Bab 01 - Ketahuan di Rumah Sakit
"Bu Ratna, uang les Bima bulan ini kapan dibayar, ya? Sudah lewat lima hari."
Pesan WhatsApp itu masuk tepat ketika Ratna sedang mengganti seprai di salah satu kamar hotel kecil di daerah Kuningan. Tangannya yang tadi bergerak cepat langsung berhenti.
Ia membaca pesan itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Dadanya terasa berat.
Bukan karena ia tidak mau membayar. Ia hanya belum punya uangnya.
Gaji dari menjaga pasien baru cair dua hari lagi. Upah bersih-bersih hotel pun baru diberikan akhir minggu. Sementara uang belanja dari Hendra, suaminya, sudah habis untuk membeli obat darah tinggi Mama Sulastri, vitamin, susu Bima, dan kebutuhan rumah.
Ratna mengetik balasan dengan jari agak gemetar.
"Maaf, Bu Nisa. Nanti sore saya usahakan bayar. Jangan keluarkan Bima dulu dari kelas, ya. Anak itu suka sekali menggambar."
Ia menatap layar beberapa detik sebelum menekan kirim.
Begitu pesan terkirim, ia mengembuskan napas panjang.
"Bu Ratna, kamar 508 sudah?" tanya seorang supervisor dari ujung lorong.
"Sudah, Mbak. Saya tinggal turun."
Ratna merapikan kerudungnya, mengambil tas lusuh, lalu berjalan cepat ke lift karyawan. Usianya lima puluh tahun, tapi langkahnya masih cekatan. Sejak muda ia terbiasa bekerja. Pernah berdagang sayur di pasar, membuka warung makan kecil, membantu Hendra membangun usaha ritel sembako dari nol sampai punya belasan ruko.
Dulu orang bilang ia perempuan tangguh.
Sekarang, di rumah suaminya sendiri, ia lebih sering dipanggil jika ada cucian menumpuk, sayur belum matang, atau Bima belum dijemput dari les.
Hendra selalu berkata usaha sedang berat.
"Sabar dulu, Ratna. Toko banyak yang tutup. Cash flow kacau."
Ratna percaya.
Karena ia sudah percaya pada laki-laki itu sejak umur enam belas.
Ia percaya ketika Hendra tidak punya apa-apa. Ia percaya ketika Hendra minta ditemani merintis usaha. Ia percaya ketika Hendra memintanya berhenti mengurus warung karena anak mereka, Raka, butuh ibu di rumah.
Maka ketika uang belanja dikurangi, ia tidak protes.
Ketika harus bekerja diam-diam agar Hendra tidak merasa terbebani, ia tetap tidak protes.
Ia hanya berkata dalam hati, rumah tangga memang harus saling menolong.
Sore itu Ratna langsung menuju rumah sakit swasta tempat ia bekerja paruh waktu sebagai penjaga pasien. Seorang pasien lama, Bu Laras, meminta khusus agar Ratna yang menemaninya. Katanya, tangan Ratna telaten dan mulutnya tidak banyak mengeluh.
Saat memasuki lobi rumah sakit, Ratna mendengar dua perawat muda berbisik sambil menahan tawa.
"Tadi ada bapak-bapak panik banget. Katanya pacarnya hampir pingsan di apartemen."
"Iya, aku dengar. Usianya sudah lima puluhan, tapi gayanya masih kayak anak muda."
"Kasihan istrinya kalau tahu."
Ratna menunduk, malu sendiri mendengar pembicaraan seperti itu. Ia tidak suka ikut urusan orang. Apalagi soal hubungan laki-laki dan perempuan. Di usia seperti dirinya, hal semacam itu terasa jauh.
Ia dan Hendra sudah lama tidak benar-benar dekat sebagai suami istri. Hendra selalu pulang lelah. Kalau Ratna mencoba bicara sedikit manja, suaminya hanya berkata, "Kita sudah tua. Jangan macam-macam."
Ratna menerimanya.
Mungkin memang begitu pernikahan panjang.
Ia baru hendak menuju lift ketika suara laki-laki yang terlalu ia kenal membuat langkahnya membeku.
