Bab 1
Naura Ayu Prameswari terbangun ketika dahinya menempel pada meja kerja.
Bau kopi dingin langsung menusuk hidung. Suara pendingin ruangan berdengung pelan di atas kepala. Di luar kaca ruangannya, lampu-lampu gedung Jakarta masih menyala, tetapi cahaya sore mulai turun di antara gedung tinggi Sudirman.
Naura tidak langsung bergerak.
Jantungnya berdebar terlalu cepat.
Bukankah tadi ia sudah mati?
Ia ingat jelas kost kecilnya di Karet. Laptop masih terbuka. File proyeksi valuasi belum selesai. Jam di dinding menunjuk pukul tiga lewat dua puluh menit. Dadanya sakit, napasnya putus, lalu seluruh tubuhnya jatuh ke lantai yang dingin.
Tidak ada yang menolong.
Tidak ada yang tahu.
Ia meninggal sendirian, setelah bekerja seperti orang gila selama bertahun-tahun.
Tapi sekarang, ia duduk di ruang kantor Mahardika Capital.
Di mejanya ada map biru bertuliskan `PT Sagara Medika - Due Diligence`.
Tangannya gemetar ketika mengambil ponsel.
2 September 2017.
Naura menatap tanggal itu lama sekali.
Delapan tahun.
Ia kembali ke delapan tahun sebelum kematiannya.
Pintu ruangannya diketuk dua kali.
Naura menahan napas.
"Masuk."
Pintu terbuka. Seorang analis muda masuk membawa beberapa dokumen. Wajahnya masih polos, belum setajam ingatan Naura di masa depan.
"Mbak Naura, ini tambahan data dari Sagara Medika. Pak Bima minta Mbak cek malam ini juga."
Dimas.
Di kehidupan sebelumnya, Dimas menjadi salah satu analis terbaik di timnya. Dua tahun kemudian dia pindah ke Singapura. Tapi sekarang dia masih anak baru yang kalau dimarahi klien saja wajahnya pucat.
Naura menerima dokumen itu.
"Taruh saja dulu."
Dimas ragu. "Pak Bima bilang malam ini harus ada catatan awal."
Naura menatapnya.
Dimas langsung menunduk.
"Aku mengerti. Kamu pulang saja. Sudah jam berapa ini?"
"Tapi, Mbak..."
"Pulang."
Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat Dimas terdiam.
"Baik, Mbak."
Dimas keluar dan menutup pintu.
Begitu suara pintu terdengar, Naura meletakkan ponsel. Tangannya menekan dada.
Ia benar-benar kembali.
Tahun itu adalah tahun paling terang sekaligus awal kejatuhannya.
Ia baru saja dipromosikan menjadi Vice President di Mahardika Capital. Usianya baru dua puluh lima. Di kantor yang dipenuhi laki-laki ambisius dan perempuan yang harus bekerja dua kali lebih keras untuk dianggap setengah layak, namanya mencuat cepat.
Lalu keluarganya datang.
Bapak, Ibu, dan Bagas datang ke lobi kantor, berteriak di depan resepsionis dan security. Mereka menuduhnya anak durhaka karena transfer bulan itu terlambat tiga hari.
Video itu menyebar di grup kantor.
Orang-orang yang sebelumnya memujinya mulai berbisik.
Mantan pacarnya, Farid, yang selama setahun bicara soal masa depan, tiba-tiba berkata mereka perlu berhenti dulu.
Atasan yang dulu tersenyum ramah mulai berkata, "Naura, kamu harus bisa mengatur urusan keluarga. Klien kita tidak boleh dengar hal-hal seperti ini."
Sejak itu kariernya seperti tertutup kaca.
Ia masih bekerja paling keras. Ia masih membawa proyek paling sulit. Tapi promosi berikutnya tidak pernah datang.
Delapan tahun ia bertahan.
Delapan tahun ia mengirim uang ke rumah.
Untuk cicilan motor Bagas. Untuk modal usaha Bagas. Untuk utang Bagas. Untuk renovasi rumah yang bahkan tidak menyediakan kamar untuknya. Untuk biaya hidup orang tua yang setiap bulan berkata, "Kamu perempuan, nanti kalau menikah ikut suami. Selagi belum menikah, bantu keluarga dulu."
Naura tertawa kecil.
Tawanya tidak sampai ke mata.
