Indonesia
NovelToon NovelToon

BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Aroma manis mentega yang terpanggang dan gurihnya bumbu ayam ungkep memenuhi setiap sudut rumah sederhana berukuran mungil itu. Di ruang tengah yang menyatu langsung dengan dapur, Adinda (33 tahun) sedang berdiri tegak di depan meja kayu panjang. Tangannya yang mungil namun cekatan memegang piping bag, dengan penuh konsentrasi membentuk kelopak bunga mawar dari buttercream di atas sebuah kue tart dua tingkat.

​Peluh membasahi keningnya, sesekali ia menyeka keringat itu dengan ujung lengannya agar tidak menetes. Rumah ini memang sangat sederhana, hanya memiliki satu kamar tidur, sehingga ruang tengahnya terpaksa merangkap menjadi tempat Adinda memproduksi pesanan katering rumahan dan kue online-nya. Kardus-kardus kemasan bertumpuk rapi di pojokan, berdampingan dengan mixer besar dan oven listrik yang masih terasa hangat.

​"Ibu, ini kotak dus untuk katering besok subuh sudah aku lipat semua. Totalnya ada lima puluh kotak," ucap seorang anak laki-laki remaja yang baru saja bangkit dari lantai ruang tamu. Dia adalah anak tunggal laki-laki Adinda yang kini sudah duduk di bangku SMP. Wajahnya yang polos tampak lelah, namun senyumnya tetap merekah demi membantu sang ibu.

​Adinda menoleh, menatap putranya dengan binar mata penuh kasih tangga. "Terima kasih banyak ya, Sayang. Kamu hebat banget. Sekarang kamu mandi terus belajar ya, jangan malam-malam tidurnya."

​"Siap, Bu!" Anak laki-lakinya itu segera melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Adinda yang kembali menghela napas panjang, menatap modal usahanya yang berputar tipis demi mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anaknya yang makin besar.

​Tepat saat Adinda meletakkan mawar terakhir di atas kue, pintu depan rumah terbuka dengan kasar. Bagas masuk dengan langkah gontai, namun wajahnya memancarkan binar penuh gairah yang aneh. Ia baru saja pulang dari pertemuan rutin dengan kakak-kakaknya di rumah sang Kakak Pertama.

​Bagas melemparkan tas kerjanya ke atas sofa kain yang sudah mulai menipis busanya, lalu mendudukkan diri di dekat meja kerja Adinda tanpa berniat membantu atau sekadar menyapa istrinya yang sudah seharian berdiri.

​"Din, seminggu lagi kita ada acara besar," buka Bagas, suaranya terdengar menggebu-gebu penuh ambisi. "Tadi aku habis kumpul sama Mas Broto dan kakak-kakak yang lain. Ibu kan mau ulang tahun yang ke-70. Kita sepakat mau bikin pesta kejutan besar-besaran. Pokoknya harus serba mewah, biar Ibu senang dan tetangga-tetangga tahu kalau anak-anak Ibu itu sukses semua!"

​Tangan Adinda yang sedang merapikan pinggiran kue seketika terhenti. Dadanya berdesir perih setiap kali mendengar kata acara besar atau kumpul keluarga dari mulut suaminya. Itu selalu berarti satu hal pengeluaran yang tidak masuk akal.

​"Pesta mewah lagi, Mas?" Tanya Adinda, berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang meski hatinya mulai bergemuruh. "Bukannya dua bulan lalu kita baru saja patungan untuk biaya syukuran rumah baru Mbak Yanti?"

​Bagas langsung mengibaskan tangannya, tidak suka dengan nada keberatan dari istrinya. "Itu kan beda, Din! Ini ulang tahun Ibu yang ke-70, angka keramat. Mas Broto bilang, semua kado, dekorasi, sampai kue ulang tahunnya harus dipesan dari vendor terkenal. Gengsi dong kalau biasa-biasa saja. Tadi dihitung-hitung, per kepala alias satu anak diminta iuran 450 ribu rupiah. Mas Broto minta uangnya harus ditransfer paling lambat besok malam."

​"Empat ratus lima puluh ribu?" Suara Adinda naik satu oktav. Angka itu mungkin kecil bagi Mas Broto yang seorang manajer atau kakak-kakak Bagas yang lain yang ekonominya mapan. Tapi bagi Adinda, uang senilai itu adalah keuntungan bersih dari tiga hari ia begadang membuat kue. Uang itu juga yang rencananya akan ia simpan untuk membeli sepatu sekolah baru anaknya yang sudah jebol.

​"Mas, kondisi keuangan kita lagi seret. Uang di dompetku sekarang itu uang modal untuk belanja daging katering besok subuh. Kenapa kamu langsung mengiyakan tanpa diskusi sama aku dulu?" protes Adinda, matanya mulai berkaca-kaca menatap suaminya yang tampak acuh tak acuh.

