TING!!!
Ada notifikasi masuk.
TING!!!
Satu notifikasi lagi
TING!!!
TING!!!
TING!!!
Notifikasi itu datang berturut-turut sampai layar ponsel Kirana Ayu Pradipta menyala tanpa jeda di atas meja kerjanya. Ia sedang mengecek ulang anggaran proyek untuk ketiga kalinya pagi itu, pena terselip di antara bibirnya, ketika akhirnya menyerah dan meraih ponselnya.
Kirana,
KITA MASUK FINAL!!
Cakra Investindo bilang proposal kita paling unggul…
Kita ngalahin semua kandidat lain.
TERMASUK WIBOWO GROUP!!
Gila banget!
Ia membaca pesan dari Nadia itu dua kali. Kemudian bangkit, hampir menabrak kursinya sendiri, dan berlari kecil menyusuri lorong menuju ruang kerja Nadia yang hanya berjarak lima pintu dari ruangannya.
"Lu serius?" Kirana menerobos masuk tanpa mengetuk.
Nadia sudah berdiri dari kursinya, senyumannya nyaris merobek mulutnya saking senangnya. "Serius, Kir! Mereka telepon lima menit lalu. Proposal kita masuk final. Kita bakal lawan Wibowo Group. WIBOWO GROUP, Kirana!"
Lima tahun sejak Kirana mendirikan Cipta Prada Land, dari ruko sempit di Bintaro, bermodal tabungan pribadi dan nekat yang jauh lebih besar dari akal sehatnya. Lima tahun sejak orang-orang menatapnya sebelah mata setiap kali ia bilang mau bersaing di industri yang dikuasai oleh nama-nama besar. Dan sekarang, dari puluhan kandidat, perusahaannya lolos ke final proyek revitalisasi kawasan pesisir terbesar tahun ini — berhadapan langsung dengan salah satu konglomerat properti paling berkuasa di Jakarta.
Ia harusnya melompat kegirangan seperti Nadia. Tapi satu nama mengganjal di tenggorokannya, menahan semua kesenangan itu.
"Wibowo Group," Kirana mengulang pelan, mencoba membiasakan mulutnya dengan nama itu lagi. "Siapa yang mimpin sekarang? Terakhir gua denger, Pak Hartono masih pegang kendali, ya?”
Nadia meraih laptopnya, mengetik cepat. "Setahu gua udah diserahin ke anaknya beberapa tahun lalu." Ia diam sebentar, membaca layar, lalu mendongak. "Raditya Alamsyah Wibowo. Kemungkinan besar dia yang bakal hadir langsung buat presentasi final minggu depan."
Untuk sepersekian detik, ruangan itu terasa kehilangan udara.
Raditya.
Dulu, ia selalu memanggilnya dengan "Radit" — dua suku kata yang dulu terasa seperti rumah, sebelum berubah jadi sesuatu yang harus ia kubur dalam-dalam. Tujuh tahun ia meyakinkan diri bahwa nama itu sudah kehilangan kekuatannya. Bahwa ia sudah membangun hidup baru, tidak bergantung pada pria yang pergi tanpa satu kalimat perpisahan yang layak.
Ternyata ia salah. Nama itu masih bisa membuat lututnya lemas.
"Kirana?" Suara Nadia berubah waswas. "Lu kenapa pucat gitu?"
"Nggak apa-apa." Kirana menarik napas, memaksa suaranya tetap datar. "Cuma kaget. Gua kenal sama dia. Radit. Dulu."
Nadia duduk kembali, matanya menyipit curiga. "Kenal gimana maksudnya?"
"Kita pernah pacaran," Kirana melanjutkan, kalimat yang belum pernah ia ucapkan dengan lantang pada siapa pun sejak bertahun-tahun lalu. "Semasa kuliah. Bisa dibilang, hubungan kami cukup serius. Sampai suatu hari dia mutusin gua tanpa penjelasan, dan gua nggak pernah ketemu dia lagi sejak itu."
Nadia terdiam. Sahabatnya yang biasanya selalu punya komentar untuk segala hal, kali ini kehabisan kata selama beberapa detik.
"Jadi," katanya akhirnya, hati-hati, "perusahaan yang bakal kita lawan minggu depan… sekarang dipimpin sama mantan pacar lu. Kalian bakal berhadapan langsung, berebut proyek yang sama, di depan seluruh dewan investor."
Kirana tertawa kecil, lebih mirip hembusan napas daripada tawa sungguhan. "Kayaknya begitu."
"Astaga, Kirana." Nadia menggeleng, antara tidak percaya dan geli. "Dari semua perusahaan properti di Jakarta, kenapa harus yang itu?"
