Indonesia
NovelToon NovelToon

Luka Tak Terlihat

Pagi Yang Sunyi

Alana, 28 tahun. Statusnya istri. Statusnya ibu. Dan pagi-pagi, statusnya jadi koki, babysitter, dan laundry satu rumah.

 

Rumah itu selalu mulai harinya dari dapur. Bau mentega dan telur beradu dengan suara air dari kamar mandi. Di satu tangan Alana ada spatula, di tangan satunya lagi ada Cia yang masih 8 bulan, digendong nyamping pakai kain.

 

Pricilla atau akrab dipanggil Cia. Anak perempuan satu-satunya yang jadi alasan Alana kuat bangun jam 5 setiap hari.

 

Johan duduk di meja makan. Kemeja sudah rapi, dasi setengah jadi. Dia dikenal semua orang sebagai suami idaman. Rajin transfer, nggak pernah bentak, selalu pulang sebelum magrib.

 

“ Kamu bikin omelet lagi? “ tanya Johan sambil melirik piring di depannya.

 

Alana menuang air ke gelas Johan.

“ Iya. Aku belum sempat belanja soalnya. “

 

“ Besok bikin yang lain ya. Aku udah transfer uang belanjanya. “

 

Alana hanya mengangguk. Ia sibuk mengalihkan Cia yang mulai rewel di gendongan.

 

Tiba-tiba Cia mengoceh. “Pah... pah...” Tangannya yang kecil itu menunjuk ke arah Johan, lalu digerak-gerakkan semangat, seolah memaksa untuk digendong.

 

Alana tersenyum kecil lalu mendudukkan Cia di high chair-nya. “ Papa makan dulu ya sayang. Nanti sama papa. “

 

Ia menyendok bubur hangat, meniupnya pelan. “ Cia sarapan dulu sayang, mama suapin ya. “

 

“Cia, makannya lahap ya?” Johan akhirnya angkat bicara. Suaranya lembut, seperti biasa.

 

“Iya. Dia lagi suka bubur yang aku bikin kemarin,” jawab Alana cepat.

 

Johan menatap putrinya. Senyumnya mengembang. Tatapannya hangat, penuh kebanggaan seorang ayah.

 

“Sarapan bareng papa hari ini ya? Cia suka?”

 

Cia menjawab dengan ocehan tidak jelas. Tawa kecil, liur menetes, dan dua kaki menendang-nendang kursi.

 

Pemandangan yang seharusnya hangat.

 

Tapi saat Alana menegakkan badan dan tanpa sengaja menoleh, ia menangkap sesuatu.

 

Tatapan Johan.

 

Bukan ke Cia.

 

Tatapan itu jatuh ke arahnya. Singkat. Dingin. Seperti ada tembok tipis yang tiba-tiba berdiri di antara mereka.

 

Alana diam. Ia kembali fokus menyuapi Cia, pura-pura tidak melihat.

 

Di luar, matahari sudah naik. Tapi entah kenapa, dapur itu terasa sedikit lebih dingin dari biasanya.

 

08.00

Pintu depan tertutup. Suara mobil Johan menjauh.

 

Alana masih di dalam. Dunianya sekarang Cuma dapur, kamar, dan satu makhluk kecil yang belum bisa jalan tapi sudah bisa bikin hidupnya jungkir balik.

 

Ia memandikan Cia. Air hangat, sabun wangi bayi, handuk kecil. Lalu menimang. Duduk di kursi goyang sambil menyenandungkan lagu yang bahkan Alana sendiri sudah lupa judulnya. Sampai akhirnya mata Cia terpejam. Napasnya teratur. Pulas.

 

Baru saat itulah Alana ingat dirinya. Meja makan masih berantakan. Piring Johan, sendok Cia, remah roti. Ia bereskan semua tanpa suara. Perutnya keroncongan, tapi ia abaikan. Ada deadline naskah yang harus dikirim siang ini.

 

Ya, Alana kerja dari rumah, menjadi penulis.

 

Naskah-naskah sederhana tentang jadi ibu, tentang capek, tentang cinta yang kadang melelahkan. Anehnya laku. Banyak ibu-ibu muda di luar sana yang bilang tulisan Alana bikin mereka merasa “nggak sendirian”. Itu yang bikin Alana bertahan ngetik di sela-sela popok dan bubur.

