Pagi itu, halaman Klinik Arafah Medika sudah dipenuhi kendaraan roda dua dan beberapa mobil yang terparkir rapi. Di ruang tunggu, suara anak-anak yang berceloteh bercampur dengan panggilan nomor antrean dari pengeras suara kecil di sudut ruangan. Aroma antiseptik yang samar berpadu dengan wangi teh hangat yang baru saja diseduh oleh salah seorang perawat.
Bagi sebagian orang, suasana seperti itu mungkin terasa melelahkan.
Namun bagi Dr. Adzra Hanum Fauziah, itulah tanda bahwa tempat yang ia bangun selama bertahun-tahun benar-benar memberi manfaat bagi banyak orang.
"Nomor antrean tiga belas, silakan menuju ruang pemeriksaan dua."
Seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun langsung bersembunyi di balik tubuh ibunya begitu mendengar namanya dipanggil.
"Aku nggak mau masuk..." rengeknya sambil memeluk kaki sang ibu erat-erat.
Ibunya mengembuskan napas panjang. "Ayo, Kak. Tadi kan sudah janji sama Mama mau berani."
Bocah itu menggeleng cepat. Matanya mulai berkaca-kaca.
Dari balik pintu ruang pemeriksaan, Adzra yang baru saja selesai mencuci tangan menangkap pemandangan itu. Senyum tipis terbit di bibirnya. Ia melepas masker sejenak agar wajahnya terlihat lebih jelas oleh anak kecil tersebut.
"Siapa yang namanya Arfan?" tanyanya sambil berjongkok hingga tinggi badannya sejajar dengan si bocah.
Anak itu mengintip malu-malu.
"Aku..."
"Wah, jadi Arfan yang mau bantu Dokter hari ini?"
Bocah itu berkedip bingung.
"Membantu apa?"
Adzra mengeluarkan sebuah stiker bergambar roket dari saku jas putihnya.
"Dokter lagi cari pahlawan pemberani. Katanya Arfan jagonya."
Tangisan yang tadi nyaris pecah mendadak berhenti.
"Serius?"
"Serius."
Adzra mengangguk mantap.
"Tapi pahlawan biasanya berani diperiksa dulu supaya badannya kuat."
Ibunya tersenyum lega melihat putranya mulai melangkah pelan menuju ruang pemeriksaan.
Beberapa menit kemudian, pemeriksaan selesai tanpa drama.
Arfan bahkan keluar sambil memamerkan stiker roket yang kini menempel di dadanya.
"Aku tadi nggak nangis!" serunya bangga kepada ayahnya yang baru datang.
"Hebat sekali," puji Adzra.
Ibunya menyalami Adzra dengan mata berbinar.
"Terima kasih banyak, Dok. Padahal semalam dia sudah menangis karena takut diperiksa."
Adzra hanya tersenyum.
"Anak-anak bukan takut diperiksa, Bu. Mereka hanya takut menghadapi sesuatu yang belum mereka kenal."
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa, setiap kali mengucapkannya, selalu ada bagian dalam hatinya yang ikut terusik.
Bukankah orang dewasa juga begitu?
Takut pada sesuatu yang belum dipahami.
Takut pada kenyataan yang tak sempat dijelaskan.
Takut pada kehilangan yang datang tanpa aba-aba.
Adzra segera mengusir pikirannya sendiri.
Masih banyak pasien yang harus ia layani hari ini.
Ia melirik jam dinding.
Pukul sebelas lewat dua puluh menit.
Artinya, hanya tinggal satu pasien lagi sebelum waktu istirahat.
Pintu ruang pemeriksaan diketuk pelan.
"Masuk," ujar Adzra sambil membuka rekam medis pasien berikutnya.
Perawat senior bernama Rina menyembulkan kepala.
"Dok."
"Ya?"
"Pasien terakhir sudah datang."
Adzra mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di tangannya.
"Silakan masuk."
"Emm...," Rina tampak ragu-ragu.
Adzra mengangkat wajahnya.
"Ada apa?"
"Pasiennya... membawa kursi roda."
Adzra spontan berdiri.
"Kenapa tidak dari tadi diberi tahu? Ayo, kita bantu masuk."
Rina hanya mengangguk pelan.
Entah mengapa, ekspresi perempuan itu terlihat sedikit berbeda.
Seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkannya.
Adzra tidak terlalu memikirkannya. Ia melangkah lebih dulu menuju pintu ruang pemeriksaan.
Tangannya meraih gagang pintu.
Lalu membukanya lebar.
Hal pertama yang ia lihat adalah seorang perempuan berkerudung abu-abu yang duduk di atas kursi roda.
Wajah perempuan itu tampak pucat, tetapi masih menyimpan senyum lembut yang entah mengapa terasa begitu akrab.
Adzra menggeser pandangannya ke belakang kursi roda.
Seseorang sedang berdiri sambil memegang kedua pegangan kursi tersebut.
Sepasang tangan yang besar.
Jam tangan kulit berwarna hitam.
Lengan kemeja yang digulung hingga siku.
Dan ketika laki-laki itu perlahan mengangkat wajahnya...
Dunia di sekitar Adzra seakan berhenti berputar.
***
Lelaki itu perlahan mengangkat wajahnya.
Sepasang mata teduh yang pernah begitu ia kenal kini menatap lurus ke arahnya. Waktu seolah berhenti dalam hitungan detik.
Adzra terpaku.
Begitu pula lelaki di hadapannya.
Sepuluh tahun.
Ternyata selama itu pula tak ada yang benar-benar berubah dari sorot mata Ghazi Farhan. Tatapannya masih sama—tenang, sulit ditebak, dan entah mengapa selalu berhasil membuat dadanya sesak.
Hanya satu yang berbeda.
Kini, di sudut-sudut wajah lelaki itu mulai tampak garis-garis tipis kedewasaan. Rahangnya terlihat lebih tegas. Bahunya semakin bidang. Rambutnya dipotong pendek dan rapi, sementara kemeja putih yang dikenakannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengannya
Ia tampak jauh lebih matang.
Namun tetap menjadi satu-satunya orang yang tidak pernah berhasil Adzra lupakan.
Suara langkah kaki Rina memecah keheningan.
"Dok...?"
Adzra tersadar.
Ia segera menarik napas pelan, memaksakan senyum profesional yang selama bertahun-tahun menjadi tameng paling ampuh untuk menyembunyikan apa pun yang dirasakan.
"Silakan masuk, Bu."
Tatapannya sengaja tidak lagi mengarah kepada Ghazi.
Fokus.
Ia harus fokus.
Perempuan yang duduk di kursi roda itu jauh lebih penting daripada badai yang baru saja menghantam dadanya.
Ghazi mendorong kursi roda perlahan memasuki ruang pemeriksaan.
Aroma parfum yang samar menyelinap bersama langkahnya.
Aroma yang dulu begitu akrab.
Dan ternyata...
Ingatan manusia memang sekejam itu.