Di kehidupan lalu, pada usia tiga puluh tiga, ia mati tanpa tabungan berarti. BPJS-nya menunggak karena ia lupa membayar setelah resign paksa. Kartu ATM-nya sering kosong. Rumah yang ia bangun dengan uangnya dipakai Bagas membawa teman-temannya bermain gim.
Ibu menangis di pemakamannya, tetapi Naura ingat jelas wajah ibu saat ia sakit usus buntu bertahun-tahun lalu.
Bukan khawatir.
Marah.
"Uang tabunganmu kepakai untuk operasi? Terus bulan ini Bagas bayar apa?"
Naura memejamkan mata.
Ponselnya bergetar.
Grup WhatsApp keluarga.
Nama grup itu `Keluarga Harto Bahagia`.
Bahagia.
Naura membuka pesan.
Ibu: `Naura, transfer belum masuk. Jangan pura-pura lupa.`
Bapak: `Kamu itu anak pertama. Bantu adikmu jangan banyak hitungan.`
Bagas: `Mbak, aku mau DP motor. Janji sama dealer hari ini. Jangan bikin malu.`
Naura menatap layar. Di kehidupan sebelumnya, ia langsung panik, membuka mobile banking, lalu mengirim hampir seluruh gaji yang baru masuk.
Sekarang ia hanya meletakkan ponsel kembali.
Telepon dari Ibu masuk.
Ia biarkan berdering.
Telepon berhenti.
Masuk lagi.
Naura tetap diam.
Pada dering ketiga, ia mengangkat.
"Naura!" suara Ibu langsung meledak. "Kamu kenapa tidak balas pesan? Uang untuk Bagas mana?"
Naura menyandarkan punggung ke kursi.
"Aku sedang kerja."
"Kerja kerja kerja. Memangnya uang itu untuk siapa? Untuk adikmu juga. Dia laki-laki satu-satunya di rumah ini. Kalau dia berhasil, nama keluarga juga ikut naik."
"Berhasil apa?"
Ibu terdiam sebentar. "Apa maksudmu?"
"Bagas sudah tiga kali ganti rencana. Jualan sepatu, gagal. Jualan aksesori motor, gagal. Sekarang mau DP motor baru. Itu namanya berhasil?"
"Naura!" suara Bapak masuk dari jauh. Sepertinya ponsel di-loudspeaker. "Jaga bicaramu sama Ibu."
Bagas ikut bersuara, malas dan kesal. "Mbak, kalau tidak mau bantu bilang saja. Jangan ceramah. Gajimu kan besar."
Naura memandang map di meja. Tulisan Sagara Medika terlihat tajam.
Gajinya besar.
Benar.
Tapi hidupnya habis untuk mereka.
"Mulai bulan ini aku tidak kirim uang untuk DP motor."
Sunyi.
Lalu Ibu menjerit, "Kamu kesambet apa?"
"Aku akan kirim kebutuhan pokok seperlunya untuk Bapak dan Ibu. Kalau Bagas mau motor, kerja."
"Aku masih kuliah!" Bagas membentak.
"Kamu sudah semester sembilan."
"Mbak!"
Naura menutup mata sebentar.
Aneh. Ia kira mengatakan itu akan membuat dadanya hancur. Ternyata tidak. Rasanya seperti membuka jendela setelah bertahun-tahun hidup di kamar pengap.
Ibu mulai menangis. "Kamu sudah sukses, lalu lupa keluarga. Dari kecil Ibu besarkan kamu, sekarang begini balasanmu?"
"Ibu membesarkan aku supaya aku bisa hidup, atau supaya aku jadi ATM?"
Di seberang, napas semua orang seperti berhenti.
Naura berdiri. Lututnya masih lemas, tetapi suaranya stabil.
"Aku masih kerja. Kita bicara nanti."
Ia memutus panggilan.
Telepon langsung masuk lagi. Ia mengaktifkan mode senyap.
Ruangan kembali tenang.
Naura berjalan ke jendela. Di bawah sana, mobil-mobil merayap seperti aliran lampu. Jakarta masih sama. Padat, panas, ambisius, dan tidak pernah peduli siapa yang jatuh selama angka di layar tetap bergerak.
Dulu ia mencintai kota ini karena merasa bisa menang di sini.
Sekarang ia tahu, menang tidak ada artinya jika nyawanya habis.
Pintu kembali diketuk.
Kali ini tanpa menunggu jawaban, Bima masuk.
