BAB 1: Pertemuan Berdarah di Gang Senggang
Malam di sudut kota Seoul sedang diguyur hujan deras ketika Han Seo-ah salah mengambil jalan pulang. Sebagai mahasiswi jurusan seni rupa di Universitas Hongik yang baru saja menyelesaikan tugas studio hingga larut malam, ia hanya ingin segera sampai di rumah sewaannya yang sempit, merebus mi instan hangat, dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Hujan yang turun mendadak membuat jarak pandangnya terbatas, dan payung transparan yang ia pegang nyaris tidak mampu menghalau angin kencang yang menusuk tulang.
Seo-ah memutuskan untuk mengambil jalan pintas melalui sebuah gang sempit di distrik Mapo yang biasanya sepi. Namun, takdir malam itu memiliki rencana lain yang jauh lebih gelap untuknya.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar dari arah depan. Seo-ah menghentikan langkahnya seketika. Jantungnya berdegup kencang. Ia memeluk erat tas kanvasnya yang berisi buku sketsa ke dada. Bau anyir yang pekat tiba-tiba menyeruak, mengalahkan aroma tanah dan air hujan yang basah. Itu adalah bau darah.
Sebelum Seo-ah sempat berbalik untuk melarikan diri, sebuah tubuh tinggi tegap ambruk tepat di hadapannya, bersandar pada dinding bata yang kotor.
Seo-ah memekik, spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suaranya tidak lolos. Di bawah remang lampu jalan yang berkedip-kedip karena korsleting, ia melihat seorang pria mengenakan kemeja sutra hitam yang kini basah kuyup oleh air hujan—dan darah segar yang terus mengalir deras dari luka di perutnya. Di tangan kanannya yang kekar dan dipenuhi tato hingga ke buku-buku jari, pria itu mencengkeram sebuah belati taktis perak yang berkilat tajam.
"Per... pergi..." bisik Seo-ah dengan suara yang bergetar hebat. Kakinya terasa lemas seperti jeli.
Pria itu mendongak perlahan. Di balik helaian rambut hitam legamnya yang basah menempel di dahi, sepasang mata sekelam malam menatap langsung ke manik mata Seo-ah. Tatapan itu sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit, kelemahan, atau ketakutan. Tatapan itu sangat dingin, tajam, dan memancarkan aura kekuasaan yang luar biasa intimidatif.
Pria itu adalah Jeon Jungkook, pemimpin tertinggi dari The Iron Raven, sindikat mafia paling ditakuti yang menguasai jalur perdagangan bawah tanah dari Seoul hingga Macau. Malam itu, ia baru saja dijebak oleh salah satu faksi pengkhianat di dalam organisasinya sendiri.
Jungkook menatap gadis di depannya. Di tengah guyuran hujan yang brutal, gadis itu tampak seperti malaikat yang salah turun ke neraka. Wajahnya yang bulat telur tampak pucat pasi karena ketakutan, namun matanya yang jernih memancarkan sebuah ketegaran yang aneh.
Sesuatu di dalam dada Jungkook—jantung yang biasanya berdetak hanya untuk kalkulasi bisnis dan eksekusi berdarah—tiba-tiba berdesir kencang. Sebuah getaran obsesif yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya mendadak bangkit.
"Kau..." suara Jungkook terdengar berat, serak, namun tetap terdengar bagai sebuah titah yang mutlak. "Jika kau berteriak atau mencoba menelepon polisi, aku pastikan ini adalah malam terakhirmu bernapas di dunia ini."
Seo-ah menelan ludah dengan susah payah. Logikanya meneriakinya untuk segera berbalik dan berlari sekencang mungkin. Namun, netranya menangkap robekan besar di perut pria itu yang terus memuntahkan darah hitam kemerahan. Jika dibiarkan sepuluh menit lagi di bawah guyuran hujan ini, pria ini pasti akan mati karena kehabisan darah atau hipotermia. Nurani kemanusiaannya menahan kakinya untuk tetap diam di tempat.
"Kau... kau bisa mati jika tidak segera diobati," cicit Seo-ah, suaranya nyaris tenggelam oleh suara guntur yang menggelegar di langit Seoul.
Jungkook terkekeh sinis, sebuah tawa rendah yang terdengar berbahaya meski setelahnya ia merintih, mencengkeram lukanya lebih erat.
"Mati? Iblis tidak mati semudah itu, Gadis Manis."
