Indonesia
NovelToon NovelToon

Jutawan Amnesia yang Dibawa Pulang Putriku

Episode 1

Bab 1: Anak yang Mencari Papa

Tagihan cicilan apartemen itu tergeletak di atas meja makan, di samping kotak bekal Meira yang belum sempat dicuci.

Nathania Lie menatap angka di kertas itu, lalu menaruh tas kerjanya pelan-pelan di kursi. Tumitnya nyeri setelah seharian berdiri di depan calon klien Astera Group, senyumnya kaku karena terlalu lama dipakai. Begitu pintu tertutup, ia bukan lagi pendiri perusahaan yang sedang mencoba bangkit. Ia hanya ibu yang belum makan siang, belum membayar arisan, dan harus memastikan anaknya tidur dengan perut kenyang.

"Mama?"

Suara kecil itu muncul dari balik sofa. Meira duduk di karpet dengan rambut dikuncir dua, satu kuncirnya sudah miring. Di pangkuannya ada boneka kelinci kusam yang sebelah telinganya pernah dijahit Nathania sendiri.

Begitu melihat Nathania, wajah anak itu langsung terang.

"Mama pulang!"

Meira berlari kecil. Nathania menahan napas saat tubuh mungil itu menabrak pinggangnya. Lelah yang sejak tadi menggantung di bahunya tidak hilang, tetapi seolah bergeser sedikit, memberi ruang untuk rasa hangat.

"Pelan-pelan, nak." Nathania membungkuk dan mencium puncak kepala putrinya. "Sudah makan?"

Meira menggeleng polos. "Nunggu Mama."

Dada Nathania seperti dicubit.

"Kan Mama sudah bilang, kalau lapar makan dulu."

"Kalau makan sama Mama lebih enak."

Nathania tersenyum, mengusap pipi Meira dengan ibu jarinya, lalu melepas blazer hitam yang sudah kusut di bagian siku.

"Baik. Lima menit. Mama panaskan sup dulu."

Di dapur sempit, Nathania menyalakan kompor listrik. Sup ayam kemarin ia tuang ke panci kecil, ditambah sedikit air supaya cukup untuk berdua. Aroma bawang putih dan merica perlahan naik, bercampur dengan bau sabun cuci piring dan udara pendingin ruangan yang mulai melemah.

Ponselnya bergetar.

Nama salah satu kerabat dari keluarga ibunya muncul di layar. Nathania memejamkan mata sebentar sebelum mengangkat.

"Halo, Tante."

"Nia, kamu sudah transfer uang arisan bulan ini belum? Ibu-ibu sudah tanya. Jangan sampai nama keluarga malu, ya."

Nathania menatap api kecil di bawah panci. "Besok saya transfer, Tante. Astera masih proses bangkit."

"Besok terus. Kamu itu punya perusahaan, masa uang arisan saja susah?" Suara di seberang berubah lebih pelan, tetapi justru lebih tajam. "Tante cuma kasihan. Anak sudah lima tahun, kamu hidup sendirian terus. Kalau ada suami mapan, cicilan apartemen juga tidak berat begini."

Sup mendidih. Nathania mengecilkan api.

"Saya baik-baik saja."

"Baik-baik saja bagaimana? Anak perempuan tanpa bapak itu nanti banyak ditanya orang. Kalau ada yang mau menerima kamu dan anakmu, pikirkan."

Dari ruang tengah, Meira sedang menyusun balok warna-warni. Anak itu tidak menoleh, tetapi Nathania tahu telinganya menangkap nada percakapan.

"Tante, saya sedang masak untuk Meira. Nanti saya kabari soal arisan."

"Iya. Terima kasih."

Nathania memutus panggilan sebelum kalimat lain menusuk lebih dalam.

Belum sempat ia menuang sup ke mangkuk, suara dari koridor masuk melalui celah ventilasi dekat pintu.

"Itu yang tinggal berdua sama anaknya, kan?"

"Iya. Katanya suaminya tidak jelas. Kasihan juga anaknya."