Bima Santoso. Managing Director. Atasan langsungnya. Di kehidupan lalu, laki-laki ini berkali-kali tersenyum di depan klien, lalu melemparkan semua pekerjaan kotor kepadanya.
"Naura, kamu belum pulang, kan?" Bima bertanya seolah itu bukan pertanyaan.
Naura menoleh. "Belum."
"Bagus. Sagara Medika perlu catatan awal malam ini. Besok pagi aku meeting dengan Pak Wira."
Naura menatapnya.
Pak Wira adalah klien yang di kehidupan lalu membuatnya bekerja empat puluh jam hampir tanpa tidur. Proyek itu akhirnya bermasalah karena ada data kepemilikan yang sengaja disembunyikan. Bima tahu, tapi tetap memaksanya menandatangani memo internal.
Setelah perkara muncul, ia yang dipanggil paling dulu.
Bima selamat.
Naura tidak.
"Pak Bima," ucap Naura pelan.
"Ya?"
"Mulai besok saya cuti tiga hari."
Wajah Bima berubah. "Apa?"
"Saya punya hak cuti."
"Naura, kamu tahu kondisi tim sekarang. Jangan bercanda."
"Saya tidak bercanda."
Bima masuk lebih jauh, menutup pintu. "Dengar. Aku tahu belakangan kamu ada masalah keluarga. Tapi jangan bawa emosi ke kantor. Kamu perempuan pintar. Jangan rusak momentum kariermu karena hal sepele."
Hal sepele.
Naura hampir tertawa.
Keluarga yang memerasnya disebut hal sepele. Kesehatan yang hancur disebut risiko kerja. Martabat yang diinjak disebut konsekuensi karier.
"Kalau saya tidak ambil cuti, proyek ini akan tetap berjalan?"
"Tentu. Tapi kamu orang paling paham datanya."
"Berarti perusahaan tergantung pada saya."
Bima mengerutkan dahi. "Kamu mau bicara apa?"
Naura mengambil map Sagara Medika dan menutupnya.
"Kalau perusahaan tergantung pada saya, seharusnya perusahaan menghargai batas saya."
Tatapan Bima menajam. "Naura, jangan mulai."
"Saya belum mulai, Pak."
Ponsel Bima berbunyi. Ia melihat layar, lalu menolak panggilan. Wajahnya terlihat kesal.
"Kamu lelah, aku paham. Tapi ini dunia kerja. Semua orang lelah. Kalau kamu mau sampai posisi lebih tinggi, kamu harus tahan banting."
Naura mengangguk pelan.
Dulu ia percaya kalimat itu.
Tahan banting.
Sampai tubuhnya benar-benar terbanting ke lantai dan tidak bangun lagi.
"Saya sudah cukup tahan, Pak."
Bima menatapnya seperti melihat orang asing.
"Besok saya ajukan cuti resmi."
"Kalau aku tidak setuju?"
Naura tersenyum tipis.
"Kalau begitu saya ajukan pengunduran diri."
Wajah Bima membeku.
Di luar ruangan, suara keyboard masih terdengar. Orang-orang masih mengejar angka, bonus, jabatan, dan pujian dari atasan yang tidak akan datang ke pemakaman mereka dengan tulus.
Naura mengambil tasnya.
"Malam ini saya pulang tepat waktu."
Ia berjalan melewati Bima.
Untuk pertama kalinya setelah hidup dua kali, Naura meninggalkan kantor sebelum langit benar-benar gelap.
Bab 2
Pagi itu, Naura datang ke kantor dengan wajah segar.
Itu saja sudah cukup membuat beberapa orang menoleh.
Biasanya ia datang paling pagi dengan mata merah, rambut rapi tapi aura seperti orang baru keluar dari perang. Kopi hitam di tangan kanan, ponsel di tangan kiri, laptop sudah menyala bahkan sebelum ia duduk.
Hari ini ia datang pukul delapan lewat lima belas.
Masih lebih pagi dari sebagian besar orang.
Tapi bagi Mahardika Capital, itu sudah termasuk santai.
"Mbak Naura." Dimas yang sedang mengambil air minum hampir tersedak. "Mbak tidur?"
Naura berhenti di dekat pantry.
"Pertanyaanmu aneh."
"Maksud saya..." Dimas terlihat panik. "Mbak kelihatan sehat."
Seorang analis lain tertawa kecil. "Dimas, hati-hati. Itu bisa terdengar seperti selama ini Mbak Naura kelihatan sakit."
