Indonesia
NovelToon NovelToon

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Pertemuan Pertama.

Pintu itu akhirnya terbuka.

Tanganku gemetar saat melangkah masuk ke ruangan yang selama bertahun-tahun dilarang dimasuki Hwi Sol Oppa.

Dinding ruangan dipenuhi ratusan foto diriku.

Ada foto sejak aku masih balita.

Saat ulang tahunku.

Saat aku tidur.

Saat aku menangis.

Bahkan ada foto ketika aku diam-diam sedang bersama Eun Dam.

Di tengah ruangan berdiri sebuah meja kayu.

Di atasnya tergeletak sebuah buku harian berwarna hitam.

Dengan tangan gemetar kubuka halaman pertama.

"Aku tahu mencintai adikku sendiri adalah dosa."

Napasku berhenti.

"A-apa... maksud tulisan ini?"

Aku membalik halaman berikutnya.

"Seolhwa bukan adik kandungku..."

Dunia seakan runtuh saat itu.

Tiga hari sebelumnya...

Seolhwa.

Itulah namaku, yang berarti bunga salju.

Menurut Appa, aku diberi nama itu karena lahir tepat saat salju pertama turun di Seoul. Namun sekarang, nama itu justru mengingatkanku pada kenangan pahit yang ingin kulupakan.

Oh ya, usiaku saat ini dua puluh tiga tahun dan aku adalah pemilik sebuah bakery.

Aku memiliki seorang kakak laki-laki bernama Hwi Sol. Usia kami hanya terpaut dua tahun.

Dia adalah satu-satunya oppa yang paling kusayangi.

Selain memiliki wajah tampan, ia juga seorang CEO di perusahaan fashion yang dahulu dirintis oleh kedua orang tua kami. Ya, Oppa memilih melanjutkan bisnis keluarga.

Tiga tahun lalu menjadi masa paling berat dalam hidup kami.

Kami kehilangan Appa dan Eomma dalam sebuah kecelakaan mobil saat mereka sedang melakukan perjalanan bisnis ke Busan.

Rasa kehilangan itu nyaris menghancurkan kami.

Namun sebagai anak, kami tidak punya pilihan selain bangkit.

Bangkit untuk melanjutkan hidup.

Bangkit untuk mewujudkan impian yang selama ini diharapkan kedua orang tua kami.

"Seolhwa, pakai sabuk pengamannya, sayang."

Suara lembut Hwi Sol Oppa membuyarkan lamunanku.

Siap, Tuan!"

Aku menjawab sambil memberi hormat bercanda.

Hwi Sol oppa hanya menggeleng kecil sambil tersenyum.

"Nanti malam oppa jemput jam berapa?"

tanyanya sambil fokus mengemudi.

"Tidak usah dijemput. Malam ini aku mau makan malam dengan teman-teman kuliah. Mungkin aku juga pulang agak larut."

"Tetap saja oppa akan menjemputmu."

Ia mengusap puncak kepalaku dengan lembut.

"Tidak ada penolakan."

Aku mengembuskan napas panjang.

"Huft... kapan sih aku diizinkan membawa mobil sendiri?"

gumamku pelan.

Ia hanya tersenyum tipis sambil melirik ke arahku.

Ya, usiaku memang sudah dua puluh tiga tahun.

Namun sampai sekarang Oppa masih tidak mengizinkanku mengemudi sendiri.

Entahlah alasannya apa.

Mungkin karena ia tahu aku adalah gadis ceroboh yang sering bertindak tanpa berpikir panjang.

Sesampainya di bakery, aku langsung memulai pekerjaanku. Aroma roti dan mentega yang baru keluar dari oven menyambutku.

Aku memeriksa kualitas bahan-bahan yang ada di dapur, memilah mana yang masih layak digunakan dan mana yang harus diganti.

Setelah itu aku menghitung stok bahan baku dan mengawasi para karyawan yang sedang bekerja.

Meski masih muda, aku selalu berusaha profesional.

Lagipula memiliki toko kue sendiri memang sudah menjadi impianku sejak lama.

Sejak duduk di bangku sekolah, aku memang sangat menyukai dunia baking.

Walaupun harus kuakui, modal awal untuk membuka usaha ini berasal dari Appa.

Pukul tujuh malam.

Aku dan sahabatku, Minseo, sudah berada di sebuah restoran Italia untuk menghadiri reuni kecil bersama teman-teman kuliah.

