Fajar baru saja menyingsing. Suara kokok ayam jantan sahut-menyahut, memecah kesunyian Desa Qinghe yang berkabut.
Di sudut paling terpencil dan kumuh, berdiri sebuah gubuk tua. Atap jeraminya sudah lapuk, miring ke satu sisi, seolah bisa roboh kapan saja hanya karena hembusan angin kencang.
Itulah rumah Shen Yu. Seorang pemuda berusia enam belas tahun yang hidup sebatang kara.
Sejak kecil, ia tidak pernah tahu siapa orang tuanya. Dari mana ia berasal pun tetap menjadi misteri yang enggan digali oleh penduduk setempat. Bagi mereka, Shen Yu hanya punya satu identitas yang melekat sejak lahir.
Anak haram.
Dahulu, kata-kata makian itu kerap membuat dadanya sesak dan tinjunya mengepal erat. Namun, waktu dan kerasnya hidup telah menempa mentalnya menjadi sedingin batu.
"Bukankah mulut busuk mereka tidak bisa membuat perutku kenyang?" gumam Shen Yu. Ujung bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis yang meremehkan.
Ia memanggul busur kayu buatannya sendiri, lalu menyelipkan sebilah belati pendek di pinggang. Di punggungnya, sebuah tabung bambu berisi belasan anak panah berbulu unggas bergoyang mengikuti langkah kakinya.
Hari ini ia harus mendapatkan buruan besar. Persediaan daging asap dan beras di gubuknya sudah benar-benar tandas.
Saat melewati jalan utama desa, langkah Shen Yu terhambat. Beberapa pemuda yang sedang nongkrong di bawah pohon beringin tua langsung mengarahkan tatapan sinis kepadanya.
"Hei, lihat. Bukankah itu si anak haram?" cemooh salah satu pemuda yang bertubuh gempal.
"Wah, masih hidup rupanya. Kupikir dia sudah mati kelaparan di gubuk reyotnya," timpal yang lain, memancing tawa remeh dari kelompok tersebut.
"Hati-hati kalau masuk hutan, Shen Yu. Jangan sampai binatang buas di sana muntah karena jijik memakan daging harammu!"
Gelak tawa pun pecah, menggema di pagi yang dingin itu.
Shen Yu menghentikan langkahnya. Bukannya marah atau ketakutan, ia justru menoleh dengan santai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku memang mau pergi berburu ke hutan," ucap Shen Yu, nadanya sangat lempang.
"Lalu? Siapa yang peduli?!"
"Tidak ada. Aku hanya berpikir... kalau ternyata hewan mangsaku di dalam hutan jauh lebih pintar dan punya otak daripada kalian yang di sini, tolong jangan bilang siapa-siapa, ya. Kasihan kalian kalah pintar," ujar Shen Yu tenang.
"Pfft!" Beberapa orang tua yang kebetulan lewat langsung membekap mulut, berusaha keras menahan tawa.
Sebaliknya, wajah para pemuda yang nongkrong di bawah beringin seketika berubah merah padam. Darah mereka mendidih mendengar sindiran telak itu.
"Bangsat! Berani sekali kau menghina kami!" Pemuda berbadan gempal itu melangkah maju dengan kepalan tangan terangkat.
Namun, Shen Yu sudah berbalik. Ia hanya melambaikan tangan kirinya ke udara tanpa sudi menoleh lagi.
"Aku sibuk mencari makan untuk bertahan hidup. Kalian lanjut saja mencari masalah untuk memperpendek umur."
Sebelum para pemuda itu sempat mengejarnya, sosok Shen Yu sudah melesat cepat, menghilang di balik rimbunnya pepohonan yang membatasi desa dengan wilayah luar.
Begitu menginjakkan kaki di kawasan Pegunungan Awan Hitam, atmosfer di sekitar Shen Yu berubah total. Ekspresi santai dan malas di wajahnya lenyap tanpa bekas.
Tatapannya menajam, berpendar waspada bagai seekor kucing liar yang mengintai mangsa.
Setiap langkah kakinya di atas daun-daun kering hampir tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Matanya yang jeli bergerak aktif—memeriksa bekas pijakan di tanah berlumpur, patahan ranting yang masih basah, hingga membaca arah embusan angin lewat helai rambutnya.
Di tempat seganas ini, berburu bukan sekadar menarik tali busur. Kesalahan sekecil apa pun, atau lengah satu detik saja, akan membalikkan keadaan: si pemburu berubah menjadi mangsa yang mengenaskan.
Mata Shen Yu tiba-tiba terpaku pada seonggok tanah. "Jejak rusa gunung... masih sangat baru."
Ia berjongkok, menyentuh tepi bekas pijakan kaki hewan itu yang masih lembap dengan ujung jarinya.
Mengikuti instingnya yang tajam, Shen Yu bergerak tanpa suara, menyusuri semak-semak lebat hingga tiba di tepi sebuah aliran sungai kecil yang jernih.
Di sana, seekor rusa dengan tanduk putih yang indah sedang menunduk, meminum air dengan tenang. Hewan itu sama sekali tidak menyadari keberadaan malaikat maut di balik semak-semak.
