Gymora Sasami putri tunggal pasangan Alan Timoti dan ibunya Gwen Sasami, dia mahasiswi paling berprestasi dikampus karena berhasil menemukan teknologi inti kecerdasan buatan dengan nama "Biome".
Alan Timoti adalah seorang pejabat pemerintahan, sementara Gwen Sasami seorang pebisnis terkenal.
Diluar rumah, semua orang iri dengan kehidupan sempurna Gymora.
Gymora sangat cantik dan cerdas, dia juga memiliki orang tua yang kaya dan kelihatannya kedua orang tuanya juga sangat harmonis dan begitu menyayangi dirinya.
Gymora juga memiliki pacar seorang dosen muda bernama Wiliam Oliver, Wiliam sangat tampan dan orang yang paling disegani dan idolakan dikampus.
Pagi ini Gymora menjalani aktivitasnya seperti biasa. Setelah bangun tidur, menjalani rutinitasnya sebelum pergi ke kampus.
Tapi tiba-tiba ia menutup ke dua telinganya dengan kedua telapak tangannya saat mendengar kedua orang tuanya bertengkar.
Suara barang yang dibanting memenuhi isi rumah.
"Walaupun semua kekayaan ini awalnya berasal dari keluargamu! Tapi aku juga ikut membesarkan nama Sasami Group." Suara ayahnya yang biasanya selalu lembut menggema dirumah.
Melalui celah pintu yang terbuka sedikit, suara ayahnya masuk ke dalam kamarnya.
Kadang ia merasa sangat kasihan pada ayahnya.
Ayahnya adalah orang yang sangat baik dan sabar menghadapi ibunya yang tempramental.
Gymora memilih segera menutup pintu, tidak ingin mendengar apapun tentang pertengkaran mereka.
Dia memilih segera bersiap untuk pergi ke kampus.
Setelah diantar oleh sopir pribadinya ke kampus.
Gymora bertemu dengan Wiliam.
Tapi dia tidak merasa bahagia atau pun berbunga seperti sebelumnya.
Lalu dia dan Wiliam berjalan bersama.
Seorang mahasiswi menghampirinya saat dirinya sedang berjalan bersama dengan Wiliam dikoridor kampus.
"Kak Gymora, makasih banyak buat catatannya. Aku sekarang lebih mengerti tentang beberapa progam teknologi buatan milikmu!" kata seorang gadis dengan wajah polos seraya menyerahkan flashdisk kepada Gymora.
Gymora mengangguk seraya tersenyum manis ke arah adik tingkatnya itu, "Sama-sama Kania."
Lalu dia berbalik badan terlebih dahulu, tanpa menunggu Wiliam.
Tanpa Gymora sadari Kania menatapnya punggungnya penuh kebencian.
Tapi Kania buru-buru mengubah wajahnya menjadi normal saat tatapannya beralih ke arah Wiliam.
Kania tersenyum manis seraya menatap Wiliam, bahkan Wiliam juga membalasnya dengan senyuman penuh arti.
"Gymora, betapa polosnya dirimu karena mau menunjukkan beberapa progam inti padaku! Ini adalah awal kehancuranmu bahkan aku akan merebut semua hal yang harusnya menjadi milikku!" gumam Kania dalam hatinya seraya memandang punggung Wiliam yang menjauh.
Sementara Gymora masuk ke dalam ruangan milik Wiliam terlebih dulu dan duduk disofa seraya meminum air putih yang ada disana.
Tatapan Gymora murung, saat mengingat pertengkaran yang dilakukan oleh kedua orang tuanya setiap hari.
Hatinya sangat sedih. Bagaimana pun juga, dia merindukan masa kecilnya saat keluarganya harmonis sebelum ibunya pergi reuni SMA.
Tiba-tiba kedua bola mata Gymora membelalak sempurna, saat Wiliam dengan kurang ajar menindih tubuhnya.
"Kak Wiliam, apa yang ingin kamu lakukan?" celetuk Gymora.
