Indonesia
NovelToon NovelToon

Takdir Baru di Malam Lamaran

Episode 1

Bab 01 - Terbangun di Malam Lamaran

Malam itu, rumah keluarga Pak Darto penuh orang.

Tenda biru masih berdiri di halaman. Kursi plastik berserakan. Piring bekas nasi kuning dan ayam opor belum sempat dibereskan dari meja panjang. Dari dapur belakang, bau bawang goreng bercampur teh manis yang tumpah membuat udara terasa pengap.

Nadia membuka mata perlahan.

Langit-langit kamarnya rendah. Cat putihnya mengelupas di beberapa sudut. Di luar kamar, suara orang berbisik terdengar seperti dengung lebah.

"Astaghfirullah, malu-maluin keluarga."

"Padahal malam ini lamaran Nadia."

"Tapi yang ketangkap malah Bella sama Mas Arman."

Nadia diam.

Tangannya mencengkeram kain sprei.

Bella.

Arman.

Dua nama itu seperti batu dilempar ke dada.

Bukankah ia sudah mati?

Dalam ingatan terakhirnya, ia berdiri di pinggir jalan depan toko obat, menolak memberi uang kepada Bella. Bella menjerit, menuduhnya pelit, lalu mendorongnya ke jalan. Suara klakson truk, rem yang menjerit, dan tubuhnya yang terlempar masih terasa jelas.

Lalu gelap.

Namun sekarang ia ada di kamar lamanya, di rumah kampung keluarga Darto, pada malam lamaran yang pernah mengubah seluruh hidupnya.

Nadia menutup mata lagi.

Ia tidak sedang bermimpi.

Tahun ini bukan masa setelah ia menikah dan hancur di rumah Arman. Ini malam ketika keluarga Wiratmaja datang melamarnya. Malam ketika Arman seharusnya resmi menjadi calon suaminya.

Tapi di ruang tengah, Bella dan Arman sedang berlutut.

Mereka ketahuan keluar dari kamar belakang dengan pakaian berantakan.

Nadia menarik napas pelan.

Bagus.

Sangat bagus.

Di kehidupan lalu, Arman memang menjadi suaminya. Semua orang bilang ia beruntung. Menantu keluarga Wiratmaja. Tinggal di kompleks dinas. Suaminya calon perwira yang punya masa depan. Mertuanya terpandang. Setiap Lebaran, orang kampung menatapnya seperti ia naik derajat.

Mereka tidak tahu.

Arman suka memukul kalau makanan kurang asin. Ia pulang membawa bau parfum perempuan lain. Ia tidak bisa punya anak, tapi keluarganya menyuap orang klinik agar hasil pemeriksaan dibuat seolah Nadia yang mandul. Ibu Arman menyuruhnya mengasuh anak kakak ipar, lalu membiarkan anak itu memanggilnya perempuan asing.

Tahun demi tahun Nadia hidup seperti pembantu yang diberi gelar istri.

Dan Bella iri pada hidup itu.

Bella selalu berkata, "Kalau dulu aku yang dinikahi Mas Arman, pasti hidupku beda. Aku lebih cocok jadi istri orang terpandang."

Sekarang, sepertinya Tuhan mengabulkan keinginan Bella.

Nadia hampir tertawa.

Di luar kamar, suara Eyang Marni terdengar keras.

"Sudah! Jangan ribut lagi. Arman sudah menyentuh Bella. Mau bagaimana lagi? Mereka harus dinikahkan."

"Bu!" suara Mbak Sari, kakak kandung Nadia, langsung meninggi. "Malam ini keluarga Wiratmaja datang melamar Nadia. Bagaimana bisa tiba-tiba Bella yang dinikahkan?"

"Lamaran itu untuk keluarga kita," balas Eyang Marni. "Nadia dan Bella sama-sama anak rumah ini."

"Bella bukan anak kandung Bapak," kata Sari, suaranya bergetar. "Dia anak yang dibawa Bu Ratna."

Hening setengah detik.

Lalu suara Bu Ratna, ibu tiri Nadia, terdengar lirih dan basah.

"Mbak Sari, jangan bicara begitu. Bella memang bukan lahir dari rahimku setelah menikah dengan bapakmu, tapi dia juga anak yang dibesarkan di rumah ini. Kalau malam ini dia tidak dinikahkan, apa kamu mau dia menanggung malu seumur hidup?"

