Langit malam tampak gelap tanpa bintang saat Anggita pulang dengan langkah terhuyung-huyung. Tubuhnya terasa dingin dan kotor, matanya kosong menatap aspal jalan, sementara di dadanya rasa sakit itu membakar perlahan. Sore tadi, ia pergi dengan senyum sambil membawa kotak kue pesanan namun ia kembali tanpa harapan, setelah mengalami pelecehan keji di tangan Arvin Teriaz, salah satu pewaris kerajaan bisnis Teriaz Group.
Di rumah yang sederhana itu, Nabila Azzahra sudah menunggu cemas. Begitu melihat sahabatnya muncul di ambang pintu dengan baju robek dan tatapan yang sudah tak lagi bersinar, Nabila langsung berlari memeluknya. Tak ada kata yang terucap dari mulut Anggita, hanya isak tangis yang tertahan, seolah seluruh kekuatannya telah direnggut paksa.
Nabila merawat sahabatnya dengan telaten, membersihkan luka fisiknya, namun ia tahu luka yang sesungguhnya ada di dalam jiwa. Keesokan harinya, mereka berdua berusaha mencari keadilan. Namun dinding kekuasaan Teriaz Group terlalu tinggi dan kokoh. Laporan polisi diabaikan, saksi mata tiba-tiba tak ada, dan bahkan ada orang yang datang mengancam: "Lupakan saja kejadian itu, kalau tidak kalian yang akan celaka."
Arvin Teriaz berjalan bebas di jalanan, tertawa dengan kemewahan ayahnya, seolah tak pernah berbuat salah. Sementara Anggita mengurung diri di kamar, menolak makan, menolak bicara, dan perlahan memudar seperti lilin yang habis apinya.
Hati Nabila hancur melihatnya. Ia tak akan membiarkan sahabatnya menderita sendirian, sementara pelakunya bersembunyi di balik tumpukan uang. Tapi melawan keluarga Teriaz sendirian sama saja dengan menantang badai dengan tangan kosong.
Hingga tiga hari kemudian, kondisi Anggita memburuk. Nabila segera membawanya ke klinik terdekat. Dokter yang bertugas di sana adalah Galen Teriaz.
Saat Galen memeriksa kondisi Anggita dan melihat bekas luka serta trauma yang tersembunyi, jantungnya mencelos. Ia sudah mendengar nama Arvin disebut dalam berbagai rumor kotor, tapi tak pernah menyangka sepupunya sendiri bisa bertindak sekeji ini pada gadis tak bersalah. Setelah memastikan Anggita beristirahat, Galen memanggil Nabila ke ruang kerjanya.
Ruangan itu hening, hanya terdengar detak jam dinding. Galen menatap Nabila dengan tatapan yang campur aduk, ada rasa malu, kemarahan, dan keteguhan.
"Kamu tahu siapa nama belakangku, kan?" Tanyanya pelan, memecah keheningan.
Nabila mengangguk kaku, tangannya terkepal erat di pangkuan.
"Kamu Galen Teriaz, Kamu saudara Arvin. Kenapa kamu memanggilku ke sini? Mau melarang kami untuk terus berjuang?" Ujar Nabila dengan mata berapi-rapi
Galen menggeleng kuat, lalu menghela napas panjang seolah membuang beban berat yang dipikulnya bertahun-tahun.
"Aku memang darah daging keluarga itu, tapi aku tak buta. Aku tahu betul bagaimana pamanku, Bram Teriaz, selalu menutupi segala kesalahan anaknya dengan cara yang kotor. Aku tahu Arvin sering berbuat semena-mena, dan diamku selama ini itu sama saja dengan aku ikut berbuat salah." Jawab Galen
Ia menatap lurus ke mata Nabila, suaranya mantap dan penuh kesungguhan.