Suasana terasa hangat dan menyenangkan.

Kami menikmati berbagai hidangan sambil mengenang masa-masa kuliah yang penuh kekonyolan.

Tawa terus terdengar di meja kami.

Empat tahun tidak bertemu membuat banyak cerita baru yang ingin dibagikan.

Tanpa terasa, tiga jam berlalu.

Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam.

Satu per satu teman-temanku berpamitan pulang.

Kini hanya aku yang masih berdiri di depan restoran sambil menunggu jemputan dari Oppa.

"Aish... katanya lima belas menit lagi. Ini sudah setengah jam."

Aku menggerutu sambil memeriksa layar ponsel.

Namun tiba-tiba—

BRUK!

"Akh!"

Tubuhku terhuyung lalu jatuh ke aspal.

Seseorang tidak sengaja menabrakku dengan sepeda motornya.

Seorang pria berjaket kulit hitam segera turun dari motor Harley miliknya dan menghampiriku dengan panik.

"Kamu tidak apa-apa? Maaf! Aku benar-benar minta maaf."

Suaranya terdengar tulus.

Aku yang semula fokus pada lutut yang terasa nyeri perlahan mengangkat kepala.

Dan saat itulah aku melihat wajahnya.

Ya Tuhan...

Dia manusia atau karakter drama?

Tampan sekali.

Aku menjerit dalam hati.

Rahang tegas.

Mata tajam.

Tubuh tinggi dan proporsional.

Belum sempat aku mengatakan apa-apa, cahaya lampu mobil menyorot dari kejauhan.

Sebuah mobil berhenti mendadak di pinggir jalan.

"SEOLHWAAA!"

Hwi Sol berlari ke arahku dengan wajah panik.

"Kamu kenapa, sayang?"

Ia langsung berjongkok dan memeriksa keadaanku.

Pria berjaket kulit itu berdiri dan menatap Hwi Sol.

"Maaf. Saya tidak sengaja menabrak pacar Anda. Tapi saya akan bertanggung jawab."

Mendengar kalimat itu, ekspresi Hwi Sol langsung berubah dingin.

Aku bahkan bisa merasakan amarah yang sedang berusaha ia tahan.

Aku tahu.

Kalau bukan karena diriku, mungkin pria itu sudah dipukul saat ini.

Aku segera menggenggam tangan Oppa.

"Aku baik-baik saja, Oppa. Hanya lecet sedikit."

Aku tersenyum menenangkan.

"Tidak apa-apa."

Hwi Sol menarik napas panjang sebelum akhirnya mengembuskannya perlahan.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia membantu Seolhwa berdiri dan membawanya masuk ke mobil.

Sedangkan pria itu hanya bisa memandangi kepergian Seolhwa dengan rasa bersalah.

Sesampainya di rumah, Hwi Sol langsung mengambil kotak P3K.

Ia berlutut di depan Seolhwa sambil membersihkan luka di lutut dan telapak tangannya dengan hati-hati.

"Maaf..."

Suara lirihnya membuatku menoleh.

"Maafkan Oppa."

Aku mengernyit.

"Kenapa Oppa minta maaf?"

"Karena Oppa tidak bisa menjagamu dengan baik."

Tangannya berhenti sesaat.

"Kalau Oppa tidak terlambat menjemputmu, kamu tidak akan terluka seperti ini."

Hatiku terasa hangat sekaligus sedih.

Aku mengangkat dagunya pelan agar ia menatapku.

"Oppa."

Tatapan kami bertemu.

"Dengarkan aku baik-baik."

Ia diam.

"Oppa tidak salah apa pun. Selama ini Oppa sudah menjagaku dengan sangat baik."

Aku tersenyum lembut.

"Ini hanya kecelakaan kecil. Musibah kecil."

Aku menunjukkan luka di lututku.

"Lihat. Aku masih baik-baik saja, kan?"

Tatapan sendu di matanya perlahan melunak.

Aku tahu.

Hwi Sol oppa selalu seperti ini.

Ia terlalu mengkhawatirkanku.

Terlalu menjagaku.

Terlalu menyayangiku.

Dan menurutku, wanita yang kelak mendapatkan hatinya pasti akan menjadi wanita yang sangat beruntung.

Di tempat lain, seorang pria sedang duduk sendirian di dalam kamar apartemennya.