"Gua juga nggak tahu." Kirana menoleh ke jendela, ke deretan gedung tinggi di kejauhan. Salah satunya adalah markas Wibowo Group — gedung yang sudah ratusan kali ia lewati tanpa pernah kepikiran siapa yang duduk di lantai tertingginya. "Tapi ini kerasa… bukan kebetulan biasa."
"Kalau gitu," Nadia berkata, nada suaranya berubah tegas, "lu harus siapin presentasi terbaik yang pernah kita bikin. Bukan cuma buat menang tender. Tapi biar lu bisa buktiin ke diri sendiri, dan mungkin ke dia, kalau lu sekarang jauh lebih kuat dari tujuh tahun lalu."
Kata-kata itu menohok tenggorokan Kirana. Nadia benar. Ini bukan lagi cuma soal memenangkan tender.
"Lu bener," kata Kirana, Kembali dengan ketegasan yang biasa jadi ciri khasnya. "Kita bikin ini sebaik mungkin. Bukan cuma buat ngalahin Wibowo Group. Tapi buat buktiin Cipta Prada Land pantas berdiri sejajar sama nama sebesar mereka."
Nadia tersenyum lega. "Nah, gitu dong. Ini Baru Kirana yang gua kenal."
"Tapi serius," Kirana menambahkan, setengah bercanda, setengah tidak, "kalau di ruang presentasi nanti gua tiba-tiba diam kayak orang linglung, lu yang lanjutin ngomong, ya. Jangan biarin gua berdiri di sana kayak patung."
"Sejak kapan lu linglung gara-gara cowok?" Nadia menyeringai jahil.
"Ini bukan soal cowok biasa, Nad." Kirana melempar bantalan sofa kecil ke arah sahabatnya, meski senyum tipis akhirnya lolos juga di sudut bibirnya. "Ini soal orang yang ninggalin gua tanpa kabar tujuh tahun lalu, terus tiba-tiba nongol lagi sebagai lawan bisnis paling berat yang pernah gua hadapin."
"Kalau gitu," Nadia berkata, mengetuk-ngetuk pena ke meja, "anggap aja ini kesempatan lu buat nunjukin ke dia apa yang udah dia lewatin."
...****************...
Mereka menghabiskan sisa hari itu menyusun kerangka presentasi, mendebat proyeksi anggaran, merombak beberapa elemen desain sampai lupa jam makan siang. Tapi di sela kesibukan itu, sesekali Kirana mendapati dirinya berhenti, kehilangan alur pikiran, matanya kosong menatap satu titik yang tidak ada ujungnya.
"Lu ngelamun lagi," Nadia menegur, menyodorkan draf anggaran yang perlu paraf.
"Maaf." Kirana buru-buru meraih pena. "Kepikiran hal lain."
Menjelang sore, Dimas mampir ke ruang kerjanya, membawa dua gelas kopi dan senyum lebar yang sudah menular dari lantai bawah.
"Denger-denger kita masuk final." Ia menaruh salah satu gelas di meja Kirana, lalu duduk di kursi seberang tanpa diminta, kebiasaan yang sudah bertahan sejak mereka merintis perusahaan ini berdua dari nol. "Gila, Kir. Lu tahu ini artinya apa buat kita?"
"Gua tahu." Kirana menerima kopi itu, menghangatkan telapak tangannya. "Lawan kita Wibowo Group."
"Nama besar." Dimas bersiul pelan. "Tapi bukan berarti kita nggak bisa menang. Lu udah buktiin banyak hal yang orang bilang mustahil selama lima tahun ini." Ia memperhatikan wajah Kirana lebih lama dari biasanya. "Tapi kenapa muka lu kayak abis ketemu hantu?"
Kirana nyaris tersedak kopinya sendiri. "Nggak ada apa-apa."
"Kir." Dimas menyipitkan mata, nada suaranya melunak. "Gua kenal lu. Ada sesuatu."
"Cuma capek," Kirana berkata cepat, memilih untuk mengalihkan pembicaraan. "Banyak yang harus disiapin minggu ini."
Dimas tidak mendesak, meski matanya masih menyimpan pertanyaan yang belum terjawab. "Kalau butuh apa-apa, bilang aja," katanya sebelum berdiri, menepuk pelan bahu meja Kirana. "Kita hadapin ini bareng-bareng, kayak biasa."