Tepat saat itu, gema derap langkah kaki dari sepatu bot militer terdengar dari ujung gang seberang. Cahaya dari senter beberapa pria berjas hitam tampak menyapu dinding-dinding gang. Mereka adalah para pengejar Jungkook, anak buah klan White Tiger yang dikirim untuk menghabisinya. Jungkook menggeram rendah, bersiap memaksakan tubuhnya untuk berdiri kembali. Ia mengangkat belatinya, siap melakukan pembantaian ronde kedua meskipun fisiknya sudah berada di ambang batas.
Melihat kepanikan yang mendekat, entah keberanian dari mana, Seo-ah melangkah maju. Ia menurunkan payungnya dan menarik lengan kemeja Jungkook yang basah dan lengket oleh darah.
"Ikut aku! Rumah sewaanku ada di ujung gang ini, pintunya menggunakan kode. Jika kau tetap di sini, mereka akan menemukanmu dan membunuhmu," bisik Seo-ah cepat, napasnya memburu.
Jungkook tertegun. Ia menatap tangan mungil yang berani menyentuh kulitnya yang bersimbah darah. Di dunia Jungkook, sentuhan berarti dua hal: pengkhianatan atau serangan. Namun, kehangatan dari jemari gadis ini terasa berbeda.
Sebuah senyuman miring yang misterius dan penuh intrik terukir di bibir tipis Jungkook yang mulai memucat.
Membantu seorang mafia adalah kesalahan terbesar dalam hidup Han Seo-ah, dan Jungkook memastikan gadis itu tidak akan pernah bisa memperbaiki kesalahan itu. Sekali sang singa mengunci mangsanya, ia tidak akan pernah melepaskannya.
"Baiklah," bisik Jungkook tepat di dekat telinga Seo-ah, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat akibat deru napasnya yang panas. "Selamatkan aku malam ini, Gadis Manis. Tapi ingat satu hal... bayarannya adalah seluruh sisa hidupmu."
Seo-ah tidak memedulikan ucapan aneh pria itu. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia memapah tubuh Jungkook yang besar dan berat, menyusuri koridor sempit menuju gedung apartemen tua berlantai tiga di ujung jalan. Ia memasukkan kode kunci digital dengan tangan yang gemetar hebat, membuka pintu, dan setengah menyeret Jungkook masuk ke dalam unit kamarnya yang kecil tepat sebelum beberapa pria berjas hitam melintasi depan gedung mereka.
Di dalam kamar yang hanya berukuran beberapa meter persegi itu, Jungkook ambruk di atas karpet berbulu putih milik Seo-ah, menodai kain bersih tersebut dengan warna merah pekat yang kontras. Kesadaran Jungkook mulai menipis, pandangannya mengabur, namun sepasang matanya tetap terkunci pada sosok Seo-ah yang sibuk mencari kotak pertolongan pertama di lemarinya.
Kau sudah melangkah masuk ke dalam duniaku, malaikat kecil, batin Jungkook sebelum kegelapan total merebut kesadarannya. Dan aku tidak akan membiarkanmu kembali.
Malam itu, di kamar sewaan yang sunyi, Han Seo-ah secara resmi telah menandatangani kontrak tidak tertulis dengan iblis paling berbahaya di Korea Selatan. Sebuah awal dari cinta gila yang akan memporak-porandakan hidupnya, membakar dunianya, namun juga mengikatnya dalam obsesi yang tak berujung.
next bab 2
BAB 2: Jerat Sangkar yang Mulai Mengencang
Aroma cairan antiseptik dan amis darah memenuhi setiap sudut kamar sewaan Han Seo-ah yang biasanya berbau vanila. Jam dinding tua di sudut ruangan telah menunjukkan pukul tiga pagi, namun kelopak mata Seo-ah sama sekali tidak bisa terpejam. Tangannya yang mungil masih bergetar ketika ia merapikan sisa-sisa perban, kasa steril, dan sebotol alkohol yang kini telah kosong setengahnya.
Di atas tempat tidur tunggal miliknya—satu-satunya kasur di kamar itu—pria asing bertato itu terbaring tak berdaya.
Seo-ah menatap pria itu dengan perasaan campur aduk antara ngeri dan takjub. Selama dua jam terakhir, ia terpaksa menjelma menjadi seorang perawat dadakan. Luka tusuk di perut pria itu cukup dalam, beruntung tidak mengenai organ vital. Dengan sisa keberanian yang ada, Seo-ah menjahit sendiri luka itu menggunakan jarum dan benang medis yang selalu ia simpan untuk keadaan darurat adiknya, lalu membalutnya dengan kencang.
