Indonesia
NovelToon NovelToon

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Bab 1

"Karin, biarkan Dimas menikahi Vina. Kamu, sebagai istri, harus mengizinkan suamimu menikah lagi."

Wanita paruh baya yang duduk di hadapan Karin itu adalah ibu mertuanya, Ratna.

"Ibu mohon sama kamu, jangan memperbesar masalah ini."

Suara lembut yang penuh kepura-puraan itu terdengar begitu akrab di telinga Karin. Bahkan, setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu sudah ia hafal di luar kepala.

"Dimas hanya ingin bertanggung jawab. Vina gadis yang baik. Dia hidup sebatang kara sejak kecil. Dimas hanya kasihan padanya dan ingin melindunginya."

Ratna menggenggam tangan Karin, seolah benar-benar sedang membujuk menantunya.

"Bagaimanapun juga, dia tidak akan merebut posisimu."

Karin hanya tersenyum pahit. Tentu saja ia tahu semua itu hanyalah kebohongan.

Di kehidupan sebelumnya, ia mempercayai kata-kata itu. Ia mengizinkan Vina tinggal di rumah mereka dengan harapan semuanya akan tetap baik-baik saja.

Namun justru sejak hari itulah hidupnya berubah menjadi neraka.

Setelah Vina dinyatakan hamil, Karin terus-menerus dihina dan direndahkan. Ia dicap sebagai wanita mandul yang tidak mampu memberikan keturunan bagi keluarga Dimas. Kasih sayang suaminya perlahan berpindah kepada Vina, sementara keluarga suaminya memperlakukan gadis itu layaknya menantu yang sesungguhnya.

Hari demi hari, Karin hidup dalam tekanan hingga tubuhnya jatuh sakit. Tak seorang pun peduli dengan keadaannya, termasuk Dimas.

Karin masih mengingat semuanya dengan sangat jelas, seolah baru terjadi kemarin.

Saat kondisinya memburuk dan harus dilarikan ke rumah sakit, tidak ada seorang pun yang menemaninya. Dimas, ibu mertuanya, bahkan seluruh keluarga sedang sibuk merayakan kehamilan Vina. Di tengah rasa sakit yang tak tertahankan, Karin hanya bisa menahan air mata seorang diri.

Yang lebih menyakitkan, Vina kerap datang ke kamar rumah sakit hanya untuk memamerkan kebahagiaannya. Gadis itu mengejek, merendahkan, dan menikmati penderitaan Karin. Hingga pada suatu hari, Vina diam-diam menukar obat Karin dengan obat yang mematikan. Hari itu menjadi akhir hidupnya.

Namun...

Takdir memberinya kesempatan untuknya kembali. Tepat di saat Dimas membawa Vina untuk pertama kalinya. Karin menatap lurus ke arah ibu mertuanya. Tatapannya begitu tenang hingga membuat Ratna merasa asing.

"Ibu sudah selesai bicara?"

Ratna terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat menantunya tersenyum. Namun senyum itu sama sekali tidak hangat.

"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tanyanya heran.

Karin bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Vina yang berdiri di samping Dimas. Tatapannya menyapu gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Lusuh," bisiknya pelan di dekat telinga Vina.

Vina sontak terperanjat dan menundukkan kepala semakin dalam.

Karin lalu mengalihkan pandangannya kepada Dimas.

"Jadi... ini gadis yang kamu banggakan?"

"Sayang, jangan salah paham." Dimas segera mencoba menjelaskan. "Aku hanya ingin menolongnya. Dia gadis yang lugu. Aku cuma ingin memberinya perlindungan."

"Oh, begitu?" Karin tersenyum tipis. "Kalau memang hanya ingin menolong dan melindunginya, silahkan dia tinggal di rumah ini."

Ucapan Karin membuat Dimas mengembuskan napas lega.

Namun senyum itu langsung menghilang saat Karin melanjutkan kalimatnya.

"Tapi hanya sebagai pembantu."

Semua orang terdiam.

"Karin!" bentak Dimas. "Jangan asal bicara!"

"Memangnya ada yang salah?" Karin menoleh santai. "Lagipula, bukankah memang itu pekerjaannya?"

Dimas mengepalkan kedua tangannya.

