Rasa pening yang luar biasa menghantam pelipis Gisella.
Matanya membuka menutup beberapa kali, mencoba menghalau buram yang menyiksa pandangan.
Aroma ruangan ini asing—bukan wangi kamarnya yang biasa, melainkan perpaduan antara aroma buku lama, kopi hitam yang pekat, dan sedikit wangi maskulin yang dingin.
"Jika kau memang sangat ingin bebas dari pernikahan ini, tanda tangani suratnya dan pergilah sekarang."
Sebuah suara bariton yang rendah, dingin, dan tanpa emosi memecah keheningan.
Gisella tersentak.
Kesadarannya ditarik paksa. Di hadapannya, berdiri seorang pria jangkung dengan postur tubuh yang luar biasa proporsional.
Tingginya pasti di atas 180 sentimeter, mengenakan kemeja putih yang disetrika sempurna dengan beberapa kancing atas yang terbuka, memperlihatkan garis leher yang tegas.
Wajahnya... luar biasa tampan. Rahangnya kokoh, hidungnya mancung bagai dipahat, dan sepasang matanya yang tajam tersembunyi di balik kacamata berbingkai perak tipis. Pria itu menatapnya dengan pandangan penuh rasa muak yang tertahan.
"Siapa pria ini? Mengapa dia terlihat seperti model papan atas, tapi auranya menyeramkan sekali?" batin Gisella panik.
Gisella menunduk.
Di atas meja kayu mahoni di depannya, tergeletak beberapa lembar kertas putih dengan tulisan tebal di bagian atas:
SURAT KESEPAKATAN BERSAMA UNTUK PERCERAIAN.
Otak Gisella mendadak kosong.
"Perceraian? Menikah saja belum pernah, bagaimana bisa aku mendadak bercerai?!"
Detik berikutnya, gelombang ingatan asing yang bukan miliknya menghantam kepalanya bagai air bah.
Rasa sakit itu membuat Gisella refleks memegangi kepalanya dan mendesah lirih.
Informasi demi informasi berputar di benaknya seperti rol film yang diputar dengan kecepatan tinggi.
Gisella, seorang wanita pekerja keras dari dunia modern yang baru saja meninggal karena kelelahan setelah lembur tiga hari berturut-turut, kini telah bertransmigrasi.
Dan sialnya, dia masuk ke dalam tubuh seorang karakter figuran berumur 24 tahun yang memiliki nama sama dengannya: Gisella.
Lebih buruknya lagi, ini adalah dunia dari sebuah novel roman picisan yang pernah dia baca sebelum mati.
Karakter Gisella di dunia ini adalah definisi nyata dari wanita bodoh yang dibutakan oleh cinta toksik.
Dia bisa menikah dengan pria di hadapannya—Adrian Arthur—hanya karena kakek Gisella pernah menyelamatkan nyawa Tuan Besar Arthur di masa lalu.
Sebagai bentuk balas budi, keluarga Arthur yang terpandang dan kaya raya menikahkan putra sulung mereka, Adrian, dengan Gisella.
Adrian Arthur di usianya yang baru 27 tahun adalah seorang profesor riset jenius di bidang sains dan teknologi.
Dia adalah pria idaman, sosok mandiri yang dihormati, dan memiliki masa depan yang luar biasa cerah.
Namun, Gisella asli justru menyia-nyiakannya. Merasa Adrian terlalu dingin dan kaku, Gisella asli memilih tidur di kamar terpisah selama enam bulan pernikahan mereka.
Dia justru mengejar-ngejar cinta pertamanya,
Julian, seorang pria parasit yang manipulatif.
Gisella asli terus-menerus membuat keributan, menangis, dan mengamuk menuntut perceraian agar bisa bersama Julian.
Dia bahkan meminta uang kompensasi sebesar satu juta dolar dari keluarga Arthur.
Di dalam plot asli novel, setelah mendapatkan uang itu dan bercerai, Julian dengan cepat menguras seluruh harta Gisella, berselingkuh dengan wanita lain, dan mencampakkannya.
Gisella asli yang malang akhirnya menderita depresi, jatuh miskin, dan tewas mengenaskan di pinggir jalan pada usia 27 tahun.
"Tunggu... mati tragis di jalanan?!"
Gisella bergidik ngeri. Kulit kuduknya meremang.
Tubuhnya gemetar menyadari takdir mengerikan yang sedang mengintainya.
Saat ini, garis waktu cerita berada tepat di titik awal kehancuran itu.
Di depannya adalah Adrian, sang pelindung yang akan melepaskannya menuju jurang maut.
"Kenapa diam saja?"
Adrian bersuara lagi, memecah lamunan Gisella. Dia melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangan kirinya dengan tidak sabar.
"Bukankah ini yang kau teriakkan setiap hari sambil menangis? Kau bilang kau tidak tahan hidup denganku. Kau bilang kau ingin bebas bersama Julian-mu itu. Sekarang, setelah aku mengabulkannya, apa lagi yang kau tunggu? Tandatangani, dan bawa uang yang kau minta."
Adrian melemparkan sebuah pulpen mewah ke atas meja.
Pulpen itu menggelinding dan berhenti tepat di atas kertas putih tersebut.
Gisella menatap pulpen itu, lalu menatap wajah Adrian.
Di balik kacamata peraknya, mata Adrian memancarkan kekecewaan yang mendalam, dicampur dengan kepasrahan.
Pria ini telah habis kesabaran menghadapi tingkah gila Gisella asli.
"Tidak! Aku tidak boleh menandatanganinya sekarang!' teriak Gisella dalam hati.
