Indonesia
NovelToon NovelToon

Pegasus From Diamond Planet

Bab 1. Planet yang Hancur

Panas api membakar bulu-bulu di ujung sayap Alan, tetapi bocah berusia tujuh tahun itu terlalu takut untuk menangis. Bau hangus dari daging yang terbakar dan belerang menyengat hidungnya yang mungil, memicu rasa mual yang hebat.

Di atas langit Planet Diamond yang dulunya sewarna permata berkilauan, sesosok bayangan raksasa bertubuh ular raksasa dengan belasan kepala meliuk-liuk di antara kepulan asap hitam.

Typhon. Monster legendaris yang dalam buku sejarah klan mereka digambarkan sebagai pembawa kiamat, kini nyata berada di depan matanya.

Monster itu sedang berpesta, memuntahkan lautan api dari moncong-moncongnya yang mengerikan, melelehkan arsitektur megah dari kristal padat dan menara-menara putih peradaban Pegasus hingga menjadi puing-puing tak berbentuk.

Setiap beberapa detik, tanah yang mereka pijak bergetar hebat. Ledakan demi ledakan menciptakan simfoni kematian yang memekakkan telinga. Langit timur yang biasanya menampakkan aurora ungu yang indah, kini sepenuhnya tertutup jelaga merah darah.

"Cepat, Alan! Jangan menoleh ke belakang! Kepakkan sayapmu!"

Tangan kekar Edmond, sahabat karib ayahnya, menyentak lengan Alan dengan kasar. Sentakan itu begitu kuat hingga membuat Alan nyaris terjungkal, memaksanya terus berlari menembus sisa-sisa Hutan Suci yang meranggas.

Pohon-pohon purba yang biasanya memancarkan cahaya keemasan kini meranggas, terbakar dari dalam karena hawa panas yang dibawa oleh Typhon.

Di belakang mereka, di batas luar hutan, sang ayah—Leonard, pemimpin klan mereka—berdiri tegak. Sepasang sayap seputih salju milik ayahnya terkepak lebar, menciptakan gelombang angin untuk menghalau badai api. Mata ungu sang ayah, ciri khas murni bangsa Pegasus, memancarkan kepasrahan yang mengerikan.

"Ayah! Aku tidak mau meninggalkan Ayah!" teriak Alan. Suaranya parau, langsung tertelan oleh gemuruh ledakan di langit. Air mata akhirnya luruh, membasahi pipinya yang coreng-moreng oleh abu.

"Dengarkan Ayah, Nak," Leonard berlutut sejenak di atas tanah yang retak, mencengkeram kedua pundak Alan dengan erat. Begitu erat hingga Alan bisa merasakan gemetar di tangan ayahnya.

Manik mata ungu mereka beradu dalam keheningan yang singkat di tengah kekacauan.

"Kau adalah masa depan bangsa kita. Hanya kau yang tersisa. Patuhi Paman Edmond. Ayah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kamu."

"Tapi Ayah berjanji akan selalu bersamaku!" isak Alan, jemari kecilnya mencengkeram zirah perang ayahnya yang sudah retak-retak.

"Ayah tidak akan pergi ke mana-mana. Ayah akan selalu ada di sini," Leonard menyentuh dada kiri Alan, tepat di mana jantung dan kristal magisnya berada. "Sekarang, pergi!"

Sebelum Alan sempat meraih ujung jubah ayahnya, Leonard sudah melesat ke angkasa. Kecepatan terbangnya menciptakan dentuman udara.

Dengan pedang elemen yang menyala, sang pemimpin klan menantang maut yang meraung di atas sana, menabrakkan diri ke arah salah satu kepala Typhon demi mengulihkan waktu bagi mereka.

"Ayah...!" lolongan Alan diputus paksa oleh Edmond yang kembali menariknya.

Namun, pelarian mereka tidak berjalan mulus. Baru beberapa ratus meter memasuki kegelapan hutan, sebuah erangan kesakitan yang menyayat hati membuat langkah mereka terhenti.