"Kamu sudah keterlaluan! Vina gadis yang lemah. Jangan perlakukan dia seperti itu. Lagi pula aku hanya akan menikahinya secara siri. Kamu tetap istri sahku."

Karin hampir tertawa mendengarnya. Di kehidupan sebelumnya, ia benar-benar mempercayai ucapan itu. Kini, ia sadar semua itu hanyalah kebohongan yang dibungkus kata-kata manis.

"Wah... aku sampai merinding mendengarnya, Mas." Karin menatap Dimas dengan jijik. "Apa kamu benar-benar mengira aku masih akan percaya dengan omong kosongmu?"

"Karin..."

"Apa kamu sudah lupa janji yang pernah kamu ucapkan saat membujukku meyakinkan Ayah agar menyerahkan perusahaan kepadamu?" suara Karin berubah dingin. "Kamu berjanji akan menjagaku seumur hidup dan tidak akan pernah mengkhianatiku."

Ia menatap tajam pria yang pernah menjadi dunianya.

"Atau kamu juga sudah lupa siapa yang berdiri paling depan saat semua orang menentang pernikahan kita? Siapa yang meyakinkan kedua orang tuaku untuk menerimamu? Dan siapa yang berjuang mati-matian hingga kamu bisa duduk di kursi pemimpin perusahaan itu?"

Ruangan itu mendadak sunyi. Tidak ada satu pun yang berani bersuara.

Dimas menatap Karin dengan wajah kaku. Selama mereka menikah, belum pernah sekali pun istrinya berbicara setegas ini di hadapannya.

"Karin..." Dimas berdeham pelan. "Semua yang kulakukan selama ini juga demi keluarga kita."

"Keluarga kita?" Karin tertawa pelan, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan dalam tawanya. "Lucu sekali. Kalau memang demi keluarga kita, kenapa yang kamu bawa pulang justru perempuan lain?"

"Itu berbeda."

"Tidak. Justru sangat sederhana." Karin menatap lurus ke mata suaminya. "Kamu selingkuh."

Dimas sontak menggeleng.

"Aku tidak pernah menganggap ini perselingkuhan."

"Karena menurutmu menikahinya secara siri akan membuatmu terlihat terhormat?" sahut Karin cepat. "Perselingkuhan tetaplah perselingkuhan, sekalipun dibungkus dengan dalih tanggung jawab."

Dimas kehilangan kata-kata. Ia tak menyangka Karin akan membalas setiap ucapannya tanpa ragu.

Ratna yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.

"Karin, jangan keras kepala. Semua laki-laki juga begitu. Apalagi Dimas sekarang sudah sukses. Wajar kalau ada perempuan yang menyukainya."

Karin menoleh perlahan ke arah ibu mertuanya.

"Jadi menurut Ibu, pengkhianatan itu wajar?"

Ratna terdiam sesaat, lalu menghela napas.

"Ibu hanya tidak ingin rumah tangga kalian hancur."

"Tidak." Karin menggeleng pelan. "Yang menghancurkan rumah tangga ini bukan aku." Tatapannya beralih kepada Dimas. "Tapi putra kesayangan Ibu."

Ucapan itu membuat wajah Ratna memerah.

"Beraninya kamu menyalahkan Dimas! Dia sudah bekerja keras membangun perusahaan. Semua yang ada di rumah ini hasil jerih payahnya."

Senyum Karin semakin lebar. "Benarkah?"

Ia melangkah mendekati Dimas hingga hanya berjarak satu langkah.

"Kalau begitu, coba jawab satu pertanyaanku."

Dimas mengernyit.

"Siapa yang memberikan modal pertama saat perusahaanmu hampir bangkrut?"

Dimas terdiam.

"Siapa yang membujuk Ayahku agar mau mempercayakan proyek-proyek besar kepadamu?"

Tidak ada jawaban.

"Dan siapa yang menyerahkan saham keluarganya agar perusahaanmu bisa bertahan?"

Ruangan kembali sunyi. Tatapan Ratna mulai berubah. Sebab semua yang dikatakan Karin adalah kenyataan. Dimas memang berada di posisi sekarang berkat bantuan keluarga Karin. Namun selama ini, mereka memilih melupakan fakta itu.

"Karin..." Dimas mencoba meraih tangan istrinya.

Refleks Karin mundur satu langkah. Sentuhan pria itu kini hanya membuatnya muak.

