“Kalau begitu, besok kalian akan melangsungkan pernikahan. Tak perlu memikirkan soal pakaian dan segala persiapannya, biar kami yang mengurus semuanya.”
Ucapan Bima terasa lega di hatinya. Akhirnya, mereka menemukan pengganti Rara untuk mengisi kekosongan yang tiba-tiba terjadi.
Bima dan Sari sebenarnya sudah menyukai Laras sejak lama. Pernah terlintas di pikiran mereka untuk menjodohkan putra mereka, Raka, dengan gadis itu. Namun, waktu itu Raka menolak dengan tegas karena hatinya sudah terikat pada orang lain. Siapa sangka, Tuhan punya jalan-Nya sendiri untuk mempertemukan takdir. Kini, Laras akan menjadi menantu bagi mereka.
“Tunggu sebentar. Aku ingin Raka dan Laras terlebih dahulu membuat surat perjanjian pranikah. Aku tak ingin putriku dirugikan di masa depan. Mengingat putramu bisa saja kembali pada kekasih lamanya, jika wanita itu suatu hari datang kembali. Aku ingin kau mengikat janji putramu, agar dia tak bisa mempermainkan hati dan nasib putriku di kemudian hari.”
Ucapan Darma terdengar tegas dan tak terbantahkan.
“Pa, kenapa harus ada persyaratan seperti ini? Aku rasa tidak perlu,”
Laras menggeleng pelan, suaranya terdengar penuh keberatan. Ia tak mengerti mengapa pernikahan yang seharusnya dimulai dengan kepercayaan, justru harus dibatasi oleh selembar perjanjian tertulis.
“Papa melakukan ini bukan tanpa alasan, Nak. Papa hanya ingin memastikan masa depanmu aman. Papa tak sanggup melihatmu terluka atau ditinggalkan di saat kau sudah tak dianggap berharga lagi nanti.”
Darma menatap putrinya dengan pandangan prihatin, berusaha meyakinkan gadis itu bahwa semuanya demi kebaikannya sendiri.
“Benar kata Papamu,” sahut Bima menyambung. “Tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan. Dokumen ini bukan untuk merusak hubungan, tapi sebagai jaminan agar tidak ada pihak yang bertindak semena-mena. Lebih baik bersiap sejak awal daripada menyesal di kemudian hari.”
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar, perlahan keraguan di hati Laras mulai luntur. Ia sadar, niat kedua orang tua itu memang tulus. Akhirnya ia pun menyetujui. Setelah selesai menandatangani lembar perjanjian tersebut, Bima dan istrinya membawa surat itu untuk diserahkan kepada Raka, agar pemuda itu juga membubuhkan tanda tangannya sebagai tanda persetujuan.
*****
Flashback..
Suasana seketika berubah kacau saat diketahui calon mempelai wanita pergi begitu saja, padahal besok adalah hari pelaksanaan pernikahan. Rara hanya meninggalkan selembar surat di atas meja riasnya, menjelaskan bahwa ia merasa belum siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan dan memutuskan untuk pergi.
Raka Adi Pratama, putra tunggal seorang pengusaha ternama di negeri ini, harus menerima kenyataan pahit ditinggal calon istrinya menjelang hari bahagia.
Pria itu merasa sangat kecewa. Keputusan Rara membuatnya malu di hadapan banyak orang, sekaligus meruntuhkan harapannya selama ini.
Selama ini, Rara adalah satu-satunya wanita yang mengisi hatinya. Raka sangat mencintai gadis itu, namun ia tak menyangka akan ditinggalkan dengan cara seperti ini. Jujur saja, ia merasa kecewa dan sakit hati. Ia ingin membenci Rara atas sikapnya, namun rasa cinta yang masih tersisa membuatnya tak sanggup melakukannya.
Ia pun sempat berpikir untuk menunda pernikahannya, berharap kekasihnya berubah pikiran dan kembali bersedia membangun rumah tangga bersamanya. Di dalam hatinya, Raka masih yakin bahwa Rara juga menyayanginya, dan suatu hari pasti akan kembali.
“Apa? Kamu mau menunda pernikahan mu hanya untuk menunggu gadis itu? Kamu sudah kehilangan akal sehat, ya?” bentak Bima, ayah Raka, yang sudah tidak bisa menahan amarahnya. “Apa kata orang nanti kalau acara ini dibatalkan? Semua persiapan sudah selesai, undangan sudah disebar luas, besok pun seharusnya jadi hari bahagia. Tapi sekarang calon istrimu pergi begitu saja tanpa kabar jelas.”