Sepuluh tahun berlalu, tetapi Adzra masih mampu mengenali aroma tersebut bahkan sebelum lelaki itu berbicara.
Ia mengepalkan jemari di balik meja.
Tidak.
Ia bukan Adzra yang dulu.
Ia adalah seorang dokter.
Seorang profesional.
"Silakan duduk, Bu."
Perempuan paruh baya itu tersenyum lembut.
"Terima kasih."
Adzra mengambil stetoskop yang tergantung di lehernya.
"Keluhannya apa, Bu?"
Belum sempat perempuan itu menjawab, Ghazi membuka map rekam medis yang dibawanya, lalu meletakkannya di atas meja.
Gerakannya tenang.
Tidak tergesa.
Tidak pula canggung.
Namun tetap menjaga jarak.
"Kontrol tekanan darah," ucapnya singkat.
Itulah kalimat pertama yang keluar dari bibirnya.
Suara itu...
Masih sama.
Dalam.
Tenang.
Tidak pernah terdengar meninggi.
Anehnya, hanya dua kata sederhana itu sudah cukup membuat Adzra ingin segera mengakhiri pemeriksaan.
Ia meraih map tersebut.
Berusaha keras agar jemarinya tidak menyentuh tangan Ghazi.
Meski begitu...
Ujung jari mereka tetap bersentuhan sesaat.
Sangat singkat.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup membuat Adzra buru-buru menarik tangannya.
"Maaf."
Kalimat itu keluar hampir bersamaan dari bibir mereka.
Keduanya kembali terdiam.
Rina yang berdiri di dekat pintu memandang bergantian ke arah dokter sekaligus atasannya, lalu kepada lelaki yang sejak tadi nyaris tak banyak bicara.
Ia merasa suasana ruangan mendadak berubah.
Tegang.
Namun ia tidak tahu penyebabnya.
Adzra membuka rekam medis.
Nama pasien tertulis jelas di halaman pertama.
Siti Maryam.
Jantungnya kembali berdegup lebih keras.
Nama itu bukan nama asing.
Tidak pernah asing.
Perempuan di hadapannya pernah menjadi ibu yang menyambutnya dengan pelukan hangat pada hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Mahendra.
Pernah membangunkannya untuk salat Subuh.
Pernah memasakkan makanan kesukaannya.
Pernah menyebutnya sebagai putri.
Semua kenangan itu datang tanpa permisi.
Adzra memejamkan mata sepersekian detik.
Lalu kembali membuka lembar pemeriksaan.
"Tekanan darah terakhir seratus enam puluh per sembilan puluh."
Ia mengangguk pelan.
"Kita periksa lagi hari ini, ya, Bu."
Siti Maryam mengulurkan lengan kirinya.
Tatapan beliau tidak pernah lepas dari wajah Adzra.
Seolah sedang memastikan sesuatu.
Adzra memasang manset tensimeter dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Ruangan kembali dipenuhi keheningan.
Hanya terdengar suara alat pengukur tekanan darah yang bekerja perlahan.
Di sisi lain ruangan, Ghazi berdiri tegak.
Tangannya terlipat di depan tubuh.
Pandangannya lebih banyak tertuju kepada ibunya daripada kepada Adzra.
Namun sesekali...
Tanpa sengaja...
Tatapan mereka kembali bertemu.
Dan setiap kali itu terjadi...
Adzra selalu menjadi orang pertama yang mengalihkan pandangan.
"Alhamdulillah."
Adzra melepas manset tensimeter.
"Tekanan darah Ibu lebih baik dibanding hasil pemeriksaan minggu lalu."
Senyum tipis menghiasi wajah Siti Maryam.
"Syukurlah."
"Saya hanya perlu menyesuaikan sedikit dosis obatnya."
Beliau mengangguk.
"Baik, Dok."
Adzra mulai menuliskan resep.
Berusaha memusatkan perhatian pada setiap huruf yang ia tulis.
Namun entah mengapa...
Tulisan tangannya tidak serapi biasanya.
Pulpen di genggamannya bahkan sempat berhenti beberapa kali.
Baru kali ini ia menyadari...
Menghadapi anak-anak yang menangis jauh lebih mudah daripada menghadapi satu orang dari masa lalunya.
Belum selesai ia menulis resep, suara lembut Siti Maryam terdengar pelan.
"...Kamu sehat, Nak?"
Ujung pulpen Adzra berhenti bergerak.
Ruangan kembali sunyi.
Ia perlahan mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Bukan tatapan antara dokter dan pasien.
Melainkan tatapan seorang ibu... kepada perempuan yang pernah ia panggil sebagai anak.
***
"...Kamu sehat, Nak?"
Ujung pulpen di tangan Adzra berhenti bergerak.
Suara itu...
Masih sama.
Lembut.
Penuh kasih.
Persis seperti terakhir kali ia mendengarnya sepuluh tahun lalu.
Perlahan Adzra mengangkat wajah.
Tatapan Siti Maryam tak berubah sedikit pun. Tidak ada rasa canggung, tidak pula kebencian. Yang ada hanya kerinduan yang selama ini disimpan begitu dalam.
Adzra memaksakan senyum tipis.
"Alhamdulillah... saya sehat, Bu."
Bibir Siti Maryam bergetar pelan.
"Alhamdulillah..."
Beliau mengangguk beberapa kali, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa perempuan di hadapannya benar-benar baik-baik saja.
"Akhirnya Ibu bisa melihatmu lagi."
Kalimat itu diucapkan sangat lirih.
Namun cukup membuat dada Adzra terasa sesak.
Selama bertahun-tahun ia sudah menyiapkan berbagai kemungkinan jika suatu hari bertemu kembali dengan keluarga Mahendra.
Ia membayangkan akan dipandang dingin.
Diabaikan.
Atau mungkin disalahkan.
Namun yang ia terima justru sebaliknya.
Tatapan penuh kasih.
Tatapan yang membuat luka lama kembali terbuka.
Adzra segera mengalihkan perhatian pada resep yang belum selesai ditulis.
"Obat tekanan darahnya tetap diminum setiap hari, Bu. Jangan lupa dikurangi makanan yang terlalu asin."
"Baik, Dok."
"Kalau pusingnya masih sering muncul, kontrol lagi dua minggu ke depan."
Siti Maryam mengangguk patuh.
"Insyaallah."
Adzra merobek lembar resep, lalu menyerahkannya.
Kali ini Ghazi yang menerimanya.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Tidak lebih dari dua detik.
Ghazi menganggukkan kepala pelan.
"Terima kasih, Dok."
Hanya itu.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada usaha membuka percakapan.
Seolah-olah mereka memang hanya dokter dan keluarga pasien.
Ghazi kembali berdiri di belakang kursi roda.
Dengan hati-hati ia membantu ibunya berbalik menuju pintu.
Namun sebelum benar-benar keluar, Siti Maryam menoleh sekali lagi.