​"Halah, cuma 450 ribu, Din! Masa buat Ibu sendiri kamu perhitungan begitu? Kakak-kakakku yang lain saja langsung bayar tanpa protes. Cuma aku yang belum setor karena nunggu pulang kerja!" Bagas mulai menyolot, tidak mau kelihatan kalah atau miskin di depan saudaranya.

​Adinda menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari jalan tengah agar suaminya tidak perlu mengeluarkan uang sebesar itu. Matanya beralih menatap kue tart dua tingkat yang baru saja ia dekorasi dengan sangat indah.

​"Mas, kalau memang tujuannya untuk merayakan ulang tahun Ibu dan biar hemat budget, bagaimana kalau untuk kue ulang tahunnya biar aku saja yang buatkan?" usul Adinda dengan nada memohon. "Kamu lihat sendiri kan, kue buatanku ini gak kalah bagus dari toko-toko besar. Rasanya juga enak, banyak pelanggan kateringku yang ketagihan. Kalau aku yang buat, kita bisa potong iuran itu. Kita tinggal belikan Ibu kado yang sederhana saja. Uang 450 ribu itu besar banget buat kita sekarang, Mas..."

​Mendengar usulan Adinda, bukannya luluh atau bangga, wajah Bagas justru berubah masam. Ia menatap kue tart hasil kerja keras Adinda dengan pandangan meremehkan, lalu mendengus sinis.

​"Kamu mau bikin kue buat acara ulang tahun Ibu yang ke-70? Hahaha, jangan bikin malu aku di depan keluarga besar, Din!" ejek Bagas dengan tawa yang merendahkan.

​Kalimat itu bagai hantaman gada yang telak menghujam dada Adinda. "Maksud kamu apa, Mas?"

​"Ya sadar diri dong, Din! Kue buatanmu itu cuma kelas kue rumahan, kue murahan yang dijual online buat orang-orang biasa! Mas Broto itu mau pesan kue di pastry shop terkenal di pusat kota yang harganya jutaan, yang ada sertifikat dan kotaknya mewah! Kalau kamu yang bikin, nanti dipajang di meja utama, apa gak malu-maluin aku? Nanti dikira aku gak modal dan cuma bisa ngasih kue bikinan istri yang kuenya standar begini!"

​Bagas menunjuk kue tart di atas meja dengan jarinya, menghina setiap tetes keringat yang Adinda tumpahkan sejak siang tadi. "Sudahlah, gak usah sok mau bantu kalau malah bikin aku jatuh gengsi di depan kakak-kakakku. Tugas kamu itu cuma siapin uangnya. Jangan sampai besok malam aku dihujat di grup WhatsApp keluarga karena cuma aku yang belum bayar iuran!"

​Adinda membeku di tempatnya berdiri. Tangannya gemetar memegang meja kayu, menahan rasa sakit luar biasa yang menjalar di hatinya. Suami yang seharusnya menjadi pelindung dan pendukung utamanya, justru menjadi orang pertama yang menginjak-injak harga diri dan hasil kerja kerasnya demi sebuah gengsi buta yang dipaksakan.

​Di balik tirai kamar, anak laki-laki mereka yang baru saja selesai mandi tegak berdiri. Tangan remajanya mengepal kuat mendengarkan setiap kalimat hinaan yang keluar dari mulut ayahnya sendiri kepada ibunya yang telah bekerja mati-matian setiap hari.

BAKTI BUTA SUAMIKU

Malam itu, kamar kontrakan sederhana berukuran mungil terasa begitu mencekam. Adinda duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang menyala di tengah kegelapan ruang tengah yang juga berfungsi sebagai area dapur kateringnya. Di layar perbankan digital, angka Rp450.000 sudah tertera di kolom nominal transfer. Jari Adinda melayang di atas tombol kirim, gemetar hebat bukan karena nominalnya, melainkan karena rasa sesak yang menghimpit dadanya.

​Ini adalah uang modal yang seharusnya dipakai untuk membeli stok cup kue dan pelengkap pesanan katering besok subuh. Namun, ketukan demi ketukan pesan di grup WhatsApp keluarga Bagas yang dipimpin oleh Mas Broto terus meneror sejak sore.

"Nomor Enam, bagaimana? Yang lain sudah lunas semua. Tinggal kamu yang belum. Jangan sampai acara ulang tahun Ibu yang ke-70 ini terhambat cuma karena satu orang telat patungan. Kita harus kompak kasih kejutan mewah."

​Kalimat dari kakak tertua Bagas itu bagai cambuk yang terus melecut harga diri suaminya. Dan seperti biasa, Bagas akan melimpahkan beban itu ke pundak Adinda.