"Dok, pacar saya tidak apa-apa, kan?"
Ratna menoleh pelan.
Di depan ruang pemeriksaan kandungan, Hendra berdiri dengan wajah panik. Kemeja birunya kusut. Rambutnya berantakan. Satu tangannya mencengkeram lengan dokter.
Ratna merasa seluruh suara di lobi mendadak menjauh.
Pacar?
Hendra?
Ia refleks mundur ke balik pilar besar dekat lift. Tangannya mencengkeram tali tas.
Dokter itu berbicara dengan suara tenang. "Kondisinya tidak berbahaya. Tapi lain kali harus lebih hati-hati. Tubuh perempuan tidak bisa dipaksa seperti itu, Pak."
Wajah Hendra langsung lega.
"Iya, Dok. Saya janji tidak akan sekeras itu lagi. Yang penting dia baik-baik saja."
Ratna menutup mulutnya.
Perutnya terasa seperti dipukul.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka. Seorang perempuan keluar sambil menangis manja. Usianya sekitar tiga puluh lima. Rambutnya tertata, tas bermerek menggantung di lengan, pakaian mahal membungkus tubuhnya dengan rapi.
Clara.
Sekretaris Hendra.
Perempuan itu langsung menubruk dada Hendra.
"Mas Hendra jahat. Aku sudah bilang pelan-pelan. Lihat, aku sampai dibawa ke rumah sakit."
"Iya, sayang. Maaf. Aku panik tadi."
Sayang.
Ratna ingin maju. Ingin menampar wajah suaminya. Ingin bertanya kenapa.
Namun kakinya seperti dipaku.
Selama ini Hendra menolak menyentuhnya dengan alasan usia. Selama ini Hendra mengurangi uang rumah dengan alasan usaha turun. Selama ini Ratna menawar sayur di pasar agar hemat seribu dua ribu.
Sementara Clara memakai tas yang harganya mungkin cukup untuk membayar les Bima setahun.
Ratna mengeluarkan ponsel dari tas.
Tangannya gemetar saat membuka kamera.
Ia merekam.
Bukan karena ia kuat.
Karena jika ia tidak merekam, mungkin besok Hendra akan berkata ia salah lihat. Mungkin keluarganya akan menyebut ia perempuan tua yang cemburuan. Mungkin Mama Sulastri akan berkata, "Jangan buka aib suami."
Ratna terus merekam.
Hendra mengusap rambut Clara, lalu menunduk mencium keningnya.
"Anak kita bagaimana?" tanya Clara pelan. "Dia tadi nangis. Takut aku kenapa-kenapa."
Anak?
Ratna hampir menjatuhkan ponselnya.
Dari arah kursi tunggu, seorang anak laki-laki sekitar sepuluh tahun berlari mendekat. Wajahnya mirip Hendra saat muda. Anak itu memeluk pinggang Hendra tanpa ragu.
"Papa, Mama sudah sembuh?"
Hendra berjongkok dan memeluk anak itu.
"Mama baik-baik saja, Alif. Jangan nangis. Papa di sini."
Papa.
Mama.
Ratna tidak lagi mendengar apa pun setelah itu.
Yang ia lihat hanya tiga orang di depan ruang pemeriksaan itu. Hendra, Clara, dan anak laki-laki bernama Alif. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang utuh.
Lalu Ratna mengingat rumahnya sendiri.
Mama Sulastri yang selalu minta dilayani.
Raka yang masih menyuruhnya memasak seolah ia pembantu.
Maya, menantunya, yang menitipkan Bima tiap hari sambil pergi salon atau arisan.
Dan dirinya.
Istri sah yang sudah dua puluh delapan tahun menikah, tapi bahkan tidak tahu suaminya punya keluarga lain.
Air mata Ratna jatuh tanpa suara.
Ia menghapusnya cepat.
Tidak.
Ia tidak boleh menangis di sini.
Ratna menekan tombol berhenti pada rekaman. Ia menyimpan video itu, lalu mengirim salinannya ke akun email pribadinya. Setelah itu ia memasukkan ponsel ke tas dan menarik napas panjang.
