Seorang gadis berusia dua puluh tahun menangis pilu di lorong putih rumah sakit yang dingin, di sebelahnya ada dua brankar rumah sakit dengan dua jasad yang sudah tidak bernyawa dan ditutupi oleh kain putih.
"Papah... Mama... jangan tinggalkan Dira, hidup Dira akan sepi tanpa kalian." begitu terdengar pilu, seorang suster disebelahnya ikut merasakan atmosfer kesedihan. Namun suster itu tidak bisa berkutik dengan peraturan rumah sakit elit itu.
Sementara itu seorang pria berkemeja hitam tidak sengaja memperhatikan adegan yang sangat menyedihkan itu, langkahnya seketika terhenti. Matanya menatap awas pada seorang gadis yang sedang memeluk kedua jasad, kemudian entah dorongan dari mana langkahnya perlahan mengayun mendekat ke arah Dira yang masih memeluk kedua jasad orangtuanya.
"Saya pamit dulu ya mbak, mbaknya boleh untuk menghubungi keluarga dulu untuk mengurus semua administrasi rumah sakit." ucap suster itu sopan, kemudian pergi meninggalkan Dira yang masih memeluk kedua jasad orangtuanya.
"Saya tidak punya siapa-siapa lagi suster...saya tidak punya keluarga lagi disini." lirihnya pilu disela Isak tangisnya.
Arhan pun mendengar apa yang diucapkan Dira, seketika otaknya berputar dengan ucapan ibunya tadi pagi.
Arhan usia kamu sudah 27 tahun, ekonomi kamu juga sudah stabil dengan posisi sebagai menejer di perusahaan besar. Ibu sudah tua, ibu minta sama kamu untuk segera menikah, carilah istri yang baik yang bisa ngurus kamu dan sebagai teman ibu dirumah. Jujur ibu kesepian sekali dirumah.
"Kasihan juga ibu, tenang buk Arhan sudah menemukan orang yang tepat " senyum manis terukir pada wajah pria keturunan Jawa dan Sumatra itu.
"Suster..." panggil Arhan saat melihat suster yang tadi berdiri disebelah Dira berjalan ke arahnya.
"Kenapa jasad kedua orangtua gadis itu belum di urus?"
"Mohon maaf sekali pak, ini adalah peraturan dari rumah sakit. Jika keluarga korban belum mengurus administrasi maka kami akan menunda untuk pengurusan jenazah."
"Saya yang akan bertanggung jawab." ucap Arhan mantap. Kemudian melangkah mendekat pada Dira. Gadis yang masih terlihat sangat muda Dimata Arhan.
Langkah Arhan terhenti, matanya fokus menatap pundak Dira yang bergetar karena tangis kesedihan.
"Saya yang akan bantu kamu," ucap Arhan Sura baritonnya mampu membuat Dira menghentikan tangisnya sejenak. Dira membalikan tubuhnya, tatapan matanya langsung tertuju pada seorang pria tinggi.
"Siapa kamu?" dengan sorot mata penuh kesedihan, mata yang merah dan basah oleh air mata.
"Saya Arhan, saya yang akan bantu anda. Mohon maaf sekali saya sudah mendengar ucapanmu kalau kamu tidak memiliki keluarga disini. Kini kamu tidak usah bersedih lagi, anggaplah aku sebagai kakak mu. Saya yang akan menanggung semuanya, dari pengurusan jenazah sampai dengan pemakaman." ucap Arhan.
Dira masih menatap pria yang ada dihadapannya, seorang pria dewasa dengan wajah yang begitu manis.
"Atas dasar apa kakak menolong saya?" ucap Dira pelan.
"Atas dasar kemanusiaan, saya tidak suka melihat orang yang butuh pertolongan lalu dibiarkan begitu saja, izinkan saya untuk membantumu."
Atas persetujuan Dira akhirnya Arhan bisa mengurus semua administrasi sekaligus biaya pemakaman. Pemakaman langsung dilakukan dihari itu juga, tidak banyak orang yang mengantar karena Dira merupakan seorang pendatang baru di komplek perumahan yang sangat sepi. Jadi tidak banyak orang yang mengenal kedua orangtua Dira, bahkan Arhan tidak melihat satu orangpun yang mengaku sebagai kerabat atau saudara Dira. Kehidupan Dira betul-betul sebatang kara, setelah ditinggal oleh kedua orangtuanya.
