Tik...tik...tik...
Hujan yang turun perlahan membasahi kaca jendela besar di sebuah kafe sederhana di sudut kota. Aroma kopi hangat bercampur dengan udara dingin hingga menciptakan suasana yang tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang pernah hidup di tengah suara tembakan dan teriakan kematian.
Aurelia… tidak. Sekarang, namanya Alena.
“Pesan latte satu,” ucapnya pelan, memesan secangkir minuman dengan tersenyum tipis yang nyaris sempurna.
Tak ada yang tau siapa dirinya dulu. Tak ada yang mengenal bagaimana tangannya pernah berlumuran darah, bagaimana satu perintah darinya bisa menentukan hidup dan mati seseorang. Di mata orang-orang di kafe ini, ia hanyalah perempuan biasa. Ramah, tenang, dan sedikit tertutup.
Dan ia ingin tetap seperti itu.
Selamanya… jika bisa.
Namun, hidup tak pernah benar-benar memberi kesempatan kedua tanpa harga. Hingga...
Ting tong!
Bel pintu kafe berdenting pelan lalu seorang pria masuk dengan langkah yang tenang namun berat. Mantel hitamnya basah oleh hujan, dan wajahnya pun tertutup bayangan.
Tidak ada yang aneh bagi pengunjung lain.
Kecuali bagi Alena.
Tangannya yang sedang menggenggam cangkir tiba-tiba berhenti. Nafasnya pun tertahan sepersekian detik. Dan ia pun mengenali aura itu.
Bukan wajahnya. Bukan suaranya. Tapi bahaya yang ia bawa.
Pria itu duduk di sudut ruangan, di tempat yang paling gelap, seolah sengaja memilih posisi yang tak mudah terlihat. Namun matanya… terus mengarah pada satu titik.
Padanya.
Alena hanya menunduk dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba tak terkendali.
Tidak… tidak mungkin. Semua sudah berakhir.
Ia ingin meninggalkan dunia itu. Mengubur namanya. Menghapus jejaknya. Bahkan bersumpah tidak akan pernah kembali. Sejak malam itu… malam ketika ia kehilangan satu-satunya alasan untuk bertahan.
Namun saat ia kembali mengangkat kepala, pria tadi sudah berdiri di hadapannya lalu berkata,
“Sudah lama, Nona Vanzara.”
Teg!!
Dunia seolah berhenti.
Nama itu…Nama yang ingin ia kubur bersama masa lalunya, kini terdengar lagi.
Cangkir di tangannya pun terlepas, jatuh dan pecah di lantai hingga suara pecahan itu menggema seperti sesuatu yang ikut retak di dalam dirinya.
“Aku tidak tau siapa yang kau maksud,” jawabnya Alena dingin, dan berusaha mempertahankan kebohongan yang telah ia bangun selama ini.
Namun pria itu hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Sungguh? Bahkan ketika seluruh kota mulai mencarimu lagi?”
Deg.
“Pergi dari sini,” bisik Alena tajam. “Kau salah orang.”
Namun pria itu malah mendekat, dan suaranya pun kini lebih rendah dan hanya bisa didengar olehnya.
“Kalau begitu… bagaimana kalau aku mulai dengan menyebutkan nama orang yang kau cintai terakhir kali?”
Alena menatap pria itu dan nafasnya pun tercekat. Dunia yang selama ini ingin ia bangun runtuh dalam satu kalimat.
“Dia belum benar-benar pergi, Aurelia.”
Detik itu juga, sesuatu dalam dirinya bangkit. Bukan Alena yang lembut. Bukan wanita biasa yang mencoba hidup damai.
Tapi sosok yang telah lama ingin ia kubur.
Matanya yang semula tenang kini berubah menjadi tajam, dingin, dan mematikan.
"Aku katakan pergi!!!"
......
............
Brushhhh!!
"Hah hah hah...!."
Aurelia terbangun dengan napas yang terengah-engah.
Keringat dingin membasahi pelipisnya, jemarinya mencengkeram seprai dengan kuat seolah baru saja terjatuh dari jurang yang dalam. Dadanya naik turun tak beraturan. Matanya berkeliaran seakan mencari seseorang.
Lagi.
Mimpi itu… lagi. Mimpi yang selalu menghantuinya seakan tiada henti.