Hendra masih tertawa kecil bersama Clara dan Alif.
Ratna menatap mereka dari balik pilar.
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia merasa rumah tangganya bukan retak.
Rumah itu sejak lama sudah rubuh.
Hanya ia yang masih berdiri di dalamnya, pura-pura atapnya belum jatuh.
Lift terbuka di belakangnya.
Ratna masuk dengan kaki dingin.
Di layar lift, angka lantai bergerak naik menuju ruang VIP tempat Bu Laras menunggunya.
Ratna menatap bayangannya di pintu lift yang mengilap.
Wajahnya pucat. Kerudungnya sederhana. Bajunya sudah pudar.
Namun matanya berbeda.
Ia tidak lagi tampak bingung.
"Aku akan bercerai," bisiknya.
Kali ini, ia tidak main-main.
Lift berhenti di lantai VIP, tapi Ratna tidak langsung keluar. Ia menekan tombol buka dengan jari yang masih dingin, memberi dirinya satu tarikan napas lagi.
Di lorong, seorang perawat menyapanya. Ratna membalas dengan anggukan. Ia berjalan seperti biasa, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Hanya Tuhan yang tahu betapa lututnya nyaris tidak kuat.
Sebelum masuk kamar Bu Laras, ia membuka galeri ponsel sekali lagi. Video itu ada. Suara Hendra ada. Wajah Clara ada. Suara Alif memanggil Papa juga ada.
Ratna menekan tombol kunci layar.
Selama puluhan tahun ia selalu pulang membawa sayur, obat, atau cucian.
Hari ini ia membawa bukti.
Sebelum mengetuk pintu kamar VIP, Ratna mengusap wajahnya dengan tisu. Ia tidak ingin Bu Laras melihatnya berantakan. Namun semakin kuat ia menghapus air mata, semakin jelas matanya memerah.
Ia pernah berpikir luka paling besar dalam hidup adalah lelah yang tidak dihargai.
Ternyata ada luka yang lebih sunyi: menyadari orang yang ia bela seumur hidup sudah lama membangun tempat pulang tanpa dirinya.
Bab 02 - Keputusan di Kamar VIP
"Bu Ratna, wajahmu pucat sekali."
Suara Bu Laras membuat Ratna tersadar. Ia sudah berdiri di depan ranjang pasien itu hampir satu menit tanpa bergerak.
Perempuan tua itu duduk bersandar di ranjang VIP, rambut putihnya disanggul rapi, kacamata bertengger di ujung hidung. Meski sedang dirawat karena jatuh di kamar mandi, matanya tetap tajam. Tidak banyak hal yang bisa disembunyikan dari Bu Laras.
Ratna memaksakan senyum.
"Tidak apa-apa, Bu. Mungkin capek."
"Capek bisa membuat orang berkeringat. Tapi matamu itu mata orang habis ditusuk."
Ratna menunduk.
Kalimat sederhana itu menghantam pertahanan terakhirnya.
Ia ingin berkata tidak ada apa-apa. Ingin bekerja seperti biasa. Mengambil baskom, mengelap tangan Bu Laras, merapikan selimut, menyiapkan air hangat. Rutinitas selalu membuatnya bertahan.
Tapi kali ini tubuhnya tidak patuh.
Tangannya gemetar.
Bu Laras menepuk sisi ranjang.
"Duduk."
"Bu, saya kerja dulu. Nanti perawat masuk..."
"Ratna."
Nada itu tidak keras, tapi membuat Ratna berhenti.
Ia duduk di kursi kecil dekat ranjang. Begitu tubuhnya menyentuh kursi, air matanya jatuh. Bukan satu dua. Deras. Diam-diam. Seperti sesuatu yang sudah lama penuh akhirnya tumpah.
Bu Laras tidak langsung bertanya.
Ia mengambil tisu dari meja kecil, lalu menyodorkannya.
"Suamimu?"
Ratna mengangkat wajah. Bibirnya bergetar.
"Iya, Bu."
"Selingkuh?"
Ratna menggenggam tisu sampai kusut.
"Lebih dari itu."
