Aroma lilin aromaterapi varian french vanilla menguar memenuhi setiap sudut kamar tidur utama berukuran delapan kali delapan meter itu.
Di tengah ruangan, sebuah ranjang king size bertiang empat dengan kelambu sutra putih yang menjuntai tampak megah, menjadi pusat dari segala kemewahan di dalam rumah baru di kawasan elit Pondok Indah tersebut.
Segala sesuatu di ruangan ini berharga fantastis—mulai dari karpet wol Persia yang melapisi lantai marmer Italia, hingga lampu gantung kristal yang berpendar keemasan, memantulkan kemewahan yang selama ini hanya ada di dalam mimpi terliar seorang Maya.
Maya, perempuan berusia dua 26 tahun dengan paras jelita khas blasteran, berdiri di depan meja rias berbingkai emas. Ia hanya mengenakan selembar lingerie sutra berwarna merah marun yang kontras dengan kulit putih bersihnya.
Jemari lentiknya yang dihiasi cat kuku senada perlahan turun menyusuri leher, tulang selangka, hingga akhirnya berhenti di atas perutnya. Di sana, di balik kain sutra yang tipis, ada sebuah permukaan yang mulai mengeras dan membuncit lembut.
Sebuah senyuman kemenangan terukir di bibir tipisnya yang dilapisi pemerah mahal.
"Dua bulan," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri di cermin. "Dua bulan, dan kau akan memberikan semua yang seharusnya menjadi milik kita, Sayang."
Melalui cermin besar itu, Maya menatap pantulan seorang pria yang tengah tertidur pulas di atas ranjang. Aryo. Pria berusia 40 tahun dengan rambut yang mulai menipis di bagian pelipis, namun tetap bugar dan berwibawa.
Setelan jas kerjanya teronggok begitu saja di atas sofa beludru di sudut kamar, menandakan betapa lelahnya pria itu setelah seharian mengurus gurita bisnis propertinya yang bernilai miliaran rupiah, sebelum kemudian membelah kemacetan Jakarta hanya demi mengurung diri di rumah ini bersama sang madu.
Tiga tahun. Butuh waktu tiga tahun bagi Maya untuk bertahan di dalam bayang-bayang. Tiga tahun menelan harga diri sebagai "perempuan simpanan", menyembunyikan hubungan mereka dari kilatan kamera rekan bisnis Aryo, dan menanti di apartemen sepi setiap kali pria itu harus pulang ke pelukan istri sahnya.
Namun malam ini, semua rasa lelah itu menguap tanpa bekas. Seminggu yang lalu, di bawah kesaksikan seorang penghulu sewaan dan dua orang saksi yang dibayar mahal, Aryo resmi mengikatnya dalam pernikahan siri.
Rumah mewah ini, bersama sebuah mobil sedan terbaru, adalah hadiah pernikahan sekaligus bukti bahwa Aryo telah sepenuhnya bertekuk lutut di bawah pesonanya.
Maya membalikkan tubuh, melangkah anggun mendekati ranjang. Setiap langkahnya tidak bersuara, tenggelam dalam tebalnya karpet Persia. Ia menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang, memandangi wajah gusar Aryo yang sedang terlelap.
Bahkan dalam tidurnya, gumpalan stres di dahi pria itu tidak sepenuhnya hilang. Maya tahu persis apa yang membebani pikiran suaminya.
"Hem, apa wanita mandul itu belum juga setuju?" tebak Maya bersuara lembut ketika melihat kelopak mata Aryo perlahan terbuka. Pria itu melenguh, silau oleh cahaya lampu kristal yang sengaja diredupkan.
Aryo bangkit, menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang yang dilapisi busa empuk. Ia memijat pangkal hidungnya, lalu menarik Maya ke dalam pelukannya.