Nadia membuka mata.

Masih sama.

Bu Ratna selalu begitu.

Kalau ingin merampas sesuatu, ia tidak pernah langsung memaksa. Ia menangis, merendah, lalu membuat orang lain merasa kejam kalau menolak.

Sari menjawab, "Lalu Nadia? Dia tidak malu? Dia tidak hancur?"

"Nadia itu anak baik," kata Bu Ratna cepat. "Dia pasti bisa mengerti."

Nadia duduk.

Kepalanya masih sedikit pening, mungkin karena tubuh ini baru saja pingsan setelah mendengar calon suaminya ketahuan dengan adik tirinya. Tapi rasa pening itu kalah oleh panas yang naik ke dada.

Anak baik.

Dulu, dua kata itu mengikat lehernya seperti tali.

Anak baik harus mengalah.

Anak baik tidak boleh membantah orang tua.

Anak baik harus menjaga nama keluarga.

Karena menjadi anak baik, ia dikirim ke panti asuhan saat kecil dengan alasan membawa sial. Karena menjadi anak baik, ia kembali ke rumah ini dan menerima semua perintah mereka. Karena menjadi anak baik, ia menikah dengan Arman, menanggung pukulan, fitnah mandul, dan mati di tangan Bella.

Kali ini ia tidak mau baik.

Kalau mereka ingin melihat perempuan gila, ia akan memberi mereka satu.

Di ruang tengah, Pak Darto akhirnya bicara.

"Bu, kasihan Nadia."

Suara bapaknya masih sama. Lemah. Ragu. Seperti orang yang tahu benar dan salah, tapi tidak punya keberanian memilih.

Eyang Marni mendengus.

"Kasihan? Kalau kasihan, kamu cari jalan. Bella sudah dilihat orang sekampung keluar kamar dengan Arman. Apa keluarga Wiratmaja mau lepas tangan?"

Suara laki-laki muda menyusul. Arman.

"Eyang, Pak Darto, Bu Ratna, saya minta maaf. Tapi saya dan Bella memang saling mencintai. Lamaran dengan Nadia itu kemauan keluarga. Saya tidak mau membohongi hati saya."

Nadia tersenyum dingin.

Saling mencintai.

Di kehidupan lalu, Arman berkata ia mencintai Nadia saat akad. Tiga bulan kemudian, ia menamparnya karena Nadia lupa menyetrika baju dinas. Setahun kemudian, ia membawa perempuan lain ke rumah kontrakan. Lima tahun kemudian, ia membuat Nadia percaya bahwa rahimnya rusak.

Cinta Arman murah sekali.

Sari membentak, "Kalau saling mencintai, kenapa menunggu malam lamaran Nadia baru masuk kamar?"

Bella menangis pelan.

"Mbak, jangan kasar. Aku tahu aku salah. Aku sudah tidak punya muka. Tapi aku dan Mas Arman benar-benar tidak sengaja..."

Nadia berdiri dari tempat tidur.

Tidak sengaja?

Pintu kamar ia buka.

Semua kepala langsung menoleh.

Ruang tengah penuh orang. Saudara dari pihak bapak, tetangga yang tadi membantu acara lamaran, keluarga Wiratmaja, semua ada. Di tengah ruangan, Bella duduk bersimpuh dengan jilbab miring. Arman berlutut di sampingnya, wajahnya dibuat menyesal, tapi matanya tetap angkuh.

Bu Ratna langsung bangkit.

"Nadia, kamu sudah sadar? Nak, jangan terlalu banyak berpikir dulu. Kamu masih lemah."

Nadia menatapnya.

"Aku lemah?"

Bu Ratna terdiam.

Nadia berjalan ke meja. Di atasnya ada gelas enamel berisi teh manis yang sudah dingin. Ia mengambil gelas itu.

Pak Darto gugup. "Nadia, kamu mau minum?"

"Tidak."

Nadia menatap Arman dan Bella.

"Aku mau membantu mereka sadar."

Sebelum siapa pun mengerti, Nadia melempar gelas itu.

Gelas menghantam bahu Arman, lalu teh manis tumpah ke dada Bella. Bella menjerit. Orang-orang berteriak. Arman terhuyung, wajahnya berubah merah.

"Nadia! Kamu gila?"

Nadia tertawa pendek.

"Belum. Kalau aku benar-benar gila, gelas itu tidak akan kena bahumu."