"Edmond... perlambat... perutku... sakit sekali..."

Lucia, istri Edmond, ambruk di atas tanah berlumut yang kering. Wajah wanita itu sepucat salju, tangannya mencengkeram perutnya yang membuncit besar.

Keringat dingin bercampur darah mengalir di pelipisnya. Sisa-sisa zirah ringannya tampak rusak, membuktikan bahwa dia juga telah bertarung habis-habisan sebelum ini.

Kepanikan total melanda wajah Edmond. Pria bertubuh tegap itu langsung berlutut, menyangga kepala istrinya. "Bertahanlah, Lucia! Kita belum sampai di jantung hutan. Barier pelindung belum diaktifkan!"

"Aku... aku tidak bisa menahannya lagi, Edmond. Bayinya... bayinya memaksa keluar sekarang..."

Lucia merintih, tubuhnya mengejang hebat saat gelombang rasa sakit kembali menyerang.

Edmond menatap langit dengan frustrasi. Raungan Typhon terdengar semakin dekat, menandakan pertahanan Leonard mulai melemah. Tanpa berpikir panjang, Edmond segera menggendong tubuh istrinya dengan sigap, mengabaikan rasa lelah yang menggelayuti otot-ototnya.

"Alan, terbang di dekatku! Jangan menjauh sedikit pun!" perintah Edmond dengan nada yang tak membantah.

Alan mengangguk cepat sambil menghapus air matanya dengan kasar. Sayap kecil di punggungnya mengepak sekuat tenaga. Rasanya sangat perih karena udara di sekitar mereka dipenuhi abu vulkanik yang tajam, tetapi rasa takut akan tertinggal membuat Alan melupakan rasa sakit fisiknya.

Mereka terbang rendah di antara dahan-dahan pohon purba yang tumbang, membelah kegelapan Hutan Suci yang melegenda—tempat di mana konon para leluhur Pegasus pertama kali diciptakan dari elemen murni semesta.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, mereka mendarat di sebuah altar batu besar yang rata di jantung hutan. Tempat itu adalah satu-satunya area yang belum tersentuh api.

Edmond membaringkan Lucia dengan hati-hati di atas batu tersebut. Dengan sisa sihirnya, Edmond menghentakkan kakinya ke tanah, mengaktifkan barier pelindung kuno yang langsung membentuk kubah transparan tipis di atas mereka.

Kubah itu menyamarkan keberadaan mereka, tetapi Edmond tahu, barier ini tidak akan bertahan lama jika Typhon mengarahkan pandangannya langsung ke tempat ini.

"Sekarang, Lucia! Kerahkan seluruh sisa kekuatanmu!" seru Edmond, menggenggam erat tangan istrinya.

Lucia menjerit, suaranya membelah kesunyian hutan yang mencekam. Dia mulai mengerahkan seluruh sisa energi dari Kristal Merah yang bersemayam di dalam jantungnya.

Bagi bangsa Pegasus, Kristal Merah bukan sekadar sumber kekuatan, melainkan nyawa itu sendiri. Setiap bayi Pegasus yang lahir akan menggenggam kristal magis tersebut sejak dalam kandungan, lalu menelannya sesaat setelah lahir agar menyatu dengan organ vital mereka.

Dan kristal itulah yang membuat mereka menjadi buruan utama. Typhon dan pasukannya memburu bangsa Pegasus bukan untuk wilayah, melainkan untuk merobek dada mereka dan memangsa Kristal Merah tersebut demi mendapatkan keabadian.

"Aaaarrrghhh!"

Satu jeritan terakhir yang melengking tinggi mengguncang altar batu, disusul oleh suara tangisan bayi yang jernih dan nyaring.

Seorang bayi perempuan telah lahir ke dunia yang sedang hancur. Kulitnya seputih pualam, bersih tanpa noda, dan parasnya begitu cantik layaknya dewi kecil.

Edmond mengembuskan napas lega yang luar biasa, air mata haru menetes di pipinya. "Dia perempuan, Lucia. Anak kita perempuan..."