Aroma parfum mahal Maya sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
"Sekar tidak mengatakan apa-apa saat aku meminta izin, Sayang," jawab Aryo, suaranya parau khas orang yang baru bangun tidur. "Dia hanya diam. Seperti biasanya. Kamu tau sendiri lah, dia memang semembosankan itu."
Maya mengerucutkan bibirnya, sengaja memperlihatkan gurat kekecewaan yang dibuat-buat namun mematikan bagi ego seorang pria.
"Ya tapi sampai kapan dia mau diam, Maaas? Aku kan sedang mengandung anak kamu. Anak kandungmu, darah dagingmu sendiri! Sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh perempuan kampung itu selama 15 tahun pernikahan kalian. Apa dia sengaja ingin menggantung statusku? Membuat anak kita lahir tanpa nama belakang ayahnya? Ish, keterlaluan!"
"Tenanglah, Maya Sayang. Jangan marah-marah gitu dong. Pikirkan kandunganmu." Aryo mengelus perut Maya dengan lembut, mencoba meredakan ketegangan.
Setelah dirasa Maya agak tenang, ia pun melanjutkan, "Sekar memang seperti itu sejak dulu. Dingin, kaku, jarang mengekspresikan emosi. Sejak awal kita menikah karena perjodohan bisnis mendiang ayahku, dia tidak pernah menuntut banyak hal. Dia tahu posisinya. Dan aku sudah berjanji padamu, hem ... begitu urusan pembagian aset beberapa proyek di Surabaya selesai, aku akan mengurus perceraian kami secara resmi di pengadilan. Rumah di Menteng akan tetap jadi miliknya, tapi seluruh sisa kejayaanku adalah milikmu dan anak kita."
Aryo mencubit manja ujung hidung Maya.
Maya pun terkekeh kecil, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Aryo, mendengarkan detak jantung pria itu.
Rasa puas kembali merayap di hatinya.
Bagi Maya, Sekar hanyalah seonggok masa lalu yang membosankan dari hidup Aryo. Seorang wanita paruh baya asal desa terpencil di Banyuwangi yang beruntung bisa dinikahi oleh pria kota yang sukses.
Wanita yang menghabiskan waktunya hanya dengan menyiram tanaman, memotong kain batik, dan berdoa di kamar yang gelap. Wanita yang lemah, yang tidak memiliki taji untuk melawan arus modernitas dan pesona ke perempuanan yang dimilikinya. Begitulah seorang Sekar di mata Maya.
"Aku hanya takut, Mas," lirih Maya, nadanya beralih menjadi rapuh dan penuh kepasrahan. "Aku takut dia melakukan sesuatu yang buruk pada kita. Maksudku ... orang-orang dari daerah asalnya ... bukankah mereka sering dikaitkan dan berurusan dengan hal-hal ... mistis?"
Aryo terkekeh geli, meskipun ada sedikit kilat tidak nyaman yang melintas di matanya selama sepersekian detik. Ia mengecup puncak kepala Maya.
"Kamu ini terlalu banyak menonton film horor, Sayang. Kita hidup di abad ke-21, di tengah-tengah kota Jakarta. Sihir atau apa pun itu tidak akan bisa menembus dinding beton rumah ini. Sekar itu wanita yang taat beribadah, dia tidak akan mengerti hal-hal sekotor itu. Ayahnya dulu memang seorang sesepuh adat yang dihormati di Kemiren, tapi ya ... itu hanya sebatas urusan budaya, bukan dukun santet."
Maya mengangguk, mencoba menerima penjelasan itu meskipun ada sebuah firasat aneh yang tiba-tiba melintas di benaknya. Firasat yang langsung ia tepis jauh-jajah. Ia memeluk Aryo lebih erat, menenggelamkan diri dalam kehangatan tubuh pria yang kini telah sepenuhnya ia kuasai.
Di dalam kepalanya, Maya sudah menyusun rencana untuk merombak taman depan rumah ini, memilih furnitur baru untuk kamar bayi mereka, dan membayangkan malam-malam megah sebagai nyonya besar Aryo yang sah di mata hukum dan sosial.