Saat membersihkan tubuh pria itu dari darah, Seo-ah tidak bisa tidak terpaku pada untaian tato rumit yang menjalar dari lengan kanan, naik ke bahu, hingga ke sisi lehernya. Gambar seekor burung gagak hitam bermata merah yang mencengkeram rantai besi—sebuah lambang yang tampak begitu hidup dan mengancam.
Ditambah lagi dengan pahatan rahang yang tegas, hidung bangir, dan paras yang terlampau tampan untuk ukuran seorang kriminal.
"Siapa sebenarnya kau...?" bisik Seo-ah pelan pada kesunyian malam.
Tiba-tiba, sebuah erangan rendah memecah keheningan. Tubuh besar di atas kasur itu menegang. Dalam hitungan detik, bahkan sebelum Seo-ah sempat mundur, sepasang mata sekelam malam itu terbuka dengan sentakan tajam.
Grep!
"Ah!" Seo-ah memekik pelan saat pergelangan tangan kanannya dicengkeram dengan kekuatan yang luar biasa.
Jungkook bangkit secepat kilat, mengabaikan rasa perih yang luar biasa dari jahitan baru di perutnya. Gerakan refleksnya sebagai seorang alfa tidak bisa diredam. Ia langsung membalikkan posisi, mendorong tubuh mungil Seo-ah hingga terbaring di atas lantai karpet, lalu mengungkungnya di bawah tubuh besarnya.
Tangan kanan Jungkook yang bebas langsung mencengkeram leher Seo-ah, tidak sampai mencekik, namun cukup kuat untuk menghentikan pasokan udara gadis itu.
"Siapa kau? Di mana anak buah Park Ji-hoon?!" desis Jungkook dengan suara serak yang sarat akan ancaman mematikan. Pandangannya liar, dipenuhi kabut insting membunuh yang pekat.
"Uh... le... lepaskan... ini aku..." Seo-ah mencengkeram tangan Jungkook yang berada di lehernya, berusaha mencari celah untuk bernapas. Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang bulat. "Aku... gadis yang di gang tadi... kau aman di kamarku..."
Mendengar suara lembut yang bergetar itu, kesadaran Jungkook perlahan pulih dari efek kejut pasca-pingsan. Ia mengerjapkan matanya, memfokuskan pandangan pada wajah di bawahnya. Wajah polos yang beberapa jam lalu menatapnya di bawah guyuran hujan. Bau vanila yang menenangkan dari tubuh gadis ini langsung menyapu indra penciumannya, meredakan singa buas yang bergejolak di dalam dadanya.
Cengkeraman Jungkook di leher Seo-ah mengendur, berubah menjadi sebuah belaian lembut yang perlahan turun ke rahang gadis itu. Ibu jarinya mengusap sudut bibir Seo-ah yang gemetar.
"Ah... malaikat kecilku," bisik Jungkook, suaranya berubah menjadi bariton yang rendah dan terdengar sangat intim, mengirimkan getaran aneh yang membuat jantung Seo-ah berpacu gila-gilaan. "Jadi, kau benar-benar tidak melarikan diri?"
"Bagaimana aku bisa lari jika kau hampir mati di depanku?" cicit Seo-ah setelah berhasil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia mencoba mendorong dada bidang Jungkook.
"Dan tolong... menyingkirlah dari atasku. Lukamu bisa terbuka lagi."
Jungkook melirik ke arah perutnya sendiri yang kini terbalut perban putih bersih, meski ada sedikit noda darah yang kembali merembes akibat gerakan kasarnya tadi. Ia terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat seksi namun berbahaya. Alih-alih menyingkir, ia justru merendahkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara hidung mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
"Kau menjahitnya sendiri?" tanya Jungkook, menatap mata Seo-ah dengan binar ketertarikan yang mengerikan.
"Ya. Jadi tolong hargai usahaku dan duduklah di kasur," ketus Seo-ah, mencoba menyembunyikan ketakutannya di balik suara yang ditegaskan.
Jungkook tersenyum miring. Ia menyukai ini. Keberanian gadis ini adalah sesuatu yang langka. Biasanya, semua orang akan berlutut dan gemetar ketakutan hanya dengan mendengar namanya. Namun gadis ini, dengan tubuh sekecil ini, berani memerintahnya di dalam wilayahnya sendiri.