 

Setiap 20 menit sekali ia berdiri, mengintip ke kamar. Cia masih tidur. Pulas sekali. Seolah bayi 8 bulan itu ngerti mamanya lagi dikejar waktu.

 

Jam satu siang. Perutnya mulai protes. Perih.

 

Alana memegangi perutnya sendiri. “Perut aku kok sakit ya?”

 

Ia ke dapur. Buka kulkas. Isinya Cuma telur, sayur sisa kemarin, dan sebotol air. Direbus cepat. Dimakan berdiri di depan wastafel. Nggak sempat duduk.

 

Setelah itu baru ia sempat cek Cia lagi. Masih tidur. Alana buru-buru mandi. Bedak tipis, lipstik nude, sisir rambut yang dari pagi diikat asal.

 

Ia berkaca. “Udah rapi. Sekarang tinggal bangunin Cia.”

 

Pas balik ke kamar, Cia sudah melek. Matanya bulat menatap langit-langit boks.

 

Alana langsung mengangkatnya. “Hai sayang. Anak mama udah bangun. Pinter ya, bangunnya nggak nangis.” Ia mengecup pipi Cia. “Siap-siap yuk, kita belanja sayang.”

 

Mobil keluar dari garasi. Alana nyetir sendiri. Cia di belakang, duduk manis di baby chair.

 

“ Mama di sini ya sayang. Cia nggak usah takut. “

 

Awalnya Cia merengek kecil. Tapi begitu mobil jalan, musik pelan dinyalakan, Cia malah anteng. Menatap keluar jendela, sesekali tertawa saat lihat pohon lewat.

 

_Skip_

 

Sore di rumah. Kantong belanjaan diturunkan satu-satu. Beras, susu, sayur, popok.

 

Cia duduk di baby bouncer sambil menggigit mainan. Matanya mengawasi Alana yang mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu.

 

Setelah semua rapi, Alana duduk di lantai. Tepat di depan Cia.

 

Dunia bisa nunggu. Deadline bisa nunggu.

 

Sekarang giliran fokus ke anaknya.

Pujian Menusuk Dibalik Teh Hangat

Sore.

Dapur kembali jadi medan perang Alana. Kompor menyala dua. Wajan pertama: ayam rica-rica. Pedas, wangi kemangi, favorit Johan. Wajan kedua: tumis buncis wortel. Simple, biar ada ijo-ijonya.

Di sudut ruang tamu, Cia duduk di playmat. Mainan warna-warni berserakan.

Selesai masak, Alana gercep. Kompor dimatikan, piring ditumpuk, meja dilap. Gerakannya cepat karena ia hafal polanya: kalau Cia mulai bosan, waktunya akan habis.

Benar saja.

“ Eh... eh... “

Cia merengek. Merangkak. Lalu berlutut di samping kaki Alana. Tangan kecilnya menarik-narik daster Alana sambil mengeluarkan suara tangis pelan. Meminta digendong.

Alana buru-buru matiin keran. “ Sebentar sayang, mama cuci tangan dulu ya. “

Ia lap tangannya ke lap dapur, lalu langsung mengangkat Cia. Berat. Hangat. Dan rewel.

“ Udah sore. Cia mandi dulu ya sayang. Biar nanti papa cium, Cia udah wangi. “

Air hangat. Shampoo bayi. Handuk. Bedak. Minyak telon Selesai. Cia kembali jadi bayi yang wangi, pipinya empuk, baunya khas bayi habis mandi.

Alana menyusui. Di sofa. Sampai tangis Cia reda dan matanya mulai sayu. Playmat yang masih berantakan ia biarkan dulu. Dasternya masih bau rica-rica dan minyak, tapi dapur sudah kinclong.

Begitu Cia tenang, Alana taruh lagi di baby bouncer. Lalu berlutut, memunguti mainan satu-satu. Melipat playmat.

Baru sempat mandi. Buru-buru. Air mengguyur sekadar menghilangkan bau masakan dan keringat. Ganti baju. Lipstik. Sisir rambut.

Alana dan Cia sekarang terlihat segar. Rapi. Wangi.

Tapi mata Alana tidak bisa bohong. Ada lelah di sana. Lelah yang numpuk dari pagi.