Jika dia menandatanganinya hari ini, dia harus keluar dari kediaman keluarga Arthur.
Di luar sana, Julian si bajingan sudah bersiap untuk menjemputnya dan merampas uang kompensasi itu.
Tanpa koneksi, tanpa pekerjaan di dunia baru ini, dan dengan bayang-bayang plot novel yang kuat, Gisella tahu dia akan berakhir menjadi gelandangan dalam waktu singkat. Dia butuh waktu untuk menyusun strategi, memutus hubungan dengan Julian, dan mencari cara untuk bertahan hidup secara mandiri.
Gisella menarik napas dalam-dalam.
Sudut matanya mendadak memerah.
Bukan karena akting, melainkan karena dia benar-benar takut mati untuk kedua kalinya.
Dengan gerakan lambat, Gisella mendorong kembali pulpen itu menjauh dari surat cerai.
Dia mendongak, menatap Adrian dengan sepasang mata yang berkaca-kaca, memancarkan penyesalan yang amat sangat.
"Adrian..."
suaranya bergetar, terdengar serak dan rapuh.
Adrian sedikit mengernyit.
Biasanya, jika dia menyebut nama Julian, Gisella akan langsung meradang, membela pria itu mati-matian, atau berteriak histeris menuduh Adrian sebagai pria berhati batu.
Tapi hari ini, reaksi wanita di hadapannya sungguh berbeda.
Sorot mata Gisella tidak lagi dipenuhi kebencian atau kegilaan, melainkan ketakutan dan... ketulusan yang asing.
"Apalagi yang ingin kau katakan?"
tanya Adrian, nadanya sedikit melunak namun tetap menjaga jarak.
Gisella meremas ujung bajunya, mencoba menstabilkan emosinya.
"Aku... aku tahu aku sudah keterlaluan selama enam bulan ini. Aku tahu aku telah menyakiti Ayah, Ibu, Valerie, dan terutama... dirimu."
Adrian terdiam. Alisnya bertaut lebih dalam.
"Aku tidak akan membantah lagi. Aku tahu aku salah,"
lanjut Gisella, sebutir air mata fiktif yang berhasil dia paksa keluar akhirnya menetes membasahi pipinya.
"Surat ini... aku akan menandatanganinya. Aku setuju kita bercerai."
Mendengar kata 'setuju', ada kilat aneh yang melintas di mata Adrian.
Ada rasa lega, namun entah mengapa, ada sedikit kekosongan yang menyergap dadanya. Namun, kalimat Gisella berikutnya membuat sang profesor tertegun.
"Tapi... bisakah aku meminta satu permohonan terakhir?"
Gisella menatap Adrian dengan pandangan memohon yang amat sangat.
"Beri aku waktu satu bulan lagi. Biarkan aku tetap tinggal di rumah ini selama satu bulan, sampai proses administrasi di pengadilan benar-benar selesai. Setelah satu bulan... aku berjanji akan mengemas barang-amarku dan pergi dari kehidupanmu tanpa membawa satu sen pun uang kompensasi itu."
Seketika, keheningan mencekam menyelimuti ruangan kerja tersebut.
Adrian menatap Gisella dengan tatapan menyelidik, seolah sedang berusaha membaca apa yang sedang direncanakan oleh wanita di depannya.
"Satu bulan? Menolak uang kompensasi satu juta dolar? Apakah ini trik baru?" Selama ini, Gisella selalu menuntut uang dan kebebasan.
Mengapa tiba-tiba dia melepaskan uang sebesar itu hanya untuk tinggal satu bulan lagi?
"Gisella, trik apa lagi yang sedang kau mainkan?"
Adrian melangkah mendekat, bersedekap dada. Auranya yang intimidatif membuat Gisella menahan napas.
"Kau menangis berhari-hari menuntut kebebasan. Sekarang, setelah pintu gerbang itu kubuka, kau justru ingin mengulur waktu? Apa Julian yang menyuruhmu melakukan ini?"
Mendengar nama Julian, Gisella langsung menggelengkan kepala dengan cepat, ekspresinya berubah menjadi jijik yang spontan—sesuatu yang tidak luput dari pandangan tajam Adrian.
"Tidak! Ini tidak ada hubungannya dengan dia!" tegas Gisella.
"Aku hanya... aku hanya tersadar betapa bodohnya aku selama ini. Aku telah mengecewakan Tuan dan Nyonya Arthur yang begitu baik kepadaku. Aku hanya ingin menggunakan waktu satu bulan ini untuk menebus kesalahanku, berperilaku baik sebagai menantu, dan... mempersiapkan diriku sebelum benar-benar hidup mandiri. Aku bersumpah, aku tidak akan mengganggumu. Aku tidak akan masuk ke kamarmu tanpa izin, dan aku tidak akan membuat keributan lagi."
Gisella mengangkat tangan kanannya, membentuk gestur bersumpah.
Wajahnya yang pucat namun cantik terlihat sangat bersungguh-sungguh.
Adrian memperhatikannya lekat-lekat. Gisella di hadapannya terasa sangat berbeda.
Cara bicaranya yang tertata, sorot matanya yang jernih tanpa ada kemarahan histeris, dan ketakutan yang jujur di matanya... semua itu bukan seperti Gisella yang dia kenal selama enam bulan terakhir.
Apakah seseorang bisa berubah drastis hanya dalam semalam setelah kepalanya terbentur jendela saat mengamuk kemarin?
Adrian menghela napas panjang.