"Kasihan, tapi ibunya terlalu bangga. Dulu keluarga Lie besar sekali, sekarang tinggal apartemen cicilan."

Sendok di tangan Nathania berhenti. Dapur terasa lebih sempit. Ia ingin membuka pintu dan meminta mereka diam, tetapi Meira tiba-tiba muncul di ambang dapur.

"Mama, supnya sudah wangi."

Nathania menelan semua kata yang ingin ia lempar keluar. Ia berjongkok, merapikan kuncir Meira yang miring.

"Iya. Anak Mama sudah lapar sekali, ya?"

Meira mengangguk cepat. "Perut Mei bunyi. Kriuk-kriuk."

Nathania tertawa pelan. Bukan tawa yang lepas, tetapi cukup untuk membuat Meira ikut terkikik. Di luar, suara tetangga makin menjauh bersama bunyi pintu lift.

Mereka makan di meja kecil dekat jendela. Meira duduk dengan kaki berayun, meniup supnya terlalu keras sampai kuah menetes ke meja.

"Pelan-pelan, Mei."

"Panas, Ma."

"Makanya ditiup sedikit saja."

Meira mencoba meniup lebih pelan, lalu tersenyum bangga saat berhasil memasukkan satu sendok penuh ke mulut.

"Mei nanti besar mau bantu Mama kerja," kata anak itu tiba-tiba. "Biar Mama tidak lihat kertas tagihan terus."

Tangan Nathania berhenti. "Mei tidak perlu pikirkan tagihan. Itu urusan Mama."

"Tapi Mama suka diam kalau lihat kertas."

Nathania berusaha tersenyum. "Karena Mama sedang menghitung supaya nanti bisa beli es krim."

Meira tampak puas. Setelah makan, anak itu berlari ke kamar. Nathania mengikutinya setelah memeriksa kunci pintu dua kali.

Kamar Meira kecil, dindingnya ditempeli stiker bintang yang sebagian sudah mengelupas. Di atas ranjang ada buku cerita, boneka kelinci, dan sebuah kotak kaleng bekas biskuit yang selalu disimpan Meira di bawah bantal.

Malam itu, sebelum Nathania sempat mengambil buku cerita, Meira lebih dulu membuka kotak kalengnya.

Di dalamnya ada gelang manik-manik plastik, kancing berbentuk bunga, dan selembar foto yang sudah kusut.

Sudut foto itu memutih karena terlalu sering digenggam. Seorang pria tampak tertangkap kamera tanpa sadar, wajahnya setengah menoleh, matanya teduh tetapi jauh. Tidak ada nama di belakang foto itu. Tidak ada tanggal.

Meira mengangkat foto itu dengan kedua tangan.

"Mama."

Nathania tahu pertanyaan itu sebelum keluar.

"Papa aku di mana?"

Kamar mendadak sunyi. Dari luar jendela terdengar suara motor lewat di jalan bawah. Nathania memandang foto itu, dan seperti biasa, kepalanya hanya memberi dinding kosong.

Foto itu berasal dari barang-barang lamanya sebelum Meira lahir. Meira menemukannya setahun lalu, lalu menunjuk wajah pria itu sambil berkata, "Ini Papa." Tetapi Nathania sendiri tidak pernah berhasil mengingat siapa pria di foto itu.

Setiap kali mencoba, yang datang hanya potongan rasa. Bau hujan. Suara rem. Sakit di perut. Lalu gelap.

"Mama?" Meira menarik ujung piyamanya.

Nathania duduk di tepi ranjang. Ia menyentuh rambut Meira yang lembut, lalu mengambil foto itu sebentar. Wajah pria itu seperti asing, tetapi entah kenapa dadanya selalu terasa berat saat melihatnya.

"Mama belum tahu, nak."

"Papa hilang?"

Pertanyaan itu membuat tenggorokan Nathania mengering.

"Mungkin Papa sedang jauh."

"Jauh di mana?"

Nathania tidak punya jawaban. Ia bisa menghadapi investor yang meremehkannya dan kerabat yang mengukur harga dirinya dari status pernikahan. Namun menghadapi mata Meira, seluruh pertahanannya runtuh diam-diam.