Setelah napasnya sedikit tenang, Ia menatap langit-langit kamar yang gelap dan mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya sudah berakhir. Namun bayangan itu terlalu nyata. Suara tembakan, pecahan kaca, dan… suara terakhir itu.
“Marko…”
Namanya keluar lirih dari bibirnya dan hampir tak terdengar.
Sudah berbulan-bulan berlalu sejak malam itu. Malam yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan… justru berubah menjadi akhir dari segalanya.
Dan setiap kali ia memejamkan mata, ia selalu kembali ke sana.
__________
_______________
Flashback...
Beberapa bulan lalu…
Langit malam itu tampak cerah karena lampu kota berkilauan seperti bintang yang jatuh ke bumi. Mobil hitam yang dikendarai Marko melaju dengan tenang di jalanan yang relatif sepi.
Sementara Aurelia duduk di kursi penumpang, dengan mengenakan gaun merah pekat elegant. Tatapannya sesekali mengarah ke luar jendela, namun senyum kecilnya tak lepas dari wajahnya.
“Jadi… kita mau ke mana sebenarnya?” tanyanya sambil melirik pria di sampingnya.
Marko hanya tersenyum, sedangkan satu tangannya memegang setir dan satu lagi dengan santai mengetuk pelan kemudi.
“Rahasia.”
"Hufth..." Aurelia menghela napasnya dan pura-pura kesal. “Kau tau aku tidak suka kejutan.”
“Oh ya?” canda Marko seraya meliriknya sekilas dengan senyumnya yang melebar. “Padahal dulu kau bilang hidupmu terlalu penuh rencana. Katanya, sekali-sekali ingin sesuatu yang tak terduga.”
Aurelia menatapnya namun hanya terdiam lalu terkekeh kecil. “Tidak untuk hal besar.”
Marko tidak menjawab. Namun sorot matanya… menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar candaan.
Beberapa detik telah berlalu dalam keheningan yang nyaman.
Hingga...
Sorot lampu tiba-tiba menyilaukan mereka dari arah depan. Marko langsung mengerem sedikit dan matanya pun menyipit.
“Aneh…” gumamnya.
Dua mobil hitam pun muncul dari depan dan melintang menutup jalan.
Belum sempat Aurelia bereaksi, ia mendengar suara mesin yang meraung dari belakang. Lalu satu mobil lain datang dan berhenti tepat di belakang mereka hingga tiga mobil mengurung mobil mereka.
Suasana pun berubah menjadi tegang.
“Aurelia…” suara Marko yang terdengar rendah namun serius. “Tunduk.”
Nada itu.
Nada yang tak pernah ia gunakan kecuali dalam situasi bahaya.
Aurelia menatap Marko tanpa bertanya dan ia pun langsung menunduk.
Dan detik berikutnya...
DOR! DOR! DOR!
Rentetan peluru menghujani mobil mereka sehingga kaca depan retak, beradu dengan suara logam yang memekakkan telinga.
“Brengsek!” teriak Marko sambil membanting setir dan mencoba mencari celah.
Melihat situasi semakin tidak baik, dengan cepat Aurelia membuka laci dashboard dan mengambil pistol yang sudah sangat familiar.
“Kiri dua orang, kanan satu di balik pintu!” ucapnya cepat dengan sorot mata yang tajam.
Marko pun tersenyum tipis meski situasi semakin kacau. “Sepertinya aku tidak pernah benar-benar bisa mengajakmu kencan normal.”
Aurelia menoleh sekilas dengan tatapan yang dingin namun penuh arti. “Denganmu? Mustahil.”
DOR DOR DOR!!!
Peluru pun kembali menghantam.
Marko menginjak gas dan memutar setir tajam sehingga menabrak salah satu mobil di depan hingga bergeser sedikit.
“Pegangan!”
Mobil pun melesat, namun tembakan semakin brutal.
DOR DOR DOR DOR!!!
Aurelia membuka jendela sedikit lalu mengangkat pistolnya hingga satu pria di sisi kanan terjatuh kena tembakannya.
Namun...
DOR! DOR!
Balasan datang lebih cepat sehingga kaca samping mobil mereka pecah dan pecahannya pun melukai lengan Aurelia.