"Jangan sentuh aku." Suara Karin dingin, tanpa emosi.

Untuk sesaat, Dimas merasa seperti sedang berbicara dengan orang asing.

Sementara Vina yang sedari tadi diam akhirnya maju selangkah.

"Bu Karin... semua ini salah saya. Kalau Ibu marah, marahlah pada saya. Jangan bertengkar dengan Mas Dimas."

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Penampilan Vina benar-benar tampak menyedihkan.

Kalau saja Karin tidak pernah menjalani kehidupan sebelumnya, mungkin ia akan kembali tertipu oleh akting gadis itu.

Sayangnya...

Ia sudah mengetahui wajah asli Vina. Karin menatap Vina tanpa berkedip.

"Lalu kenapa kamu masih berdiri di samping suamiku?"

Pertanyaan itu membuat Vina membisu.

"Bukankah perempuan yang tahu diri seharusnya menjaga jarak dari suami orang?"

Wajah Vina langsung memucat. Air matanya mengalir semakin deras, sementara Dimas buru-buru berdiri di depannya.

"Karin! Sudah cukup! Jangan terus menyudutkan Vina!"

Melihat pemandangan itu, Karin hanya tersenyum tipis.

Persis seperti dulu. Dimas selalu menjadi orang pertama yang melindungi Vina.

Bedanya...

Dulu hatinya hancur melihat semua itu. Sekarang, ia hanya merasa geli. Karena permainan mereka baru saja dimulai.

Bab 2

"Baiklah, kalau kamu bersikeras ingin menikah dengan nya. Aku kabulkan keinginanmu."

Ucapan itu sontak membuat Dimas dan Ibunya saling berpandangan. Raut tegang di wajah mereka perlahan menghilang, berganti kelegaan.

"Nah, begitu dong, Karin." Bu Ratna tersenyum puas. "Ibu tahu kamu wanita pengertian."

"Aku janji tidak akan mengurangi hakmu sedikitpun. Kamu tetap istri sahku." Dimas buru-buru menambahkan.

Karin nyaris tertawa mendengar janji yang begitu mudah diucapkan.

"Kalian ini begitu terburu-buru. Aku belum selesai bicara." Ia kembali duduk dengan tenang, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Senyum di wajah Dimas dan Bu Ratna perlahan memudar.

Karin mengalihkan tatapannya kepada Vina dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Tidak semudah itu, wanita rendahan seperti dia masuk ke dalam rumahku."

"Karin!" Bentak Dimas, "jaga bicaramu!"

Karin menoleh perlahan ke arah suaminya tanpa sedikit pun rasa gentar.

"Lalu menurutmu, perempuan yang sengaja mendekati suami orang pantas disebut apa kalau bukan wanita rendahan?"

Ruangan kembali sunyi.

Tak seorang pun mampu membantah ucapan Karin. Bahkan Vina hanya bisa menundukkan kepala, sementara jemarinya mengepal kuat menahan malu dan amarah.

'Wanita yang tidak tahu diri memang pantas menerima penghinaan dariku,' batin Karin dingin. 'Aku masih mengingat semuanya dengan sangat jelas. Dulu, perempuan ini berkali-kali menghinaku, merendahkanku, bahkan menikmati setiap penderitaanku. Sekarang, aku hanya mengembalikan sedikit dari apa yang pernah dia lakukan.'

"Bu Karin, maaf, saya..."

Karin mengangkat satu tangannya, menghentikan ucapan gadis itu.

"Nyonya Karin," sela Karin dingin."Mulai sekarang panggil aku Nyonya Karin. Jangan lupa siapa dirimu dan siapa aku."

Sesaat wajah Vina menegang. Jemarinya mengepal pelan. Ada kilatan kekesalan di matanya, tetapi hanya berlangsung sekejap sebelum ia buru-buru memasang wajah polosnya.

"I-iya... Nyonya Karin."

Meski bibirnya mengucapkan kata-kata itu, dalam hati Vina mendidih menahan amarah.

'Sombong sekali. Tunggu saja. Begitu aku resmi menjadi istri Mas Dimas, orang pertama yang akan aku usir dari rumah ini adalah kau.'

Dimas yang melihat sikap Vina justru merasa iba. Ia mengusap bahu gadis itu pelan.

"Sudahlah, Vina. Jangan dimasukan ke hati."