​Bagas yang saat itu baru keluar dari kamar mandi, langsung berdiri di depan Adinda sambil berkacak pinggang. "Sudah kamu transfer, Din? Mas Broto sudah nanya lagi itu di grup. Malu aku kalau diledek terus."

​Adinda mendongak, matanya yang sembap menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ini uang terakhir yang aku punya untuk muter modal besok, Mas. Kalau aku transfer ini, besok aku harus putar otak buat cari pinjaman bahan kue."

​"Alah, besok kan ada uang masuk lagi dari pesanan orang! Sini, biar aku saja yang pencet!" Bagas merebut ponsel dari tangan Adinda, lalu dengan cepat memasukkan PIN dan menekan tombol konfirmasi.

Bip.

​Transaksi berhasil. Uang itu melayang ke rekening Mas Broto.

​Bagas bernapas lega, tersenyum puas seolah baru saja memenangkan sebuah penghargaan besar. "Nah, begitu dong. Berbakti sama orang tua itu gak akan bikin miskin, Din. Kamu lihat saja nanti, Ibu pasti senang sekali melihat kejutan pesta mewah dari anak-anaknya."

​Adinda tidak menjawab. Ia hanya mengambil kembali ponselnya dengan tangan dingin. Di dalam hatinya, sebuah janji telah terpatri dengan sangat kuat. Ini yang terakhir. Ini adalah uang terakhir yang aku relakan untuk gengsi kalian. Dan besok, adalah kehadiran terakhirku di tengah keluarga yang tidak pernah menganggapku ada.

Setelah Bagas melangkah pergi dengan wajah puas karena berhasil mentransfer uang Rp450.000 ke rekening Mas Broto, Adinda hanya bisa terduduk lemas di kursi dapur. Tangannya mengepal kuat di atas meja kayu yang dingin. Dadanya naik-turun menahan sesak. Suaminya baru saja merampas modal perputaran katering untuk besok subuh, meninggalkan Adinda dalam posisi paling terjepit sebagai seorang pengusaha.

​Adinda melirik jam dinding di atas kulkas 1 pintu miliknya. Sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pasar induk akan mulai ramai dua jam lagi, dan para pemasok daging serta sayuran tidak akan mau memberikan toleransi utang jika ia tidak membawa uang tunai yang cukup.

Dengan langkah berat dan hati yang hancur, Adinda bangkit. Ia berjalan pelan menuju satu-satunya kamar di rumah mungil itu kamar yang sebenarnya menjadi tempat tidur mereka bertiga, namun ruang tengahnya sudah disekat lemari kain untuk memberikan privasi bagi anak laki-lakinya yang beranjak remaja, Dimas.

​Adinda menggeser pintu sekat perlahan. Di dalam, Dimas yang masih mengenakan seragam sekolah yang belum sempat diganti, tengah duduk di kasur lantai sambil membaca buku pelajaran SMP-nya. Mendengar langkah sang ibu, Dimas mendongak.

​"Ibu? Belum tidur? Bukannya besok subuh harus antar katering?" tanya Dimas, suaranya yang mulai pecah khas remaja terdengar sangat lembut.

​Adinda memaksakan sebuah senyum tipis, meski matanya tidak bisa berbohong kalau ia sedang menahan tangis. "Belum, Sayang. Ibu... Ibu mau ambil sesuatu di bawah lemari kamu."

​Dimas segera menggeser duduknya, memberikan ruang bagi ibunya. Adinda berlutut di lantai semen yang dilapisi karpet plastik, lalu meraba bagian kolong lemari pakaian plastik milik Dimas. Dari sana, ia menarik sebuah kotak kue kaleng bekas yang sudah berkarat di bagian pinggirnya. Di dalam kotak itulah, Adinda menyembunyikan uang tunai hasil sisa keuntungan katering kecil-kecilan selama berbulan-bulan.

​Uang itu sengaja ditaruh di kamar Dimas agar tidak terendus oleh jemari Bagas yang ringan tangan jika menyangkut urusan iuran keluarga besarnya. Itu adalah uang impian Adinda. Uang yang rencananya akan ia kumpulkan sedikit demi sedikit sebagai DP untuk membeli rumah sederhana milik mereka sendiri, agar mereka bisa keluar dari lingkaran tuntutan keluarga mertua yang toxic.

Dengan tangan bergetar, Adinda membuka kaleng tersebut. Ia mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari sana. Jiwanya terasa tercabik. Impiannya untuk punya rumah sendiri terpaksa mundur lagi selangkah demi menambal bakti buta suaminya.

​"Bu..."

​Suara Dimas memecah keheningan. Anak remaja itu menatap lembaran uang di tangan ibunya dengan tatapan nanar. Dia bukan anak kecil lagi yang bisa dibohongi dengan alasan uangnya disimpan di bank. Dimas tahu persis untuk apa kotak kaleng itu selama ini dirawat oleh ibunya.

