Pagi itu, secarik kertas dengan kop resmi Dinas Pendidikan mengubah jalan hidup Arumi Anggraini. Surat penugasan itu datang mendadak, memindahkan tugas mengajarnya dari sebuah sekolah di pelosok daerah ke salah satu sekolah menengah pertama paling elit di Jakarta. Bukannya gentar, darah muda Arumi justru berdesir. Prestasinya yang gemilang selama mengabdi di kampung membuatnya haus akan tantangan baru. Jakarta, dengan segala kemegahannya, adalah panggung baru yang siap ia taklukkan.
Namun, di balik kegemilangan kariernya terlebih setelah satu bulan lalu ia resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan nilai kelulusan yang memuaskan kehidupan asmara Arumi justru mati suri. Di usianya yang matang, ia masih betah sendiri. Di kampung, orang tuanya sudah jengah dan berulang kali mencoba menjodohkannya dengan pria-pria mapan. Bahkan Pak Kades sampai detik ini masih memendam harap, menunggu Arumi menerima lamarannya. Namun bagi Arumi, pintu hati itu sudah digembok rapat. Trauma dan luka masa lalu akibat pengkhianatan cinta pertamanya membuat Arumi tak lagi percaya pada makhluk bernama laki-laki. Baginya, kebahagiaan sejati ada pada senyum anak-anak didiknya, bukan pada janji manis seorang pria.
Keesokan harinya, petualangan itu dimulai. Sebagai wanita yang benar-benar awam dengan belantara beton kota metropolitan, Arumi belum bernyali mengendarai sepeda motornya sendiri. Alhasil, aplikasi ojek online menjadi penyelamatnya.
Hampir satu jam lamanya Arumi terombang-ambing di atas motor, membelah kemacetan Jakarta yang menguras emosi. Ketika motor berhenti tepat di depan gerbang megah bertuliskan SMP Chandrakanta, Arumi terpaku. Gedung sekolah itu menjulang megah, tempat bernaungnya anak-anak para pejabat dan pengusaha papan atas. Sekolah yang kabarnya kekurangan sosok guru tegas namun berhati tulus.
Arumi turun dari motor, merapikan jilbab dan seragam batiknya yang sedikit kusut. Ia menghembuskan napasnya, lalu merapatkan kedua tangannya di dada.
'Bismillah... Ya Allah, lancarkanlah langkah hamba di tempat ini. Jadikan hamba pelita bagi mereka,' bisiknya dalam hati, memanjatkan doa.
Rupanya, kedatangan Arumi sudah diantisipasi. Begitu melangkah melewati pos satpam, ia langsung disambut oleh seorang staf Tata Usaha bernama Roy. Pria bertubuh gempal yang kerap dijuluki bujang lapuk oleh rekan-rekannya itu seketika melebarkan senyum saat melihat Arumi. Roy merasa seperti ketiban bulan runtuh karena mendapat tugas mengantar guru baru yang ternyata memiliki paras sangat cantik nan anggun.
"Mari, Bu Arumi, saya antar langsung ke ruangan Kepala Sekolah. Oh ya, perkenalkan, saya Roy dari bagian TU," ucap Roy dengan nada suara yang sengaja dibuat manis sembari menuntun jalan.
"Terima kasih banyak, Pak Roy. Mohon bantuannya ya, saya masih baru sekali di Jakarta," balas Arumi ramah, lengkap dengan senyum profesionalnya yang membuat jantung Roy berdegup dua kali lebih cepat.
Langkah kaki mereka bergema di koridor sekolah yang bersih dan ber AC. Setibanya di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh dengan papan nama Kepala Sekolah, Arumi mendadak merasa gugup. Jemarinya meremas tali tas kerjanya.
Tok! Tok! Tok!
Roy mengetuk pintu dengan penuh percaya diri. Tak butuh waktu lama, sebuah suara berat dan berwibawa menyahut dari dalam.
"Masuk!"
