Hari libur panjang yang berlangsung dari Jumat hingga Minggu dimanfaatkan oleh para pembina ekstrakurikuler Pramuka SMA Pelita Bangsa, dengan menggelar kemping di kawasan perbukitan Puncak.
Kedatangan mereka di tempat itu, langsung disambut udara pegunungan yang sejuk berpadu dengan hamparan pepohonan hijau menghadirkan suasana yang begitu menenangkan. Para peserta bergotong-royong mendirikan tenda diiringi canda tawa ceria. Membuat suasana di kawasan itu terasa lebih semarak.
"Wah, nggak nyangka, ya! Pekerjaan kita selesai lebih cepat," celetuk salah seorang peserta.
"Pekerjaan apapun, jika dilakukan bersama maka akan menjadi lebih ringan," sahut yang lainnya.
Setelah mendirikan tenda selesai, mereka melanjutkan kegiatan lainnya. Namun, tak ada yang menyangka, bahwa di balik kegiatan pramuka tersebut, petaka akan datang yang mengubah jalan hidup dua orang remaja selamanya, akibat ulah seseorang.
Semua bermula, ketika para peserta mengikuti kegiatan pencarian tanda jejak. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok, untuk menyusuri jalur yang telah ditentukan oleh para Pembina Pramuka. Setiap kelompok hanya perlu mengikuti tanda panah di sepanjang rute yang akan mereka lalui sampai akhirnya kembali ke perkemahan.
Di tengah perjalanan, Zeya tiba-tiba berhenti. Daniel yang berjalan di belakangnya ikut berhenti.
"Kenapa...? Apa kamu lelah?" tanya pemuda itu dengan nada khawatir.
Zeya menggeleng pelan. "Aku hanya haus, mau minum dulu," jawabnya lalu mengeluarkan botol air mineral dari dalam tas rangselnya.
Daniel akhirnya menunggu, sampai gadis yang dikaguminya sejak usia kanak-kanak itu selesai minum.
Kesempatan itu pun digunakan oleh seseorang untuk mengerjai mereka berdua. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman licik. Setelah memastikan tak ada yang melihatnya, ia melangkah cepat menghampiri tanda panah, lalu. dengan gerakan cepat, ia memutarnya ke arah berlawanan. Setelah itu ia langsung bersembunyi di balik pohon besar.
Selesai minum, Zeya dan Daniel melanjutkan perjalanan mengikuti arah tanda panah yang telah diubah tersebut tanpa sedikit pun merasa curiga.
Di balik pohon seseorang tersenyum puas, melihat Daniel dan Zeya melewati jalur yang salah. "Selamat menikmati petualangan kalian..." bisiknya pelan, lalu buru-buru mengubah tanda panah ke arah semula.
Kemudian tanpa menoleh lagi, ia segera melanjutkan perjalanan mengejar kelompoknya, seolah tak pernah berbuat apa-apa.
Sementara itu, Daniel dan Zeya berjalan semakin jauh masuk ke dalam hutan terpisah dari kelompoknya. Jalanan mulai terjal dan berbatu. Zeya yang berada di depan lantang menghentikan langkahnya, membuat Daniel terheran.
"Ada apa?" tanya Daniel dengan sikap waspada.
"Sepertinya kita salah jalur deh, Niel," jawab Zeya, seakan baru tersadar, sembari memandang sekeliling.
"Tapi kita sudah mengikuti tanda panah, kan?" tanya Daniel bingung.
"Justru itu yang membuatku heran," jawab Zeya.
"Ya, kamu benar. Kita sudah jauh berjalan, tapi satu pun ketemu dengan mereka. Bahkan bayangannya pun nggak kelihatan," ujar Daniel sambil mengembuskan napas kasar.
Suasana mendadak terasa mencekam. Kekhawatiran tampak jelas di wajah keduanya.
"Terus kita harus bagaimana, Nyel?" Zeya sedikit panik. Ia lalu menatap jam di pergelangan tangannya. "Ini sudah sore, bentar lagi malam. Kalau kita benar-benar tersesat...?"