"Kalau suatu hari Mama tahu, Mama akan bilang ke Mei."

Meira menatapnya lama. "Janji?"

Nathania mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Meira. "Janji."

Baru setelah itu Meira mau berbaring. Nathania membacakan cerita tentang putri kecil yang mencari bintang jatuh sampai kelopak mata Meira turun. Namun tangan anak itu tetap memegang foto kusut tersebut, menempelkannya di dada kecilnya.

Nathania membetulkan selimut, lalu hendak mengambil foto itu agar tidak rusak.

"Jangan, Ma," gumam Meira dalam tidur. "Ini Papa."

Nathania membeku. Perlahan ia membiarkan foto itu tetap berada di pelukan Meira.

Lampu kamar diredupkan. Dari celah pintu, cahaya ruang tamu jatuh tipis di lantai. Nathania berdiri beberapa saat, memandangi putrinya yang tidur sambil memeluk masa lalu yang bahkan Nathania sendiri tidak bisa kenali.

Di meja makan, tagihan menunggu.

Di luar sana, orang-orang masih bisa bicara apa pun tentang anak tanpa bapak atau ibu yang terlalu bangga untuk menikah lagi.

Namun di dalam kamar kecil itu, Meira hanya punya satu keinginan.

Bibir mungilnya bergerak dalam tidur, hampir tak bersuara.

"Mei mau cari Papa."

Episode 2

Bab 2: Pengemis Itu Wajah Papaku

Lima tahun lalu, Reihan Wijaya berdiri di depan deretan kamera dengan jas hitam yang jatuh sempurna di bahunya.

Lampu ballroom memantul di meja kaca. Di depannya, map kontrak Nirwana Bay tersusun rapi, tebal, penuh tanda tangan dan cap perusahaan. Para direksi Grup Wijaya duduk dengan punggung tegak. Beberapa mitra dari luar negeri berbisik pelan, tetapi semua mata tetap kembali kepada pria di ujung meja.

Reihan belum berusia setua para konglomerat lain, tetapi ruangan itu sudah bergerak mengikuti napasnya.

"Dengan ini," ucapnya dalam bahasa Indonesia yang tenang, "Grup Wijaya tidak hanya membangun resort. Kita sedang membangun masa depan pesisir Jakarta."

Tepuk tangan pecah.

Kamera menyala. Kilatan flash menabrak wajahnya. Ia menunduk sedikit, menandatangani halaman terakhir, lalu menyerahkan pena kepada Hendra Winata yang duduk di sebelahnya. Senyum tipis Reihan hampir tidak terlihat, tetapi cukup untuk membuat orang-orang di ruangan itu tahu satu hal: proyek bernilai triliunan rupiah itu sudah berada dalam genggamannya.

Di saku dalam jasnya, ada sebuah cincin platinum kecil.

Bagian dalamnya terukir dua huruf.

NL.

Beberapa jam setelah tepuk tangan itu, suara rem mendadak mencabik jalan malam.

Cahaya lampu truk membesar terlalu cepat.

Lalu kaca pecah, besi melengkung, dan dunia berubah menjadi api.

Sabtu pagi, lima tahun kemudian, Nathania mengancingkan sandal Meira di depan pintu apartemen mereka.

"Jangan lari-lari di mall, ya," katanya.

Meira mengangguk, tetapi tangan kecilnya sibuk memastikan tas selempang merah muda tergantung di bahu. Di dalam tas itu ada tisu basah, satu permen susu, dan foto kusut yang sejak semalam tidak mau ia lepaskan.

"Fotonya bawa lagi?" Nathania bertanya, walau sudah tahu jawabannya.

Meira menepuk tasnya dengan wajah serius. "Bawa. Biar kalau ketemu Papa, Mei bisa tunjukin."

Nathania berhenti sejenak. Kata itu masih terasa seperti duri halus di kulit.

"Kita ke mall untuk beli sepatu TK dan ambil pesanan Mama. Bukan mencari Papa."

"Tapi kalau Papa ada di sana?"