"Aku tak bisa lagi membiarkan ketidak adilan ini terjadi di depan mataku, apa yang sudah dilakukan Arvin dan teman-temannya pada sahabatmu sangat salah dan dia harus bertanggung jawab. Aku akan membantumu, Nabila. Aku tahu celah keamanan di perusahaan itu, aku tahu siapa saja orang yang bisa diajak bicara, dan aku tahu di mana mereka menyembunyikan bukti. Mari kita bongkar semuanya bersama-sama, demi Anggita." Lanjut Galen degan sunguh-sungguh
Nabila terpana karena dia tak pernah menyangka, akan ada orang dari dalam lingkaran musuh yang justru berani berdiri di sisi mereka. Perlahan, air mata yang ditahannya akhirnya jatuh. Untuk pertama kalinya sejak kejadian mengerikan itu, ada secercah harapan yang menyentuh hatinya.
"Terima kasih, Dokter Galen, bantu aku menegakkan keadilan dan aku siap melakukan apa saja demi Anggita" ucap Nabila lirih namun tegas.
Malam itu, di bawah cahaya lampu klinik yang temaram sebuah kesepakatan berharga terjalin. Di satu sisi ada Nabila yang berjuang demi sahabatnya, di sisi lain ada Galen yang berani melawan keluarganya demi kebenaran. Bersama-sama, mereka bersiap melangkah masuk ke dalam sarang kekuasaan yang penuh bahaya.
*****
Beberapa minggu berlalu sejak kesepakatan itu terjalin. Waktu itu Nabila gunakan sebaik mungkin untuk mempersiapkan segalanya dengan mengubah penampilan, melatih cara bicara, mempelajari profil seluruh petinggi Teriaz Group, hingga menghafal peta setiap lantai gedung raksasa itu. Galen tak lelah membantunya, bahkan memberikan catatan rapi tentang siapa yang bisa dipercaya, siapa yang harus diwaspadai, dan kebiasaan-kebiasaan kecil Arvin yang tak banyak orang tahu.
"Jangan pernah tunjukkan bahwa kamu tahu lebih dari yang seharusnya diketahui staf baru," Pesan Galen saat terakhir kali mereka bertemu sebelum hari pertama kerja.
"Tampil biasa saja, tenang, dan sedikit tertutup. Itu cara terbaik agar kamu tidak dicurigai." Lanjut Galen
Pagi itu, langit tampak cerah tapi berbanding terbalik dengan jantung Nabila yang berdegup kencang saat berdiri di depan gedung pencakar langit markas Teriaz Group. Kaca-kaca gedung itu memantulkan cahaya matahari dengan menyilaukan, seolah menantang siapa saja yang berani melangkah masuk dengan niat lain selain tunduk pada kekuasaan mereka. Ia mengenakan kemeja putih bersih, rok selutut, dan sepatu pantofel sederhana. Wajahnya ia rias tipis, cukup untuk terlihat profesional namun tak mencolok. Di dalam tasnya, terselip foto kecil Anggita yang tersenyum lebar sebagai sumber kekuatannya.
“Demi kami Git, aku janji akan berjuang sampai mendapatkan keadilan” Batin Nabila
Langkah kakinya mantap saat melewati pintu putar otomatis, obi yang luas tampak megah namun dingin, dengan lantai marmer yang memantulkan bayangan orang-orang yang berjalan terburu-buru dengan pakaian bermerek. Semua orang di sini tampak sibuk mengejar waktu, seolah tak punya waktu sekadar menyapa. Nabila menuju meja resepsionis, menyampaikan tujuannya, lalu menunggu di ruang tunggu sebentar sebelum diantar ke bagian personalia.
Proses penyerahan berkas berjalan lancar berkat rekomendasi dari Galen, tak ada pertanyaan yang menjebak, dan tak lama kemudian ia resmi menjadi bagian dari tim administrasi data, posisi yang persis seperti yang diharapkannya lalu pekerjaannya dimulai. Nabila bekerja dengan sangat teliti, cekatan, dan tak banyak bicara. Ia menyadari bahwa kesunyian justru menjadi tameng terbaik, rekan kerjanya menilai gadis ini pendiam namun sangat mampu diandalkan, sehingga tak ada yang menyangka bahwa di balik layar komputernya, ia sedang memetakan jejak kejahatan yang tersembunyi di balik tumpukan angka dan dokumen.
Namun ujian pertamanya datang lebih cepat dari yang dibayangkan, saat jam istirahat siang tiba lorong kantor yang biasanya sibuk perlahan mulai sepi. Nabila berjalan menuju kantin untuk mengambil minum, ketika suara langkah kaki yang mantap dan berani terdengar mendekat. Suasana di sekitarnya seketika berubah hening. Para karyawan yang berpapasan langsung menyingkir ke pinggir lorong, menunduk hormat dengan tatapan yang bercampur rasa takut.