Wiliam berusaha untuk membuka kancing baju Gymora, wajah Wiliam sekarang ini penuh hasrat.
Gymora reflek menendang bagian bawah Wiliam yang menonjol keluar.
Wiliam berteriak keras. "Gymora ... !"
Gymora langsung kabur dengan keluar dari ruangan Wiliam.
Wiliam sangat disegani di universitas Utara, universitas paling bergengsi di negara ini.
Karena dia memiliki saham dua puluh persen.
Makanya Wiliam mempunyai ruangan tersendiri dikampus ini.
Gymora segera pergi ke kamar mandi, mencuci wajahnya.
Setelah itu, dia masuk ke dalam bilik kamar mandi.
Dulu dia memang berniat untuk menyerahkan tubuhnya pada Wiliam mengingat dia dan juga Wiliam memang dijodohkan sejak kecil karena perjanjian nenek mereka.
Apalagi dia mengira Wiliam memang mencintainya.
Ternyata, Wiliam sudah jatuh cinta pada orang lain.
Dan Wiliam mau dijodohkan dengannya agar bisa mendapatkan warisan keluarganya, bahkan pria brengsek itu mempunyai niat buruk untuk menguasai seluruh hartanya.
Gymora melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat tidak sengaja bertemu Wiliam di club.
Waktu itu dia mengikuti Wiliam ke sebuah ruangan, tapi Wiliam tidak menyadari keberadaannya.
Wiliam ternyata sedang membicarakan dirinya dengan para sahabatnya, ia bersuara dengan nada mengejek sambil memeluk seorang gadis yang duduk disampingnya.
Tapi saat itu, Gymora tidak bisa melihat dengan jelas, siapa gadis yang ada dipelukan Wiliam.
Setelah kejadian itu, akhirnya Gymora sadar.
Kalau ucapan Wiliam pada teman-temannya semuanya benar, selama ini hanya dia yang mencintai Wiliam sendirian.
Bahkan yang Gymora dengan, pria sialan itu hanya berniat untuk mengetes kegadisannya, setelah mendapatkannya berniat meninggalkan dirinya.
Sungguh keji, mengingat hal itu air mata Gymora luruh.
Dan tiba-tiba dia merasakan sensasi panas dan berhasrat ditubuhnya.
Dia tidak tahu, kutukan apa yang menimpa dirinya.
Tapi sejak umur 18 tahun, tepatnya 2 tahun lalu.
Saat Gymora sedih, ntah kenapa dia merasa panas dan tubuhnya menjadi berhasrat.
Gymora mengambil sebuah alat kecil, lalu memasukkannya ke tubuh bagian bawahnya.
Setelah keluar sebuah cairan.
Akhirnya dia merasa lega, bahkan moodnya kembali baik.
Lalu dia membersihkan alat itu dengan tisu, dan memasukkan lagi ke dalam tas.
Sudah satu tahun lebih, Gymora terpaksa melakukan cara tidak terpuji ini.
Untuk meluapkan beberapa rasa sakit dan kelelahan mental karena setiap hari harus berpura-pura baik-baik saja saat hidupnya penuh dengan tekanan dan air mata.
Setelah keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat Wiliam yang menatapnya penuh amarah.
Tapi tatapan Wiliam berubah hangat, saat para mahasiswi lewat dan menyapanya.
Inilah Wiliam yang sangat dia cintai, bermuka dua dan juga bertopeng tebal.
"Gymora, ayo ikut denganku. Ada hal yang ingin aku katakan padamu!" titahnya seraya menggertakkan gigi-giginya.
Gymora yang masih mencintai Wiliam tentu saja mengangguk.
Melupakan cinta pertama, bagi Gymora tentu membutuhkan waktu yang lama.
Sekarang Wiliam dan Gymora duduk berhadapan diruangan Wiliam.
Tanpa basa-basi Wiliam berkata, "Gymora, apakah kamu ingin mendapatkan pukulan dari ibumu? Kalau sampai aku membatalkan pertunangan."
