini.
Desa Cibungur. Rumah reyot di kaki pegunungan. Dua bocah dari keluarga Wijaya yang dibuang ke kampung bersama ibu tiri mereka atas dalih belajar hidup sederhana.
Dan perempuan yang tubuhnya kini ia tempati adalah Karina Tanaya, ibu tiri jahat dalam novel *Dendam Sang Konglomerat*.
Karakter kecil yang dibenci setiap pembaca.
Perempuan yang melampiaskan amarah kepada dua anak karena merasa ditelantarkan keluarga suaminya. Perempuan yang menyembunyikan uang kiriman, membiarkan dapur kosong, lalu menghukum anak-anak setiap kali mereka menangis lapar.
Kelak, semua perbuatannya akan terbongkar.
Sebastian Wijaya akan datang menagih satu per satu. Dalam cerita itu, Karina kehilangan tangan yang pernah memukul, kaki yang pernah menendang, lalu mati sendirian di gunung tanpa seorang pun bersedia mencari jasadnya.
Rasa dingin menjalar dari tengkuk hingga ujung kaki.
"Kak," Lucas merengek sangat pelan. "Dia kenapa?"
"Jangan lihat dia."
Nathan mengatakannya seperti perintah, tetapi matanya sendiri tak lepas dari Karina. Sapu itu tetap terangkat. Tubuh kecilnya gemetar karena takut, kedinginan, atau terlalu lama menahan berat gagangnya.
Karina menelan ludah. Bibirnya pecah dan rasa asin darah menyentuh lidah.
Tak ada gunanya memikirkan kematiannya sekarang.
Di depannya ada dua anak yang yakin satu gerakannya akan berakhir dengan pukulan.
Perlahan, Karina menurunkan siku. Ia tidak berdiri. Ia bahkan menggeser tubuh menjauh dari tikar dan duduk di sudut dinding, memberi jarak selebar mungkin di ruangan sempit itu.
Nathan mengikuti setiap gerakannya dengan ujung sapu.
"Aku nggak akan mendekat," kata Karina.
Suaranya serak. Kedua bocah itu tersentak juga.
Ia mengangkat kedua tangan sampai telapak tangannya terlihat kosong, lalu meletakkannya di atas paha. Tidak ada gerakan mendadak. Tidak ada tangan yang terangkat lebih tinggi daripada bahu.
"Sapunya boleh diturunkan. Berat, kan?"
Nathan menggeleng cepat.
"Nggak berat."
Gagangnya bergetar semakin jelas.
Lucas menyentuh siku kakaknya. "Kak Nathan..."
"Aku kuat."
Jawaban itu terlalu tergesa. Nathan mengatupkan rahang seperti seorang anak yang pernah belajar bahwa terlihat lemah berarti memberi orang lain kesempatan untuk menyakiti.
Karina tidak membantah. Tatapannya jatuh pada kaki Lucas yang menyembul di balik tubuh kakaknya.
Celana bocah itu berhenti di atas mata kaki. Pada tulang keringnya terdapat luka memanjang yang mengering tanpa balutan. Keropengnya pecah di bagian tengah, dikelilingi kulit kemerahan. Di betis satunya ada dua garis lama berwarna keunguan.
Potongan ingatan asing menyambar lagi.
Suara anak menangis. Sebatang ranting lentur di tangan perempuan. Pintu dapur dikunci dari luar.
Karina memalingkan wajah. Lambungnya bergolak meski kosong.
Tubuh ini yang melakukannya.
Bukan dirinya, tetapi rasa ngeri di mata kedua anak itu melekat pada wajah yang sekarang ia miliki. Kalau ia meminta mereka percaya hanya karena jiwa di dalam tubuh ini telah berubah, itu sama saja menyuruh luka menutup karena pelakunya mengucapkan satu kalimat.
Tidak ada anak yang berutang kepercayaan kepadanya.
"Aku minta maaf," ucap Karina.