Itu Arvin Teriaz.
Ia berjalan dengan langkah santai namun penuh wibawa yang sombong, mengenakan jas mahal yang disesuaikan sempurna dengan tubuhnya. Wajahnya tampan, tapi matanya tajam dan dingin, seolah manusia lain hanyalah pion di permainannya. Saat ia lewat di dekat Nabila, langkahnya tiba-tiba berhenti lalu ia menoleh, menatap gadis itu dari ujung kaki hingga wajah.
Darah Nabila sempat berdesir hebat, di dadanya amarah dan ketakutan beradu keras, namun ia segera mengunci perasaannya rapat-rapat. Ia menundukkan kepala sedikit, memberikan senyum sopan yang datar, persis seperti yang dilatihnya.
"Kamu karyawan baru?" Tanya Arvin, suaranya rendah namun memerintah.
"Benar, Pak. Saya Nabila Azzahra, bagian administrasi data," Jawab Nabila tenang, meski tangannya di balik punggung mengepal erat.
"Kerjakan tugasmu dengan benar," ucapnya singkat, lalu berlalu begitu saja tanpa menunggu balasan.
Begitu sosoknya menghilang di ujung lorong, Nabila baru berani mengembuskan napas panjang. Kakinya terasa lemas. Ia baru saja berdiri berhadapan dengan iblis yang telah menghancurkan masa depan sahabatnya, dan ia berhasil melakukannya tanpa terungkap.
*****
Siang harinya, di sudut paling sepi kantin yang hampir tak terlihat orang, Galen sudah menunggu sambil memegang dua gelas minuman. Begitu melihat Nabila, wajahnya yang biasanya tenang langsung berubah khawatir.
"Kau bertemu Arvin, kan?" Bisik Galen saat Nabila duduk di hadapannya.
"Aku baru saja mendengar kabar itu, dia tidak menyakitimu atau menanyakan hal yang aneh?" Lanjut Galen
Nabila menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis yang melegakan.
"Dia hanya bertanya siapa saya, karena dia tidak mengenali saya. Dia sama sekali tidak menyadari siapa yang berdiri di hadapannya." Jawab Nabila
Mnedengar itu Galen menghela napas lega, tangannya secara refleks menyentuh punggung tangan Nabila yang tergeletak di meja. Sentuhan itu hangat, dan membuat ketegangan yang menyelimuti hati gadis itu perlahan luruh.
"Itu kabar baik," Ucap Galen lembut, matanya menatap tulus.
"Tapi mulai sekarang jangan pernah merasa aman, dia sangat cerdik dan curiga pada hal baru. Setiap gerak-gerikmu harus sangat hati-hati, aku akan selalu ada di dekatmu untuk mengawasi tapi kamu sendiri yang harus menjaga sikapmu" Tambah Galen
Nabila menatap mata Galen lama, di tengah dunia yang penuh kemunafikan dan kejahatan seperti keluarga Teriaz. Laki-laki inilah satu-satunya tempat ia bisa bersandar, rasa percaya yang awalnya dibangun atas dasar tujuan yang sama, kini perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam dan hangat.
"Terima kasih sudah ada di sini bersamaku," Ujar Nabila pelan.
Galen tersenyum lembut.
"Kita berjuang bersama, ingat? Kau tidak sendirian" Balas Galen tersenyum
Di meja lain yang agak jauh, seorang pria berjas hitam memperhatikan mereka diam-diam sambil memutar segelas kopi. Ia adalah pengawas keamanan pribadi Bram Teriaz, yang tugasnya memantau setiap gerak-gerik siapa saja yang dekat dengan Galen maupun Arvin. Hari ini, ia mencatat satu hal baru: ada hubungan yang tak biasa antara dokter Galen dan staf baru bernama Nabila.