Nathania menghela napas. "Kalau begitu kita lihat nanti."

Jawaban itu membuat Meira tersenyum seolah baru diberi izin resmi. Nathania tidak tega meluruskannya lagi.

Mereka turun dengan lift yang penuh aroma parfum murah dan sabun laundry. Di lobi apartemen, dua ibu yang semalam berbisik di koridor menatap mereka sebentar. Nathania pura-pura tidak melihat. Ia menggandeng Meira menuju titik jemput taksi online, menahan tas kerja kecilnya di dada.

Mall di Jakarta Selatan itu ramai seperti biasa. Musik promo berputar dari toko sepatu, anak-anak berlari sambil membawa balon, dan aroma roti manis bercampur dengan kopi dari lantai dasar. Nathania memilih sepatu Meira yang diskon, menolak permintaan boneka baru dengan janji es krim kecil, lalu mengambil paket dokumen untuk Astera di konter ekspedisi.

Setiap rupiah hari itu punya tempat.

Meira, untungnya, sibuk sendiri. Anak itu sesekali membuka tas, mengintip foto kusut, lalu menutupnya lagi.

"Mei, jangan keluarkan terus. Nanti rusak."

"Aku cuma cek, Ma."

"Cek apa?"

"Cek wajah Papa. Biar nggak lupa."

Nathania tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Meira lebih erat saat mereka keluar dari pintu samping mall menuju trotoar.

Udara luar lebih panas. Suara klakson dari jalan besar saling tindih. Di bawah jembatan penyeberangan, beberapa ojek online menunggu penumpang. Seorang penjual tisu menawarkan dagangan di dekat pagar. Di sudut lain, seorang pria duduk meringkuk di atas kardus bekas, punggungnya menempel pada dinding kusam.

Nathania awalnya hanya melihatnya sekilas.

Pria itu kurus, rambutnya panjang tak terurus, janggutnya menutupi sebagian rahang. Kaosnya lusuh, celana panjangnya sobek di lutut, dan salah satu tangannya memeluk perut seperti sedang menahan sakit lama. Di sampingnya ada gelas plastik berisi beberapa koin.

Orang-orang melewatinya tanpa berhenti.

Meira justru berhenti.

"Mei?" Nathania menarik pelan. "Ayo. Taksi kita sebentar lagi datang."

Meira tidak bergerak. Matanya membesar, menatap pria itu seperti melihat sesuatu yang hanya bisa ia pahami sendiri.

Pelan-pelan, anak itu membuka tas selempangnya. Jari kecilnya gemetar saat mengeluarkan foto kusut. Ia mengangkat foto itu sejajar dengan wajahnya, lalu memandang pria di sudut trotoar.

Foto.

Pria itu.

Foto lagi.

"Mei, apa yang kamu lakukan?"

Meira maju satu langkah.

Nathania merasakan sesuatu di dadanya ikut turun. "Mei."

Pria lusuh itu mengangkat kepala, mungkin karena mendengar suara anak kecil. Rambut kotor menyingkir sedikit dari dahinya. Untuk sepersekian detik, matanya tidak kosong. Ada kilatan tajam yang terlalu sadar, terlalu dalam, seperti seseorang yang pernah memerintah banyak orang dan lupa cara menyembunyikannya.

Lalu kilatan itu padam.

Yang tersisa hanya tatapan bingung seorang lelaki yang tidak tahu harus pergi ke mana.

Meira menarik napas pendek.

"Mama," bisiknya.

Nathania menunduk. "Apa?"

Anak itu menunjukkan foto di tangannya. Di sana, pria muda tanpa nama menoleh setengah ke arah kamera. Bentuk alisnya, tulang hidungnya, garis rahangnya yang dulu bersih.

Nathania menatap foto itu, lalu menatap pria di trotoar.

Tidak mungkin.

Waktu, lapar, luka, dan jalanan bisa mengubah seseorang sampai hampir tidak dikenali. Namun ada beberapa hal yang tidak berubah. Lengkung mata. Garis bibir saat menahan sakit. Cara kepalanya sedikit miring ketika mendengar suara.