Bu Ratna berlari ke Bella.

"Ya Allah, Bella! Panas tidak? Sakit?"

"Tehnya dingin, Bu," kata Nadia. "Jangan drama."

Beberapa tetangga yang tadinya pura-pura menunduk mulai saling pandang. Sari berdiri di belakang Nadia, wajahnya pucat, tapi matanya bersinar.

Arman mengepalkan tangan.

"Kamu tidak perlu mempermalukan kami seperti ini."

Nadia menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.

"Kamu masuk kamar dengan adik tiriku di malam lamaran kita, lalu aku yang mempermalukan kalian?"

"Aku sudah bilang, aku dan Bella saling mencintai."

"Cinta?" Nadia melangkah mendekat. "Kalau cinta, datang baik-baik. Batalkan lamaran sebelum acara. Jangan makan nasi lamaran dari keluargaku, lalu masuk kamar belakang seperti pencuri."

Wajah Arman mengeras.

Bella menangis makin keras.

"Kak Nadia, aku salah. Tapi aku juga perempuan. Jangan hancurkan aku di depan orang-orang."

Nadia menoleh padanya.

"Waktu kamu masuk kamar dengan calon suamiku, kamu ingat aku juga perempuan?"

Bella menggigit bibir.

Bu Ratna langsung memeluknya.

"Nadia, cukup. Bella sudah minta maaf."

"Minta maaf tidak membuatku kembali bersih dari malu."

"Kamu jangan bicara begitu. Semua ini bisa diselesaikan secara keluarga."

"Secara keluarga?" Nadia tersenyum. "Maksudnya, Bella menikah dengan Arman, aku diam, uang seserahan tetap kalian simpan, lalu aku disuruh menerima laki-laki lain?"

Eyang Marni memukul lantai dengan tongkat.

"Memang itu jalan terbaik!"

Nadia menatap neneknya.

"Terbaik untuk siapa?"

Tidak ada yang menjawab.

Nadia melihat satu per satu wajah di ruangan itu. Orang-orang yang dulu menundukkan kepalanya, menyuruhnya sabar, lalu menyaksikan ia dikirim ke neraka bernama rumah tangga.

Kali ini, ia ingin melihat mereka yang menunduk.

"Baik," kata Nadia pelan. "Kalau Bella dan Arman saling mencintai, aku restui."

Bella mengangkat wajah. Arman juga tampak lega.

Tapi Nadia belum selesai.

"Aku doakan kalian menikah. Jangan bercerai. Jangan kabur. Jangan saling melepaskan. Semoga kalian berdua hidup bersama sampai tua."

Suaranya lembut.

Tapi Bella mendadak menggigil.

Nadia tersenyum.

"Karena aku ingin Bella menikmati semua yang dulu sangat ia inginkan."

Episode 2

Bab 02 - Cinta yang Membuat Mual

Ruang tengah rumah Pak Darto mendadak sesak.

Padahal pintu depan terbuka lebar. Angin malam masuk dari halaman, menggoyang tirai tipis yang sudah kusam. Tapi napas orang-orang seperti tertahan di satu tempat, di antara Nadia yang berdiri tegak dan Bella yang masih memeluk lengan Bu Ratna sambil menangis.

Doa Nadia terdengar manis.

Terlalu manis sampai membuat kulit Bella meremang.

Semoga kalian berdua hidup bersama sampai tua.

Orang lain mungkin mengira itu ucapan pasrah. Bella tahu bukan. Ada sesuatu di mata Nadia. Sesuatu yang dingin, tajam, dan seperti sudah tahu akhir dari semua ini.

Bella menelan ludah.

Tidak mungkin.

Nadia tidak mungkin tahu.

Yang kembali dari kematian hanya dirinya. Bella yakin itu. Ia masih ingat jelas kehidupan lalu: Nadia menikah dengan Arman, tinggal di kompleks dinas, dipanggil Bu Arman oleh tetangga, datang ke kampung dengan mobil bagus dan gelang emas di tangan. Semua orang memuji keberuntungan Nadia.

Sementara Bella?

Ia menikah dengan lelaki miskin bernama Yusuf, lulusan kampus yang katanya pintar tapi akhirnya hanya jadi buruh serabutan setelah tersandung kasus pencurian di tempat kerja. Hidupnya sempit. Makan sering kurang. Ia berkali-kali mendatangi Nadia untuk meminjam uang, tapi Nadia semakin lama semakin dingin.