Jam di dinding kantor sudah tepat menunjukkan pukul 22:15 malam, Gedung pencakar langit markas Teriaz Group yang siangnya penuh hiruk-pikuk suara telepon, ketikan keyboard, dan langkah kaki orang yang bergegas mengejar waktu, kini berubah menjadi tempat yang sunyi senyap. Keheningan itu begitu pekat, bahkan suara detak jantung sendiri seolah terdengar bergema di telinga. Hanya terdengar suara dengungan halus dari sistem pendingin ruangan yang meniupkan udara dingin tanpa henti, membuat kulit yang terbuka merinding pelan.
Nabila masih duduk diam di kursi kerjanya, dia tak berani bergerak sebelum memastikan satu per satu orang benar-benar telah pergi. Ia melihat lampu di ruangan rekan kerjanya satu per satu dipadamkan. Ia melihat petugas kebersihan mendorong gerobaknya menuju lantai bawah. Ia melihat satpam di lobi berjalan berkeliling memeriksa pintu utama. Hingga akhirnya, setelah menunggu hampir dua jam, ia yakin bahwa kini hanya ada dirinya yang tersisa di lantai ini setidaknya itulah yang ia pikir saat itu.
Perlahan ia berdiri, merapikan lipatan kemejanya, lalu menyelipkan selembar kertas kecil berisi deretan angka di saku dada. Itu adalah kode akses rahasia yang Galen berikan kepadanya pagi tadi, dengan suara berbisik dan tatapan yang sungguh-sungguh.
"Kode ini hanya diketahui oleh tiga orang yaitu paman Bram, Arvin, dan aku sendiri. Gunakan hanya jika sangat terpaksa, dan tinggalkan tempat itu secepatnya jika ada hal yang terasa aneh, apa pun itu" Ucap Galen
Langkah kakinya pelan namun mantap menyusuri lorong yang remang, bayangannya memanjang di lantai marmer yang dingin. Seolah menjadi teman setia satu-satunya malam ini, tujuannya adalah ruang arsip pusat, sebuah ruangan yang terletak di bagian paling belakang gedung, tersembunyi di balik koridor yang jarang dilewati siapa pun. Pintu ruangan itu terbuat dari baja tebal berwarna abu-abu gelap, tanpa jendela, dan terlihat tak tersentuh selama bertahun-tahun.
Nabila berdiri tegak di depan pintu itu. Ia menarik napas panjang, menahan rasa gugup yang meluap di dadanya lalu mulai menekan tombol angka di papan ketik keamanan. Detik berikutnya, terdengar bunyi "klik" halus, diikuti suara mekanisme roda gigi yang berputar berat di balik tembok. Pintu besar itu perlahan bergeser ke samping, menyambutnya dengan udara yang lebih dingin dan bau khas kertas tua yang bercampur debu.
Di dalam ruangan itu, cahaya lampu neon di langit-langit menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan tajam di sela-sela rak berkas yang setinggi langit-langit. Berkas fisik tersusun rapi memenuhi sisi kiri dan kanan ruangan, sementara di sudut paling dalam, berdiri satu unit komputer server utama yang menyimpan seluruh data digital perusahaan, sebuah harta karun sekaligus peti mati bagi mereka yang berani mengaksesnya tanpa izin.
Nabila segera duduk di depan layar yang gelap itu, tangannya sempat terhenti di atas papan ketik sejenak. Keraguan sempat datang: Apakah aku siap melihat kebenaran yang mungkin jauh lebih mengerikan daripada yang aku bayangkan?, namun seketika itu juga, bayangan wajah Anggita yang pucat, tatapannya yang kosong, dan air matanya yang tak henti menetes kembali terlintas di benaknya. Ia tak bisa mundur sekarang.
Nabila mulai mengetik, memasukkan sandi tambahan yang juga diberikan Galen. Layar monitor menyala terang, menampilkan antar muka sistem yang rumit. Dengan panduan yang sudah ia pelajari matang-matang, Nabila menyusup melewati lapisan demi lapisan perlindungan data. Awalnya ia hanya mencari berkas yang berhubungan dengan kasus pelecehan pada Anggita. Namun saat ia menemukan folder tersembunyi berlabel rahasia, ia menyadari bahwa masalahnya jauh lebih besar.