"Mei, jangan dekat-dekat," kata Nathania, suaranya melemah.

Tetapi Meira sudah menarik tangannya lepas.

"Papa!"

Teriakan kecil itu membelah bising trotoar.

Beberapa orang menoleh. Penjual tisu berhenti menawarkan dagangan. Seorang pengemudi ojek menurunkan ponselnya.

Meira berlari ke arah pria itu sebelum Nathania sempat menangkapnya. Anak itu berlutut di depan kardus, sama sekali tidak peduli pada debu atau bau matahari yang menempel pada tubuh pria tersebut.

"Papa, ini Mei," katanya cepat, napasnya tersengal. "Mei cari Papa."

Pria itu menatapnya lama.

Wajahnya kosong. Bibirnya pecah-pecah. Namun saat Meira menyentuh punggung tangannya, jari pria itu bergerak sangat pelan, seolah tubuhnya mengenali sesuatu yang pikirannya tidak mampu sebut.

Nathania akhirnya sampai di samping putrinya. Ia menarik Meira ke pelukannya, tetapi matanya tidak lepas dari pria itu.

"Maaf," ucap Nathania kaku kepada pria tersebut. "Anak saya salah orang."

Pria itu mengerjap. Matanya berpindah dari wajah Nathania ke foto di tangan Meira.

Untuk satu detik, napasnya tertahan.

Nathania melihatnya.

Reaksi kecil itu tidak cukup untuk menjadi bukti. Tidak cukup untuk membenarkan teriakan Meira. Tidak cukup untuk menyeret laki-laki asing dari trotoar ke hidup mereka.

Namun cukup untuk membuat ujung jari Nathania dingin.

"Mama," Meira memeluk foto itu lebih erat. Air matanya mulai jatuh. "Itu Papa. Wajahnya sama."

Nathania ingin berkata tidak. Ia ingin menggendong Meira pergi, masuk ke taksi, pulang, mengunci pintu, dan membiarkan semua ini menjadi kesalahan anak kecil yang terlalu rindu.

Tetapi pria di depannya tiba-tiba menunduk, lalu mengeluarkan suara serak yang hampir hilang.

"Ja... ngan..."

Nathania membeku.

"Jangan apa?" tanyanya tanpa sadar.

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Meira dengan bingung, lalu menyentuh dadanya sendiri seperti sedang mencari nama yang terlepas dari tubuhnya.

Taksi online mereka berhenti di pinggir jalan. Sopir menurunkan kaca, memanggil nama Nathania.

Di satu tangan, Nathania menggenggam tangan Meira yang basah oleh keringat.

Di tangan lain, Meira masih memegang foto kusut itu.

Dan di depan mereka, pria yang hidupnya sudah hancur sampai nyaris tak berbentuk menatap foto tersebut seperti menatap pintu menuju masa lalu.

Nathania menelan ludah.

Jika Meira benar, maka pria lusuh di trotoar itu bukan sekadar orang asing.

Ia adalah jawaban dari pertanyaan yang selama lima tahun tidak pernah berani Nathania buka.

Episode 3

Bab 3: Hasil DNA yang Membuat Tanganku Gemetar

Malam itu, Nathania mengunci pintu apartemen dua kali, lalu memasang rantai pengaman yang selama ini jarang ia pakai.

Di ruang tengah, pria dari trotoar duduk di lantai dekat sofa. Setelah dibawa naik taksi, dimandikan seadanya di kamar mandi luar, dan diberi kaus longgar milik almarhum Papa Lie yang masih tersimpan di lemari, ia tetap terlihat asing. Rambutnya masih berantakan. Luka lama di pelipisnya tampak lebih jelas. Sepasang matanya memandang sekeliling seperti anak kecil yang tersesat di rumah orang.

Meira justru duduk di hadapannya dengan wajah berbinar.

"Papa mau sup?"

Nathania hampir menjatuhkan gelas.

"Mei," tegurnya pelan, tetapi tegas. "Kita belum tahu apa-apa."

"Tapi wajahnya sama, Ma."

"Wajah bisa mirip."