Wiliam tahu, keadaan orang tuanya tidak baik-baik saja.
Bukanya menghiburnya, tapi Wiliam malah menjadikan ibunya yang tempramental menjadi senjata untuk menghancurkannya.
Hati Gymora merasa hancur dan sedih, dia merutuki kebodohannya sendiri.
Kenapa baru sadar sekarang?
"Kalau aku tahu, Wiliam ternyata tidak mencintaiku dan memanfaatkan ku. Aku nggak akan pernah mencintai pria keji ini dengan penuh ketulusan."
Wiliam yang melihat gadis didepannya hanya diam saja dan tidak menanggapi ucapnnya, lantas dia memukul meja.
"Mora ... Kamu dengar gak sih? Apa yang aku katakan!!"
Teriakan dari Wiliam, akhirnya membuat Gymora tersadar.
Dia menatap Wiliam yang sedang menatap penuh kebencian dan berapi-api.
Mungkin karena selama ini, dia terlalu mencintai Wiliam.
Jadi dia baru menyadari sekarang, jika Wiliam begitu sangat membencinya.
"Kak Wiliam, aku mohon maafkan aku." Ucapannya dengan nada tulus.
Wiliam tersenyum penuh kemenangan, melihat Gymora yang patuh dan juga takut dengan amarahnya. "Nggak bisa! Kalau kamu ingin aku memafkan mu, lebih baik serahkan padaku teknologi inti Biome milikmu."
Gymora menyipitkan matanya, dia tahu sudah lama Wiliam menginginkannya.
Tapi, alasannya apa. Wiliam tidak begitu pintar dalam teknologi inti, dia hanya pintar berbisnis.
Wiliam yang melihat keraguan dikedua bola mata Gymora akhirnya berusaha menyakinkan Gymora.
"Kita berdua akan menikah dan menjadi sepasang suami istri, aku hanya ingin menyimpan teknologi Biome milikmu. Kamu gak perlu berpikiran aneh-aneh."
Gymora masih diam, dia tetap merasa ragu.
Bagaimana pun, teknologi Biome adalah hasil kerja kerasnya.
Tidak bisa semudah itu, dia memberikan teknologi inti itu.
Melihat Gymora yang tetap ragu, akhirnya Wiliam pun habis kesabaran. "Kalau kamu nggak mau menyerahkan teknologi Inti itu, oke. Aku akan membatalkan pertunangan kita sekarang!"
Lalu ia mengambil ponsel yang ada disaku celananya, "aku akan mengadukan pada ibumu kalau kamu berusan menendang burung berkututku. Setelah ini aku pastikan kamu akan dibawa kembali ke rumah sakit jiwa, jika menentang keinginan ibumu."
Kedua bola mata Gymora membelalak sempurna.
Saat telepon mulai berdering, hal itu membuatnya merasa panik.
"Baiklah. Aku akan memberikan teknologi itu, tapi dengan satu syarat .... "
Gymora menyebutkan syarat itu pada Wiliam.
Wiliam tersenyum dan mengangguk, setelah mendapatkan bisikan syarat dari Gymora.
Saat Gymora masih berada didekatnya, Wiliam ingin sekali menerkamnya bulat-bulat.
Tapi Gymora yang sudah bisa menebak apa niat Wiliam berkata dengan nada dingin, "Wiliam aku sudah setuju menyerahkan Teknologi Inti Biome padamu. Aku harap kamu nggak melakukan hal lebih!"
Wiliam yang dipanggil tanpa embel-embel "kak" sedikit merajuk bahkan wajahnya suram.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini?" Wiliam ingin menarik Gymora dalam pelukannya, tapi dengan gerakan gesit gadis itu berhasil lepas dari Wiliam.
Wiliam sebenarnya juga memiliki sedikit rasa pada Gymora, tapi baginya Gymora sosok yang terlalu baik dan sangat membosankan.