Ya.

Pria berjaket kulit yang menabrakku tadi malam.

Namanya Eun Dam.

Seorang atlet taekwondo nasional dengan segudang prestasi.

Namanya dikenal luas di Korea.

Banyak wanita mengaguminya karena kemampuan, ketampanan, dan karismanya.

Saat ini Eun Dam tinggal seorang diri di Seoul, sementara kedua orang tuanya menetap di Daegu.

Sejak kecil ia sudah terbiasa hidup mandiri.

Karena itu, tinggal sendiri saat dewasa bukanlah hal yang sulit baginya.

Meski begitu, ia tetap tidak pernah melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang anak.

Eun Dam menatap langit malam dari jendela apartemennya.

"Apa wanita itu benar-benar baik-baik saja?"

gumamnya pelan.

Keesokan harinya aku berangkat bekerja seperti biasa.

"Kamu yakin sudah tidak apa-apa?"

tanya Hwi Sol untuk kesekian kalinya.

"Iya, Oppaku sayang."

Aku tertawa kecil.

"Aku baik-baik saja."

Aku membuka pintu mobil.

"Sudah ya. Aku masuk dulu. Oppa hati-hati di jalan dan jangan ngebut!"

Aku melambaikan tangan lalu berlari kecil menuju bakery.

Saat jam makan siang, toko sedang cukup ramai.

Beberapa pelanggan membeli kue untuk dibawa pulang.

Sebagian lainnya memilih duduk menikmati kopi sambil mengobrol bersama teman.

Ada juga yang sibuk bekerja dengan laptop di sudut ruangan.

Sebagai pemilik toko, pemandangan seperti ini selalu membuatku bahagia.

Namun di tengah kesibukan itu, pandanganku tertuju pada seorang pelanggan baru yang baru saja masuk.

Aku mengerjap beberapa kali.

Bukankah itu...

Pria yang menabrakku semalam?

Aku terus memperhatikannya dari kejauhan untuk memastikan.

Dan tepat saat itu, ia menoleh ke arahku.

Mata kami bertemu.

Selama beberapa detik, tidak ada satu pun dari kami yang mengalihkan pandangan.

Selama beberapa detik, tidak ada satu pun dari kami yang mengalihkan pandangan.

Entah mengapa, ada perasaan aneh yang sulit kujelaskan saat melihatnya.

Aku hanya tersenyum kecil, lalu mengalihkan pandangan dan kembali melayani pelanggan lain.

Aku sama sekali tidak menyadari...

Bahwa sejak hari itu, hidupku akan berubah selamanya.

Aku akan kehilangan orang yang paling kucintai.

Aku akan mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikan keluargaku.

Dan aku akan dipaksa memilih...

Antara cinta...

Atau keluarga yang selama ini kupercaya.

Malam Di Hangang.

"Oh? Bukankah itu wanita yang kutabrak semalam?" gumam Eun Dam dalam hati.

Ia segera menghampiriku.

"Benar ternyata kamu."

Aku tersenyum kecil.

"Bagaimana lukamu? Aku benar-benar minta maaf atas kejadian semalam."

"Aku baik-baik saja. Hanya lecet sedikit, kok. Sudah diobati juga."

"Oh ya, aku Eun Dam."

Ia menyodorkan tangan.

"A-aku Seolhwa."

Aku membalas jabat tangannya dengan sedikit gugup.

Maklum.

Pria itu benar-benar tipe idealku.

Kami mengobrol cukup lama.

Baru saat itulah aku sadar mengapa wajahnya terasa begitu familiar.

Eun Dam adalah atlet taekwondo nasional yang cukup terkenal di Korea.

Tak heran beberapa pelanggan diam-diam melirik ke arah kami.

Di sela percakapan, Eun Dam tiba-tiba bertanya,

"Pria yang bersamamu semalam... pacarmu?"

Aku tertawa kecil.

"Bukan. Dia oppa kandungku."

"Oh..."

Eun Dam menghela napas lega tanpa sadar.

"Aku kira pacarmu. Jujur saja, semalam aku sudah pasrah kalau akan dipukul."

"Tenang. Satu atau dua pukulan tidak akan terasa untuk atlet hebat sepertimu."

Kami sama-sama tertawa.

Sebelum pulang, kami saling bertukar nomor ponsel.

"Aku masih berutang permintaan maaf," katanya.