Ia pergi meninggalkan pintu terbuka, dan Kirana menghela napas panjang begitu langkahnya menghilang di lorong. Satu orang lagi yang harus ia yakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Bukan cuma Dimas. Sepanjang sore, "hal lain" yang membuatnya berkali-kali kehilangan alur pikiran itu tak lain adalah wajah Radit di kafe kecil dekat kampus, tujuh tahun lalu, mengucapkan dua kata yang masih menghantuinya sampai sekarang.
Kita selesai.
Tanpa penjelasan. Tanpa kesempatan bertanya. Tanpa satu pun jawaban yang bisa membantunya memahami apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
Ia tidak pernah benar-benar tahu alasannya. Yang ia tahu, hidupnya berubah setelah kejadian itu. Bukan cuma kehilangan Radit, tapi tak lama kemudian bisnis ayahnya mulai goyah, lalu runtuh dalam waktu kurang dari setahun. Ibunya, Sulastri, terpaksa melepas satu per satu aset keluarga cuma untuk bertahan hidup.
Kirana tidak pernah menghubungkan dua peristiwa itu — sampai suatu hari ia tanpa sengaja menemukan dokumen lama peninggalan ayahnya yang menyebut nama "Wibowo" dalam konteks yang ia tidak pahami.
Ia menyimpan pikiran itu lagi, mengunci di sudut kepalanya seperti biasa. Belum waktunya. Yang ia butuhkan sekarang cuma fokus.
...****************...
Malam itu, di apartemennya, Kirana duduk di sofa dengan laptop di pangkuan, seharusnya merapikan slide terakhir. Alih-alih, jarinya berhenti di kolom pencarian, mengetik satu nama.
Raditya Alamsyah Wibowo.
Halaman "Tentang Kami" yang ada di website Wibowo Group terbuka lebih cepat dari yang ia duga. Foto profesional, jas gelap, ekspresi yang jauh lebih dingin dari yang pernah ia kenal. Rahangnya lebih tegas. Sorot matanya tidak lagi punya kehangatan yang dulu selalu ia cari setiap kali mereka berdua duduk berdua di atap gedung fakultas.
Ia scroll halaman website itu ke bawah, membaca profil singkat — prestasi, ekspansi bisnis, kutipan tentang visinya. Tidak ada satu kalimat pun tentang siapa dia sebelumnya. Tidak ada jejak mahasiswa Manajemen Bisnis yang dulu rela menerobos hujan cuma demi menemani Kirana beli es krim.
Orang di foto itu asing. Tapi tatapan itu, satu detik sebelum ia menutup laptop, masih terasa persis seperti yang ia ingat.
Kirana menutup layar laptopnya dengan cepat, di dalam hatinya, ia berharap bisa mematikan kenangan semudah menutup layar laptop.
Ia berdiri, berjalan ke kamar mandi, berhenti lama di depan cermin. Perempuan yang menatap dari balik cermin sudah jauh berbeda dari gadis yang dulu menangis semalaman di kamar kos, bertanya-tanya apa yang salah dari dirinya hingga orang yang begitu ia cintai bisa pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.
Perempuan itu sudah belajar untuk berdiri sendiri. Sudah belajar membangun sesuatu dari reruntuhan tanpa pertolongan dari siapa pun.
Tapi ketika ia memejamkan mata malam itu, satu pertanyaan menolak pergi, berputar terus di kepalanya seperti lagu yang tak bisa ia matikan.
Apakah tujuh tahun benar-benar cukup untuk membuatnya berhenti mencintai Raditya Wibowo?
Ia tidak tahu jawabannya.
Belum.
Minggu depan, ia akan berdiri di hadapan pria itu lagi. Bukan sebagai kekasih yang dulu berbagi mimpi di atap gedung kampus, tapi sebagai rival yang harus ia kalahkan — dan entah kenapa, pikiran itu justru membuat jantungnya berdebar lebih kencang daripada rasa takut kalah tender.
Angka di pojok layar laptop menunjukkan pukul 02.47 ketika Raditya Wibowo masih membaca baris yang sama untuk ketiga kalinya.
*PT Cipta Prada Land. Didirikan lima tahun lalu. Pendiri: *Kirana Ayu Pradipta.
Ia sudah hafal setiap angka pertumbuhan perusahaan itu, setiap proyek yang pernah mereka garap, setiap kutipan dari wawancara singkat Kirana di media bisnis. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini riset kompetitor biasa — hal yang wajar dilakukan CEO mana pun menjelang presentasi final terbesar tahun ini.
Kebohongan itu tidak bertahan lama.
Karena yang sebenarnya ia cari, di antara baris angka dan grafik pertumbuhan itu, cuma satu hal: fotonya. Ia melihat potret Kirana dengan blazer gelap dan senyum yang jauh lebih percaya diri dari yang ia ingat. Rambutnya lebih pendek. Rahangnya lebih tegas.