Layar itu menampilkan ribuan baris data transaksi. Milyaran rupiah, puluhan milyar, bahkan ratusan milyar rupiah terlihat dialihkan dari rekening resmi perusahaan ke rekening-rekening yang tak memiliki nama jelas—rekening fiktif yang tak bisa dilacak ke mana ujungnya. Ia membuka berkas lain: laporan proyek pembangunan jalan, sekolah, dan fasilitas umum yang dananya sudah dicairkan dua tahun lalu, namun di catatan terpisah ia temukan bukti bahwa proyek itu tak pernah dibangun sama sekali. Ada pula bukti penggunaan dana bantuan sosial dan tabungan pensiun karyawan yang disalahgunakan untuk kepentingan pribadi keluarga Teriat.
Dan yang paling membuat darahnya mendidih hingga ubun-ubun: di sebuah berkas bernama "Penyelesaian Masalah", tertera jelas catatan pembayaran sejumlah besar uang kepada orang-orang yang melihat kejadian malam itu, serta instruksi untuk menyebarkan berita bohong bahwa Anggita lah yang mendekati Arvin dengan sengaja.
Nabila menutup mulutnya dengan tangan agar tak menjerit, matanya memanas, dadanya sesak menahan campuran amarah dan kengerian.
"Mereka bukan sekadar penjahat..." Bisik Nabila parau
"Mereka adalah monster yang menyembunyikan taringnya di balik setelan jas mahal, kejahatan Arvin hanyalah satu tetes air di lautan dosa mereka" Tambah Nabila
Ia segera menyambungkan perangkat penyimpanan data rahasia yang ia bawa, waktu terasa berjalan sangat lambat saat persentase penyalinan data bergerak perlahan dari sepuluh persen menjadi dua puluh, lima puluh, delapan puluh. Ia begitu fokus menatap layar, tak berkedip, tak menyadari bahwa di balik pintu yang sedikit terbuka, ada sosok yang memperhatikannya sejak tadi.
"Kau tidak seharusnya berada di sini sendirian, Nabila"
Suara rendah itu terdengar tiba-tiba tepat di belakangnya membuatNabila tersentak hebat, tubuhnya menegang kaku seolah membatu. Jantungnya rasanya mau melompat keluar dari dada, Nabila berbalik dengan napas tertahan, siap berteriak atau berlari, namun napasnya kembali lega saat melihat itu adalah Galen.
Pria itu tampak terengah pelan, seolah berlari menaiki tangga darurat dari lantai bawah. Ia segera masuk ke dalam ruangan, menutup pintu dengan hati-hati, lalu memutar kunci pengamannya.
"Maaf, aku tak bermaksud mengejutkan kamu" ucap Galen pelan sambil melangkah mendekat.
"Aku tak sengaja melihat lampu ruangan ini menyala dari jendela klinikku di lantai satu, aku tak tenang membiarkanmu di sini sendirian" Lanjut Galen
Mata Galen kemudian beralih ke layar monitor yang menampilkan bukti-bukti mengerikan itu, dia berdiri diam, membaca baris demi baris tulisan di sana. Perlahan, warna wajahnya yang biasanya segar berubah menjadi pucat pasi. Tangannya yang tergenggam di samping tubuh mengepal begitu erat hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat menonjol.
"Aku sudah lama mencurigai ada yang salah, Seringkali aku melihat laporan keuangan yang tak masuk akal, dan saat aku bertanya pada paman Bram, dia selalu marah besar dan menyuruhku fokus saja pada pekerjaanku sebagai dokter. Aku tahu mereka mungkin licik dalam bisnis, tapi aku tak pernah menyangka mereka berani menipu orang miskin, mengambil harapan orang yang sudah menderita, dan membungkam kebenaran dengan cara sekeji ini. Aku malu, Nabila. Aku sungguh malu menjadi bagian dari darah keluarga ini"Ucap Galen
Galen memalingkan wajah, tak sanggup menatap layar itu lagi. Rasa bersalah yang berat menindihnya, seolah ia ikut bertanggung jawab atas semua yang dilakukan pamannya dan sepupunya. Melihat kesedihan yang tulus di wajah pria itu, Nabila lupa rasa takutnya sejenak. Ia berdiri, melangkah selangkah lebih dekat, lalu meletakkan tangannya di atas lengan Galen yang bergetar.
"Dengarkan aku, Galen," ucap Nabila tegas namun lembut, menatap lurus ke mata pria itu.