​"Bu, buat apa Ibu menarik uang itu?" tanya Dimas langsung, nadanya bergetar penuh rasa ingin tahu sekaligus cemas. "Itu kan uang tabungan Ibu buat kita beli rumah nanti? Kenapa diambil malam-malam begini?"

​Adinda membeku. Ia buru-buru menyeka setetes air mata yang lolos di pipinya, lalu berbalik menghadap anaknya. "Gak apa-apa, Nak. Ibu cuma... cuma butuh tambahan modal sedikit untuk belanja daging di pasar nanti malam. Uang modal yang tadi terpakai dulu."

​Dimas mengepalkan tangannya di atas lutut. Wajah remajanya mengeras, memancarkan kedewasaan yang dipaksakan oleh keadaan. "Dipakai Abah lagi, kan, Bu?" tembak Dimas telak. "Abah pakai uang Ibu lagi buat patungan keluarga Mas Broto?"

​"Dimas, gak boleh begitu sama Abah..." Adinda mencoba menenangkan, walau hatinya sendiri membenarkan ucapan anaknya.

"Tapi itu kenyataannya, Bu!" Suara Dimas meninggi, matanya mulai berkaca-kata karena tidak tega melihat ibunya selalu mandi keringat di depan oven tapi hasilnya selalu dirampas. "Tadi siang aku dengar Abah teleponan sama Om Broto di depan rumah. Mereka bahas soal pesta ulang tahun Nenek yang ke-70 minggu depan. Mereka mau bikin acara mewah, pakai kado mahal dan kue yang besar. Kenapa harus Ibu yang susah payah cari uang malam-malam begini sementara Abah cuma tahu beres?"

​Dimas bergeser mendekati ibunya, lalu memegang tangan Adinda yang terasa dingin. "Bu, sepatu sekolahku yang jebol saja Ibu bilang harus nunggu bulan depan karena uangnya belum cukup. Tapi kenapa kalau buat pesta Nenek, Abah langsung ambil uang Ibu begitu saja? Ini gak adil buat Ibu, gak adil juga buat aku!"

​Tangisan yang sejak tadi Adinda tahan akhirnya pecah juga di hadapan anak laki-lakinya. Ia memeluk tubuh Dimas dengan erat, menumpahkan segala rasa sesak, lelah, dan terhina yang selama ini ia pendam sendiri sebagai seorang istri. Dimas membalas pelukan ibunya dengan kuat, matanya menatap tajam ke arah pintu sekat luar, tempat di mana ayahnya mungkin sedang asyik bermain ponsel tanpa beban.

​"Maafkan Ibu ya, Dimas. Maafkan Ibu belum bisa kasih kehidupan yang tenang buat kamu," bisik Adinda di sela tangisnya.

​Dimas menggelengkan kepala di pundak ibunya. "Ibu gak salah. Ibu sudah kerja keras setiap hari buat aku. Tapi aku muak melihat Abah dan keluarga Nenek yang selalu menuntut ini itu tanpa peduli kita makan atau tidak."

​Dimas melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata di pipi Adinda dengan ibu jarinya yang kasar. "Bu, ambil saja uang tabungan itu untuk modal besok. Tapi aku mohon, ini harus jadi yang terakhir kalinya Ibu mengalah. Kalau Abah atau keluarga besar itu minta iuran lagi minggu depan untuk pesta mewah mereka, Ibu harus tolak. Kalau Ibu gak berani, biar aku yang maju menghadapi Abah."

Mendengar kalimat tegas dari anak laki-lakinya yang baru SMP itu, Adinda terpaku. Di dalam ruangan sempit itu, di bawah pendar lampu lima watt kamar Dimas, Adinda seperti mendapatkan suntikan keberanian baru. Kesabarannya yang selama ini layaknya karet yang ditarik ulur, malam itu resmi telah putus di titik paling ujung.

​Adinda mengangguk mantap sambil menggenggam sisa uang tunai di tangannya. "Iya, Nak. Ibu janji. Ini adalah uang terakhir yang Ibu keluarkan untuk kebodohan Abahmu. Pekan depan, di acara ulang tahun itu, Ibu tidak akan diam lagi."

​Malam itu, Adinda menutup kembali kotak kalengnya dengan tekad yang sudah bulat. Dia akan menyelesaikan pesanan katering besok subuh dengan sebaik mungkin, mengumpulkan tenaga, karena di hari-H pesta kejutan sang mertua nanti, Adinda tidak akan datang sebagai menantu yang tertindas, melainkan sebagai seorang wanita yang siap menghancurkan topeng gengsi palsu keluarga besar suaminya.

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Denting jam dinding tua di ruang tengah baru saja berdentang tiga kali. Suasana di luar rumah berukuran tipe 36 itu masih didekap sunyi yang pekat. Angin malam yang dingin berembus menyelinap melalui celah-celah ventilasi udara yang sempit, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Di saat sebagian besar orang masih terbuai dalam mimpi, sepasang netra kecokelatan milik Adinda sudah terbuka sempurna.