"Jaga kesehatanmu, Nak."
Adzra tersenyum kecil.
"Iya, Bu."
Pintu ruang pemeriksaan tertutup perlahan.
Klik.
Suaranya pelan.
Tetapi entah mengapa terdengar begitu keras di telinga Adzra.
Ruangan kembali sunyi.
Ia masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya kosong mengarah ke pintu yang baru saja tertutup.
"Dok?"
Suara Rina membuyarkan lamunannya.
"Dokter tidak apa-apa?"
Adzra tersentak.
"Hm?"
"Wajah Dokter pucat."
Adzra menggeleng cepat.
"Mungkin sedikit lelah."
Rina tampak ragu.
"Kalau begitu saya buatkan teh hangat."
"Terima kasih."
Setelah Rina keluar, Adzra menjatuhkan tubuhnya perlahan ke kursi.
Ia mengembuskan napas panjang.
Tangannya yang sejak tadi tampak tenang kini mulai bergetar.
Pulpen yang masih berada di sela jemarinya terlepas.
Tok.
Benda itu jatuh ke lantai.
Adzra menunduk.
Namun ia tidak segera mengambilnya.
Tatapannya justru mengabur.
Sepuluh tahun.
Ia mengira waktu selama itu sudah cukup untuk menyembuhkan semuanya.
Nyatanya tidak.
Ternyata, melihat Ghazi lagi masih mampu mengacaukan pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun.
Perlahan ia menutup kedua matanya.
Suara lelaki itu kembali terngiang.
"Terima kasih, Dok."
Bukan "Adzra."
Bukan "Hanum."
Apalagi panggilan yang dulu hanya mereka berdua yang tahu.
Dok.
Sesederhana itu.
Namun cukup untuk mengingatkannya bahwa hubungan mereka kini telah berubah menjadi dua orang asing yang dipertemukan oleh takdir.
Seseorang mengetuk pintu.
"Dok, ini ada map pasien yang tadi tertinggal."
Rina masuk sambil membawa sebuah map berwarna cokelat.
"Tertinggal?"
"Iya. Sepertinya milik pasien yang memakai kursi roda tadi."
Adzra menerimanya.
Tangannya kembali membeku saat membaca nama yang tertera di sampul map.
Siti Maryam.
Di bawah nama pasien itu, tertulis nama penanggung jawab.
Ghazi Farhan Mahendra.
Nama yang selama sepuluh tahun hanya berani ia baca dalam doa-doa yang tak pernah selesai.
Adzra memejamkan mata.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak pagi itu, sebuah kalimat yang selama ini selalu ia kubur jauh di dalam hati akhirnya muncul kembali.
Ghazi Farhan Mahendra.
Lelaki yang pernah mengucapkan akad di hadapan ayahku.
Lelaki yang sepuluh bulan kemudian menjatuhkan talak kepadaku.
Dan... mantan suamiku baru saja datang ke klinik ini membawa ibunya.
***
--Bersambung--
Jangan lupa follow akun ig dan tiktok othor @duyung_indahyani123
Suara azan Magrib yang menggema dari masjid di seberang jalan menjadi penanda berakhirnya jam praktik hari itu.
Satu per satu perawat mulai merapikan meja pemeriksaan. Kursi-kursi di ruang tunggu yang sejak pagi dipenuhi pasien kini kembali kosong. Hanya tersisa aroma cairan disinfektan yang baru saja digunakan petugas kebersihan untuk mengepel lantai.
Lampu di lorong klinik dimatikan sebagian.
Hari itu akhirnya selesai.
Namun tidak bagi Adzra Hanum.
Ia masih duduk di balik meja kerjanya dengan jas putih yang belum sempat dilepas. Stetoskop masih melingkar di lehernya, sementara sebuah map rekam medis tergeletak di sudut meja.
Map berwarna cokelat itu seharusnya sudah berada di bagian administrasi.
Namun sejak tadi, jemarinya tak kunjung bergerak untuk mengembalikannya.
Tatapannya kembali jatuh pada tulisan yang tercetak rapi di bagian depan.
Nama Pasien : Siti Maryam
Di bawahnya tertulis nama penanggung jawab.
Ghazi Farhan Mahendra.
Adzra mengembuskan napas perlahan.
Sepuluh tahun.
Nama itu tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
Ia hanya belajar menyimpannya di tempat yang paling dalam, tempat yang tak lagi ia sentuh agar hidupnya bisa terus berjalan.
Hari ini...
Takdir seolah membuka kembali ruang yang selama ini berhasil ia kunci rapat.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan pelan di pintu membuat Adzra segera menutup map tersebut.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Seorang perempuan berhijab krem melangkah masuk sambil membawa dua gelas teh hangat.
"Masih belum pulang juga?"
Adzra mengangkat wajah.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
"Nabila."
Perempuan itu meletakkan kedua gelas di atas meja sebelum menarik kursi di depan Adzra tanpa perlu dipersilakan.
Sudah bertahun-tahun mereka berteman. Terlalu lama untuk masih menjaga formalitas.
"Kamu belum salat?" tanya Nabila.
"Belum. Habis ini."
Nabila mengangguk pelan. Pandangannya lalu beralih pada map yang masih berada di atas meja.
"Kamu biasanya langsung menyerahkan berkas pasien ke administrasi."
Adzra spontan menutup map itu dengan telapak tangannya.
Gerakan kecil yang tak luput dari perhatian sahabatnya.
Nabila menatap wajah Adzra beberapa detik.
Lalu menghela napas pelan.
"Kamu ketemu dia, ya?"
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Adzra tidak menjawab.
Ia hanya menundukkan kepala.
Namun bagi Nabila, diam itu sudah lebih dari cukup.
Selama sepuluh tahun mengenal Adzra setelah perceraian, hanya ada satu orang yang mampu membuat sahabatnya kehilangan ketenangan seperti ini.
Ghazi Farhan.
Nabila menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Rina cerita sedikit."
Adzra mengangkat kepala.
"Dia cerita apa?"
"Katanya Dokter tiba-tiba diam lama setelah pasien terakhir datang."
Adzra tersenyum tipis.
"Begitu, ya?"
"Aku kenal kamu, Ra."
Nabila mengambil salah satu gelas teh lalu mendorongnya ke arah Adzra.
"Kalau bukan sesuatu yang besar, kamu nggak mungkin kelihatan sekacau tadi."
Adzra menatap uap tipis yang mengepul dari permukaan teh.
Tangannya meraih gelas itu.
Hangat.
Namun tidak cukup hangat untuk mengusir dingin yang sejak siang memenuhi dadanya.
"Aku nggak nyangka akan ketemu hari ini."
Kalimat itu keluar nyaris berbisik.
Nabila mengangguk pelan.
"Dia sengaja datang?"
Adzra langsung menggeleng.
"Nggak."
"Kamu yakin?"
"Kalau sengaja... dia pasti sudah tahu klinik ini milikku."