Pria lebih dari paruh baya itu terlihat sangat kesal, melihat putranya yang seolah dibutakan perasaan sampai tidak bisa membedakan mana orang yang tulus dan mana yang tidak. Tidak jauh dari tempat keduanya berdebat, terdengar suara langkah kaki mendekat.
Ia tak sanggup membayangkan betapa malu nama keluarga mereka besok. Pernikahan yang disiapkan secara megah nyaris gagal di tengah jalan. Sebagai keluarga yang dihormati dan memiliki nama baik, Sari tidak ingin reputasi itu rusak, apalagi sampai berdampak pada jalannya perusahaan yang mereka bangun.
“Papa tidak mau tahu alasannya. Besok pernikahan harus tetap dilaksanakan,” tegas Bima dengan nada yang tak bisa dibantah.
“Tapi dengan siapa, Pa? Rara sudah pergi meninggalkan kita,” jawab Raka dengan nada putus asa.
“Kamu tak perlu pusing memikirkan penggantinya. Papa yang akan mencarikan calon istri untukmu. Percuma Papa membiarkanmu memilih sendiri, tapi akhirnya ditinggalkan juga. Acara ini tidak boleh dibatalkan. Apa kita harus menanggung malu hanya karena sikap gadis yang tak bermoral itu?” lanjut Bima dengan nada tinggi.
Memang sejak awal Bima tidak menyukai Rara. Namun, karena terus dibujuk istrinya dengan alasan demi kebahagiaan putranya, akhirnya ia pun menyetujui hubungan itu dengan berat hati.
Raka hanya bisa menerima keadaan dengan pasrah. Papanya bersikeras agar pernikahan tetap berjalan, bahkan sampai mengancam akan mencabut segala fasilitas hidup mewah dan haknya sebagai pewaris utama harta keluarga jika ia menolak.
Malam itu juga Bima dan Sari duduk berhadapan dengan sahabat karibnya. Mereka meninggalkan Raka di rumah dan berkunjung meski waktu sudah sangat larut.
“Ada apa sampai kalian datang malam-malam begini? Bukankah seharusnya kalian beristirahat, mengingat besok adalah hari pernikahan putra kalian?” tanya Darma menyambut kedatangan mereka.
Belum sempat Bima menjawab, Lina, istri Darma, datang membawa nampan berisi minuman buatan tangannya.
“Minumlah dulu, baru ceritakan semuanya,” sela Lina ramah.
Bima dan Sari menerima teh itu dengan tangan gemetar. Sejak mendengar kabar kepergian calon menantu, mereka sama sekali belum sempat menyentuh makanan atau minuman. Rasa panik membuat mereka tak memikirkan perut, yang ada di pikiran hanyalah bagaimana mencari pengganti secepatnya menjelang hari H.
“Jadi, ada urusan penting apa sampai kalian datang kemari? Sepertinya ada hal yang mendesak terjadi,” tebak Darma.
“Calon istri Raka kabur meninggalkan kami,” jawab Bima sambil meletakkan gelasnya kembali ke meja.
“Kabur? Bagaimana bisa? Bukankah mereka sudah saling mencintai?” kali ini Lina yang bertanya dengan nada terkejut.
“Kami pun tak tahu alasan pastinya. Ia hanya meninggalkan selembar surat yang mengatakan dirinya belum siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan,” tambah Sari dengan suara lirih.
Tangis Sari kembali meledak, teringat betapa sulit nasib putranya malam ini. Lina segera memeluknya, berusaha menenangkan dan menguatkan hati sahabatnya itu.
“Sabar ya, pasti ada jalan keluar untuk semua ini,” ujar Lina lembut.
“Aku tidak tahu harus berbuat apa besok. Semua orang pasti akan menertawakan keluarga kami, karena calon istri Raka pergi begitu saja. Lina, tolong bantu kami,” pinta Sari dengan nada memohon.
“Tenang saja, kami akan berusaha mencarikan solusi terbaik,” jawab Darma menenangkan.
“Kamu benar, hanya kalian satu-satunya yang bisa menolong kami. Aku benar-benar memohon,” kali ini Bima ikut memohon, sama seperti istrinya.
“Baiklah, apa yang bisa kami lakukan untuk membantu?” tanya Darma, merasa iba melihat keadaan sahabatnya.