Klik.

Pintu dibuka.

Johan pulang. Jas masih tergantung di lengan, wajah masih ada sisa capek kantor. Tapi begitu masuk, senyumnya langsung lebar.

Rumah bersih. Dapur rapi. Baunya enak. Istri dan anaknya wangi, duduk manis di ruang tamu.

“ Papa pulang, Cia. “ Alana buru-buru menyambut, mencium punggung tangan suaminya.

Johan jongkok. Mencium kening Cia lama sekali. “ Wah, tumben kalian udah wangi. Kalau kayak gini tiap hari kan aku jadi makin sayang sama kamu. “

Kalimatnya lembut. Nadanya manis.

Tapi bagi Alana, itu seperti pisau.

“ Papa mandi dulu ya. Nanti papa gendong Cia, janji. “ Johan melangkah ke kamar mandi.

Tinggal Alana dan Cia di ruang tamu.

Alana menggendong Cia makin erat. Air matanya menggantung di pelupuk. Tidak jatuh, tapi ada.

Ia baru sadar.

Cinta suaminya hadir paling besar saat rumah rapi, saat ia wangi, saat ia terlihat “sempurna”.

Padahal satu jam lalu, ia baru saja perang dengan kompor, popok, dan tangis.

__

Malam turun pelan.

Johan duduk di kursi goyang. Cia ada di gendongannya. Ditepuk-tepuk pelan punggungnya sampai mata Cia terpejam. Lagu nina bobo yang sama seperti pagi tadi.

Di dapur, Alana menyeduh dua cangkir teh. Teh melati, kesukaan mereka. Uapnya naik, mengaburkan wajahnya sebentar.

" Minum dulu sayang. " Alana meletakkan cangkir di meja.

Johan mengangguk. " Makasih sayang. "

Keheningan sebentar. Hanya suara jam dinding.

" Gimana hari ini di kantor? " tanya Alana sambil duduk di sampingnya.

Johan menghela napas. " Ya gitu lah. Masalah di kantor ada aja. Cuma aku bisa handle kok, tenang aja. " Ia menoleh. " Eh, tulisan kamu viral ya? Naskah kamu juga banyak yang ditawar produser film ya? "

Alana mengangkat bahu, senyumnya kecil. " Ah, enggak. Kemarin ada yang nanyain. Beberapa orang. Mereka tertarik sama naskah aku. Dan akhirnya yang dapet naskahnya Ibu Yumna. "

" Wah. " Mata Johan berbinar. " Istri aku hebat ya. Kamu udah jadi istri, ibu, penulis hebat. Bangga aku sama kamu. "

Alana tersenyum. Manis. Seperti yang Johan mau lihat.

Lalu Johan mendekapnya. Hangat. Bahu Alana bersandar di dada suaminya. Untuk sesaat, rasanya aman.

" Sayang... " suara Alana pelan. " Aku boleh ngeluh gak sih? "

Johan tidak menjawab. Tangannya masih melingkar di bahu Alana.

" Aku sebenarnya capek. "

Dekapan itu tidak mengerat. Justru mengendur.

Satu butir air mata jatuh dari mata Alana. Ia cepat-cepat menyeka.

Johan meneguk tehnya. Suaranya datar. " Capek? Kamu kan di rumah aja Na. Nggak kayak aku. Harus berangkat pagi, pulang kadang malem. Belum aku harus ngawasin karyawan-karyawan aku, gaji mereka. Belum nafkah kamu sama Cia yang nggak sedikit itu. "

Alana diam. Kepalanya menunduk. Jari-jarinya meremas ujung dasternya.

" Kamu harusnya bersyukur. " lanjut Johan. " Banyak istri yang nggak dinafkahi di luar sana. "

Tidak bentakan. Tidak marah.

Hanya suara nasihat. Suara "pengingat".

Tapi bagi Alana, kalimat itu membangun tembok. Tinggi. Dingin. Mengurungnya di dalam.

Ia masih duduk di samping suaminya. Masih memegang cangkir teh yang sudah mulai dingin.

Tapi entah kenapa, malam itu Alana merasa paling sendirian.

Satu Tahun Cia (Pricilla)

Waktu berjalan terlalu cepat.