Ia membuka ponsel. Tangannya sempat ragu. Ada rasa malu yang mendadak menyergap. Malu karena rumah tangganya hancur. Malu karena selama ini ia tidak tahu. Malu karena perempuan lain memakai barang mahal dari uang yang mungkin seharusnya dipakai untuk keluarganya.
Namun Bu Laras menatapnya tenang.
"Jangan malu karena dosa orang lain, Nak."
Ratna menelan tangis.
Ia memutar video itu.
Di layar kecil, Hendra memeluk Clara. Anak laki-laki itu memanggil mereka Papa dan Mama.
Wajah Bu Laras perlahan berubah dingin.
"Astaghfirullah."
Ratna mematikan video sebelum selesai. Ia tidak sanggup mendengar suara Clara lagi.
"Saya menikah dengan Hendra dua puluh delapan tahun, Bu. Kami bersama sejak remaja. Saya bantu dia dari nol. Saya pikir kami sedang sama-sama susah. Saya kerja di hotel, jaga pasien, supaya uang rumah cukup. Ternyata..."
Suaranya patah.
"Ternyata dia punya keluarga lain."
Bu Laras diam beberapa detik.
"Kamu mau apa?"
Ratna mengusap pipinya.
"Saya mau cerai."
Ucapan itu keluar lebih tenang dari yang ia kira.
Bu Laras menatapnya lama. "Kamu yakin?"
"Kalau cuma perempuan lain, mungkin orang akan menyuruh saya sabar. Kalau cuma dia bosan dengan saya, mungkin mereka akan bilang saya sudah tua dan harus terima. Tapi dia punya anak, Bu. Anak yang usianya mungkin sepuluh tahun. Berarti ini bukan baru kemarin."
Ratna tertawa kecil. Pahit.
"Selama ini saya menabung receh untuk bayar les cucu, sementara dia membesarkan anak lain."
Bu Laras menghela napas.
"Jangan bergerak sendiri."
"Maksud Ibu?"
"Laki-laki yang berani hidup dua wajah selama bertahun-tahun biasanya sudah menyiapkan banyak kebohongan. Kalau kamu pulang sekarang, marah-marah, dia akan balik menuduhmu. Dia bisa bilang kamu salah paham. Dia bisa bilang video itu tidak membuktikan apa-apa. Keluarganya akan menekanmu."
Ratna menggigit bibir.
Semua itu terdengar terlalu mungkin.
Mama Sulastri pasti akan berkata, "Laki-laki bisa khilaf. Istri baik jangan mempermalukan suami."
Raka mungkin akan berkata, "Ma, jangan drama. Papa capek kerja."
Maya mungkin hanya bertanya siapa yang menjemput Bima kalau Ratna pergi.
Ratna menunduk.
"Saya tidak punya siapa-siapa, Bu."
Bu Laras menepuk punggung tangannya.
"Mulai hari ini, kamu punya aku."
Ratna terkejut.
"Bu, jangan. Saya tidak mau merepotkan."
"Aku sudah tua, bukan bodoh. Anakku punya tim legal. Perusahaan kami punya auditor. Kalau suamimu memindahkan harta, itu bisa dicari."
Ratna menggeleng cepat.
"Saya hanya penjaga pasien, Bu. Saya tidak enak..."
"Ratna, kamu merawatku lebih baik daripada keluarga sendiri. Kamu tidak pernah mengambil kesempatan walau tahu aku banyak uang. Kamu sabar ketika aku rewel. Kamu bahkan mengingat obatku lebih baik dari perawat tetap. Kalau aku tidak membantumu saat kamu jatuh, untuk apa aku punya anak kaya?"
Ratna tidak tahu harus menjawab apa.
Bu Laras mengambil ponselnya dari meja, lalu menelepon seseorang.
"Hanif, ke rumah sakit sekarang. Bawa orang legal dan satu orang audit. Tidak usah banyak tanya."
Suara di seberang tampak menjawab cepat.
Bu Laras melirik Ratna.
"Dan jangan berisik ke Arga dulu. Dia masih di Surabaya untuk rapat. Kalau dia tahu aku ikut urusan begini, dia pasti cerewet."