Nathan berkedip. Sesaat saja, ujung sapu turun beberapa sentimeter. Kemudian ia seperti tersadar dan kembali mengangkatnya.
"Bohong."
Satu kata itu begitu pelan, tetapi tepat mengenai dada Karina.
"Iya," jawabnya. "Kalian boleh menganggap aku bohong."
Nathan tampak kebingungan. Barangkali ia sudah menyiapkan diri menghadapi bentakan, bukan persetujuan.
Karina menarik napas perlahan. "Tapi mulai sekarang, aku nggak akan memukul kalian lagi."
"Kemarin juga bilang begitu," sahut Nathan.
Lucas langsung menarik bajunya, seakan ucapan tersebut terlalu berbahaya. "Kak, jangan. Nanti dia marah."
Karina menggigit bagian dalam pipinya.
Ingatan itu muncul tanpa diminta. Perempuan sebelum dirinya pernah tersenyum, menjanjikan makanan, lalu menyuruh anak-anak berdiri di luar karena mereka menjatuhkan mangkuk. Berapa kali janji sederhana dipakai sebagai perangkap?
"Aku nggak marah," katanya. "Kamu benar. Kalau aku sudah pernah berbohong, kalian nggak perlu percaya sekarang."
Ruangan kembali sunyi.
Tetes air jatuh dari sudut atap ke baskom retak. Tik. Tik. Tik.
Lucas mengintip dari bahu kakaknya. Matanya merah, pipinya cekung, dan helaian rambut menempel di kening yang berkeringat. Pagi di pegunungan sedingin ini, tetapi wajah bocah itu tampak terlalu panas.
Karina baru menyadari napasnya pendek-pendek.
"Lucas sakit?"
Nathan langsung merapatkan tubuh. "Nggak."
"Keningnya berkeringat."
"Dia nggak sakit."
"Kak..." Lucas bersandar pada punggung Nathan. Kelopak matanya turun sesaat. "Aku cuma dingin."
Nathan meraih tangan adiknya tanpa melepaskan sapu. Telapak kecil itu menempel ke pipi Lucas, meniru cara orang dewasa memeriksa demam, lalu buru-buru ditarik kembali.
Wajahnya berubah.
Ia tahu adiknya panas.
Namun ketakutan pada Karina lebih besar daripada ketakutan pada demam itu sendiri.
Karina menggeser pandangannya ke pintu. Tak ada obat. Tak ada air hangat. Ia bahkan belum tahu di mana sumber air terdekat. Tubuhnya sendiri lemas karena tiga hari hanya mendapat beberapa suap makanan, sebuah ingatan yang terasa seperti ironi kejam: perempuan itu menahan lapar demi mengasihani diri, tetapi tetap membiarkan dua anak kecil kelaparan bersamanya.
Ia harus memeriksa suhu Lucas. Sesudah itu mencari air, makanan, dan apa pun yang bisa digunakan untuk membersihkan luka.
Namun ketika Karina baru mengangkat satu tangan, Nathan mengacungkan sapu lebih tinggi.
"Jangan!"
Karina berhenti.
"Aku cuma mau memeriksa dahinya."
"Nggak boleh."
"Aku nggak akan menyakitinya."
"Nggak boleh!"
Suara Nathan pecah. Lucas ikut terisak di belakangnya. Mereka mundur bersamaan sampai punggung Lucas menabrak dinding tanah. Tak ada lagi tempat untuk menjauh.
Karina segera menurunkan bahu. Ia membuka telapak tangannya, memperlihatkan jari-jari kosong, lalu duduk lebih rendah agar wajah mereka sejajar.
"Lihat tangan Mama," katanya selembut mungkin. "Nggak ada apa-apa. Sapunya taruh dulu, ya. Mama nggak akan mukul kalian lagi."
Kata itu membuat Nathan terdiam.
Mama.
Ada sesuatu yang melintas di wajahnya. Bukan percaya. Bukan pula lega. Hanya luka lama yang seolah baru disentuh di tempat paling sakit.