Nabila mengernyit.
"Kamu yakin dia nggak tahu?"
Adzra terdiam sejenak.
Bayangan wajah Ghazi kembali muncul di benaknya.
Tatapan lelaki itu saat pertama kali melihatnya.
Ada keterkejutan yang sama.
Bukan ekspresi seseorang yang datang dengan rencana.
"Aku yakin."
Jawabannya mantap.
"Itu juga terlihat dari wajahnya."
Nabila menghela napas pelan.
"Berarti memang kebetulan."
Adzra tersenyum hambar.
"Bukan kebetulan."
Ia menatap keluar jendela. Langit mulai berubah gelap, sementara lampu-lampu jalan perlahan menyala.
"Mungkin... Allah memang mengizinkan kami bertemu lagi."
Kalimat itu menggantung di udara.
Tak satu pun dari mereka melanjutkannya.
Karena keduanya sama-sama tahu...
Bertemu kembali bukan berarti luka lama ikut sembuh.
Justru terkadang...
Pertemuan adalah awal dari terbukanya kembali luka yang selama ini tampak telah mengering.
***
Keheningan di antara mereka hanya ditemani kepulan uap dari dua gelas teh yang perlahan mulai menghangatkan ruangan.
Nabila memutar-mutar gelasnya pelan.
"Bagaimana keadaan Bu Maryam?"
Pertanyaan itu membuat Adzra kembali mengingat alasan pertemuan mereka siang tadi.
"Tekanan darahnya masih tinggi, tapi sudah lebih baik dibanding hasil pemeriksaan sebelumnya." jawabnya sambil membuka map rekam medis sekali lagi. "Beliau harus lebih disiplin minum obat dan mengurangi makanan yang terlalu asin."
"Beliau kelihatan kurus."
Adzra mengangguk.
"Iya."
"Usianya juga sudah bertambah."
"Semua orang bertambah tua, Bil."
Nabila tersenyum tipis.
"Iya. Termasuk kita."
Kalimat itu membuat Adzra ikut tersenyum, meski hanya sesaat.
Sepuluh tahun.
Tanpa terasa waktu sudah sejauh itu berjalan.
Mereka bukan lagi dua mahasiswi kedokteran yang sering begadang menghadapi ujian anatomi. Kini masing-masing telah memiliki jalan hidup sendiri.
Nabila memilih membantu Adzra mengelola Klinik Arafah Medika sejak klinik itu berdiri.
Sedangkan Adzra...
Ia memilih menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan.
Bukan karena ingin lari dari masa lalu.
Tetapi karena dengan bekerja, ia merasa hidupnya tetap memiliki tujuan.
Nabila memandang sahabatnya lekat-lekat.
"Aku boleh tanya sesuatu?"
Adzra mengangguk pelan.
"Masih marah sama Ghazi?"
Pertanyaan itu datang begitu saja.
Adzra tidak langsung menjawab.
Ia menatap teh di hadapannya yang kini tak lagi mengepulkan uap setebal tadi.
Entah sejak kapan, minuman itu mulai mendingin.
"Susah dijawab."
"Kenapa?"
"Karena aku sendiri nggak tahu."
Nabila mengernyit.
"Aku pernah marah."
Suara Adzra terdengar tenang.
"Sangat marah."
"Lalu?"
"Marah itu capek."
Ia tersenyum tipis.
"Sepuluh tahun terlalu lama untuk terus membawa amarah."
"Lalu sekarang?"
Adzra menarik napas panjang.
"Yang tersisa mungkin... kecewa."
Bukan kepada Ghazi semata.
Tetapi kepada kenyataan bahwa rumah tangga yang dulu begitu ia perjuangkan ternyata hanya bertahan sepuluh bulan.
Nabila tidak menyela.
Ia tahu, ketika Adzra mulai membuka sedikit isi hatinya, tugasnya hanya mendengarkan.
"Aku sering bertanya sama Allah..."
Suara Adzra nyaris berbisik.
"'Apa yang kurang dari kami waktu itu?'"
Ruangan kembali sunyi.
"Jawabannya?"
Adzra menggeleng.
"Nggak pernah ada."
"Bukan berarti Allah nggak menjawab."
Nabila tersenyum lembut.
"Mungkin jawabannya belum kamu pahami."
Adzra mengangguk pelan.
"Mungkin."
Malam mulai turun ketika keduanya meninggalkan klinik.
Lampu papan nama Klinik Arafah Medika masih menyala terang, menerangi halaman yang kini sudah kosong.
"Besok datang jam berapa?" tanya Nabila sambil mengunci pintu utama.
"Seperti biasa."
"Pagi?"
"Pagi."
Nabila mengangguk puas.
"Nah, itu Adzra yang aku kenal."
Adzra tertawa kecil.
"Memangnya kenapa?"
"Kukira setelah ketemu mantan suami, kamu bakal izin seminggu."
Adzra menggeleng sambil tersenyum.
"Aku dokter, Bil."
"Justru karena dokter."
Nabila mengangkat bahu.
"Dokter juga manusia."
Kalimat itu membuat keduanya tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya sejak siang, beban di dada Adzra terasa sedikit lebih ringan.
Mereka berpisah di area parkir.
Adzra masuk ke mobil berwarna putih yang sudah menemaninya hampir lima tahun terakhir.
Begitu mesin menyala, keheningan kembali menyapanya.
Tidak ada musik.
Tidak ada radio.
Ia memang lebih menyukai perjalanan dalam diam.
Mobil melaju perlahan meninggalkan klinik.
Jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang pulang setelah seharian bekerja.
Lampu-lampu toko memantulkan cahaya ke aspal yang masih menyisakan bekas hujan sore tadi.
Saat berhenti di lampu merah, pandangan Adzra tanpa sengaja tertuju pada sebuah sepeda motor di samping mobilnya.
Seorang ayah mengemudi di depan.
Seorang ibu duduk di belakang sambil memeluk anak kecil yang tertidur di pelukannya.
Anak itu mengenakan seragam taman kanak-kanak.
Kepalanya bersandar nyaman di dada sang ibu.
Sang ayah sesekali menoleh melalui kaca spion.
Memastikan istri dan anaknya baik-baik saja.
Pemandangan sederhana.
Sangat sederhana.
Namun entah mengapa...
Ada sesuatu yang membuat Adzra tidak mampu mengalihkan pandangannya.
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Motor itu melaju lebih dulu.
Adzra tetap diam beberapa detik sebelum akhirnya menginjak pedal gas.
Di sepanjang perjalanan, bayangan keluarga kecil itu terus terlintas di benaknya.
Bukan karena iri.
Bukan pula karena menyesal.
Hanya saja...
Dulu, ia pernah membayangkan masa depan yang hampir serupa.
Sebuah rumah kecil.
Suami yang pulang menjelang magrib.
Anak-anak yang berlari menyambut di depan pintu.
Mimpi itu pernah begitu dekat.