Jungkook akhirnya bangkit dan duduk di tepi tempat tidur, menyandarkan punggungnya yang tegap. Ia memperhatikan sekeliling kamar yang sangat sederhana itu. Ada sebuah rak buku kecil, tumpukan kanvas, cat minyak, dan beberapa sketsa wajah yang belum selesai. Kamar ini terlalu sempit, terlalu rapuh untuk menyembunyikan berlian seindah gadis di depannya.
"Siapa namamu?" tanya Jungkook dingin, kembali ke mode penguasa.
Seo-ah berdiri, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, lalu mengambil jarak aman di dekat meja belajarnya. "Han Seo-ah. Dan kau... setelah subuh nanti, bisakah kau pergi? Aku tidak ingin terlibat dalam masalah apa pun yang kau miliki."
Jungkook tidak langsung menjawab. Ia mengambil belati taktisnya yang tergeletak di atas meja kecil, memainkannya dengan lihai di antara jemari tatonya. Kilatan perak dari pisau itu memantul di netra hitamnya yang tajam.
"Pergi?" Jungkook mendongak, menatap Seo-ah dengan tatapan yang seolah bisa menembus langsung ke dalam jiwanya. "Han Seo-ah... dengar baik-baik. Sejak kau menarik lengan bajuku di gang itu, kau sudah kehilangan hak untuk menyuruhku pergi."
"Apa maksudmu? Aku menyelamatkan nyawamu!" protes Seo-ah, matanya membelalak tak percaya atas ketidakadilan ini.
"Dan karena kau menyelamatkanku, kau sekarang tahu wajahku. Kau tahu aku terluka. Di duniaku, membiarkan orang asing tahu kelemahanku adalah hal yang mustahil," ujar Jungkook dengan nada datar namun mutlak. Ia berdiri, meski tubuhnya sedikit limbung, ia berjalan perlahan mendekati Seo-ah yang langsung mundur hingga punggungnya membentur dinding.
Jungkook mengunci tubuh Seo-ah dengan meletakkan kedua tangan kekarnya di sisi kepala gadis itu. Aroma maskulin bercampur tembakau dan antiseptik dari tubuh Jungkook mengepung seluruh indra Seo-ah.
"Kau tahu siapa aku, Han Seo-ah?" bisik Jungkook, matanya berkilat penuh obsesi kegelapan. "Namaku Jeon Jungkook. Dan apa yang sudah masuk ke dalam jarak pandangku, akan menjadi milikku. Selamanya."
Seo-ah merasakan firasat yang sangat buruk. Udara di sekitarnya mendadak terasa mencekik. Pria di depannya bukan sekadar kriminal biasa. Dia adalah monster yang baru saja ia bukakan pintu rumahnya.
"Kau gila..." bisik Seo-ah dengan bibir bergetar.
Jungkook tersenyum, sebuah senyuman yang begitu menawan namun sekaligus mengirimkan sinyal bahaya yang mutlak. "Ya, aku gila. Dan kau yang membuatku menjadi seperti ini, Malaikat Kecil."
Sebelum Seo-ah sempat mencerna ucapan itu, suara bising dari helikopter yang terbang rendah di atas gedung apartemen mereka terdengar, disusul oleh suara deretan mobil mewah yang berhenti serentak di bawah sana. Jungkook melirik ke arah jendela, senyumnya semakin melebar. Anak buahnya, pasukan The Iron Raven, akhirnya telah menemukan sang tuan.
Jungkook kembali menatap Seo-ah, lalu berbisik pelan, "Waktu bertamuku sudah habis untuk hari ini. Tapi bersiaplah, Seo-ah-ya... sangkar emasmu sedang dibangun."
next bab 3
BAB 3: Jejak yang Ditinggalkan Sang Iblis
Deru mesin mobil-mobil mewah di luar gedung apartemen tua itu perlahan memudar, meninggalkan kesunyian yang mencekam di dalam kamar Han Seo-ah. Pagi baru saja menjelang, menyisakan langit abu-abu sisa hujan semalam. Namun bagi Seo-ah, atmosfer di dalam kamarnya telah berubah sepenuhnya. Kehangatan tempat tinggalnya yang sederhana seolah-olah telah terkikis habis, digantikan oleh jejak aura dingin yang ditinggalkan oleh Jeon Jungkook.