Namun, saat Edmond membungkus tubuh mungil itu dengan selembar kain sutra putih, jemarinya mendadak bergetar hebat. Matanya membelalak lebar, menatap punggung sang bayi dengan tatapan tidak percaya.

Wajah Edmond mendadak pias, kehilangan seluruh rona darah seolah-olah dia baru saja melihat hantu.

"Edmond? Ada apa? Berikan bayinya padaku," ucap Lucia dengan suara yang teramat lemah, memaksakan diri untuk duduk bersandar pada batu.

"Ini... ini tidak mungkin," bisik Edmond dengan suara tercekat di tenggorokan. Dengan tangan yang masih bergetar, dia menyerahkan bayi itu ke pelukan istrinya.

Lucia menunduk, dan seketika itu juga, napasnya tertahan. Di punggung bayi perempuan itu, tidak ada apa-apa. Kulitnya mulus. Tidak ada tanda-tanda sayap tersembunyi yang biasanya dimiliki oleh setiap bayi Pegasus sejak menit pertama mereka lahir. Bangsa mereka terlahir untuk mengangkasa, namun anak ini tidak memiliki sarana untuk itu.

"Di mana sayapnya, Edmond? Kenapa... kenapa dia tidak punya sayap?" Isak tangis Lucia pecah, bukan karena bahagia, melainkan karena ketakutan yang mendalam.

"Bukan hanya itu, Lucia," Edmond membuka perlahan telapak tangan kecil sang bayi yang masih mengepal. Di dalam kepalan mungil itu, terdapat sebongkah kristal berbentuk elips.

Namun, kristal itu tidak memancarkan cahaya merah membara seperti milik mereka. Kristal itu berwarna putih pekat, jernih, dan memancarkan hawa dingin yang asing.

"Mengapa warnanya putih? Apakah ini kutukan dari para leluhur karena kita gagal menjaga planet ini?"

Alan melangkah mendekat dengan dahi berkerut polos. Rasa takutnya sejenak terusir oleh rasa penasaran seorang anak kecil. "Paman, Bibi, kenapa kalian menangis? Bukankah adik bayi sangat lucu dan cantik? Kenapa suasananya jadi menyeramkan?"

Bab 2. Pengorbanan Terakhir Sang Pegasus

"Paman, Bibi, kenapa kalian menangis? Bukankah adik bayi sangat lucu dan cantik? Kenapa suasananya jadi menyeramkan?"

Sebelum ada yang bisa menjawab pertanyaan polos Alan, sebuah benturan dahsyat di atas kubah pelindung membuat mereka semua terperanjat.

BRUKK!

Sesosok tubuh terhempas keras tepat di hadapan mereka, meretakkan lantai altar batu. Itu Leonard. Pemimpin klan yang agung itu berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Typhon, namun kondisinya berada di ambang kematian.

Pakaian tempurnya hancur total, bersimbah darah segar yang terus mengalir dari luka menganga di sekujur dadanya. Yang paling memilukan bagi Alan adalah melihat kedua sayap gagah ayahnya yang biasanya bersinar, kini patah lunglai, terkulai tak berdaya di atas tanah seperti ranting kering. Leonard telah memaksakan seluruh sisa napas dan jatah hidupnya hanya untuk terbang menuju tempat ini.

"Ayah!"

Alan menghambur tanpa memedulikan larangan Edmond. Dia memeluk tubuh ayahnya yang terasa kian mendingin, membasahi zirah Leonard dengan air matanya yang tumpah ruah.

"Kenapa Ayah terluka begini? Ayah berjanji akan baik-baik saja! Ayah pembohong!"

Leonard terbatuk, darah segar menyembur dari mulutnya, menodai rumput di bawahnya. Namun, matanya yang mulai meredup tetap menatap tajam ke arah Edmond.

"Edmond... maafkan aku... aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi..."

"Jangan bicara dulu, Leonard! Aku akan menyalurkan sisa energiku untukmu!" Edmond berlutut di samping sahabatnya, mencoba mengumpulkan sihir di telapak tangannya.