Naura mengambil gelas. "Memang selama ini aku kelihatan sakit."
Tawa kecil itu langsung berhenti.
Naura menuang air hangat, lalu berjalan ke ruangannya.
Begitu duduk, ia membuka laptop dan mulai menyusun daftar pekerjaan yang harus diserahterimakan. Ia tidak ingin pergi dengan meninggalkan kekacauan. Bukan demi Mahardika, melainkan demi tim kecil yang selama ini bekerja bersamanya.
Pukul sembilan kurang sepuluh, pesan dari HR masuk.
`Mbak Naura, Pak Bima minta meeting di ruang kecil lantai 18.`
Naura membalas singkat.
`Baik.`
Di ruang kecil itu sudah ada Bima, seorang manajer HR bernama Lestari, dan Pak Surya, salah satu direktur senior.
Tiga orang.
Naura hanya satu.
Dulu komposisi seperti ini sudah cukup membuatnya merasa bersalah bahkan sebelum bicara. Sekarang ia menarik kursi dan duduk dengan tenang.
Pak Surya membuka pembicaraan dengan senyum ayah-ayah bijak.
"Naura, Bima cerita kamu sedang ingin cuti mendadak."
"Saya mengajukan cuti sesuai hak karyawan."
"Betul. Tidak salah. Tapi waktunya kurang pas."
Naura menatapnya. "Kapan waktu cuti yang pas untuk orang di tim kita, Pak?"
Pak Surya terdiam sebentar.
Bima menyela, "Kamu jangan defensif. Kita di sini bukan mau menyerang."
Naura hampir ingin bertepuk tangan.
Kalimat itu selalu keluar sebelum seseorang menyerang.
Lestari dari HR tersenyum kaku. "Mbak Naura, kami cuma ingin memahami. Apakah ada masalah keluarga lagi?"
Lagi.
Kata itu halus, tetapi ujungnya tajam.
Naura meletakkan map di meja. "Masalah keluarga saya tidak relevan dengan hak cuti."
Bima mencondongkan badan. "Relevan kalau mengganggu performamu."
"Performa saya turun?"
Tidak ada yang langsung menjawab.
Naura membuka halaman pertama map itu. Ia sudah mencetak beberapa data sebelum meeting.
"Ini daftar proyek dua tahun terakhir. Nilai transaksi, jam kerja, kontribusi tim, dan evaluasi klien. Kalau performa saya turun, tolong tunjukkan di bagian mana."
Lestari menatap kertas itu dengan gugup.
Pak Surya mengambil satu lembar. Matanya bergerak cepat.
Bima tidak menyentuhnya.
"Naura, kamu tahu maksudku bukan itu," katanya.
"Saya tidak tahu, Pak. Karena selama ini saya selalu diminta bekerja berdasarkan data."
Ruang itu mendadak sunyi.
Di luar kaca, orang-orang lalu lalang. Di dalam, udara terasa lebih dingin.
Pak Surya berdeham. "Kamu memang salah satu talenta terbaik kita. Justru karena itu kami ingin kamu berpikir jernih. Cuti bisa kita atur. Tapi soal pengunduran diri yang kamu sebut semalam, itu sebaiknya tidak dibicarakan saat emosi."
"Saya tidak sedang emosi."
Bima tertawa pendek. "Semua orang yang emosi selalu bilang begitu."
Naura menoleh kepadanya.
"Pak Bima, apakah Bapak masih menyimpan pesan dari Pak Wira Sagara?"
Wajah Bima berubah.
Sedikit saja.
Tapi Naura melihatnya.
Pak Surya mengerutkan dahi. "Pesan apa?"
Bima langsung berkata, "Tidak ada apa-apa. Naura, jangan membelokkan pembicaraan."
"Saya tidak membelokkan. Sagara Medika adalah alasan cuti saya dianggap masalah, kan? Kalau saya harus memikul proyek itu sendirian, saya perlu memastikan semua data bersih."
Bima menatapnya tajam.
Naura membuka ponsel dan meletakkannya di meja. Tidak ia buka. Tidak ia putar rekaman. Ia hanya membiarkan benda itu terlihat.
"Kemarin malam Pak Bima meminta saya membuat catatan awal. Padahal ada struktur kepemilikan yang belum jelas. Pak Bima juga pernah meminta saya menunda catatan risiko pada proyek lain sampai klien menandatangani mandate letter. Kalau semua pembicaraan ini perlu dijelaskan ke compliance, saya bersedia."