Shen Yu perlahan mengangkat busur kayunya. Ia memasang anak panah, lalu menarik tali busur hingga melengkung sempurna.
Menarik napas perlahan...
Menahannya di tenggorokan...
Sret!
Tali busur dilepaskan. Anak panah membelah udara, melesat secepat kilat menuju leher sang rusa.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Tepat satu inci sebelum mata panah menembus kulitnya, rusa itu tiba-tiba melompat ke samping secara tidak wajar, seolah ada insting gaib yang memperingatkannya.
Tuk! Anak panah Shen Yu hanya menancap di batang pohon di seberang sungai.
"Itu bukan gerakan refleks seekor rusa biasa..." Shen Yu mengernyitkan dahi.
Belum sempat ia menganalisis kegagalannya, bulu kuduk di leher Shen Yu tiba-tiba meremang.
Seluruh hutan mendadak menjadi hening secara tidak wajar.
Kicau burung yang tadinya ramai seketika senyap. Suara jangkrik dan serangga malam yang tersisa langsung mati. Bahkan embusan angin yang menggoyang dedaunan pun berhenti total. Hutan itu mendadak mati.
Shen Yu menurunkan busurnya perlahan, namun jemarinya menggenggam kayu busur itu hingga memutih.
Pengalamannya bertahan hidup di alam liar selama bertahun-tahun membisikkan satu kenyataan pahit di telinganya.
Kesunyian mencekam seperti ini hanya berarti satu hal: Pemangsa puncak yang berada di puncak rantai makanan telah tiba.
Krek...
Suara ranting yang terinjak terdengar samar dari arah jam dua di balik semak-semak belukar.
Shen Yu tidak membuang waktu untuk menoleh. Gerakan tangannya secepat sambaran petir—mengambil anak panah baru, menarik busur, dan melepaskannya ke sumber suara dalam satu gerakan mengalir.
Sret!
"Auuuuuu!"
Raungan kesakitan memecah kesunyian. Seekor serigala berbulu abu-abu pekat melompat keluar dari balik semak sambil pincang. Anak panah Shen Yu menembus tepat di lutut kaki depannya.
"Benar dugaanku," bisik Shen Yu.
Namun, senyum kepuasan di wajahnya langsung lenyap, digantikan oleh ketegangan yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Serigala itu tidak berburu sendirian.
Satu... Tiga... Lima...
Dalam hitungan detik, belasan serigala abu-abu bermunculan dari kegelapan balik pohon. Mereka bergerak taktis, membentuk lingkaran sempurna yang menutup semua jalur pelarian Shen Yu. Taring-taring tajam mereka menyeringai, meneteskan air liur yang kelaparan.
"Sial. Sepertinya hari ini akulah yang tertulis di dalam menu makan siang mereka," gumam Shen Yu.
Meski sempat berseloroh, sorot matanya tetap sedingin es. Otaknya berputar cepat, mencari celah di antara kepungan binatang-binatang buas tersebut.
GRAAAH!
Tanpa peringatan, seekor serigala yang berukuran paling besar melompat menerjang, mengincar tenggorokan Shen Yu dengan cakar depannya yang mengerikan.
Shen Yu menjatuhkan dirinya, berguling ke samping di atas tanah.
Blam! Cakar serigala itu menghantam tempat Shen Yu berdiri sebelumnya, meremukkan batu dan meninggalkan bekas robekan yang dalam di tanah.
"Cepat juga bajingan ini!"
Memanfaatkan momentum saat tubuhnya bangkit, Shen Yu menghunus belati pendek di pinggangnya. Dengan gerakan menusuk ke atas, ia menghantamkan bilah tajam itu tepat ke urat nadi leher seekor serigala lain yang mencoba menerkamnya dari samping.
Darah segar yang hangat menyembur, membasahi wajah dan baju Shen Yu. Serigala itu menggelepar sejenak sebelum akhirnya roboh tak bernyawa.
Namun, kematian salah satu anggota kawanan justru menjadi pematik amarah bagi yang lain. Mata belasan serigala itu berubah merah darah. Mereka melolong bersamaan dan merangsek maju sekaligus!
"Kalau terus meladeni mereka di tempat terbuka seperti ini, aku akan mati kehabisan stamina!"
Shen Yu memutar tubuhnya, berlari sekencang mungkin menuju lereng berbatu di bagian atas pegunungan.
Ia hafal seluk-beluk Pegunungan Awan Hitam melebihi siapa pun di Desa Qinghe. Jika ia bisa mencapai celah sempit di tebing batu, ia bisa membatasi jumlah serigala yang menyerangnya satu per satu.
Namun, baru beberapa puluh meter ia berlari, tanah di bawah kakinya tiba-tiba bergetar hebat.
Bum! Bum! Bum!
Getaran itu begitu kuat, seolah ada palu raksasa yang sedang menghantam bumi dari dalam.
Langkah kaki kawanan serigala yang mengejarnya mendadak berhenti total. Binatang-binatang buas yang tadinya beringas itu tiba-tiba menundukkan kepala dalam-dalam. Ekor mereka menjuntai lemas di antara kedua kaki belakang, tubuh mereka gemetar hebat karena ketakutan yang teramat sangat.