Setelah pemakaman selesai, Arhan pun mengurus semua urusan pengajian tahlilan untuk kedua orangtua Dira, tahlilan tidak dilakukan dikomplek perumahan Dira, akan tetapi tahlilan dilakukan di pondok pesantren yatim piatu. Tanpa Arhan sadari kebaikan terselebung niat itu mampu membuat hati Dira kian menghangat.
Satu bulan kemudian.
"Dek, tadi malam aman? Jujur mas khawatir sekali sama kamu, mas baru dapat kabar dari satpam depan kalau tadi malam ada maling didaerah sekitar sini." ucap Arhan yang sedang mengunjungi kediaman Nadhira, satu bulan penuh Arhan memang rutin untuk menjenguk Nadhira.
Gadis berusia dua puluh tahun dengan rambut digerai sebahu itu menundukkan wajahnya, ada semburat kemerahan yang menghiasi wajahnya. Tangannya memegang erat nampan kayu terlihat sedikit bergetar.
"Dira aman kok mas, walaupun tadi malam Dira sempat dengar ada suara-suara aneh dari luar." ucap Dira sambil sesekali melirik wajah Arhan.
Kini mereka semakin dekat, bahkan Arhan sering mengajak Dira untuk jalan-jalan keluar sekedar membuang rasa suntuk sambil mencoba mengambil hati Dira.
"Dir..."
"Iya mas...?"
Arhan menghela nafasnya sejenak.
Dira menatap wajah manis pria didepannya, jantungnya kian berdebar saat sorot mata Arhan berseri kepadanya.
"Dir jujur mas khawatir sekali melihat kamu tinggal sendirian dirumah sebesar ini. setelah banyak kejadian kejahatan diluar sana mas jadi was was sekali, apalagi kamu tinggal sendirian dan sangat jauh dari keluarga."
Dira hanya menganggukkan kecil kepalanya, hatinya kian berdebar halus.
"Maka dari itu mas mau ngajak kamu menjadi sepenuhnya milik mas, biar mas tidak khawatir lagi ketika berjauhan sama kamu Dir, jujur ini sangat cepat sekali untuk kita yang baru mengenal kurang lebih satu bulan. tapi percaya lah Ra, mas sangat serius. Mas mau ngajak kamu nikah." Arhan menatap manik mata indah milik Dira, sorot matanya serius.
Ada semburat merah yang menghiasi pipi gadis itu, semburat senyum tipis terbit diwajahnya yang manis.
"Apa yang membuat mas yakin dengan Dira?, perbedaan umur kita terpaut cukup jauh mas. Dira masih berusia 20 tahun sedangkan mas sudah berusia 27 tahun. Dira yakin masih banyak wanita diluar sana yang mau dengan mas Arhan." ucap Dira sambil menundukkan wajahnya.
"Hati mas yakin banget sama kamu Ra, kamu wanita yang baik. Dari pandangan pertama mas sudah jatuh hati sama kamu Ra."
****
Dua Minggu kemudian
"Saya terima nikah dan kawinnya Nadhira Oktora binti Helmi dengan maskawin seperangkat alat solat dan cincin perhiasan dibayar tunai..."
Arhan dan Nadhira melangsungkan pernikahan secara sederhana, hanya dikantor KUA dan dihadiri oleh sanak saudara dan teman dekat Arhan saja.
Nadhira yang tampak cantik dengan balutan kebaya putih dan untaian melati pada sanggul rambutnya, serta riasan wajah yang sangat sederhana tanpa menghilangkan kecantikan alami Nadhira. Nadhira tersenyum melirik Arhan yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Bagi Nadhira Arhan adalah malaikat penolong saat dia jatuh terpuruk lalu Arhan datang dan langsung mengangkat Nadhira dari kesedihan itu. Nadhira sadar, bahwa ia sudah jatuh hati dengan sosok pria yang kini berdiri disebelahnya.
Nadhira mencium punggung tangan suaminya, bibirnya yang lembut mencium punggung tangan Arhan. Sangat lama sampai Nadhira meneteskan air matanya.
"Makasih mas, udah mau jadi penolong buat Dira." suaranya begitu mengalun lembut.
Sementara Arhan hanya menatap datar pada Nadhira, hanya anggukan singkat dari kepalanya. Sebagai simbolis, kemudian Arhan mencium kening Dira, sampai ada jepretan yang menyilaukan mata menangkap gambar mereka.