Seo-ah terduduk lemas di lantai karpetnya yang kini bernoda merah pekat. Tatapannya kosong, tertuju pada noda darah kering yang membentuk pola abstrak di atas kain berbulu putih tersebut.
Hanya beberapa menit yang lalu, setelah suara helikopter dan deretan mobil itu berhenti di bawah, pintu kamarnya diketuk dengan ketukan berirama khusus. Dua pria berjas hitam dengan tubuh tegap dan wajah tanpa ekspresi masuk dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Mereka membungkuk hormat hampir sembilan puluh derajat di depan Jungkook, menyebut pria itu dengan sebutan "Tuan Muda Jeon" dengan nada suara yang penuh ketakutan sekaligus pengabdian mutlak.
Jungkook tidak mengatakan sepatah kata pun saat anak buahnya memakaikan jubah hitam panjang untuk menutupi kemeja dan perban di perutnya. Namun, tepat sebelum ia melangkah keluar dari pintu kamar, Jungkook sempat berbalik. Tatapan matanya yang sehitam jelaga kembali mengunci manik mata Seo-ah. Pria itu menyentuh bibirnya sendiri dengan ibu jari yang bertato, lalu melemparkan sebuah senyuman miring yang membuat sekujur tubuh Seo-ah meremang.
"Sampai jumpa segera, Malaikat Kecilku," bisik Jungkook malam itu, suara baritonnya masih terngiang jelas di telinga Seo-ah hingga detik ini.
"Siapa sebenarnya dia...?" gumam Seo-ah dengan suara parau.
Ia memeluk lututnya, berusaha meredakan detak jantungnya yang masih berpacu gila-gilaan. Rasa takut yang amat sangat perlahan berubah menjadi kecemasan yang mendalam. Kata-kata terakhir Jungkook bahwa 'sangkar emas sedang dibangun' terdengar seperti vonis hukuman mati bagi kehidupan normal yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Seo-ah menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Ia harus membersihkan tempat ini. Ia tidak boleh membiarkan ada jejak apa pun yang tertinggal.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mengambil ember, air hangat, dan cairan pembersih dosis tinggi. Selama hampir satu jam, Seo-ah menggosok karpet dan lantai kayunya dengan brutal, mencoba menghapus warna merah yang mengingatkannya pada tatapan obsesif pria bernama Jeon Jungkook tersebut.
Namun, saat ia hendak membuang sisa perban dan kain kasa ke dalam kantong plastik hitam, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di bawah kolong tempat tidurnya.
Seo-ah berlutut, mengulurkan tangannya yang ramping untuk meraih benda tersebut. Detak jantungnya kembali melonjak saat jemarinya menyentuh permukaan logam yang dingin dan berat. Itu adalah belati taktis milik Jungkook. Belati perak bermata ganda dengan ukiran lambang burung gagak besi di gagangnya—senjata yang semalam digunakan pria itu untuk mengancamnya.
Pria itu sengaja meninggalkannya. Seo-ah tahu itu bukan sebuah ketidaksengajaan. Belati ini adalah sebuah pesan, sebuah tanda kepemilikan, atau mungkin sebuah jangkar yang sengaja ditanam Jungkook agar pria itu memiliki alasan mutlak untuk kembali ke kehidupannya.
"Pria gila," umpat Seo-ah pelan, melemparkan belati itu ke dalam laci mejanya yang paling dalam, lalu menguncinya rapat-rapat. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa jika ia mengabaikannya, jika ia bersikap seolah malam itu tidak pernah terjadi, dunia hitam pria itu tidak akan menyentuhnya lagi.
Tiga hari berlalu dengan ketenangan yang semu. Seo-ah mencoba menjalani rutinitasnya seperti biasa sebagai mahasiswi tingkat akhir. Ia pergi ke kampus, menghadiri kuliah anatomi seni, dan menghabiskan berjam-jam di studio lukis Universitas Hongik untuk menyelesaikan proyek kelulusannya. Namun, ia tidak bisa membohongi instingnya sendiri. Perasaan diawasi itu selalu ada.
Setiap kali ia berjalan menyusuri koridor kampus atau saat ia membeli kopi di kedai dekat rumah sewaannya, ia selalu merasa ada sepasang mata yang mengintai dari balik kaca mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh darinya. Ketika ia berbalik, mobil itu akan melaju pergi tanpa jejak. Rasa paranoid itu perlahan mulai mengikis kesehatan mentalnya.