“Kami meminta izin agar Laras bersedia menggantikan Rara menjadi istri Raka dan menantu kami,” ujar Bima terus terang.
“Apa? Kamu sudah gila, ya Bima? Kamu kira putriku ini apa? Aku tidak mungkin menyerahkan anak satu-satunya untuk menggantikan calon menantumu, apalagi Raka sama sekali tidak memiliki perasaan pada putriku,” tolak Darma tegas.
“Aku paham, awalnya memang begitu. Tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, Raka pasti bisa menerima dan mencintai Laras. Lihat saja aku dulu, aku pun dijodohkan tanpa saling kenal, tapi akhirnya hidup rukun. Aku percaya hal yang sama akan terjadi pada putraku,” bujuk Bima.
“Tolong kami, Darma, Lina. Hanya Laras yang kami inginkan. Kalian tahu sendiri, sejak lama kami sudah menyukainya dan berharap dia menjadi istri Raka. Lagipula, Laras sendiri sudah lama menyimpan rasa pada putra kami. Apa salahnya mewujudkan harapannya itu?” tambah Sari untuk meyakinkan mereka.
Keduanya terus berusaha meyakinkan sahabatnya, berjanji akan menjaga kebahagiaan Laras dan meyakinkan bahwa Raka pasti bisa mencintainya nanti.
Darma terdiam dan merenung. Ia teringat saat putrinya mendengar kabar pernikahan Raka, wajahnya terlihat sangat murung dan sedih karena orang yang dicintainya akan segera dimiliki orang lain.
Hatinya terasa perih melihat kesedihan Laras. Mungkin ini memang jalan yang ditunjukkan Tuhan, agar putrinya bisa bersanding dengan lelaki yang sudah lama mengisi hatinya.
Malam sudah semakin larut, namun keempat orang yang duduk di ruang tamu itu masih terlibat dalam pembicaraan yang sangat serius. Bima terus berusaha meyakinkan Darma agar menyetujui permintaannya. Tiba-tiba, dari arah tangga terdengar suara lembut memanggil kedua orang tuanya.
“Pa, Ma, ada tamu ya? Siapa di bawah?” tanya Laras.
Gadis itu pun turun menghampiri mereka. Tadi ia terbangun karena merasa sangat haus, lalu berniat mengambil air minum ke dapur.
“Selamat malam, Tante Sari, Om Bima,” sapa Laras sambil mencium tangan kedua orang tua lelaki yang selama ini ia kagumi.
“Halo, Sayang. Bagaimana kabarmu? Wah, kamu makin cantik saja,” puji Sari ramah, sementara Bima hanya tersenyum tipis pada gadis yang sebentar lagi diharapkan menjadi menantunya.
“Tante ini bisa saja memuji. Kabarku baik, Tante,” jawab Laras sambil tersenyum malu.
“Kamu turun karena apa? Apakah suara kami mengganggu tidurmu?” tanya Sari khawatir.
“Tidak, Tante. Aku cuma kehausan, jadi ingin mengambil air minum saja,” jawabnya.
“Darma, bagaimana? Kamu setuju kan? Aku benar-benar memohon. Aku janji akan menjaga Laras dan berusaha membuatnya bahagia,” Bima kembali mendesak sahabatnya.
“Apakah kamu yakin putramu bisa melupakan kekasihnya dan menerima putriku nanti?” tanya Darma dengan ragu.
Laras hanya diam dan bingung mendengar percakapan itu. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud pembicaraan mereka.
“Ada apa, Pa? Kenapa bicara begitu?” tanyanya dengan rasa penasaran yang membuncah.
Sari segera mendekat, menggenggam tangan Laras, lalu mulai menjelaskan semuanya.
“Apa? Kok bisa begitu, Tante? Bukankah Kak Raka dan Rara sudah lama menjalin hubungan?” potong Laras dengan terkejut.
“Kami juga tidak menyangka Rara bersikap setega itu. Sayang, apakah kamu bersedia menggantikan posisinya menjadi istri Raka?” tanya Sari terus terang.
“Istri… aku… menjadi istri Kak Raka?” gumam Laras terbata-bata.
Ia sudah terkejut mendengar kabar kepergian calon istri Raka, namun kini rasa kagetnya berlipat ganda saat mendengar permintaan itu. Selama ini ia hanya bisa memendam rasa dan membayangkan bisa bersanding dengan lelaki yang dicintainya, tanpa berani berharap lebih.