"Aneh... Apa yang membuat mereka ketakutan seperti ini?" Shen Yu memperlambat larinya, ikut merasakan firasat buruk.
ROOOAAARRR!!!
Sebuah raungan dahsyat yang memekakkan telinga mengguncang seluruh Pegunungan Awan Hitam. Gelombang suara yang dihasilkan begitu masif hingga merontokkan dedaunan dari pohon-pohon besar di sekitarnya. Udara di sekitar mereka mendadak terasa berat dan menyesakkan dada.
Wajah Shen Yu memucat. "Itu... jelas bukan suara serigala!"
Dari balik kabut tebal yang tiba-tiba turun menyelimuti hutan, muncul sepasang mata berwarna merah menyala sebesar lentera rumah. Tekanan aura (pressure) yang dipancarkan makhluk itu begitu mengerikan, membuat dada Shen Yu terasa seperti dihantam godam tak kasat mata.
Wush!
Melihat sepasang mata merah itu, kawanan serigala abu-abu yang tadi mengepung Shen Yu langsung berbalik arah. Mereka lari tunggang-langkik menyelamatkan nyawa masing-masing, melupakan rasa lapar mereka begitu saja.
Shen Yu terengah-engah, ikut melangkah mundur. Untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun hidupnya, ia merasakan teror kematian yang begitu nyata. Setiap sel di tubuhnya berteriak untuk segera lari, namun kakinya terasa seperti terpaku ke tanah.
Sosok raksasa di balik kabut itu mulai melangkah maju, memperlihatkan siluet tubuhnya yang luar biasa besar.
Namun, belum sempat wujud asli makhluk mengerikan itu terlihat sepenuhnya oleh mata Shen Yu, sebuah suara retakan keras terdengar dari bawah kakinya.
KRAAAKK!
"Apa?!" Shen Yu terpekik.
Tanah berbatu yang ia pijak mendadak runtuh dan retak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Sebuah celah jurang yang menganga lebar tiba-tiba tercipta di bawah kakinya.
Shen Yu kehilangan pijakan. Tubuhnya terlempar, jatuh bebas ke dalam jurang gelap gulita yang tampaknya tidak memiliki dasar.
Angin kencang menerpa wajahnya saat tubuhnya melesat turun ke kedalaman bumi. Di sisa-sisa kesadarannya yang mulai memudar akibat hantaman tekanan udara, Shen Yu sempat mendongak ke atas.
Ia melihat sosok monster raksasa bermata merah itu berdiri di bibir jurang yang runtuh.
Namun, bukannya melompat mengejarnya atau meraung marah karena mangsanya jatuh, makhluk raksasa itu justru menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya yang besar sedikit membungkuk khidmat.
Monster itu... sedang memberikan penghormatan tertinggi kepada sesuatu yang berada di dasar jurang ini!
"Apa... sebenarnya yang ada... di bawah sini...?" bisik Shen Yu parau, sebelum matanya benar-benar terpejam.
Tubuh pemuda itu terus tenggelam ke dalam kegelapan yang pekat.
Dan tepat di titik terdalam jurang mistis tersebut, sebuah berkas cahaya keemasan yang luar biasa murni perlahan-lahan mulai menyala, menyambut kedatangan sang pemburu dari Desa Qinghe.
Gelap gulita.
Tubuh Shen Yu terus melesat jatuh bebas ke dalam perut bumi. Angin sedingin es berdesir kencang di telinganya, menyumbat jalan napas dan membuat dadanya terasa sesak.
"Sial! Kalau terus begini, aku akan berakhir jadi adonan daging cincang saat menghantam dasar jurang!" rutuk Shen Yu dalam hati.
Di tengah kepanikan yang mencengkeram, mata tajamnya menangkap siluet sebatang akar pohon raksasa yang mencuat dari dinding tebing batu.
Tanpa ragu, menggunakan sisa tenaga terakhirnya, Shen Yu mengayunkan tubuhnya sekuat tenaga di udara.
Srak!
"Ugh!"
Shen Yu mengerang tertahan. Kedua telapak tangannya langsung robek dan berdarah karena gesekan kasar yang ekstrem. Rasa perihnya membakar kulit, tetapi setidaknya, cengkeraman nekat itu berhasil menghentikan laju jatuhnya.
"Hampir saja mati..." Shen Yu mengembuskan napas berat, tubuhnya bergelantungan di atas kegelapan.
Namun, belum sempat ia menarik napas lega untuk kedua kalinya, sebuah suara retakan halus terdengar dari pangkal akar.
Krek... krek...
Shen Yu membelalakkan mata. "Wah, jangan bercanda..."
BRAK!
Akar tua itu patah. Tubuh Shen Yu kembali terjatuh tanpa ampun.
Namun kali ini, dewi keberuntungan tampaknya masih enggan melepaskan nyawanya. Hanya setelah jatuh beberapa puluh meter, tubuhnya menghantam sesuatu yang cair dan dingin.