"Tidak perlu, Edmond. Simpan energimu," Leonard menahan tangan Edmond dengan cengkeraman yang lemah namun tegas. "Typhon sudah mendeteksi keberadaan kita. Barier ini akan hancur dalam hitungan menit. Hanya ada satu jalan tersisa agar bangsa kita tidak sepenuhnya lenyap dari sejarah alam semesta."

Edmond menatap sahabatnya dengan tatapan ngeri karena dia tahu apa yang akan dikatakan Leonard. "Kau ingin... membuka Gerbang Dimensi terlarang?"

"Ya. Kita harus mengirim anak-anak kita ke dimensi lain. Tempat yang jauh dari jangkauan monster-monster ini," bisik Leonard, napasnya semakin tersengal-sengal.

"Tapi, Leonard! Membuka gerbang antar-dimensi secara paksa tanpa ritual lengkap akan menghisap seluruh sisa nyawa dan energi kehidupan kita! Kita akan mati seketika!" seru Edmond dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan. "Lagipula... kau harus melihat ini. Anakku... dia berbeda. Dia cacat, Leonard! Dia lahir tanpa sayap, dan kristal kehidupannya berwarna putih, bukan merah!"

Leonard tersentak mendengar ucapan itu. Rasa heran sesaat mengalahkan rasa sakit yang menyiksa tubuhnya. Dia menoleh ke arah bayi yang berada di dekapan Lucia.

Selama beberapa detik, sang pemimpin klan terdiam seribu bahasa. Dia menggelengkan kepalanya seolah menolak mempercayai penglihatannya sendiri.

Sejarah klan Pegasus belum pernah mencatat adanya kelahiran tanpa sayap, apalagi dengan kristal berwarna putih.

Sebelum Leonard sempat menganalisis fenomena aneh itu, sebuah raungan supranatural yang teramat dahsyat mengguncang seluruh hutan.

GROARRGGHHH!!!

Raungan Typhon terdengar tepat di atas kepala mereka. Kubah barier pelindung yang dibuat Edmond mulai retak, memunculkan garis-garis pecah seperti kaca yang siap hancur kapan saja. Cahaya merah dari api luar mulai merembes masuk melalui retakan tersebut.

"Lupakan dulu masalah sayap dan warna kristal itu, Edmond!" tegas Leonard, suaranya tiba-tiba meninggi, menggelegar penuh otoritas seorang pemimpin meski tubuhnya sekarat. "Mungkin saja sayapnya belum tumbuh karena energinya tersimpan di dalam kristal putih itu! Kita tidak punya waktu lagi untuk berdebat! Pilihannya adalah anakmu mati dicabik monster di sini, atau hidup di dimensi lain! Kita harus mengerahkan sisa kekuatan sekarang juga demi masa depan mereka!"

Edmond menatap wajah bayinya yang polos, lalu menatap istrinya yang mengangguk lemah dengan sisa-sisa air mata. Keyakinan Edmond kembali. Dia menyingkirkan segala prasangka buruk dan ketakutannya.

"Kau benar, Sahabatku. Mari kita lakukan," jawab Edmond mantap.

Alan menatap ayahnya dengan mata yang kembali banjir air mata. Dia memegang tangan ayahnya yang kasar. "Ayah... apa yang akan Ayah lakukan? Apa itu dimensi lain? Aku tidak mau pergi ke tempat asing sendirian..."

"Kau tidak sendirian, Alan. Kau bersama adik kecilmu," Leonard membelai pipi Alan dengan sisa kehangatan tangannya, mencoba menyalurkan keberanian terakhir. "Ayah ingin kamu selamat, Nak. Ayah, Paman, dan Bibi akan mengirimmu ke tempat yang damai. Tempat yang dipenuhi langit biru tanpa kepulan asap, tempat tanpa monster di mana kamu bisa tumbuh dan hidup dengan bahagia. Menjadilah kuat di sana."