Tidak ada sisi manja dari Gymora padanya.
Saat Wiliam menolak permintaan Gymora, Gymora tidak marah dan malah memakluminya.
Berbeda dengan cinta pertamanya, kalau mendapatkan penolakan darinya pasti merajuk kesal dan memasang ekspresi yang menggemaskan.
Saat Wiliam ingin kembali mendekat, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Baiklah. Aku akan segera kesana!"
Saat Wiliam ingin pergi, Gymora berkata, "Apakah kamu lupa? Hari ini hari apa?"
Wiliam menghentikan langkahnya sejenak, "hari ini adalah hari senin. Memangnya kenapa? Apakah kalender di ponsel mu itu rusak?"
Gymora bertanya lagi untuk memastikan, "Apakah kamu beneran nggak ingat?"
Wiliam malah memasang ekspresi marah. "Aku buru-buru, ada urusan mendadak."
Ia pergi tanpa menunggu Gymora selesai berbicara.
Gymora menatap punggung Wiliam dengan ekspresi sedih.
"Apakah ini balasan yang di dapatkan karena dulunya mencintai Wiliam penuh ketulusan?"
Gymora merasa sangat sedih dan tertekan.
Bahkan ia merasa kepalanya ingin pecah.
Gymora pun berjalan ke arah kamar mandi, ingin memuaskan dirinya sendiri disana.
Daripada ia yang setres dan merasa gila melakukan hal yang menyakiti dirinya sendiri.
Lebih baik mencari hal lain yang bisa mengurangi kesedihan dan rasa setresnya
Dikarenakan jam kosong, kamar mandi sekarang ini ramai dan penuh.
Gymora tidak ada pilihan lain selain pergi ke gudang.
Ia mengendap saat masuk ke gudang.
Tanpa ia sadari, ada seseorang yang sudah didalam gudang dan melihatnya.
Melihat tingkah laku Gymora yang mencurigakan.
Orang itu mematikan Putung rokoknya dan bersembunyi, ia ingin melihat apa yang akan Gymora lakukan ditempat seperti ini.
Mengingat Gymora terkenal sebagai gadis yang cantik, glamor dan pintar.
Gudang adalah tempat kotor.
Karena semua orang dikampus tahu, setiap harinya Gymora menghabiskan waktunya di laboratorium kampus.
Kedua bola mata orang itu membelalak sempurna, baru kali ini disepanjang hidupnya dia terkejut dengan perilaku seseorang.
Dia melihat Gymora melakukan hal sangat tidak terpuji.
Bahkan dia yang dicap sebagai Badboy kampus dan berandalan diluar kampus tidak akan pernah berpikir untuk melakukan hal mesum dan tidak pantas seperti itu.
Gymora melebarkan kakinya, lalu mengambil sebuah seperti pena dari tasnya.
Draka Nilon menelan ludahnya yang kelu saat melihat aksi yang dilakukan oleh Gymora.
Ia tahu, walaupun Gymora sangat cantik dan menjadi primadona kampus.
Tapi wanita itu tidak terlihat caper dengan lawan jenis, dia sangat cuek.
Bahkan saat mendapatkan pujian ataupun godaan dari para mahasiswa lain.
Dan rumornya, selain dengan Wiliam.
Gymora belum pernah pacaran dengan siapapun, hubungan Gymora dengan Wiliam pun terjadi karena perjodohan.
Draka tahu, diluar sana Wiliam sudah punya pacar dan hanya berniat menjadikan Gymora sebagai tameng.
Beberapa kali, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Wiliam ngedate dengan gadis lain.
Tapi ... Tindakan yang dilakukan oleh Gymora sekarang ini.
Benar-benar diluar prediksi.
Gymora terlihat mendesah kuat, bahkan ekspresi wajahnya akan selalu terkenang didalam benak Draka.
Draka berdiri, dengan santai berjalan ke arah Gymora dengan ekspresi datar dan mengambil alat yang ada ditangan Gymora, hal itu membuat Gymora yang akan mencapai titik kepuasannya terkejut.