Bella mati-matian berpikir, kalau saja dulu ia yang menikah dengan Arman.

Lalu ia benar-benar kembali.

Maka ia mengambil Arman.

Ia tidak peduli malam itu lamaran Nadia. Ia tidak peduli orang-orang melihatnya keluar dari kamar. Lebih baik menanggung malu sebentar daripada kembali hidup miskin seumur hidup.

Tapi kenapa Nadia tersenyum seperti itu?

"Kak Nadia," ucap Bella lirih. "Aku tahu kamu marah. Tapi doamu tadi... kenapa terdengar seperti kutukan?"

Nadia menoleh perlahan.

"Kutukan? Aku mendoakan kalian langgeng, Bella. Bukankah itu yang kamu mau?"

Bella kehilangan kata.

Arman yang lebih dulu bicara. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang basah oleh teh.

"Cukup, Nadia. Jangan membuat semuanya makin panjang."

Nadia menatap noda teh di kemejanya.

"Kamu baru basah sedikit sudah merasa tidak nyaman?"

"Apa maksudmu?"

"Tidak ada. Aku hanya sedang belajar. Rupanya orang yang hobi bermain di belakang orang lain juga bisa tersinggung kalau kena teh."

Beberapa orang menahan tawa. Satu ibu tetangga menutup mulut dengan ujung kerudung. Arman melihat ke sekeliling, rahangnya mengeras.

"Jaga mulutmu."

"Seharusnya kamu jaga celanamu dulu."

"Nadia!" Pak Darto berseru, wajahnya merah padam.

Nadia menoleh. "Kenapa, Pak? Kata-kataku lebih memalukan daripada perbuatan mereka?"

Pak Darto membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Bu Ratna langsung mengambil alih. Wajahnya penuh air mata, tapi suaranya tetap terukur.

"Nak, Ibu tahu kamu terluka. Tapi kalau kamu terus bicara kasar, orang-orang akan menilai kamu tidak punya adab."

Nadia tersenyum.

Bu Ratna selalu pandai memilih kata.

Adab.

Perempuan seperti Bu Ratna bisa menyembunyikan pisau di balik kata adab, sabar, keluarga, dan kasihan. Ia tidak perlu berteriak. Cukup membuat korban merasa bersalah karena berani berdarah.

"Bu Ratna," kata Nadia, "adab itu dimulai dari tidak tidur dengan calon suami orang."

Bu Ratna tersedak.

Sari hampir tertawa, tapi ia menahannya.

Eyang Marni memukul lantai lagi.

"Sudah! Jangan melawan ibu tirimu. Bagaimanapun dia yang mengurus rumah ini sejak kamu pulang dari panti."

Nadia memandang neneknya.

"Mengurus rumah atau mengurus rencana agar Bella bisa mengambil semuanya?"

Wajah Bu Ratna berubah tipis.

Hanya sedetik, tapi Nadia melihatnya.

"Nadia," kata Bu Ratna pelan, "jangan asal menuduh. Ibu tidak pernah membedakan kamu dan Bella."

"Benarkah?"

"Tentu."

"Kalau begitu, kenapa waktu aku kecil, aku yang dikirim ke panti? Kenapa Bella yang dibawa pulang?"

Ruangan seketika diam.

Beberapa saudara yang lebih muda saling pandang. Mereka pernah mendengar cerita itu, tapi tidak pernah ada yang berani membicarakannya di depan banyak orang.

Bu Ratna menunduk, air matanya jatuh.

"Itu keputusan orang tua dulu. Ada banyak hal yang tidak kamu mengerti."

"Aku memang tidak mengerti," jawab Nadia. "Aku tidak mengerti kenapa anak kandung Bapak harus dibuang karena dibilang membawa sial, sementara anak bawaan Ibu diperlakukan seperti pembawa rezeki."

"Nadia!" Pak Darto bangkit. "Jaga ucapanmu."

Nadia menatap bapaknya lama.

Dulu, tatapan seperti itu membuatnya takut. Ia akan langsung diam, meminta maaf, dan merasa berdosa karena membuat bapaknya malu.

Sekarang tidak.

"Pak, malam ini aku yang dikhianati. Kalau Bapak masih ingin memarahiku, setidaknya tunggu sampai orang yang masuk kamar dengan calon suamiku selesai dimarahi dulu."