Namun, di luar sana, cuaca Jakarta yang semula gerah tiba-tiba berubah secara drastis. Langit malam yang bersih tanpa awan mendadak tertutup oleh gumpalan kabut hitam yang pekat.
Angin malam berembus kencang, menggoyang dahan-dahan pohon palem di halaman depan rumah mewah tersebut dengan suara gemerisik yang menyerupai bisikan kasar.
Srekk ... Srekk ....
Suara gesekan ranting pohon pada kaca jendela lantai dua terdengar ritmis, seolah-olah ada jemari kurus dengan kuku panjang yang sedang mengetuk-ngetuk kaca, meminta izin untuk masuk.
Maya sedikit tersentak, menoleh ke arah jendela besar yang tertutup gorden beludru tebal.
"Mas, kamu dengar suara itu nggak?"
Aryo yang sudah kembali memejamkan mata hanya bergumam tidak jelas, tangannya masih mendekap pinggang Maya dengan erat.
"Hanya angin, Maya ... tidurlah."
Maya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat. Ia menyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini hanyalah akibat dari hormon kehamilannya yang tidak stabil. Ia menutup matanya, bersiap untuk menjemput tidur di dalam kamar pengantin baru yang begitu megah dan hangat.
Wanita itu tidak pernah tahu, bahwa di saat yang bersamaan, ribuan kilometer dari tempatnya berada, di sebuah rumah joglo tua yang gelap di kaki Gunung Ijen, sebuah lilin merah baru saja dinyalakan.
Dan di depan lilin itu, sepasang mata yang telah kehilangan seluruh cahayanya sedang menatap lurus ke sebuah foto pernikahan yang robek menjadi dua bagian.
Malam itu, di dalam kamar yang penuh dengan kemewahan dan tawa kemenangan, sebutir benih tak kasat mata telah ditanam di bawah lantai ranjang mereka.
Benih yang tidak akan menghasilkan kehidupan, melainkan kehancuran yang begitu mengerikan.
Kabut tipis beraroma belerang selalu turun lebih cepat di lereng luar kaki Gunung Ijen, menyelimuti Desa Kemiren dalam keheningan yang dingin dan magis.
Di sanalah berdiri sebuah rumah joglo tua berbahan kayu jati kuno yang menghitam dimakan usia.
Rumah itu milik keluarga Sekar, sebuah bangunan yang tak pernah berubah bentuk sejak satu abad lalu.
Berbeda dengan rumah-rumah modern di sekitarnya yang mulai menggunakan dinding semen dan lampu neon cerah, rumah ini tetap setia pada temaramnya lampu teplok dan pelataran tanah yang bersih disapu setiap sore.
Di dalam kamar utama yang luas namun minim perabotan, Sekar Anjani berusia 38 tahun sedang duduk bersila di atas amben kayu. Rambut hitamnya yang panjang dan tebal disanggul rapi tanpa menyisakan satu helai pun yang berantakan.
Ia mengenakan kain kemben batik motif Gajah Oling—motif tertua khas Banyuwangi yang melambangkan kekuatan mistis dan penyerahan diri pada Sang Pencipta.
Di hadapannya, sebuah lemari kayu jati tiga pintu berdiri kokoh. Lemari itu adalah peninggalan almarhum ayahnya, Ki Demang, seorang sesepuh adat yang dihormati sekaligus sosok yang dikenal memiliki "kedekatan" dengan para penjaga tak kasat mata di Alas Purwo. Di dalam lemari itulah, seluruh rahasia garis darah mereka tersimpan rapat.
Suasana begitu sunyi, hanya diinterupsi oleh suara jangkrik sawah dan petikan samar senar gitar dari kejauhan.
Namun, ketenangan di wajah Sekar sama sekali tidak mencerminkan apa yang ada di dalam dadanya.