Lalu menghilang.
Tanpa sempat ia genggam.
Adzra menghela napas pelan.
Tangannya meraih kemudi lebih erat.
"Alhamdulillah..."
Bisiknya lirih.
"Apa pun yang Allah tetapkan... pasti yang terbaik."
Meski malam itu...
Hatinya masih belajar untuk benar-benar menerima kalimat tersebut.
***
Perjalanan pulang berlangsung nyaris tanpa suara.
Mesin mobil berdengung halus, mengiringi laju kendaraan yang membelah jalanan kota yang mulai lengang setelah salat Magrib. Cahaya lampu-lampu jalan memantul di kaca depan, sesekali diselingi rintik hujan yang turun kembali.
Ghazi menggenggam kemudi dengan kedua tangan.
Tatapannya lurus ke depan.
Sesekali ia melirik spion tengah, memastikan kondisi ibunya yang duduk tenang di kursi penumpang.
Siti Maryam memandang keluar jendela.
Entah apa yang sedang beliau pikirkan.
Namun Ghazi bisa menebaknya.
Pertemuan siang tadi masih membekas di benak mereka.
Sudah hampir lima belas menit mobil melaju tanpa percakapan.
Hingga akhirnya suara lembut sang ibu memecah keheningan.
"Itu Adzra."
Bukan pertanyaan.
Melainkan sebuah kepastian.
Ghazi mengangguk pelan.
"Iya, Bu."
Beliau menarik napas panjang.
"Ibu hampir tidak mengenalinya."
Ghazi tersenyum tipis.
"Dia berubah."
"Lebih dewasa."
"Iya."
Jawabannya singkat.
Tetapi di dalam hati, Ghazi menambahkan sesuatu yang tidak sempat keluar dari bibirnya.
Dan tetap setenang dulu.
Ia masih ingat bagaimana Adzra selalu berbicara dengan suara lembut, bahkan ketika sedang marah.
Hari ini...
Perempuan itu tetap sama.
Hanya saja kini senyum yang dulu sering ia lihat terasa jauh lebih tipis.
"Kamu tahu kalau klinik itu miliknya?"
Pertanyaan itu membuat jemari Ghazi mengerat pada kemudi.
Ia menggeleng pelan.
"Tidak."
Siti Maryam menoleh.
"Benar-benar tidak tahu?"
"Tidak, Bu."
Ia mengembuskan napas perlahan.
"Kalau tahu... aku pasti memilih tempat lain."
Ucapan itu membuat Siti Maryam terdiam beberapa saat.
"Kenapa?"
Ghazi tidak langsung menjawab.
Ia menunggu hingga mobil berhenti di lampu merah.
Barulah ia berkata pelan.
"Aku tidak ingin mengganggu hidupnya."
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup membuat mata Siti Maryam mulai berkaca-kaca.
Beliau tahu.
Anaknya tidak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi sepuluh tahun lalu.
Mobil kembali melaju.
Tak lama kemudian mereka memasuki kawasan perumahan yang teduh dengan deretan pohon mahoni di sisi jalan.
Rumah bercat krem dua lantai di ujung blok perlahan terlihat.
Ghazi memarkir mobil di garasi.
Ia turun lebih dulu, lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi ibunya.
"Hati-hati, Bu."
Tangannya menopang lengan sang ibu dengan hati-hati hingga berhasil berdiri.
Sesaat sebelum melangkah masuk, Siti Maryam memegang pergelangan tangan Ghazi.
"Nak."
Ghazi menoleh.
"Iya, Bu?"
Beliau menatap wajah putranya lama.
Tatapan seorang ibu yang mengenal setiap luka anaknya, meski tak pernah diucapkan.
"Sepuluh tahun itu lama."
Ghazi diam.
"Tapi tidak ada satu hari pun Ibu melihat kamu benar-benar melupakan."
Ghazi menundukkan kepala.
Ia tidak menyangkal.
Karena memang tidak bisa.
Siti Maryam melanjutkan dengan suara pelan.
"Kalau suatu hari Allah memberi jalan..."
Beliau berhenti sejenak.
"Jangan ulangi kesalahan yang sama."
Ghazi mengangkat wajah.
Untuk pertama kalinya malam itu, sorot matanya berubah.
Bukan karena marah.
Bukan pula karena sedih.
Melainkan karena ada penyesalan yang tak pernah benar-benar selesai.
"Insyaallah, Bu."
Hanya dua kata itu yang mampu ia ucapkan.
Malam semakin larut.
Setelah memastikan ibunya sudah beristirahat dan meminum obat, Ghazi masuk ke kamar kerjanya.
Ruangan itu sederhana.
Sebuah meja kayu memenuhi sisi dekat jendela.
Rak buku berjajar rapi di dinding.
Beberapa pigura berisi foto perjalanan umrah bersama para jemaah memenuhi sudut ruangan.
Ghazi meletakkan kunci mobil di atas meja.
Lalu duduk perlahan.
Keheningan kembali menyelimutinya.
Tanpa sadar, tangannya merogoh saku belakang celana.
Ia mengeluarkan dompet kulit berwarna cokelat tua yang sudah menemaninya bertahun-tahun.
Dompet itu tampak mulai kusam di beberapa bagian.
Ghazi membukanya.
Di balik slot kartu yang paling dalam, terselip sebuah foto berukuran kecil.
Ia menariknya perlahan.
Foto itu sudah memudar.
Sudut-sudutnya bahkan mulai terlipat.
Namun wajah dua orang di dalamnya masih terlihat jelas.
Seorang laki-laki dengan setelan jas sederhana.
Seorang perempuan berbalut gamis putih dan kerudung senada.
Keduanya tersenyum canggung ke arah kamera.
Foto itu diambil beberapa menit setelah ijab kabul.
Ghazi mengusap pelan sudut foto yang mulai rusak.
Bukan karena takut foto itu hilang.
Melainkan karena benda kecil itu adalah satu-satunya kenangan yang selalu ia bawa ke mana pun pergi.
Pintu kamar diketuk pelan.
"Mas."
Suara Ja'far terdengar dari luar.
"Sudah tidur?"
Ghazi segera memasukkan kembali foto itu ke dalam dompet.
"Belum."
Ja'far membuka pintu sedikit.
"Tadi Ibu sudah tidur?"
"Sudah."
Ja'far mengangguk.
"Alhamdulillah."
Ia hendak menutup pintu, tetapi langkahnya terhenti.
"Oh ya..."
"Besok kita jadi survei hotel untuk keberangkatan umrah bulan depan?"
Ghazi mengangguk singkat.
"Jadi."
"Baik."
Pintu kembali tertutup.
Ruangan kembali sunyi.
Ghazi menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Pandangannya jatuh pada dompet yang masih berada di atas meja.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Ia kembali mengingat wajah Adzra bukan sebagai kenangan.
Melainkan sebagai seseorang yang benar-benar telah ia temui.
Dan untuk pertama kalinya pula...