"Kejahatan mereka adalah pilihan mereka sendiri dan itu bukan urusan kamu, dan itu bukan kesalahanmu. Kau justru satu-satunya orang yang berani berdiri di sisi kebenaran, tanpamu aku tak akan pernah bisa masuk ke sini, dan aku tak akan pernah tahu betapa busuknya rahasia mereka. Kamu berbeda dari mereka, jangan pernah merasa bersalah karena kau memilih menjadi manusia yang baik." Lanjut Nabila
Galen menatap mata Nabila lama sekali, di tengah ruangan dingin yang penuh bahaya itu, tatapan gadis itu seperti pelita yang menerangi kegelapan hatinya. Perlahan, ia membalikkan tangannya dan menggenggam erat tangan Nabila, kehangatan kulit mereka saling menyatu, membawa kekuatan baru bagi keduanya yang sedang berjuang sendirian melawan raksasa.
Namun momen tenang itu hancur seketika saat ponsel di saku jas Galen bergetar hebat, memecah keheningan dengan nada dering khusus yang tajam. Ia segera merogohnya, dan saat melihat nama pengirim serta isi pesan yang masuk, darah di wajahnya seketika habis.
"Ini dari sekretaris pribadi Paman Bram," Desis Galen dengan napas tercekat.
"Pesan ini baru masuk semenit yang lalu, dan dia bilang paman Bram baru saja memeriksa ulang rekaman CCTV seluruh lantai gedung. Dia melihat ada akses yang tak terdaftar masuk ke ruang arsip ini, dia tahu ada orang asing di sini" Lanjut Galen
Nabila merasa kakinya mendadak lemas seolah tak bertulang.
"Mereka tahu kita di sini sekarang?" Tanya Nabila
"Belum tentu tahu siapa kita, tapi mereka sedang bergerak. Jika mereka datang memeriksa langsung, kita tak akan punya jalan keluar. Hapus semua jejak aksesmu di komputer ini, ambil salinan datanya, dan kita lewat pintu darurat belakang karena kamera di sana rusak sejak kemarin dan belum diperbaiki dan itu satu-satunya jalan " Jawab Galen cepat, berusaha tetap tenang meski matanya penuh kekhawatiran
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Nabila kembali ke depan layar untuk menghapus riwayat penjelajahannya, mengembalikan semua pengaturan seperti semula, lalu mencabut perangkat datanya dan menyelipkannya rapat di bagian paling dalam tasnya. Galen memeriksa sekeliling ruangan untuk memastikan tak ada barang yang tertinggal atau jejak yang terlihat, mereka berjalan keluar melalui pintu belakang yang gelap, menyusuri lorong sempit yang remang, bergerak secepat kilat namun senyap seperti bayangan yang berusaha menghilang sebelum tertangkap mata.
Sementara itu, di ruangan kerja Bram Teriaz di lantai paling atas, suasana terasa mencekam. Bram duduk diam dengan wajah dingin, sementara Arvin berdiri di sampingnya menatap layar monitor yang menampilkan rekaman samar sosok di ruang arsip dan senyum licik dan kejam mengembang di bibir Arvin.
"Ada tikus berani masuk ke sarang singa, Paman," ucapnya pelan namun penuh ancaman. "Dan tikus itu pasti sudah membawa kabur sesuatu yang sangat berharga. Aku akan cari siapa pun dia, sampai ke akar-akarnya. Dan aku pastikan dia akan menyesal telah berani menantangku." Sarkas Arvin
Jam di dashboard mobil menunjukkan 00:03.
Udara malam menusuk kulit, tapi keringat dingin Nabila justru membasahi punggungnya. Di pangkuannya, tas berisi flashdisk itu ia peluk seperti nyawa. Galen menyetir dengan satu tangan dan tangan satunya masih sesekali menyentuh bahu Nabila memastikan gadis itu tetap sadar.