"Ishh!!" Ia meringis, tapi tak berhenti dan tetap waspada.
“Jumlah mereka lebih banyak dari biasanya,” gumamnya.
“Ini bukan serangan biasa,” jawab Marko tegas. “Mereka tau rute kita.”
Aurelia pun terdiam sejenak.
Pengkhianatan.
Kata itu langsung terlintas di benaknya sehingga mobil di belakang menabrak mereka dengan keras.
BRAK!
Mobil mereka pun oleng hingga tubuh mereka pun sempat terombang ambing.
“Marko!” teriak Aurelia.
“Aku masih pegang!” sahut Marko sambil mencoba menstabilkan kendaraan.
Namun...
DOR!!!
Satu tembakan menembus kaca depan dan mengenai Marko.
“A—”
Suaranya terhenti. Tangannya yang memegang setir pun mulai melemah sehingga mobil kehilangan kendali.
“MARKO!!”
Aurelia langsung memegang setir dengan satu tangan dan mencoba menjaga arah, sementara tangan lainnya menahan tubuh Marko yang mulai kehilangan kesadaran.
“Hey! Lihat aku! Jangan tutup mata!” teriak Aurelia dengan suara yang bergetar untuk pertama kalinya.
Marko menatap Aurelia dengan tersenyum samar meskipun darahnya mulai mengalir dari sisi tubuhnya.
“Sepertinya… kejutan malam ini… gagal ya…”
“Diam!” bentak Aurelia, padahal matanya mulai memanas. “Kau tidak boleh bicara seperti itu!”
"he-he..." Marko tertawa pelan, meski suaranya melemah.
“Aku sudah menyiapkan… semuanya… Kau pasti akan marah… karena ini terlalu berlebihan…” lanjutnya terbata-bata.
“Marko… tolong…” pekik Aurelia sementara air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Untuk pertama kalinya, Aurelia Vanzara, wanita yang tak pernah takut pada kematian tapi kini terlihat rapuh.
Marko mengangkat tangannya dengan susah payah lalu menyentuh pipi Aurelia.
“Kalau aku tidak sempat bilang nanti…” bisiknya pelan. “Aurelia… aku mencintaimu.”
Kini...dunia serasa hening. Tembakan, suara mesin, semuanya seolah hilang hingga detik berikutnya...
Tangan Marko jatuh dan matanya pun terpejam.
“Aku… juga…” suara Aurelia terpatah-patah.
Namun semuanya sudah terlambat. Karena pada saat itu Marko sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
_________
_____________
Kembali ke Masa Kini
Aurelia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sementara napasnya masih berantakan.
Mimpi itu tidak pernah berubah. Tidak pernah selesai dengan cara yang berbeda. Selalu sama. Selalu berakhir dengan rasa kehilangan.
Hari selanjutnya...
Hujan terus mengguyur kota besar sejak dini hari. Namun kali ini, tidak ada lagi air mata yang Alena keluarkan dengan sia-sia.
Kini Alena berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Gaun sederhana yang selama ini ia kenakan telah tergantung rapi di sudut ruangan dan ditinggalkan, seperti identitas lamanya.
Setelah keterpurukannya hari ini… ia akan kembali menjadi dirinya yang sebenarnya untuk membalas dendam atas kematian Marko.
Perlahan, ia mengenakan setelan hitam elegan. Jas panjang membalut tubuhnya dengan sempurna, hingga mempertegas lekuk tubuhnya yang anggun namun tegas.
Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, jatuh lembut di bahu, kontras dengan tatapan matanya yang dingin dan tak lagi menyisakan kelembutan.
Bibirnya dipulas merah gelap sebagai simbol bahwa Aurelia Vanzara… telah kembali.
Ia menatap bayangannya sendiri dan nampak cantik sempurna. Namun di balik itu semua ada sesuatu yang jauh lebih menakutkan. Yaitu aura dominasi yang mencekam.
“Jika seseorang yang merenggutmu dariku…” bisiknya pelan. “Maka aku akan menghancurkan dunia mereka.”
______
____________
Markas Besar Vanzara Empire berada.
Ruangan itu nampak sunyi. Meja panjang dari kayu hitam membentang di tengah, dikelilingi pria-pria bersetelan formal yang tak satu pun berani berbicara. Bahkan napas pun terasa ditahan.