"Aku akan menghubungi salah satu pembina." Remaja tujuh belas tahun itu, lantas mengeluarkan ponselnya, Namun, sayangnya saat ingin menelpon malah tak ada sinyal sama sekali.
"Si4l...kenapa nggak ada sinyal, sih?" umpatnya kesal. "Coba ponselmu, Ze. Barangkali ada sinyal?"
Zeya merogoh ranselnya mengeluarkan ponsel miliknya, tetapi ternyata ponselnya justru kehabisan daya.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk kembali. Akan tetapi, tak semudah itu menemukan jalan kembali karena banyaknya persimpangan jalan setapak di dalam hutan membuat mereka bingung.
"Niel, aku ngerasa ada yang sengaja ngerjain kita, deh," celetuk Zeya.
"Berarti ada orang yang iseng memutar tanda panah," sahut Daniel. "tapi itu kita pikirkan nanti. Lebih baik kita segera mencari jalan keluar menuju ke perkemahan sebelum malam."
Zeya mengangguk pelan membenarkan ucapan Daniel. Mereka lalu berjalan kembali. Hingga petang menjelang dan jalan setapak mulai diselimuti kabut tipis.
"Ze, kalau capek kita istirahat sebentar," cetus Daniel.
Zeya menggeleng. "Nggak ada waktu, kita harus segera keluar dari sini."
Mereka pun terus berjalan, meski suasana mulai gelap. Hingga akhirnya berhasil keluar dari hutan.
"Alhamdulillah," seru mereka.
"Lihat ada pondok di sana," tunjuk Daniel saat pandangannya menemukan pondok kayu tua di pinggir hutan.
Keduanya melangkah menuju pondok tersebut. Daniel membuka pintu perlahan, ternyata pondok itu adalah gudang tempat menyimpan pupuk dan peralatan pertanian lainnya.
"Ze, gimana kalau kita bermalam di sini saja?" tanya Daniel. "Besok pagi baru kita lanjut lagi. Aku tahu kamu pasti lelah."
Zeya menimbang-nimbang, lalu mengangguk pelan. Meski agak berantakan, setidaknya tempat itu bisa melindungi mereka dari dinginnya udara malam.
...
Sementara itu, di area perkemahan, kepanikan langsung menyelimuti seluruh peserta, ketika salah seorang peserta melaporkan jika Daniel dan Zeya belum kembali.
"Kita harus mencari mereka sampai ketemu!" kata pembina dengan tegas.
Pencarian pun segera dilakukan. Para pembina bersama beberapa peserta menyusuri setiap jalur yang ada sambil memanggil nama mereka berdua.
"Daniel!"
"Zeyaaa!"
Namun, jawaban yang mereka terima hanyalah gema suara yang memantul di antara pepohonan. Malam pun semakin larut. Angin bertiup semakin kencang, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Di dalam pondok itu, tubuh Zeya mulai menggigil hebat. Kedua tangannya saling mengusap lengan, tetapi rasa dingin justru semakin menjadi.
Daniel yang melihat keadaan itu tampak gelisah. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara.
"Zeya..." panggilnya pelan.
Gadis itu mengangkat wajahnya bingung. "Ada apa?"
Daniel menelan ludah. "Maaf...tapi satu-satunya cara supaya badan kita tetap hangat adalah saling berbagi panas tubuh."
Zeya tersentak, dengan reflek mundur sambil memeluk dirinya sendiri. "Apa maksudmu, Niel? Jangan macam-macam kamu, ya! Jangan mengambil kesempatan di atas kesulitan yang kita hadapi sekarang!"
Daniel menggeleng cepat. "Astaga, Ze! Jangan salah paham. Aku cuma mau memelukmu, itu saja!" jelasnya dengan sabar.
"Aku hanya nggak mau kamu terkena hipotermia. Aku janji nggak akan macam-macam."
Tatapan mata Daniel begitu tulus, hingga rasa ragu di hati Zeya perlahan menghilang. Kemudian menganggukkan kepala.