"Kamu gemetar," ucap Galen pelan
"Aku... takut," Jawab Nabila jujur
"Tadi di lorong, kalau satpam itu buka pintunya 2 detik lebih cepat..." Lanjut Nabila
"Ssst… jangan diucapin" Potong Galen cepat
"Kita selamat, itu yang penting dan sisanya kita hadapi bareng" Lanjut Galen
Mobil berhenti di depan apartemen kecil Nabila di daerah kumuh, yang jauh dari gedung pencakar langit. Kontras banget sama dunia Teriaz, sebelum turun, Nabila menoleh
"Galen... makasih, Kalau bukan karena kamu, aku udah di kantor polisi sekarang atau lebih buruk” Ucap Nabila dan di balas tersenyum tipis oleh Galen
"Jangan berterima kasih dulu, perang kita baru mulai. Besok, kita harus temuin Bu Ratna" Jawab Galen
"Bu Ratna?" Tanya Nabila bingung
"Iya, dia satu-satunya orang yang berani ngetik surat-surat kotor paman Bram tapi juga satu-satunya yang nangis tiap habis lembur. Dia punya anak sakit, makanya dia diam saja, Kita kasih dia jalan keluar" Jawab Galen membuat Nabila mengangguk mengerti
Tapi sebelum dia buka pintu, ponsel Galen bergetar dan nama ARVIN TERIAZ tertera di ponselnya
Arvin {Kak, esok jam 9 pagi ada rapat mendadak. Semua kepala divisi beserta karyawan baru wajib hadir, karena ada 'pengumuman penting} setelah membaca itu tangan Galen mengepal di setir
"Itu bukan rapat," Gumamnya Galen
"Itu interogasi massal" Lanjut Galen membuat Nabila menutup mata
*****
Ke esokkan paginya …
Pukul 08:30 di ruang Ballroom lantai 5 Teriaz Group, seluruh karyawan berdiri berjejer kisaran 200 orang, udara dingin AC bercampur keringat gugup. Di depan, duduk Bram Teriaz dengan wajah datar seperti patung. Di sampingnya, Arvin bersandar di kursi, memutar pulpen dengan santai. Senyumnya tidak sampai ke mata.
"Selamat pagi," Suara Arvin menggema lewat mic
"Maaf ganggu waktu kalian, tapi semalam ada tikus yang masuk ke gudang makanan kita" Lanjut Arvin membuat tawa kecil beberapa direktur.
Tapi karyawan bawah menunduk, nggak berani napas.
"Kami kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yaitu data, bukti, dan kepercayaan" Ucap Arvin berdiri dengan jasnya mahal, tapi auranya beracun.
"Jadi, mulai hari ini, kami akan lakukan 'penyaringan internal'. Satu-satu"
Layar besar di belakangnya menyala, menampilkan rekaman CCTV buram ada sesosok perempuan dengan hoodie, masuk ke ruang arsip jam 22:17. Jantung Nabila yang berdiri di barisan paling belakang serasa jatuh ke lantai.
"Yang merasa dirinya ada di video ini, silakan maju" kata Arvin sambil tersenyum manis
"Atau... kita panggil satu-satu aja ya? Biar adil"
Satu jam pertama berjalan, nama para karyawan di panggil satu-persatu untuk diinterogasi 5 menit di atas panggung di depan semua orang. Ada yang nangis, ada yang pingsan dan Galen berdiri di samping panggung, sebagai dokter jaga tapi matanya nggak lepas dari Nabila. Giliran ke-198 yaitu giliran Nabila Azzahra.
"Silakan maju, Nona," kata MC
Langkah Nabila berat, 200 pasang mata menatapnya sambil bisik-bisik. Saat Nabila naik ke panggung, lampu sorot menyilaukan. Arvin menatapnya dari atas ke bawah dengan lambat
"Nabila Azzahra bagian administrasi Data yang masuk 3 minggu lalu, orangnya jarang berbicara, ranjin dan begitu sempurna" Arvin membaca dari map lalu dia mendekat membuat jarak mereka 30cm, Nabila bisa mencium wangi parfum mahal yang membuatnya mual.
"Kamu lembur semalam?" Tanya Arvin tiba-tiba
"Tidak, Pak" Jawab Nabila suaranya stabil, karena dia sudah latihan ini 100x di depan kaca
"Saya pulang jam 6" Lanjut Nabila
"Oh ya ? Padahal CCTV parkiran menangkap mobil ini keluar jam 00:10" Ujar Arvin memutar layar.
