Indonesia
NovelToon NovelToon

PENGHIANAT

BAB 1 : MASALAH?

BAB 1 — MASALAH?

Hamparan bunga yang bermekaran tampak begitu indah di bawah langit sore. Angin berembus lembut, membawa aroma bunga yang menenangkan. Di tengah taman itu, seorang laki-laki berdiri sambil menggenggam sebuah buket bunga kecil. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat dipenuhi rasa gugup.

Laki-laki itu adalah Ahber.

Ketua OSIS yang dikenal disiplin, tegas, dan sulit didekati oleh siapa pun.

Di hadapannya berdiri seorang gadis bertubuh mungil yang sedang menikmati pemandangan taman dengan senyum kecil di wajahnya.

"Lay..."

Suara Ahber membuat gadis itu menoleh.

"Hm?"

Tatapan mereka saling bertemu.

Jantung Ahber berdegup semakin cepat. Berkali-kali ia mencoba menyusun kata-kata di dalam kepalanya, tetapi semuanya terasa menghilang begitu saja saat melihat senyum Lay.

Akhirnya ia memberanikan diri.

"Gue suka sama lo," kata Ahber.

Lay terdiam beberapa detik.

Kemudian...

"Hahaa."

Tawa kecil keluar dari bibir mungilnya.

"Berr, gue nggak nyangka lo bakal se-effort ini!"

Ahber tersenyum malu.

"Ehm... lo mau jadi pacar gue?"

Tanpa ragu sedikit pun, Lay menganggukkan kepalanya.

"Ah, tentu gue mau, Berr!"

Senyuman manis langsung menghiasi wajahnya.

Mata Ahber berbinar.

"Makasih."

"Hem, sekarang ngapain nih?" tanya Lay sambil memasukkan kedua tangannya ke saku rok.

"Makan? Gimana? Lo mau, Lay?"

Lay menggeleng pelan.

"Lumayan kenyang sih."

"Yaudah jalan-jalan aja."

Lay langsung mendengus pelan.

"Ish, nggak peka amat sih jadi cowok."

"Hah?"

"Iya iya, maaf sayang."

Lay langsung memasang wajah jijik.

"Ish, jijik Ahber. Jangan panggil sayang dong."

"Oke, oke."

Ahber tertawa kecil melihat ekspresi Lay.

Mereka pun berjalan mengelilingi taman bunga.

Suasana sore terasa begitu damai. Burung-burung berkicau di antara pepohonan, sementara angin terus berembus membawa udara yang sejuk.

Lay sesekali berhenti untuk melihat bunga-bunga yang menurutnya cantik.

Sebaliknya, Ahber lebih sering memperhatikan Lay daripada pemandangan di sekitarnya.

Beberapa menit kemudian...

Tanpa aba-aba, Ahber mengangkat tubuh mungil Lay ke dalam gendongannya.

"Eeh! Eeh! Berr!"

Lay refleks memegang bahu Ahber agar tidak terjatuh.

Melihat kepanikan Lay, Ahber justru tertawa lepas.

"Hahaha!"

Ia memutar tubuhnya beberapa kali.

"Aah, Berr, berhenti!"

"Habisnya lo gemesin banget deh!"

"Gemesin, gemesin!"

Begitu diturunkan, Lay langsung berjalan lebih dulu dengan wajah cemberut.

Ahber hanya tersenyum kecil sambil mengikuti langkah gadis itu.

Keesokan harinya.

SMA Kelas 1.B.

Belum juga guru masuk ke kelas, suasana sudah sangat ramai.

"Eeh, eeh, dengar nggak sih Ahber pacaran sama Lay?"

"Iya, gue dengar gitu."

"Beneran?"

"Iya lah."

Percakapan itu terdengar di hampir setiap sudut kelas.

Lay dikenal sebagai cewek mungil yang keras kepala, cerewet, dan sering bertingkah sesuka hati. Meskipun begitu, sifatnya yang apa adanya justru membuat banyak orang menyukainya.

Teman-temannya bahkan menjulukinya Cemugi.

Cewek Mungil Gila.

Sedangkan Ahber dikenal sebagai ketua OSIS yang disiplin, berprestasi, dan menjadi idola hampir seluruh siswi di sekolah.

Banyak yang pernah menyatakan perasaan kepadanya.

Namun tak satu pun berhasil mendapatkan hatinya.

Sampai akhirnya...

Ahber memilih Lay.

Di bangku paling belakang, Ahber sedang membaca buku pelajaran.