​Tubuhnya terasa remuk. Rasa lelah akibat menangis semalam berpadu dengan ketegangan otot setelah seharian berdiri di depan oven, menyisakan pening yang berdenyut di pelipisnya. Namun, Adinda tidak punya kemewahan untuk memanjakan rasa sakit. Dengan tarikan napas panjang yang diembuskan perlahan, ia menyingkirkan selimut tipis yang menutupi kakinya. Ia menoleh ke samping kasur utama. Di sana, Bagas masih mendengkur halus dengan posisi telentang, sama sekali tidak terusik oleh dinginnya fajar atau beban pikiran yang nyaris menenggelamkan istrinya.

​Adinda bangkit dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan derit kasur yang bisa membangunkan suaminya. Setelah membasuh wajah dan menunaikan kewajibannya pada Sang Pencipta di sudut kamar yang sempit, Adinda segera melangkah menuju dapur yang menyatu dengan ruang tengah.

​Langkah kakinya mendadak terhenti di ambang pintu sekat. Jantungnya berdesir menyadari lampu dapur berdaya rendah sudah menyala. Di dekat meja kayu panjang, sesosok remaja laki-laki bertubuh jangkung namun kurus sedang sibuk memotong simpul karet pada karung beras mini berukuran lima kilogram.

​"Dimas?" bisik Adinda dengan suara parau khas bangun tidur.

​Anak laki-laki berusia empat belas tahun itu menoleh. Wajah remajanya yang masih menyisakan sisa-sisa kantuk langsung ditarik menjadi sebuah senyuman lebar. "Selamat pagi, Ibu. Berasnya sudah aku cuci sekali, ini mau dibilas yang kedua kali sebelum masuk ke magic com besar."

​Adinda melangkah cepat mendekati putranya. Ia merebut wadah alumunium besar dari tangan Dimas. "Ya ampun, Nak. Ini baru jam tiga lewat sedikit. Kenapa kamu sudah bangun? Hari ini hari Jumat, kamu ada ujian sekolah, kan? Sana tidur lagi, biar Ibu yang kerjakan semua."

​Dimas bersikeras menahan wadah itu, enggan melepaskannya. "Aku gak ngantuk, Bu. Lagian kalau nunggu Ibu bangun dan ngerjain semuanya sendiri, nanti kateringnya telat diantar jam enam subuh. Jam setengah enam kan orang-orang kantor yang pesan sudah mulai bersiap."

​"Tapi tugas kamu itu belajar, Dimas. Bukan ikut begadang dan mandi keringat di dapur subuh-subuh begini," mata Adinda mulai berkaca-kaca. Ada rasa bersalah yang teramat besar menghujam dadanya setiap kali melihat anak tunggalnya harus menanggung beban kedewasaan sebelum waktunya.

​Dimas menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap lekat manik mata ibunya dengan sorot mata yang teramat teduh, namun menyimpan ketegasan yang luar biasa.

​"Bu, aku ini anak laki-laki Ibu. Aku sudah SMP, sudah paham mana yang benar dan mana yang salah," ucap Dimas dengan suara yang mulai memberat khas remaja pria. "Aku gak akan bisa tidur nyenyak di dalam kamar kalau tahu Ibu banting tulang sendirian di sini. Aku gak mau liat Ibu capek, apalagi kalau uang yang Ibu hasilkan dari keringat subuh begini ujung-ujungnya cuma diminta Abah buat urusan keluarganya yang gak tahu diri itu."

​Kalimat jujur dari bibir Dimas membuat kerongkongan Adinda tercekat. Ia tidak mampu berkata-kata. Dimas, anak yang dahulu ia timang dengan penuh kehati-hatian, kini telah tumbuh menjadi tameng hidupnya. Alasan Dimas begitu sederhana, namun menghantam ulu hati Adinda dengan telak. Anak itu terlalu sering menjadi saksi bisu bagaimana jatah uang belanja dapur mereka, uang spp sekolahnya, hingga modal usaha ibunya, menyuburkan gengsi keluarga besar sang ayah.

​"Ya sudah," Adinda akhirnya mengalah, menyeka sudut matanya yang basah dengan ujung daster. "Kamu bantu kupas bawang merah dan bawang putih saja, ya? Ingat, kalau matanya perih, jangan dikucek."

​"Siap, Kapten!" Dimas memberi hormat kecil, mencoba mencairkan suasana yang sempat melow.