Seminggu yang lalu, Aryo datang ke rumah ini. Pria yang telah ia dampingi sejak masih merangkak dari titik nol sebagai kontraktor kecil itu datang bukan untuk membawa rindu, melainkan selembar kertas pernikahan siri dan sebuah pengakuan yang menikam jantung.
"Aku sudah menikah lagi, Sekar. Namanya Maya. Dia sedang mengandung anakku. Tolong mengertilah, pernikahan kita selama lima belas tahun ini hambar, bukan? Aku butuh penerus," ucapan Aryo malam itu kembali terngiang, bergema di dinding-dinding kayu joglo.
Saat itu, Sekar tidak menangis. Ia tidak menjerit, tidak melemparkan barang, bahkan tidak mencaci-maki suaminya.
Ia hanya menatap Aryo dengan sepasang mata bulatnya yang hitam pekat, sedalam telaga purba.
Ketenangan Sekar malam itu justru membuat Aryo ketakutan dan bergegas pergi kembali ke Jakarta malam itu juga, melarikan diri dari keheningan yang seakan mencekik.
Sekar menarik napas dalam-dalam melalui hidung, lalu mengembuskannya perlahan. Tangan kanannya bergerak membuka pintu lemari jati di hadapannya. Bunyi derit pintu kayu yang kering memecah kesunyian malam.
Di dalam lemari itu tidak ada pakaian mewah atau perhiasan emas. Hanya ada beberapa gulung kain kafan yang sengaja belum dipotong, botol-botol kaca berisi minyak wangi beraroma mistis, sebungkus besar kembang setaman yang mulai mengering, dan sebuah kotak kayu berukir naga.
Sekar meraih kotak kayu tersebut. Begitu tutupnya dibuka, aroma anyir samar yang tajam langsung menyeruak, mengalahkan bau kayu tua di ruangan itu.
Di dalam kotak terletak sebuah benda yang dibungkus kain hitam, sebuah boneka rajutan dari serat pohon pisang kering yang dililit oleh helaian rambut panjang—rambut milik Maya yang berhasil didapatkan oleh abdi dalem setia Sekar dari salon langganan wanita itu di Jakarta beberapa bulan lalu.
Di samping boneka itu, terdapat sebilah keris kecil tanpa hulu dan tiga buah paku bumi yang berkarat.
"Mas Aryo ...," bisik Sekar, suaranya begitu lembut, namun getarannya terasa dingin hingga menusuk tulang. "Kamu lupa siapa yang membantumu mendirikan fondasi bisnismu di kota besar itu, Mas? Kamu lupa darah siapa yang menetes di atas tanah proyek pertamamu agar bangunanmu tidak tumbang?"
Sekar mengingat kembali masa-masa awal pernikahan mereka. Aryo yang datang sebagai pemuda kota yang ambisius namun tak punya modal, bersujud di kaki Ki Demang untuk meminta restu dan bantuan.
Melalui ritual kuno dan pagar gaib yang ditiupkan sang ayah, jalur rezeki Aryo terbuka lebar. Setiap tender yang diikutinya selalu menang, setiap tanah yang dibelinya selalu menghasilkan untung berlipat gawang. Aryo menjadi raksasa properti karena dipercaya ia telah meminum air dari sumur spiritual keluarga Sekar.
Namun, begitu berada di puncak menara gading, Aryo silau. Ia menganggap semua kesuksesannya adalah murni hasil kerja keras otaknya. Ia mulai merasa malu memiliki istri seperti Sekar yang dianggapnya "teringgal zaman" karena menolak tinggal di Jakarta dan lebih memilih menjaga rumah leluhurnya di Banyuwangi.
Dan puncaknya, Aryo membawa perempuan lain ke dalam lingkaran hidupnya, menanam benih di rahim wanita yang tidak tahu diuntung.
Sekar mengambil boneka serat pisang itu, lalu mengelusnya dengan sayang, seolah-olah sedang menimang seorang bayi.
