Celine selalu menyukai Ares, hanya sekadar berada di dekat laki-laki itu mampu membuat Celine kelimpungan. Bibirnya kelu, pipinya memanas. Teman-temannya tertawa dengan mengejek, merasa geli dengan tingkah laku Celine.
Ares sudah pergi sejak sepuluh menit yang lalu, sorot mata mengejek itu tak kunjung sirna. Berlian berkata dengan nada sinis, "Kalau suka dibilang, diambil cewek lain entar nangis."
"Masa aku yang yang bilang suka duluan," kata Celine menunduk.
"Lawak banget, kalau nggak diutarakan mana tahu dia."
"Susah."
Berlian memutar bola mata malas, dia jengah. Bosan dengan sikap Celine. "Serah deh, gak aku juga yang rugi. Selamat menikmati masa-masa jadi pengagum rahasia yang rahasia banget."
"Kasar banget ngomongnya, kamu udah gak nganggap aku sahabatmu lagi?" kata Celine mengedipkan matanya berulang kali.
"Lebay amat, jijik, jangan lihat aku kayak gitu."
Celine tertawa pendek.
Berlian, satu-satunya teman dekat Celine yang begitu dipercaya. Perempuan itu tahu betapa gilanya sahabatnya menjadi seorang pengagum. Semuanya itu bermula ketika Celine duduk di bangku kelas sepuluh, hari pertama MPLS.
Celine dan Ares duduk sebangku waktu itu, berkenalan dan saling bertukar informasi mengenai sekolah baru. Celine sudah terpikat duluan dengan laki-laki itu, senyuman dengan lesung pipi yang mampu meruntuhkan pertahannya.
Celine tidak mau melewatkan satu momen pun, waktu Ares sedang makan, menerima penghargaan, memenangkan lomba basket yang mewakili sekolah. Semua potret laki-laki itu diabadikan dalam sebuah album. Dibawa ke mana-mana.
"Ke mana perginya albumku?!" pekik Celine frustasi di dalam kelas sewaktu jam istirahat. Hanya ada dia dan Berlian di dalam.
"Jangan berteriak!"
"Album foto Ares hilang, bagaimana ini? Aku sudah mengumpulkan itu sangat lama. Kemana harus kucari," tukas Celine, tak terasa bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya.
"Gitu doang nangis, pikirin aja gimana kalo ada orang yang nemu dan dia tahu kamu yang punya." ujar Berlian, dia tampak tidak peduli dengan penderitaan Celine.
"Jahat banget, malah buat aku makin kepikiran, gimana kalau Ares tahu. Malu banget!"
Berlian menimpali, "Biarin aja dia tahu, sekalian confess, mana tahu dia juga suka balik. Daripada capek-capek ngintilin."
"Bukannya bantu malah mojokin! Kamu teman apa enggak sih?!"
Berlian menghela napas berat, memijat pelipisnya. Dia pusing mendengarkan ocehan Celine yang tidak berakhir.
"Kapan hilang?"
"Pagi tadi masih ada kok, masih aku selipkan foto yang semalam." Celine mengguncang pundak Berlian.
"Gimana ini?!"
"Tenangin diri dulu, gak bakal kelar masalahnya kalau kamu sibuk dengan risiko paling buruk," tutur Berlian. Dia menarik lengan Celine, mengajak perempuan itu duduk. "Terakhir kamu lihat di mana, waktu lagi apa?"
"Tadi pagi, sebelum ke gudang buat ambil peralatan. Ah ya, gudang!"
Celine dengan cepat berdiri, menghiraukan Berlian yang kembali berdecak kesal. Diabaikan.
"Nggak ada, ke mana sih perginya. Atau jangan-jangan jatuh di tempat lain?!" Celine mengacak-acak rambutnya, berpikir dengan sangat keras apa ada sesuatu yang dilewatkan.
"Cari pelan-pelan, selesaikan masalah dengan kepala dingin," ucap Berlian menasehati, dia melangkah semakin dalam masuk ke dalam.
"Aku udah cari di setiap sudut, emang enggak ada!"
"Bandel banget kamu dibilangin, cari sekali lagi, baru kita lihat di tempat lain. Sehabis dari gudang kau pergi ke mana? Jajan?" kata Berlian sembari mencari, dia membuka lemari kayu yang tampak berdebu.