"Aku tidak menyangka, seorang wanita cantik yang terkenal pintar dan jual mahal di kampus melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini," sindir Draka.
Gymora langsung menutup tubuh bagian bawahnya.
Gymora tidak mau berbasa-basi.
"Draka aku mohon, jangan sebarkan video itu!" pinta Gymora saat melihat Draka merekamnya.
Gymora membersihkan cairan dibawahnya terlebih dahulu dengan tisu basah.
Hal yang dilakukan oleh Gymora membuat Draka tidak bisa berkata-kata. " .... "
Lalu Gymora dengan santai memakai celananya terlebih dulu dengan rapi, dan berdiri ingin merebut ponsel Draka.
Tapi Draka yang lebih tinggi menaikkan ponselnya dengan satu tangannya.
Gymora tidak menyerah, dia berusaha menggapai ponsel Draka dengan wajah panik.
Draka tidak berkedip saat melihat wajah Gymora dari dekat.
"Pantas saja selama ini, Gymora selalu disebut sebagai Dewi kampus. Wajahnya sangatlah cantik dengan kulit yang sangat lembut, bibir merah merona."
Draka selama ini hanya bisa melihat Gymora dari jauh, sebenarnya juga bisa melihat kecantikannya.
Selama ini bagi Draka yang menjadi pewaris perusahaan nomor 1 di negeri ini, melihat orang cantik anggun seperti Gymora sudah biasa dalam jamuan.
Tapi sekarang, tatapan Draka pada Gymora berbeda.
Gymora jauh bahkan lebih sangat cantik jika dilihat dari dekat, Draka bahkan merasa sangat sulit untuk mendeskripsikannya.
Ia yang selama ini belum pernah bersentuhan fisik langsung dengan lawan jenis, jantungnya berpacu sangat cepat.
Melihat Draka yang diam, Gymora terus memohon agar Draka memberikan ponselnya.
Sementara Draka yang sebenarnya tidak merekam apapun, hanya bisa tersenyum miring.
Ia sekarang ini malah memiliki sebuah ide.
"Draka aku mohon ... Jangan sebarkan. Sini ponselnya, biar aku hapus videonya!"
Melihat Gymora yang memohon dan merengek manja, Draka merasakan sensasi yang berbeda dalam hatinya.
Draka sejak kecil mendapatkan kekerasan dari ayahnya saat mendidiknya, dan ia sudah ditinggal mati ibunya sejak kecil.
Ia tahu niat ayahnya baik karena menjadi seorang pebisnis itu sangatlah berat, tapi ia yang masih terlalu kecil malah memberikan dampak trauma yang mendalam.
"Karena kamu terus memohon dan berlutut, baiklah kita buat kesepakatan. Kalau kamu ingin aku tidak menyebarkan videomu itu. Kamu harus melayaniku!"
Kedua bola mata Gymora membelalak, mengingat dia belum pernah melakukan hubungan suami istri.
"Kalau kamu tidak setuju, tidak masalah! Jangan salahkan aku kalau nama mu disekolah menjadi buruk, bahkan pacarmu langsung memutuskan mu!"
Gymora masih bimbang. Akankah Gymora setuju?
"Gimana kenapa kamu malah diam?" tanya Draka lagi.
Gymora ingin kabur meninggalkan gudang, tapi saat mencapai pintu.
Langkahnya terhenti, dia malah mendorong tubuh Gymora ke dinding.
Menekannya sebentar, hasratnya malah naik.
"Draka apa yang kamu lakukan? Lepaskan!"
"Aku nggak setuju ..."
Ucapan Draka terhenti, saat Gymora melumat bibirnya bahkan bermain didalam sana.
Gymora nampak bodoh, bahkan dia terlihat sama sekali tidak mahir, tanpa sadar ia malah mengikuti ciuman Draka.
Tiba-tiba kedua bola mata Gymora membulat sempurna.