Byurrr!
Air dingin seketika menyelimuti seluruh tubuhnya, meredam hantaman fatal yang seharusnya bisa meremukkan tulangnya.
Shen Yu segera bergerak ke permukaan, berenang dengan susah payah menuju tepian batu sambil terbatuk-batuk hebat.
"Uhuk! Uhuk! Jurang terkutuk seperti ini... ternyata menyembunyikan kolam sedalam ini," gumamnya sambil memeras bajunya yang basah kuyup.
Ia bangkit berdiri secara perlahan. Meskipun tubuhnya dipenuhi luka gores dan pakaian berburunya robek di sana-sini, ia memastikan tidak ada satu pun tulangnya yang patah.
Saat ia mulai mengamati sekeliling, napas Shen Yu seketika tercekat.
Dasar jurang ini ternyata luar biasa luas, menyerupai sebuah dunia bawah tanah yang tersembunyi. Dinding batu raksasa menjulang tinggi hingga menutupi cahaya matahari dari atas.
Anehnya, tempat ini tidak gelap gulita. Berbagai tanaman spiritual langka tumbuh subur di sela-sela bebatuan, memancarkan cahaya fluoresen redup berwarna biru laut dan hijau zamrud.
"Tanaman Roh Embun? Mawar Api?"
Mata Shen Yu membelalak tak percaya. "Bukankah tanaman-tanaman tingkat tinggi ini sudah dinyatakan punah di dunia luar?"
Sebagai seorang pemburu, ia tahu persis nilai barang-barang ini. Jika ia mencabut dan menjual satu tangkai saja ke kota besar, nilainya akan cukup untuk membuat seorang pemburu biasa hidup mewah dan nyaman selama puluhan tahun.
Namun, insting pemburunya segera membunyikan alarm tanda bahaya.
Jangan menyentuh apa pun.
Tempat terasing yang menyimpan harta karun sebanyak ini, pastinya juga menyimpan bahaya tersembunyi yang sebanding—atau bahkan jauh lebih mematikan.
Memilih mengabaikan godaan tersebut, Shen Yu melangkah lebih dalam. Semakin jauh ia berjalan, udara di sekitarnya terasa semakin kuno dan pekat... seolah-olah sang waktu sendiri telah berhenti mengalir di tempat ini sejak ribuan tahun lalu.
Hingga akhirnya, langkah kakinya terhenti pada sebuah jalur setapak yang terbuat dari susunan batu kuno yang hampir seluruh permukaannya tertutup lumut tebal.
"Siapa yang repot-repot membangun jalan megah di dasar jurang terpencil seperti ini?"
Rasa penasaran yang besar akhirnya mengalahkan rasa takutnya.
Shen Yu mengikuti jalan berbatu itu hingga tiba di sebuah lapangan batu luas yang menyerupai alun-alun kuno. Tepat di titik tengah lapangan tersebut, berdiri sebuah struktur yang membuat jiwanya bergetar.
Sebuah menara hitam legam yang puncaknya menjulang tinggi menembus kabut, seolah hendak menusuk langit.
Menara itu tampak begitu tua, dipenuhi retakan-retakan besar di dindingnya. Puluhan rantai raksasa bermaterai kuno melilit tubuh menara, sementara di sekeliling tanah tempatnya berpijak, ribuan pedang kuno tertancap berantakan bagaikan nisan-nisan tanpa nama.
Tidak ada cahaya. Tidak ada suara.
Namun hanya dengan memandang menara hitam itu dari kejauhan, sebuah tekanan tak kasat mata yang teramat berat langsung menghantam pundak Shen Yu, membuat lututnya bergetar dan hampir menyentuh tanah.
"Menara ini... tempat apa sebenarnya ini?"
Saat Shen Yu memberanikan diri mengambil satu langkah lebih dekat...
Dug!
Jantungnya berdegup luar biasa kencang, memompa darah dengan liar. Bersamaan dengan itu, sebuah suara tua yang berwibawa dan sarat akan riwayat zaman bergema langsung di dalam kesadarannya.
"Puluhan ribu tahun telah berlalu..."
"Akhirnya... ada juga manusia berkultivasi fana yang berhasil menginjakkan kaki di tempat terlarang ini."
Shen Yu seketika membeku di tempat, seluruh ototnya menegang.
Suara itu tidak terdengar melalui telinganya, melainkan bergema langsung dari dalam kepalanya sendiri. Seolah-olah... menara hitam raksasa di hadapannya saat ini sedang berbicara kepadanya.
Shen Yu berdiri terpaku. Tatapannya tidak lepas dari menara hitam yang dililit rantai raksasa tersebut. Aura kuno yang dipancarkan tempat ini terasa kian mencekam.
"Siapa yang bicara?! Tunjukkan dirimu!" teriak Shen Yu dengan suara lantang yang bergema di lapangan luas tersebut.
Hanya keheningan yang menjawabnya.
Namun beberapa detik kemudian, tanah di bawah kaki Shen Yu kembali bergetar pelan secara ritmis.
Dug... Dug... Dug...