"Beli minum tadi ke kantin, tadi kan lupa bawa minum buat bekal."
"Habislah sudah, pasti udah hilang kalau gitu," kata Celine bergumam, sayangnya masih dapat didengar oleh Celine.
"Berlian ...!" rengek Celine.
"Oke, kita cari di lorong menuju kantin, mana tahu emang beneran jatuh." putus Berlian, kemudian memimpin jalan keluar dari gudang.
Di sepanjang koridor, Celine celingak-celinguk memandang setiap jalan yang dia lalui. Berulang kali memilin bibir bawahnya dengan perasaan gundah.
"Ah, capek!" seru Berlian kemudian duduk di salah satu meja kantin. Dia menutup mata, tidak mengindahkan Celine yang melayangkan tatapan protes.
"Aku lapar Celine, beli snack dulu, ya?"
"Mana bisa gitu! Waktu kita terbatas, sebentar lagi mau masuk jam pelajaran, ngertiin aku dong!" Berlian mendengus, dia bangkit dan memilih mengantri di stan makanan. Colekan di punggungnya sama sekali tidak menggoyahkan pendirian Berlian.
"Mie ayam kamu lebih penting dari aku?!" kata Celine murka, ikut duduk dengan Berlian yang mulai mengunyah makanan yang baru dia pesan.
"Pake nanya."
"Terus ini gimana Berlian," ucap Celine, matanya kembali berkaca-kaca. Perempuan itu menenggelamkan kepalanya di lipatan tangan. "Aku gak mau kehilangan album itu."
"Makanya, duduk aja dulu. Lagian ..." kata Berlian. "kita juga udah nyari, bukannya enggak berusaha. Kalaupun kita keliling sebanyak sepuluh kali, emang ketemu. Udah lah Celine, relain aja, gak bakal ada yang tahu juga itu punya kamu."
"Gimana kalau ada yang tahu?"
"Siapa?"
Celine menjawab enteng, "Ya, gak tahu."
Hening setelahnya, Celine sibuk meratapi nasib album fotonya yang hilang. Sementara Berlian menghabiskan sisa mie ayamnya.
"Boleh enggak kami gabung, gak ada lagi bangku kosong." Seseorang berdiri di samping Celine. Perempuan itu menjawab dengan malas, "Boleh, duduk aja." Dia menoleh lantas membulatkan matanya. Sepersekian detik kemudian mengalihkan pandangannya.
Ares Pratama di depannya.
Laki-laki itu berkata dengan ramah, "Makasih."
"Wow!" Berlian telah selesai dengan sesi mie ayam. Dia memperhatikan perubahan Celine yang terlalu cepat. Perempuan itu menunduk, jelas karena Ares duduk di sampingnya. Sejenak Celine mendongak, sorot matanya seolah meminta pengertian.
Udah selesaikan, ayo pergi!
Namun, Berlian enggan untuk beranjak, betah menikmati tingkah konyol sahabatnya.
"Kenapa dengan Celine, sedang tidak enak badan?" Bian yang sedari tadi memperhatikan menoleh pada Berlian.
"Dia tantrum karena barangnya hilang, spesial banget soalnya. Anaknya bad mood." tutur Berlian.
Ares ikut menimpali, agak merasa prihatin pada teman sekelasnya yang tampak tidak bersemangat, "Apa yang hilang."
"E-Enggak ada! Dia, dia cuman bercanda. Berlian jangan buat orang salah paham, aku cuman ngerasa cuaca panas banget," kata Celine lantas berdiri, mengipasi wajahnya yang sedikit merona. "Cuaca hari ini ekstrem banget!"
Berlian tiba-tiba tertawa, dia juga ikut beranjak. Meraih tangan Celine untuk pergi dari sana. "Kami pergi dulu ya, udah kenyang!" katanya diacungi jempol oleh Bian.
"Jangan begitu lagi deh," tukas Celine kesal, dia menyikut lengan Berlian membuat perempuan itu mengaduh kesakitan.
"Seperti katamu tadi, bercanda. Lagian si Ares juga gak bakal ngeh."
"Ya, kan, tetap aja. Ah, kamu gak ngerti!" Celine berjalan cepat, tidak menghiraukan Berlian yang terus memanggilnya.