"Perempuan itu ... dia mengincar mahkotaku," gumam Sekar lagi. "Dia ingin anak yang dikandungnya mengambil alih seluruh hasil keringatku. Dia pikir, dinding beton di Jakarta bisa melindunginya dari angin timur?"
Mata Sekara mulai berkilat. Kemudian meletakkan boneka itu di atas lantai tanah di bawah amben. Ia lalu mengambil sebuah mangkuk kuningan kecil, mengisinya dengan air sumur tujuh mata air, serta menaburkan kembang kantil ke dalamnya.
Sekar memejamkan mata, merentangkan kedua tangannya di atas mangkuk tersebut sambil mulai merapalkan mantra dalam bahasa Jawa kuno yang bernada rendah dan berirama ritmis—sebuah tembang magis yang dikenal oleh para praktisi ilmu hitam tingkat tinggi sebagai Tembang Pring Sedapur.
“Niat ingsun amatek ajiku, Pring Sedapur dadi siji ... badar rupa, badar nyawa ... raga kang melu, raga kang lebur ....”
Saat mantra itu mengalir dari bibir Sekar, udara di dalam kamar tidur utama itu mendadak turun drastis hingga mendekati titik beku.
Lampu teplok yang menerangi ruangan mulai berkedip-kedip tidak stabil, apinya memanjang dan berubah warna menjadi kebiruan.
Dari sudut-sudut ruangan yang gelap, bayangan-bayangan hitam yang panjang mulai merayap di dinding, seolah-olah menghidupkan relief kayu joglo yang mati.
Di luar rumah, angin mendadak mengamuk. Rumpun bambu (pring) yang tumbuh lebat di belakang rumah joglo Sekar saling bergesekan dengan keras.
Suara derit bambu-bambu itu menghasilkan bunyi yang mengerikan, berpadu dengan suara angin malam, menciptakan ilusi suara gamelan pengiring kematian yang sedang ditabuh di tengah hutan.
Srekk ... Srekk ... Wuuusss ....
Bambu-bambu itu tidak hanya bergesekan; mereka seolah-olah sedang membungkuk, memberi hormat pada kekuatan kuno yang sedang bangkit dari tidurnya di dalam kamar Sekar.
Ini bukan sekadar sihir kiriman biasa yang bisa ditangkal oleh segelas air doa dari dukun amatir. Ini adalah Santet Pring Sedapur, jenis ilmu hitam legendaris yang mengikat satu rumpun keluarga target.
Sekali dilepaskan, ia tidak akan berhenti sebelum seluruh anggota rumpun target tersebut rata dengan tanah—punah tanpa sisa.
Sekar membuka mata. Manik matanya kini berubah menjadi hitam pekat secara keseluruhan, menghilangkan bagian putihnya selama beberapa detik.
Ia mengambil salah satu paku berkarat dari dalam kotak kayu, lalu dengan gerakan perlahan namun pasti, ia menusukkan paku itu tepat ke bagian perut boneka serat pisang di hadapannya.
Jleb.
Saat paku itu menembus rajutan serat pohon pisang, terdengar suara desisan halus seperti daging yang terbakar dari dalam mangkuk air kuningan, disusul dengan munculnya gumpalan darah kental yang merembes naik, mencemari kesucian air bunga kantil tersebut.
Sekar tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang sangat anggun, namun penuh dengan racun yang mematikan.
Di dalam bayangannya, ia bisa melihat dengan jelas wajah cantik madunya yang berada di Jakarta—wajah yang sebentar lagi akan berubah menjadi kanvas penderitaan.
"Nikmatilah malam-malam pertamamu di atas ranjang jarahanmu, Cah Ayu," bisik Sekar lembut sambil mengusap sisa darah yang menempel di jarinya ke kain kembennya sendiri. "Gendonglah bayi itu baik-baik. Karena setiap jengkal daging yang tumbuh di dalam rahimmu, adalah tumbal yang sedang kupersiapkan untuk menyuburkan tanah pekaranganku."