Getaran itu terdengar sangat mirip dengan denyut jantung. Tapi itu bukanlah detak jantung manusia, melainkan denyut mistis dari menara itu sendiri.
Suara tua itu kembali terdengar di benaknya.
"Mendekatlah, Anak Muda."
Shen Yu tidak langsung menuruti perintah itu. Ia justru memundurkan kaki kanannya setengah langkah, mengambil posisi siaga.
Jika ada satu pelajaran penting yang ia pelajari selama bertahun-tahun bertahan hidup di alam liar, itu adalah: jangan pernah mempercayai suara atau entitas yang tidak kamu ketahui asal-usulnya.
"Aku bahkan tidak tahu kau ini makhluk hidup atau setan penunggu tempat ini. Kenapa aku harus mendekat?" balas Shen Yu tenang, menyembunyikan rasa tegangnya.
Suara tua itu terkekeh pelan, terdengar sedikit terkejut.
"Bagus. Sangat bagus."
"Setidaknya kau memiliki otak yang encer, tidak sebodoh para kultivator serakah di masa lalu yang langsung menerjang masuk demi sebuah warisan, lalu berakhir menjadi abu."
Mendengar pujian itu, Shen Yu justru semakin menajamkan kewaspadaannya. "Kalau begitu, jelaskan dulu siapa kau."
Belum sempat kalimatnya selesai diucapkan, salah satu pedang kuno yang tertancap di tanah tiba-tiba bergetar hebat.
Weng!
Pedang berkarat itu tercabut dari tanah dan melesat ke arah dahi Shen Yu secepat kilat!
Mata Shen Yu membelalak. Dengan refleks luar biasa yang sudah terlatih akibat sering diburu binatang buas, ia menjatuhkan tubuhnya ke samping, berguling di atas lantai batu.
Swiiing!
Mata pedang itu melintas hanya sejarak beberapa helai rambut dari pelipisnya, sebelum akhirnya kembali menancap dalam di lantai batu di belakangnya.
Shen Yu bangkit berdiri sambil mendengus kesal. "Kau menyebut serangan mematikan tadi sebagai sebuah undangan?!"
Suara tua itu tertawa lebih keras, mengguncang udara sekitar.
"Refleks tubuhmu benar-benar berada di atas rata-rata manusia biasa."
Tiba-tiba, di depan gerbang menara hitam, sebuah cahaya keemasan yang murni muncul entah dari mana. Cahaya itu memadat secara perlahan, membentuk wujud seorang lelaki tua berjubah putih bersih.
Rambut dan janggutnya yang seputih salju menjuntai hingga ke pinggang. Kedua matanya memancarkan kedalaman ilmu yang tak terukur. Namun, tubuh lelaki tua itu tampak transparan dan samar. Ia bukanlah manusia, melainkan seberkas sisa roh spiritual.
"Aku adalah Roh Menara," ucapnya dengan tenang. "Dan tempat yang kau pandang ini adalah... Menara Dewa Kuno."
Shen Yu menarik napas dalam-dalam. Nama itu terdengar sangat agung dan dipenuhi otoritas mutlak, namun dalam ingatannya yang terbatas sebagai penduduk desa fana, ia sama sekali tidak mengenal nama itu.
"Aku tidak pernah mendengar nama tempat itu."
"Itu sangat wajar," jawab Roh Menara, matanya menatap langit-langit jurang dengan tatapan sendu. "Karena semua makhluk dan sekte besar yang mengetahui keberadaan menara ini... telah musnah dan menjadi debu puluhan ribu tahun yang lalu."
Kalimat itu seketika membuat bulu kuduk Shen Yu berdiri. Skala waktu puluhan ribu tahun berada jauh di luar nalar pemikirannya.
Roh Menara kemudian mengangkat tangan kanannya secara perlahan.
Dalam sekejap, ilusi visual berskala kolosal memenuhi ruang udara di atas mereka. Bayangan peperangan dahsyat zaman kuno berputar bagaikan film hidup.
Ribuan kultivator sakti terbang di angkasa. Jutaan pedang memenuhi langit hingga menutupi matahari. Gunung-gunung besar runtuh menjadi rata, dan lautan luas terbelah dua. Di tengah-tengah badai peperangan apokaliptik itu, berdiri sebuah sekte megah yang sedang dikepung oleh jutaan pasukan dari segala penjuru langit.
Bendera sekte yang agung itu hanya memiliki satu lambang yang dijunjung tinggi.
Sebuah menara berwarna emas murni.
"Itulah Sekte Dewa Kuno di masa kejayaannya," ujar Roh Menara dengan nada suara yang mendadak berat dan dipenuhi dendam masa lalu. "Dikhianati oleh sekutu tercinta... lalu dimusnahkan tanpa sisa dari muka bumi."
Wush!
Sebelum Shen Yu sempat mencerna informasi gila tersebut, seluruh bayangan peperangan itu lenyap seketika, mengembalikan keheningan di dalam jurang.
Roh Menara kini mengalihkan tatapan keemasannya, mengunci pandangannya tepat pada manik mata Shen Yu secara mendalam.
"Shen Yu."