"Tapi aku tidak mau hidup bahagia jika tidak ada Ayah di sampingku! Aku ingin bertarung di sini bersama Ayah!" lolong Alan, memeluk leher ayahnya dengan erat, enggan dilepaskan.

"Cukup, Alan! Dengarkan Ayah!"

Leonard melepaskan pelukan itu dengan paksa namun penuh kasih sayang. Dia mencengkeram kedua bahu putranya, memaksa anak itu berdiri tegak.

"Kau adalah seorang laki-laki dari klan Pegasus. Mulai hari ini, masa kanak-kanakmu sudah berakhir. Kau harus menjadi pelindung. Berjanjilah pada Ayah untuk tetap bertahan hidup, dan tolong... jaga anak Paman Edmond. Jangan biarkan ada satu hal buruk pun menyentuhnya. Bisakah kau berjanji pada Ayah?"

Alan menatap mata ungu ayahnya yang mulai kehilangan cahaya kehidupan. Di tengah gemuruh kehancuran dunianya, bocah berusia tujuh tahun itu menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Dia membusungkan dada kecilnya, mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang dia miliki.

"Iya, Ayah. Aku berjanji. Aku akan menjadi kuat dan aku akan melindungi adik bayi dengan seluruh nyawaku," jawab Alan dengan suara yang tidak lagi bergetar.

Mendengar itu, sebuah senyuman tipis namun tulus terukir di bibir Leonard yang berdarah. "Anak pintar."

Sesuai instruksi cepat Leonard, Edmond dengan tangan yang gemetar menekan lembut kristal putih itu ke bibir bayinya. Dengan insting magis, bayi perempuan itu menelan kristal tersebut hingga menyatu sempurna ke dalam dadanya, memancarkan pendaran cahaya putih redup sesaat di balik kulitnya.

Edmond kemudian meletakkan bayinya dengan hati-hati di atas altar batu. Alan segera melangkah mendekat, duduk di samping bayi itu, lalu mengangkat tubuh mungil tersebut ke dalam dekapannya secara protektif.

Leonard, Edmond, dan Lucia segera mengambil posisi, membentuk formasi segitiga yang mengelilingi altar batu. Mereka bertiga memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan mulai menguras seluruh esensi kehidupan yang tersisa di dalam jantung mereka.

Seketika itu juga, aura magis yang luar biasa masif meledak dari tubuh mereka. Enam elemen dasar yang menjadi pilar Planet Diamond keluar secara bersamaan: Api merah membara dari Leonard, Tanah dan Petir dari Edmond, serta Angin, Air, dan Es dari Lucia.

Enam pusaran warna elemen itu menyatu di udara, berputar dengan kecepatan tinggi yang memekakkan telinga, menciptakan tekanan udara yang sangat dahsyat hingga merobek ruang di belakang Alan. Sebuah lubang hitam pekat yang menganga dengan pinggiran cahaya keemasan terbuka, memancarkan daya hisap yang kuat.

Kubah pelindung di atas mereka hancur berkeping-keping pada detik yang sama. Wajah monster Typhon dengan mata merah menyala mengintip dari balik pohon yang tumbang, bersiap untuk menerkam.

"Alan, cepat! Dekap bayinya dan masuk sekarang juga sebelum gerbangnya menutup!" raung Leonard untuk terakhir kali, seluruh urat di wajahnya menegang karena menahan beban magis yang luar biasa. Tubuhnya mulai retak-retak memancarkan cahaya.

"Selamat tinggal, Ayah... Paman... Bibi..." ucap Alan lirih.

Dengan dekapan yang teramat erat pada bayi tanpa sayap di dadanya, Alan memejamkan mata dan mengambil satu langkah mundur. Tubuh kecilnya langsung tersedot ke dalam kegelapan lubang dimensi yang tak berdasar, menghilang dari dunia yang sedang sekarat itu.

Tepat setelah gerbang dimensi itu tertutup dan menyusut menjadi titik sekecil debu, keheningan total mendadak menyergap altar batu. Sisa-sisa elemen yang berputar langsung lenyap. Leonard, Edmond, dan Lucia terkapar di atas tanah.