Ibu Arhan sudah menunaikan keinginan ibu, memilihkan menantu yang baik yang bisa menemani masa tua untuk ibu. Nadhira adalah wanita yang paling tepat, gadis yatim piatu yang masih sangat polos. Otaknya masih sangat bersih.
Batin Arhan dengan tatapan yang tertuju pada ibunya yang sedang tersenyum bahagia.
Nadhira berdiri diruang tengah, sorot matanya yang sayu tertuju pada foto pernikahannya dengan Arhan lima tahun yang lalu. Bukan waktu yang sebentar, kini pernikahan Dira dan Arhan sudah menginjak usia lima tahun. Tapi Nadhira mulai merasakan keanehan dalam rumah tangganya.
Sikap Arhan yang selalu dingin padanya, tidak ada ungkapan cinta, ciuman mesra sebelum berangkat kerja, atau pelukan hangat sebelum tidur kegiatan itu tidak pernah Arhan lakukan selama lima tahun menikah dengan Dira.
Menurut Dira Arhan ini tidak sehangat ketika Arhan sebelum mengucap ijab. Dira kira mungkin ini hanyalah sikap Arhan yang sangat cuek padanya. Karena walaupun tidak ada ungkapan cinta, tapi Arhan tetap memberi Dira nafkah lahir maupun batin, tidak pernah membentak dira dan selalu memperhatikan asupan nutrisi setiap pagi untuk Dira. Mungkin perhatian kecil itu adalah sebuah bentuk kasih sayang yang Arhan berikan untuk Dira.
"Ra..." Arhan yang sudah memakai kemeja kerjanya keluar dari kamar sambil menggulung lengan kemejanya.
"Iya mas...?" jawab Dira lembut, wanita mungil yang kini berusia dua puluh lima tahun itu tersenyum hangat pada Arhan.
"Vitamin buat kamu sudah mas siapkan diatas nakas, diminum ya. Biar apa yang sedang kita usahakan cepet terkabul. kita bisa secepatnya memiliki keturunan." ucap Arhan dengan senyum yang terkesan dipaksakan. Tapi Dira tidak menyadari itu.
"Makasih ya mas, nanti Dira minum vitamin nya. Oh ya, Dira sudah siapkan sarapan di meja makan."
Kemudian Dira pergi ke kamar dan meminum pil vitamin berwarna putih, kata Arhan itu adalah pil untuk penyubur rahim agar Dira cepat dikaruniai anak.
Semburat senyuman menghiasi wajah cantiknya dengan polesan makeup sederhana. Kemudian Dira berjalan menyusul suaminya untuk sarapan pagi.
"Kapan kamu akan memiliki keturunan Han, usia pernikahan kamu dengan Nadhira sudah menginjak lima tahun. Ibu mau cucu, apa kamu gak ada niatan buat ajak istri kamu periksa ke dokter, takutnya ada masalah dengan rahim istri kamu." ucap Bu Rena yang sedang menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh Nadhira. Mereka sarapan tanpa nunggu Nadhira terlebih dahulu.
Nadhira menghentikan langkahnya dibalik tangga rumah, ia ingin mendengar jawaban dari Arhan.
"Sabar ya Bu Arhan sedang usaha dengan Dira, mungkin belum waktunya buat kita untuk memiliki momongan."
"Cepatlah ibu sudah tidak sabar Han.."
Nadhira tampak menghela nafasnya pelan, tangannya kini berada diatas perutnya yang masih rata. Kini tangan itu bergerak mengelus perutnya.
"Ya Allah karuniakanlah seorang anak untuk aku dan mas Arhan." gumam Dira lalu berjalan menuju meja makan.
"Ibu, mas. Gimana masakannya enak? Maaf sekali Dira hanya masak soup ayam dan telur dadar, tadi Dira bangunnya kesiangan." ucap Dira seraya duduk disamping Arhan.
"Gapapa Ra, masakan kamu memang selalu enak." ucap Bu Rena.
Sarapan berjalan tanpa banyak obrolan, semua sibuk dengan fikiran masing-masing. Arhan yang sudah terbayang dengan hadiah yang berada disaku celananya, hadiah untuk seseorang yang teramat istimewa di hati nya.
"Mas..hati-hati ya, kalau mas pulang telat jangan lupa buat hubungi Dira." ucap Dira dengan lembut. Senyum manis selalu terukir pada wajahnya yang sangat manis.