Wajah Lestari pucat.
Pak Surya menatap Bima.
Bima menahan rahang. "Kamu mengancam saya?"
"Saya melindungi diri."
"Naura."
Suara Pak Surya menjadi lebih berat.
Naura menatapnya. "Pak, saya sudah bekerja di sini tiga tahun. Saya tidak pernah menolak lembur. Saya tidak pernah melempar pekerjaan. Saya tidak pernah mempermalukan perusahaan meskipun perusahaan membiarkan saya dipermalukan."
Lestari menunduk.
Semua orang tahu soal keluarganya datang ke kantor.
Semua orang tahu, tapi tidak ada yang benar-benar berdiri di sisinya.
"Waktu keluarga saya membuat keributan di lobi, yang pertama Bapak katakan adalah saya harus menjaga reputasi kantor. Tidak ada yang bertanya apakah saya aman."
Pak Surya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Saya tidak minta dibela. Saya sudah terbiasa berdiri sendiri. Tapi jangan minta saya terus bekerja seperti mesin lalu menyebut saya tidak profesional ketika saya mengambil hak saya."
Bima berkata dengan suara rendah, "Kamu akan menyesal."
Naura tersenyum.
"Mungkin. Tapi saya lebih menyesal kalau mati di meja kerja."
Tidak ada yang tertawa.
Naura mengeluarkan satu amplop dari tas.
Ia meletakkannya di tengah meja.
"Surat pengunduran diri saya. Efektif sesuai aturan perusahaan. Saya bersedia serah terima pekerjaan dengan rapi."
Lestari terlihat seperti ingin pingsan.
Pak Surya mengambil amplop itu perlahan. "Naura, jangan gegabah. Di luar sana tidak mudah. Dengan reputasimu setelah kejadian keluarga itu..."
Ia berhenti sendiri.
Karena kalimatnya sudah terlanjur telanjang.
Naura menatapnya tanpa berkedip.
"Dengan reputasi saya setelah keluarga saya mempermalukan saya, perusahaan merasa saya tidak punya pilihan selain bertahan?"
Pak Surya tidak menjawab.
Naura berdiri.
"Justru karena itu saya pergi."
Bima ikut berdiri. "Kamu pikir perusahaan lain akan menerima orang dengan masalah keluarga seperti itu?"
Naura menoleh.
"Saya tidak bilang akan pindah ke perusahaan lain."
"Lalu mau apa? Buka usaha? Jadi konsultan? Kamu pikir gampang?"
Nada Bima mulai kehilangan lapisan sopan.
Di kehidupan sebelumnya, Naura pasti merasa kecil.
Sekarang tidak.
"Saya bisa bekerja apa saja."
Bima mendengus. "Jangan idealis. Kamu lulusan top, kariermu bagus. Jangan buang diri ke pekerjaan rendahan hanya karena ingin membuktikan sesuatu."
Naura memegang tasnya.
"Pekerjaan rendahan itu yang membuat saya bisa kuliah, Pak."
Bima terdiam.
"Saya pernah cuci piring di warung makan. Saya pernah bersihkan apartemen orang. Saya pernah mengajar anak SD sampai SMA. Saya pernah jadi barista paruh waktu. Saya pernah bantu katering subuh-subuh sebelum kelas. Semua pekerjaan itu halal."
Ia menatap satu per satu orang di ruangan itu.
"Yang rendahan bukan pekerjaannya. Yang rendahan adalah orang yang menganggap martabat manusia ditentukan oleh kartu nama."
Naura berjalan ke pintu.
Tangannya baru menyentuh gagang ketika Pak Surya memanggil.
"Naura."
Ia berhenti.
"Serah terima berapa lama yang kamu butuhkan?"
Suara itu sudah berubah.
Lebih hati-hati.
Naura menoleh. "Dua minggu cukup. Kalau perusahaan ingin saya selesai lebih cepat, saya bisa buat daftar prioritas."
Pak Surya mengangguk pelan. "Kompensasi akan dihitung sesuai aturan."
Bima langsung menatapnya. "Pak Surya."
Pak Surya mengangkat tangan, menyuruhnya diam.
"Tambahkan satu bulan sebagai apresiasi kontribusi," katanya kepada Lestari. "Dan pastikan bonus proyek yang sudah vested tetap dibayarkan."
Lestari cepat-cepat mencatat.
Naura tahu alasan Pak Surya berubah bukan karena iba.
Mereka takut.