Roy membuka pintu dan mempersilakan Arumi masuk terlebih dahulu. Di balik meja kerja yang besar, seorang pria matang, berwibawa, dan memancarkan kharisma kepemimpinan langsung berdiri. Pria itu menyambut mereka dengan senyuman hangat yang menenangkan, lalu mengulurkan tangannya.
"Dengan Ibu Arumi Anggraini, ya?" tanya Bapak Kepala Sekolah, suaranya terdengar begitu bersahabat.
Arumi menyambut uluran tangan itu dengan senyum tertahan, mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Betul sekali, Pak!"
"Perkenalkan, saya Bima Darmawangsa. Saya menjabat sebagai kepala sekolah di SMP Chandrakanta ini. Selamat datang, Bu Arumi. Semoga Ibu betah dan bisa memberikan warna baru dalam mendidik anak-anak di sekolah kami. Silakan duduk, Bu."
"Terima kasih, Pak Bima," jawab Arumi sembari mendudukkan diri di kursi kulit yang empuk.
Pak Bima kemudian mengalihkan pandangannya kepada staf TU yang masih berdiri mematung di dekat pintu, memandangi Arumi dengan tatapan kagum yang belum pudar.
"Dan untuk Pak Roy, terima kasih banyak karena sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Anda bisa kembali ke ruangan Anda sekarang," ujar Pak Bima tegas, sembari memberikan kedipan mata kode keras agar Roy segera angkat kaki dan tidak mengganggu privasi pertemuan tersebut.
Roy langsung tersentak. Ia menghela napas panjang, tampak berat hati karena harus menyudahi momen indahnya bersama sang guru baru secepat ini. "Baik, Pak Bima. Saya permisi dulu. Mari, Bu Arumi..." pamit Roy lesu, lalu melangkah gontai keluar dari ruangan, meninggalkan Arumi yang kini siap memulai babak baru hidupnya di SMP Chandrakanta.
Di dalam ruang kerja yang sejuk, Pak Bima menatap berkas di tangannya sebelum beralih menatap Arumi dengan senyum yang sulit diartikan.
"Baik, Bu Arumi. Berdasarkan surat keputusan, Anda akan mengajar mata pelajaran Matematika. Selain itu, pihak sekolah juga memutuskan untuk langsung menunjuk Anda sebagai wali kelas yang baru, menggantikan posisi wali kelas sebelumnya yang mendadak mengundurkan diri," jelas Pak Bima, nadanya terdengar sangat hati-hati.
Mendengar hal itu, sebuah pertanyaan besar mulai bergelayut di pikiran Arumi. Mengundurkan diri? Apa yang sebenarnya menyebabkan sang wali kelas sebelumnya sampai mengambil keputusan se ekstrem itu di tengah semester? Namun, sebelum Arumi sempat mengutarakan kebingungannya, Pak Bima sudah berdiri dari kursi kebesarannya.
"Nah, Bu Arumi... Setelah ini Anda akan langsung mengajar di kelas 7 C. Mari saya antar, Bu. Dan... saya mohon Ibu bisa sedikit bersabar menghadapi murid-murid di sana," ujar Pak Bima sembari melangkah menuju pintu.
Mendengar wejangan tersebut, rasa penasaran Arumi semakin memuncak. Ia mengangguk mantap, sudah tidak sabar untuk segera pergi ke kelas 7 C dan melihat sendiri medan perangnya.
Pak Bima berjalan di depan memandu arah. Sebenarnya, di dalam lubuk hatinya, sang kepala sekolah merasa sangat bersalah. Ada rasa tidak tega karena harus menempatkan sosok guru yang tampak lembut, cantik, dan baik seperti Arumi di kelas yang bisa dengan mudah membuat siapa pun hilang kesabaran. Bagaimana tidak? Hanya dalam semester ini saja, sudah ada 5 wali kelas yang mengundurkan diri bergantian karena tidak tahan dengan kenakalan murid-murid di kelas itu yang dinilai sudah keterlaluan.
Saat Arumi dan Pak Bima berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelas 7 C, beberapa guru yang berpapasan tampak memandangi Arumi dengan tatapan iba. Mereka bahkan berhenti sejenak, mengusap dada mereka sendiri sembari berbisik lirih.