Sore itu, hujan kembali membasahi kota Seoul. Seo-ah baru saja keluar dari gedung fakultasnya dengan langkah tergesa-gesa. Ia harus segera pergi ke rumah sakit distrik Seoul untuk menjenguk adiknya, Han Ji-woo, yang menderita penyakit jantung kronis dan membutuhkan biaya perawatan yang sangat besar. Biaya rumah sakit Ji-woo adalah alasan utama mengapa Seo-ah bekerja paruh waktu hingga larut malam dan hidup dengan sangat hemat.
Saat ia melangkah keluar dari gerbang kampus dan membuka payung transparannya, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam perlahan berhenti tepat di hadapannya, memotong jalurnya. Mobil itu begitu mewah dan mencolok, membuat beberapa mahasiswa yang lewat spontan menoleh dengan pandangan penasaran.
Pintu penumpang bagian belakang terbuka secara otomatis dari dalam.
Seo-ah membeku di tempatnya. Hawa dingin seketika merayap naik ke punggungnya saat ia melihat sosok yang duduk di dalam kabin mobil yang luas dan berbau parfum mahal tersebut.
Jeon Jungkook duduk di sana dengan santai. Pria itu tidak lagi mengenakan kemeja robek yang bersimbah darah. Hari ini, ia tampak sangat berkuasa dan luar biasa tampan dengan setelan jas formal tiga potong berwarna abu-abu gelap yang dipesan khusus dari penjahit terbaik di Italia. Rambut hitamnya ditata rapi ke belakang, menampilkan dahi dan alisnya yang tegas. Luka di perutnya tampaknya tidak lagi mengganggunya, karena ia duduk dengan tegak, menyilangkan satu kakinya yang panjang.
Di jemari tangannya yang bertato, ia sedang memegang sebuah cangkir teh porselen tipis. Ketika ia menoleh dan menatap Seo-ah, seulas senyuman lembut namun sarat akan dominasi terukir di wajahnya.
"Masuklah, Seo-ah-ya. Hujan di luar sangat dingin," ujar Jungkook, suaranya yang bariton terdengar sangat tenang namun tidak menerima penolakan sedikit pun.
Seo-ah melangkah mundur satu langkah, mencengkeram gagang payungnya erat-erat.
"Aku... aku harus pergi ke rumah sakit. Aku tidak punya waktu untuk urusanmu, Tuan Jeon."
Mendengar penolakan itu, kilatan berbahaya sempat melintas di mata Jungkook, namun dengan cepat digantikan oleh kekehan rendah yang terdengar santai. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil di dalam mobil, lalu menatap Seo-ah dengan tatapan yang sangat intens.
"Aku tahu kau ingin pergi menemui adikmu, Han Ji-woo. Aku juga tahu adikmu membutuhkan operasi transplantasi jantung secepatnya, dan biaya administrasinya di rumah sakit baru saja naik dua kali lipat hari ini," ucap Jungkook dengan nada datar, seolah sedang membacakan laporan cuaca harian.
Mata Seo-ah membelalak sempurna. Wajahnya seketika memucat mendengarnya. "Kau... bagaimana kau bisa tahu? Apa yang kau lakukan pada adikku?!"
Jungkook mengulurkan tangannya, memberikan isyarat agar Seo-ah mendekat. "Aku tidak menyentuh seujung rambutnya pun, Malaikat Kecil. Aku justru baru saja memindahkan adikmu ke ruang VIP terbaik di rumah sakit itu, dan seluruh biaya operasinya... sudah kulunasi setengah jam yang lalu."
Tubuh Seo-ah bergetar hebat. Antara rasa lega karena masalah terbesar dalam hidupnya selesai, dan rasa takut yang teramat sangat karena ia tahu, tidak ada yang gratis di dunia ini—terutama jika tawaran itu datang dari seorang pemimpin mafia terkutuk.
"Apa yang kau inginkan dariku?" bisik Seo-ah dengan suara yang nyaris hilang di antara derai hujan.
Jungkook menatapnya dengan binar kegilaan dan obsesi yang tidak lagi ia sembunyikan.
"Sudah kukatakan semalam, bukan? Bayarannya adalah sisa hidupmu. Masuk ke mobil ini, Han Seo-ah, atau aku akan membawa adikmu keluar dari rumah sakit itu sekarang juga."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!