Genggamannya pada gagang sapu malah semakin erat.
Karina tidak bergerak selama beberapa detik. Setelah napas Nathan sedikit melambat, ia mengulurkan tangan setapak demi setapak, hanya ingin menyentuh kening Lucas dengan punggung jarinya.
Nathan mendadak menarik adiknya ke belakang.
Dua tubuh kecil itu terdesak ke sudut. Gagang sapu terangkat untuk kedua kalinya, tepat di antara telapak tangan Karina yang menggantung dan wajah Lucas yang memerah karena demam.
Bab 2
Tiga Bulan yang Kelam
"Aku nggak akan menyentuhnya."
Karina menarik tangannya lebih dulu.
Telapak yang tadi menggantung di udara ia letakkan di lantai, jauh dari kedua anak itu. Nathan masih mengacungkan sapu, tetapi tidak lagi berteriak. Napasnya terdengar berat. Lucas menempel di punggung sang kakak sambil menggigil.
"Kalian boleh tetap di sana," lanjut Karina. "Aku yang akan menjauh."
Ia menyeret tubuhnya kembali ke dekat tikar. Gerakan kecil itu membuat kepalanya berdenyut. Karina menahan dinding agar tidak roboh, lalu sengaja memalingkan wajah dari mereka.
Satu menit berlalu.
Bunyi gagang sapu yang menyentuh lantai akhirnya terdengar.
Karina tidak menoleh. Ia menunggu sampai derit langkah kecil berhenti di seberang ruangan, barulah ia berkata, "Tadi malam kepalaku terbentur. Ada banyak hal yang nggak kuingat."
Tak ada jawaban.
"Kalian sudah tinggal di sini berapa lama?"
"Nggak tahu," sahut Lucas lirih.
Nathan segera mendesis, "Jangan jawab."
Lucas kembali diam. Beberapa detik kemudian, jemarinya terangkat diam-diam. Tiga jari kurus muncul dari balik bahu Nathan.
Tiga bulan.
Karina menunduk. Serpihan ingatan yang bukan miliknya menyusun jawaban sebelum ia sempat bertanya lagi.
Tiga tahun lalu, tubuh ini menikah dengan Sebastian Wijaya melalui perkenalan keluarga. Bukan pernikahan yang hangat, bukan pula rumah yang dibangun bersama. Ketika perebutan kekuasaan di keluarga Wijaya memanas, Susan memakai alasan mendidik anak agar tahan hidup susah untuk mengirim Karina dan dua anak itu ke Cibungur, kampung leluhur keluarga suaminya.
Sebastian tetap bekerja jauh. Karina ditinggalkan menghadapi rumah bocor, sumur, dan tatapan orang kampung dengan dua anak yang bahkan bukan darah dagingnya.
Ia marah karena merasa dibuang.
Lalu ia memilih sasaran yang tidak mampu melawan.
Karina mengepalkan tangan di atas lutut. Kecewa kepada keluarga suami bisa ia pahami. Kesepian dan marah juga bisa ia pahami. Namun tidak ada satu pun yang bisa mengubah kelaparan dua bocah menjadi sesuatu yang pantas.
"Siapa yang membuat luka di kaki Lucas?" tanyanya.
Tubuh Nathan kembali tegang.
Karina sudah mendapatkan jawabannya.
Ia bangkit perlahan. Nathan langsung meraih sapu, tetapi Karina menunjuk ke arah pintu lain di sudut ruangan.
"Aku mau cari makanan. Kalian nggak perlu ikut."
Ruangan di balik pintu itu ternyata dapur. Lebarnya tak lebih dari dua rentang tangan orang dewasa. Sebuah tungku tanah berdiri di bawah jendela, penuh abu dingin. Panci aluminium yang penyok digantung pada paku. Di sebelahnya ada tempayan air dengan dasar yang hampir terlihat.
Karina membuka tong beras.