Melihat pemandangan itu, senyum sinis kembali terukir di bibir Karin.

'Tetap saja sama seperti kehidupan sebelumnya,' batin Karin. 'Dimas akan selalu membela perempuan itu, apapun yang terjadi.'

"Karin, aku bisa saja menikahi Vina tanpa perlu persetujuanmu. Tapi aku memilih datang dan membicarakan ini baik-baik karena aku masih menghargai posisimu sebagai istriku." ucap Dimas dengan tenang. "Aku akui memang bersalah dalam hal ini. Tapi Vina hanya gadis lemah, dia gak bersalah sama sekali. Kamu hanya perlu mengijinkannya untuk menjadi istri keduaku."

"Lalu bagaimana pandangan orang nanti? bagaimana dengan nama baik keluargaku?" tanya Karin dengan suara yang mulai meninggi.

Ucapan Dimas seketika membangkitkan kembali ingatan pahit yang pernah dialaminya. Di kehidupan sebelumnya, kedua orang tuanya sangat terpukul saat mengetahui ia mengizinkan Dimas menikah lagi. Keputusanya itu menjadi bahan gunjingan keluarga besar, rekan bisnis, hingga masyarakat menganggap karin wanita yang tidak pandai menjaga suaminya. Vina yang saat itu pandai bersilat lidah dengan wajahnya yang selalu terlihat polos berhasil menarik simpati masyarakat sehinga dalam cerita mereka itu karin lah yang bersalah. Nama baik keluarga Wijaya hancur begitu saja.

Keadaan semakin memburuk ketika kesehatan Karin menurun. Selama ia terbaring sakit, Dimas dengan sengaja melarang kedua orang tuanya menjenguknya. Ia terus mencari berbagai alasan agar mereka tidak bisa bertemu.

Orang tua Karin hanya bisa menahan rindu dan rasa khawatir, tanpa pernah mengetahui kondisi putri mereka yang sebenarnya.

Memanfaatkan keadaan itu, Dimas mulai menyingkirkan orang-orang yang masih setia kepada keluarga Karin dan perlahan mengambil alih semua yang pernah di bangun ayah mertuanya.

Hingga suatu hari...

Karin menerima kabar yang menghancurkan hidupnya. Kedua orang tuanya dinyatakan meninggal dunia akibat kecelakaan.

Namun Kini, setelah mendapatkan kesempatan menjalani kehidupan kedua, Karin tidak lagi percaya bahwa kematian orang tuanya hanyalah sebuah kecelakaan. ada terlalu banyak kejanggalan yang dulu ia abaikan. Kali ini, ia akan melindungi kedua orang tuanya.

"Kenapa kamu harus peduli pada pandangan orang lain? Kamu jangan terlalu egois hanya karena takut omongan orang kamu tidak memikirkan perasaan Vina." Dimas menghembuskan napas pelan. Rahangnya mengeras, tetapi ia tetap berusaha menjaga nada bicaranya agar terdengar tenang. "Karin, Apa salahnya kalau aku bertanggung jawab kepada Vina. Dia sudah tidak punya siapa-siapa. Kalau aku meninggalkannya begitu saja, bagaimana dia akan hidup?"

Tatapan Karin semakin dingin pada Dimas.

"Jadi, demi menolong wanita lain, kamu rela menghancurkan istrimu sendiri?"

"Bukan begitu maksudku..."

"Lalu bagaimana maksudmu?" potong Karin "Nama keluargaku kamu pertaruhkan hanya untuk wanita seperti dia? kamu seperti kacang lupa pada kulitnya, kamu melupakan semua kebaikan orang tuaku padamu."

Dimas terdiam sejenak sebelum kembali bicara.

"Aku hanya ingin memberinya kehidupan yang layak untuk Vina. Bukankah kamu selalu bilang kalau menolong orang itu perbuatan baik?"

Karin tersenyum sinis. lalu ia menggeleng pelan tak percaya dengan apa yang ia dengar, Dimas seolah menganggap dirinya bodoh.

"Kalau memang ingin menolong, kamu bisa memberinya pekerjaan, tempat tinggal, atau modal usaha. Bukan menjadikannya istri kedua."

Ucapan itu membuat Dimas kehilangan kata-kata.