"Janji, ya?" Zeya mengulurkan jari kelingkingnya.
Daniel perlahan mendekat, lalu menyambut uluran tangan Zeya. Dia lantas memeluknya dengan erat dan penuh kehati-hatian, memastikan gadis itu merasa nyaman sambil bersandar di dinding pondok. Rasa lelah akibat berjalan seharian akhirnya mengalahkan segalanya. Tanpa sadar, keduanya tertidur dalam posisi saling berpelukan.
...
Sinar mentari pagi menyapa lereng perbukitan, ketika seorang pria paruh baya berjalan menuju pondok miliknya. Wajahnya tampak terkejut saat mendapati pintu pondok terbuka.
Karena penasaran, orang itu segera mendekat lalu melongok ke dalam. Seketika matanya membelalak.
"Astaga...!" pekiknya saat melihat pemandangan yang tersaji di depan mata.
Tanpa berpikir panjang, orang itu pun langsung berteriak sekeras-kerasnya.
"Heii...! Ada dua anak muda berbuat maksiat di sini! Mereka berzina!"
Teriakan itu memecah kesunyian pagi. Dalam hitungan menit, warga di sekitar lokasi langsung berdatangan dan mengerumuni pondok tersebut.
Apa yang terjadi selanjutnya?
.
.
.
Seting cerita beberapa tahun sebelum semua putra keluarga Al Ghifari menikah.
Suara gaduh dari warga membangunkan Daniel dan Zeya. Begitu membuka mata, keduanya langsung tersentak kaget. Daniel spontan melepaskan pelukannya, sementara Zeya buru-buru menjauh dengan wajah memucat.
"Kami... kami bukan seperti yang kalian pikirkan!" ucap Daniel sambil menggeleng panik.
"Benar, Pak... kami sedang tersesat dan menumpang bermalam di sini..." sambung Zeya dengan suara bergetar.
Namun, tak seorang pun mau mendengarkan. "Kalian ini, sudah ketahuan berbuat tidak benar, tapi masih saja mengelak!"
"Ayo, cepat kita bawa ke Balai Desa, biar Tetua Adat yang mengadili mereka!"
"Setuju...!"
Tanpa memberi kesempatan menjelaskan, warga lantas menggiring mereka berdua menuju Balai Desa untuk dihadapkan kepada Kepala Desa beserta para Tetua Adat.
Setibanya di sana suasana Balai Desa yang biasanya tenang, pagi itu mendadak berubah riuh. Puluhan warga berbondong-bondong berkumpul memenuhi pendopo, begitu kentongan dibunyikan. Mereka saling berbisik sambil melemparkan tatapan sinis serta intimidasi kepada Daniel dan Zeya yang duduk bersimpuh di tengah bangunan tanpa dinding dengan wajah pucat. Keduanya tampak tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi pada nasib mereka nanti.
Di kursi paling depan, Kepala Desa duduk didampingi beberapa Tetua Adat yang dikenal sangat teguh memegang aturan turun-temurun. Setelah suasana mulai tenang, Kepala Desa membuka pembicaraan.
"Kalian berdua tahu kenapa dibawa ke sini?"
Daniel menarik napas panjang lalu mengangguk. "Kami tahu, Pak. Tapi, kami ingin menjelaskan dulu yang sebenarnya."
"Silakan." Kepala Desa pun memberi waktu.
Daniel melirik Zeya sejenak, lalu kembali menatap Kepala Desa. "Kami tersesat saat mengikuti kegiatan pencarian tanda jejak Pramuka. Kami sama sekali tidak tahu kalau jalur yang kami lalui salah. Sepertinya ada seseorang yang sengaja mengubah tanda panah tanpa kami sadari."
"Kami mencoba mencari jalan keluar," sambung Zeya dengan suara lirih. "Tapi hari sudah gelap, kami takut kalau memaksakan berjalan justru semakin tersesat."
"Kami kemudian bertemu pondok itu, dan memutuskan bermalam di sana agar kami tidak kedinginan di jalanan terbuka."