Hanya ada segenggam butir putih di bagian dasar, terlalu sedikit untuk tiga orang. Stoples garam tinggal separuh. Tidak ada telur, tidak ada minyak, tidak ada sayuran segar. Di atas meja bambu tergeletak setengah singkong yang ujungnya mengering.
Itu saja.
Lambung Karina kembali berkontraksi. Ia menekan perutnya, lalu menatap singkong itu cukup lama.
Di halaman sempit, udara gunung menggigit kulit. Sumur berada beberapa langkah dari pintu dapur. Karina menurunkan ember, tetapi tali kasar nyaris lepas dari telapak tangannya yang lemas.
"Bukan begitu."
Suara Nathan muncul dari ambang pintu.
Karina menoleh. Anak itu berdiri dengan Lucas di belakangnya. Sapunya sudah tidak dibawa, meski tubuhnya masih siap mundur.
"Harus pelan," kata Nathan. "Kalau miring, embernya nyangkut."
"Begini?"
Karina mengendurkan tali sedikit demi sedikit. Ember menyentuh air dengan bunyi cipratan. Ia memiringkan pergelangan, menunggu ember tenggelam, lalu menariknya kembali.
"Iya," jawab Nathan singkat.
Karina mengangkat ember ke bibir sumur. Air tumpah mengenai sandalnya dan membuat jari kakinya mati rasa.
"Terima kasih sudah mengajariku."
Nathan segera memalingkan wajah. "Aku cuma nggak mau embernya rusak."
"Tetap saja, terima kasih."
Anak itu tidak membalas. Namun ketika Karina membawa air masuk, ia tidak menarik Lucas menjauh.
Baru saja ember diletakkan, perut Lucas kembali berbunyi.
Bocah itu tersentak. Tangannya buru-buru menutup mulut, lalu tubuhnya meringkuk seolah bunyi lapar tadi adalah kenakalan yang harus segera ia sembunyikan. Matanya terpaku pada tangan Karina, menunggu tangan itu terangkat.
Karina berhenti bernapas sesaat.
Ia berjongkok perlahan, tetap membiarkan jarak di antara mereka. "Lapar itu bukan salahmu."
Lucas tidak menjawab. Jemarinya masih menekan bibir sampai memutih.
Karina mengulurkan tangan sedikit demi sedikit. Nathan mengawasi dari samping, bahunya menegang, tetapi kali ini ia tidak mengambil sapu. Ketika Lucas tidak mundur, Karina menyentuh puncak kepalanya dengan ujung jari.
Hanya satu usapan ringan.
Lucas memejamkan mata dan mengecilkan bahu. Namun tidak ada tamparan yang menyusul. Saat ia kembali membuka mata, tangan Karina sudah turun dan perempuan itu telah berbalik ke meja bambu untuk menyiapkan singkong.
Karina mengupas bagian singkong yang mengeras, membilasnya, lalu membelah bagian yang masih layak menjadi dua. Setelah direbus hingga lunak, ia meletakkan dua potong itu di piring seng.
"Makan."
Lucas menatap singkong, lalu menatap Karina. "Buat... kami?"
Pertanyaan itu keluar dengan sangat hati-hati, seakan makanan di atas piring bisa ditarik kembali jika suaranya terlalu keras.
Nathan menyikut adiknya pelan.
"Buat kalian," jawab Karina. "Satu untuk Nathan, satu untuk Lucas."
"Terus... kamu?"
"Aku belum lapar."
Perutnya langsung berbunyi, panjang dan memalukan.
Lucas membelalakkan mata. Nathan menatapnya tanpa berkedip. Untuk sesaat, tak ada satu pun yang bergerak.
Karina menahan senyum pahit. "Perutku berisik, tapi aku masih bisa menunggu. Kalian makan dulu."
Nathan tidak mengambil bagiannya. Ia mematahkan singkong milik Lucas menjadi dua, memberikan potongan lebih besar kepada sang adik, lalu meletakkan sisanya kembali di piring.