​Ibu dan anak itu pun mulai membelah kesunyian fajar dengan harmoni kerja sama yang luar biasa. Adinda mulai menyalakan kompor gas dua tungku miliknya. Satu tungku digunakan untuk mengungkep ayam dengan bumbu kuning racikan khasnya yang harum, sementara tungku lainnya memanaskan wajan besar untuk menumis sayur mayur. Dimas duduk di kursi plastik kecil, dengan telaten mengupas satu per satu kulit bawang, memotong cabai, dan menyiapkan kotak-kotak dus yang sudah ia lipat semalam.

​Di tengah riuhnya bunyi sutil yang beradu dengan wajan dan aroma masakan yang mulai menggoda selera, ingatan Adinda melayang pada lingkaran keluarga mereka yang begitu kontras.

​Bagi Dimas, keluarga dari pihak Abah Bagas adalah sekumpulan orang asing yang menakutkan sekaligus menjengkelkan. Sejak kecil, Dimas tidak pernah merasa akrab dengan mereka. Di mata Ibu mertua Adinda dan kakak-kakak Bagas yang sukses, Bagas dan keluarganya hanyalah barisan nomor enam yang tidak punya nilai jual. Setiap kali ada acara kumpul keluarga di rumah Mas Broto, Dimas selalu dipandang sebelah mata. Sepupu-sepupunya yang seumuran, yang merupakan anak-anak dari kakak pertama hingga kakak keempat Bagas, selalu mengenakan pakaian bermerek, memegang gawai keluaran terbaru, dan bercerita tentang liburan ke luar kota atau kursus-kursus mahal.

​Sementara Dimas? Dia hanya akan duduk di sudut ruangan, mengenakan baju terbaiknya yang sebenarnya sudah agak kekecilan dan warnanya mulai pudar, menjadi sasaran sindiran tipis dari bibi-bibinya. "Eh, Dimas, sekolahnya gimana? Gak ikut les bahasa Inggris kayak si Kevin? Eman lho, sekarang kalau gak les nanti ketinggalan zaman." Atau kalimat menyakitkan dari sang Nenek, "Bagas, itu anakmu dikasih makan yang banyak, kok kurus begitu. Gak kayak cucu Ibu yang dari Mas Broto, gemuk-gemuk dan bersih."

​Mereka tidak pernah mau tahu, atau sengaja menutup mata, bahwa alasan Dimas tidak ikut les dan tubuhnya kurus adalah karena uang yang seharusnya untuk memfasilitasi pertumbuhan Dimas habis disedot oleh sistem iuran bagi rata yang mereka ciptakan sendiri.

​Sebaliknya, hubungan Dimas dengan keluarga mendiang orang tua Adinda berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Orang tua Adinda memang sudah tiada sejak Adinda masih sekolah dan ia hanya memiliki seorang kakak laki-laki kandung bernama Danu. Satunya-satunya kakak Adinda itu kini tinggal di luar kota, terpisah jarak ratusan kilometer karena tuntutan pekerjaan sebagai kepala cabang sebuah bank swasta.

​Meski terpisah jarak, kasih sayang keluarga Adinda mengalir deras tanpa jeda. Anak-anak dari Mas Danu semuanya perempuan, tiga bersaudara. Dua di antaranya kini tengah menempuh pendidikan kuliah di universitas ternama di luar negeri dengan beasiswa dan biaya penuh dari Mas Danu, sedangkan si sulung sudah bekerja mapan di Jakarta. Karena Mas Danu tidak memiliki anak laki-laki, dan anak-anak perempuannya sudah mandiri, Dimas otomatis menjadi keponakan laki-laki satu-satunya sekaligus kesayangan di keluarga besar Adinda.

​Setiap awal bulan, sebuah notifikasi transferan dari rekening Mas Danu selalu masuk ke ponsel Adinda. Nominalnya tidak pernah kurang dari satu setengah juta rupiah. Itu adalah uang saku khusus yang dikirimkan Mas Danu untuk Dimas.

Dek, ini uang buat jajan atau beli buku si Dimas, ya. Tolong jangan dipakai buat yang lain. Kalau kurang, bilang sama Mas. Mas gak punya anak cowok, jadi Dimas itu ya anak cowok Mas satu-satunya," begitu pesan singkat yang selalu dikirimkan Mas Danu setiap kali selesai mentransfer.

Hal ini tentunya di ketahui mbak Anik istri Mas Danu yang juga sangat baik dan tidak mempermasalahkan suaminya sering mentransfer uang ke Adik nya, ini pun atas perintah mbak Anik, mbak ipar Adinda.

​Namun, Adinda tahu diri. Uang dari kakaknya itu selalu ia simpan rapat-rapat dalam rekening terpisah khusus untuk masa depan Dimas, atau digunakan hanya jika ada kebutuhan sekolah Dimas yang benar-benar mendesak. Adinda sengaja merahasiakan uang bulanan dari Mas Danu ini dari pengetahuan Bagas.