"Tangannya juga hangat."

Alasan itu membuat Nathania terdiam. Bagi anak lima tahun, kehangatan tangan bisa menjadi bukti yang lebih kuat daripada semua penjelasan orang dewasa.

Pria itu menatap mangkuk sup yang disodorkan Meira. Tangannya bergerak canggung, terlalu pelan, seolah ia lupa cara menerima kebaikan. Saat jari Meira hampir terkena kuah panas, ia tiba-tiba menahan pergelangan kecil itu.

Gerakannya cepat.

Terlalu cepat untuk orang yang katanya tidak sadar apa-apa.

Nathania melihatnya. Pria itu juga seperti sadar telah melakukan sesuatu, lalu buru-buru menunduk, menggumam suara pecah yang tidak membentuk kata.

Meira tertawa kecil. "Papa jagain Mei."

"Mei, makan dulu," kata Nathania, menahan dadanya yang mulai tidak tenang.

Ponselnya bergetar tanpa henti sejak mereka tiba. Tante yang tadi menagih arisan, satu sepupu jauh, lalu pesan dari grup keluarga yang entah bagaimana sudah mendengar kabar dari satpam lobi.

Nia, benar kamu bawa laki-laki gelandangan ke apartemen?

Kamu punya anak perempuan. Jangan sembarangan.

Orang satu tower sudah ngomong.

Nathania membaca semua pesan itu dengan wajah datar. Hanya ibu jarinya yang menekan layar terlalu keras.

Dari luar pintu, dua suara perempuan lewat sambil berbisik.

"Katanya tadi dibawa dari jalan."

"Aduh, berani sekali. Anak kecilnya gimana?"

Nathania meletakkan ponsel. Ia ingin marah, tetapi rasa takut lebih dulu naik. Mereka tidak sepenuhnya salah. Ia memang membawa pria asing masuk ke rumah yang hanya dihuni dirinya dan Meira.

Namun bagaimana mungkin ia meninggalkan pria itu di trotoar setelah Meira menangis sampai suaranya serak?

Bagaimana mungkin ia mengabaikan cara pria itu menatap foto kusut itu, seperti seseorang yang melihat serpihan hidupnya sendiri?

Malam semakin larut. Nathania membuat batas jelas. Pria itu tidur di sofa ruang tengah. Pintu kamar Meira dikunci dari dalam. Pisau dapur ia pindahkan ke laci tinggi. Nomor satpam ia simpan di layar panggilan cepat.

Meira memprotes dengan bibir maju.

"Papa tidur sendiri?"

"Dia tidur di sofa."

"Nanti Papa takut."

"Mei yang harus tidur. Besok sekolah libur, tapi bukan berarti boleh begadang."

Meira memeluk foto kusut itu. "Kalau Papa pergi lagi gimana?"

Pertanyaan itu membuat Nathania menatap pria di sofa. Pria itu duduk diam, memegang mangkuk kosong dengan dua tangan. Di wajahnya tidak ada ancaman. Hanya lelah yang terlalu tua untuk seseorang yang seharusnya masih muda.

"Kalau memang dia Papa kamu," kata Nathania akhirnya, suaranya rendah, "Mama akan cari tahu."

Keesokan paginya, ia melakukannya.

Nathania menghubungi laboratorium swasta yang biasa dipakai klien Astera untuk pemeriksaan legal keluarga. Ia tidak menjelaskan terlalu banyak, hanya meminta prosedur tes DNA ayah-anak dengan hasil dipercepat. Petugas menjelaskan soal identitas, persetujuan, sampel usap pipi, dan estimasi beberapa hari kerja.

"Kalau subjeknya tidak memiliki KTP?" tanya Nathania.

"Bisa dicatat sebagai identitas sementara, Bu, tetapi hasilnya hanya untuk rujukan pribadi sebelum dokumen lengkap."

"Saya mengerti."

Saat petugas datang ke apartemen sore itu, Nathania nyaris tidak bernapas.

Meira justru duduk manis di kursi makan, membuka mulut lebar-lebar saat kapas usap menyentuh pipinya.