"Dasar labil, dibilang confess aja kagak mau. Giliran dibantu malah sewot."
Ares membuka pintu gudang pagi itu, hendak mengambil bola basket. Dia berhenti tepat di depan rak usang, sebuah buku kecil tergeletak di sana, kontras dengan keadaan gudang. Sampulnya bersih, terikat pita hitam yang membungkus. Rasa penasaran mendorong Ares mengambil buku itu.
Laki-laki itu menarik simpul pita, membuka satu per satu halaman yang membuatnya terpaku. Berhenti.
"Wajahku?" tanyanya bergumam. Dia kembali membalik halaman, tidak ada hal lain selain foto dan stiker love.
"Ini maksudnya apa?"
Banyak sekali foto di album itu, dari potret yang diambil diam-diam. Bahkan sampai foto yang jelas tertera di postingan media sekolah. Note kecil di halaman depan buku mengalihkan pandangannya.
My favorite person, kapan ya di notice. Huhu T-T, i really like u. Bisa gak kamu suka juga?
Tidak ada nama yang tertera di sana membuat tanda tanya besar di kepala Ares.
Ares menghela napas panjang, dia mengamati buku kecil yang diputar-putar sejak beberapa menit yang lalu. Laki-laki itu sedang beristirahat di rooftop. Dia baru saja teringat kejadian kemarin di gudang.
"Kira-kira siapa, ya?" Ares memandang langit biru kemudian menyungging senyum tipis, merasa lucu dengan sebaris kalimat yang tertera di halaman depan. Berulang kali telah dibacanya sejak semalam.
Sebuah siulan membuyarkan pikiran Ares, Bian menghampirinya dengan sebuah soda kaleng yang disodorkan. Ares menerimanya baik.
"Pak Bambang gak masuk?" tanya Ares, saat ini memang masih jam pelajaran.
"Enggak, makanya aku datang kemari. Eh, ngomong-ngomong," kata Bian, dia menyipitkan mata. "itu apa yang kau pegang?"
"Bukan apa-apa." Ares dengan cepat menyembunyikan album itu di balik jaketnya.
"Turun ayo, aku bosan. Mending kita latihan basket. Mumpung masih jam kosong," ucap Bian. Dia terlebih dahulu meninggalkan rooftop, lalu kemudian disusul oleh Ares.
...***...
Celine menyikut lengan Berlian yang tidak berhenti bersorak untuk teman sekelasnya yang sedang bermain basket. Jam kosong dipergunakan untuk tanding basket antar kelas.
11 Mipa 2 Vs 12 Mipa 5
"Kakak kelas yang lagi megang bola ganteng banget gila!" kata Berlian. Selain bermulut tajam, perempuan ini juga kadangan tidak tahu malu.
"Kamu ngedukung siapa sih, kelas kita apa kakak kelas?"
"Ngedukung yang ganteng!"
Celine merotasikan bola matanya, dia kemudian memandang lurus ke depan. Pada satu objek yang terlalu sempurna di matanya.
Ares.
Laki-laki itu menyeka keringat yang bercucuran di dahinya, fokus dengan pergerakan lawannya.
Garis bawahi, Celine tidak pernah menyukai bola, tidak mengerti apa pun tentang olahraga. Namun ketika tahu Ares aktif organisasi basket di sekolah, dia jadi sering ikut serta hanya untuk menonton.
"Bagus banget Bian, iya ambil bolanya!" seru Berlian lantas berdiri, hampir saja membuat Celine terjatuh.
Celine mendorong bahu Berlian, kemudian menggerutu, "Pelan kan suaramu, malu tahu! Tengok tuh, bayak orang yang nengok ke sini."
"Suka-suka saya, jangan sewot."
"Dibilangin malah ngegas, gak like!"
Berlian tidak mengindahkan perkataan Celine, dia fokus memperhatikan pertandingan basket yang kian menantang. Perlawanan yang sepadan dari kedua belah pihak.
"Gila ganteng banget," gumam Celine, kemudian dia mengeluarkan ponselnya, memastikan arah pencahayaan yang dia ambil. "Ares kok bisa seganteng ini."