"Semoga guru baru kali ini bisa tahan dengan mereka," ujar salah satu guru wanita berhijab yang baru saja keluar dari ruang guru, menatap punggung Arumi dengan cemas.
Arumi mengencangkan genggaman pada buku diktat Matematika di pelukannya. Atmosfir di koridor ini mendadak terasa mencekam.
Begitu mereka tiba di depan pintu kelas 7 C, Pak Bima menghentikan langkah, menarik napas dalam-dalam, lalu memutar gagang pintu. Namun, tepat saat pintu kayu itu terbuka....
Syuuuut!
Puk!
Sebuah penghapus papan tulis kayu yang penuh debu kapur melayang cepat dari dalam kelas, terlempar keluar dan hampir saja menghantam wajah sang kepala sekolah jika Pak Bima tidak refleks memundurkan kepalanya. Debu putih mengepul sesaat di udara.
Suasana kelas yang tadinya riuh layaknya pasar malam seketika hening. Mengetahui bahwa yang hampir mereka celakai adalah orang nomor satu di sekolah ini, para siswa dan siswi buru-buru berlarian kembali ke bangku mereka masing-masing. Mereka duduk tegap, namun saling berbisik dan menyembunyikan senyum geli di balik buku.
Arumi yang menyaksikan kejadian itu secara langsung spontan menelan ludahnya kesusahan. Jantungnya berdegup kencang. Sementara itu, Pak Bima menghembuskan napas berat, berusaha sekuat tenaga untuk tetap sabar dan tenang menghadapi kelakuan murid-muridnya.
Di barisan bangku paling belakang, seorang remaja laki-laki dengan seragam yang tidak dimasukkan dan dasi yang sengaja dilonggarkan malah tertawa renyah tanpa rasa bersalah. Dia adalah Azzam, si ketua geng di kelas urakan tersebut.
"Woy, elo salah sasaran! Yang harusnya elo lempar itu si wali kelas baru, bukannya pak kepala sekolah!" seru Azzam lantang pada temannya di seberang bangku, memicu tawa cekikikan dari murid-murid yang lain. Di sampingnya, seorang anak perempuan yang wajahnya sangat mirip dengannya yakni Azzura hanya bersedekap dada sambil menatap Arumi dengan pandangan meremehkan.
Saat Pak Bima dan Arumi akhirnya melangkah masuk ke dalam kelas, pemandangan di dalam sana benar-benar memprihatinkan. Ruangan tersebut begitu berantakan, kertas-kertas berserakan di lantai, meja kursi tidak beraturan, dan coretan-coretan usil memenuhi sudut papan tulis.
Arumi menghentikan langkahnya di samping meja guru. Ia menghela napas panjang, lalu perlahan mengusap dadanya sendiri untuk menenangkan gemuruh di dalam sana.
'Arumi, ini adalah perang yang sesungguhnya. Kau sudah berkomitmen menjadi guru, dan kau harus bisa mengatasi anak-anak nakal ini! batinnya menyemangati dirinya sendiri, menatap lurus ke arah sepasang mata kembar yang kini tengah menantangnya.
Bersambung...
Di depan kelas yang riuh dan berantakan, Pak Bima dan Arumi berdiri berdampingan. Pak Bima kembali menghembuskan napasnya pelan, memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing. Pria paruh baya itu sadar, ia harus memiliki stok sabar yang luar biasa banyak jika ingin menghadapi murid-murid luar biasa di kelas 7 C ini.
Sambil melirik Arumi dengan tatapan penuh rasa bersalah, Pak Bima berbisik pelan.
"Bu Arumi, jika Anda merasa tidak sanggup mengajar dan menjadi wali kelas di sini, saya benar-benar tidak keberatan jika Ibu ingin mengundurkan diri sekarang juga," ujarnya merasa tidak enak, bersiap memberikan jalan keluar sebelum mental guru baru itu terguncang.