Takut ia membawa cerita keluar. Takut compliance membuka laci yang selama ini ditutup rapat. Takut satu perempuan yang mereka anggap bisa ditekan ternyata sudah tidak takut lagi.
Tidak apa-apa.
Di dunia kerja, rasa takut kadang lebih berguna daripada simpati.
Naura keluar dari ruang meeting.
Di koridor, Dimas berdiri tidak jauh dari mesin fotokopi. Pura-pura mengecek kertas, tetapi wajahnya tegang.
"Mbak..."
"Kumpulkan tim jam sebelas. Aku serah terima pekerjaan."
Wajah Dimas jatuh. "Mbak benar-benar pergi?"
Naura mengangguk.
"Tapi kenapa?"
Ia menatap anak muda itu. Di kehidupan lalu, Dimas pernah berkata kepadanya, "Mbak, aku kagum sama Mbak, tapi aku tidak mau hidup seperti Mbak."
Waktu itu Naura tertawa.
Sekarang ia mengerti.
"Karena hidupku lebih penting daripada jabatan."
Dimas tidak menjawab.
Naura berjalan menuju ruangannya. Di sepanjang koridor, beberapa orang mulai berbisik. Ada yang penasaran. Ada yang puas. Ada yang takut.
Ia tidak peduli.
Ponselnya kembali bergetar.
Ibu mengirim pesan panjang di grup keluarga.
`Kalau kamu merasa sudah hebat sampai berani melawan orang tua, ingat, doa Ibu bisa jadi kutukan. Jangan sampai nanti hidupmu susah baru ingat keluarga.`
Naura membaca sampai selesai.
Lalu ia mengetik.
`Mulai bulan ini aku hanya kirim untuk kebutuhan Bapak dan Ibu. Bagas harus kerja. Kalau ada yang datang ke kantor atau membuat keributan lagi, aku lapor polisi.`
Ia mengirim pesan itu.
Grup langsung sunyi.
Untuk pertama kalinya, tidak ada yang membalas.
Naura meletakkan ponsel dan mulai menyusun dokumen serah terima.
Di layar laptop, kalender dua minggu ke depan terbuka.
Ia menatap tanggal-tanggal itu.
Hidup barunya baru saja dimulai.
Bab 3
Kabar Naura mengundurkan diri menyebar lebih cepat daripada memo resmi.
Sebelum jam makan siang, hampir semua orang di lantai delapan belas sudah tahu.
Ada yang datang pura-pura mengambil dokumen. Ada yang melongok ke ruangannya sambil tersenyum canggung. Ada yang menatapnya seperti melihat orang gila yang baru saja membakar tiket emas.
Naura tidak menjelaskan apa-apa.
Ia mengumpulkan timnya di ruang meeting kecil.
Dimas, Rika, Jovan, dan dua analis baru duduk mengelilingi meja. Wajah mereka tidak enak dilihat. Seperti anak-anak yang baru diberi tahu wali kelasnya pindah sekolah.
Naura membuka laptop dan menghubungkan layar.
"Kita mulai dari Mandala Food."
Dimas mengangkat tangan pelan. "Mbak, sebelum itu..."
"Nanti."
"Tapi..."
Naura menatapnya.
Dimas menelan ludah. "Baik, Mbak."
Rika yang biasanya paling cerewet hari itu diam. Matanya merah, entah karena kurang tidur atau menahan emosi.
Naura menjelaskan satu per satu proyek. Mana yang bisa dilanjutkan Dimas. Mana yang harus dikembalikan ke Bima. Mana yang butuh catatan risiko tertulis. Mana yang sebaiknya jangan disentuh tanpa persetujuan compliance.
Ia bicara hampir dua jam.
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada kalimat dramatis.
Tapi setiap instruksi jelas.
Ketika selesai, Jovan mengangkat tangan.
"Mbak, kalau nanti Pak Bima minta kami hapus catatan risiko?"
Naura menatapnya.
"Jangan hapus. Kalau diminta revisi, minta instruksi lewat email."
"Kalau dia marah?"
"Biarkan."
Rika menggigit bibir. "Mbak bisa bilang begitu karena Mbak mau pergi."
Ruangan hening.
Dimas langsung menyenggol sikunya.
Rika menunduk. "Maaf."
Naura tidak marah.
Ia justru senang Rika berani berkata jujur.
"Betul. Aku bisa bilang begitu karena aku mau pergi. Karena itu sebelum pergi, aku mau kalian tahu satu hal."