Sekar kembali merapikan letak kotak kayunya, menutup pintu lemari jati dengan perlahan, dan meniup lampu teplok hingga padam.
Kamar itu kini tenggelam dalam kegelapan total, menyisakan keheningan Banyuwangi yang mencekam, sementara di tempat yang sangat jauh, teror gaib itu baru saja mengetuk pintu korbannya.
Pagi hari di daerah Pondok Indah selalu diawali dengan harmoni yang tampak sempurna. Sinar matahari menembus celah gorden sutra, memantulkan kilau keemasan pada perabotan serba marmer di ruang makan.
Di atas meja, telah tersaji sarapan mewah—roti panggang gandum, sosis premium, buah-buahan segar, dan secangkir kopi hitam tanpa gula kesukaan Aryo.
Maya duduk di sana, penampilannya sudah rapi dengan gaun hamil berbahan katun lembut berwarna pastel yang menonjolkan aura kecantikannya yang sedang merekah.
Namun, ketenangan di wajah Maya hanyalah topeng. Di dalam dadanya, ada badai kecemasan yang terus bergemuruh semenjak desas-desus tentang dinginnya sikap Sekar sampai ke telinganya.
Aryo turun dari lantai dua dengan setelan kerja yang rapi, namun langkahnya terasa berat. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan, sisa dari malam-malam yang mulai diganggu oleh ketidaknyamanan yang tak kasat mata.
Begitu Aryo duduk, Maya tidak langsung menyodorkan kopi. Ia menatap suaminya dengan tatapan menuntut yang tajam, dibalut dengan senyuman manis yang dipaksakan.
"Mas," panggil Maya memulai percakapan, suaranya sengaja dibuat selembut mungkin, namun mengandung tekanan yang tak bisa diabaikan. "Kemarin sore aku ngobrol dengan pengacara yang kamu rekomendasikan. Dia bilang, berkas gugatan cerai untuk wanita di Banyuwangi itu belum juga kamu tanda tangani. Kenapa diulur-ulur terus sih, Mas. Apa yang kamu tunggu?"
Aryo menghentikan tangannya yang hendak meraih cangkir kopi. Ia menghela napas panjang, meletakkan kembali cangkir itu ke tatakannya dengan denting yang sedikit keras.
"Maya, tolong mengertilah. Ini bukan cuma soal tanda tangan di atas kertas. Menurunkan Sekar dari posisi istri sah itu rumit. Sebagian besar aset perusahaan atas nama bersama, dan beberapa proyek besar di Surabaya juga masih membutuhkan tanda tangan persetujuannya sebagai komisaris."
"Aset, aset, dan aset! Itu terus alasan kamu, Mas!" suara Maya mulai meninggi, ego mudanya mulai mengikis topeng kesabaran yang ia bangun. Ia menggebrak meja makan dengan pelan namun sarat emosi.
"Lalu bagaimana dengan statusku, Mas? Bagaimana dengan anak yang ada di dalam perutku ini? Kamu bilang kamu mencintaiku, kamu bilang hubungan kalian sudah hambar. Tapi kenapa kamu seperti ketakutan setengah mati pada perempuan kampung itu?" Emosi Maya kian menjadi.
Aryo menatap istri mudanya itu dengan kilat kemarahan yang tertahan. Sebagai seorang pengusaha besar, ia tidak suka ditekan, apalagi di rumahnya sendiri.
"Aku tidak takut, Maya! Aku hanya realistis. Kalau aku melangkah sembarangan, Sekar bisa menarik seluruh modal dan pengaruh keluarganya dari proyek-proyek utamaku. Memangnya kamu mau kita tinggal di rumah mewah ini tapi dalam keadaan bangkrut, hah?"