Mata Shen Yu langsung menyipit, tubuhnya tersentak. "Kau... dari mana kau tahu namaku?!"
Roh Menara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan ribuan rahasia.
"Aku tidak hanya mengetahui namamu, Anak Muda."
"Aku juga mengetahui dengan sangat jelas... siapa identitas sebenarnya dari ayah dan ibu kandungmu."
Boom!
Pikiran Shen Yu seolah meledak. Selama enam belas tahun hidupnya di Desa Qinghe, menanggung hinaan sebagai anak haram yang dibuang, tidak ada satu pun orang yang mampu menjawab misteri asal-usulnya.
Rasa penasaran dan gejolak emosi yang selama ini ia pendam dalam-dalam mendadak meluap. Tanpa sadar, ia mengambil langkah maju mendekati sang Roh Menara.
"Katakan padaku... siapa mereka?!" tuntut Shen Yu, suaranya bergetar hebat.
Roh Menara tidak langsung menjawab pertanyaan krusial itu. Sebaliknya, ia berbalik, mengangkat satu jarinya dan menunjuk ke arah pintu utama Menara Dewa Kuno yang dililit rantai.
GROOOOMMM...
Bumi berguncang hebat. Pintu batu menara yang super besar itu perlahan-lahan bergeser dan terbuka. Dari balik celah pintu yang terbuka, memancar sebuah pilar cahaya keemasan yang begitu menyilaukan, mengusir seluruh kabut hitam di tempat itu.
"Jika kau ingin mengetahui kebenaran tentang darah yang mengalir di tubuhmu, dan membalaskan dendam yang seharusnya kau tanggung..."
"Masuklah ke dalam Menara Dewa Kuno ini."
Roh Menara menjeda kalimatnya, tatapannya berubah menjadi sangat serius dan dingin.
"Namun ingat satu hal, Shen Yu. Begitu kakimu melangkah melewati ambang pintu itu..."
"...maka seluruh kehidupan fanamu akan berakhir, dan tidak akan pernah ada jalan untuk kembali lagi."
Shen Yu menatap lekat-lekat ke dalam pintu raksasa yang telah terbuka lebar.
Pilar cahaya keemasan yang memancar dari dalam menara menyinari seluruh sudut dasar jurang yang semula gelap. Namun, anehnya, Shen Yu tidak merasakan kehangatan sedikit pun dari cahaya itu. Sebaliknya, sekelumit hawa sedingin es menjalar dari telapak kakinya, menusuk hingga ke tulang sumsum.
Roh Menara berdiri kokoh di samping gerbang dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung. Sepasang mata keemasannya melirik Shen Yu.
"Apa kau takut, Anak Muda?"
Ujung bibir Shen Yu terangkat, membentuk senyum tipis yang sarat akan sarkasme. "Tentu saja aku takut."
Roh Menara sedikit terkejut, tidak menyangka akan jawaban sejujur itu. "Kau mengakuinya begitu saja? Tanpa gengsi?"
"Hanya orang bodoh yang tidak punya rasa takut. Dan di dalam hutan, orang-orang bodoh seperti itu biasanya mati paling cepat dan berakhir menjadi kotoran binatang buas," sahut Shen Yu tenang.
Jawaban yang tidak biasa itu seketika membuat Roh Menara tertawa pelan. Nada suaranya dipenuhi rasa kagum.
"Bagus! Sangat bagus! Keberanian sejati bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan kemampuan untuk tetap melangkah maju meski rasa takut itu sedang mencengkeram jiwamu."
Shen Yu menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara jurang, lalu memantapkan langkah kakinya melewati ambang pintu menara.
Wuuuung!
Gelombang energi spasial mendadak bergejolak. Pemandangan di sekitar Shen Yu berubah total dalam sekejap mata. Gubuk tua, desa, bahkan struktur menara hitam tadi lenyap tanpa bekas.
Di hadapannya kini terbentang sebuah padang tandus tak berujung yang dipenuhi oleh ribuan pedang kuno yang tertancap berantakan. Langit di atas kepalanya berwarna merah darah yang pekat, sementara angin malam yang berhembus membawa aroma karat besi dan anyir darah yang sangat menyengat.
"Ilusi?" gumam Shen Yu, tangannya refleks meraba belati di pinggangnya.
"Ini bukan sekadar ilusi fana," suara Roh Menara bergema dari segala penjuru langit, berat dan berwibawa. "Ini adalah Ruang Ujian Jiwa milik Sekte Dewa Kuno. Di tempat ini, tidak ada teknik kultivasi tinggi, tidak ada harta karun tersembunyi. Hanya ada satu hal: Ujian hidup dan mati."
Shen Yu mengangguk paham. "Kalau begitu, apa yang harus kuhadapi?"
Belum sempat suara itu memberikan jawaban...
Brak!
Salah satu pedang berkarat yang tertancap di tanah bergetar hebat hingga menimbulkan retakan di sekitarnya.
Seberkas kabut hitam tebal mendadak meletus, dan dari balik kabut tersebut, sesosok pria berjubah hitam berjalan keluar secara perlahan.