Ia ingat rambut itu dulu selalu tergerai, sering diikat asal dengan pensil saat Kirana buru-buru menyelesaikan tugas maketnya. Ia ingat cara Kirana tertawa sampai matanya menyipit, cara ia bicara soal mimpinya membangun perusahaan sendiri seolah itu satu-satunya hal paling penting di dunia. Radit dulu percaya pada mimpi itu — bahkan lebih percaya daripada Kirana sendiri.
Sekarang perempuan di foto itu sudah mencapai semua impiannya sendiri. Tanpa dia.
Radit menutup laptop tepat jam empat pagi, matanya pedih, tubuhnya menolak berbaring meski otaknya sudah lelah berpikir. Ia hanya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela, sampai alarm berbunyi jam enam dan memaksanya bangkit lagi seperti tidak terjadi apa-apa semalaman.
TING!!!
Notifikasi dari Farrel masuk saat ia mengikat dasi di depan cermin.
Gua di bawah. 15 menit lagi kita harus otw.
...****************...
"Lu yakin siap?" Farrel bertanya begitu Radit masuk mobil, matanya masih sibuk memindai berkas di tangan.
"Siap buat apa? Presentasinya, atau ketemu dia?" Radit menjawab.
Farrel mengangkat kedua tangan, tanda menyerah. "Gue cuma nanya soal presentasinya, Dit. Tapi sekarang gue jadi penasaran juga sama yang kedua."
Radit menghela napas, menyandarkan kepala ke jok mobil. "Gue nggak tahu, Rel. Sejak namanya muncul di laporan itu, gue nggak bisa berhenti mikirin gimana rasanya nanti, berdiri di ruangan yang sama bareng dia lagi. Kenapa harus dia, dari semua orang yang punya potensi buat jadi lawan?"
"Kalian putus baik-baik?" Farrel bertanya hati-hati. Ia tahu sedikit soal masa lalu Radit dengan seorang perempuan bernama Kirana — Radit tidak pernah cerita detailnya, cuma bilang hubungan itu berakhir, tanpa alasan yang jelas.
"Nggak." Radit menjawab pendek. "Sama sekali nggak baik-baik."
Farrel tidak mendesak lebih jauh, meski Radit tahu masih ada satu pertanyaan lagi yang tertahan di ujung lidah sahabatnya itu.
"Bokap lu udah tahu soal ini?" Farrel akhirnya bertanya, hati-hati memilih kata. "Soal siapa yang mimpin Cipta Prada Land, maksud gua."
"Belum." Radit menatap keluar jendela, melihat jalanan Jakarta yang mulai padat pagi itu. "Dan gue nggak niat kasih tahu, kecuali dia tanya duluan."
"Kenapa?"
"Karena kalau dia tahu," Radit menjawab pelan, "gua nggak punya jawaban yang bisa bikin dia puas."
Farrel diam sebentar, lalu menepuk bahu Radit sekali. "Ya udah. Fokus menang dulu aja hari ini. Urusan bokap lu, nanti aja dipikirin."
Radit tidak menjawab. Tapi kata-kata Farrel terus menggantung di kepalanya sepanjang sisa perjalanan, bercampur dengan bayangan wajah ayahnya yang selalu menuntut atas setiap keputusan dalam hidupnya.
...****************...
Ruang rapat di lantai 38 sudah ramai ketika mereka tiba. Sepuluh anggota dewan investor Cakra Investindo duduk mengelilingi meja oval besar, dua kursi presentasi menghadap mereka, satu untuk masing-masing kandidat finalis.
Tepat pukul sepuluh, pintu terbuka.
Radit mengangkat wajah, dan untuk sepersekian detik seluruh ruangan itu berhenti berputar.
Kirana berjalan masuk dengan langkah mantap, map presentasi terjepit di lengannya, mengenakan blazer abu-abu gelap. Di sampingnya, Nadia membawa tumpukan berkas dan maket kecil.
Kirana belum melihatnya. Ia sedang menyapa salah satu perwakilan dewan, tersenyum profesional, menjabat tangan beberapa orang yang menyambutnya hangat.
Lalu matanya berpindah ke seberang ruangan.
Berhenti tepat di wajah Radit.
Satu.
Dua.
Tiga.
Radit tidak tahu kenapa ia bisa menghitungnya sepasti itu — mungkin karena setiap detik terasa seperti… memberi ruang bagi kenangan di antara mereka untuk mengalir. Senyum Kirana perlahan memudar, bukan hilang, tapi berubah jadi sesuatu yang lebih waspada, seolah ia baru sadar lawan yang harus ia kalahkan hari ini bukan sekadar nama perusahaan di atas kertas.