Semua mata menatapnya.
"Jangan pernah menggantungkan keselamatan kalian pada kebaikan atasan. Simpan catatan. Minta instruksi tertulis. Jangan tanda tangan apa pun yang kalian tidak pahami. Kalau ada yang salah, jangan diam hanya karena takut dianggap tidak loyal."
Jovan tertawa pahit. "Di sini orang yang terlalu hati-hati sering dianggap susah kerja sama, Mbak."
"Lebih baik dianggap susah kerja sama daripada jadi kambing hitam."
Rika menatapnya lama.
"Mbak benar-benar tidak akan balik?"
Naura menutup laptop.
"Tidak."
Dimas bertanya pelan, "Mbak sudah dapat tempat baru?"
"Belum."
"Terus?"
"Aku mau istirahat dulu."
Kata istirahat terdengar asing di ruangan itu.
Rika bahkan tertawa kecil, seperti mendengar istilah kuno.
"Istirahat berapa lama?"
"Sampai tubuhku tidak terasa seperti mesin rusak."
Tidak ada yang tertawa lagi.
Selesai meeting, Naura kembali ke ruangannya. Ia membereskan barang pribadi: mug putih, dua buku catatan, lip balm, obat maag, minyak angin, dan sepasang sepatu datar yang ia simpan untuk malam-malam lembur.
Barangnya tidak banyak.
Aneh. Ia menghabiskan sebagian besar hidup di tempat ini, tetapi yang bisa dibawa pulang hanya satu kardus kecil.
Pukul tiga sore, Lestari dari HR mengirim pesan.
`Mbak Naura, perhitungan awal sudah selesai. Bisa mampir?`
Naura pergi ke ruang HR.
Lestari menyerahkan beberapa lembar kertas.
"Ini pesangon sesuai masa kerja, gaji bulan berjalan, cuti yang belum diambil, dan bonus proyek yang sudah disetujui. Tambahan satu bulan sesuai arahan Pak Surya."
Naura membaca angka-angka itu.
Lumayan.
Lebih baik daripada di kehidupan sebelumnya, ketika ia bertahan sampai tubuh rusak dan keluar dengan rasa kalah.
"Pembayaran kapan?"
"Maksimal tujuh hari kerja. Tapi Pak Surya minta dipercepat."
Naura mengangguk.
Lestari tampak ragu. "Mbak Naura, boleh saya tanya sesuatu?"
"Kalau tidak terlalu pribadi."
"Mbak benar-benar tidak takut?"
Naura menatap perempuan itu. Lestari berusia sekitar tiga puluh lima, punya dua anak, cicilan rumah, dan suami yang bekerja di perusahaan logistik. Naura pernah mendengar ceritanya saat acara kantor.
"Takut."
Lestari terkejut.
"Tapi saya lebih takut kalau tetap di sini dan suatu hari tubuh saya tidak kuat lagi."
Lestari menunduk. "Saya kadang juga merasa begitu."
Naura tidak memberi nasihat kosong. Tidak semua orang bisa pergi. Tidak semua orang punya tabungan, keberanian, atau momen kedua seperti dirinya.
"Kalau belum bisa pergi, setidaknya jaga bukti dan jaga badan."
Lestari tersenyum lemah. "Terima kasih, Mbak."
Saat Naura keluar dari HR, Farid menunggu di dekat lift.
Mantan pacarnya.
Satu tahun mereka bersama. Tidak terlalu hangat, tidak terlalu buruk. Farid dulu membuatnya percaya bahwa hubungan yang tenang sudah cukup.
Sampai keluarganya datang ke kantor dan Farid berkata, "Aku tidak siap masuk ke keluarga serumit itu."
Sekarang ia berdiri dengan kemeja rapi, wajah canggung.
"Naura, bisa bicara sebentar?"
Naura menekan tombol lift.
"Bicara di sini saja."
Farid melirik sekitar. "Di sini?"
"Kalau tidak nyaman, lain kali saja."
Lift belum datang.
Farid menarik napas. "Aku dengar kamu resign."
"Cepat juga kabarnya."
"Kamu yakin?"
Naura menatap angka lift yang turun perlahan.
"Ya."
"Aku tahu beberapa minggu ini berat. Soal keluargamu juga... Aku paham kamu marah. Tapi resign bukan keputusan kecil."
Naura menoleh. "Kamu paham?"
Farid terdiam.