Dia mengambil sudut yang pas, kemudian menekan klik foto. Ares tampak sangat fokus, sorot matanya tajam dengan bulir keringat di pelipisnya. Tangannya menggenggam bola yang siap dimasukkan ke dalam ring.
Tepat saat Celine menganggumi hasil foto yang diambil dengan sempurna, sorakan dari kursi penonton memecah fokusnya. Ponselnya terjatuh ke depan, disamping seorang laki-laki yang kemudian beralih.
Ares mencetak satu poin, sementara Celine termangu dengan keringat dingin saat laki-laki itu menatap horor ponsel Celine yang menampilkan gambar Ares.
"Ngapain kamu nengok foto Ares?!" tanyanya.
"Bukan urusanmu, kembalikan ponselku!" seru Celine, dia hendak meraih ponselnya paksa, tapi laki-laki itu mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Balikin Gabriel, jangan keterlaluan deh, ikut campur mulu sama urusan orang," kata Celine lantas berdiri, dia berkacak pinggang. "Kulaporin kamu ya ke tante Grace, selalu aja ganggu aku."
"Ye bocah cepu, aku nanya baik-baik juga, atau jangan-jangan," Gabriel menyipitkan matanya. "kamu suka ya, sama anak basket itu. Hayo ngaku!"
"Nggak!"
Gabriel tertawa pendek, merasa lucu dengan usaha Celine yang mencoba mengambil ponselnya. Tidak sampai, perempuan itu terlalu pendek.
"Olahraga dulu sana, minum susu peninggi badan."
"Kurang ajar banget kamu!" kata Celine, dia menginjak kaki Gabriel, kemudian mengambil ponselnya secara paksa. Laki-laki itu mengaduh kesakitan lantas menatap Celine tajam.
"Nggak ada lemah lembutnya sama sekali jadi perempuan. Awas nanti gak ada laki-laki yang suka!" pungkas Gabriel.
"Biarin, asal jangan disuka kamu aja."
Gabriel diam, dia kemudian berdehem memecah suasana dengan tangan yang melambai. "Siapa juga yang mau suka kamu." ujarnya.
Celine kembali duduk di kursi dengan perasaan dongkol, Berlian menatapnya dari atas ke bawah seolah menilai. Sorot matanya kemudian beralih pada Gabriel yang sedang berbincang dengan temannya. Interaksi dua orang ini kadang membuatnya bingung.
"Gabriel itu tetanggamu yang kau cap paling menyebalkan itu kan?" tanyanya.
"Emang rese banget dia, sejak SMP jahilnya gak berkurang. Gak betah aku kalo ada dia," kata Celine, dia memeluk ponselnya dengan harap-harap cemas. "Dia tadi nengok gambar Ares, gimana kalo dia berulah dan sebarkan rumor yang enggak-enggak?!"
"Rumor apanya, kenyataan kok emang kamu suka—" Sebelum Berlian melanjutkan ucapannya, Celine sudah terlebih dahulu membekap mulut perempuan itu.
"Gak usah bilang di sini juga!"
"Ya kan, gak sengaja."
Celine mendengus kesal dan mengerang frustasi, dia menunduk dengan pikiran yang bercabang. "Selamat tinggal kedamaian, kayaknya Gabriel gak bakal biarin aku tenang. Dia udah bisa nebak aku suka Ares." batinnya.
Di barisan bangku cadangan, Ares meneguk sisa terakhir air mineralnya. Dia duduk seorang diri di sana, jemarinya menggenggam album foto. Lantas kemudian sorot matanya beralih menuju kursi penonton, di baris ke tiga.
Bisa dihitung dengan jari berapa kali dia dan Celine bertukar kata, bahkan jika pun mereka telah menjadi teman sekelas selama satu tahun. Dia kenal Celine, bahkan pernah satu meja dengan gadis itu, sebelum kemudian ujian di kelas satu memisahkan mereka. Sistem pemilihan kelas di sekolah mereka berbasis ujian, jadi ada kesempatan pergantian kelas tiap tahun.
Ares melempar botol mineralnya tepat sasaran ke keranjang sampah, lantas dia bersandar dengan mata yang tertutup. Ada yang mengganjal yang berusaha dia singkirkan, tentang Celine, tentang album foto yang dia temukan.