Delapan detik, sebelum Kirana memutus kontak mata. Ia berdeham pelan, kembali ke perwakilan investor tadi, seolah delapan detik itu tidak pernah terjadi.
Tapi Radit tahu itu terjadi. Dan ia tahu, Kirana merasakannya juga.
"Selamat pagi, semuanya," Pak Kusnadi membuka sesi. "Hari ini kita akan mendengarkan presentasi final dari dua kandidat terbaik untuk proyek revitalisasi kawasan pesisir. Kita mulai dengan PT Cipta Prada Land, dilanjutkan dengan Wibowo Group. Keputusan final diumumkan satu minggu setelah presentasi ini berakhir."
"Selamat pagi, semuanya." Suara Kirana jelas dan tenang saat melangkah ke depan. "Saya Kirana Ayu Pradipta dari PT Cipta Prada Land. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan pada kami untuk mempresentasikan visi kami."
Radit memaksakan diri untuk fokus pada isi presentasi, bukan pada suara selalu terngiang di kepalanya selama tujuh tahun terakhir.
Presentasinya, ia harus akui, brilian. Kirana tidak cuma bicara keuntungan finansial, tapi juga dampak sosial bagi warga sekitar. Ruang publik yang dirancang untuk benar-benar dipakai, bukan sekadar dipajang di brosur. Radit mendapati dirinya kagum, di saat seharusnya ia merasa terancam.
Ketika sesi tanya jawab dibuka, seorang anggota dewan bertanya soal kelayakan finansial jangka panjang, mengingat skala perusahaan Kirana yang masih tergolong kecil. Kirana menjawab dengan yakin, data dan argumen tersusun rapi, sampai anggota dewan itu sendiri terlihat terkesan dengan semua jawaban yang Kirana berikan.
Kemudian giliran timnya untuk memaparkan presentasi.
Radit berdiri, melangkah ke depan dengan ketenangan yang sudah ia latih ribuan kali.
"Selamat pagi. Saya Raditya Wibowo, mewakili Wibowo Group." Suaranya terdengar stabil, meski jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari biasanya.
Presentasinya berjalan lancar. Angka-angka besar, skala proyek yang lebih ambisius, portofolio panjang Wibowo Group selama puluhan tahun.
Tapi, sesekali mata Raditya mencari celah untuk bertemu dengan mata Kirana yang memperhatikan presentasinya dengan ekspresi sulit dibaca.
Ketika sesi tanya jawab selesai, Pak Kusnadi berdiri, mengucapkan terima kasih pada kedua tim, menegaskan sekali lagi bahwa keputusan final akan diumumkan seminggu lagi.
Ruangan mulai bergerak, orang-orang berdiri untuk berjabat tangan formal sebelum pergi.
Sebagai perwakilan tertinggi timnya, Radit menyapa langsung perwakilan tim lawan.
Kirana berjalan mendekat, wajahnya kembali mengenakan topeng profesional yang sempurna, tangannya terulur untuk menyambut tangan Radit.
"Pak Wibowo," katanya, suaranya terdengar ada getar samar di baliknya. "Presentasi yang bagus."
Radit menjabat tangannya, merasakan kulitnya bersentuhan dengan kulit Kirana untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun. Sensasi itu menjalar aneh sampai ujung jarinya.
"Bu Kirana," jawabnya, memaksa suara tetap datar meski jantungnya berdegup kencang. "Presentasi Anda juga luar biasa. Semoga yang terbaik yang memenangkan tender proyek ini."
Mereka berdua tahu — meski tak seorang pun di ruangan itu menyadarinya — kalimat sederhana itu menyimpan tujuh tahun memori yang belum selesai di antara mereka berdua.
Kirana melepaskan jabatan tangan lebih cepat, sembari menyunggingkan senyuman tipis. "Semoga begitu."
"Sepertinya kita bakal nunggu satu minggu yang cukup panjang," Radit berkata, mencoba menyelipkan sedikit candaan di tengah suasana yang begitu tegang.
Untuk sesaat, senyuman tulus — bukan senyum profesional yang tadi ia kenakan sepanjang presentasi — muncul di wajah Kirana. "Sepertinya begitu, Pak Wibowo."
Kirana mengangguk sekali, berbalik pergi bersama Nadia, meninggalkan Radit berdiri di ruang rapat yang perlahan kosong.