Hingga...
PINTU TERBUKA.
Lalu terdengar langkah sepatu hak tinggi yang menggema pelan, namun cukup untuk membuat semua orang berdiri serempak.
Alena masuk dan semua mata pun tertuju padanya. Dan seketika, ruangan pun terasa lebih dingin.
“Nona…” ucap mereka serempak dengan kepala menunduk.
Alena berjalan perlahan menuju kursi utama. Setiap langkahnya nampak tenang, terukur, dan penuh kendali. Ia tidak perlu meninggikan suara karena dengan kehadirannya saja sudah cukup membuat siapa pun tunduk.
Alena lalu duduk dan menyilangkan kakinya dengan elegan. Tatapannya menyapu seluruh ruangan dan menatap semua wajah yang tak ada senyuman dan tak ada emosi, melainkan hanya kekuasaan.
“Laporan,” ucap Alena singkat.
Lalu, seorang pria di sisi kanan maju sedikit. Dialah Vincent, tangan kanan kepercayaannya.
“Sudah tiga bulan kami menyelidiki, Nona,” katanya hati-hati. “Dan akhirnya kami menemukan pihak yang bertanggung jawab atas penyerangan malam itu.”
Mendengar laporan tersebut Alena tidak bergerak. Namun matanya… telah menjadi berubah lebih tajam.
“Bicara.”
Vincent pun memberi isyarat. Lalu layar besar di ujung ruangan pun menyala. Kemudian foto-foto muncul. Wajah-wajah. Nama-nama. Dan lokasi keberadaan masing-masing.
“Kelompok mafia Black Seraph,” lanjut Vincent. “Dipimpin oleh Dante Moretti.”
Ruangan pun hening. Semua hanya terdiam namun mengerti. Nama itu nama yang baru saja di sebutkan… bukanlah nama kecil.
“Mereka mengambil alih wilayah utara secara paksa. Serangan terhadap Anda dan Tuan Marko adalah bagian dari rencana mereka untuk menghapus semua pesaing," lanjut Vincent.
Alena menatap layar. Lalu berhenti pada satu foto. Seorang pria yang bernama Dante.
Tatapan pria itu dingin. Namun tidak sedingin tatapan miliknya.
“Jadi…” suara Alena akhirnya terdengar.
Meskipun pelan namun cukup membuat bulu kuduk merinding.
“Ini orang-orang yang merenggut milikku.”
Saat ini tidak ada satupun yang menjawab karena tidak ada yang berani.
Alena lalu berdiri secara perlahan sehingga aura di ruangan itu berubah drastis menjadi terasa lebih berat dan lebih menekan.
“Mulai malam ini…” katanya, suaranya terdengar rendah namun penuh wibawa.
“Tidak akan ada lagi nama Black Seraph di dunia ini.”
Semua orang menegakkan tubuh mereka dan nampak tegang.
"Siap."
Alena lalu melangkah maju sedikit dengan tatapannya yang tajam seperti pisau.
“Aku tidak ingin ada yang tertangkap.”
Sunyi....
“Aku tidak ingin ada yang lolos.”
Napas tertahan...
“Habisi semuanya.”
Deg.
Beberapa orang menelan ludah. Namun tidak ada yang menolak dan tidak ada yang berani bertanya.
“Termasuk keluarga mereka… jaringan mereka… siapa pun yang terlibat,” lanjut Alena tanpa ragu.
Suaranya tetap tenang seolah ia tidak sedang memerintahkan pembantaian.
“Sapu bersih.”
“Siap, Nona.”
“Dan satu hal lagi,” tambah Alena hingga semua kembali menatapnya.
“Bawa Dante Moretti kepadaku.”
Sebuah senyuman tipis muncul di bibirnya. Nampak Indah namun mematikan.
“Aku ingin mengakhiri ini… dengan tanganku sendiri.”
Malam Itu…
Kota pun akan berubah menjadi medan perang. Mobil-mobil hitam melaju dari berbagai arah. Pasukan Vanzara bergerak tanpa suara.
Terorganisir dan mematikan.
_______
___________
Di satu markas Black Seraph...
DOR! DOR! DOR!
Tembakan meledak. Jeritan menggema. Satu per satu tubuh jatuh. Di bantai tiada ampun.