"Woi, Ahber."

Basyer menyenggol lengannya.

"Beneran lo pacaran sama Cemugi?"

Ahber menghela napas pelan.

"Iya."

"Udahlah, nggak capek apa dengar itu dari tadi?"

Basyer malah tertawa.

"Woilah, Cemugi itu loh."

"Lagi pula gue suka sama dia."

"Wess..."

Basyer menganggukkan kepala sambil tersenyum jahil.

Belum sempat mereka berbicara lagi...

Brak!

Pintu kelas terbuka dengan keras.

Semua siswa langsung menoleh ke arah pintu.

"Lay!"

Suara lantang itu membuat suasana kelas berubah sunyi.

Seorang laki-laki bertubuh besar berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam.

Andkay.

Cowok yang dikenal kuat dan tidak takut pada siapa pun.

Ia berjalan lurus menuju bangku Lay.

"Lay! Lo udah punya pacar?"

Lay mengangkat wajahnya.

"Kenapa?"

"Lo! Lo hanya milik gue, Lay!"

Kalimat itu membuat seluruh isi kelas terdiam.

"Woi!"

Ahber langsung berdiri dari bangkunya.

"Jauhi cewek gue, anjir!"

Andkay menoleh perlahan.

"Oh..."

"Jadi lo."

Tanpa banyak bicara...

Buk!

Sebuah pukulan keras menghantam wajah Ahber.

Tubuhnya terpental hingga membentur tembok kelas.

"Berr!!"

Lay menjerit kaget.

Ahber jatuh terduduk di lantai sambil memegang sudut bibirnya yang mulai berdarah.

Pandangan matanya sedikit berkunang-kunang akibat pukulan tadi.

Namun sebelum sempat bangkit...

Andkay sudah lebih dulu mencengkeram tangan Lay.

"Lo milik gue, Lay!"

"Kay! Lepasin!"

Lay berusaha menarik tangannya.

Sayangnya tenaga Andkay jauh lebih besar.

Ia menyeret Lay keluar kelas begitu saja.

"Kay! Lepasin gue!"

Suara Lay menggema di sepanjang lorong sekolah.

Beberapa siswa hanya bisa memandang tanpa berani menghentikan Andkay.

Sedangkan Ahber berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit di wajahnya.

"Lay..."

Gumamnya lirih.

Tanpa memedulikan rasa sakitnya, Ahber mencoba berdiri. Namun tubuhnya kembali limbung.

Basyer segera menahan bahunya.

"Woi! Jangan maksa!"

"Lo luka, Berr!"

Ahber menggeleng pelan.

"Lay..."

Matanya masih terus menatap ke arah pintu kelas yang kini sudah tertutup kembali.

Sementara itu...

Langkah Andkay masih terus membawa Lay menuju halaman belakang sekolah.

Tempat yang jauh dari keramaian.

Tempat yang tidak akan didengar siapa pun jika Lay berteriak meminta tolong.

(Bersambung)

* cari episode lanjutannya di yahh soalnya teracak maybe.. BAB 2 SOALNYA UTUTANNYA TIDAK SEGAJA TERACAK..

BAB 2

Langkah kaki Andkay masih terdengar berat menyusuri lorong sekolah. Genggaman tangannya pada pergelangan Lay sama sekali tidak mengendur, membuat gadis itu beberapa kali meringis menahan sakit.

"Kay! Lepasin gue!" teriak Lay sambil berusaha menarik tangannya.

Namun Andkay seolah tidak mendengar.

Tatapannya lurus ke depan. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal kuat.

Beberapa siswa yang melihat kejadian itu hanya bisa saling berpandangan.

"Itu bukannya Lay?"

"Iya."

"Yang tadi dipukul Ahber itu siapa?"

"Andkay."

"Astaga..."

Tak ada seorang pun yang berani menghentikannya.

Mereka hanya menyaksikan Lay terus diseret menuju halaman belakang sekolah.

Tak lama kemudian...

Langkah Andkay berhenti.

Kini mereka berada di tempat yang cukup sepi. Di belakang sekolah hanya ada beberapa pohon besar dan dinding pembatas yang tinggi. Suasana di sana jauh berbeda dibandingkan bagian depan sekolah yang masih ramai.

Andkay akhirnya melepaskan genggaman tangannya.

Lay langsung mengusap pergelangan tangannya yang memerah.

"Kay... kenapa kita ke sini?" tanyanya sambil mencoba mengatur napas.

Andkay membalikkan badan.