Pak Darto duduk kembali seperti kehabisan tenaga.

Keluarga Wiratmaja yang sejak tadi diam mulai tidak nyaman. Pak Hendra, ayah Arman, berdeham. Ia laki-laki besar dengan kumis tipis, kemeja batik rapi, dan wajah orang yang terbiasa dihormati.

"Nadia," katanya, "kami dari pihak Arman tentu meminta maaf. Ini kesalahan besar. Tapi kita perlu mencari penyelesaian yang tidak merusak dua keluarga."

Nadia menoleh.

"Dua keluarga? Yang rusak duluan itu nama saya, Pak."

Ibu Arman, Bu Lilis, langsung menghela napas.

"Anak muda memang mudah emosi. Kami tidak lepas tangan. Kalau Arman harus menikahi Bella, kami akan bertanggung jawab."

"Bagus."

Bu Lilis tampak lega.

Nadia melanjutkan, "Tanggung jawab kepada Bella tidak menghapus tanggung jawab kepada saya."

Lega itu hilang.

Arman mengerutkan kening.

"Maksudmu apa?"

Nadia berjalan ke meja tamu. Di sana masih ada kotak seserahan yang dibawa keluarga Wiratmaja: kain, kue, buah, seperangkat alat salat, dan amplop mahar simbolis untuk acara lamaran.

Ia menyentuh salah satu kotak.

"Malam ini kalian datang melamar saya. Tetangga melihat. Saudara melihat. Setelah makan di rumah ini, kamu ketahuan dengan Bella. Kalau besok orang kampung bicara, mereka tidak akan hanya menyebut nama Bella. Mereka akan menyebut namaku juga."

Bella cepat berkata, "Aku tidak akan membiarkan orang menyalahkanmu, Kak."

Nadia tertawa kecil.

"Kamu bahkan tidak bisa menjaga pintu kamar tertutup rapat. Jangan berjanji menjaga namaku."

Bella pucat.

Bu Ratna memelototi Nadia. "Cukup menyindir adikmu."

"Dia bukan adik yang sedang jatuh dari sepeda. Dia perempuan dewasa yang masuk kamar dengan calon suamiku."

Sari maju setengah langkah.

"Nadia benar. Kalau keluarga Wiratmaja mau menikahkan Arman dan Bella, silakan. Tapi nama Nadia harus dibersihkan."

Pak Hendra menatap Sari, lalu Nadia.

"Apa yang kamu minta?"

Eyang Marni langsung menyela, "Tidak perlu macam-macam. Nadia nanti dijodohkan dengan Yusuf. Anak itu lulusan universitas. Keluarganya memang sederhana, tapi—"

"Aku tidak mau Yusuf," potong Nadia.

Eyang Marni terkejut. "Kamu belum dengar selesai."

"Aku sudah dengar di kehidupan..." Nadia berhenti sejenak, lalu mengganti kalimatnya. "Aku sudah cukup mendengar selama dua puluh tahun."

Bu Ratna menegang.

Nadia hampir keceplosan. Ia tidak boleh membiarkan mereka tahu dirinya juga kembali.

"Yusuf itu calon Bella," lanjut Nadia. "Kalau Bella mengambil Arman, bukan berarti aku harus mengambil sisa pilihan Bella."

Arman tertawa sinis.

"Jadi kamu masih mau menikah denganku?"

Nadia menatapnya seperti melihat sampah basah.

"Denganmu? Tidak."

Wajah Arman langsung gelap.

"Lalu apa maumu?"

Nadia melihat Pak Hendra.

"Lamaran keluarga Wiratmaja kepada keluarga Pak Darto tetap harus dipertanggungjawabkan. Kalau Arman memilih Bella, maka keluarga Wiratmaja tetap harus menyelesaikan urusan denganku secara terhormat."

Bu Lilis mulai gusar.

"Kami akan memberi uang ganti malu."

"Berapa?"

Bu Lilis tersentak. Ia mungkin tidak menyangka Nadia akan bertanya setegas itu.

"Nadia," kata Bu Ratna cepat, "jangan membuat dirimu terlihat seperti menjual harga diri."

Nadia berbalik.

"Harga diriku sudah kalian injak. Sekarang aku hanya meminta kalian membayar sandal yang kalian pakai."

Sari tidak tahan lagi. Ia tertawa pendek.

Beberapa tetangga ikut menunduk, bahu mereka bergetar.