Luka-luka di tubuh mereka memang sangat mengenaskan, namun raut wajah ketiganya tampak begitu damai, menyiratkan kelegaan yang luar biasa karena telah berhasil menyelamatkan masa depan mereka.

Perlahan-lahan, tubuh ketiga pejuang Pegasus itu berpendar terang. Sel demi sel tubuh mereka hancur, berubah menjadi jutaan serpihan cahaya keemasan yang indah. Serpihan-serpihan cahaya itu terbang tinggi ke angkasa, dibawa oleh angin malam, meninggalkan Planet Diamond yang sesaat kemudian meledak hebat, runtuh menjadi debu kosmis yang sunyi di tengah kegelapan semesta yang mahaluas.

Bab 3. Ledakan Misterius di Tengah Hutan

Di sudut terpencil planet Bumi, terasing dari hiruk-pikuk teknologi modern, berdiri sebuah kota kecil bernama Arcania. Kota ini seolah tenggelam dalam ketenangan masa lalu; dikelilingi oleh hamparan perkebunan yang hijau, ladang-ladang subur, dan dibentengi oleh hutan lebat purba yang keindahannya menyimpan misteri karena jarang dijamah manusia.

Di tepian bukit yang berbatasan langsung dengan vegetasi liar hutan tersebut, sebuah rumah kayu sederhana berlantai dua berdiri dengan kokoh. Di sanalah Lucas dan Sarah menghabiskan hari-hari mereka. Sebagai sepasang petani sayuran, peluh dan tawa mereka telah menyatu dengan tanah ladang yang mereka garap setiap hari.

"Sayang, istirahatlah dulu. Matahari sudah tepat di atas kepala, ayo makan siang!" seru Sarah dari bawah naungan sebatang pohon maple tua yang rindang di tengah ladang.

Wanita paruh baya itu menyeka keringat di dahinya dengan ujung celemek, lalu mulai menata rantang anyaman bambu di atas kain jarik yang digelar di rumput.

Lucas, yang sedang membersihkan sisa-sisa tanah pada cangkulnya, mendongak dan tersenyum lebar. "Iya, perutku juga sudah berdemo sejak tadi."

Siang itu, hasil panen mereka sangat melimpah. Keranjang-keranjang kayu di dekat mereka sudah penuh sesak oleh tomat-tomat merah yang segar dan kentang yang baru digali.

Lucas berjalan mendekat, membasuh tangan dan wajahnya dengan air dari kendi, lalu duduk di samping istrinya.

Meskipun pernikahan mereka telah menginjak usia lima belas tahun, kehangatan di antara keduanya tidak pernah memudar. Namun, di balik tawa dan obrolan ringan mereka, ada satu ruang sunyi yang tak pernah benar-benar terisi.

Lima belas tahun tanpa tangisan bayi di rumah mereka yang sepi. Setiap kali melihat anak-anak warga desa bermain di pasar, ada binar kerinduan yang tertahan di sepasang mata Sarah, sesuatu yang Lucas sadari namun jarang ia bahas agar tidak melukai hati istrinya.

"Makanannya enak sekali, Sarah. Roti isi ini selalu terasa berbeda jika kau yang membuatnya," puji Lucas setelah gigitan pertama, mencoba mencairkan keheningan batin yang sempat melintas.

Sarah tertawa kecil, pipinya merona merah menahan gemas. "Hentikan bualanmu, Lucas. Ini hanya roti lapis dengan selai dan ham tipis. Kau selalu berlebihan."

"Bagi pria lain mungkin ini biasa, tapi bagiku, apa pun yang keluar dari tanganmu adalah hidangan terbaik di Arcania," goda Lucas sembari mengedipkan sebelah matanya.

"Kau memang pandai mengapresiasi makanan, tetapi kau jauh lebih pandai merayuku saat lelah," balas Sarah seraya mencubit pelan lengan suaminya, membuat tawa mereka berderai di bawah teduhnya daun maple.