Dia melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
Mengusir Gisella sekarang juga sebenarnya bisa memicu kemarahan orang tuanya yang sangat menyayangi wanita itu karena utang budi masa lalu.
Jika Gisella mengajukan penundaan satu bulan secara damai dan menolak uang kompensasi, setidaknya itu akan memberi waktu bagi Adrian untuk menjelaskan situasi ini secara perlahan kepada keluarganya.
"Satu bulan," ucap Adrian akhirnya, suaranya kembali dingin namun tegas.
Dia memakai kembali kacamatanya dan menatap Gisella lurus-lurus.
"Hanya satu bulan. Jika dalam satu bulan ini kau membuat satu saja keributan, atau jika aku melihatmu berhubungan lagi dengan pria itu di lingkungan rumah ini, aku akan langsung mengusirmu tanpa peduli apa pun. Mengerti?"
Gisella merasa seolah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari pundaknya.
Matanya berbinar cerah, senyuman lebar yang tulus tanpa sadar terukir di wajahnya yang jelita.
"Mengerti! Terima kasih, Adrian! Kau benar-benar pria yang baik!"
seru Gisella dengan nada riang yang tak bisa disembunyikan.
Adrian sedikit terpaku melihat senyuman itu.
Selama enam bulan pernikahan mereka, dia hanya pernah melihat Gisella cemberut, menangis, atau menatapnya dengan penuh dendam.
Ini adalah pertama kalinya dia melihat wanita itu tersenyum begitu lepas dan tulus.
Dada Adrian berdesir aneh, namun dia segera menepis perasaan itu dengan berdeham pelan.
"Simpan surat itu. Satu bulan lagi, kita bawa ke pengadilan,"
kata Adrian ketus sambil membalikkan badannya, kembali ke meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan jurnal ilmiah.
"Sekarang, kembali ke kamarmu. Aku harus bekerja."
"Baik, Profesor! Selamat bekerja!"
Gisella dengan cekatan mengambil surat perceraian itu, melipatnya dengan rapi, dan memeluknya erat-erat bagai jimat keberuntungan.
.Dia berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja Adrian dengan hati yang jauh lebih ringan.
Begitu pintu kayu ek itu tertutup di belakangnya, Gisella bersandar pada dinding koridor rumah mewah keluarga Arthur.
Dia mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi.
"Fase pertama berhasil,"
bisik Gisella pada dirinya sendiri, seulas senyum penuh tekad muncul di bibirnya.
"Gisella yang asli mungkin memilih mati demi cinta bodoh. Tapi aku? Aku akan menggunakan satu bulan ini untuk membalikkan takdir. Aku tidak akan mati di jalanan!"
Di dalam ruang kerja yang sepi, Adrian Arthur menghentikan ketukan jarinya di atas papan tik komputer.
Pandangannya beralih ke arah pintu tempat Gisella baru saja keluar.
Dia menyentuh dagunya, tenggelam dalam pemikiran yang mendalam.
'Gisella... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Gisella melangkah menyusuri koridor panjang kediaman keluarga Arthur dengan langkah kaki yang sengaja dipelankan.
Tangan kanannya masih mendekap erat lipatan surat perceraian, seolah benda itu adalah tameng pelindung dari badai takdir yang mengintainya.
Rumah ini luar biasa megah.
Arsitekturnya bergaya neoklasik dengan pilar-pilar putih menjulang, lantai marmer Italia yang memantulkan bayangan tubuhnya dengan jernih, serta deretan lukisan cat minyak bernilai seni tinggi yang menggantung di sepanjang dinding.
Namun, kemewahan ini terasa dingin dan asing bagi Gisella.
Jiwanya yang berasal dari dunia modern—seorang wanita pekerja keras yang biasa hidup mandiri di apartemen sewaan yang sempit—merasa seperti penyusup di istana megah ini.
Gisella terus berjalan hingga dia menemukan sebuah kamar di ujung koridor lantai dua.
Berdasarkan memori samar yang tertinggal di tubuh ini, kamar dengan pintu kayu bercat putih bersih inilah tempat Gisella asli mengurung diri selama enam bulan terakhir.
Kebiasaan Gisella asli yang menolak tidur seranjang dengan Adrian dan memilih pisah ranjang sejak malam pertama pernikahan mereka ternyata menjadi keuntungan besar bagi Gisella yang sekarang.
Setidaknya, dia tidak perlu berbagi ruang pribadi dengan sang profesor dingin yang mengintimidasi itu.
"Ceklek."
Gisella mendorong pintu kamar dan melangkah masuk.
Ruangan itu luas, dilengkapi dengan ranjang ukuran king size bertirai kelambu tipis, sebuah meja rias penuh dengan kosmetik bermerek mahal yang berantakan, dan jendela kaca besar yang langsung menghadap ke arah taman belakang rumah.
Gisella segera mengunci pintu kamar dari dalam.
Dia berjalan menuju cermin besar yang melekat pada lemari pakaian oak.
Untuk pertama kalinya, dia menatap refleksi dirinya di dunia ini dengan saksama.
Wanita di dalam cermin itu memiliki kecantikan yang memikat, namun tampak rapuh.
Kulitnya seputih porselen, sepasang matanya bulat besar dengan bulu mata lentik, dan rambut cokelat bergelombang mengalir indah hingga ke pinggang.
Namun, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, dan wajahnya tampak pucat karena stres emosional yang dialami Gisella asli selama beberapa minggu terakhir sebelum jiwanya tergantikan.