"Dit." Farrel menepuk bahunya, menariknya dari lamunan. "Yuk. Kita udah ngasih yang terbaik. Sekarang tinggal nunggu."
Radit mengangguk, mengikuti langkah sahabatnya keluar. Tapi bahkan di dalam lift, saat ia turun menuju lobi, delapan detik yang mengubah segalanya itu masih berkutat, menari-nari di dalam kepalanya.
...****************...
Di lobi, ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuat rahangnya mengeras seketika.
Ayah.
Ia menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol hijau. "Ya, Ayah."
"Bagaimana presentasinya?" Suara Hartono Wibowo terdengar tegas seperti biasa, tanpa basa-basi untuk menanyakan kabar anaknya.
"Berjalan lancar. Hasilnya diumumkan minggu depan."
"Pastikan kita menang, Radit. Proyek itu penting buat ekspansi kita ke pesisir." Jeda sebentar. "Siapa pesaing kita?"
Radit menutup mata sesaat, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Perusahaan kecil. Belum lama berdiri."
"Kalau kecil, seharusnya bukan masalah buat kita."
"Nggak," Radit menjawab, suaranya lebih pelan. "Bukan masalah besar."
Ia mengakhiri panggilan itu tanpa memberi tahu detail tentang siapa pemilik perusahaan kecil yang dimaksud. Bukan karena ia ingin menyembunyikan sesuatu dari, tapi karena ia belum siap mendengar kata yang mungkin keluar dari mulut Hartono soal nama Kirana Ayu Pradipta.
Apa pun hasil keputusan dewan investor minggu depan, satu hal sudah pasti — sesuatu di dalam dirinya sudah berubah sejak pagi ini, dan ia tidak yakin bisa mengembalikannya seperti semula.
Tiga malam berturut-turut sejak presentasi final, Kirana masih terjaga di jam dua pagi, duduk di tepi jendela apartemennya, menatap lampu-lampu Jakarta yang berkelip di kejauhan.
Malam pertama, ia menyalahkan kafein — terlalu banyak kopi selama menyusun presentasi. Malam kedua, ia menyalahkan kecemasan menunggu keputusan investor. Tapi malam ketiga ini, ia sudah kehabisan alasan untuk berbohong pada dirinya sendiri.
Bukan cuma soal keputusan investor yang masih harus ditunggu beberapa hari lagi. Tapi wajah Radit. Tatapan itu terus memutar ulang kenangan yang sudah bertahun-tahun ia kunci rapat-rapat, satu per satu, seolah kunci yang ia pasang dulu sudah rapuh dan longgar.
Ia menyerah melawan pikirannya sendiri, menyandarkan kepala ke kaca jendela yang dingin. Di apartemen sebelah, lampu milik seseorang di ruangan itu baru saja dipadamkan. Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, dan malam ini, Kirana juga tidak.
Dan di sanalah, di tengah keheningan itu, kenangan itu akhirnya menang.
...****************...
Tujuh tahun lalu.
Kirana bertemu Radit pertama kali di perpustakaan kampus, semester dua, tahun pertamanya menempuh pendidikan S1 Arsitektur. Ia sedang berjuang menyelesaikan tugas maket yang berantakan, dikelilingi potongan karton dan lem yang menempel di mana-mana, termasuk di rambutnya sendiri tanpa ia sadari.
"Kalau begini caranya, bangunannya bakal roboh sebelum sempat dipresentasikan."
Suara itu terdengar begitu percaya diri sampai Kirana merasa pemiliknya sangat menyebalkan. Ia menoleh, siap membalas dengan sindiran setara, tapi kata-katanya tertahan begitu melihat siapa yang bicara. Mahasiswa Manajemen Bisnis yang sering ia lihat sedang berlalu-lalang di kampus, selalu rapi, dan sedikit terlalu serius untuk ukuran mahasiswa semester dua.
"Lu tahu apa soal maket arsitektur?"
"Nggak banyak," jawab pria itu santai, ia menarik kursi dan duduk di kursi kosong di Seberang Kirana tanpa diundang. "Tapi gua tahu banyak soal struktur bangunan yang kuat. Dan ini —" ia menunjuk maket Kirana yang mulai miring, "— jelas nggak akan bisa bertahan."
Kirana menatapnya tajam, tapi tak bisa menahan senyum kecil di ujung bibirnya. "Baiklah, Pak Ahli Struktur. Bantuin gua, dong."
Begitulah semuanya dimulai. Tantangan kecil berubah jadi obrolan panjang sampai perpustakaan tutup, berlanjut keesokan harinya, dan hari-hari sesudahnya, sampai Kirana sadar ia mulai mencari alasan untuk berada di perpustakaan yang sama, jam yang sama, cuma untuk melihat apakah Raditya Alamsyah Wibowo akan muncul lagi.