"Kenapa Celine selalu bertingkah aneh ketika bertemu denganku?"
Celine mengendap-endap menuju loker yang setengah terbuka, beberapa saat yang lalu pemiliknya pergi terburu-buru. Sepertinya lupa mengunci loker. Dia dengan hati-hati menyelipkan kotak kecil dengan bungkus pita yang rapi, note kecil tertera di atasnya.
"Nanti waktu Ares balik dan nemuin kotak ini, pasti dia suka banget," kata Celine, dia tersenyum kikuk, memikirkan reaksi Ares secara berlebihan.
Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada siapa pun yang melihatnya. Agak malu rasanya jika dia ketahuan menyelinap masuk ke ruang ganti putra.
"Bisa hancur harga diriku!" Dia berbalik dan hampir saja terjungkal ke belakang, jika saja Gabriel tidak sigap menarik tangannya.
"Apa sih yang ada di otak kecilmu itu?!" Gabriel menyentil dahi Celine yang membuatnya panik setengah mati.
"Dih, lagian, kenapa kamu muncul tiba-tiba kayak setan? Ngagetin!"
"Malah nyalahin, harusnya kamu yang aku tanya, ngapain di sini? Ngintip?!" tuding Gabriel memicing.
"Sembarang, aku cuman," ucap Celine bingung, dia menggigit bibir bawahnya. "cuman...."
"Cuman apa?! Berani kamu sekarang, ya, aku kasih tahu tante. Anaknya nakal di sekolah, buka-buka loker anak laki-laki, kalau bukan ngintip buat apa lagi?!"
Celine merenggut, dia menghentakkan kakinya keras kemudian menatap tajam. "Aku cuman mau balikin barang, orangnya juga tadi udah bilang masuk aja. Kan gak ada orang juga! Pokoknya gak usah ngurusin aku," pungkas Celine, dia mendorong bahu Gabriel. "Minggir, aku mau pigi."
"Bocah ini ngeselin banget, pengen kubejek-bejek. Apa susahnya buat gak usah kejar-kejar laki-laki modelan Ares, segala ngintilin sampe ke loker. Mendingan aku perasaan." gumam Gabriel, sorot matanya kian tajam ketika rombongan anak basket masuk ke dalam. Aura permusuhan kentara menguar.
Gabriel pergi tanpa sepatah kata.
"Kutengok-tengok kalau dia papasan sama kita, bawaannya mau ajak berantem. Kayak kita diam aja dia udah anggap ancaman. Pernah Res kau nyinggung dia?" tanya Bian skeptis.
"Gak kenal juga ngapain cari masalah, paling juga orang sirik. Biarin aja selama gak ganggu banget," tukas Ares, dia melepaskan hoodienya, kemudian berjalan menuju loker. "Beneran lupa dikunci."
Aksinya berhenti begitu saja ketika menemukan kotak kecil di dalam. Note yang tersampir di sana menyita perhatiannya.
Semangat ya latihannya, jangan paksain! Ares pasti masuk jejeran tim basket yang menang. Percaya sama aku, deh.
Stiker lucu dengan hati merah besar yang terlalu ramai.
"Lagi nih ceritanya?" tanya Bian melipat kedua tangan di dada. Sejak satu bulan terakhir Ares mendapati banyak kado spesial di loker.
Ares berdehem kemudian menyimpan kertas itu di saku bajunya, matanya melirik kotak kecil yang tampak menarik. Dia membukanya dan mendapati banyak kukis keju.
"Bagi dong, lapar ini!" seru Bian berusaha merebut kukis dari tangan Ares. Namun Ares terlebih dahulu menyembunyikannya di balik punggung.
"Minta sama HTSmu, dimasakin sekalian."
Ares menutup lokernya tanpa peduli dengan ocehan beruntun yang keluar dari mulut Bian. Dia membawa kukis keju yang baru didapatnya menuju ruang basket.
Satu hal yang menarik perhatiannya, cara menyimpul pita itu tampak begitu rapi dan khas. Persis seperti pita yang dia lihat di album foto.
"Gak setia kawan nih bocah, malah ditinggalin ege. Padahal aku masih ngomong," kata Bian begitu dia sampai, dia berkacak pinggang, persis seperti perempuan yang sedang halangan, kata Cale, salah satu anak basket.