Maya tertegun sejenak mendengarkan bentakan Aryo. Akan tetapi, sebagai wanita yang lihai memanfaatkan kelemahannya, matanya langsung berkaca-kaca.
Air mata buatan—namun terlihat sangat nyata—mulai bergulir di pipinya yang mulus. Ia memegangi perutnya yang membuncit, lalu sesenggukan.
"Aku tidak peduli soal harta, Mas," bohong Maya, suaranya kini bergetar parah, beralih ke mode korban yang teraniaya. "Aku hanya ingin kepastian. Aku tidak mau setelah anak kita lahir nanti dia dicap sebagai anak haram oleh lingkungan sosial karena ibunya hanya istri siri. Aku ingin menjadi satu-satunya Nyonya Aryo yang sah di mata hukum. Aku ingin harga diriku kembali setelah tiga tahun bersembunyi seperti pencuri! Kamu paham kan, Mas."
Melihat air mata Maya disertai rengekannya yang mendayu, runtuh sudah pertahanan Aryo. Pria itu bangkit dari kursinya, melangkah memutari meja, dan langsung berlutut di samping kursi Maya.
Ia menggenggam jemari tangan wanita muda itu dengan erat, menciuminya berulang kali penuh penyesalan.
Ego kelelakian Aryo selalu goyah jika dihadapkan pada kerapuhan Maya—sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Sekar yang terlalu mandiri dan kokoh seperti batu karang.
"Maafkan aku, Sayang ... maafkan masmu ini, hem," bisik Aryo penuh penyesalan, menghapus air mata di pipi Maya dengan ibu jarinya.
"Jangan menangis, itu tidak baik untuk bayinya. Aku berjanji, minggu depan aku akan mengurus semuanya. Aku akan memaksa Sekar untuk menandatangani surat cerai itu, berapa pun kompensasi yang dia minta. Seluruh hidupku, masa depanku, hanya untukmu dan anak kita."
Maya perlahan meredakan tangisnya. Ia melirik Aryo dari balik bulu matanya yang basah, memastikan bahwa suaminya benar-benar telah terkunci dalam janjinya.
"Benar ya, Mas? Minggu depan? Kamu harus tegas. Kalau dia menolak, paksa saja. Atau bila perlu, bawa pengacara terbaikmu ke Banyuwangi. Tolong, lakukan ini demi anak kita, Mas."
"Iya, Sayang. Aku berjanji," jawab Aryo mantap, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mampu mengatasi Sekar.
Setelah badai perdebatan itu mereda, Aryo menghabiskan kopinya dengan terburu-buru dan berpamitan untuk pergi ke kantor.
Maya mengantarnya hingga ke pintu depan, memberikan kecupan manis di pipi Aryo seperti layaknya seorang istri sah yang penuh kasih. Ia melambaikan tangan saat mobil sedan mewah Aryo bergerak membelah gerbang rumah.
Begitu mobil itu hilang dari pandangan, senyuman manis di wajah Maya langsung lenyap, digantikan oleh tatapan dingin dan penuh kemenangan. Ia berbalik, berjalan kembali ke dalam rumah dengan langkah yang angkuh.
"Perempuan kampung," cibir Maya pelan, merujuk pada Sekar. "Lima belas tahun kamu mempertahankan pria ini, tapi pada akhirnya, akulah yang memenangkan seluruh hidupnya. Menangislah di desamu sampai kering, karena sebentar lagi kamu bukan siapa-siapa lagi."
Maya melangkah menuju ruang tengah untuk bersantai di sofa beludrunya. Namun, begitu kakinya menginjak anak tangga pertama menuju ruang keluarga, sebuah sensasi aneh mendadak menyerang perutnya.
Cess ....
Rasanya dingin, sangat dingin, seolah-olah ada sebongkah es batu yang mendadak dimasukkan secara paksa ke dalam rahimnya.
Rasa dingin itu kemudian dengan cepat berubah menjadi sensasi seperti dicubit dengan kuku yang sangat tajam dari arah dalam.