Jika sampai Bagas tahu kalau Dimas selalu mendapat uang bulanan dari pamannya, Adinda sangat yakin uang itu akan langsung dipotong atau dijadikan alasan oleh Bagas untuk lepas tangan dari tanggung jawabnya membiayai anak kandungnya sendiri. "Kan ada uang dari Mas Danu, pakai itu dulu saja lah, Din. Ini Mas Broto lagi minta patungan buat bayar pajak mobil Ibu," Adinda bahkan sudah bisa meraba isi kepala suaminya jika rahasia itu terbongkar.

​"Bu, ayam ungkepnya sudah matang, ya? Biar aku pindahkan ke wadah peniris," suara Dimas membuyarkan lamunan Adinda.

​"Eh, iya, Nak. Hati-hati panas," ujar Adinda lembut, menatap putranya yang dengan cekatan menggunakan kain lap untuk mengangkat panci panas.

​Melihat punggung Dimas yang bergerak lincah, hati Adinda menghangat sekaligus teriris. Di tempat ini, di keluarga yang serba kekurangan ini, Dimas adalah permata yang paling berharga. Di saat keluarga Abahnya menganggap Dimas sepihak sebagai anak dari 'saudara yang miskin', bagi keluarga Mas Danu, Dimas adalah pangeran kecil yang selalu dirindukan. Kontras yang luar biasa ini kian memantapkan hati Adinda bahwa ia tidak boleh terus-menerus mengalah. Jika ia hancur karena kebodohan Bagas, maka masa depan Dimas yang begitu dicintai oleh pamannya juga akan ikut hancur.

​Tepat pukul lima pagi, seluruh pesanan katering berupa lima puluh kotak nasi ayam bakar madu lengkap dengan lalapan dan sambal bajak telah selesai dikemas dengan rapi. Dus-dus itu tersusun kokoh di atas meja, siap diangkut. Keringat bercucuran deras dari pelipis Dimas, membasahi kaos oblong hitam yang dipakainya. Namun, mata remaja itu berbinar puas.

​"Alhamdulillah, selesai tepat waktu, Bu!" seru Dimas riang sembari menyeka dahi dengan punggung tangannya.

​"Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya, anak ganteng Ibu. Tanpa kamu, Ibu pasti keteteran," Adinda mendekati Dimas, mengusap kepala putranya yang sedikit basah oleh keringat dengan penuh kasih sayang. "Sekarang kamu buru-buru mandi, ganti seragam sekolah. Ibu siapkan sarapan buat kamu."

​"Iya, Bu. Aku mandi dulu." Dimas segera melesat menuju kamar mandi dengan langkah ringan.

​Sesaat setelah pintu kamar mandi tertutup, pintu satu-satunya kamar tidur di rumah itu terbuka. Bagas keluar dengan langkah malas, menguap lebar-lebar sambil menggaruk perutnya yang buncit di balik kaos tidurnya yang sudah melar. Ia berjalan menuju dapur, matanya langsung tertuju pada tumpukan kotak katering yang rapi di atas meja, lalu beralih ke arah wajan dan panci kotor yang menumpuk di wastafel.

​Tanpa ada rasa bersalah, tanpa ada ucapan terima kasih atau pertanyaan apakah istrinya lelah karena sudah terjaga sejak jam tiga pagi, Bagas langsung membuka tudung saji di meja makan kecil.

​"Din, sarapan apa pagi ini? Kok cuma ada tempe goreng sama sambal sisa semalam? Gak ada ayam atau telur gitu? Aku kan mau berangkat kerja, butuh energi banyak," keluh Bagas dengan nada menuntut, wajahnya cemberut menatap isi piring di atas meja.

​Adinda yang sedang mengelap sisa minyak di permukaan kompor menghentikan gerakannya. Ia membalikkan badan, menatap suaminya dengan pandangan datar sebuah pandangan dingin yang belum pernah Bagas lihat sebelumnya dari mata sang istri yang biasanya selalu tunduk dan patuh.

​"Ayamnya ada di dalam kotak katering itu, Mas. Semuanya sudah dihitung pas untuk pesanan orang. Kalau kamu mau makan ayam, silakan beli sendiri di luar pakai sisa uang gaji kamu bulan ini yang tidak kamu pakai untuk iuran Mas Broto," jawab Adinda, suaranya terdengar sangat tenang, namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris udara pagi yang dingin.

​Bagas tersentak mendengar jawaban ketus istrinya. Wajahnya seketika berubah merah padam, merasa harga dirinya sebagai kepala rumah tangga terusik di pagi buta.

​"Kamu ini kenapa sih, Din? Pagi-pagi sudah sinis begitu! Cuma nanya sarapan saja jawabnya pakai bawa-bawa urusan iuran keluarga! Itu kan sudah beres semalam, kenapa dibahas lagi? Lagian, sebagai istri harusnya kamu itu ikhlas melayani suami, bukan malah perhitungan soal makanan begini!" bentak Bagas, suaranya meninggi memenuhi ruangan.