Mobil Galen yang Platnya ketutup, tapi Nabila tahu itu mobil Galen membuat darah Nabila dingin. Dia tahu Galen di sisi panggung sudah maju selangkah, siap menyela. Tapi Nabila lebih cepat.
"Oh itu, Pak," kata Nabila, menunduk.
"Saya... saya antar kakak saya, Pak. Dia satpam di gedung sebelah, motornya mogok. Saya pinjam mobil teman dan teman saya itu bekerjanya di klinik dokter Galen" Lanjut Nabila membuat semua mata menoleh ke Galen begitu juga dengan Arvin menyipit
"Galen?" Tanya Arvin tidak mengerti, Galen maju dengan tenang, wajahnya datar, professional
"Benar, saya yang pinjamkan mobil ke adik Nabila. Dia bantu saya antar obat ke pasien rawat jalan semalam dan ada bukti catatannya di klinik" Jawab Galen lalu dia menyerahkan selembar kertas palsu
Keheningan 3 detik yang terasa 3 tahun, Arvin menatap Nabila lalu Galen lalu kembali ke Nabila. Arvin tersenyum, senyuman yang paling Nabila takutkan.
"Kerja bagus, peduli sama keluarga" Kata Arvin
"Kamu boleh kembali ke tempat" Lanjut Arvin
“Terima kasih, pak” Jawab Nabila membungkuk dan turun.
Kakinya lemas dan saat dia lewat di belakang Arvin, dia mendengar bisikan pelan tepat di telinganya.
"Aku belum selesai sama kamu, Nona Nabila"
*****
Malamnya pada pukul 21:00 di rumah Bu Ratna, rumah petak kecil di pinggir rel, bertcat biru langit berpadu dengan putih. Di dalam, seorang anak 7 tahun terbaring dengan selang oksigen lalu Bu Ratna membuka pintu dan dia sangat kaget lihat Galen dan Nabila.
"Saya... saya nggak bisa, Dok," kata Bu Ratna langsung.
"Saya punya anak" Lanjut Nabila langsung berlutut bukan di depan bu Ratna, tapi di depan anak itu
"Tante nggak mau nyakitin Ibu," kata Nabila lirih
"Tante cuma mau keadilan, supaya nggak ada lagi anak lain yang kayak kakak Tante. Yang dirusak, terus dibuang" Lanjut Nabila
Nabila mengeluarkan flashdisk
"Di sini ada bukti, bukti yang bisa bikin Ibu dapat uang pensiun 10x lipat. Bukti yang bisa masukin orang-orang yang bikin Ibu ngetik surat kotor itu ke penjara." Ucap Galen membuat bu Ratna menangis, tangannya gemetar pegang flashdisk.
"Kalau aku... kalau aku ngomong..." Ucap Bu Ranta terbata-bata
"Kami yang lindungi Ibu" Potong Galen tegas
"Mulai malam ini, saya jamin ibu beserta anak ibu akan baik-baik saja" Lanjut Galen membuat Bu Ratna menatap anakny lalu menatap Nabila.
"Baik, saya bicara tapi kalian harus janji nama anak saya jangan disebut." Jawab Bu Ratna, Nabila mengangguk dengan air matanya jatuh juga
"Janji” Ujar Nabila dan Galen
*****
Kantor Teriaz di jam yang sama, Arvin melempar gelas ke dinding.
"BOHONG! Itu bohong semua!" Teriak Arvin
"Dokter sok suci itu pasti bantu dia!, dan perempuan itu... matanya. Matanya sama kayak korban yang dulu!" Lanjut Arvin sedangkan Bram duduk diam sambil merokok.
"Sudah, jangan teriak," Kata Bram dingin.
"Kalau dia tikusnya, biarkan dia jalan. Biar dia kumpulin semua tikus lain, nanti kita bakar satu sarang."Lanjut Bram lalu menekan tombol intercom.
"Siapkan tim 24 jam, awasi Nabila Azzahra dan Galen Teriaz dan angan sampai lepas." Titah Bram membuat Arvin tersenyum.
Kali ini senyumnya benar-benar sampai ke mata. Mata pemburu.
"Lama nggak main kejar-kejaran," Gumam Arvin
"Aku kangen" Lanjut Arvin
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!