Bu Ratna malu setengah mati.

Eyang Marni marah. "Dasar anak tidak tahu diri! Perempuan kok bicara uang di depan tamu!"

"Perempuan boleh dijadikan korban di depan tamu, tapi tidak boleh bicara uang?"

"Kamu..."

"Eyang," Nadia memotong, suaranya rendah, "kalau malam ini Eyang masih memaksa aku diam, besok aku sendiri yang akan pergi ke rumah Pak RT, ke kantor kelurahan, lalu ke Polsek. Aku akan bilang keluarga ini memaksaku menerima laki-laki lain setelah calon suamiku tidur dengan adik tiriku."

Ruangan membeku.

Pak Darto panik. "Nadia, jangan bawa-bawa polisi."

"Kenapa? Takut malu?"

Tidak ada jawaban.

Nadia menatap Bella.

"Kamu mau Arman, kan?"

Bella mengangguk pelan.

"Ambil."

Lalu Nadia menatap Arman.

"Kamu mau Bella?"

Arman, demi harga dirinya, menjawab, "Ya."

Nadia tersenyum.

"Bagus. Kalau begitu, mulai malam ini jangan pernah lagi memakai namaku sebagai alasan. Kalian bukan korban cinta. Kalian cuma dua orang tidak tahu malu yang ketahuan terlalu cepat."

Arman melangkah maju, tapi Pak Hendra menahan bahunya.

Nadia menunduk mengambil amplop di atas meja, lalu mengangkatnya di depan semua orang.

"Sekarang kita bicara urusan saya."

Bella mendadak merasa jantungnya jatuh.

Karena untuk pertama kalinya, ia sadar satu hal.

Nadia tidak menangis karena kehilangan Arman.

Nadia terlihat seperti orang yang baru saja bebas.

Episode 3

Bab 03 - Harga Malu

Amplop itu tidak tebal.

Isinya hanya uang simbolis untuk lamaran, bukan mahar akad nikah. Tapi begitu Nadia mengangkatnya, semua mata mengikuti gerakan tangannya seolah ia sedang memegang bara api.

Bu Lilis langsung berdiri.

"Itu uang lamaran dari keluarga kami."

"Untuk siapa?" tanya Nadia.

Bu Lilis tertahan.

Nadia menatapnya tenang.

"Malam ini keluarga Ibu datang untuk melamar saya. Kalau uang ini diberikan sebagai tanda keseriusan kepada calon pengantin perempuan, berarti ini untuk saya."

Eyang Marni menyahut cepat, "Itu untuk keluarga. Belum akad, belum jadi mahar. Jangan serakah."

Nadia menoleh.

"Serakah?"

"Iya. Baru juga ada masalah sedikit, kamu sudah pegang uang."

Sari langsung naik darah.

"Masalah sedikit? Calon suaminya ketahuan dengan Bella, Bu!"

"Kamu diam, Sari. Kamu sudah menikah, jangan ikut campur rumah ini."

Sari terdiam, wajahnya memucat. Kalimat itu selalu dipakai Eyang Marni untuk membungkamnya. Begitu seorang anak perempuan menikah, ia dianggap tamu di rumah orang tuanya sendiri. Tidak punya suara, kecuali diminta membawa oleh-oleh.

Nadia meremas amplop.

"Mbak Sari boleh bicara. Dia kakak kandungku. Justru orang-orang yang menjual harga diriku malam ini yang seharusnya diam."

"Nadia!" Pak Darto berseru lagi.

Nadia tidak menoleh.

Ia sudah terlalu hafal nada itu. Nada bapak yang malu pada tetangga, tapi tidak cukup marah pada orang yang menyakiti anaknya.

Pak Hendra mengusap wajah.

"Baik. Kita jangan berputar. Nadia, kalau kamu merasa perlu kompensasi, sebutkan angka yang wajar."

Bu Lilis langsung menarik lengan suaminya.

"Pak, jangan turuti. Nanti anak ini makin menjadi."

Nadia tersenyum.

"Saya memang akan menjadi. Menjadi orang yang tidak bisa kalian injak lagi."

Arman mendengus.

"Kamu berubah sekali malam ini."

Nadia menatapnya.

"Kamu juga. Tadi sore masih jadi calon suamiku. Sekarang jadi calon suami adik tiriku."

Wajah Arman merah.