"Kalau suatu hari nanti kamu punya waktu, izinkan aku mentraktirmu makan."

Aku mengangguk pelan.

"Kita lihat nanti."

Malam harinya, ponselku bergetar.

Halo, Seolhwa. Semoga lukamu sudah tidak terlalu sakit.

Aku tanpa sadar tersenyum.

Sudah jauh lebih baik. Terima kasih.

Tak lama kemudian balasan lain masuk.

Syukurlah. Berarti rasa bersalahku sedikit berkurang.

Aku terkekeh pelan membaca pesannya.

Sejak malam itu, obrolan kami mulai berlanjut.

Tidak setiap saat.

Kadang hanya beberapa pesan di pagi hari.

Kadang saling mengucapkan semangat bekerja.

Kadang Eun Dam mengirim foto latihan taekwondonya.

Sebagai balasan, aku mengirim foto roti yang baru keluar dari oven.

Hari demi hari berlalu.

Entah sejak kapan, aku mulai menunggu notifikasi darinya.

Kalau beberapa jam ia tidak mengirim pesan, aku malah menjadi penasaran.

"Aneh..."

Aku menatap layar ponselku.

"Kenapa aku jadi menunggu pesannya?"

Seminggu kemudian.

Pukul lima sore.

Sebuah pesan kembali masuk.

Seolhwa, besok kamu sibuk?

Aku membalas.

Bakery tutup lebih cepat besok.

Tak lama kemudian.

Kalau begitu... bolehkah aku mentraktirmu makan? Anggap saja sebagai permintaan maaf resmi karena sudah membuatmu terluka.

Aku tersenyum sendiri.

Beberapa detik kemudian aku mengetik balasan.

"Baiklah"

Di balik layar ponsel lain, Eun Dam tanpa sadar ikut tersenyum lebar.

Ia bahkan mendapat tatapan heran dari teman-teman latihannya.

"Sedang jatuh cinta ya?" goda salah seorang rekannya.

Eun Dam hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Mungkin."

Keesokan harinya.

Entah mengapa aku terbangun lebih pagi dari biasanya.

Aku bahkan sudah berdiri di depan lemari pakaian selama hampir lima belas menit.

"Yang ini terlalu formal..."

Aku mengambil dress berwarna krem, lalu menggeleng.

"Yang ini terlalu mencolok."

Aku mengembalikannya lagi.

Aish... Seolhwa.

Ini hanya makan malam, bukan lamaran.

Kenapa aku jadi gugup begini?

Akhirnya aku memilih blouse putih sederhana yang dipadukan dengan rok cokelat muda selutut. Tidak berlebihan, tetapi cukup rapi untuk dikenakan keluar.

Seperti biasa, Hwi Sol Oppa mengantarku ke bakery.

"Kamu kelihatan lebih semangat pagi ini," katanya sambil tersenyum.

"Masa sih?" Aku pura-pura tidak tahu.

"Iya. Bahkan sejak tadi kamu terus tersenyum sendiri."

Aku buru-buru memalingkan wajah ke jendela.

Semoga saja Oppa tidak menyadarinya.

Seharian ini aku merasa waktu berjalan sangat lambat. Aku selalu melihat jam setiap beberapa menit. Rasanya aku ingin cepat-cepat malam.

Apa karena aku sudah tidak sabar bertemu dengan Eun Dam?

Malam pun tiba. Eun Dam menjemputku.

Sungguh, dia sangat gagah dan tampan saat mengendarai motor Harley-nya itu. Kaos hitam dan jaket oversized yang ia kenakan, ditambah topi hitam yang dipakainya malam ini, mampu membuatku terpanah untuk kesekian kalinya.

Tapi tahu apa yang lebih membuat tubuhku membeku?

Dia melepas jaketnya dan memakaikannya kepadaku.

"Pakai ini, supaya tidak masuk angin," katanya sambil tersenyum manis.

Dinginnya malam dengan angin yang berembus cukup kencang menjadi saksi bahwa saat ini aku merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Ya, mungkin terdengar aneh.

Selama dua puluh tiga tahun hidupku, aku memang tidak pernah jalan berdua dengan pria lain kecuali Hwi Sol oppa. Aku juga tidak pernah menyukai siapa pun sebelum bertemu Eun Dam.

Aku juga tidak mengerti kenapa.