"Kak Nathan juga makan," protes Lucas.
"Kamu sakit."
"Tapi Kakak lapar."
"Nggak."
Perut Nathan membantah dengan bunyi pelan.
Lucas menatap kakaknya, lalu membagi lagi potongan besar di tangannya. Hasilnya tak sama rata dan ujung singkong hancur di antara jemarinya, tetapi ia tetap menyodorkan separuh.
"Kita sama-sama."
Karina memalingkan wajah ke tungku. Matanya terasa panas.
Dua anak yang hampir tak punya apa-apa masih tahu cara berbagi. Orang dewasa yang seharusnya menjaga mereka justru mengambil semuanya.
Ia menuangkan air rebusan yang hangat ke dua cangkir. Nathan baru membiarkan Lucas makan setelah Karina meneguk air dari cangkirnya sendiri, seolah memastikan tidak ada sesuatu yang berbahaya di dalamnya.
Mereka menghabiskan singkong tanpa bersuara.
Menjelang siang, cahaya masuk lebih terang melalui celah dinding. Lucas duduk di dekat pintu dapur, lututnya ditekuk ke dada. Keringat masih mengilat di atas bibirnya.
Karina mengambil kain bersih yang ditemukannya di dasar lemari. Ia membasahinya dengan sisa air hangat, lalu berjongkok beberapa langkah dari anak itu.
"Lucas, boleh aku memeriksa keningmu?"
Bocah itu langsung melihat Nathan.
Nathan menatap kain di tangan Karina. "Buat apa?"
"Kalau dia demam, badannya harus dibersihkan dengan air hangat. Nanti aku cari obat."
"Nanti kapan?"
Pertanyaan Nathan terdengar seperti tuduhan. Mungkin ia pernah mendengar janji yang sama dan menunggu sampai demam Lucas turun sendiri.
"Setelah aku tahu tempat beli obat dan punya uang untuk membayarnya," jawab Karina jujur. "Kalau nggak bisa hari ini, aku akan cari cara lain. Tapi aku akan pergi."
Nathan masih ragu. Lucas mengusap hidung dengan punggung tangan, lalu menundukkan kepala sedikit.
Karina tidak segera maju. "Boleh?"
Lucas mengangguk kecil.
Ia mendekat hanya sejauh yang diizinkan. Punggung jarinya menyentuh rambut lembap, kemudian kening bocah itu. Panas, tetapi tidak setinggi yang ia takutkan.
Lucas memejamkan mata.
Tangannya terangkat untuk menutup kepala, refleks menahan pukulan. Namun sentuhan Karina tetap ringan. Tidak ada tamparan. Tidak ada kuku yang menjambak rambutnya.
Karina mengusap puncak kepalanya satu kali, sangat pelan, lalu segera mundur.
Ketika Lucas membuka mata, perempuan itu sudah kembali ke dekat tungku. Jarak aman di antara mereka utuh.
Nathan meraih bahu adiknya. Tatapannya kepada Karina belum lunak, tetapi sapu tetap bersandar di dalam rumah.
Hari berjalan lambat. Karina menjemur tikar yang lembap, membersihkan abu, dan menyisir setiap sudut untuk mencari bahan makanan. Ia menemukan beberapa lembar uang receh di saku jaket, tetapi tak cukup untuk banyak hal. Ia juga menemukan sebuah HP lama di bawah tumpukan kain. Layarnya retak pada satu sudut dan baterainya tinggal sedikit.
Saat senja membuat dinding tanah berwarna kelabu, ketiganya kembali berada di ruangan depan. Lucas tertidur sambil bersandar pada Nathan. Nathan sendiri duduk tegak, berusaha tidak ikut terlelap.
Karina membuka lagi lemari rendah di dekat tikar.
"Harus ada yang tersisa," gumamnya sambil membongkar tumpukan pakaian. "Beras, uang, apa saja."
HP di atas meja mendadak bergetar.
Suara dengungnya kasar dan nyaring dalam rumah yang sunyi.