Ia mulai bertanya dalam hati.
Apakah pertemuan hari ini benar-benar hanya sebuah kebetulan... atau Allah sedang membuka pintu yang selama ini telah tertutup?
***
--Bersambung--
Selamat membaca, jangan lupa follow akun instagram dan tiktok othor @Duyung_Indahyani123
Suara alarm ponsel berdering pelan tepat pukul empat lewat lima belas menit.
Ghazi Farhan membuka mata sebelum nada dering itu selesai berbunyi. Tangannya meraih ponsel di atas nakas, lalu mematikannya. Ia duduk sejenak di tepi ranjang, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan sebelum mengucapkan doa bangun tidur.
Rumah masih sunyi.
Hanya terdengar dengungan pendingin ruangan dan sesekali suara jangkrik dari halaman belakang.
Ia melangkah menuju kamar mandi, mengambil wudlu, lalu berjalan ke mushala kecil yang berada di sisi ruang keluarga. Lampu gantung berwarna kuning temaram menerangi ruangan sederhana itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah pelan.
Siti Maryam muncul dengan mukena putih yang telah dikenakannya.
"Sudah bangun, Nak?"
Ghazi menoleh dan tersenyum.
"Alhamdulillah."
Ia segera menghampiri ibunya.
"Hati-hati, Bu."
Tangannya sigap menopang lengan sang ibu hingga duduk di kursi kecil yang biasa digunakan untuk mengenakan mukena.
"Apa pusingnya masih terasa?"
Siti Maryam menggeleng.
"Sudah jauh berkurang."
"Alhamdulillah."
Tak ada percakapan panjang setelah itu.
Mereka menunaikan salat Subuh berjemaah dalam keheningan yang menenangkan.
Usai berzikir, Ghazi membantu melipat sajadah ibunya, lalu mengantarnya kembali ke kamar.
"Kamu mau langsung berangkat kerja?" tanya Siti Maryam.
"Nanti, Bu. Setelah sarapan."
"Ibu bisa menyiapkan sendiri."
Ghazi menggeleng pelan.
"Biar Ghazi saja."
Beliau hanya tersenyum.
Sudah bertahun-tahun anaknya melakukan rutinitas yang sama.
Menyiapkan sarapan.
Mengingatkan obat.
Mengantar kontrol.
Mengurus hampir semua kebutuhan rumah.
Kadang hati seorang ibu merasa bangga.
Namun di sisi lain...
Ada doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan.
Ya Allah... sampai kapan anakku menjalani semuanya sendirian?
***
Dapur rumah itu tidak terlalu luas, tetapi tertata rapi.
Ghazi membuka lemari pendingin, mengambil beberapa potong roti gandum, telur, dan sekotak susu rendah lemak.
Tangannya bergerak cekatan.
Roti dipanggang.
Telur direbus.
Sementara di atas kompor, oatmeal dimasak perlahan.
Sesekali ia melihat catatan kecil yang ditempel di pintu kulkas.
Obat pagi – setelah makan.
Catatan itu ditulisnya sendiri beberapa bulan lalu, ketika dokter menyarankan agar tekanan darah ibunya dipantau lebih ketat.
Tak lama kemudian, aroma roti panggang memenuhi dapur.
"Mas, pagi."
Seorang pria bertubuh tinggi memasuki dapur sambil mengusap rambut yang masih sedikit basah.
Ja'far.
Sepupu Ghazi yang sejak tiga tahun terakhir tinggal bersama mereka.
Ia juga menjadi manajer operasional di Safa Amanah Tour, biro perjalanan umrah dan haji yang dirintis Ghazi.
"Pagi."
Ghazi meletakkan dua piring di atas meja makan.
"Sudah lari pagi?"
Ja'far mengangguk.
"Seperti biasa."
Pandangan Ja'far jatuh pada semangkuk oatmeal.
"Masih menu sehat?"
Ghazi tersenyum kecil.
"Dokter bilang tekanan darah Ibu belum stabil."
Ja'far mengangguk memahami.
Beberapa saat mereka menikmati sarapan dalam diam.
Hingga akhirnya Ja'far membuka percakapan.
"Bagaimana hasil kontrol kemarin?"
"Lebih baik."
"Alhamdulillah."
Ja'far mengambil segelas air putih.
"Dokternya bagaimana?"
Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Ghazi berhenti sesaat.
Hanya sesaat.
"Baik."
"Cocok?"
"Iya."
"Kalau begitu kontrol berikutnya di sana lagi saja."
Ghazi belum sempat menjawab.
Suara Siti Maryam terdengar dari ruang tengah.
"Ibu juga maunya begitu."
Beliau berjalan perlahan menuju meja makan.
Ghazi segera bangkit membantu menarikkan kursi.
"Duduk pelan-pelan, Bu."
"Terima kasih."
Siti Maryam tersenyum hangat kepada kedua lelaki di hadapannya.
"Dokternya telaten."
Ja'far ikut mengangguk.
"Kalau Ibu nyaman, lanjut saja di sana."
Ghazi menatap ibunya beberapa detik.
Ia tahu.
Alasan itu benar.
Namun bukan satu-satunya alasan.
Beliau ingin kembali bertemu Adzra.
Dan entah mengapa...
Ia tidak memiliki keberanian untuk menolak keinginan itu.
"Kalau memang Ibu cocok," ucap Ghazi akhirnya.
"Kita kontrol di sana lagi."
Senyum di wajah Siti Maryam langsung mengembang.
"Alhamdulillah."
Ghazi menundukkan kepala, menyuapkan sesendok oatmeal ke mulutnya.
Rasanya hambar.
Atau mungkin...
Lidahnya memang sedang tidak mampu membedakan rasa sejak pertemuan kemarin.
Di sudut meja, ponselnya bergetar.
Layar menampilkan notifikasi dari staf kantor.
Pak Ghazi, jadwal rapat dengan vendor hotel pukul 09.00 sudah dikonfirmasi.
Ia menarik napas pelan.
Hari ini akan menjadi hari yang panjang.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Kesibukan kantor tidak lagi memenuhi seluruh isi kepalanya.
Di sela-sela agenda yang menunggu, ada satu wajah yang terus muncul tanpa diminta.
Wajah seorang dokter dengan jas putih.
Yang dulu pernah menjadi perempuan paling dekat dalam hidupnya.
***
Pukul delapan pagi.
Ruang tunggu Klinik Arafah Medika sudah kembali dipenuhi pasien.
Seorang balita menangis karena enggan disuntik. Di sudut lain, seorang bapak paruh baya sedang berkonsultasi dengan petugas administrasi mengenai jadwal pemeriksaan kesehatan. Aroma kopi dari pantry kecil bercampur dengan wangi antiseptik yang sudah menjadi ciri khas klinik itu.
Adzra baru saja menyelesaikan pemeriksaan pasien ketiganya pagi itu.