Suasana Balai Desa hening beberapa saat. Namun, salah seorang Tetua Adat justru menggeleng pelan.
"Kalau memang begitu, mengapa kalian ditemukan sedang berpelukan?"
Pertanyaan itu membuat Zeya menundukkan kepala. Pipinya memerah karena malu.
"Teman saya menggigil hebat, Pak. Saya hanya berusaha menghangatkan tubuhnya supaya dia tidak mengalami hipotermia. Itu saja," jawab Daniel jujur.
Beberapa warga mulai saling berpandangan. Sebagian tampak ragu, tetapi sebagian lain tetap menunjukkan wajah tidak percaya.
Tetua Adat yang duduk di sebelah Kepala Desa mengembuskan napas panjang, kemudian berkata dengan nada tegas. "Anak muda zaman sekarang memang pandai sekali mencari alasan!"
"Bukan begitu, Pak!" bantah Daniel cepat. "Saya bersumpah, kami tidak melakukan apa pun yang melanggar susila."
"Saya juga bersumpah..." ucap Zeya dengan mata mulai berkaca-kaca. "Kami benar-benar tidak melakukan hal seperti yang dituduhkan."
Akan tetapi, ucapan mereka seolah menguap begitu saja.
"Yang dilihat warga adalah kenyataan," sahut Tetua Adat lainnya. "Kalian ditemukan berduaan di dalam pondok yang sepi dalam keadaan saling berpelukan. Itu sudah cukup mencoreng norma yang berlaku di desa ini!"
"Tapi kami hanya berusaha bertahan dari cuaca dingin, Pak!" seru Daniel.
Belum sempat perdebatan berlanjut, terdengar suara kendaraan berhenti di depan Balai Desa. Tak lama kemudian beberapa orang bergegas masuk.
"Daniel!"
"Zeya!"
Para Pembina Pramuka akhirnya tiba bersama beberapa peserta yang sejak semalam ikut melakukan pencarian. Melihat kedua pesertanya dalam keadaan selamat, mereka mengembuskan napas lega.
"Syukurlah kalian tidak apa-apa."
Namun, rasa lega itu hanya berlangsung sesaat, ketika mereka tersadar bahwa Daniel dan Zeya sedang diadili oleh warga desa. Salah seorang pembina segera menghampiri Kepala Desa.
"Permisi, Pak. Saya pembina kegiatan Pramuka SMA Pelita Bangsa."
Pembina itu kemudian menjelaskan seluruh kronologi kegiatan sejak awal. "Kemarin kami mengadakan pencarian tanda jejak. Kemungkinan besar mereka tersesat karena mengikuti jalur yang salah. Kami bahkan mengerahkan seluruh peserta untuk mencari mereka sampai larut malam."
Kepala Desa menganggukkan kepala. "Kami sudah mendengar penjelasan kedua anak ini."
"Kami bisa menjamin bahwa kedua anak ini tidak sengaja berada di pondok itu, Pak."
"Kalau mereka saling berdekatan, kemungkinan besar hanya untuk menghindari hipotermia. Tindakan itu justru sering dianjurkan jika dalam keadaan darurat."
Beberapa warga mulai terlihat bimbang. Mereka saling berbisik satu sama lain. Namun, salah seorang Tetua Adat kembali mengetukkan tongkat kayunya ke lantai. Suasana seketika kembali sunyi.
"Cukup!... Kami menghormati penjelasan kalian. Tapi, adat di desa kami ini sudah berlaku turun-temurun."
Tatapan lelaki tua itu beralih kepada Daniel dan Zeya.
"Siapa pun, terutama muda-mudi, apabila ditemukan warga dalam keadaan yang dianggap mendekati zina, maka keduanya wajib dinikahkan! Itu aturan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat!"
"Tapi, Pak..." sela salah seorang pembina.
Tetua Adat mengangkat tangan, melanjutkan ucapannya. "Kalau adat mulai dilanggar hanya karena rasa kasihan, maka lambat laun tidak akan ada lagi yang menghormati aturan leluhur." Ucapan itu langsung disambut anggukan oleh para warga.