"Kau sangat cantik, Gisella,"
bisik Gisella sambil menyentuh permukaan cermin, menatap bayangan dirinya sendiri.
"Tapi mengapa kau begitu bodoh? Mengapa kau membuang pria sehebat Adrian demi seorang parasit?"
Gisella menghela napas panjang, lalu berjalan menuju tepi ranjang.
Dia mendudukkan dirinya di atas kasur yang empuk, menyilangkan kaki, dan mulai memejamkan mata untuk menggali lebih dalam ingatan-ingatan tersembunyi milik tubuh ini.
Dia harus memahami detail plot novel asli agar tidak salah melangkah dalam satu bulan ke depan.
Dalam novel asli berjudul Belenggu Cinta di Aethelgard, tokoh utama pria adalah Adrian Arthur dan tokoh utama wanita adalah seorang dokter muda yang anggun dan cerdas.
Sementara itu, Gisella hanyalah sebutir debu—seorang figuran pengganggu, batu loncatan yang ditakdirkan ada hanya untuk memberikan penderitaan awal bagi Adrian sebelum pria itu menemukan cinta sejatinya.
Gisella asli tumbuh besar di bawah asuhan kakeknya setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan.
Kakek Gisella adalah seorang pria tua sederhana yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang tepat saat Tuan Besar Arthur terkena serangan jantung di sebuah taman kota bertahun-tahun lalu.
Tindakan cepat kakek Gisella menyelamatkan nyawa kepala keluarga Arthur tersebut.
Utang budi itulah yang mengikat kedua keluarga ini.
Ketika kakek Gisella jatuh sakit parah enam bulan lalu, permintaan terakhirnya adalah melihat cucu perempuannya yang sebatang kara memiliki masa depan yang aman.
Tuan Besar Arthur, tanpa ragu, langsung mengatur pernikahan antara cucu sulungnya, Adrian, dengan Gisella.
Adrian, sebagai putra yang berbakti dan menghormati keputusan kakeknya, menerima pernikahan itu tanpa protes, meskipun dia tidak memiliki perasaan apa pun pada Gisella.
"Masalahnya adalah, Gisella asli sudah terlanjur dicuci otaknya oleh Julian,"
gumam Gisella sambil mengepalkan tinjunya kesal.
Julian adalah teman kuliah Gisella asli.
Pria itu tampan dengan modal kata-kata manis yang manipulatif.
Julian tahu bahwa Gisella akan menikah dengan pewaris keluarga Arthur yang kaya raya.
Alih-alih melepaskannya, Julian justru memanfaatkan kepolosan dan kecintaan buta Gisella asli.
Julian berpura-pura menangis, mengatakan bahwa hatinya hancur melihat wanita yang dicintainya menikah dengan pria lain, dan berjanji akan membawa Gisella kabur setelah wanita itu berhasil mendapatkan uang kompensasi perceraian dari keluarga Arthur.
Gisella asli yang bodoh memercayai setiap kata bajingan itu.
Sepanjang enam bulan pernikahan, dia memperlakukan Adrian seperti musuh bebuyutan.
Dia menolak disentuh, selalu berteriak histeris setiap kali Adrian mencoba mendekat, dan terus-menerus membuat onar di depan mertuanya agar mereka muak dan mengizinkan Adrian menceraikannya.
Kemarin, dalam puncak kemarahannya karena Adrian tak kunjung menyetujui perceraian, Gisella asli nekat menabrakkan dirinya ke jendela kaca ruang tamu hingga kepalanya terbentur dan pingsan.
Saat itulah, jiwa Gisella yang asli lenyap, digantikan oleh jiwa Gisella dari dunia modern.
"Tring!"
Suara notifikasi dari ponsel pintar di atas meja rias membuyarkan lamunan Gisella.
Dia tersentak, lalu melangkah cepat untuk mengambil ponsel tersebut.
Di layar datar itu, sebuah nama tertera jelas pada bilah pesan masuk: Julian.
Gisella merasakan gelombang kemarahan yang mendidih di dalam dadanya—sebuah reaksi sisa dari emosi tubuh asli yang mendadak bercampur dengan rasa muak dari jiwanya yang baru.
Dia membuka pesan tersebut.
> Julian:Gisella, sayangku, bagaimana keadaannya? Apakah Adrian si pria kaku itu sudah menandatangani surat cerainya? Ingat, jangan lupa tuntut kompensasi satu juta dolar seperti yang kita rencanakan. Aku sudah menyiapkan apartemen kecil yang indah untuk kita berdua di pinggiran kota. Aku sangat merindukanmu. Beritahu aku jika semuanya sudah selesai, aku akan menjemputmu sekarang juga.
>
Gisella menatap layar ponsel itu dengan seringai dingin. "Apartemen kecil yang indah? Cih, apartemen kumuh yang akan kau gunakan untuk mengurungku setelah kau menguras seluruh uangku, maksudmu?"
cibir Gisella sinis.
Di dalam plot asli, setelah Gisella membawa uang satu juta dolar itu, Julian langsung membujuknya untuk menginvestasikan seluruh uang tersebut ke dalam 'proyek bisnis' fiktif miliknya.
Begitu uang berpindah tangan, sikap Julian berubah 180 derajat.
Dia mulai bersikap dingin, jarang pulang, dan puncaknya, Gisella memergoki Julian sedang bermesraan dengan wanita lain di apartemen yang dibeli dengan uangnya.
Ketika Gisella protes, Julian justru memukulinya, mencaci-makinya sebagai wanita murahan yang diceraikan keluarga kaya, lalu mengusirnya ke jalanan tanpa sepeser uang pun.