"Tekanan darah Bapak sudah jauh lebih baik," ucapnya sambil menuliskan resep.
Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu tersenyum lega.
"Alhamdulillah. Berarti obatnya cocok, ya, Dok?"
"Bukan hanya obat."
Adzra ikut tersenyum.
"Bapak juga disiplin mengurangi rokok, kan?"
Pria itu tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya.
"Istri saya yang galak, Dok. Baru pegang rokok satu batang saja langsung dimarahi."
"Nah, itu bagus."
"Takut istri lebih ampuh daripada takut dokter."
Ruangan dipenuhi tawa ringan.
Adzra menyerahkan resep.
"Teruskan pola makannya, ya, Pak. Jangan sampai setelah sehat malah kembali ke kebiasaan lama."
"Siap, Dok."
Setelah pasien itu keluar, Adzra melepas kacamatanya sejenak.
Ia memijat pelipisnya pelan.
Belum sempat menikmati jeda, Rina mengetuk pintu.
"Dok, pasien berikutnya sudah siap."
"Silakan masuk."
Hari berjalan cepat.
Pasien datang silih berganti.
Ada yang hanya flu ringan.
Ada yang harus dirujuk ke rumah sakit karena membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Ada pula seorang ibu hamil muda yang datang hanya untuk memastikan tekanan darahnya normal.
Bagi Adzra, setiap pasien memiliki cerita.
Dan setiap cerita layak didengarkan.
Menjelang waktu Zuhur, ruang praktik akhirnya sedikit lengang.
Adzra menutup map pasien terakhir.
Ia menyandarkan tubuhnya sebentar.
"Dok."
Rina kembali muncul di depan pintu.
"Ya?"
"Ini jadwal kontrol minggu depan."
Adzra menerima tablet yang disodorkan Rina.
Sistem administrasi klinik kini sudah terhubung secara digital. Semua jadwal kontrol pasien langsung masuk ke akun masing-masing dokter.
Ia menggulir layar perlahan.
Senin.
Selasa.
Rabu.
Nama-nama pasien muncul berurutan.
Sebagian besar sudah tidak asing baginya.
Hingga jemarinya berhenti.
Siti Maryam.
Kontrol tekanan darah.
Dua minggu lagi.
Waktu seakan melambat.
Adzra menatap nama itu cukup lama.
Tidak ada yang berubah di layar.
Namun dadanya kembali dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.
"Dok?"
Suara Rina membuyarkan lamunannya.
"Semua sudah sesuai?"
Adzra mengangguk pelan.
"Iya."
Rina keluar tanpa curiga.
Beberapa detik kemudian, Nabila masuk sambil membawa map laporan keuangan klinik.
"Aku butuh tanda tanganmu."
Adzra mengambil map itu.
Namun perhatian Nabila justru tertuju pada layar tablet yang masih menyala.
Ia membaca sekilas.
Lalu mengangkat sebelah alisnya.
"Beliau daftar lagi?"
Adzra mengembuskan napas perlahan.
"Iya."
Nabila menutup pintu ruang praktik sebelum kembali menatap sahabatnya.
"Kamu bisa minta dialihkan ke dokter lain."
"Itu hakmu."
Adzra terdiam.
Kalimat itu memang benar.
Di klinik ini ada tiga dokter umum.
Secara aturan, pasien bisa dipindahkan jika ada alasan tertentu.
Namun setelah beberapa saat berpikir, Adzra menggeleng pelan.
"Tidak."
Nabila tidak terkejut.
Ia seolah sudah menduga jawaban itu.
"Kamu yakin?"
Adzra mengunci layar tabletnya.
Lalu menatap sahabatnya dengan tenang.
"Aku dokter."
Suaranya pelan, tetapi tegas.
"Beliau pasienku."
"Kalau aku mulai memilih pasien hanya karena masa laluku, berarti aku belum adil pada profesiku."
Nabila tersenyum tipis.
Jawaban itu...
Sangat Adzra.
Selalu mendahulukan amanah sebelum perasaannya sendiri.
"Aku bangga sama kamu."
Adzra tertawa kecil.
"Jangan bangga dulu."
"Kenapa?"
"Dua minggu itu terasa sebentar."
Nabila ikut tersenyum.
"Lalu?"
"Aku juga manusia, Bil."
Untuk pertama kalinya pagi itu, mereka sama-sama tertawa.
Tawa yang ringan.
Namun cukup mengurangi ketegangan yang sejak kemarin memenuhi hati Adzra.
***
Menjelang sore, pasien mulai berkurang.
Adzra keluar dari ruang praktik menuju ruang farmasi untuk memastikan stok obat antihipertensi yang mulai menipis.
Ia berbincang sebentar dengan apoteker, mengecek daftar pemesanan, lalu berjalan menuju ruang administrasi.
Di meja depan, seorang ibu muda sedang menyelesaikan pembayaran.
Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki yang memegang balon berbentuk bintang.
Saat hendak keluar, anak itu tiba-tiba berlari kecil menghampiri Adzra.
"Dokter!"
Adzra spontan berjongkok.
"Iya?"
Anak itu menyodorkan balon kuning yang sejak tadi digenggamnya.
"Buat Dokter."
Ibunya buru-buru mendekat.
"Aduh, Nak. Itu kan balonmu."
"Tapi Dokter baik."
Adzra tersenyum hangat.
Ia mengusap pelan kepala anak itu.
"Terima kasih."
"Tapi balonnya disimpan saja ya."
"Dokter lebih senang melihat kamu yang membawanya."
Anak itu mengangguk sambil tersenyum lebar.
Sebelum pergi, ia melambaikan tangan.
"Dadah, Dokter!"
"Dadah."
Adzra ikut melambaikan tangan.
Nabila yang sejak tadi berdiri di dekat meja administrasi memperhatikan pemandangan itu sambil menggeleng pelan.
"Pantas saja pasienmu betah."
Adzra mengerutkan dahi.
"Kenapa?"
"Kamu selalu membuat mereka merasa didengar."
Adzra hanya tersenyum.
Baginya, menjadi dokter bukan sekadar memberikan resep.
Kadang...
Orang datang ke klinik hanya ingin diyakinkan bahwa mereka akan baik-baik saja.
Dan terkadang...
Kalimat yang paling dibutuhkan pasien bukanlah nama obat.
Melainkan...
"Insyaallah, kita usahakan bersama."
***
Langit mulai menggelap ketika Ghazi memarkir mobilnya di halaman rumah.
Hari itu berjalan lebih padat dari yang ia bayangkan.
Sejak pagi ia harus menghadiri rapat dengan pihak hotel rekanan untuk keberangkatan umrah bulan depan, dilanjutkan dengan pengecekan perlengkapan jemaah yang baru tiba dari percetakan. Belum lagi beberapa calon jemaah lanjut usia yang datang langsung ke kantor karena merasa lebih nyaman berkonsultasi secara tatap muka.
Biasanya pekerjaan seperti itu tidak terlalu menguras pikirannya.