Tatapan matanya tertuju lurus kepada Lay.

"Lay..."

Suaranya terdengar pelan.

"Gue ini suka sama lo."

Lay menghela napas pelan.

"Tapi lo selalu nolak gue."

"Andai lo tau berapa kali gue nyoba bilang perasaan gue."

"Dan sekarang..."

"Lo malah nerima Ahber."

Lay menatap wajah Andkay dengan tenang.

"Kay."

"Gue juga suka kok sama Ahber."

"Dan gue anggap lo itu cuma abang yang selalu lindungi gue sama Basyer."

Mendengar kalimat itu, Andkay tersenyum tipis.

Namun senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.

"Gue nggak mau jadi abang."

"Gue mau lebih."

"Lay."

Tatapan Lay perlahan melembut.

"Maaf."

"Tapi gue nggak bisa."

Suasana kembali sunyi.

Suara angin terdengar berembus melewati pepohonan.

Andkay menundukkan kepalanya beberapa detik.

Kemudian kembali menatap Lay.

"Lo tetap abang gue, Andkay."

Kalimat itu justru membuat emosi Andkay semakin sulit dikendalikan.

Brak!

Dengan satu dorongan keras, tubuh Lay membentur dinding.

"Ah!"

Lay meringis kesakitan.

"Kay!?"

Napasnya mulai tidak beraturan.

Tatapan Andkay berubah.

Tidak ada lagi senyum di wajahnya.

"Lay."

"Lo itu milik gue."

"Gue suka sama lo."

"Lo juga harus suka sama gue."

"Gue nggak mau lo anggap gue abang."

"Lo harus nerima gue."

"Hah!? Kay!"

Lay mencoba mendorong tubuh Andkay yang kini semakin mendekat.

Namun tenaga mereka sangat berbeda.

"Lo... lo mau apa, Kay!?" tanya Lay.

Suara gadis itu mulai bergetar.

Wajah Andkay kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.

"Kay..."

panggil Lay lirih.

"Lay..."

balas Andkay.

Beberapa detik mereka hanya saling menatap.

Namun...

Andkay tiba-tiba memejamkan matanya.

Ia menarik napas panjang.

Kemudian perlahan menjauh.

Beberapa langkah ia mundur hingga memberi jarak di antara mereka.

Tangannya mengusap wajah sendiri dengan kasar.

"Maaf."

Lay masih memandangnya dengan wajah pucat.

"Maaf, Lay."

"Gue cuma..."

"Gue nggak mau lo jadi milik orang lain."

Lay masih diam.

"Setelah yang lo lakuin barusan..."

"Sekarang lo minta maaf?"

Andkay menundukkan kepala.

"Gue nggak bermaksud."

"Gue cuma mau jagain lo."

Lay menggeleng pelan.

"Gak usah."

"Terima kasih."

"Tapi gue nggak akan membutuhkan lo lagi, Kay."

Kalimat itu membuat Andkay terdiam.

"Lo tetap abang gue."

"Tapi setelah hari ini..."

"Yang lo lakuin bikin gue sadar."

Lay menggigit bibir bawahnya.

"Lo pria brengsek."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Lay langsung berbalik.

Ia berlari meninggalkan halaman belakang sekolah tanpa sekali pun menoleh.

"Lay!"

Andkay tidak mengejarnya.

Ia hanya berdiri diam.

Pandangannya mengikuti sosok Lay yang semakin lama semakin menghilang.

"Maaf..."

gumamnya pelan.

"Gue salah."

"Cara yang gue lakuin ke lo salah."

"Andai lo tau hal penting itu..."

"Lo pasti nggak akan pergi dari gue."

"Andai lo tau..."

"Gue nggak akan pernah rela ngelihat lo sama orang lain."

Kedua tangan Andkay kembali mengepal.

"Lo..."

"Lo cuma milik gue, Lay."

Suara burung kembali terdengar.

Tempat itu kembali sunyi.

Di sisi lain.

UKS.

Ruangan kecil itu terasa sangat tenang.

Ahber masih terbaring di atas ranjang dengan mata yang masih tertutup rapat.

Di sampingnya duduk seorang gadis berambut cokelat dengan mata kuning terang yang tampak terus memperhatikan keadaan Ahber.

Gadis itu adalah Eskay Evertyna.

Ia mengembuskan napas pelan.

"Huh..."

Tangannya perlahan merapikan selimut Ahber yang sedikit bergeser.

Tak lama kemudian...

Krik.

Pintu UKS terbuka.