​Tepat pada saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Dimas keluar dengan seragam putih-biru yang sudah rapi dan wangi. Mendengar bentakan ayahnya kepada ibunya, langkah kaki Dimas langsung berderap cepat. Ia tidak melangkah menuju kamarnya, melainkan langsung berdiri tegap di antara Adinda dan Bagas, memisahkan ibunya dari jangkauan kemarahan sang ayah.

​"Abah kalau mau sarapan enak, ya modalin Ibu uang belanja yang benar!"

potong Dimas dengan suara lantang, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Bagas tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Uang belanja dari Abah bulan ini saja sudah dipotong buat iuran beli kursi pijat Nenek bulan lalu. Semalam Abah ambil lagi uang modal kue Ibu buat patungan pesta ulang tahun Nenek. Sekarang Abah masih protes kenapa lauknya cuma tempe? Abah harusnya malu sama diri sendiri!"

​Bagas terbelalak. Ia merasa bagai disambar petir mendengar anak kandungnya sendiri yang baru bau kencur berani menceramahinya dengan kalimat yang begitu menohok.

​"Dimas! Berani kamu ya bicara begitu sama Abah?! Siapa yang ngajarin kamu jadi anak kurang ajar begini, hah?! Pasti Ibumu yang selalu cekokin kamu dengan omongan jelek tentang Abah dan keluarga Abah!" Bagas menunjuk wajah Dimas dengan jari telunjuknya yang bergetar karena amarah yang memuncak.

​"Gak ada yang ngajarin aku, Bah! Aku punya mata buat melihat sendiri gimana Ibu tiap hari kerja keras sampai sakit sakitan, sementara Abah cuma sibuk mikirin gengsi di depan Om Broto!" balas Dimas, suaranya tidak bergetar sedikit pun, mencerminkan keteguhan hati yang luar biasa. "Keluarga Abah gak pernah peduli sama kita! Di mata mereka kita ini cuma nomor sekian, tapi Abah malah mau jadi pahlawan kesiangan yang ngorbanin isi dapur kita sendiri!"

​"Dimas, sudah, Nak..." Adinda memegang pundak Dimas, mencoba meredam emosi anaknya yang menggebu-gebu. Adinda tidak ingin fokus anaknya pecah karena hari ini Dimas harus menghadapi ujian di sekolahnya.

​Bagas mendengus kasar, memalingkan mukanya dengan napas yang memburu. "Bagus ya, Din. Kamu berhasil mendidik anak ini jadi pembangkang. Ingat ya Dimas, tanpa Abah yang kasih kamu makan dan tempat tinggal di sini, kamu itu gak bakal bisa sekolah!"

​Mendengar kalimat terakhir Bagas, Dimas justru tersenyum sinis sebuah senyuman penuh rahasia yang membuat Bagas mengernyitkan dahi. Dimas tahu persis, rumah yang mereka tempati ini dibeli dari hasil keringat ibunya sendiri, dan uang sakunya yang melimpah selama ini berasal dari Om Danu, kakak ibunya yang sangat menyayanginya, bukan dari sepeser pun uang gengsi milik ayahnya.

​Dimas tidak membalas lagi makian ayahnya. Ia berbalik menghadap Adinda, menyalami tangan ibunya dengan khidmat lalu mencium pipi Adinda lembut. "Bu, Dimas berangkat sekolah dulu ya. Ibu jangan capek-capek. Soal katering, nanti biar Pak RT yang bantu angkut pakai motornya kan sudah janji semalam."

​"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan ya. Kerjakan ujiannya dengan tenang. Ibu selalu doakan kamu," bisik Adinda dengan senyuman tulus, mengabaikan keberadaan Bagas yang masih berdiri dengan wajah masam di sudut dapur.

​Setelah Dimas melangkah keluar dan menutup pintu pagar, suasana di dalam rumah kembali hening dan mencekam. Bagas menyambar jaket kerjanya dengan kasar dari atas sofa, menatap Adinda dengan pandangan penuh kemarahan sebelum melangkah pergi tanpa pamit.

​Adinda berdiri mematung di tengah dapurnya yang mulai mendingin. Ia menatap kepergian suaminya dengan hati yang tidak lagi merasakan sakit, melainkan kekosongan yang teramat sangat. Kesabaran Adinda telah habis terbakar fajar hari ini. Di dalam benaknya, sebuah rencana besar telah tersusun rapi. Pesta ulang tahun sang mertua yang ke-70 minggu depan tidak akan hanya menjadi panggung pamer kemewahan bagi Mas Broto dan Bagas, melainkan akan menjadi panggung di mana Adinda akan merobek seluruh kepalsuan itu dan mengambil kembali kemerdekaan hidupnya bersama Dimas.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!