Tidak ada negosiasi. Yang ada hanya satu perintah—
HABISI.
Kembali ke Alena...
Ia berdiri di balkon gedung tinggi sambil menatap kota yang kini berada di bawah kendalinya.
Angin malam meniup rambutnya perlahan namun wajahnya tetap tenang akan tetapi tatapannya kosong.
“Marko…” bisiknya. “Semoga kau tenang disana. Dan setelah ini, aku akan meninggalkan dunia gelap ini selamanya."
Mata Alena perlahan menutup. Lalu terbuka kembali dengan sorot yang lebih dingin dari sebelumnya.
“Dan aku akan memastikan… mereka merasakan kehilangan yang sama.”
**
Biografi Aurelia Vanzara
Aurelia adalah wanita berusia 25 tahun dengan aura dingin yang memikat. Rambutnya hitam pekat, panjang hingga pinggang, sering diikat rendah dengan rapi. Matanya tajam berwarna abu-abu gelap, seolah mampu membaca kebohongan hanya dalam satu tatapan.
Kulitnya pucat mulus, kontras dengan lipstik merah gelap yang menjadi ciri khasnya. Tubuhnya tinggi semampai dengan postur tegap, selalu tampil elegan dalam balutan jas mahal atau gaun hitam sederhana namun mematikan.
Aurelia Vanzara lahir dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota Valenza. Ayahnya, seorang don legendaris, dikenal kejam namun sangat disegani. Sejak kecil, Aurelia tidak dibesarkan sebagai anak perempuan biasa. Ia dilatih untuk bertahan, bukan untuk bergantung.
Pada usia 12 tahun, ia menyaksikan pembantaian keluarganya sendiri akibat pengkhianatan dari orang kepercayaan ayahnya sehingga malam itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia satu-satunya yang selamat, bukan karena keberuntungan, tetapi karena keberanian dan kecerdasannya melarikan diri.
Selama bertahun-tahun, Aurelia hidup dalam bayang-bayang dan menyusun rencana balas dendam. Ia membangun kekuatan dari nol, menyusup ke berbagai jaringan kriminal, dan perlahan menguasai dunia bawah tanah.
Di usia 20 tahun, ia berhasil merebut kembali kekuasaan keluarganya dan membunuh orang yang telah menghancurkan hidupnya. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai The Crimson Queen, simbol kekuasaan, darah, dan balas dendam.
Sebelum penyerangan terjadi...
Markas Black Seraph berada.
Sebuah gudang besar di kawasan industri tua yang terlihat sepi dari luar dan tidak ada aktivitas yang mencurigakan.
Namun di dalam sana, puluhan pria bersenjata siap berjaga. Beberapa tengah duduk santai, merokok, dan tertawa kecil, seolah dunia berada dalam kendali mereka.
Kemudian salah satu dari mereka menyandarkan senjatanya ke meja dan berkata, “Kau yakin Vanzara tidak akan bergerak?” tanyanya santai.
"He he" Pria lain terkekeh. “Bos bilang mereka sudah hancur sejak kematian Marko. Ratu mereka? Hilang entah ke mana.”
Tawa kecil pun terdengar saling bersahutan. Tanpa mereka sadari, kesalahan terbesar mereka adalah meremehkan seorang ratu.
Sementara di luar gedung tak jauh dari sana. Beberapa mobil hitam berhenti tanpa suara. Saat pintu terbuka, sosok-sosok bersenjata keluar dengan gerakan yang cepat dan terlatih.
Dan di antara mereka Aurelia Vanzara tengah berdiri dan siap tempur. Matanya menatap gedung di depannya dengan tatapan dingin. Seolah tempat itu… sudah menjadi kuburan.
Lalu, Vincent bergerak dan sedikit mendekat “Semua unit siap, Nona.”
Aurelia tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya perlahan sebagai satu isyarat dan seluruh pasukan pun langsung bersiap.
Aurelia menatap lurus ke depan dan berkata, “Tidak ada yang keluar hidup-hidup.”
Suaranya terdengar pelan namun cukup untuk menggetarkan siapa pun yang mendengarnya.
“Dimengerti.” jawab Vincent seraya menunduk.
Aurelia menurunkan tangannya.