Namun, beberapa detik kemudian ia kembali berkata dengan nada yang mulai meninggi.

"Aku sudah terlanjur mencintainya, Karin."

Ruangan kembali sunyi. Kalimat itu seolah menggema di seluruh ruangan.

Vina menundukan kepalanya, berusaha menyembunyikan senyum puas yang hampir terlukis di bibirnya.

Sementara Karin, ia hanya memandang Dimas tanpa sedikitpun merasa sakit hati atau pun cemburu.

'Bagus,' batinnya. 'Akhirnya kamu mengakuinya sendiri,'

Karin terdiam cukup lama. Tatapannya mengarah kepada Dimas, Vina, lalu Bu Ratna. Wajahnya perlahan melunak, seolah telah mengalah.

"Baik. Aku akan mengizinkan kamu menikahi Vina. Tapi ada syaratnya."

Dimas mengernyit. "Syarat apa?"

"Pertama, Vina tidak boleh menuntut status sebagai istri sah. Pernikahan yang kalian inginkan hanya boleh pernikahan siri." kata Karin dengan nada yang tenang dan stabil. "Kedua, di hadapan masyarakat, keluarga besar, maupun dunia bisnis, Vina hanya dikenal sebagai pembantu yang bekerja dirumah ini."

Wajah Vina langsung berubah.

"Apa?"

Karin tersenyum tipis.

"Kenapa? Bukankah sejak awal kalian bilang dia hanya gadis malang yang hanya perlu perlindungan? Kalau begitu, status pembantu seharusnya tidak menjadi masalah."

Vina mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun menahan amarahnya.

"K-kalau begitu orang akan merendahkanku..."

"Dari awal posisimu memang sudah rendah." Nada suara Karin tetap tenang.

Dimas segera menyela.

"Karin, syaratmu terlalu berlebihan."

"Itu pilihan kalian. Tidak ada yang memaksa." jawab karin.

"Tapi Karin..."

"Belum selesai!" Karin menyela. Tatapannya kini berubah semakin tajam. "Ketiga, Vina tidak boleh memiliki anak darimu."

Ruangan mendadak sunyi. Sampai akhirnya, Bu Ratna bersuara egan lantangnya.

"Karin! Sudah cukup! kamu benar-benar keterlaluan." Bu Ratna langsung menghampiri Vina dan menyentuh pipi Vina dengan lembut. "Kasian sekali nasibmu. Hanya karena mencintai anakku kamu sampai harus dihina seperti ini."

Lalu, Bu Ratna menoleh ke arah Dimas. "Kamu juga, kenapa membiarkan situasi ini menjadi rumit?" tegurnya. "Sejak awal Ibu sudah bilang, kamu tidak perlu meminta izin Karin. Dalam agama, laki-laki boleh menikah lagi selama mampu berlaku adil. Kamu terlalu memiikirkan perasaannya."

"Tapi Bu..." Dimas tampak ragu.

"Selama ini kamu selalu menurut pada Karin karena merasa berutang budi kepada keluarganya. Padahal sekarang kamu sudah sukses dengan usahamu sendiri. Tidak ada lagi yang perlu kamu takutkan." Bu Ratna menggenggam tangan putranya. "Kamu juga berhak bahagia."

Mendengar itu, senyum tipis terukir di bibir Karin.

"Jadi begitu selama ini cara Ibu berpikir?"

Bab 3

Bu Ratna mendengus pelan.

"Ibu hanya mengatakan kenyataanya."

"Kenyataan?" Karin mengangkat sebelah alisnya. "Kenyataan yang mana, Bu? Kenyataan bahwa kesuksesan yang anak Ibu dapatkan sekarang karena ayah saya mempertaruhkan nama baiknya demi Dimas? Atau kenyatan bahwa rumah yang Ibu tempati sekarang ini dibeli menggunakan uang keluarga saya?"

Wajah Bu Ratna seketika berubah. "Kamu jangan sembarangan bicara!"

"Aku sedang mengatakan fakta."

Tatapan Karin beralih pada Dimas.

"Kalau memang kamu merasa sudah berhasil dengan kemampuanmu sendiri, seharusnya tidak sulit mengembalikan semua yang berasal dari keluargaku."

"Karin, kenapa kamu terus mengungkit masa lalu?"

"Aku bukan mengungkit."