Tanpa terasa, Cia sudah satu tahun.

Tidak ada pesta besar, hanya dekorasi sederhana dan beberapa balon warna-warni. Dimeja beberapa kado kecil berbalut kertas kado cerah untuk Cia, dan kue tart mini dengan satu lilin berbentuk angka 1 di tengahnya.

Saat lilin dinyalakan, Cia menatapnya lekat. Dengan satu tiupan, api itu padam. Lalu terdengar tepuk tangan kecil.

Alana tidak bisa menahan air matanya.

"Selamat ulang tahun anak mama," ucapnya dengan suara bergetar.

Johan ikut mengusap kepala Cia. "Selamat ulang tahun, princess. Mama pasti terharu lihat kamu makin besar ya. Peluk mama dulu sayang."

Cia langsung membuka kedua tangannya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alana dipeluk dari dua arah. Dari depan ada Cia, dari belakang ada Johan.

Dalam pelukan itu Alana akhirnya bisa bernapas. Sesak yang ia simpan berbulan-bulan tumpah sebentar. Rasanya hangat.

"Udah ya sayang," bisik Johan di telinganya. "Cia kita makin pintar. Itu semua berkat kamu."

Kecupan lembut mendarat di kepala Alana. Lama. Hangat.

Sudah lama sekali Alana tidak merasakan itu.

Alana terisak pelan. "Mama terharu. Bayi mama sudah satu tahun."

Cia yang dari tadi memperhatikan tiba-tiba mengernyit. Lalu menepuk pipi Alana dengan tangan kecilnya.

"No nanis mama... tenum."

Bahasa cadelnya terdengar jelas. Jangan menangis mama, senyum.

Alana tertawa di sela tangis. Ia mengusap air matanya cepat.

Setelah itu giliran memotong kue.

Dengan tangan kecil yang gemetar, Cia memotong kue pertamanya. Potongan pertama ia berikan ke Alana.

"Aaa mama aaa," pintanya.

Alana membuka mulut. "Makasih sayang."

"Tama-tama," kata Cia sambil mengangguk puas. Lalu ia mengambil sendok lagi untuk Johan.

"Pah... aam pah."

Johan menurut. "Makasih ya princess."

"Tama-tama pah. Pah, gendong pah."

Dengan bahasa polosnya, Cia minta digendong. Johan langsung mengangkatnya tinggi.

Johan mengeluarkan ponselnya. "Ayo foto dulu sayang, buat kenang-kenangan."

Alana mengangguk sambil menggendong Cia. "Iya sayang."

Ia tersenyum ke arah kamera. Beberapa foto dan video tersimpan di galeri Johan. Momen yang terlihat sempurna.

Selesai tiup lilin, Alana masuk dapur menyiapkan makan malam untuk bertiga.

Di meja makan, Cia sudah duduk di high chair-nya. Tangan kecilnya sibuk menggenggam sendok. Ia mulai belajar makan sendiri, meski nasi dan kuah berceceran di mana-mana.

Johan mengerut. "Harusnya disuapin. Kamu malah asik makan sendiri. Belum waktunya Cia makan sendiri."

Alana menoleh. "Gak apa-apa Han. Dia belajar dari sekarang."

"Tapi kamu lihat kan? Berantakan gitu. Nafsu makan aku jadi hilang kalau begini," ketus Johan sambil mendorong piringnya sedikit.

Alana menarik napas. Ia mengambil tisu basah, mengelap wajah dan tangan Cia yang belepotan.

"Mama suapin ya sayang."

Cia langsung merengek begitu sendoknya diambil. Ia tidak mau disuapin.

Johan ikut menimpali. "Mama kan bisa makan sambil nyuapin Cia."

"Aku udah selesai makan."

Alana menjawab singkat dan dingin, padahal piring di depannya masih penuh.

Sejak kalimat itu terlontar, nafsu makannya hilang. Yang tersisa hanya rasa sakit di dada.

Karena lagi-lagi, kata-kata Johan keluar begitu enteng, seolah tidak melukai siapa-siapa.

Ruangan yang tadi hangat karena kue dan tawa, kini kembali sunyi.

Hanya ada suara sendok beradu dengan piring, dan hela napas Alana yang ia tahan.

---

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!