Tapi aku rasa mungkin karena sejak kecil aku sudah mendapatkan begitu banyak cinta dari orang tuaku. Terlebih lagi, aku mempunyai oppa yang sangat menyayangiku.

Jadi aku rasa, dulu aku belum terlalu membutuhkan pasangan.

Namun berbeda ketika aku bertemu Eun Dam.

Bahkan sejak pertemuan pertama, aku sudah merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam diriku.

Entahlah.

Aku menyukainya karena ia tampan dan merupakan tipe idealku, atau memang ini pertanda bahwa sudah waktunya aku memiliki pasangan?

Sekitar lima belas menit aku bergelut dengan lamunanku di atas motor.

Sampai akhirnya kami tiba di tujuan.

Ya! Sungai Hangang.

Dinginnya udara malam ini sedikit terhangatkan oleh semangkuk ramyeon kuah pedas dan segelas matcha latte hangat.

"E-Eun Dam.. kenapa kamu mengajakku kesini?" tanyaku malu-malu.

Mendengar pertanyaanku, pria berahang tegas itu tersenyum tipis ke arahku.

"Karena aku ingin mengenalmu lebih dekat" jawabnya.

Lidahku kelu.

Biasanya aku selalu bawel, tetapi saat itu aku benar-benar tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Otakku seakan membeku seperti es.

Beberapa jam bersama Eun Dam membuatku semakin menyadari bahwa memang benar, aku sedang jatuh cinta.

Tapi bagaimana jika oppa tahu kalau aku jatuh cinta pada pria yang pernah menabrak adik kesayangannya ini?

Aku memilih pulang dengan taksi sambil menjelaskan alasanku kepada Eun Dam tentang kekhawatiranku terhadap oppa.

Eun Dam bisa menerima itu, meskipun sebenarnya ia lebih suka mengantarku pulang dan bertemu langsung dengan Hwi Sol Oppa.

Namun aku mengatakan bahwa aku butuh waktu untuk itu.

Aku ingin aku sendiri yang memberi tahu oppa bahwa aku sedang dekat dengan Eun Dam.

Baru saja membuka pintu rumah, aku sudah disambut tatapan kurang menyenangkan dari Hwi Sol Oppa.

Ya, aku tahu.

Memang aku pulang cukup malam.

"Seolhwa, kamu dari mana saja? Kenapa telepon oppa tidak kamu angkat? Kenapa senang sekali membuat oppamu ini khawatir?" ucapnya.

"Oppaku sayang. Maafin adikmu yang cantik ini yaa. HP Seolhwa baterainya habis, hehe. Lagi pula aku sudah pulang dengan selamat, kan?" balasku manja sambil mencubit pelan kedua pipinya.

"Aku mau bersih-bersih dan langsung tidur ya. Selamat malam, Oppaku yang paling tampan..." sahutku sambil tersenyum, lalu bergegas menuju kamarku.

Hwi Sol memandangi pintu kamar Seolhwa yang telah tertutup rapat.

Ia mengembuskan napas panjang, lalu berjalan menuju ruang kerjanya.

Di atas meja, sebuah buku harian hitam masih terbuka.

Jemarinya berhenti pada satu kalimat yang telah ia tulis bertahun-tahun lalu.

"Maafkan Oppa... tapi suatu hari nanti, kau pasti akan membenciku."

Hwi Sol memejamkan mata.

Ia tak pernah menyangka...

Hari itu ternyata sudah sangat dekat.

Rasa Yang Tak Tersampaikan.

Minggu pagi memang waktu terbaik untuk beristirahat.

Aroma masakan Hwi Sol Oppa berhasil membangunkan tidur nyenyakku pagi itu.

"Selamat pagi, adik Oppa."

Suara lembutnya menyambutku begitu aku memasuki dapur. Ia sedang mengaduk secangkir kopi sambil sesekali memperhatikan bulgogi yang masih dimasak di atas kompor.

"Selamat pagi juga, Oppa. Wah... hari ini Oppa masak apa? Aroma masakan Oppa sampai membuatku bangun, tahu."

Hwi Sol tersenyum tipis.

"Kalau begitu berarti masakan Oppa berhasil."

Tak lama kemudian ia menyajikan bulgogi hangat di atas meja makan. Di sampingnya sudah tersedia semangkuk nasi dan segelas matcha latte hangat, minuman favoritku.