Gisella asli yang tidak memiliki keterampilan kerja dan menderita trauma mental akhirnya tewas membeku di pinggir jalan saat musim dingin tiba.
"Takdir yang sangat tragis untuk seorang figuran bodoh," bisik Gisella, matanya berkilat penuh tekad.
"Tapi maaf saja, Julian. Gisella yang sekarang tidak akan membiarkan dirimu menyentuh sepeser pun uang dari keluarga Arthur, dan aku tidak akan sudi menjadi alat pemuas keserakanmu."
Gisella mengetik balasan dengan jari-jarinya yang lentik, berusaha menjaga gaya bahasa Gisella asli agar Julian tidak menaruh curiga terlalu cepat.
> Gisella:Adrian belum menandatanganinya dengan sepenuhnya. Prosesnya rumit karena orang tuanya masih menghalangi. Dia meminta waktu satu bulan untuk mengurus semuanya secara legal agar tidak memicu skandal media. Jangan jemput aku dulu. Aku harus tetap tinggal di sini selama satu bulan ini untuk memastikan dia tidak mengubah pikirannya tentang perceraian.
>
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Julian untuk membalas.
> Julian:Satu bulan?! Mengapa lama sekali? Sayang, apa kau yakin dia tidak sedang mencoba merayumu? Jangan terkecoh oleh kekayaannya, Gisella. Hanya aku yang benar-benar mencintaimu tulus dari hati. Bagaimana dengan uang kompensasinya? Apa dia setuju memberikan satu juta dolar?*
>
Gisella memutar matanya malas membaca pesan itu.
Pria ini bahkan tidak bertanya apakah kepalanya yang terluka kemarin sudah membaik atau belum.
Yang ada di pikirannya hanyalah satu juta dolar.
> Gisella: Dia masih mempertimbangkannya. Jika kau terus mendesak dan membuat kekacauan, dia bisa saja membatalkan perceraian dan mengurungku di sini selamanya. Jadi, diamlah dan tunggu instruksiku selanjutnya. Jangan hubungi aku jika tidak penting, Adrian mulai memeriksa ponselku.
>
Setelah mengirim pesan terakhir itu, Gisella langsung menyetel nomor Julian ke mode senyap.
Dia melemparkan ponselnya kembali ke atas kasur dengan perasaan puas.
"Satu masalah tertunda untuk sementara," gumamnya sambil berjalan menuju jendela besar kamarnya.
Dari lantai dua, dia bisa melihat pemandangan taman belakang yang luas dan asri.
Di sudut taman, terdapat sebuah rumah kaca kecil yang dipenuhi dengan tanaman hias dan beberapa peralatan laboratorium mini.
Tiba-tiba, pintu rumah kaca itu terbuka, dan sosok jangkung Adrian melangkah keluar.
Pria itu telah mengganti kemeja putihnya dengan kaus hitam santai yang membungkus ketat otot dada dan lengannya yang terlatih, dilengkapi dengan celemek kerja berwarna abu-abu.
Dia tampaknya baru saja selesai merawat beberapa tanaman sampel risetnya.
Gisella memperhatikan Adrian dari balik tirai jendela.
Pria itu tampak begitu fokus, mandiri, dan memancarkan aura otoritas yang tenang.
Sulit dipercaya bahwa pria sesempurna ini disia-siakan oleh Gisella asli hanya demi seorang Julian yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan seujung kuku Adrian.
"Adrian Arthur... kau adalah tiket kesalamatanku di dunia ini," batin Gisella.
Gisella tahu dia tidak bisa selamanya menumpang di rumah keluarga Arthur.
Setelah satu bulan berlalu, dia harus tetap pergi demi menghormati harga diri dan kesepakatan mereka.
Namun, satu bulan ini adalah waktu emas yang harus dia manfaatkan sebaik mungkin.
Dia harus membangun reputasi yang baik, memulihkan hubungan dengan keluarga Arthur agar tidak ada permusuhan di masa depan, dan yang terpenting—dia harus memastikan Adrian tidak memandangnya sebagai wanita gila yang patut dikasihani atau dibenci.
"Aku butuh rencana kerja,"
kata Gisella pada dirinya sendiri. Dia berjalan menuju meja belajar di sudut kamar, mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pulpen.
Dia mulai menuliskan beberapa poin penting untuk strategi bertahan hidupnya selama 30 hari ke depan:
1. Putus Hubungan dengan Julian: Cari bukti kelicikan Julian secara perlahan untuk memotong rantai manipulasinya sepenuhnya tanpa memicu kecurigaan.
2. Perbaiki Hubungan dengan Keluarga:Tunjukkan sikap hormat, bantu pekerjaan rumah, dan ubah pandangan buruk Nyonya Arthur dan Valerie.
3. Jaga Kesehatan Adrian: Manfaatkan pengetahuan dari novel bahwa Adrian menderita kelelahan kronis dan gejala awal diabetes karena kebiasaan mengonsumsi makanan manis saat stres bekerja.
4. Mandiri Finansial: Cari peluang kerja lepas atau gunakan kemampuan bahasa asing (Gisella dari dunia modern menguasai bahasa Prancis dan analisis data) untuk mengumpulkan modal sebelum keluar dari rumah ini.
Gisella menatap daftar itu dengan senyuman puas.
"Bagus. Mulai besok, operasi mengubah takdir tragis sang figuran resmi dimulai."
Gisella melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam.
Perutnya tiba-tiba berbunyi dengan nyaring, mengingatkannya bahwa tubuh ini belum makan apa pun sejak pingsan kemarin.