Ratna mendengar nama Arga. Ia tahu sedikit. Putra Bu Laras itu pemilik Wijaya Group, perusahaan besar yang punya gedung kantor di SCBD, hotel, properti, dan jaringan distribusi. Selama ini Bu Laras sering mengeluh karena anaknya terlalu sibuk dan belum menikah.
"Bu, sungguh tidak perlu sampai begitu."
"Perlu."
Bu Laras menutup telepon.
"Sekarang dengarkan aku baik-baik. Jangan pulang dengan wajah menangis. Jangan bicara soal video. Jangan menuduh dulu. Simpan semua bukti. Mulai malam ini, foto dokumen rumah, sertifikat, rekening, apa pun yang bisa kamu dapat. Kalau ada grup keluarga yang memerintahmu macam-macam, biarkan saja. Jawab seperlunya."
Ponsel Ratna berbunyi seolah dipanggil oleh ucapan itu.
Grup WhatsApp keluarga.
Raka: "Ma, nanti masak ayam kecap, ya. Aku capek banget."
Maya: "Ma, aku masih di salon. Tolong jemput Bima dari les sekalian ambil paket aku. Banyak banget, Ma."
Mama Sulastri: "Obat Mama habis. Jangan lupa beli. Kalau Mama kenapa-kenapa, kamu tanggung sendiri."
Hendra: "Kamu di mana? Dari tadi tidak angkat telepon."
Ratna menatap pesan-pesan itu.
Biasanya ia akan langsung panik. Membalas satu per satu. Menghitung uang di dompet. Berlari dari rumah sakit ke tempat les, lalu ke apotek, lalu pulang memasak.
Hari ini ia hanya membaca.
Bu Laras melihat layar itu dan tertawa pendek tanpa senyum.
"Hebat sekali mereka. Satu perempuan dijadikan tiang rumah, lalu semua orang pura-pura tidak tahu tiang itu bisa patah."
Ratna menarik napas.
Ia mengetik di grup.
"Malam ini saya ada urusan. Urus sendiri dulu."
Pesan terkirim.
Beberapa detik kemudian, grup itu meledak.
Raka menelepon.
Ratna menatap layar. Jarinya hampir menekan tombol terima.
Bu Laras memegang pergelangan tangannya.
"Tidak semua panggilan harus dijawab."
Ratna membiarkan telepon itu berhenti sendiri.
Lalu Hendra menelepon.
Nama suaminya muncul di layar. Mas Hendra.
Ratna memandangi nama itu lama.
Betapa anehnya. Nama yang selama puluhan tahun membuatnya merasa pulang, kini membuatnya ingin muntah.
Ia menolak panggilan itu.
Bu Laras tersenyum tipis.
"Bagus."
Ratna mengusap sisa air mata.
"Saya takut, Bu."
"Takut itu wajar."
"Saya sudah lima puluh. Tidak punya pekerjaan tetap. Tidak punya rumah atas nama sendiri. Kalau saya keluar, orang akan bilang saya bodoh. Mereka akan tanya untuk apa cerai di usia begini."
Bu Laras menatapnya tajam.
"Kalau kamu tetap tinggal, mereka akan terus hidup dari tubuhmu, waktumu, dan rasa bersalahmu. Umur lima puluh bukan alasan untuk dikubur hidup-hidup."
Ratna terdiam.
Di luar jendela, Jakarta mulai gelap. Lampu gedung menyala satu per satu. Kota tetap bergerak, tidak peduli ada seorang perempuan baru saja kehilangan rumah tangganya.
Namun di dalam kamar VIP itu, sesuatu dalam diri Ratna justru mulai berdiri.
Ponselnya berbunyi lagi.
Kali ini pesan dari Hendra.
"Jangan mulai cari masalah. Pulang sekarang."
Ratna membaca pesan itu.
Lalu ia mengetik pelan.
"Aku pulang nanti. Ada yang harus aku pikirkan."
Ia tidak menulis apa yang sebenarnya ingin ia katakan.
Bahwa ia sudah melihat semuanya.