"Ini biar Papa nggak hilang lagi?" tanyanya.

Petugas perempuan tersenyum canggung. "Ini untuk cek keluarga, Dek."

"Aku keluarganya Papa."

Nathania menutup mata sebentar. "Mei."

Pria itu tidak melawan saat sampel diambil. Ia hanya menatap Nathania, lalu menatap Meira. Ketika kapas menyentuh bagian dalam pipinya, bahunya menegang sedikit, tetapi ia tetap diam.

Setelah petugas pergi, apartemen terasa berbeda.

Seolah ada jam besar yang mulai berdetak di atas kepala mereka.

Hari pertama, Nathania bekerja dari rumah. Ia mengikuti rapat daring dengan kamera mati, sementara Meira mengajak pria itu menyusun balok. Pria itu tidak banyak bicara. Kadang ia menyusun balok terlalu rapi, membangun menara kecil dengan keseimbangan yang anehnya presisi. Saat Meira bertepuk tangan, ia menatap hasil susunannya seperti tidak mengerti kenapa tangannya bisa melakukan itu.

Hari kedua, ia mencoba membantu mencuci piring.

Satu gelas hampir jatuh. Nathania refleks maju, tetapi pria itu sudah menangkapnya lebih dulu. Lagi-lagi cepat. Lagi-lagi tepat.

"Jangan," kata Nathania, mengambil gelas itu. "Biar saya saja."

Pria itu menunduk. "Sa... ya..."

Nathania berhenti.

Itu kata pertama yang jelas sejak ia masuk ke rumah ini.

"Kamu mengerti saya bicara?" tanyanya.

Pria itu mengerutkan dahi, seperti berusaha melewati kabut tebal. Setelah beberapa saat, ia hanya menggeleng pelan.

Meira datang membawa handuk kecil. "Papa lupa. Nanti ingat kalau sering makan sup Mama."

Nathania seharusnya menegur. Namun kali ini ia tidak punya tenaga.

Malam ketiga, hasil itu datang melalui surel terenkripsi.

Subjek A: anak perempuan, Meira.

Subjek B: laki-laki dewasa, identitas sementara.

Nathania duduk di meja makan sendirian. Meira sudah tidur, pria itu terbaring di sofa dengan selimut tipis menutup dada. Lampu ruang tengah redup. Di luar jendela, Jakarta hanya tersisa garis-garis cahaya.

Ia membuka lampiran.

Matanya bergerak melewati istilah yang terlalu klinis untuk sesuatu yang begitu menghancurkan.

Probability of paternity: 99,99%.

Untuk beberapa detik, Nathania tidak mendengar apa pun.

Bukan suara AC tua di dinding. Bukan kendaraan di jalan bawah. Bukan napas pria di sofa.

Tangannya mulai gemetar.

Ia membaca angka itu lagi. Lalu lagi. Seolah angka bisa berubah kalau ia cukup lama menatapnya.

Namun angka itu tetap sama.

99,99%.

Pria lusuh yang ditemukan Meira di trotoar, pria tanpa nama dan tanpa ingatan, pria yang kini tidur di sofa apartemen kecil mereka, adalah ayah kandung putrinya.

Foto kusut itu bukan khayalan anak kecil.

Meira tidak salah orang.

Nathania menutup mulut dengan punggung tangan. Di kepalanya, lima tahun yang hilang tiba-tiba bergerak seperti pintu yang digedor dari dalam. Bau hujan. Suara rem. Sakit di perut. Lalu wajah pria yang tetap tidak bisa ia raih.

Dari sofa, pria itu membuka mata.

Tatapannya kosong, tetapi kali ini Nathania tidak bisa lagi melihatnya sebagai orang asing.

Kertas hasil DNA di layar laptop memantulkan cahaya pucat ke wajahnya.

Nathania menggenggam tepi meja sampai buku jarinya memutih.

"Kamu..." bisiknya, nyaris tanpa suara.

Pria itu hanya menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak Meira lahir, Nathania benar-benar takut pada jawaban dari masa lalunya sendiri.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!