Daniel mengepalkan kedua tangannya. "Jadi... sekeras apa pun kami menjelaskan, Bapak tetap tidak akan percaya?"
"Bukan tidak percaya," jawab Kepala Desa dengan tenang. "Namun, keputusan adat tidak didasarkan pada pengakuan semata, melainkan pada apa yang disaksikan oleh warga."
Kalimat itu membuat wajah Zeya semakin pucat. Airmata akhirnya jatuh tanpa mampu lagi ia bendung. "Ayah pasti kecewa..." bisiknya lirih.
Melihat gadis itu menangis, Daniel menatap para tetua dengan sorot mata memohon. "Tolong... jangan paksa kami seperti ini."
Akan tetapi, permohonan itu kembali tidak mengubah apa pun. Setelah bermusyawarah singkat, Kepala Desa akhirnya mengambil keputusan.
"Baiklah, kami minta kedua orang tua kalian datang ke sini."
Lalu menatap Zeya. "Terutama wali dari pihak perempuan. Bagaimanapun juga, persoalan ini menyangkut masa depan kalian berdua."
Akhirnya Daniel dan Zeya hanya bisa menurut. Dengan tangan yang masih gemetar, pemuda itu mengeluarkan ponselnya. Dia segera menghubungi orangtuanya, setelahnya dia memberikan ponsel54 pada Zeya agar menelpon orangtuanya, mengingat ponsel gadis itu kehabisan daya.
Zeya menerimanya kemudian mengusap air matanya sebelum memberanikan diri menelepon sang ayah.
Sekitar satu jam kemudian, suara mobil berhenti di halaman Balai Desa. Daniel yang sejak tadi menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya.
Mami Mia turun lebih dulu dengan raut wajah panik, disusul Papi Baim yang berjalan tergesa-gesa. Sejak menerima telepon dari putranya, mereka mengira Daniel mengalami kecelakaan atau musibah besar saat kegiatan Pramuka.
"Kakak...!" Wanita itu langsung menghampiri Daniel dan memeluknya erat. "Kamu nggak apa-apa, Sayang?"
Daniel hanya mampu menggeleng pelan sambil mengeratkan pelukannya pada sang ibu.
Tak lama berselang, sebuah mobil lain memasuki halaman. Ayah Bastian turun dengan wajah penuh kecemasan. Begitu melihat Zeya berdiri dengan mata sembab, jantungnya seakan diremas.
"Sayang..." Pria itu segera merangkul putrinya. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Belum sempat Daniel maupun Zeya menjelaskan, Kepala Desa lebih dulu menceritakan kejadian yang dilaporkan warga, mulai dari ditemukannya mereka di pondok, hingga keputusan adat yang telah disepakati para tetua.
.
Mungkinkah Daniel dan Zeya jadi menikah?
Suasana mendadak berubah hening. Papi Baim menoleh perlahan ke arah Daniel, lalu memandang Zeya yang berdiri dengan kepala tertunduk. Entah mengapa, di balik situasi yang seharusnya membuat mereka marah atau kecewa, terlintas satu pikiran yang selama ini hanya disimpannya dalam hati.
Sudah sejak lama, Mami Mia, istrinya, memang mengagumi Zeya. Gadis itu sopan, cerdas, dan memiliki kepribadian yang baik. Diam-diam mereka pernah berharap, suatu hari nanti Zeya benar-benar menjadi bagian dari keluarganya. Kini, harapan yang dulu terasa mustahil justru seolah datang dengan sendirinya.
Papi Baim mengembuskan napas pelan, kemudian menatap Kepala Desa. "Kalau memang menurut adat di sini jalan keluarnya adalah pernikahan..."
Pria bersahaja itu, sejenak menghentikan ucapannya lalu kembali menoleh kepada Daniel.
"Saya setuju...!" Bukan Papi Baim yang berkata, tetapi Mami Mia yang menyela ucapan suaminya dengan wajah full senyum.
Daniel dan Zeya sama-sama terkesiap dengan netra membelalak.