Bahwa ia sudah merekam semuanya.
Bahwa mulai malam ini, Ratna bukan lagi istri yang bisa disuruh diam.
Ia menaruh ponsel di meja.
"Bu," ucapnya lirih.
"Ya?"
"Saya benar-benar mau cerai."
Bu Laras mengangguk.
"Kalau begitu, kita mulai dari bukti."
Ratna memandangi tangan Bu Laras yang keriput tapi hangat. Aneh sekali, pikirnya. Orang yang baru ia kenal beberapa bulan bisa bertanya apa yang ia inginkan, sementara keluarganya sendiri hanya bertanya apa yang harus ia kerjakan.
"Bu, kalau nanti saya goyah?"
Bu Laras menatapnya tanpa menghakimi.
"Telepon aku. Atau tulis di kertas besar: dia punya anak dengan perempuan lain. Tempel di pintu kalau perlu."
Ratna tertawa pelan di sela air mata.
"Ibu keras sekali."
"Untuk perempuan yang terlalu lama lembut, kadang memang perlu ada orang keras di sebelahnya."
Ratna mengangguk. Malam itu, ia belum merasa berani. Tapi setidaknya ia tahu keberanian bisa dipinjam sedikit, sampai ia punya miliknya sendiri.
Bab 03 - Bukti untuk Pergi
Hanif datang kurang dari satu jam kemudian.
Pria itu mengenakan kemeja putih dan celana hitam rapi. Usianya mungkin pertengahan tiga puluhan. Wajahnya tenang, tapi cara ia menatap membuat Ratna tahu ia bukan orang yang mudah dibohongi.
Di belakangnya ada seorang perempuan dari divisi legal dan seorang pria muda membawa laptop.
Bu Laras langsung menunjuk sofa.
"Duduk. Ini Ratna. Mulai malam ini kalian bantu dia."
Ratna buru-buru berdiri.
"Pak, Mbak, maaf merepotkan. Saya sebenarnya..."
Hanif mengangkat tangan sedikit, sopan tapi tegas.
"Bu Ratna tidak perlu minta maaf. Kalau Bu Laras sudah meminta, berarti ini penting."
Bu Laras mendengus.
"Jangan terlalu kaku. Aku minta kalian cari informasi tentang Hendra Prasetyo. Usaha ritel sembako, beberapa ruko, rekening perusahaan, aset pribadi. Istri sahnya Ratna. Perempuan simpanannya Clara. Ada anak laki-laki juga."
Ratna menunduk saat kata "perempuan simpanan" terdengar.
Malu itu masih ada.
Namun kali ini malu bercampur marah.
Perempuan legal bernama Siska membuka buku catatan.
"Bu Ratna, saya perlu tahu beberapa hal. Pernikahan Ibu tercatat resmi?"
"Iya. Di KUA. Sudah dua puluh delapan tahun."
"Aset yang dibeli selama menikah?"
Ratna menarik napas.
"Ada rumah yang kami tempati. Dulu dibeli setelah usaha mulai maju. Ada beberapa ruko. Dulu saya ikut mengurus toko pertama. Tapi setelah anak lahir, Mas Hendra meminta saya fokus di rumah. Semua sertifikat diurus dia."
"Ibu pernah tanda tangan dokumen?"
"Sering. Tapi saya jarang baca. Saya percaya."
Kalimat terakhir itu membuat ruangan hening sejenak.
Ratna tersenyum hambar.
"Bodoh, ya?"
Siska menggeleng.
"Bukan bodoh, Bu. Ibu percaya pada suami. Yang salah orang yang memanfaatkan kepercayaan itu."
Ratna menggenggam ujung kerudungnya.
Hanif meminta video yang direkam Ratna. Ia menontonnya tanpa ekspresi berlebihan. Hanya rahangnya yang mengeras ketika anak laki-laki itu memanggil Hendra sebagai Papa.
"Kita perlu cadangkan file ini di beberapa tempat," katanya.
"Saya sudah kirim ke email," jawab Ratna cepat.
Hanif menatapnya. Ada sedikit penghargaan di matanya.