Usai menyantap bekal, sisa waktu siang itu mereka gunakan untuk menyelesaikan baris terakhir ladang kentang. Urusan memetik tomat telah tuntas sebelum jam makan siang tadi.

Lucas kembali mengayunkan sekop kecilnya ke dalam tanah gembur. Namun, saat ujung besi sekopnya menghantam lapisan tanah yang lebih dalam, pria itu mendadak membeku.

Dari telapak tangannya yang menempel pada gagang sekop, ia merasakan sebuah getaran halus. Getaran itu bukan berasal dari alatnya, melainkan dari dalam dada bumi yang mereka pijak.

Lucas menegakkan punggung, menoleh ke sekeliling dengan dahi berkerut. Angin yang semula berembus sepoi-sepoi tiba-tiba berubah menjadi pusaran kasar. Daun-daun pohon maple di atas mereka bergeser liar, memunculkan suara gemerisik yang bising.

"Sarah... apa kau merasakannya?" bisik Lucas, matanya menyipit menatap lurus ke arah vegetasi hutan lebat di perbatasan ladang mereka.

Pohon-pohon raksasa di dalam hutan itu mulai bergoyang hebat, seolah ada sesuatu yang besar sedang menerobos dari atas angkasa.

Sarah yang sedang memasukkan kentang ke dalam karung goni menghentikan kegiatannya. Wajahnya seketika pias melihat debu-debu ladang mulai beterbangan membentuk pusaran kecil. "Ya Tuhan, Lucas... apa ini? Apa akan ada badai besar? Langit mendadak menjadi sangat gelap."

"Ini bukan badai biasa," Lucas melemparkan sekopnya ke tanah. Instingnya sebagai pria yang hidup dekat dengan alam mendadak berteriak bahaya. "Kita harus pergi dari sini sekarang. Tinggalkan semuanya, Sarah!"

"Tapi bagaimana dengan karung-karung kentang ini? Ini hasil kerja keras kita seminggu ini!" bantah Sarah, mencoba menarik karung goni yang berat itu dengan panik.

"Persetan dengan kentang, Sarah! Keselamatan kita jauh lebih penting!" bentak Lucas, suaranya meninggi akibat kepanikan yang kian mencengkeram dada.

Lucas menyambar pergelangan tangan istrinya dengan erat, menarik wanita itu untuk berlari meninggalkan area ladang menuju bukit tempat rumah mereka berada.

BOOM!

Belum sempat kaki mereka menapak ke pekarangan rumah, sebuah dentuman supranatural memekakkan telinga merobek langit Arcania. Suara itu begitu dahsyat, bukan seperti petir, melainkan seperti sebuah ledakan meriam raksasa yang dijatuhkan dari atmosfer.

Tekanan udaranya bahkan membuat Lucas dan Sarah terdorong ke depan, nyaris jatuh tersungkur di atas jalan setapak berbatu.

Keduanya menoleh ke belakang serentak dengan napas memburu. Dari arah jantung hutan lebat di dekat ladang mereka, sebuah gelombang kejut menyapu dahan-dahan pohon, disusul oleh kilatan cahaya putih benderang yang sempat membutakan mata selama beberapa detik sebelum akhirnya menyusut menjadi kepulan asap kelabu yang membubung tinggi ke angkasa.

"Suara apa itu, Lucas? Demi Tuhan, tempat jatuh itu... itu sangat dekat dengan ladang kita!" jerit Sarah, tubuhnya gemetar hebat dalam dekapan Lucas.

"Aku tidak tahu, Sarah... aku tidak tahu," gumam Lucas dengan tatapan terpaku pada asap yang terus menggulung di atas pucuk pepohonan. "Ayo, masuk ke rumah dulu!"

Mereka berlari sekuat tenaga meniti anak tangga, membuka pintu kayu rumah mereka dengan tergesa-gesa, lalu menguncinya dari dalam dari balik jeruji slot besi.