"Mi...?" Daniel nyaris tak percaya, jika orangtuanya ternyata begitu kompak.
Dirinya memang menyukai Zeya. Namun, bukan cara seperti ini yang dia inginkan.
Sementara itu, Ayah Bastian masih terdiam membisu. Ekspresi wajahnya sulit ditebak, membuat seluruh ruangan kembali dipenuhi ketegangan. Semua mata tertuju kepadanya. Menunggu keputusan berikutnya.
Pria kharismatik itu berdiri mematung di samping putrinya. Rahangnya mengeras, sementara pandangannya bergantian menatap Zeya dan Daniel, lalu ke arah Kepala Desa serta para Tetua Adat yang duduk di hadapannya.
Ayah Bastian menutup kedua matanya beberapa saat, seraya menarik napas panjang dan berat. Dadanya terasa sesak melihat putri semata wayangnya berdiri dengan wajah sembab di tengah pendopo Balai Desa serta mendapat tatapan intimidasi dari warga setempat.
"Cepat dong, Pak. Jangan malah diam. Kami menunggu keputusannya ini!" seru salah seorang warga yang tak sabar.
Ayah Bastian mengembuskan napas kasar seraya membuka mata. Kemudian ditatapnya kembali Kepala Desa dengan pandangan serius.
"Pak... sebelum saya mengambil keputusan, ijinkan saya berbicara dengan anak saya sebentar."
Kepala desa menganggukkan kepala. "Silakan, tapi jangan lama-lama."
"Zeya... Ayo, ikut Ayah," ajaknya sambil menyentuh bahu putrinya dengan lembut.
Zeya yang sejak tadi terus menundukkan wajahnya, mengikuti langkah sang ayah berjalan menjauh ke teras Balai Desa. Angin pegunungan berembus pelan, tetapi tidak mampu meredakan kegelisahan yang memenuhi hati mereka.
Begitu merasa tak ada lagi orang yang bisa mendengar, ayah Bastian menatap putrinya dalam-dalam.
"Jawab ayah dengan jujur, Nak," pintanya pada sang putri.
"Apa yang dikatakan mereka itu, benar?" tanyanya lembut.
Zeya mengangguk pelan. Airmatanya kembali mengalir. "Tapi demi Allah, Yah... Ze sama Daniel benar-benar nggak melakukan apa-apa."
"Kami berdua tersesat karena salah jalur. Ze sama Daniel berniat ingin kembali, tapi sudah keburu malam. Lalu kami menemukan pondok kosong. Angin malam sangat dingin membuat tubuh Ze, menggigil. Daniel cuma memeluk supaya Ze tetap hangat. Itu saja, Yah... nggak lebih."
Tangis Zeya pecah. Ia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. "Ayah... Ze nggak mungkin bohong sama Ayah."
Melihat putrinya menangis seperti itu, hati Ayah Bastian serasa diiris. Perlahan pria kharismatik itu menarik Zeya ke dalam pelukannya.
"Maafkan Ayah..." Suaranya terdengar bergetar. "Ayah percaya sama kamu, Nak."
Kalimat sederhana itu justru membuat tangis Zeya semakin menjadi. "Kalau Ayah saja percaya, kenapa mereka tetap memaksa kami menikah?"
Pak Bastian mengusap kepala putrinya penuh kasih sayang. "Karena nggak semua orang melihat dengan hati, Sayang. Sebagian hanya percaya pada apa yang mereka lihat."
Zeya menggigit bibirnya, berusaha menahan isak. "Tapi, Ze, belum siap menikah, Yah. Ze masih ingin sekolah. Ze masih ingin meraih banyak cita-cita."
Ayah Bastian memejamkan mata. Setiap ucapan putrinya bagaikan pisau yang merobek dadanya. Sebagai orangtua tentu menginginkan hal yang terbaik. Ingin melihat Zeya menyelesaikan pendidikannya, meraih impiannya, lalu menikah dengan laki-laki pilihannya pada saat yang tepat. Bukan seperti sekarang. Namun keadaan telah berubah begitu cepat.