"Mulut gunanya bukan cuman buat nyocot, pusing dengarnya."
Bian menarik napas kemudian menghembuskannya secara berulang sebanyak tiga kali. Supaya rileks, tidak emosi.
"Yang waras ngalah."
Ares mengangkat bahu acuh tak acuh, sembari mulutnya mengunyah kukis keju. Kesukaannya, entah bagaimana si anonim ini mengetahui apa yang dia sukai.
...***...
Terik matahari tidak memadamkan semangat Celine untuk duduk anteng di kursi penonton, menjadi pengamat pertandingan basket yang sedang berlangsung.
Beberapa saat yang lalu Berlian masih duduk di sampingnya, menemani walau ocehannya membuat kepala Celine hampir pecah. Tapi perempuan itu permisi sebentar ke ruang kelas, karena ada sesuatu yang tertinggal. Sudah 15 menit berlalu sejak saat itu.
"Lama banget dia, ngapain sih? Dia ninggalin aku di sini. Mau pergi, tapi pertandingannya udah dimulai. Di sini malu banget, gak ada orang yang kukenal," gumam Celine, mengeratkan topinya yang nyaris tertiup angin.
Dia menopang dagu, menatap lurus ke baris depan. Fokusnya masih sama, pada satu objek yang membuatnya bingung dengan hatinya sendiri. "Kalau dulu aku mana percaya sama cinta yang berlangsung lama, sebelum aku ngalamin sendiri," kata Celine pelan.
"Dia pake guna-guna apa sih sama aku, sampai kecintaan gini?"
Berlian menepuk pundaknya santai, dia menempelkan milk tea dingin di pipi kanan perempuan itu. "Sorry lama, tadi mampir dulu ke kantin, panas gini minum yang dingin kayaknya enak. Nih, gratis!" ujarnya.
Celine memilih tersenyum manis alih-alih marah, dia menerima pemberian Berlian dengan baik. Perempuan itu tahu betul bagaimana cara membujuk Celine.
"Udah lama mulainya?" tanya Berlian ikut duduk.
"Enggak kok, baru lima menit kayaknya."
Berlian mengangguk mengerti.
"By the way, gimana sama surat cintanya? Udah dikasih?" tanya Berlian, dia merapatkan badannya dengan penasaran.
"Surat cinta apa? Cuman kalimat penyemangat juga."
"Sama aja perasaan. Udah ah, jawab aja!" tukas Berlian menuntut.
"Aku letakin di loker Ares pagi tadi, tapi aku malah kepergok Gabriel. Sial banget," ujar Celine menggebu, seketika perasaan was was itu muncul lagi. "Bingung aku gimana yakinin Gabriel kalau yang dia lihat gak seperti yang dipikirin."
Berlian melongo dibuatnya, lantas dia tertawa, berkata mengejek, "Gabriel lagi nih? Setiap ketemu dia, perasaan kamu apes mulu dah."
Celine mendengus geli, dia meneguk milk teanya kemudian beralih ke depan. Tanpa sadar matanya bertatapan dengan Ares yang juga menoleh ke arahnya. Waktu seolah berhenti, menyisakan ruang kosong yang membuat irama jantung Celine berpacu lebih cepat.
Dengan cepat Celine mengalihkan pandangan, sementara Ares memicingkan mata kemudian kembali fokus dengan pertandingan. Namun, pikirannya terus berdebat dengan kejanggalan yang membentuk pola rumit.
Celine terlalu sering muncul di radarnya, perempuan itu selalu duduk di barisan belakang bangku penonton. Seolah dia memperhatikan dirinya.
Apa yang salah?
Ares mencetak satu poin, sorakan kemenangan terdengar dari barisan penonton. Matanya kembali menemui Celine yang membulatkan mata, berbinar. Terlalu ceria.
Dia selalu bersemangat seperti ini, ya?
Tanpa sadar Ares menarik senyum tipis, sesuatu dalam dirinya seolah terbakar, memaksa Ares untuk mencari tahu kejanggalan yang membuatnya gusar. Rasa penasaran yang perlahan berubah menjadi ketertarikan.
Siapa sebenarnya orang di balik album foto dan hadiah kecil itu?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!