Lucas terbangun. Nathan membeku. Wajah kedua anak itu kehilangan warna pada saat yang sama.
Karina meraih HP tersebut.
Tak ada nama pada layar retak itu. Hanya deretan angka dari nomor yang tidak disimpan.
Namun tubuh yang ditempatinya mengenali nomor tersebut lebih dulu daripada pikirannya.
Telapak tangan Karina langsung berkeringat.
Itu dia.
Bab 3
Panggilan Dingin dan Sebutir Permen
HP itu terus bergetar di telapak tangan Karina.
Nathan menatap layar retak tersebut, lalu menarik Lucas mendekat. Reaksi mereka membuat Karina semakin yakin tentang siapa yang menelepon.
Sebastian Wijaya.
Suaminya. Laki-laki yang dalam novel akan menjadi orang pertama yang menghancurkannya.
Karina menarik napas dan menekan tombol hijau.
"Halo?"
Tidak ada sapaan dari seberang. Hanya bunyi samar pintu tertutup, lalu suara laki-laki yang rendah dan dingin.
"Bagaimana keadaan di sana?"
Karina melirik dua anak di seberang meja. "Baik."
"Anak-anak?"
"Mereka juga baik."
Sunyi selama dua detik.
Jawaban yang terlalu cepat. Karina menyadarinya ketika telapak tangannya mulai basah. Sebastian belum menuduh apa pun, tetapi setiap jeda darinya terasa seperti mata yang sedang memeriksa kebohongan.
"Mereka menurut?" tanyanya.
Nathan menunduk. Jemarinya meremas bahu Lucas.
Karina berpaling agar anak-anak itu tak melihat kepanikan di wajahnya. Ia tak mungkin mengatakan mereka ketakutan, kelaparan, dan terluka. Namun menyerahkan HP sekarang juga terasa seperti meletakkan keselamatannya di tangan dua anak yang punya semua alasan untuk membencinya.
"Aku sakit beberapa hari ini," katanya, memilih separuh kebenaran. "Jadi belum sempat terlalu banyak mengurus mereka."
"Sakit apa?"
"Pusing. Tadi malam kepalaku juga terbentur. Ada beberapa hal yang terasa... kabur."
Sebastian tidak langsung menjawab.
Karina mendengar gesekan kain dan satu embusan napas yang tertahan. Ia membayangkan seorang pria di balik meja besar, menimbang setiap kata dari perempuan yang secara hukum adalah istrinya, tetapi nyaris tidak ia kenal.
"HP-nya berikan kepada Nathan," ucap Sebastian.
Jantung Karina jatuh ke perut.
Nathan mengangkat wajah. Lucas memegang lengan kakaknya dengan kedua tangan.
"Mereka baru mau tidur," jawab Karina. "Lucas agak mengantuk."
"Nathan belum."
Itu bukan pertanyaan.
Karina menatap anak sulung tersebut. Nathan balas menatap tanpa berkedip. Ada tantangan kecil di sana, tetapi lebih banyak ketakutan. Jika ia mendekat sambil membawa HP, anak itu mungkin akan meraih sapu lagi.
"Dia sedang tidak mau bicara," kata Karina. Setidaknya bagian itu bukan kebohongan. "Jangan dipaksa dulu."
Hening kembali menekan telinganya.
"Lakukan yang seharusnya," ujar Sebastian akhirnya.
Sambungan terputus.
Karina menurunkan HP perlahan. Keringat dingin membasahi belakang lehernya meski udara Cibungur menusuk sampai tulang.
Ia belum tahu apakah kalimat tadi peringatan atau sekadar perintah dari laki-laki yang memang bicara seperti itu kepada semua orang. Yang jelas, ia hanya menunda pertanyaan. Cepat atau lambat Sebastian akan mendengar kebenaran dari mulut anak-anak sendiri.
Karina harus memperbaiki apa yang masih bisa diselamatkan sebelum hari itu tiba.