“Tapi bagaimana kalau nanti Rara kembali lagi?” tanyanya dengan nada ragu.
“Meski dia kembali, posisimu tetaplah istri yang sah. Dialah yang melepaskan Raka dengan sendirinya. Secara hukum dan agama dialah yang salah. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Apakah kamu bersedia menerima lamaran ini, Nak?” tanya Bima untuk meyakinkannya.
Laras terdiam sejenak, pikirannya berkecamuk. Pernikahan ini bukanlah awal dari kisah cinta yang indah, melainkan solusi mendesak. Meski hatinya sangat mencintai Raka, ia sadar bahwa lelaki itu belum memiliki perasaan yang sama padanya.
Ia sadar, selama ini Raka hanya menganggapnya sebagai adik semata. Namun di sisi lain, ia sangat ingin mewujudkan impiannya untuk menjadi istri lelaki yang sudah lama menguasai hatinya itu. Ia meyakinkan diri bahwa ia pasti bisa membuat Raka jatuh cinta seiring berjalannya waktu.
“Saya bersedia, Om. Saya ingin menjadi istri Kak Raka,” jawab Laras dengan pipi yang memerah karena malu sekaligus gembira.
Semua orang di ruangan itu tertegun. Tak disangka, gadis itu menerima keputusan mendadak ini dengan begitu tegas, tanpa keraguan seperti yang dirasakan kedua orang tuanya.
“Syukurlah, terima kasih ya Tuhan,” seru Sari lega, lalu langsung memeluk Laras erat.
“Kamu yakin, Nak?” tanya Lina memastikan sekali lagi.
“Yakin, Ma,” jawab Laras sambil tersenyum tulus.
“Kalau begitu, besok acara pernikahan tetap dilaksanakan. Jangan pikirkan soal pakaian dan kebutuhan lainnya, biar kami yang mengurus semuanya,” ujar Bima dengan napas lega. Akhirnya mereka menemukan jalan keluar yang diharapkan.
Sejak dulu, Bima dan Sari memang sudah menyukai Laras. Pernah terlintas keinginan untuk menjodohkannya dengan Raka, namun waktu itu putranya menolak tegas karena sudah memiliki kekasih. Siapa sangka, Tuhan punya jalan lain untuk menyatukan mereka.
“Tunggu dulu. Aku minta agar keduanya menandatangani surat perjanjian pranikah terlebih dahulu. Aku tidak ingin putriku dirugikan di masa depan. Mengingat putramu bisa saja kembali pada kekasih lamanya jika gadis itu datang lagi. Aku ingin ada ikatan yang jelas, agar Raka tidak bisa mempermainkan hati Laras nanti,” tegas Darma tanpa bisa dibantah.
*****
Sesampainya di rumah Pak Bima..
Membaca isi perjanjian itu, Raka langsung menolak keras. “Untuk apa repot-repot membuat surat begini? Lebih baik dibatalkan saja kalau syaratnya begini. Dia ini gadis yang manja, hanya bisa bersembunyi di belakang orang tuanya saja.”
Raka tidak setuju karena seluruh ketentuan itu hanya memberatkan dirinya. Intinya, Laras akan menjadi satu-satunya istri yang sah, dan jika Raka terbukti memiliki hubungan dengan wanita lain, maka seluruh harta miliknya akan jatuh ke tangan Laras dan sebagian disumbangkan ke panti asuhan.
“Tanda tangan saja, atau kamu akan kehilangan segalanya. Masihkah kamu berharap pada gadis yang meninggalkanmu itu? Ingat, suatu hari nanti kamu pasti akan berterima kasih pada kami karena memilihkan Laras untukmu,” ujar Bima dengan nada tegas.
Akhirnya, hanya dengan keterpaksaan, Raka membubuhkan tanda tangannya pada lembar surat itu.
Setelah membubuhkan tanda tangan, Raka langsung berbalik dan pergi menuju kamarnya.
“Sial, kenapa nasibku jadi begini? Besok aku harus menikahi gadis yang manja itu. Andai waktu bisa berhenti saja. Rara… kenapa kamu pergi meninggalkanku? Kalau kamu masih di sini, pasti semua tidak akan berantakan. Kembalilah padaku,” gumamnya dengan penuh kekecewaan.