Mengingat para pelayan di rumah ini biasanya sangat segan memasak untuk Gisella asli karena sifatnya yang suka melempar piring jika makanannya tidak sesuai selera, Gisella memutuskan untuk turun ke dapur sendirian.
Dia membuka pintu kamarnya perlahan, memastikan koridor sudah sepi, lalu melangkah turun menuju lantai satu dengan mengendap-endap.
Detak jantungnya berpacu sedikit lebih cepat saat dia mendekati area dapur bersih yang luas dengan peralatan memasak berbasis stainless steel yang berkilau.
Namun, langkah kaki Gisella mendadak terhenti tepat di ambang pintu dapur.
Di sana, di dekat meja konter marmer, Adrian sedang berdiri membelakanginya, memegang sebuah cangkir kopi panas di satu tangan dan sebuah stoples berisi kue kering manis di tangan lainnya.
Pria itu tampak bersiap untuk mengonsumsi tumpukan gula itu sebagai asupan energi untuk kerja lemburnya malam ini.
Gisella teringat salah satu detail di bab pertengahan novel asli: Adrian Arthur didiagnosis menderita diabetes di usia muda karena pola makan yang buruk selama fase riset intensifnya.
Tanpa berpikir panjang, didorong oleh insting penyelamatan karakter yang kuat, Gisella langsung melangkah masuk ke dalam dapur dan berseru dengan suara tegas,
"Hentikan, Adrian! Jangan makan kue itu lagi!"
Adrian tersentak.
Dia membalikkan badannya dengan cepat, menatap Gisella yang tiba-tiba muncul di dapurnya dengan tatapan tajam dan penuh kebingungan.
Kue kering di tangannya menggantung di udara, menciptakan keheningan yang canggung di antara mereka berdua.
Suasana dapur bersih yang bernuansa monokrom itu mendadak hening seketika. Seruan Gisella menggema di antara jajaran peralatan masak premium berbahan
stainless steel.
Adrian Arthur terpaku di tempatnya berdiri.
Tangannya yang memegang sepotong kue kering berlapis gula bubuk menggantung kaku di udara.
Di balik lensa kacamata peraknya, sepasang mata tajam milik sang profesor menyipit penuh selidik.
Dia menatap Gisella dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang melihat makhluk asing yang mendadak jatuh dari langit dan menyusup ke dalam rumahnya.
"Apa yang kau katakan?"
tanya Adrian, suaranya terdengar rendah, berat, dan sarat akan peringatan.
Gisella menelan ludah.
Dia baru menyadari bahwa tindakannya barusan terlalu impulsif.
Di dunia ini, dia masih berstatus sebagai
"Gisella yang labil dan suka mengamuk".
Intervensi mendadak terhadap kebiasaan makan seorang pria sedingin Adrian tentu saja akan memicu kecurigaan.
Namun, mengingat detail plot novel di mana Adrian akan menderita komplikasi kesehatan serius di masa depan akibat akumulasi stres dan konsumsi gula berlebih selama masa riset, Gisella tidak bisa tinggal diam.
Dia harus menyelamatkan pria ini, setidaknya sebagai bentuk sewa kamar implisit selama satu bulan ke depan.
Gisella menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai rasa gugupnya.
Dia melangkah mendekati konter marmer, memangkas jarak di antara mereka.
"Maksudku... kue kering itu terlalu manis, Adrian," kata Gisella, berusaha melembutkan nada suaranya sealami mungkin.
"Ini sudah jam tujuh malam. Kau baru saja meminum kopi hitam pekat, dan sekarang kau ingin menimbun gula bubuk sebanyak itu ke dalam tubuhmu? Metabolisme tubuhmu bisa terganggu jika kau terus-menerus mengonsumsi makanan manis saat stres bekerja."
Adrian menurunkan tangannya perlahan.
Dia meletakkan kembali kue kering itu ke dalam stoples kaca dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Tatapannya tidak lepas dari wajah Gisella.
"Sejak kapan kau peduli pada metabolisme tubuhku, Gisella?" Adrian bertanya, nadanya sarkastis.
"Bukankah biasanya kau tidak peduli apakah aku hidup atau mati? Kenapa sekarang kau tiba-tiba bertingkah seperti seorang ahli gizi di dapurku?"
Gisella meremas jemarinya di balik saku piyama rajutnya. "Ayo, otak modern, carilah alasan yang logis!"
"Aku tidak sedang bertingkah,"
jawab Gisella dengan ekspresi sewajah mungkin, menatap lurus ke dalam manik mata Adrian.
"Aku hanya berpikir secara realistis. Kita sudah sepakat untuk menunda perceraian ini selama satu bulan, bukan? Selama satu bulan ini, aku masih berstatus sebagai istrimu di atas kertas. Jika sesuatu terjadi pada kesehatanmu—seperti mendadak pingsan karena lonjakan gula darah atau kelelahan kronis—akulah yang akan disalahkan oleh orang tuamu. Aku tidak mau dituduh sebagai penyebab runtuhnya kesehatan seorang profesor jenius kebanggaan keluarga Arthur."
Adrian terdiam mendengarkan penjelasan panjang lebar itu.
Alisnya bertaut rapat.
Logika yang dilemparkan Gisella terdengar sangat egois—khas Gisella yang selalu memikirkan reputasinya sendiri—namun ada sesuatu yang aneh.
Gisella yang asli tidak akan pernah bisa menyusun kalimat seberadab dan setertata ini.