Namun, dugaan Pak Bima keliru. Justru kejadian pelemparan penghapus dan kekacauan ini membuat adrenalin di dalam diri Arumi bergejolak hebat. Baginya, menghadapi siswa dan siswi bermental manja dan urakan seperti ini bukanlah musibah, melainkan sebuah tantangan baru yang sangat menarik. Bukannya mundur dan mengalah pada takdir, jiwa pendidik Arumi justru tertantang untuk menjinakkan mereka.
Arumi menatap Pak Bima dengan senyum tipis namun sarat akan keyakinan.
"Anda tenang saja, Pak Bima. Saya pastikan, saya tidak akan mundur menjadi wali kelas 7 C. Percaya sama saya!" ujarnya tegas dan lantang.
Suara Arumi yang menggelegar di dalam kelas seketika membuat suasana ruangan berubah. Perkataan berani itu terdengar jelas oleh seluruh kuping murid kelas 7 C. Alih-alih kagum, mereka justru semakin tidak menyukai sosok Arumi. Di mata anak-anak kaya yang manja itu, Arumi dianggap sebagai guru baru yang sok jagoan dan cari perhatian.
Pak Bima yang mendengar jawaban mantap tersebut sempat tertegun, sebelum akhirnya tersenyum lega. "Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu, Bu Arumi. Kalau Ibu ada apa-apa atau situasi mulai tidak terkendali, langsung menghadap saya saja!"
"Baik, Pak!" jawab Arumi mantap.
Dengan berat hati dan langkah yang agak ragu, Pak Bima akhirnya melangkah keluar, meninggalkan Arumi sendirian di sarang kelas 7 C. Di dalam hati, Pak Bima sangat berharap Arumi benar-benar bisa mengatasi murid-murid paling nakal di sekolah ini. Ironis memang, mereka bahkan belum genap satu tahun menimba ilmu di sekolah ini, namun pengaruh dan kekuasaan orang tua mereka yang merupakan pejabat dan pengusaha besar membuat pihak sekolah sering kali tidak berkutik.
Begitu pintu tertutup, Azzam si provokator utama langsung mencondongkan badannya ke depan. Ia berbisik licik kepada teman-teman di sekitarnya, mengomandokan sebuah rencana untuk memberikan pelajaran pertama bagi wali kelas baru mereka agar kapok.
Arumi, yang menyadari kasak-kusuk di barisan belakang, tetap bersikap tenang. Ia meletakkan tasnya di meja, lalu membuka sebuah buku tebal bermotif batik.
"Anak-anak, sebelum kita memulai pelajaran Matematika hari ini, Ibu akan mengabsen kalian terlebih dahulu," ucap Arumi dengan nada suara yang ramah namun tetap berwibawa. "Nanti, jika namanya Ibu sebutkan, kalian cukup berdiri di samping bangku kalian masing-masing, ya."
"Baik, Buuuu!" jawab para murid secara serempak dengan nada yang sengaja dibuat-buat dan kompak. Azzam dan kembarannya, Azzura, saling melempar senyum penuh arti.
Arumi mulai menunduk, membuka halaman pertama buku absen kelas 7 C. "Agustina Gunawan?" panggil Arumi.
Srrreettt!
Tepat setelah nama itu diucapkan, bukan hanya satu orang yang berdiri, melainkan seluruh siswa dan siswi di kelas itu langsung bangkit berdiri secara bersamaan. Mereka berdiri tegap sambil menahan tawa, merasa rencana untuk mengerjai dan membingungkan sang guru baru telah berhasil total. Mereka mengira Arumi akan panik atau marah-marah seperti lima wali kelas sebelumnya.
Namun, perkiraan mereka salah besar. Arumi sama sekali tidak terlihat panik. Ekspresi wajahnya tampak biasa saja. Ia hanya menghela napasnya sejenak, menutup buku absen itu dengan pelan, lalu melipat kedua tangannya di atas meja sambil menatap seisi kelas dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
"Oke, baiklah. Jadi kalian suka dengan cara seperti ini?" Arumi menjeda kalimatnya, lalu tersenyum meremehkan. "Ibu akan ladeni permainan kalian!"