Lucas memecah kesunyian. "Papa marah?"
"Aku nggak tahu."
"Nanti kami dimarahin?"
Karina menatapnya. "Kenapa aku harus marah?"
Bocah itu segera menutup mulut.
Nathan memeluk adiknya dari samping. "Kami nggak dengar apa-apa."
Karina nyaris mengatakan bahwa mereka tidak perlu takut. Kalimat itu terasa terlalu murah setelah semua janji yang pernah diingkari wajah ini.
"Tidurlah," katanya akhirnya. "Besok kita cari makanan dan obat."
Pagi berikutnya, Karina menemukan sebuah kotak besi di balik lipatan sarung pada lemari bawah. Kuncinya terselip di celah papan. Di dalamnya ada beberapa lembar uang kusut, jauh lebih sedikit daripada yang seharusnya dimiliki tiga orang untuk bertahan hidup.
Namun cukup untuk hari ini.
Ia mengajak Nathan dan Lucas berjalan ke warung di ujung desa. Jalan tanah masih basah oleh embun malam. Batu-batu kecil menonjol dari lumpur, sementara nyamuk beterbangan di dekat semak. Kabut tipis menggantung di atas sawah bertingkat.
Nathan berjalan di antara Karina dan Lucas.
Setiap kali jalan menyempit, ia mendorong adiknya ke sisi yang jauh dari Karina. Ketika Lucas terpeleset, Nathan lebih dulu menangkap lengannya meski Karina sudah mengulurkan tangan.
"Aku bisa membantunya," kata Karina.
"Aku juga bisa."
Nathan tidak menatapnya.
Karina menarik tangannya kembali. "Baik. Pelan-pelan saja."
Warung itu berdinding papan, dengan mi instan, saset kopi, sabun, dan bumbu kemasan bergelantungan di bawah terpal. Seorang perempuan berkain batik sedang menata telur ketika mereka datang.
"Pagi, Mpok," sapa Karina.
Perempuan itu mengangkat alis. Tatapannya berpindah dari Karina ke dua anak kurus di belakangnya.
"Pagi, Bu Karina. Tumben ramai-ramai."
Nada suaranya terdengar biasa, tetapi matanya berhenti cukup lama pada lebam di pelipis Nathan.
Karina menahan dorongan untuk menutupi anak itu. Menyembunyikan luka hanya akan membuatnya tampak semakin bersalah.
"Ada salep antiseptik dan kain kasa?"
"Buat siapa?"
"Anak-anak."
Mpok Ijah diam sebentar. "Ada. Nggak banyak."
Ia mengeluarkan tube kecil dan sebungkus kasa dari kotak plastik di belakang rak. Tatapannya masih sarat pertanyaan, mungkin juga penilaian. Karina bisa merasakan kabar tentang ibu tiri jahat yang tiba-tiba membeli obat akan sampai ke beberapa rumah sebelum siang.
"Beras setengah kilo, telur empat, tempe satu, sama minyak yang kecil," kata Karina. Ia menghitung uangnya dua kali. "Sabun juga, Mpok."
Tangannya berhenti di dekat stoples bening berisi permen buah berbungkus warna-warni.
Lucas sedang menatapnya.
Begitu sadar Karina melihat, bocah itu buru-buru mengalihkan pandangan ke lantai. Kedua tangannya disembunyikan di belakang punggung, seakan keinginan sekecil itu pun harus disembunyikan.
"Permennya satu bungkus kecil," tambah Karina.
Lucas mendongak. Nathan justru mengerutkan kening.
Mpok Ijah memasukkan semuanya ke kantong plastik. "Uangnya pas-pasan, Bu. Yakin beli permen?"
"Yakin."
Perempuan itu menerima uang tanpa komentar lagi. Saat Karina berbalik, ia mendengar Mpok Ijah menghela napas pelan di belakang rak.
Mereka pulang melewati pematang. Setelah warung tak lagi terlihat, Karina berhenti di bagian jalan yang sepi. Ia meletakkan belanjaan, mengambil satu permen berwarna jingga, lalu berjongkok.