"Permisi, Nak Eskay."

Seorang petugas UKS masuk sambil membawa beberapa obat.

"Kamu bisa kembali ke kelas sekarang."

"Pelajaran akan dimulai lima menit lagi."

Eskay menoleh sebentar.

"Ibu."

"Biarkan saya menjaga Ahber sampai dia bangun."

Petugas UKS tersenyum kecil.

"Kamu dari tadi belum keluar."

"Nanti kamu kelelahan."

Eskay menggeleng pelan.

"Gak apa-apa, Bu."

"Saya tetap di sini."

Petugas UKS mengangguk pelan.

"Baiklah."

"Ibu izinkan."

"Tapi kalau Ahber sudah sadar, kalian harus kembali ke kelas."

"Iya, Bu."

Petugas UKS kemudian keluar dari ruangan.

Suasana kembali sunyi.

Eskay menatap wajah Ahber.

"Ahber..."

"Bangun."

bisiknya pelan.

Sementara itu...

Lay berlari sekencang mungkin melewati lorong sekolah.

Air matanya mulai menggenang.

"Gue minta maaf, Berr."

"Gara-gara gue..."

"Lo dipukul habis-habisan sama Kay."

"Maaf."

"Berr..."

"Semoga lo baik-baik aja."

"Lo nggak boleh terluka."

"Harusnya dari awal gue nggak kenal Andkay."

Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Tanpa memedulikan tatapan siswa lain, Lay terus berlari menuju kelasnya.

Sesampainya di depan kelas...

Napasnya sudah tidak beraturan.

"Eeh? Lay."

"Nak, kamu dari mana?"

tanya Ibu Essy yang sedang mengajar Matematika.

"Ibu..."

"Ahber di mana?"

tanya Lay dengan wajah cemas.

Matanya menyapu seluruh isi kelas.

Namun bangku Ahber kosong.

"Ahber dibawa ke UKS tadi, Lay."

jawab salah satu teman sekelasnya.

"U-UKS?"

"Iya."

Lay langsung menatap Ibu Essy.

"Ibu."

"Saya izin menjaga Ahber."

Belum sempat Ibu Essy memberikan jawaban...

Lay sudah lebih dulu berlari meninggalkan kelas menuju UKS.

BAB 3

Di sepanjang lorong sekolah, langkah kaki Lay terdengar terburu-buru. Napasnya memburu setelah berlari tanpa henti dari kelas menuju UKS. Air mata yang tadi sempat ia tahan kembali mengalir tanpa disadari.

"Gue minta maaf, Berr..."

"Gara-gara gue lo dipukul habis-habisan sama Kay."

"Semoga lo baik-baik aja."

"Lo nggak boleh kenapa-kenapa."

"Harusnya dari awal gue nggak kenal Andkay."

Semakin dekat dengan UKS, semakin besar rasa bersalah yang memenuhi hatinya.

Tak lama kemudian, Lay tiba di depan pintu UKS.

Tangannya langsung meraih gagang pintu.

Ceklek.

Pintu terbuka perlahan.

"Ahber..."

Suara Lay langsung terhenti.

Di hadapannya...

Ahber yang baru saja membuka mata tiba-tiba memeluk seseorang dengan erat.

Pelukan itu begitu hangat dan penuh rasa lega.

Sedangkan gadis yang dipeluk Ahber tampak terkejut.

"Ahber..."

"Itu gue..."

Suara lembut Eskay terdengar pelan.

Namun Ahber yang penglihatannya masih buram sama sekali belum menyadarinya.

"La-Lay..."

gumam Ahber lirih.

"Gue kira lo..."

Belum sempat kalimatnya selesai...

Mata Lay membulat.

Tangannya yang masih menggenggam gagang pintu perlahan melemas.

Wajahnya berubah pucat.

"Ahber..."

Suaranya terdengar hampir tak terdengar.

Eskay mencoba melepaskan pelukan itu secara perlahan.

"Ahber..."

"Lo salah orang."

Barulah Ahber tersadar.

"Ha?"

Ia langsung menjauh.

Pandangannya mulai kembali jelas.

"Lo?"

"Eskay?"

Wajah Ahber langsung berubah panik.

Sedangkan Lay...

Masih berdiri di depan pintu.

Tatapannya kosong.

Dadanya terasa sesak.

Entah kenapa, pemandangan di depannya terasa begitu menyakitkan.

"Dasar..."

Suara Lay bergetar.

"Pria brengsek."

Ia langsung berbalik.

Bruk!