"Ah!" Maya memekik pelan, tangannya spontan mencengkeram perut.
Ia terengah-engah, berpegangan pada bodi pagar tangga besi tempa. Rasa sakit itu hanya berlangsung selama beberapa detik, namun sukses membuat keringat dingin menetes di pelipisnya. Maya mencoba menarik napas dalam-dalam, menenangkan dirinya sendiri.
"Hanya kontraksi palsu ... iya, pasti begitu. Kata dokter usia kehamilan segini kadang ada kontraksi kecil," gumamnya menenangkan diri, mencoba mengabaikan firasat buruk yang mendadak menyergap hatinya.
Maya memutuskan untuk mengabaikan rasa sakit itu dan berjalan menuju dapur bersih untuk mengambil segelas air hangat.
Namun, saat ia melintasi cermin besar yang terpasang di lorong antara ruang tamu dan ruang tengah, langkah kaki Maya mendadak terkunci. Bulu kuduknya meremang hebat secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.
Suasana di dalam rumah mewah itu mendadak terasa sangat sunyi, seolah-olah seluruh suara bising jalanan Pondok Indah di luar sana diserap oleh dinding-dinding rumah.
Udara di dalam lorong itu pun mendadak berbau aneh—bukan lagi wangi lilin french vanilla yang mahal, melainkan bau apek dari kain yang sudah bertahun-tahun disimpan di dalam gudang bawah tanah yang lembap.
Maya menoleh perlahan, menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
Awalnya, semuanya tampak normal. Namun, ketika Maya memperhatikan lebih dekat, ia menyadari ada sesuatu yang salah dengan pantulannya.
Di dalam cermin, di belakang bayangan tubuhnya sendiri, tampak sebuah siluet hitam yang samar-samar mulai terbentuk di area kegelapan lorong.
Siluet itu menyerupai seorang wanita yang berdiri dengan tegak, kepalanya dihiasi oleh sanggul besar yang rapi dengan beberapa tusuk konde yang berkilau redup.
Wanita di dalam cermin itu tidak memiliki wajah yang jelas, hanya berupa sepasang mata yang menyala kemerahan di balik kegelapan wajahnya, menatap lurus tepat ke arah mata Maya.
Mata Maya membelalak ketakutan. Jantungnya berdentum begitu keras di dalam dada hingga rasanya seperti mau melompat keluar.
"Si-siapa itu?!" teriak Maya, suaranya bergetar parah.
Ia langsung membalikkan tubuhnya ke belakang dengan cepat, bersiap untuk memaki siapa pun pelayan rumah yang berani mengejutkannya.
Namun, ketika ia melihat ke lorong nyata di belakangnya, tempat itu kosong melompong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada sofa kosong dan lampu dinding yang berpendar tenang.
Dengan tubuh yang gemetar, Maya kembali menatap ke arah cermin.
Siluet wanita berkonde itu telah lenyap. Yang tersisa hanyalah pantulan wajah Maya sendiri, yang kini tampak pucat pasi seperti mayat, dengan napas yang memburu tak beraturan. Maya mencengkeram dadanya yang terasa sesak.
"Halusinasi ... aku pasti cuma kecapean karena kurang tidur," bisiknya menenangkan diri, meskipun air matanya hampir menetes karena rasa takut yang teramat sangat.
Maya bergegas berlari menuju kamarnya di lantai dua, mengunci pintu rapat-rapat, dan menenggelamkan dirinya di balik selimut tebal.
Ia tidak tahu bahwa tuntutan egoisnya pagi itu telah memicu pergerakan sesuatu yang jauh lebih besar di ujung timur Jawa. Di Banyuwangi, kain kafan yang disiapkan Sekar baru saja digunting, disesuaikan dengan ukuran tubuh seorang wanita muda yang sebentar lagi akan menjemput ajalnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!