Bungkus plastiknya berkeresek di antara jari.
Mata Lucas mengikuti setiap gerakan.
Karina membuka permen itu dan menyodorkannya. "Untuk Lucas."
Bocah tersebut tidak membuka mulut. Ia menatap permen, kemudian memandang kakaknya.
"Ambil kalau mau," kata Nathan, masih waspada.
"Kak Nathan juga dapat?"
"Dapat," jawab Karina. "Tapi satu-satu."
Lucas melangkah maju. Bibirnya terbuka sedikit, lalu kembali tertutup ketika permen hampir menyentuhnya.
"Nggak dimarahin?"
"Nggak."
"Nggak disuruh bayar?"
Karina harus menekan kuku ke telapak tangan agar wajahnya tidak berubah. "Nggak. Ini memang untukmu."
Lucas akhirnya menerima permen itu dengan bibirnya.
Rasa manis menyentuh lidahnya. Tubuh kecilnya langsung kaku.
Sudah begitu lama sejak ia terakhir diberi sesuatu tanpa ancaman, sampai rasa buah yang sederhana itu terasa seperti manis pertama dalam ingatannya. Jemarinya yang sejak tadi terkepal perlahan terbuka. Matanya membesar, lalu mendadak penuh air.
Satu tetes jatuh ke pipinya.
Disusul tetes kedua.
Lucas tidak terisak. Ia hanya berdiri sambil mengulum permen, menangis tanpa mengerti kenapa dadanya sesak karena sesuatu yang enak.
"Sakit?" Karina bertanya cepat. "Rasanya aneh?"
Lucas menggeleng kuat-kuat. Air matanya semakin deras. "Manis."
Satu kata itu nyaris merobohkan Karina.
Nathan membuang muka ke arah sawah. Tenggorokannya bergerak saat menelan. Satu tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung baju Karina, siap menariknya jika ia mendekati Lucas. Setelah melihat adiknya tidak disakiti, kepalan kecil itu mengendur sedikit demi sedikit.
Karina tidak memeluk Lucas. Ia hanya menyeka satu tetes air mata dengan ibu jari setelah bocah itu mengangguk mengizinkan.
Lalu ia membuka permen kedua dan meletakkannya di telapak Nathan.
"Punyamu."
Nathan menatap benda kecil berwarna kuning itu. "Kenapa?"
"Karena kamu juga anak-anak."
Jarinya menutup di sekeliling permen, tetapi ia tidak langsung memakannya. "Aku simpan buat Lucas."
"Di bungkus itu masih ada. Yang ini milikmu."
Nathan memasukkannya ke saku, seolah belum siap memercayai bahwa sesuatu bisa benar-benar menjadi miliknya.
Sesampainya di rumah, Karina segera menanak nasi dan merebus air. Lucas duduk dekat tungku dengan sisa jejak air mata di pipi, sesekali menyentuh bibirnya sendiri. Nathan membantu mengeluarkan belanjaan tanpa diminta.
"Setelah makan, kita bersihkan luka Lucas," kata Karina.
"Luka Kak Nathan juga," celetuk Lucas.
Nathan menoleh tajam. "Dek."
"Tadi kena celana, terus basah lagi."
Karina mengambil sehelai celana lama dari tumpukan pakaian yang tadi sempat dijemurnya. Cahaya dari jendela dapur jatuh tepat ke noda gelap di ujung celana Nathan.
"Celanamu basah. Ganti dulu, ya."
"Nggak ada apa-apa."
Nathan mundur ketika Karina hendak menyerahkan pakaian pengganti. Ujung celana yang dipakainya tersangkut kaki bangku dan tertarik ke atas.
Pada betis kurus itu, kain menempel pada sebuah luka lama yang kembali terbuka. Darah segar merembes dari sela keropeng, jauh lebih parah daripada luka yang terlihat pada Lucas.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!