Keesokan harinya, kedua pihak keluarga sibuk menyiapkan segala kebutuhan. Di sebuah kamar hotel, Laras sedang dirias. Ibu calon suaminya sudah memastikan semua perlengkapannya lengkap.
Saat proses rias selesai, sang penata rias tak henti memuji. “Wah, cantik sekali pengantin kita ini. Tidak perlu banyak sentuhan tambahan, karena kecantikannya sudah alami. Senang sekali bisa merias mempelai secantik ini.”
Laras hanya tersenyum mendengar pujian itu, meski sebenarnya gelisah. Pernikahan yang terjadi secara mendadak membuatnya merasa cemas. Apakah Raka bisa menerimanya? Namun ia terus menenangkan diri, meyakinkan bahwa semuanya akan berjalan baik. Lamunannya terhenti saat ibunya masuk.
“Sudah siap, Nak? Akad nikah akan segera dimulai,” ujar Lina lembut.
*****
*****
Dengan suara tegas dan lantang, Raka mengucapkan ikrar akad tanpa kesalahan. Secara resmi, Laras kini telah menjadi istrinya yang sah.
Raka hanya bisa menerima kenyataan pahit ini. Ia menikahi wanita yang tidak dicintainya, masa depan rumah tangganya pun terasa samar. Ia hanya menuruti perintah orang tua agar tidak kehilangan hak waris dan fasilitas yang dimilikinya.
Berbeda dengan perasaan Raka, Laras justru meneteskan air mata bahagia. Mimpinya yang selama ini hanya ia pendam akhirnya terwujud. Kini ia hanya perlu berusaha meluluhkan hati suaminya, agar Raka bisa melupakan Rara dan menerima kehadirannya.
Keduanya kini berdiri di atas pelaminan, tampak serasi seperti raja dan ratu. Semua tamu memuji keserasian mereka.
“Kapan semua ini berakhir? Aku sudah lelah berpura-pura bahagia. Dasar gadis manja, pasti kau yang menyuruh orang tuamu meminta hal ini pada keluargaku. Jangan terlalu senang dulu, posisimu tidak akan pernah bisa menggantikan Rara. Kita lihat saja seberapa kuat kamu bertahan,” batin Raka sambil menatap tajam istrinya.
Laras yang ditatap begitu langsung merasa gugup dan salah tingkah.
“Kak, jangan terus menatap begini… aku jadi malu,” ujar Laras dengan nada lembut.
“Jangan terlalu percaya diri. Aku tak tertarik sama gadis manja yang tak bisa apa-apa. Kau hanya beruntung lahir di keluarga berada, sehingga selama ini cuma bisa menikmati harta orang tuamu saja,” bisik Raka tepat di telinga istrinya.
Kata-kata itu terasa seperti tusukan tajam di hati Laras, apalagi mereka masih berdiri di hadapan tamu di atas pelaminan. Namun ia berusaha menahan rasa sakit itu, lalu menggantinya dengan senyum yang tetap terlihat lembut. Bagi para tamu, sikap mereka terlihat seperti pasangan yang sedang berbisikkan kata-kata manja, sehingga Laras terlihat hanya tersipu malu.
“Dasar gadis munafik, pandai sekali berpura-pura,” gumam Raka dalam hatinya.
Acara berjalan lancar hingga akhirnya usai. Tamu mulai pulang, hanya menyisakan keluarga terdekat. Keempat orang tua mendekat dengan wajah penuh harap.
“Kalian beristirahatlah. Pasti lelah berdiri seharian menyambut tamu. Kamar pengantin sudah kami siapkan. Semoga kalian bahagia, kami sudah menanti kehadiran cucu nanti,” ujar Sari dengan senyum lebar.
“Mama…” Raka menjawab dengan nada tak senang mendengar ucapan itu.
“Sudah, jangan banyak protes. Ajak istrimu ke kamar. Ini tiket perjalanan bulan madu kalian, besok pagi kalian berangkat. Terimalah pernikahan ini, saling kenal dan buka hati. Jangan terus melihat masa lalu, tapi pandanglah ke depan agar tak menyesal nanti,” nasihat Bima tegas.
“Pakaian dan kebutuhanmu sudah disiapkan, semuanya ada di kamar. Sekarang istirahatlah agar tak terlambat besok,” tambah Lina.
Keduanya pun berpamitan, namun baru beberapa langkah melangkah, Darma memanggil Raka.
“Ada apa, Pa?” tanya Raka, sudah mulai terbiasa memanggil ayah mertuanya.