Namun hari ini berbeda.
Beberapa kali, tanpa alasan yang jelas, wajah Adzra muncul begitu saja di sela-sela kesibukannya.
Ia bahkan sempat salah menyebut tanggal keberangkatan saat rapat berlangsung.
Beruntung Ja'far segera mengoreksi sebelum kesalahan itu tercatat.
"Mas."
Suara Ja'far menghentikan langkahnya yang baru saja turun dari mobil.
"Besok jangan lupa ada presentasi kerja sama dengan yayasan."
Ghazi mengangguk.
"Sudah aku masukkan ke agenda."
Ja'far menatap sepupunya beberapa detik.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?"
Ghazi tersenyum tipis.
"Terlalu kelihatan?"
"Sedikit."
Ja'far terkekeh pelan.
"Biasanya Mas Ghazi nggak pernah salah menyebut tanggal."
Ghazi hanya menggeleng sambil berjalan masuk ke rumah.
"Aku cuma kurang fokus."
Ja'far tidak mengejar jawaban itu.
Ia mengenal Ghazi cukup lama untuk tahu bahwa lelaki itu hanya akan bercerita ketika benar-benar siap.
***
Di ruang keluarga, aroma sup ayam memenuhi udara.
Siti Maryam sedang menyusun mangkuk di atas meja makan ketika Ghazi menghampiri.
"Bu, kenapa tidak menunggu Ghazi saja?"
"Ibu cuma mengambil mangkuk."
Ghazi langsung mengambil alih.
"Nanti kalau pusing lagi bagaimana?"
Beliau tersenyum.
"Dokter Adzra juga bilang Ibu harus tetap bergerak."
Ghazi terdiam sesaat.
Nama itu kembali disebut.
Dan lagi-lagi dadanya terasa sedikit sesak.
Mereka makan malam dalam suasana tenang.
Ja'far beberapa kali bercerita tentang tingkah lucu salah satu calon jemaah yang bersikeras membawa koper berisi sambal buatan istrinya ke Tanah Suci.
Siti Maryam tertawa kecil.
Bahkan Ghazi ikut tersenyum mendengarnya.
Suasana seperti itu jarang terjadi.
Dan Ghazi bersyukur ibunya mulai kembali ceria.
Setelah makan malam selesai dan obat telah diminum, Siti Maryam memanggil Ghazi yang sedang membereskan meja.
"Nak."
"Iya, Bu?"
"Ibu sudah menelepon klinik tadi siang."
Ghazi menghentikan gerakannya.
"Menelepon?"
"Iya."
"Untuk apa?"
Siti Maryam menatap putranya dengan senyum lembut.
"Ibu minta jadwal kontrol dua minggu lagi."
Ghazi mengangguk pelan.
"Itu memang jadwal dari dokternya."
Beliau menggeleng.
"Bukan itu."
Ghazi mengernyit.
"Ibu minta supaya tetap ditangani Dokter Adzra."
Ruangan mendadak sunyi.
Ja'far yang sedang menuang air minum ikut menghentikan gerakannya.
Ghazi menatap ibunya cukup lama.
"Bu..."
"Ibu tahu apa yang mau kamu katakan."
Suara Siti Maryam tetap lembut.
"Tapi Ibu benar-benar nyaman dengan beliau."
Ghazi menghela napas panjang.
"Kalau memang karena pelayanan dokternya baik, Ghazi tidak keberatan."
"Itu memang salah satu alasannya."
"Lalu alasan yang lain?"
Siti Maryam tersenyum tipis.
"Ibu rindu."
Jawaban itu begitu sederhana.
Namun membuat tidak ada lagi kata-kata yang mampu keluar dari bibir Ghazi.
"Ibu tidak memaksa apa pun."
Beliau melanjutkan pelan.
"Ibu juga tidak berharap kalian harus kembali bersama."
Ghazi menunduk.
"Ibu hanya... bersyukur Allah memperlihatkan kepada Ibu bahwa Adzra baik-baik saja."
Kalimat itu menusuk tepat ke dalam hati Ghazi.
Selama sepuluh tahun...
Ia selalu bertanya-tanya.
Apakah Adzra bahagia.
Apakah ia sehat.
Apakah hidupnya berjalan baik.
Namun ia tidak pernah mencari tahu.
Bukan karena tidak peduli.
Melainkan karena merasa dirinya sudah tidak memiliki hak.
"Maafkan Ibu kalau membuatmu tidak nyaman."
Ghazi segera menggeleng.
"Jangan bilang begitu, Bu."
Ia tersenyum kecil, berusaha menenangkan ibunya.
"Kalau Ibu merasa cocok dengan dokternya..."
"...kita tetap kontrol di sana."
Siti Maryam mengucap hamdalah pelan.
Sementara Ja'far hanya memperhatikan dari kejauhan.
Untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa perempuan bernama Adzra bukan sekadar masa lalu bagi Ghazi.
Ada sesuatu yang masih tertinggal.
Sesuatu yang belum selesai.
***
Malam semakin larut.
Ghazi berdiri di balkon lantai dua.
Angin malam berembus pelan.
Di tangannya tergenggam secangkir teh hangat yang perlahan mulai kehilangan uapnya.
Ia menatap langit tanpa benar-benar melihat apa pun.
Pertemuan kemarin.
Permintaan ibunya.
Nama Adzra yang terus muncul hari ini.
Semuanya datang begitu cepat.
Ia menyesap tehnya sekali.
Lalu mengembuskan napas panjang.
"Ya Allah..."
Bisiknya lirih.
"Kalau ini hanya ujian untuk menguatkan hati kami..."
"...cukupkan aku dengan ridha-Mu."
Ia berhenti sejenak.
"...tapi kalau ini adalah jalan yang sedang Engkau bukakan..."
Ghazi tidak melanjutkan doanya.
Karena bahkan ia sendiri belum berani menyelesaikan kalimat itu.
Di tempat lain, pada malam yang sama...
Adzra baru saja menutup laptop setelah menyelesaikan laporan klinik.
Ponselnya bergetar pelan.
Notifikasi dari bagian administrasi muncul di layar.
| Dok\, pasien atas nama Ibu Siti Maryam sudah mengonfirmasi jadwal kontrol dua minggu lagi. Beliau juga meminta agar tetap ditangani Dokter Adzra.
Adzra membaca pesan itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Jemarinya perlahan mengunci layar ponsel.
Ia memandang keluar jendela kamar.
Langit malam terlihat begitu tenang.
Namun tidak dengan hatinya.
Untuk pertama kalinya...
Ia benar-benar menyadari.
Pertemuan di klinik tempo hari...
Bukanlah pertemuan terakhir.
***
---Bersambung--
Selamat membaca, jangan lupa like, komen, share dan tambahkan ke novel favoritmu ya. hehe
Sama, emm jangan lupa follow akun instagram dan tiktok othor: @Duyung_indahyani123
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!