Bella yang sejak tadi diam akhirnya berkata pelan, "Kak, jangan memperpanjang. Kalau uang yang kamu mau, nanti aku dan Mas Arman akan menggantinya setelah menikah."

Nadia tertawa.

"Kamu mengganti dengan apa? Dengan uang Mas Arman yang masih minta bensin ke ibunya?"

Beberapa saudara menoleh ke Arman. Arman tampak ingin meledak.

Bu Lilis tersinggung.

"Anak saya tidak seperti itu."

"Kalau begitu bagus. Berarti keluarga Wiratmaja mampu mengganti malu saya."

Eyang Marni menunjuk Nadia.

"Kamu ini benar-benar tidak tahu malu. Di depan calon mertua sendiri bicara seperti pedagang pasar."

Nadia melangkah mendekat ke neneknya.

"Calon mertua siapa, Eyang?"

Eyang Marni terdiam.

"Bu Lilis sebentar lagi jadi mertua Bella, bukan aku."

Bella menunduk. Bu Ratna memeluk bahunya lebih erat, seperti sedang melindungi anak tersayangnya dari seluruh dunia.

Nadia melihat pelukan itu.

Dulu ia sering bertanya-tanya, kenapa Bu Ratna tidak pernah memeluknya seperti itu. Kenapa setiap ia sakit, Bu Ratna hanya menaruh obat di meja dan berkata ia tidak boleh manja. Kenapa setiap Bella menangis sedikit, seluruh rumah berlari.

Jawabannya baru ia ketahui di kehidupan lalu, saat semuanya terlambat.

Bella bukan anak pungut yang kebetulan dibawa pulang.

Bella adalah anak kandung Bu Ratna.

Anak yang disembunyikan agar Bu Ratna bisa menikah dengan Pak Darto.

Nadia menahan napas.

Belum waktunya.

Kalau ia membongkar sekarang, mereka akan panik dan menyangkal. Bukti belum ada di tangan. Lebih baik ia biarkan Bu Ratna merasa masih aman.

Orang yang merasa aman biasanya lebih ceroboh.

"Saya minta tiga hal," kata Nadia akhirnya.

Pak Hendra mengangguk pelan. "Sebutkan."

"Pertama, keluarga Wiratmaja harus menjelaskan kepada Pak RT dan para tetangga bahwa saya tidak bersalah. Arman dan Bella yang mengkhianati lamaran."

Bu Lilis hendak menolak, tapi Pak Hendra mengangkat tangan.

"Masuk akal."

"Pak!" Bu Lilis menatap suaminya.

"Diam dulu," kata Pak Hendra.

Nadia melanjutkan, "Kedua, uang lamaran dan seserahan yang memang ditujukan untuk saya tidak boleh diambil keluarga ini. Semuanya jadi milik saya."

Eyang Marni berdiri dengan tongkat gemetar.

"Tidak bisa! Itu untuk biaya acara. Kursi, tenda, makanan, semua pakai uang rumah."

"Acara untuk lamaranku. Yang merusak acara Bella dan Arman. Kalau mau ganti biaya, tagih mereka."

Bella terkejut. "Kak..."

"Apa? Kamu mau laki-lakinya, tapi tidak mau biayanya?"

Bu Ratna menatap Nadia tajam.

"Nadia, jangan membuat adikmu makin tertekan."

"Aku tidak membuatnya masuk kamar. Aku hanya membuatnya membayar pintu yang ia buka sendiri."

Pak Hendra menekan pelipis.

"Baik. Yang ketiga?"

Nadia memandang keluarga Wiratmaja satu per satu.

"Lamaran keluarga Wiratmaja kepada saya tetap harus diselesaikan."

Semua orang kaget.

Arman yang pertama tertawa.

"Tadi kamu bilang tidak mau denganku."

"Memang."

"Lalu siapa? Kamu mau ayahku menikahimu?"

"Jaga mulutmu," Pak Hendra membentak.

Nadia tidak marah. Ia justru menatap Arman dengan senyum kecil.

"Keluarga Wiratmaja bukan hanya kamu, Mas Arman."

Bu Lilis langsung memahami arah kalimat itu. Wajahnya berubah.

"Tidak."

Pak Hendra menoleh. "Lilis."

"Tidak, Pak. Jangan bilang anak ini mau menyeret Raka."

Nama itu jatuh di ruangan seperti gelas pecah.

Om Raka.