Dan ia selalu muncul.
Radit, yang di kampus dikenal dingin dan sulit didekati — sikap warisan ayahnya yang selalu menuntut kesempurnaan — ternyata punya sisi lain yang cuma ia tunjukkan pada segelintir orang yang benar-benar ia percaya. Radit yang tertawa lepas saat mereka menerobos hujan tanpa payung, cuma karena Kirana bersikeras mau beli es krim di seberang jalan. Radit yang rela menghabiskan berjam-jam mendengarkan mimpi Kirana membangun perusahaan arsitektur sendiri.
Kencan pertama mereka bahkan bukan kencan yang direncanakan. Radit muncul di depan studio arsitektur Kirana jam sepuluh malam, membawa dua bungkus nasi goreng dan alasan konyol soal "kebetulan lewat", padahal studio itu terletak jauh dari gedung fakultasnya. Mereka makan sambil duduk di lantai koridor kampus, membicarakan segala hal, sampai satpam kampus mengusir mereka pulang menjelang tengah malam.
Sejak itu, "kebetulan lewat" jadi alasan tetap Radit setiap kali ia rindu, dan Kirana selalu berpura-pura untuk percaya.
Farrel, sahabat Radit sejak semester satu, adalah orang pertama yang tahu soal mereka berdua — Radit tertangkap basah saat Farrel mengikuti Radit ke studio arsitektur di suatu malam, penasaran dengan apa yang sahabatnya lakukan selama beberapa malam belakangan, dan ia mendapati sahabatnya itu duduk bersila di lantai koridor, menyuapi Kirana dengan sendok yang sama.
"Akhirnya," katanya waktu itu, menahan tawa, "gua kira lu bakal mati sendirian, kerja terus tanpa istirahat, Dit." Sejak itu Farrel jadi semacam saksi bagi hubungan mereka, orang yang selalu tahu kapan harus muncul dan kapan harus menghilang.
Nadia pun begitu — satu-satunya sahabat Kirana yang tahu detail hubungan itu sejak awal, yang selalu siap sedia dengan camilan setiap kali Kirana pulang dari kencan sambil bercerita panjang lebar tentang Radit, seolah dunia mereka berdua adalah dunia paling menarik yang pernah ada.
"Suatu hari," Radit pernah bilang, mereka berdua duduk di atap gedung fakultas yang jarang dikunjungi orang, "aku pengen lihat kamu membangun sesuatu yang benar-benar besar. Yang orang-orang masih inget namanya bertahun-tahun kemudian."
"Kamu sendiri?" Kirana bertanya, kepala bersandar di bahunya. "Kalau kamu, apa yang kamu mau?"
Radit terdiam, matanya menerawang ke cakrawala kota yang berkilau. "Aku pengin jadi orang yang beda dari ayahku," jawabnya, suaranya lebih pelan. "Dia ngajarin aku bahwa semuanya soal kendali, soal kekuasaan. Tapi aku nggak mau hidup kayak gitu. Aku mau membangun sesuatu bareng kamu, Kirana."
Kata-kata itu, malam itu, terasa seperti janji yang begitu tulus. Mereka bicara soal masa depan seolah itu sudah pasti milik mereka. Menikah setelah lulus kuliah. Rumah kecil yang akan mereka desain sendiri. Perusahaan yang akan mereka bangun bersama. Dan Kirana percaya pada janji-janji itu.
Sampai suatu sore di bulan Oktober, tepat setelah mereka merayakan satu tahun hubungan dengan makan malam sederhana di kafe kecil dekat kampus, semuanya berubah dalam hitungan menit.
Mereka sedang tertawa membicarakan rencana liburan akhir tahun, tangan bertautan di atas meja, ketika layar ponsel Radit menyala menampilkan satu nama.
Ayah.
Radit, yang biasanya membiarkan panggilan ayahnya masuk kotak suara kalau sedang bersama Kirana, kali ini justru langsung mengangkatnya.
"Ayah?" Suaranya masih ringan, tapi Kirana melihat bahunya mulai menegang seiring detik berlalu.
Kirana tidak bisa dengar apa yang dikatakan ayah Radit di ujung telepon, cuma suara samar yang tegas, cepat, tak memberi ruang untuk dibantah. Wajah Radit berubah. Dari tegang, jadi pucat, lalu jadi sesuatu yang lebih mengerikan — kosong.