Ia yang sadar langsung menendang bagian bawah sangkar burung milik Draka.
Tapi sayang, tendangannya meleset.
"Kamu belum pernah dicium Wiliam ya?" Ejek Draka seraya melepaskan gadis itu.
"Kalau belum pernah memang kenapa? Ciuman ini harusnya untuk nanti suamiku," kata Gymora kesal, mati-matian ia berusaha membersihkan bibirnya bekas ciuman dari Draka.
Mendengar ucapan Gymora yang sedikit tidak masuk akal membuat Draka senang, tapi ... "Kenapa aku harus senang? Apa hubungannya dengan ku?"
"Kalau begitu harusnya kamu setuju? Bagaimana tanggapan Wiliam kalau melihat tingkah laku calon istrinya yang mesum dan ciuman pertamanya malah terambil olehku," kata Draka seraya menaikkan satu alisnya.
Kedua bola mata Gymora kembali membelalak, saat melihat Draka merekam lagi dengan ponselnya.
"Ayo kita buat kesepakatan!" ucap Draka.
Gymora pulang ke rumah dengan diantar supir.
Dia melepas sepatu dan ingin masuk ke dalam kamarnya, tiba- tiba ibunya malah menamparnya dengan kuat.
Gymora menatap ibunya bingung, "bukankah aku sudah menuruti kak Wiliam? Apa salahku?" Gumamnya dalam hati.
Ia masih merasa bingung tentang penyebab amarah ibunya.
Tiba-tiba, kedua bola matanya membelalak sempurna, saat teringat hal yang sebelumnya dilakukan olehnya dan ketahuan oleh Draka.
"Dasar anak tidak berguna, kamu kenapa mempermalukan keluarga Sasami dengan mencuri teknologi Inti Biome!"
Gymora malah semakin bingung dengan tuduhan tidak masuk akal dari ibunya.
Lalu ibunya melemparkan sebuah masker pendingin untuk wajahnya yang bengkak.
"Kompres wajahmu dulu! Aku nggak mau ada orang yang melihat topengku," ucapnya dengan nada ketus.
Semua baju branded dan pakaian bagus miliknya adalah milik ibunya, Gymora tidak diperbolehkan untuk menyimpan apapun.
Citra keluarganya yang selama ini bagus, hanya topeng untuk memajukan bisnis ibunya.
Gymora mengambil masker itu, lalu menerima ponsel ibunya yang disodorkan padanya.
Disana ada artikel, bahkan teknologi inti Biome di universitas Utara sebenarnya bukan ditemukan oleh Gymora.
Penemu teknologi Inti Biome yang sebenarnya adalah "Kania Gunawan".
Di medis sosial, taggar nama "Gymora" trending menjadi nomor 1.
Bahkan semua orang mengutuk dirinya.
"Mama akan mencabut semua fasilitas milikmu. Mama tahu, kalau selama ini salah, karena mendidikmu dengan keras. Tapi mamah nggak pernah mendidikmu untuk menjadi pencuri," kata Gwen seraya masuk ke dalam kamar Gymora.
Gymora masih mematung, dia tidak menyangka setelah menyerahkan teknologi inti Biome pada Wiliam.
Wiliam malah menyerahkannya pada Kania, tapi apa alasannya kenapa dia menyerahkannya pada Kania.
"Apakah mereka berdua sebenarnya ada hubungan?" gumam Gymora dalam hatinya, tatapannya kosong dia masih sangat terkejut dengan apa yang sekarang ini menimpa dirinya.
Tiba-tiba lamunannya buyar, saat ibunya mengeluarkan beberapa barang-barangnya dari kamar. "Mulai sekarang, kamu pindah ke kamar pembantu!"
Kedua bola mata Gymora membelalak sempurna.
"Ibu ... " Gymora memegang tangan ibunya, tapi ibunya langsung menepis tangannya dengan kasar.