"Wah... bulgogi! Kelihatannya saja sudah enak. Terima kasih, Oppa."

"Makan yang banyak, ya."

Aku langsung mengangguk semangat.

"Oh ya," lanjutnya, "hari ini Oppa mau mengajakmu ke suatu tempat."

Aku menatapnya penasaran.

"Mendadak sekali. Memangnya kita mau ke mana?"

"Rahasia."

Ia mengusap pelan puncak kepalaku.

"Pokoknya kamu pasti suka."

Aku hanya bisa tersenyum penasaran.

Pukul sepuluh pagi.

Mobil kami berhenti di depan gerbang Everland.

Mataku langsung berbinar.

"Oppa! Kita ke Everland?"

Hwi Sol tersenyum melihat reaksiku.

"Apa kamu masih ingat? Waktu kecil kamu pernah menangis karena ingin sekali diajak ke sini."

"Tentu saja ingat. Sudah lama sekali kita tidak ke sini. Terakhir... waktu aku masih SMA, kan?"

"Iya."

Aku tersenyum kecil.

Kalau dipikir-pikir, sejak kecil aku memang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Hwi Sol Oppa dibandingkan teman-temanku.

Terlalu banyak kenangan yang kami lalui bersama.

Saking dekatnya, tidak sedikit orang yang mengira kami sepasang kekasih, bukan kakak dan adik.

Padahal kami memang hanya sangat menyayangi satu sama lain.

Jika aku sedih, Oppa akan menjadi orang pertama yang ikut merasakan sakitnya.

Begitu pula sebaliknya.

Aku benar-benar bersyukur memiliki kakak seperti dirinya.

"Oppa! Aku mau naik T-Express!"

Aku menunjuk roller coaster kayu favoritku.

"Ayo."

Tanpa banyak bicara, kami langsung mengantre.

Sesaat sebelum wahana mulai berjalan, Hwi Sol mengulurkan tangannya.

"Pegang tangan Oppa."

Aku langsung menggenggamnya.

"Jangan dilepas."

Wahana mulai melaju.

Jeritan para pengunjung memenuhi udara.

Namun berbeda dengan kami.

Aku dan Oppa justru menikmati setiap lintasan tanpa berteriak sedikit pun.

Angin kencang menerpa wajahku hingga rambutku berantakan ke mana-mana.

Tiga menit kemudian kami turun.

"Hahaha... apa Oppa sedang jalan-jalan bersama singa?"

Aku langsung memonyongkan bibir.

"Aish... Oppa!"

Ia tertawa pelan.

Tanpa berkata apa-apa, jemarinya mulai merapikan rambutku yang berantakan.

Gerakannya begitu hati-hati.

Aku menatap wajahnya.

Entah kenapa, aku selalu menyukai tatapan mata Hwi Sol.

Tatapannya hangat, tetapi selalu menyimpan kesedihan yang tidak pernah bisa kujelaskan.

"Oppa..."

"Hm?"

"Apa Oppa tidak ingin punya pacar?"

Tangannya berhenti sesaat.

"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Oppa kan sudah dewasa. Setahuku juga Oppa belum pernah pacaran."

Ia tertawa pelan.

"Siapa bilang Oppamu yang tampan ini belum punya seseorang yang disukai?"

Aku langsung membelalak.

"Hah? Jadi Oppa sudah suka seseorang?"

"Iya."

"Kenapa Oppa tidak pernah cerita? Siapa orangnya? Aku kenal? Cantik? Baik? Dia tinggal di mana?"

Pertanyaanku beruntun membuatnya terkekeh.

"Tenang."

Ia mengusap kepalaku lagi.

"Dia memang bukan pacar Oppa."

"Lalu?"

"Oppa sudah menyimpan perasaan itu cukup lama."

"Kalau begitu kenapa tidak ditembak saja?"

Hwi Sol tersenyum tipis.

"Karena Oppa tidak ingin mempermainkan perasaan perempuan."

Aku memandangnya bingung.

"Kalau memang berjodoh, Oppa tidak akan mengajaknya berpacaran."

"Lalu?"

"Oppa akan langsung memintanya menjadi istri."

"Wah... ternyata Oppa romantis juga."

Aku terkekeh geli.

Namun beberapa detik kemudian wajahnya kembali serius.

"Makanya..."

Ia menatapku dalam.