"Baik," Radit akhirnya berkata, suaranya begitu pelan, jauh berbeda dari nada bicaranya beberapa menit lalu. "Aku pulang sekarang."
Ia menutup telepon, menatap layar lama.
"Radit?" Kirana meraih tangannya. "Ada apa? Kamu pucat banget."
Radit menatapnya, dan untuk sepersekian detik Kirana melihat sesuatu di mata itu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ketakutan yang begitu dalam, bercampur sesuatu yang terasa seperti perpisahan — meski saat itu Kirana belum paham maknanya.
"Nggak apa-apa," Radit berkata, meski suaranya sendiri terdengar tidak meyakinkan. "Ayahku butuh aku pulang sekarang. Ada urusan bisnis mendadak."
"Sekarang banget? Malam-malam begini?"
"Iya." Radit berdiri, mengambil jaketnya dengan gerakan yang terlihat terlalu buru-buru untuk sekadar urusan bisnis biasa. Ia mencium kening Kirana — ciuman yang terasa berbeda, lebih lama, lebih berat. "Aku telepon kamu besok, oke?"
Kirana mengangguk, meski ada yang mengganjal di dadanya. Firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan, tapi cukup kuat untuk membuatnya menahan lengan Radit sedikit lebih lama sebelum melepasnya pergi.
Radit tidak menghubunginya keesokan harinya. Atau hari sesudahnya.
Kirana menghabiskan minggu itu dengan ponsel selalu dalam genggaman, memeriksa layar setiap beberapa menit meski ia tahu tidak ada notifikasi baru. Ia mengirim pesan singkat di hari kedua.
Kamu baik-baik aja?
Pesan itu dibaca oleh penerimanya, tapi tidak pernah dibalas.
Di hari ketiga, ia menelepon Nadia, satu-satunya orang yang tahu sesuatu sedang tidak beres, meski Kirana sendiri belum bisa menjelaskan apa yang tidak beres.
"Mungkin dia lagi sibuk banget," Nadia berusaha menenangkan waktu itu, meski suaranya sendiri tidak terlalu yakin. "Keluarga bisnis kayak gitu kan urusannya nggak sesederhana keluarga kita, Kir."
Kirana ingin percaya itu. Tapi firasat yang menahannya di malam kepergian Radit belum juga hilang, malah semakin berat setiap hari yang berlalu tanpa kabar.
Ketika akhirnya mereka bertemu lagi, seminggu kemudian, di kafe kecil yang sama, Radit sudah menjadi orang yang berbeda. Jauh lebih dingin. Ia memasang tembok yang sangat tinggi hingga Kirana tak bisa lagi menemukan pria yang pernah berbagi mimpi dengannya di atap gedung fakultas itu.
"Kita selesai," Radit berkata, tanpa penjelasan, tanpa memberi Kirana kesempatan untuk bertanya lebih jauh.
Dua kata itu, begitu singkat, menghancurkan segala yang pernah mereka bangun bersama.
...****************...
Kirana membuka mata. Air matanya sudah mengalir tanpa ia sadari, membasahi pipinya.
Tujuh tahun sudah berlalu, dan kenangan itu masih bisa membuatnya menangis. Bukan cuma karena kehilangan cinta yang begitu tulus, tapi karena satu pertanyaan yang tak pernah ia temukan jawabannya masih menghantuinya sampai sekarang.
Apa sebenarnya yang dikatakan oleh Hartono Wibowo pada anaknya malam itu, sehingga bisa begitu cepat mengubah seorang pria penuh mimpi jadi seseorang yang begitu dingin, hingga rela mengucapkan dua kata yang menghancurkan segalanya tanpa penjelasan sedikit pun?
Ia pernah mencoba mencari tahu, bertahun-tahun lalu. Menelepon nomor Radit yang lama sampai nomor itu tidak aktif lagi. Mendatangi kantor lama Wibowo Group, hanya untuk diberi tahu resepsionis bahwa Radit sedang di luar negeri untuk urusan bisnis yang tidak jelas kapan selesainya. Setelah percobaan ketiga yang berakhir sama, ia berhenti untuk mencoba, memilih membangun tembok sendiri yang sama tingginya dengan tembok yang Radit bangun malam itu.
Kirana menyeka air matanya, menatap keluar jendela, ke arah gedung Wibowo Group yang menjulang di kejauhan, lampu-lampunya masih menyala meski jam sudah menunjukkan jam empat pagi. Entah siapa yang masih terjaga di sana sampai sepagi ini.
Ia menutup tirai, mematikan lampu, dan mencoba sekali lagi memejamkan mata meski tahu tidur tidak akan datang menjemputnya malam ini.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!