Langkah kecilnya berubah menjadi lari.

"Lay!"

Ahber yang mendengar suara itu langsung menoleh ke arah pintu.

Namun Lay sudah pergi.

"Hah?"

"Lay?"

Ahber buru-buru turun dari ranjang.

Namun tubuhnya kembali limbung.

"Ahber!"

Eskay segera menahan bahunya.

"Lo masih lemah."

"Lepasin, Eskay!"

"Lay salah paham!"

Ahber berusaha mengejar, tetapi kepalanya kembali terasa pusing.

Tubuhnya hampir terjatuh.

Eskay kembali menahannya.

"Kalau lo maksa sekarang, lo malah pingsan lagi."

Ahber mengepalkan tangannya.

"Sial..."

"Lay..."

 

Di balik tembok luar UKS...

Seseorang berdiri sambil memperhatikan semuanya.

Andkay.

Sejak tadi ia ternyata mengikuti Lay dari kejauhan.

Tanpa sengaja, ia juga melihat kejadian di dalam UKS.

"Ck..."

Tatapannya berubah tajam.

"Lo nggak pantas ada di samping Lay."

"Ahber..."

"Gue tandai lo."

Andkay mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Lalu berjalan meninggalkan tempat itu.

 

Sementara itu...

Lay terus berlari tanpa tujuan.

Air matanya terus mengalir.

"Semua cowok sama aja..."

gumamnya lirih.

"Brengsek."

Ia berhenti di salah satu lorong yang sepi.

Tangannya mengepal.

"Gue benci lo, Berr."

"Benci."

"Benci."

"Benci!"

Suara terakhirnya menggema di lorong sekolah.

Air matanya semakin deras.

Ia tidak pernah menyangka.

Hubungan yang bahkan baru berjalan satu hari...

Sudah membuat hatinya sehancur ini.

 

Di dalam UKS...

Ahber masih terduduk di tepi ranjang.

Tatapannya kosong mengarah ke pintu.

Eskay berdiri beberapa langkah di depannya.

"Ahber."

"Lo salah orang tadi."

Ahber mengusap wajahnya pelan.

"Gue kira..."

"Itu Lay."

Eskay tersenyum tipis.

"Gue tau."

Beberapa detik mereka sama-sama terdiam.

Ahber akhirnya mengangkat kepalanya.

"Lo kenapa bisa ada di sini?"

"Gue cuma jagain lo."

jawab Eskay singkat.

"Lay..."

"Lay ke mana?"

Eskay menggeleng pelan.

"Gue nggak tau."

"Tapi sekarang lo harus istirahat dulu."

"Kalau keadaan lo udah membaik..."

"Baru cari Lay."

Ahber menundukkan kepalanya.

Beberapa saat kemudian...

Ia kembali berbicara.

"Eskay."

"Hm?"

"Kenapa..."

"Lo masih mau nolong gue?"

Eskay terdiam.

Ahber menarik napas panjang.

"Gue udah nyakitin lo."

"Bahkan mental lo."

"Tapi lo masih jagain gue."

Eskay tersenyum tipis.

Tatapan matanya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan dulu.

"Ahber."

"Memang lo pernah nyakitin gue."

"Itu benar."

"Tapi itu semua masa lalu."

"Hidup cuma sekali."

"Gue nggak mau terus hidup di masa lalu."

"Gue juga nggak mau benci seseorang seumur hidup."

"Capek."

"Jadi..."

"Gue memilih buat maafin."

Ahber perlahan menundukkan kepalanya.

"Gue minta maaf."

Eskay mengangguk pelan.

"Gak apa-apa."

"Yang penting sekarang..."

"Lo sembuh dulu."

"Gue ke kelas ya."

"Takut orang salah paham."

Eskay berbalik hendak keluar.

Namun...

Ahber menggenggam pelan pergelangan tangannya.

"Eskay."

Gadis itu menoleh.

"Kalau suatu hari nanti..."

"Lo butuh bantuan."

"Gue bakal bantu."

Eskay tersenyum kecil.

"Janji?"

Ahber mengangguk mantap.

"Janji."

"Baik."

Eskay melepaskan genggaman itu perlahan.

Lalu berjalan keluar UKS.

Sementara Ahber masih duduk terdiam.

Pikirannya kini hanya dipenuhi satu nama.

Lay.

Ia sama sekali tidak tahu...

Bahwa kesalahpahaman kecil beberapa menit yang lalu akan menjadi awal dari hancurnya hubungan mereka.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!