Lalu—
“Mulai.”
SERANGAN PUN DIMULAI
DOR! DOR! DOR!
Pintu depan ditembus dengan ledakan keras dan memecahkan kaca di sekitar.
Seketika teriakan pun langsung memenuhi ruangan.
“Apa—?! SERANGAN!!”
Belum sempat mereka bereaksi, peluru sudah lebih dulu menyapa hingga satu per satu tubuh jatuh. Lalu pasukan Vanzara masuk dari segala arah dengan cepat, presisi dan tanpa ampun.
Di dalam kekacauan, seorang anggota Black Seraph mencoba membalas. Namun...
DOR!
Ia jatuh sebelum sempat mengangkat senjatanya. Lalu langkah sepatu hak tinggi terdengar di tengah suara tembakan dengan perlahan dan tenang.
Tap... Tap... tap...
Bertolak belakang dengan kekacauan di sekitarnya, Aurelia berjalan masuk tanpa tergesa-gesa dan tanpa perlindungan.
Namun tidak ada satu peluru pun yang mendekatinya. Seolah kematian… berpihak padanya.
Di sebrang Aurelia sedang berjalan, seorang pria yang melihatnya nampak membeku. “Itu… itu dia… Crimson Queen—”
DOR.
Aurelia menembaknya tepat di kepala tanpa ekspresi. Ia menurunkan pistolnya perlahan dan matanya menyapu ruangan dengan tatapan kosong dan tidak ada belas kasihan.
Kemudian dua pria menyerangnya dari sisi kiri namun Aurelia bergerak dengan cepat, menunduk, lalu menangkap tangan salah satu dari mereka dan memutar kepalanya.
KRAK!
Suara tulang yang patah.
Tanpa jeda, ia mengambil pistol dari tangan pria itu dan,
DOR! DOR!
Keduanya pun jatuh tersungkur.
Melihat teman-teman nya mati satu persatu, para musuh pun semakin panik.
“LARI!!”
“INI JEB—”
DOR!
Suara mereka terhenti satu per satu. Namun tidak semua, beberapa berhasil melarikan diri melalui pintu belakang.
“Sebagian kabur, Nona!” teriak Vincent.
Aurelia pun berhenti. Lalu menoleh perlahan. Matanya… lebih dingin dari sebelumnya.
“Biarkan," perintah Aurelia.
Vincent terdiam dan menurut saja.
Lalu Aurelia melangkah melewati tubuh-tubuh yang bergelimpangan sementara cairan berwarna merah mulai menggenang di lantai.
“Biarkan mereka lari,” ulangnya pelan, seraya tersenyum tipis menyeramkan.
“Supaya mereka tau… siapa yang memburu mereka.”
Beberapa menit kemudian...
Tak ada lagi suara tembakan. Tak ada lagi perlawanan. Yang ada hanya mayat yang bergelimpangan… dan bau mesiu.
Vincent berdiri di tengah ruangan lalu berkata, "Semua target di lokasi ini… telah dihabisi.”
Aurelia tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tengah kehancuran itu. Matanya menatap lurus ke depan. Namun pikirannya jauh ke malam itu.
Ke suara terakhir Marko.
Tangannya perlahan mengepal lalu memekik, “Ini belum cukup…"
_____
Di luar api mulai membakar sisa markas. Langit malam pun memantulkan warna merah seperti darah.
Aurelia berdiri di depan gedung yang kini menjadi puing dengan ekspresi wajah yang tetap tenang. Namun di dalam hatinya api balas dendam semakin membesar.
“Dante Moretti…” bisiknya. “Aku akan menemukanmu.”
##
Malam belum berakhir. Namun bagi Dante Moretti ini adalah akhir dari segalanya.
Saat itu hujan turun deras ketika sebuah mobil hitam berhenti di halaman markas utama Vanzara Empire. Lalu pintu pun terbuka dengan kasar.
Blug!!
Dante diseret keluar dari mobil. Tubuhnya kotor, jas mahalnya sudah tidak lagi menunjukkan wibawa jika ia seorang pemimpin mafia.
Wajahnya penuh luka, napasnya terdengar berat, dan untuk pertama kalinya ketakutan terlihat jelas di matanya.
“Jalan!” bentak salah satu anak buah Aurelia.