Begitu sosok itu sepenuhnya terlihat, mata Shen Yu seketika membelalak. Wajah pria itu, postur tubuhnya, bahkan bekas luka goresan kecil di dagunya... semuanya sama persis dengan dirinya.
"Menarik..." Shen Yu memiringkan kepalanya, menatap kembarannya dengan pandangan menilai. "Jadi, ujian pertama ini mengharuskanku membunuh diriku sendiri?"
Sosok berjubah hitam itu tidak memberikan jawaban verbal. Dengan gerakan kilat, ia mencabut sebilah pedang panjang dari tanah dan langsung menerjang maju!
Swiiing!
Serangan itu begitu cepat dan fatal, mengincar tepat di vena leher Shen Yu.
"Sial, cepat sekali!" Shen Yu merunduk ekstrem, membiarkan mata pedang lawan melintas hanya sejarak satu senti di atas kepalanya.
Sadar bahwa belati pendeknya kalah jangkauan, Shen Yu dengan tangkas mencabut sebilah pedang tua acak yang tertancap di dekat kakinya.
Clang!
Dua bilah logam beradu kuat, menciptakan percikan api yang menerangi wajah keduanya.
Namun, baru tiga jurus saling bertukar serangan, wajah Shen Yu berubah menjadi sangat serius. Jantungnya berdesir hebat.
"Luar biasa... Sialan, dia bahkan meniru setiap kebiasaan dan cara bertarungku secara mendetail!" batin Shen Yu mendelik.
Setiap tipuan, setiap tebasan sudut sempit, hingga cara Shen Yu memanfaatkan berat tubuhnya saat menghindar, semuanya dibalas dengan gerakan yang sama persis oleh sosok misterius itu. Mereka berdua bertarung bagaikan seseorang yang sedang berduel melawan bayangannya sendiri di depan cermin.
Puluhan jurus berlalu dalam tempo cepat tanpa ada satu pun yang berhasil mencetak luka.
Tiba-tiba, sosok berjubah hitam itu menghentikan serangannya sejenak. Ia menyeringai tipis—sebuah senyuman meremehkan yang sama persis dengan milik Shen Yu.
Sosok itu membuka mulutnya, mengucapkan satu kalimat dengan nada dingin: "Aku mengenal dirimu... jauh lebih baik daripada kau mengenal dirimu sendiri."
BOOM!
Begitu kalimat itu berakhir, aura energi dari tubuh sosok tersebut melonjak drastis secara tidak masuk akal. Tekanan aura yang dipancarkannya begitu masif hingga membuat tanah di bawah kaki Shen Yu mulai retak dan amblas ke bawah.
Shen Yu menggenggam erat gagang pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Sepertinya... ujian sialan ini memang tidak sesederhana yang kukira."
Clang! Clang! Clang!
Pedang besi Shen Yu kembali beradu dengan pedang kembarannya dalam tempo yang jauh lebih brutal. Benturan demi benturan itu memercikkan bunga api ke segala arah.
Shen Yu terpaksa melompat mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak. Napasnya mulai memburu, dadanya kembang kempis kehabisan oksigen. Sementara itu, lawannya masih berdiri tegak dengan aura yang kian pekat, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
"Kalau pertarungan ini terus berlanjut dengan cara konvensional seperti ini, staminaku yang akan habis duluan dan aku pasti mati," pikir Shen Yu cepat.
Mata tajamnya mengamati setiap jengkal gerakan sang lawan. Cara berjalan, sudut genggaman pedang, hingga arah lirikan matanya—semuanya identik.
"Tidak..." Shen Yu menggelengkan kepalanya pelan, sebuah kilatan cerdik melintasi matanya. "Tidak mungkin ada sesuatu yang benar-benar sama seratus persen."
Tanpa memberikan waktu bagi Shen Yu untuk berpikir, sosok hitam itu kembali menerjang.
Sret!
Mata pedang lawan melesat lurus, membelah udara dengan kecepatan penuh menuju tepat ke tengah dada Shen Yu. Serangan tusukan mematikan yang tidak menyisakan ruang untuk menghindar.
Namun, di luar dugaan, kali ini Shen Yu sama sekali tidak mencoba melompat mundur atau memblokir serangan itu. Ia justru mengambil langkah lebar, memajukan tubuhnya menyambut mata pedang tersebut!
"Dasar gila! Apa kau berniat bunuh diri?!" suara Roh Menara berteriak panik di dalam ruang ilusi.
Tepat pada detik krusial ketika ujung pedang lawan tinggal sejengkal dari kulit dadanya, Shen Yu memutar poros tubuhnya secara ekstrem ke arah kanan.
Clang!
Ia membiarkan pedang lawan menyerempet pelindung bahu bajunya, membelokkan arah tusukan tersebut dengan paksa. Di saat yang sama, memanfaatkan jarak mereka yang kini sedekat satu jengkal, Shen Yu menghantamkan gagang pedang kayunya dengan kekuatan penuh ke arah pergelangan tangan lawan.
Krak!
Tulang pergelangan tangan sosok itu berbunyi keras, membuat genggamannya terlepas dan pedangnya jatuh ke tanah.