"Zeya..." Ayah Bastian menggenggam kedua tangan putrinya lalu menciumnya. "Kita sudah lama mengenal Daniel. Dia anak baik. Selama ini ayah nggak pernah mendengar hal buruk tentang dia."
"Ayah ingin putri kesayangan ayah ini menikah bukan karena paksaan. Apalagi tekanan dari orang lain. Tapi, kalau Ayah menolak, mereka akan terus menganggapmu perempuan yang nggak baik," tutur Ayah Bastian
Airmata Zeya semakin deras mengalir. "Mungkin kita bisa membawa masalah ini ke jalur hukum, Yah," cetus Zeya.
"Tapi sebelum semuanya selesai, nama kamu akan terus menjadi bahan perbincangan, Nak."
Ayah Bastian menarik napas panjang. "Sebagai orangtua, Ayah harus membuat keputusan yang paling tepat, meskipun sedikit menyakitimu."
Zeya terdiam, saat ini mereka memang sedang berada dalam posisi yang sangat sulit. Beberapa saat kemudian, gadis itu menghapus air matanya.
"Kalau... kalau Ayah merasa itu yang terbaik..." Ia tersenyum tipis meski airmatanya terus mengalir. "...Ze akan menurut keputusan Ayah."
Mendengar jawaban itu, Pak Bastian kembali memeluk putrinya erat. "Maafkan Ayah, Nak. Maaf, karena ayah belum bisa melindungimu."
Zeya menggeleng pelan di dalam pelukan ayahnya. "Bukan salah Ayah."
Setelah menenangkan diri sejenak, keduanya kembali masuk ke dalam. Semua orang langsung memusatkan perhatian kepada mereka. Ayah Bastian berdiri tegak di hadapan Kepala Desa dan para Tetua Adat serta warga desa.
"Saya sudah berbicara dengan anak saya. Walaupun saya yakin mereka tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan tersebut."
Pria kharismatik itu berhenti sejenak, lalu mengambil napas panjang. "Tapi saya juga memahami bahwa adat di desa ini adalah sesuatu yang sangat dijunjung tinggi."
Ruangan kembali hening. Semua mendengarkan dengan seksama. Ayah Bastian lantas memandang Daniel yang berdiri tak jauh dari Zeya.
"Daniel," panggilnya tegas.
"Iya, Om," jawab Daniel cepat.
"Saya hanya ingin bertanya satu hal." Tatapan keduanya saling bertemu.
"Kalau hari ini kamu benar-benar menjadi suami Zeya... Mampukah kamu menjaganya, menghormatinya, dan bertanggung jawab atas hidupnya, bukan hanya hari ini, tapi selamanya?" tanyanya dengan pandangan serius.
Daniel mengangguk lalu melangkah maju tanpa ragu. Remaja itu berdiri tegak di hadapan Ayah Bastian. "Saya sanggup, Om," jawabnya mantap.
"Saya sadar bahwa semua ini terjadi di luar keinginan kami. Tapi kalau akhirnya saya benar-benar menjadi suami Zeya, saya berjanji pada diri sendiri, akan menjaga dan menghormatinya. Saya akan berusaha membahagiakannya semampu saya."
Ayah Bastian menatap Daniel cukup lama. Melihat ketegasan dan ketulusan di mata pemuda itu, perlahan kepalanya mengangguk sembari tersenyum tipis. "Baiklah."
Ayah Bastian lantas menoleh ke arah Kepala Desa dan para Tetua Adat kembali. "Dengan berat hati...saya menerima keputusan ini."
Kalimat yang Ayah Bastian ucapkan seakan menjadi akhir dari seluruh perdebatan. Membuat Zeya kembali tak kuasa menahan air mata.
Sementara Daniel memejamkan mata. Remaja itu sadar, mulai detik itu, hidup mereka berdua tidak akan pernah sama lagi. Meski sebenarnya dia sangat menyayangi Zeya, bahkan ketika masih kanak-kanak. Namun, bukan cara seperti ini yang dia inginkan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!