Dante terhuyung, bahkan lututnya beberapa kali hampir menyentuh tanah sebelum akhirnya ia didorong masuk ke dalam ruangan besar yang remang dan sunyi.
Di ujung ruangan, Alena sedang duduk di kursinya. Tenang, elegant, dan mematikan
Cahaya lampu redup jatuh tepat di wajahnya, sehingga mempertegas kecantikannya yang sempurna, namun juga memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan yakni tatapan tanpa belas kasihan.
Brukkkk!
Dante langsung dijatuhkan dan berlutut.
“Nona…” suara pria yang membawanya terdengar hormat. “Target sudah kami bawa.”
Seperti biasa, Alena tidak langsung menjawabnya dan hanya menatap musuh dengan lama dalam diam.
Dan diam itulah yang justru membuat Dante semakin gemetar.
“A—Aurelia…” suara Dante bergetar. “Dengarkan aku… ini semua bisa dijelaskan—”
“Diam.”
Satu kata. Pelan. Namun cukup untuk membuat ruangan itu membeku.
Alena lalu bangkit dari kursinya dan perlahan melangkah mendekat. Setiap langkahnya seperti tekanan yang menghancurkan mental Dante sedikit demi sedikit dan Alena pun berhenti tepat di depan pria itu.
Alena menunduk sedikit dan menatapnya. “Jadi… kau orangnya.”
Glek!!!
Dante menelan ludahnya.
“Aku… aku tidak berniat membunuhnya!” katanya cepat. “Itu bukan target kami! Kami hanya ingin wilayah—”
PLAK.
Sebuah tamparan yang tidak keras mendarat di pipi Dante namun cukup untuk menghentikan semua kata-katanya.
Alena menatapnya tanpa ekspresi lalu berkata dengan pelan, “Namanya."
Dante membisu.
“Apa kau bahkan ingat namanya?” lanjut Alena.
Suasana semakin mencekam lalu Dante menjawab dengan setengah berbisik, “Marko…”
Alena menutup matanya sejenak lalu membukanya kembali. “Dan kau pikir,” katanya perlahan, “setelah kau mengambil nyawanya… aku akan membiarkanmu tetap bernapas?”
Dante langsung menunduk, dan seketika suaranya langsung pecah.
“Tolong… aku bisa memberimu segalanya! Uang, wilayah, orang-orangku—semua milikmu! Aku akan menghilang! Aku bersumpah!”
Ia lalu mendekat dan hampir merangkak.
“Biarkan aku hidup… aku mohon…” pohon Dante memelas.
Namun Alena hanya terdiam. Lalu ia tersenyum tipis. “Lucu. Kau memohon… seolah-olah aku masih manusia.”
Dante membeku seraya mendongak dengan mata yang membesar. Dan detik itu juga ia sadar, jika ia tidak sedang berbicara dengan wanita biasa tapi wanita yang berbahaya.
Kemudian Alena berdiri tegak dan menatap anak buahnya tanpa menoleh.
“Tidak ada yang masuk dan tidak ada yang mengganggu.”
“Siap, Nona.”
Pintu pun ditutup dan terkunci.
Dan yang tersisa hanyalah keheningan… dan penghakiman. Tidak ada yang tau pasti apa yang terjadi di dalam.
Yang mereka tau, penghakiman itu tidak ada ampun dan tidak ada belas kasihan. Hanya satu hal yang pasti, Crimson Queen sedang menuntaskan dendamnya.
_____
________
Beberapa saat kemudian...
Pintu terbuka kembali dan Alena keluar dengan langkah yang tetap tenang. Wajahnya bersih dan tidak ada emosi. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Vincent menunduk dan bertanya, “Selesai, Nona?”
“Selesai," jawab Alena singkat.
Ia lalu berjalan melewati mereka. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti dan tanpa menoleh berkata, “Bersihkan dan berikan sisanya pada hewan.”
“Siap, Nona.”
##
Malam itu nama Dante Moretti menghilang dari dunia. Tanpa jejak. Tanpa makam dan tanpa sisa.
Adapun Alena, kini ia berdiri kembali di balkon tinggi markasnya sambil menatap kota.
“Marko…” bisiknya lirih.
“Aku sudah menepati janjiku.”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!