"Bagus. Ibu juga perlu mencatat semua pengeluaran rumah yang selama ini Ibu tanggung. Uang les cucu, obat mertua, belanja, apa pun."
Ratna hampir tertawa.
"Saya punya semua catatannya."
Semua orang menoleh.
Ratna membuka tas dan mengeluarkan buku kecil. Sampulnya sudah lecek. Di dalamnya ada catatan tanggal, harga sayur, obat, tagihan listrik, biaya les Bima, bahkan utang kecil ke warung.
"Saya takut uang tidak cukup. Jadi saya tulis semuanya."
Bu Laras mengusap dadanya.
"Ya Allah, Ratna."
Hanif menerima buku itu dengan hati-hati, seolah benda itu bukti perkara besar.
"Ini sangat membantu."
Ratna tidak menyangka catatan yang selama ini ia buat agar bisa menghemat belanja akan berubah menjadi bukti betapa banyak ia memikul rumah itu.
Siska bertanya lagi.
"Bu Ratna siap kalau nanti keluarga menekan? Mereka mungkin akan membawa agama, cucu, nama baik."
Ratna diam.
Siap?
Tidak.
Ia belum siap menghadapi Bima yang menangis. Belum siap mendengar Raka menyebutnya ibu durhaka. Belum siap melihat Mama Sulastri pura-pura sakit.
Tapi apakah ia siap kembali menjadi perempuan yang pura-pura tidak melihat Hendra mencium Clara?
Lebih tidak.
"Saya akan takut," kata Ratna pelan. "Tapi saya tidak mau mundur."
Bu Laras tersenyum puas.
Malam itu, setelah tim Hanif pergi membawa salinan video dan catatan awal, Ratna tetap bekerja seperti biasa. Ia membantu Bu Laras minum obat, mengatur bantal, dan memijat kaki perempuan tua itu.
"Sudah, jangan pijat terus. Nanti tanganmu pegal."
"Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah terbiasa."
"Itu yang harus kamu ubah. Jangan semua hal kamu jawab dengan terbiasa."
Ratna tersenyum kecil.
Ucapan itu terdengar sederhana, tapi menusuk.
Ia memang terbiasa.
Terbiasa bangun sebelum subuh.
Terbiasa memasak untuk enam orang.
Terbiasa menahan lapar agar Bima bisa beli buku gambar.
Terbiasa memakai baju bekas Maya yang sudah tidak dipakai.
Terbiasa mendengar Hendra berkata ia terlalu tua untuk berdandan.
Terbiasa sampai lupa bertanya, apakah hidup memang harus seperti itu?
Sekitar pukul sembilan malam, Hanif kembali mengirim pesan. Cepat sekali.
"Bu Ratna, kami menemukan beberapa aset atas nama Clara Maharani dan satu rekening perusahaan yang alirannya mencurigakan. Detail besok saya bawa."
Ratna membaca pesan itu berkali-kali.
Besok.
Ternyata hanya butuh beberapa jam bagi orang profesional untuk menemukan sesuatu yang ia tidak lihat selama bertahun-tahun.
Hendra bukan hanya berkhianat.
Ia menyusun hidup lain dengan rapi.
Ratna meminta izin pulang lebih cepat. Bu Laras awalnya menolak, tapi Ratna perlu mengambil dokumen di rumah sebelum Hendra curiga.
"Aku minta sopir mengantar," kata Bu Laras.
"Tidak usah, Bu. Saya bisa naik ojek online."
"Ratna."
Ratna berhenti.
"Mulai sekarang, biasakan menerima bantuan yang memang kamu butuhkan."
Akhirnya Ratna menurut.
Mobil Bu Laras menurunkannya dua gang dari rumah. Ia tidak mau tetangga melihat mobil mewah berhenti di depan pagar. Bukan karena takut. Belum waktunya saja.
Rumah itu masih terang.
Dari luar, Ratna sudah mendengar suara Mama Sulastri.
"Perempuan itu makin lama makin kurang ajar. Disuruh pulang malah banyak alasan. Hendra, kamu itu terlalu memanjakan istri."