"Kalau nanti ada pria yang mendekatimu, jangan mudah percaya."

"Hah?"

"Kalau dia benar-benar serius, dia akan datang untuk melamarmu. Bukan mengajakmu berpacaran."

Aku mengangguk pelan.

"Lagipula..."

Ia tersenyum tipis.

"Semua pria itu pada dasarnya sama."

Aku langsung tertawa.

"Kalau begitu Oppa juga sama dong?"

Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung berlari menuju stan es krim.

"Oppa! Cepat!"

Hwi Sol hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis sebelum menyusulku.

Saat kami sedang menikmati es krim, seseorang tiba-tiba memanggil.

"Hwi Sol?"

Kami berdua menoleh bersamaan.

Seorang wanita cantik berdiri beberapa langkah dari kami.

"Eoh... Bora?"

Wajah Hwi Sol tampak sedikit terkejut.

Aku langsung mengingat siapa wanita itu.

Bukankah dia teman SMA Oppa?

"Halo, Seolhwa. Kamu sudah sebesar ini rupanya."

"Iya, Eonnie."

Aku membungkukkan badan sopan.

"Kamu sendiri sedang apa di sini?" tanya Hwi Sol.

"Aku janjian dengan sepupu-sepupuku."

Mereka mengobrol beberapa menit.

Baru kali ini aku melihat Oppa berbicara cukup santai dengan seorang wanita.

"Seolhwa," kata Oppa, "Bora sekarang menjadi dokter kecantikan di Gangnam."

"Pantas saja Eonnie cantik sekali."

Bora tersenyum malu.

"Ah, kamu bisa saja."

Sekitar lima menit kemudian kami berpamitan.

Namun sepanjang perjalanan, pikiranku terus dipenuhi satu pertanyaan.

Apa jangan-jangan...

Wanita yang Oppa cintai selama ini adalah Bora Eonnie?

Kalau benar begitu...

Mereka terlihat sangat cocok.

Setelah mencoba beberapa wahana dan makan bersama, kami memutuskan pulang saat sore menjelang.

Sesampainya di rumah, aku langsung membawa tasku ke ruang keluarga.

"Aku mandi dulu ya, Oppa."

"Hm."

Aku segera naik ke lantai atas.

Sementara itu, Hwi Sol duduk santai di sofa sambil menonton pertandingan sepak bola.

Beberapa menit kemudian...

Drrrrttt... Drrrrttt...

Sebuah ponsel bergetar di atas meja.

Hwi Sol melirik sekilas.

"Eoh... Seolhwa meninggalkan ponselnya?"

Ia sempat berniat mengabaikannya.

Namun layar yang terus menyala membuat matanya tak sengaja menangkap nama pengirim.

Eun Dam.

Keningnya langsung berkerut.

Nama itu terasa asing.

Tanpa sadar, ia mengambil ponsel tersebut.

Sebuah pesan baru muncul di layar.

"Terima kasih untuk hari ini. Aku benar-benar senang bisa menghabiskan waktu bersamamu. Sampai bertemu lagi, Seolhwa."

Tatapan Hwi Sol perlahan berubah.

Jemarinya mengepal kuat.

"Jadi... ini alasan kenapa akhir-akhir ini kamu sering tersenyum sendiri?"

Dari lantai atas terdengar suara langkah kaki Seolhwa yang baru selesai mandi.

Tak lama kemudian, dering telepon itu pun berhenti.

Namun, tidak dengan rasa penasaran Hwi Sol.

"Wah, segarnya..." gumamku setelah selesai mandi.

Aku mengeringkan rambutku dengan handuk sebelum keluar dari kamar.

"Eoh? Ponselku di mana, ya?" gumamku pelan.

Beberapa detik kemudian aku baru teringat.

"Ah! Tadi aku meninggalkannya di ruang TV."

Aku pun bergegas menuruni tangga.

Belum sempat mengambil ponsel, suara Hwi Sol Oppa lebih dulu menghentikan langkahku.

"Seolhwa."

Aku menoleh.

"Tadi ada panggilan masuk di ponselmu."

Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.

"Siapa Eun Dam?"

Pertanyaan itu membuat tubuhku membeku.

"E-Eun Dam...?"

Aku menggenggam ujung bajuku dengan gugup.

Bagaimana ini?

Apa sekarang saatnya aku mengatakan yang sebenarnya?

Aku menarik napas panjang...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!