Suara Karin tetap tenang, tetapi setiap katanya terdengar tajam.

"Aku hanya sedang mengingatkan kalian agar tahu diri."

Kalimat itu membuat wajah Bu Ratna memerah menahan malu sekaligus marah.

"Kamu sudah berubah, Karin."

"Bukan aku yang berubah." Karin bangkit dari duduknya, lalu menatap satu per satu wajah mereka.

"Kalian saja yang baru sadar bahwa tidak selamanya orang itu bisa di perlakukan seenak kalian."

Ruangan kembali diselimuti keheningan. Untuk pertama kalinya, Dimas merasa tidak lagi mengenali perempuan yang telah menjadi istrinya selama bertahun-tahun. Perempuan yang dulunya selalu mengalah, kini berubah dalam waktu singkat.

"Baiklah, Karin. Ibu yakin Dimas dan Vina setuju dengan semua syaratmu." kata Bu Ratna memecah keheningan.

"Ibu..." Dimas hampir protes, tapi di tahan oleh ibunya.

"Tapi untuk tidak mempunyai anak itu keterlaluan sekali." lanjut Bu Ratna, dengan nada tidak terima. "Lagipula, kamu dan Dimas sudah menikah bertahun-tahun, tapi belum juga dikaruniai anak. Vina ini masih muda, kalau dia punya anak, setidaknya keluarga kita punya penerus."

Bu Ratna melangkat mendekat ke arah Karin. Dengan wajah yang di buat selembut mungkin, ia meraih tangan menantunya.

"Karin, Ibu bukan tidak memihakmu. Ibu tahu apa yang di lakukan Dimas ini sudah membuatmu kecewa, Ibu janji nanti akan menengurnya. Tapi untuk kali ini, kamu mengalah saja."

Karin mendengus pelan sambil menarik tangannya dari genggaman Bu Ratna. "Ibu, bukankah aku sudah mengalah?" ujarnya tenang. "Aku bahkan mengizinkan Dimas menikahinya. Hanya saja syarat yang aku berikan juga harus disetujui. Semunya harus tertulis hitam di atas putih."

"Aku bisa menyetujui syaratmu itu, tapi untuk soal anak aku tidak bisa menyetujuinya." kata Dimas.

Belum sempat Karin menanggapi, Bu Ratna kembali menyela.

"Karin, begini saja," Bu Ratna kembali membujuk. "Bagaimana kalau nanti anak Vina dicatat atas namamu? Kamu tidak perlu repot-repot hamil dan melahirkan. Bukankah itu juga anak Dimas? Dengan begitu, semua orang tetap menganggap kalian memiliki keturunan."

Ucapan itu semakin membuat dada Karin semakin sesak karena amarah.

"Ibu mengira aku tidak akan pernah bisa punya anak?" tanya nya pelan, tetapi suaranya terdengar sangat dingin. "Sampai-sampai Ibu menyuruhku menerima anak dari wanita yang sudah merebut suamiku sebagi anakku sendiri?"

Bu Ratna tampak sedikit gugup. "Bukan begitu maksud Ibu. Ibu hanya..."

"Keluarga ini benar-benar hebat." Karin tersenyum sinis. "Suami membawa pulang selingkuhannya, Ibu mertua memintaku merestuinya, lalu sekarang kalian menyuruhku membesarkan anak hasil hubungan mereka. Apa menurut Ibu aku sebodoh itu?"

Tak seorangpun berani langsung menjawab pertanyaan Karin.

"Kalau kalian tidak setuju dengan syaratku.itu bukan urusanku." Karin menatap Dimas dan Vina bergantian. "Keputusannya ada di tangan kalian berdua. Terima semua syaratku atau batalkan rencana kalian. Kalau kalian berani menikah diam-diam tanpa persetujuanku, aku akan menuntut kalian semua."

Setelah mengatakan itu Karin berbalik dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.

Dimas mengepalkan kedua tangannya hingga jari-jarinya memutih. Rahangnya mengeras melihat sikap Karin yang berubah drastis.

Sementara itu, Vina menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Wajahnya tetap terlihat sedih, tetapi dibalik tatapan yang tertunduk, amarah dan kebencian mulai memenuhi hatinya.

Bu Ratna menghembuskan napas panjang. Ia tidak menyangka keadaan akan berkembang sejauh ini.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!