Biasanya, wanita itu hanya akan berteriak egois tanpa dasar, bukan membawa-bawa istilah medis atau memikirkan konsekuensi jangka panjang.
"Aku setiap hari berolahraga. Tubuhku baik-baik saja,"
ucap Adrian dingin, menepis kekhawatiran Gisella secara sepihak.
Dia berniat mengambil cangkir kopinya kembali.
"Olahraga tidak akan bisa mengejar kerusakan batin dan fisik jika pola makanmu sekacau ini, Profesor Adrian,"
potong Gisella cepat. Dia dengan berani melangkah maju dan menggeser stoples kue kering itu menjauh dari jangkauan tangan Adrian.
"Sebagai gantinya, jika kau lapar karena lembur, aku bisa membuatkan sesuatu yang lebih sehat. Beri aku waktu lima belas menit."
Adrian menatap stoples yang digeser menjauh, lalu menatap Gisella yang sudah mulai menyingsingkan lengan piyamanya.
Pria itu mendengus pelan, sebuah tawa hambar lolos dari bibirnya.
"Kau? Memasak?" Adrian menggelengkan kepala.
"Setahu saya, keterampilan terbaikmu di dapur adalah melempar piring keramik ke lantai saat pelayan menyajikan makanan yang tidak sesuai seleramu."
Sindiran telak itu membuat Gisella meringis dalam hati.
"Ah, rekam jejak Gisella asli benar-benar ampas."
"Manusia bisa berubah setelah kepalanya terbentur jendela kaca, Adrian,"
sahut Gisella santai, merujuk pada insiden kemarin tanpa beban.
"Anggap saja benturan kemarin mengaktifkan sel otakku yang selama ini tertidur. Duduklah di meja makan, atau kembali ke ruang kerjamu. Lima belas menit, aku akan membawakannya untukmu."
Melihat kilat tekad yang jernih di mata wanita itu, Adrian entah mengapa kehilangan kata-kata untuk mendebat.
Rasa penasaran yang asing mulai tumbuh di benaknya.
Dia ingin melihat sandiwara apa lagi yang sedang dimainkan oleh istrinya ini.
"Baik," kata Adrian pendek.
Dia membawa cangkir kopi hitamnya yang tanpa gula, lalu berjalan menuju meja makan panjang yang terletak tidak jauh dari konter dapur.
Dia duduk di sana, melipat tangannya di atas dada, dan mengawasi setiap gerak-gerik Gisella dengan mata elangnya.
Gisella mengembuskan napas lega setelah berhasil menjauhkan racun gula itu dari Adrian.
Kini, tantangan sebenarnya dimulai.
Dia membuka lemari pendingin besar dua pintu milik keluarga Arthur.
Isinya luar biasa lengkap—bahan-bahan segar berkualitas tinggi berjejer rapi.
Gisella memutuskan untuk membuat menu sederhana namun kaya nutrisi dan rendah indeks glikemik:
Oatmeal gurih dengan kaldu ayam asli, potongan dada ayam panggang, sedikit sayur bayam, dan taburan bawang putih goreng.
Menu ini sangat cocok untuk menghangatkan perut di malam hari tanpa memicu lonjakan insulin bagi seseorang yang sedang stres bekerja seperti Adrian.
Dengan gerakan yang luwes dan terlatih—sisa kemampuan dari kehidupan masa lalunya sebagai pekerja mandiri yang hobi memasak—Gisella mulai memotong dada ayam, menumisnya dengan sedikit minyak zaitun, dan merebus oatmeal dalam air kaldu.
Aroma gurih yang menenangkan perlahan mulai menyeruak, memenuhi seluruh penjuru dapur bersih.
Dari posisinya, Adrian memperhatikan Gisella tanpa berkedip.
Cara Gisella memegang pisau, ritme ketukannya di atas talenan, hingga bagaimana dia mengatur besar kecilnya api kompor induksi... semuanya terlihat sangat profesional.
Sama sekali tidak mencerminkan seorang nona muda manja yang tidak pernah menyentuh urusan dapur seumur hidupnya.
"Siapa sebenarnya wanita ini?" batin Adrian.
Kecurigaannya yang semula mengarah pada 'trik baru bersama Julian' kini bergeser ke arah yang lebih dalam.
Perubahan sifat mungkin bisa dipalsukan dengan akting yang hebat, tetapi keterampilan fisik dan bahasa tubuh yang terlatih seperti ini tidak bisa diubah hanya dalam waktu semalam.
"Selesai,"
ucap Gisella riang, membuyarkan lamunan Adrian.
Gisella berjalan mendekati meja makan sambil membawa sebuah mangkuk keramik putih yang mengepulkan uap hangat beraroma harum.
Dia meletakkannya dengan perlahan di hadapan Adrian, lengkap dengan sepasang sendok dan garpu.
"Apa ini?"
Adrian menatap makanan di dalam mangkuk dengan dahi berkerut.
Sebagai pria yang terbiasa dengan makanan barat formal atau makanan manis, tampilan oatmeal gurih ini terlihat asing baginya.
"Oatmeal gurih dengan dada ayam panggang dan bayam,"
jawab Gisella, mendudukkan dirinya di kursi seberang Adrian.
Dia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Adrian dengan mata berbinar penuh antisipasi.
"Karbohidrat kompleks dari oatmeal akan memberimu energi yang stabil tanpa membuatmu mengantuk atau mengalami lonjakan gula darah. Cobalah. Aku jamin ini jauh lebih enak daripada kue kering penuh gula itu."