Adik bungsu Pak Hendra. Usianya hanya beberapa tahun di atas Arman karena lahir dari pernikahan kedua kakek mereka. Tubuhnya lemah sejak kecil setelah hanyut saat banjir besar. Ia jarang ikut acara keluarga karena mudah lelah, tapi malam ini ia datang, duduk di kursi dekat pintu dengan wajah pucat dan batuk tertahan.

Sejak Nadia keluar kamar, Raka belum banyak bicara.

Tapi Nadia tahu.

Di kehidupan lalu, Raka mati muda.

Ia pernah mendengar ibu mertuanya berkata sambil menangis bahwa Raka terlalu baik untuk keluarga mereka. Nadia saat itu masih menjadi istri Arman, masih terlalu sibuk bertahan dari pukulan dan fitnah untuk memahami duka itu.

Sekarang Raka duduk di sana.

Hidup.

Matanya tenang, tapi tidak kosong. Ia melihat semua kekacauan ini seolah sedang menimbang satu per satu kebusukan yang disembunyikan keluarganya.

Nadia menatapnya.

"Om Raka belum menikah, kan?"

Bu Lilis langsung berseru, "Kamu lancang!"

Arman tertawa kasar.

"Kamu mau jadi tanteku?"

Nadia menatap Arman.

"Kenapa? Takut harus memanggilku Tante Nadia?"

Wajah Arman mengeras. Tawa beberapa orang tertahan di tenggorokan.

Bella mendadak panik.

Kalau Nadia menikah dengan Raka, posisinya berubah. Nadia tidak lagi menjadi perempuan yang kalah. Ia akan masuk keluarga Wiratmaja dari pintu yang lebih tinggi. Ia akan menjadi istri orang yang dihormati Pak Hendra.

"Kak," Bella berkata cepat, "jangan begini. Om Raka sakit. Kamu nanti menderita."

Nadia menoleh pelan.

"Kamu peduli aku menderita?"

Bella tersedak.

Raka akhirnya batuk pelan. Semua mata beralih padanya.

Ia berdiri, gerakannya tidak cepat, tapi tegap. Wajahnya pucat, namun suaranya jelas.

"Nadia, kamu yakin tahu apa yang kamu minta?"

Nadia menatapnya.

"Saya tahu."

"Tubuh saya tidak sehat."

"Saya lihat."

"Saya tidak bisa menjanjikan hidup mudah."

"Saya tidak mencari hidup mudah."

Raka diam.

Untuk pertama kalinya malam itu, suasana tidak terasa seperti pasar yang ribut. Ada keheningan yang lebih dalam, seolah semua orang tidak berani ikut campur.

Nadia melangkah mendekat.

"Saya hanya ingin keluarga yang berjanji datang melamar saya tidak membuang saya seperti barang rusak karena anaknya sendiri berkhianat. Kalau Om Raka keberatan, saya tidak akan memaksa."

Arman mencibir.

"Bagus. Raka pasti tidak mau."

Raka menoleh ke Arman.

"Kamu diam."

Arman membeku. Seumur hidup, ia jarang mendengar pamannya bicara dengan nada seperti itu.

Raka kembali menatap Nadia.

"Kalau saya menerima, kamu tidak bisa menjadikannya sekadar pembalasan."

Nadia menjawab tanpa ragu.

"Saya tidak akan menikah hanya untuk membalas. Tapi kalau ada orang tersiksa karena melihat saya hidup lebih baik, itu urusan mereka."

Sudut bibir Raka bergerak tipis.

Sari menahan napas.

Pak Hendra memandang adiknya, lalu Nadia, seperti melihat jalan keluar yang tidak ia duga.

Bu Lilis tampak hampir pingsan.

Bella menggenggam tangan Bu Ratna.

Raka berkata, "Baik. Kalau kamu tetap ingin keluarga Wiratmaja bertanggung jawab, saya bersedia melamarmu."

Ruang tengah meledak.

"Raka!" Bu Lilis menjerit.

"Om!" Arman berseru tidak percaya.

Eyang Marni menatap Nadia seperti melihat hantu.

Nadia justru tersenyum.

Ia memandang Arman dan Bella.

"Mulai sekarang, kalian boleh lanjutkan cinta kalian."

Lalu ia menatap Arman lebih lama.

"Tapi lain kali, panggil aku dengan benar."

Arman tidak menjawab.

Nadia membantu dengan suara lembut.

"Tante Nadia."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!