Tantangan terbuka dari Arumi seketika membuat para murid terkejut. Senyum-senyum nakal di wajah mereka langsung luntur, digantikan oleh rasa heran. Mereka tidak tahu bahwa di dalam buku absen baru yang dipegang Arumi, pihak sekolah sudah mengantisipasi kelakuan mereka dengan menyertakan foto profil terbaru beserta nama lengkap masing-masing murid di setiap lembarnya. Bagi Arumi yang memiliki daya ingat tajam, permainan kekanak-kanakan ini justru akan berbalik menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
Arumi membalikkan tubuhnya membelakangi kelas, mengambil sebatang kapur putih, lalu mulai menuliskan beberapa kalimat dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas di papan tulis. Suara gesekan kapur dan papan tulis bergema di keheningan ruang kelas yang mendadak senyap. Semua murid saling berpandangan, dirundung rasa penasaran akan apa yang sedang ditulis oleh guru baru mereka.
Saat Arumi menghentikan ketukan kapurnya dan bergeser, seluruh mata terbelalak membaca untaian kalimat di sana:
"Saya berjanji tidak akan menjadi anak yang nakal, jika saya melanggarnya, maka saya siap menerima hukuman."
Tulisan yang terpampang nyata itu sontak mengejutkan seisi kelas 7 C. Belum sempat mereka melayangkan protes, Arumi sudah berbalik dan menatap mereka satu per satu dengan sorot mata yang tak terbantahkan.
"Pindahkan tulisan ini ke dalam buku catatan kalian. Buat sebanyak sepuluh lembar penuh! Setelah itu, kumpulkan kepada saya," tegas Arumi, menjeda kalimatnya untuk memberikan penekanan. "Jika sampai ada yang tidak mengerjakannya, saya akan memberikan hukuman yang jauh lebih berat. Saya akan meminta Pak Kepala Sekolah untuk menugaskan kalian membersihkan perpustakaan selama satu minggu penuh setelah jam pulang sekolah!"
"Apa?!" ucap para siswa dan siswi secara serempak.
Wajah-wajah manja itu seketika pias. Membayangkan harus menata ribuan buku dan menyapu ruangan perpustakaan yang luas di saat teman-teman mereka yang lain sudah pulang ke rumah adalah mimpi buruk. Alhasil, meski bersungut-sungut, mereka lebih memilih untuk menulis kalimat tersebut di buku catatan daripada harus menjadi kuli dadakan di perpustakaan.
Arumi kembali membalikkan badan ke papan tulis. Di sudut atas, ia menuliskan sebuah jam digital yang menunjukkan waktu tepat satu jam dari sekarang. Itu adalah batas waktu yang harus mereka patuhi.
Namun, tepat saat Arumi baru saja hendak membalikkan tubuhnya kembali menghadap kelas...
Wusss!
Sebuah bola baseball berwarna putih melesat cepat dari barisan belakang, mengarah tepat ke belakang kepala Arumi. Murid-murid yang melihat itu menahan napas, mengira kepala sang guru akan bocor seketika.
Hup!
Tanpa menoleh, hanya mengandalkan insting pendengaran yang tajam, tangan kanan Arumi bergerak secepat kilat ke belakang. Dengan satu gerakan memutar yang dinamis khas jurus pencak silat, jemarinya berhasil mencengkeram bola baseball tersebut tepat beberapa sentimeter sebelum mengenai hijabnya. Tubuhnya berputar luwes, menyisakan hembusan angin kecil di depan kelas.
Seluruh murid melongo tak percaya. Kelas mendadak sedingin es. Mereka tidak tahu bahwa selama mengajar di kampung dulu, Arumi adalah guru silat berprestasi yang sudah menyandang sabuk hitam. Menghadapi serangan fisik pengecut seperti ini sama sekali bukan hal sulit baginya.
Arumi menatap bola di genggamannya, lalu mengalihkan pandangan tajamnya ke arah murid-murid. "Siapa yang telah melemparkan bola ini?" tanyanya, suaranya tenang namun sarat akan intimidasi. "Ibu harap kalian jantan. Maju ke depan dan minta maaf, jangan menjadi seorang pengecut."