"Kalau kamu nggak mau ibu masukan ke dalam rumah sakit jiwa lagi. Lebih baik kamu menuruti perkataanku!" kata Gwen dengan wajah merah padam.
Gymora tidak ada pilihan lain, selain menuruti permintaan ibunya.
Saat akan berjalan ke kamar pembantu yang kosong, dia berpapasan dengan ayahnya.
"Gymora, apa yang terjadi?" tanya Alan seraya memeriksa wajah putri tunggalnya.
Dengan wajah terisak, Gymora menjelaskan.
Lalu ayahnya memeluknya. "Tunggu, ayah sedang mengumpulkan uang. Nanti kita bisa pindah dari rumah neraka ini."
Gymora hanya bisa mengangguk.
"Sekarang kamu tinggal dikamar pembantu dulu."
"Maafkan ayah ... Maafkan ayah."
Gymora mengangguk, lalu ayahnya pamit untuk kembali bekerja.
***
Ke esokan paginya, Gymora bangun lalu bersiap ke kampus.
Saat pergi ke ruang makan, Gymora bingung.
Saat melihat dua punggung seorang wanita dan pria yang duduk berhadapan dengan ibunya.
"Bu, siapa mereka?" tanya Gymora bingung.
Sementara ayahnya tidak ada disana.
Wajah Gwen yang sebelumnya tersenyum saat berbincang dengan mereka, langsung berubah dingin saat menatap Gymora.
"Dia Gunawan cinta pertamaku dan juga putrinya," jawab Gwen acuh, tanpa memperdulikan perasaan putri kandungnya.
Setelah mendengar jawaban ibunya, kedua tangan Gymora tanpa sadar terkepal.
Bahkan buku-buku kukunya memutih.
Gunawan adalah nama yang selama bertahun-tahun menjadi pemicu pertengkaran kedua orang tuanya.
"Sekarang kamu kesini! Minta maaflah pada Kania, karena kamu telah mencuri teknologi Inti Biome darinya."
Gymora tertegun, "Apa Kania?"
Ia langsung berjalan cepat ke arah Kania, lalu menatap wajah polos Kania.
Kania memasang wajah sedih, tapi dia membalas tatapannya sorot mata penuh kemenangan.
Gymora yang emosi langsung menampar Kania dengan kuat, asumsinya Kania adalah wanita yang menjadi selingkuhan Wiliam.
Setelah semalaman, dia mencari tahu akun Facebook Wiliam dimasa lalu.
Bukan hanya menjadi selingkuhan pacarnya, tapi Kania juga mencuri teknologi inti darinya.
"Kamu ... " Gwen geram, dia berdiri dan langsung menampar Gymora dengan kuat.
Jika Gymora hanya menampar Kania sekali, ibunya membalasnya dengan menamparnya tiga kali.
"Kamu dasar gadis tidak tahu diri. Kamu itu salah karena mencuri milik orang lain, bukanya minta maaf! Tapi kamu malah menamparnya," kata Gwen seraya menggertakkan gigi-giginya.
"Ibu, sakit. Ibu salah paham, itu teknologi memang milikku. Kania yang mencurinya," ucap Gymora.
Sementara Kania menangis keras dipelukan ayahnya.
"Sudahlah Tante, kalau memang Gymora nggak mau minta maaf dan mengaku salah. Nggak usah dipaksa, yang penting semua orang sudah tahu. Kalau teknologi inti yang aku buat susah payah dicuri olehnya," ucap Kania pada Gwen dengan nada terisak-isak.
Gymora mendekat ke arah ibu kandungnya, sosok ibu yang melahirkannya. Ia berharap ibunya itu percaya padanya, "Ibunya, tolong percaya Mora ... Kania yang mencurinya."
Hati Gymora terasa sangat sakit, saat ibunya menepis kasar tangannya.
Lalu berjalan ke arah Kania.
Gunawan mengelus putrinya, lalu menatap Gwen dengan marah. "Lebih baik sekarang aku dan Kania pulang!"