Raka menyahut, "Iya, Pa. Mama sekarang aneh. Aku cuma minta ayam kecap saja tidak dibuatkan."
Maya berkata dengan nada manja, "Aku sampai batal treatment, Pa. Bima nangis karena Nenek tidak jemput."
Ratna berdiri di balik pintu.
Lucu.
Mereka membicarakannya seolah ia pegawai yang mangkir kerja.
Bukan ibu.
Bukan istri.
Bukan manusia yang hari ini baru saja hancur.
Ia membuka pintu.
Semua kepala menoleh.
Hendra berdiri dari sofa. Wajahnya keras. Mungkin ia baru pulang dari Clara. Mungkin ia sempat mandi dan mengganti baju agar bau rumah sakit hilang.
"Kamu dari mana saja?" tanyanya.
Ratna menatap suaminya.
Dulu ia selalu gentar jika Hendra memakai nada seperti itu. Hari ini, anehnya, ia hanya merasa lelah.
"Kerja."
"Kerja sampai lupa rumah?"
Mama Sulastri memukul sandaran sofa.
"Ratna, kamu ini sudah tua, tapi makin tidak tahu diri. Istri baik itu pulang sebelum suami. Bukan keluyuran."
Ratna melepas sandal.
"Saya mau mandi dulu."
Raka melotot.
"Ma, aku belum makan."
"Di dapur ada telur. Masak sendiri."
Ruangan mendadak sunyi.
Maya tertawa kecil, tidak percaya.
"Ma, Raka mana bisa masak?"
Ratna menatap menantunya.
"Dia tiga puluh tahun, Maya. Menggoreng telur tidak butuh ijazah."
Wajah Raka memerah.
"Mama ngomong apa, sih?"
Hendra melangkah mendekat.
"Ratna, jangan mulai."
Ratna mengangkat wajah.
"Aku belum mulai, Mas."
Ia berjalan melewati mereka menuju kamar. Di dalam, ia mengunci pintu. Tangannya langsung bergerak cepat. Ia membuka laci, mengambil fotokopi buku nikah, kartu keluarga, beberapa dokumen lama, buku tabungan yang jarang dipakai, dan map berisi surat pembelian rumah yang pernah ia simpan tanpa Hendra tahu.
Ia memotret semuanya.
Satu per satu.
Dari luar, Hendra mengetuk pintu.
"Ratna, buka. Kita bicara."
Ratna memasukkan dokumen ke tempat semula.
"Besok saja."
"Aku bilang buka."
Ratna berdiri di tengah kamar. Jantungnya berdebar, tapi tangannya tidak lagi gemetar.
Ponselnya menyala.
Pesan dari Hanif.
"Bu Ratna, satu lagi. Apartemen atas nama Clara dibeli tunai tiga tahun lalu. Sumber dananya dari rekening usaha Pak Hendra."
Ratna memejamkan mata.
Jadi benar.
Uang yang katanya tidak ada, ternyata hanya pergi ke rumah lain.
Di luar, Hendra masih mengetuk.
"Ratna!"
Ratna membuka kamera, memotret pesan itu, lalu menyimpannya.
Besok ia akan punya lebih banyak bukti.
Dan setelah itu, Hendra tidak akan bisa lagi menyuruhnya diam.
Ketukan berhenti setelah beberapa menit. Ratna mendengar langkah Hendra menjauh, disusul suara Mama Sulastri bertanya dengan nada tajam.
"Dia buka pintu?"
"Tidak," jawab Hendra.
"Lihat? Istrimu sudah keras kepala. Pasti ada yang mengajari."
Ratna berdiri di balik pintu, menahan napas. Ia ingin membuka pintu dan berkata tidak ada yang mengajarinya selain luka. Tapi ia menahan diri.
Malam ini bukan untuk menang debat.
Malam ini untuk bertahan sampai pagi.
Ia mengambil buku catatan belanja dari tas, membuka halaman kosong, lalu menulis satu kalimat:
"Aku bukan barang milik Hendra."
Tulisan itu miring karena tangannya masih gemetar. Namun setelah melihatnya, Ratna merasa sedikit lebih tegak.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!