Suasana mencekam itu pecah saat kursi di barisan belakang berderit nyaring. Azzam bangkit berdiri. Dengan langkah angkuh dan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, ia maju ke depan kelas.
"Saya yang sudah melempar bola itu kepada Anda, Bu Guru yang terhormat!" jawab Azzam lantang, menantang langsung Arumi di depan teman-temannya.
Arumi menatap anak laki-laki di hadapannya, lalu menggelengkan kepalanya pelan penuh kekecewaan. "Jadi, kamu sudah siap menerima hukuman atas sikapmu yang tidak bisa menghargai seorang guru?"
Bukannya takut, Azzam justru menatap Arumi dengan tatapan yang dipenuhi kobaran kebencian. Alih-alih menjawab, remaja itu justru memutar tubuhnya, berjalan angkuh melintasi meja guru, dan melangkah keluar dari dalam kelas begitu saja. Tak lama kemudian, Azzura bangkit dari bangkunya dan berjalan cepat menyusul kembarannya, ikut keluar dari kelas tanpa memperdulikan aturan.
Murid-murid lain mengira Arumi akan berteriak histeris atau mengejar mereka sembari marah-marah. Namun, Arumi justru terdiam di tempatnya. Ia sama sekali tidak menegur atau menahan langkah kaki si kembar.
Arumi terpaku karena tatapan mata Azzam yang sempat beradu dengannya tadi. Di balik topeng kenakalan dan keangkuhan remaja itu, Arumi menangkap sesuatu yang lain. Kedua bola mata Azzam tidak sekadar memancarkan kemarahan yang tak terkendali, melainkan ada luka mendalam di sana. Anak itu seperti sedang memendam rasa sakit hati yang teramat sangat dan penolakan besar terhadap dunia.
'Ada apa dengan anak itu? Apa yang sebenarnya sedang dia sembunyikan?' batin Arumi, menyadari bahwa tugasnya di kelas ini jauh lebih dalam dari sekedar mengajarkan angka-angka Matematika.
Bersambung...
Arumi memilih untuk mendudukkan dirinya di kursi guru, mengamati seisi ruangan dengan tenang. Untuk pertama kalinya dalam satu semester ini, suasana kelas 7 C mendadak berubah seratus delapan puluh derajat menjadi begitu hening.
Para murid yang selama ini dicap nakal dan tidak bisa diatur, mendadak fokus menekuk wajah mereka ke arah buku catatan, menuliskan kalimat perjanjian itu lembar demi lembar. Beberapa di antara mereka bahkan berwajah agak pucat. Mereka sadar, wali kelas baru kali ini benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Ingatan tentang bagaimana gerakan kilat tangan Arumi saat menangkap bola baseball dari Azzam tadi masih terekam jelas, memberi gambaran nyata bahwa guru cantik di depan mereka ini memiliki ilmu beladiri yang tinggi.
Keheningan yang tidak biasa dari ruang kelas 7 C ini perlahan menjadi buah bibir. Beberapa guru yang kebetulan melintas di koridor sempat mengintip dari balik kaca jendela, merasa takjub sekaligus heran dengan pemandangan langka tersebut.
Sementara itu, di area kantin sekolah yang masih sepi, Azzam dan Azzura duduk di sudut ruangan untuk menenangkan diri setelah aksi walk-out mereka.
"Kak Azzam, sepertinya kita akan sedikit kesulitan menghadapi Bu Arumi," ucap Azzura memecah keheningan, menatap lurus ke arah kembarannya. "Dia guru yang cukup tangguh."
Azzam menghembuskan napasnya kasar. "Sudahlah, Ra. Kau tidak usah membahas guru menyebalkan itu. Dia dan Papah itu sama saja, sama-sama menyebalkan!" ujarnya ketus sembari meneguk ice chocolate di hadapannya untuk meredakan emosi.
Azzura tidak melanjutkan perkataannya. Ia paham betul tabiat kakaknya jika sedang kesal. Gadis remaja itu memilih untuk membuka botol air mineral dingin yang ia ambil dari dalam pendingin minuman, lalu meminumnya dalam diam.