Lalu dia berdiri. "Kania itu sejak kecil sangat kasihan, karena tidak memiliki ibu (ibu kandung Kania meninggal setelah melahirkannya). Aku membesarkan dirinya susah payah dan penuh kelembutan, belum pernah anakku menerima tamparan sampai seperti ini!."
Gymora masih berdiri terpaku, dia merasakan nyeri di ulu hatinya.
"Apakah semua ini nyata?" Gumamnya dalam hati.
Gwen yang marah ingin kembali menampar putri kandungnya, namun tangannya dihalau oleh suaminya.
"Kamu nggak perlu ikut campur urusanku!"
Alan semakin mencengkram erat tangan Gwen, wanita yang selama ini selalu dicintai oleh nya.
"Semua urusan Gymora akan menjadi urusanku sekarang!" titah Alan, Gwen sedikit terkejut dengan tatapan Alan yang berubah.
Walaupun selama bertahun-tahun, kehidupan rumah tangganya tidak harmonis.
Dan dia sering bertengkar dengan Alan, tapi Alan tidak pernah kasar terhadapnya apalagi menatapnya dengan tatapan seperti itu.
"Kamu berani-beraninya. Kalau tidak aku akan memasukkan Gymora kembali ke rumah sakit jiwa," ucap Gwen yang mana langsung membuat tubuh Gymora membeku.
Ingatan Gymora sontak memutarkan ingatan saat dirinya berada dirumah sakit jiwa.
Disana ia disiksa beberapa pasien gila lain, bahkan kadang dokter juga sedikit melecehkannya dengan meremas pinggangnya.
Apakah pelecehan yang tidak pantas itu membuat mental Gymora menjadi rusak?
Tubuh Gymora yang dingin bergetar hebat.
Alan yang sudah habis kesabaran pun berkata, "Gwen ... Tolong jangan siksa putriku lagi! Baik, aku bersedia untuk bercerai denganmu."
"Tolong jangan masukkan putriku ke rumah sakit jiwa lagi. Oke ... Aku setuju bercerai ... " Ucap Alan putus asa.
Ucapan Alan mengejutkan Gwen maupun Gymora.
"Ayah ..." gumam Gymora tanpa suara, menatap ayahnya penuh kesedihan.
Sementara Gunawan dan Kania malah tersenyum senang.
Mengingat Gwen menjadi pengusaha wanita papan atas dikota ini.
Gwen bingung dengan perasaannya, ntah kenapa dia yang selama ini menginginkan perceraian ini.
Sekarang malah meragu.
Sementara Gymora bingung, harus senang atau sedih mendengar keputusan ayahnya.
Ibu kandungnya menyiksa dirinya, agar ayahnya mau bercerai.
Tapi ayahnya bersikeras tidak mau berpisah, karena tidak ingin Gymora tumbuh tanpa kedua orang tua yang utuh.
Mengingat ayahnya juga terlahir dari keluarga broken home, kedua orang tua ayahnya berpisah dengan cara terburuk.
Dan akhirnya membuat mereka mengambil keputusan dengan menaruh ayahnya saat kecil ke panti asuhan.
Dengan wajah dingin, Gwen berkata, "Oke, nanti jam 10 aku menunggumu dicatatan sipil."
Alan mengangguk, seraya menarik pergelangan tangan Gymora pergi dari sana.
Tapi sebelum Alan bisa berjalan jauh, Gwen berkata dengan nada dingin. "Setelah resmi bercerai, aku harap kamu melepas nama Sasami dari Gymora dan mengubahnya menjadi Marga milikmu!"
Ucapan Gwen membuat langkah Gymora dan Alan langsung terhenti.
Sementara Gwen yang melihat Gunawan dan Kania yang akan pergi, memohon agar mereka kembali.
Bahkan Gwen menjanjikan akan membelikan Kania mobil baru.
Gymora yang sudah lama ingin dibelikan mobil hanya bisa menggigit bibirnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!