"Waktu keluargaku mempermalukan aku, kamu bilang perlu waktu untuk berpikir. Lalu kamu menghilang tiga hari."
"Aku juga kaget waktu itu."
"Aku juga."
Farid terlihat tidak nyaman. "Naura, aku tidak datang untuk bertengkar."
"Aku juga tidak."
"Aku cuma mau bilang, kalau kamu butuh teman..."
Pintu lift terbuka.
Naura masuk.
Farid menahan pintu dengan tangan.
"Kita masih bisa bicara baik-baik, kan?"
Naura menatapnya. Dulu ia mungkin akan merasa tersentuh. Mungkin ia akan berpikir Farid masih peduli.
Sekarang ia hanya melihat seorang laki-laki yang datang setelah tidak ada risiko.
"Farid, aku tidak butuh teman yang muncul hanya ketika situasi sudah aman."
Wajah Farid memucat.
Naura menekan tombol tutup.
Pintu lift menutup pelan di antara mereka.
Di lobi, security yang dulu menyaksikan keluarganya membuat keributan menatapnya dengan canggung. Naura tersenyum sopan dan berjalan keluar.
Panas Jakarta langsung menyentuh wajahnya.
Ia berdiri sebentar di depan gedung, memegang kardus kecil.
Selama ini ia selalu keluar dari gedung itu dengan kepala penuh pekerjaan. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia mendengar suara kota. Klakson ojek online. Penjual kopi keliling. Orang bicara di telepon. Langkah sepatu di trotoar.
Hidup ternyata tidak hanya berisi notifikasi klien.
Ponselnya berbunyi.
Bukan keluarga.
Nomor yang tidak ia simpan.
Naura mengangkat.
"Selamat sore, apakah benar dengan Mbak Naura Ayu Prameswari?"
"Benar."
"Saya dari PrimaCare Home Service. Dulu Mbak pernah punya sertifikat pelatihan housekeeping dan caregiver dasar di tempat kami. Kami sedang memperbarui database pekerja profesional. Apakah Mbak masih tertarik mengambil pekerjaan paruh waktu atau kontrak?"
Naura berhenti berjalan.
PrimaCare.
Ia hampir lupa.
Saat kuliah, ia pernah mengikuti pelatihan itu karena ingin mendapat pekerjaan bersih-bersih apartemen dengan bayaran lebih baik. Dari sana ia belajar standar kebersihan hotel, penanganan lansia, penyimpanan obat, bahkan dasar memasak untuk diet tertentu.
Di kehidupan lalu, sertifikat itu hanya jadi kenangan.
Sekarang, suara perempuan di telepon seperti membuka pintu lain.
"Pekerjaan seperti apa?"
"Untuk sementara ada beberapa keluarga di Jakarta Selatan dan Tangerang yang mencari household manager profesional. Bukan ART biasa, Mbak. Kontrak jelas, gaji bulanan, beberapa live-in, beberapa pulang-pergi. Karena profil Mbak pendidikan tinggi dan punya pengalaman kerja formal, mungkin cocok untuk klien premium."
Naura melihat pantulan dirinya di kaca gedung.
Kemeja putih. Rok hitam. Sepatu kerja. Kardus kecil di tangan.
Orang lain mungkin akan merasa jatuh.
Dari VP corporate finance menjadi pengurus rumah.
Tapi Naura justru merasakan dadanya lapang.
Rumah orang kaya perlu diurus. Orang tua perlu ditemani. Anak perlu diajar. Dapur perlu berjalan. Obat perlu dicatat. Jadwal perlu diatur. Semua itu pekerjaan.
Pekerjaan nyata.
Dan yang paling penting, pekerjaan itu bisa punya batas.
"Saya tertarik," kata Naura.
Pihak PrimaCare terdengar senang. "Kalau begitu, apakah Mbak bisa datang besok untuk update data dan interview ulang?"
"Bisa."
Setelah panggilan selesai, Naura berdiri di tepi trotoar.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gedung. Pintu belakang dibuka oleh sopir. Seorang laki-laki tinggi turun sambil bicara dengan asistennya.
Wajahnya tegas. Dingin. Orang-orang di lobi otomatis memberi jalan.
Naura hanya melihat sekilas sebelum menunduk memanggil ojek online.
Ia belum tahu bahwa laki-laki itu kelak akan menjadi orang yang paling sering membuat hidup barunya berantakan.
Dengan cara yang sama sekali berbeda.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!