Adrian menatap mangkuk itu, lalu beralih menatap Gisella yang menatapnya seperti seekor anak anjing yang meminta pujian.
Sudut hati Adrian yang biasanya beku mendadak terasa sedikit hangat karena perhatian yang tidak biasa ini.
Dengan ragu, Adrian menyendok sedikit oatmeal gurih tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut.
Gisella menahan napas, memperhatikan ekspresi wajah Adrian.
Seketika, mata Adrian sedikit melebar.
Rasa gurih alami dari kaldu ayam berpadu sempurna dengan tekstur oatmeal yang lembut, ditambah dengan gurihnya dada ayam panggang yang renyah di luar namun berair di dalam. Ini tidak hambar sama sekali.
Justru terasa sangat nyaman di lidah dan menghangatkan tenggorokannya yang kering akibat terlalu banyak minum kopi.
Tanpa sadar, Adrian menyendoknya untuk kedua kali, lalu ketiga kali.
Dia makan dalam keheningan, namun kecepatan sendoknya membuktikan bahwa makanan itu sangat sesuai dengan seleranya.
Gisella tersenyum puas melihat mangkuk itu perlahan mulai kosong.
"Bagaimana? Enak, kan?"
Adrian menelan suapan terakhirnya, lalu menyeka bibirnya dengan tisu dengan gerakan yang sangat elegan.
Dia berdeham pelan untuk menyembunyikan rasa kagumnya.
"Lumayan. Setidaknya ini bisa dimakan,"
jawab Adrian datar, gengsinya yang tinggi menolak untuk memberikan pujian berlebihan.
Dia menatap Gisella kembali dengan sorot mata yang serius.
"Gisella, mari kita bicara serius."
Gisella membetulkan posisi duduknya.
"Tentu. Katakan saja."
"Kau meminta waktu satu bulan untuk menunda perceraian ini," kata Adrian,
suaranya kembali formal bagai seorang profesor yang sedang menguji mahasiswanya.
"Dan kau berjanji tidak akan membuat keributan, tidak akan menuntut uang kompensasi, serta akan berperilaku baik di depan orang tuaku. Mengapa? Apa tujuan sebenarnya melakukan semua ini? Jangan katakan kau tiba-tiba jatuh cinta kepadaku, karena kita berdua tahu itu tidak mungkin."
Gisella tersenyum tipis, memaklumi skeptisisme Adrian.
Jika dia berada di posisi Adrian, dia juga pasti akan curiga setengah mati.
"Kau benar, Adrian. Aku tidak akan membohongimu dengan mengatakan aku tiba-tiba jatuh cinta kepadamu,"
kata Gisella dengan jujur.
"Tujuan utamaku murni untuk bertahan hidup."
"Bertahan hidup?"
Adrian menaikkan satu alisnya.
"Keluarga Arthur tidak pernah kekurangan uang untuk memberimu makan."
"Bukan bertahan hidup dalam artian fisik di rumah ini, tapi bertahan hidup dari kebodohanku sendiri di masa lalu,"
jelas Gisella misterius, tentu saja dia tidak bisa mengatakan bahwa dia sedang menghindari plot kematian tragis di jalanan.
"Aku menyadari bahwa jika aku keluar dari rumah ini sekarang dengan emosi yang tidak stabil dan uang satu juta dolar itu, aku hanya akan menjadi mangsa empuk bagi orang-orang jahat di luar sana yang ingin memanfaatkanku. Aku butuh waktu satu bulan untuk menenangkan pikiranku, memutus semua hubungan toksik dari masa laluku, dan belajar bagaimana caranya berdiri di atas kakiku sendiri sebelum aku benar-benar menyandang status sebagai janda."
Kata-kata 'memutus hubungan toksik' membuat Adrian langsung teringat pada Julian.
Apakah Gisella akhirnya menyadari bahwa pria itu hanya memanfaatkan uangnya saja?
"Jika kau benar-benar berniat seperti itu... aku akan memegang kata-katamu selama tiga puluh hari ke depan,"
ucap Adrian setelah keheningan yang cukup lama.
Dia berdiri dari kursinya, membawa mangkuk kosongnya sendiri ke wastafel dapur—sebuah kebiasaan mandiri yang jarang dilakukan oleh tuan muda kaya.
Sebelum melangkah keluar dari dapur, Adrian menghentikan langkahnya di dekat Gisella.
Dia menundukkan kepalanya sedikit, membuat jarak di antara wajah mereka mengikis, hingga Gisella bisa mencium aroma samar mint dan kayu cendana dari tubuh Adrian.
"Satu bulan, Gisella,"
bisik Adrian, suaranya bergetar rendah di dekat telinga Gisella.
"Tunjukkan padaku bahwa kau benar-benar berubah. Jangan biarkan aku menyesal karena telah memberimu kesempatan ini."
Setelah mengatakan hal itu, Adrian berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan dapur dengan langkah kaki yang tegas, menuju ruang kerjanya.
Gisella terpaku di tempatnya berdiri, memegangi dadanya yang mendadak berdegup dengan sangat kencang. Wajahnya terasa sedikit panas.
"Astaga... pesona profesor jenius ini benar-benar tidak main-main,"
gumam Gisella sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
"Fokus, Gisella! Kau di sini untuk bertahan hidup, bukan untuk jatuh cinta pada suami kontrakmu!"
Gisella menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir pikiran-pikiran aneh, lalu mulai membersihkan dapur dengan senyuman yang tak kunjung pudar dari bibirnya.
Malam pertama dari tiga puluh hari penundaannya telah berjalan dengan sangat baik.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!