Satu jam berlalu begitu cepat. Ketika waktu yang tertera di papan tulis habis, ada beberapa murid yang tampak panik karena belum selesai menulis hingga sepuluh lembar penuh. Beruntung, Arumi masih memberikan kelonggaran waktu selama lima belas menit. Bagi murid-murid kelas 7 C, tugas menulis kali ini terasa jauh lebih menegangkan dan menguras keringat daripada saat mereka mengerjakan ulangan semester.
"Dasar sial! Kita akhirnya mendapatkan wali kelas yang tangguh. Ini semua gara-gara Pak Kepala Sekolah. Kenapa juga harus mengirim guru sekejam Bu Arumi ke kelas kita!" bisik Tyo geram, menggerutu kepada teman sebangkunya, Rio.
Rio mendengus, melipat kedua tangannya di atas dada setelah mengumpulkan tugasnya yang pas-pasan. "Iya, Pak Bima harus disalahkan atas kejadian ini. Nanti setelah pulang sekolah, akan aku adukan ke Papah. Biar Papah minta pihak yayasan pecat dia jadi kepala sekolah di sini!" balas Rio dengan nada sombong, mengandalkan kekuasaan orang tuanya.
Sementara murid-murid menggerutu dalam hati, Arumi sudah berdiri lagi di depan kelas. Ia mulai menuliskan beberapa soal Matematika dasar di papan tulis. Dengan gaya mengajar yang tegas namun tak lagi menakutkan, ia meminta murid yang disebut namanya untuk maju dan mengerjakan soal tersebut, soal yang sebenarnya tidak begitu sulit bagi seorang pelajar kelas 7 jika mereka mau memperhatikan.
Menjelang bel jam istirahat berbunyi, desas-desus mengenai ketangguhan Bu Arumi langsung menyebar ke penjuru kelas. Murid-murid mulai kalang kabut dan memutar otak bagaimana caranya agar bisa lepas dari kekangan wali kelas baru mereka yang menyebalkan itu.
Azzam dan Azzura yang baru saja kembali dari kantin langsung disambut oleh suasana kelas yang masih tegang. Bukannya jera, Azzam justru langsung menyusun rencana baru untuk mengerjai Arumi keesokan harinya. Ia berjalan mendekati meja Rio, lalu mencondongkan badannya untuk membisikkan sesuatu ke telinga kaki tangannya itu.
Mendengar rencana licik tersebut, mata Rio seketika berbinar. Sebuah senyum jahat terukir di wajahnya.
"Wah, ide yang bagus tuh, Zam! Biar rok si guru menyebalkan itu lengket dan dia tidak bisa beranjak dari tempat duduknya besok!" balas Rio setengah berbisik, lalu tertawa puas bersama Azzam, membayangkan jebakan lem super yang akan mereka pasang di kursi Arumi.
*
*
Sore hari di kota metropolitan, Arumi duduk termenung di teras kontrakan barunya yang sederhana. Secangkir teh hangat di genggamannya perlahan mendingin. Pikirannya masih tertinggal di ruang kelas 7 C, tepatnya pada tatapan mata Azzam. Ada sesuatu pada diri remaja itu yang mengusik ketenangannya. Struktur wajah dan sorot matanya yang tajam seolah mengingatkan Arumi pada seseorang di masa lalunya, sosok yang mati-matian ingin ia lupakan. Namun yang lebih membuat Arumi terusik adalah rasa sakit yang tersirat di sana. Azzam tidak sekadar nakal, anak itu seperti sedang menyimpan luka batin yang sangat dalam dan tak terselesaikan.
Sementara itu, di sebuah mansion megah di kawasan elit Jakarta, suasana justru terasa mencekam. Azzam sedang duduk termenung di tepi ranjang kamarnya yang luas, beberapa saat kemudian tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan kasar.
Brak!
"Azzam!"