Sebelum sosok berjubah hitam itu sempat menarik tubuhnya mundur, bilah pedang tua milik Shen Yu sudah menempel dengan dingin, menekan tepat di urat leher lawan.
"Aku menang," ucap Shen Yu datar, napasnya terengah-engah tepat di depan wajah kembarannya.
Namun, di luar ekspektasi, sosok itu tidak menunjukkan kemarahan. Ia justru tersenyum lebar secara misterius.
"Akhirnya... kau memahaminya."
Shen Yu mengernyitkan dahi dalam-dalam. "Memahami apa?"
"Dalam sebuah pertarungan hidup dan mati... kau tidak akan pernah bisa melampaui batas dirimu jika kau hanya terpaku meniru dan mengulangi cara bertarung yang sama dengan masa lalumu."
Wush!
Begitu kalimat filosofis itu selesai diucapkan, tubuh sosok berjubah hitam itu hancur, berubah menjadi jutaan butiran cahaya keemasan yang indah dan hilang ditiup angin. Bersamaan dengan itu, seluruh lanskap padang pedang berdarah runtuh bagaikan kaca yang pecah berkeping-keping.
Saat Shen Yu mengerjapkan matanya kembali, ia sudah berdiri tegak di dalam aula lantai pertama Menara Dewa Kuno.
Roh Menara menatapnya dari udara dengan sorot mata yang dipenuhi rasa puas yang mendalam dan binar kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.
"Selama puluhan ribu tahun ini, telah ada ribuan jenius kultivasi terpandang dari berbagai klan besar yang mencoba melewati ujian pertama ini. Banyak dari mereka yang jauh lebih kuat darimu, banyak pula yang bakat alaminya berada di tingkat monster."
"Namun, mereka semua berakhir menjadi mayat di dalam sana," lanjut Roh Menara dengan nada bangga.
Shen Yu menurunkan pedangnya, menyeka keringat di dahinya. "Kenapa mereka bisa gagal?"
"Karena mereka terlalu sombong dan hanya mengandalkan kekuatan kasar! Mereka mencoba mengalahkan bayangan mereka dengan energi yang lebih besar, tanpa sadar bahwa bayangan itu akan selalu melipatgandakan kekuatannya sebanding dengan mereka."
Roh Menara kemudian melambaikan tangan kanannya ke udara.
Wush!
Sebuah gulungan kitab kuno yang terbuat dari lembaran emas murni perlahan-lahan muncul dari udara kosong, memancarkan tekanan spiritual yang sangat suci dan menenangkan.
"Gulungan ini menyimpan teknik kultivasi warisan tertinggi dan paling rahasia yang pernah dimiliki oleh Sekte Dewa Kuno. Sebuah teknik yang bisa membalikkan hukum alam. Namanya adalah..."
[Kitab Dewa Abadi]
Mendengar nama itu, jantung Shen Yu berdegup dua kali lebih cepat. Darahnya mendidih, seolah-olah ada resonansi alami antara tubuh fananya dengan kitab emas tersebut.
Roh Menara mendorong gulungan itu secara perlahan hingga melayang tepat di depan dada Shen Yu.
"Namun, Shen Yu... sebelum kau meneteskan darahmu untuk mempelajari kitab tingkat dewa ini, ada satu kebenaran mutlak mengenai asal-usul darahmu yang harus kau ketahui sekarang."
Ekspresi wajah Roh Menara mendadak berubah menjadi sangat serius, matanya menatap tajam.
"Kedua orang tua kandungmu... mereka sama sekali bukan rakyat jelata atau penduduk desa fana seperti yang kau duga selama ini. Mereka berdua adalah sepasang Maha Tetua Tertinggi dari Sekte Dewa Kuno yang melegenda!"
Boom!
Mata Shen Yu membelalak sempurna, kepalanya terasa pening mendengar kenyataan gila tersebut. Jadi, dirinya bukanlah anak buangan yang tidak diinginkan, melainkan—
Belum sempat Shen Yu melontarkan rentetan pertanyaan yang berkecamuk di otaknya, seluruh struktur Menara Dewa Kuno mendadak berguncang dengan sangat hebat!
BOOOOMMMM!!!
Dinding-dinding batu menara bergoyang, debu-debu kuno berjatuhan, dan rantai raksasa yang melilit menara berdenting keras menahan tekanan luar biasa dari arah atas jurang.
Roh Menara seketika mendongak, menatap ke arah langit-langit menara dengan tatapan horor. Wajahnya yang semula tenang dan bijaksana, kini untuk pertama kalinya dipenuhi oleh rasa terkejut dan kepanikan yang teramat sangat.
"Sial! Bagaimana bisa... mereka berhasil menemukannya sesepat ini?!" geram Roh Menara dengan suara bergetar.
Shen Yu ikut bersiaga, menggenggam pedangnya kembali. "Siapa yang datang?!"
"Musuh dari masa lalu... Seseorang dari dunia atas sedang mengerahkan kekuatan besar untuk menghancurkan dan membuka paksa segel gaib jurang ini dari luar!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!