“Aku tahu kau belum mencintai putriku, tapi jangan berani menyakiti hatinya. Kami sudah merelakan dia menjadi istrimu demi menutupi rasa malu keluargamu. Jika kau berani berbuat gila, aku pastikan kau akan menyesal seumur hidup,” tegas Darma sebagai peringatan.
“Baik, Pa. Kalau begitu kami masuk dulu,” jawab Raka singkat, sudah tak tahan mendengar nasihat panjang lebar.
*****
Di dalam kamar, Laras sedang sibuk membersihkan sisa riasan di wajahnya.
Sementara itu, Raka sudah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, menghilangkan rasa gerah setelah seharian penuh dalam acara.
Jantung Laras berdegup kencang saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Saat melihat bayangan suaminya di cermin, ia tertegun dan tanpa sadar membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana. Namun lamunannya segera terputus saat Raka menyuruhnya segera masuk dan membersihkan diri. Dengan tergesa-gesa, Laras pun masuk ke dalam kamar mandi.
Ia sudah bulat tekadnya: malam ini ia akan berusaha mendekatkan diri dan meluluhkan hati suaminya. Bahkan ia sudah menyiapkan pakaian yang dirasa cukup menarik, agar bisa menarik perhatian Raka.
“Aku harus bisa membuatnya jatuh hati padaku,” gumamnya dalam hati sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
Setelah selesai berpakaian, Raka langsung duduk bersandar di tepi ranjang sambil membuka laptopnya. Ia ingin menyelesaikan sebagian pekerjaan yang tertunda. Baginya, malam pertama ini tak ada bedanya dengan malam-malam biasa. Jika saja yang menjadi istrinya adalah Rara, tentu suasana akan terasa sangat berbeda.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, tapi Raka tak menoleh sedikit pun. Ia tetap sibuk dengan layar di hadapannya, seolah tak ada orang lain di ruangan itu.
Laras memberanikan diri melangkah mendekat. Ada rasa kecewa melihat suaminya tak meliriknya sama sekali, tapi ia tak mau menyerah. Niatnya sudah bulat, ia akan berusaha sekuat tenaga merebut hati lelaki itu.
“Ya Tuhan, berikan aku kekuatan dan hilangkan rasa malu ini. Menggoda suami sendiri itu hal yang wajar, bukan? Semua ini kulakukan demi keutuhan rumah tangga kami. Bantu aku, ya Allah,” doanya dalam hati.
“Kau tidak lelah berdiri terus di situ?” tegur Raka dingin.
Laras hanya diam, lalu mengambil laptop itu dan meletakkannya di meja samping ranjang. Setelah itu ia duduk mendekat, perlahan menyentuh tangan Raka yang terasa kasar dan kokoh.
“Kak, aku sudah siap menjadi istrimu sepenuhnya. Aku serahkan seluruh hidupku padamu, mulai hari ini aku milikmu,” ucapnya lembut.
Raka hanya tersenyum sinis melihat tingkah istrinya. Ia tak menyangka gadis itu berani mendekat dan menyentuhnya dengan begitu terang-terangan.
“Kau kira aku akan tergoda dengan cara murahan begini? Bahkan seandainya kau tak berselimut kain pun, aku tak akan tergoda melihatmu. Jangan bermimpi aku akan menyentuhmu, dasar gadis murahan!” ucap Raka dengan nada menusuk.
Raka langsung beranjak pergi, lalu merebahkan diri di atas sofa tanpa memedulikan keberadaan istrinya sedikit pun.
Sementara itu, Laras berusaha menahan rasa sesak dan tangis yang ingin meledak mendengar ucapan tajam suaminya. Ia segera berbalik, naik ke tempat tidur, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, lalu mematikan lampu agar bisa segera beristirahat.
Ia mencoba menguatkan hatinya, menerima kenyataan pahit dan hinaan yang baru saja didengar. Bukankah ini sudah menjadi risiko yang ia pilih sendiri, menikahi lelaki yang hatinya masih tertuju pada orang lain? Ia sadar, untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, pasti ada harga dan pengorbanan yang harus dibayar.
“Kamu harus kuat, Laras. Untuk meluluhkan hatinya, kamu memang harus bersabar dan berusaha lebih keras. Kebahagiaan takkan datang dengan sendirinya. Semua butuh waktu dan kesabaran,” gumamnya dalam hati untuk menenangkan diri.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!