Zaky Tanuwijaya berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Setelan jas kerjanya bahkan belum sempat diganti. Wajahnya yang matang dan tampan kini merah padam menahan murka. Di belakangnya, Ibu Maya sang Nenek mengekor dengan raut wajah cemas, takut putra tunggalnya itu akan berbuat nekat pada cucu kesayangannya.
"Kau benar-benar sudah membuat Papah malu! Kenapa hari ini kau membolos di saat jam pelajaran berlangsung? Dan kepala sekolah sendiri yang melapor kalau kau berani melemparkan bola baseball ke arah gurumu!" tegas Zaky, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
Bukannya takut, Azzam justru bangkit berdiri. Ia menatap balik sang ayah dengan pandangan menantang tanpa kedip.
"Wah, hebat sekali guru baru itu. Belum ada satu hari mengajar, sudah berani mengadu pada Papah!" jawabnya ketus dan mengejek.
"Kau... benar-benar harus diberi pelajaran, Azzam!" bentak Zaky, melangkah maju setapak.
"Silakan, Pah! Bahkan kalau Papah mau mengusirku dari rumah ini sekarang juga, Azzam tidak takut!" tantang Azzam, suaranya mulai bergetar karena emosi yang membuncah. "Selama ini Papah memang tidak pernah peduli ataupun perhatian padaku dan Azzura! Papah seolah tidak pernah menginginkan kehadiran kami di dunia ini!" bentaknya dengan mata berkaca-kaca, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
Deg!
Kata-kata Azzam laksana belati yang menghantam dadanya Zaky. Amarahnya memuncak seketika. Tanpa sadar, Zaky melayangkan tangan kanannya ke udara, bersiap menampar pipi putra kandungnya sendiri. Azzam memejamkan mata, bersiap menerima pukulan itu.
Namun, beberapa detik berlalu, tamparan itu tak kunjung mendarat. Tangan Zaky bergetar hebat di udara, tertahan oleh akal sehatnya. Ia menurunkan tangannya perlahan. Menganiaya fisik Azzam hanya akan membuat hubungan mereka yang retak menjadi hancur berkeping-keping.
'Yang sebenarnya Papah sesali bukan kehadiran kalian, Nak... Tapi mengapa kalian harus lahir dari rahim wanita iblis itu? Wanita yang sudah menjebak dan menghancurkan masa depan Papamu ini!' jerit Zaky meratap di dalam batinnya yang tersiksa.
Tak sanggup menahan sesak di dadanya, Zaky mengurungkan niatnya untuk memarahi Azzam lebih jauh. Ia membalikkan badan dengan kasar lalu melangkah pergi meninggalkan kamar itu tanpa sepatah kata pun.
Begitu Zaky menghilang di balik lorong, Ibu Maya buru-buru berlari dan memeluk cucu kesayangannya itu dengan erat.
"Sudah, Nak, sudah... Jangan dilawan Papamu," bisiknya menenangkan.
Tak lama, Azzura yang sedari tadi bersembunyi di balik pintu kamar dengan tubuh gemetar, perlahan melangkah masuk. Ia mendekati kakaknya dengan tatapan iba.
"Kak Azzam, kamu tidak apa-apa?" tanya Azzura lirih.
Azzam melepaskan pelukan neneknya perlahan. Ia mengusap sudut matanya yang basah, digantikan oleh kilat amarah yang membara. "Ra, besok aku harus balas dendam pada wanita sialan itu. Aku tidak akan pernah membiarkan dia bertahan lama mengajar di sekolah kita!" ucap Azzam, giginya mengatup rapat dengan mata berkilat tajam.
Azzura mengangguk setuju, mendukung penuh kembarannya. "Kakak tenang saja. Aku pastikan rencana kita besok akan berhasil dan langsung membuat guru baru itu mengundurkan diri seperti yang lain."
Mendengar percakapan kedua cucunya, Ibu Maya yang berdiri di dekat mereka seketika merinding. Sang nenek tidak menyangka bahwa dendam dan luka akibat kurangnya kasih sayang orang tua bisa membuat cucu-cucunya yang masih belia itu memiliki pemikiran semelejit dan senekat itu.
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!