Keduanya bersandar pada pintu, mencoba menenangkan detak jantung yang berpacu liar layaknya genderang perang.

Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam, Lucas memberanikan diri berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah hutan. Ia menyibak sedikit tirai kain kumal milik mereka.

"Bagaimana di luar, Lucas? Apakah badainya sudah reda?" tanya Sarah yang mengekor di belakang, mencengkeram ujung kemeja suaminya.

"Aneh sekali... anginnya lenyap total dalam sekejap," jawab Lucas dengan kening berkerut dalam. "Lihat itu, Sarah. Tidak ada tanda-tanda kerusakan akibat angin badai di sekitar rumah kita. Tapi asap di tengah hutan itu... warnanya tidak hitam seperti kebakaran hutan biasa. Asap itu berwarna perak redup."

Sarah ikut mengintip dari balik bahu suaminya. Matanya menyipit melihat kepulan asap misterius yang perlahan mulai menipis di balik lebatnya vegetasi Arcania. "Apa mungkin ada meteor jatuh? Atau... pesawat yang celaka?"

Lucas menggeleng pelan, rasa penasaran yang teramat besar perlahan-lahan mulai mengikis rasa takut di dalam diri pria itu. "Bagaimana kalau kita pergi ke sana untuk memastikannya? Siapa tahu ada orang yang membutuhkan pertolongan di dalam sana."

Mendengar itu, Sarah langsung mundur selangkah dan melayangkan pelototan tajam. Wajahnya mengeras dengan kedua tangan tersemat di pinggang. "Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Lucas?! Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke hutan terkutuk itu! Kau tahu sendiri cerita-cerita dari tetua desa, hutan itu penuh dengan binatang buas dan hal-hal mistis yang tidak bisa dijelaskan! Tak ada satu pun warga Arcania yang berani menginjakkan kaki ke sana setelah matahari melewati ubun-ubun!"

"Tenanglah, Sarah. Jangan marah dulu, aku hanya berasumsi," ucap Lucas defensif, seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk meredakan ketegangan istrinya.

Sarah tidak menyahut lagi. Dia mengembuskan napas panjang dengan gusar, membalikkan badan, lalu melangkah menuju kamar mandi di lantai bawah untuk membasuh wajahnya yang kotor oleh debu ladang.

Melihat istrinya telah menghilang di balik pintu kamar mandi, Lucas kembali menatap jendela. Di kejauhan, asap keperakan itu mulai menipis, menyisakan pendaran cahaya redup yang seolah memanggil-manggil jiwanya.

Rasa penasaran pria itu telah mencapai puncaknya, mengalahkan segala logikanya sebagai petani biasa. Jika ada seseorang—atau sesuatu—yang celaka di dalam sana akibat kecelakaan aneh tadi, dia tidak akan bisa tidur tenang seumur hidup karena mengabaikannya.

Dengan langkah yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara di atas lantai kayu, Lucas mengendap-endap menuju pintu depan. Dia memutar kunci dengan perlahan, membuka celah pintu sekadar cukup untuk tubuhnya lolos, lalu menutupnya kembali tanpa suara.

Begitu kakinya menyentuk rumput pekarangan, Lucas berlari kecil memotong jalur ladang, langsung menerobos masuk ke dalam kegelapan Hutan Arcania yang ditakuti.

Suasana di dalam hutan terasa sangat asing pasca-ledakan tadi. Burung-burung tidak lagi berkicau, dan hewan-hewan liar tampaknya telah melarikan diri jauh-jauh karena ketakutan.

Lucas membelah semak-semak berduri, melompati akar-akar pohon purba yang melintang, mengikuti arah pendaran cahaya yang kian jelas di depan mata.

Setelah lima belas menit berjalan menembus keheningan yang mencekam, Lucas akhirnya tiba di sebuah area terbuka di tengah hutan. Langkah kakinya mendadak terhenti di balik sebuah pohon besar. Matanya membelalak takjub.

"Asapnya sudah hilang... tapi, apa ini?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!