Arhan hanya menganggukkan kepalanya, senyum datar dengan menatap sekilas pada Raya. Senyuman yang terasa hambar untuk ukuran seorang suami.
"Mas berangkat Ra, mas titip ibu. Jangan lupa buat bantu ibu minum obat." ucap Arhan seraya melangkah kearah mobil yang sedang ia panaskan.
Lagi-lagi Raya hanya menatap punggung Arhan yang begitu menjauh darinya. Bahkan Dira belum sempat untuk mencium punggung tangan Arhan, tidak ada lagi kecupan hangat diatas jidat seperti yang Dira harapkan.
Dira melambaikan tangannya saat mobil Arhan melaju keluar dari garasi, tapi Arhan tidak membalas lambaian tangan Dira, mobilnya terus melaju. Senyum Arhan mengembang sepanjang perjalanan menuju kantornya, selain hatinya sedang berbunga-bunga, ia juga bahagia karena posisi ia akan naik satu tingkat di kantornya. satu Minggu lagi Arhan akan diangkat menjadi direktur diperusahaanya.
Dira kembali berkata dengan pekerjaan rumah yang sangat banyak, mulai dari menyapu mengepel mencuci pakaian semuanya Dira lakukan seorang diri tanpa adanya bantuan tangan dari asisten rumah tangga, ditambah lagi Dira harus mengurus Bu Rena yang kadang tidak bisa berjalan dan harus didorong di kursi roda.
Diruang loundry Dira sedang menggosok pakaian yang sudah menggunung, pakaian dirinya, Arhan dan Bu Rena. Semua Raya kerjakan dengan seorang diri. Peluh mengucur membasahi dahinya, bahkan sampai Dira tidak ada waktu untuk merawat dirinya saking sibuk dengan pekerjaan rumah yang sangat banyak.
"Cepek sekali.." keluh Dira. Ia hanya bisa mengeluh seorang diri, karena jika mengeluh didepan Arhan itu hanyalah percuma. Pasti ada saja alasan yang Arhan layangkan pada Dira.
Satu Minggu yang lalu.
"Mas badan Dira pada sakit semua, tulang-tulangnya terasa sangat ngilu. Mungkin ini disebabkan karena Dira terlalu banyak gerak untuk membersihkan rumah sebesar ini, ditambah lagi Dira harus mengurus ibu, bantu angkat badan ibu kalau ibu mau ke air. Mas, Dira boleh ga minta sesuatu?" Dira sambil bersandar pada sandaran ranjang kayu. Sementara Arhan sedang sibuk dengan ponselnya.
"Apa?" Arhan tanpa menoleh ke arah Dira.
"Gaji mas kan sekarang mungkin udah cukup untuk sewa asisten rumah tangga, setidaknya bisa sedikit meringankan pekerjaan rumah Dira. Mas tau ga, Dira keteteran banget ngurus rumah yang lumayan luas ini, ditambah harus masak."
"Kamu gak ikhlas melakukan itu semua Ra, kamu gak mikirin mas juga, kalau cari uang itu capek, lelah dan energi terkuras banyak. Dan bukan masalah gaji mas besar atau kecil, tapi mas juga punya kebutuhan yang banyak. Buat nabung, berobat ibu, pajak rumah, mobil siapa yang urus? Semuanya mas yang urus Ra. Mas minta kerja samanya sama kamu. Kamu urus pekerjaan rumah, sementara mas cari uang dengan tenang."
Sejak saat itu Dira tidak mau lagi meminta sesuatu pada suaminya. Dira meras tidak enak dengan jawaban suaminya, Dira merasa hidupnya ini adalah beban bagi suaminya.
"Ra..." Bu Rena tiba-tiba datang.
"Iya Bu.."
"Kamu tau gak, si Resi anaknya Bu Ratih baru tiga bulan menikah sekarang sudah isi lagi. Kamu kapan, sudah lima tahun loh Ra, apa gak mau coba ajak Arhan buat cek ke dokter takutnya ada masalah pada rahim kamu Ra?"
Pertanyaan itu lagi, awalnya Dira tidak merasa tersinggung dengan omongan seperti itu. Tapi lama kelamaan Dira juga merasa tidak nyaman dan membuat hatinya nyelekit.
"Iya Bu, nanti Dira coba buat ajak mas Arhan, tapi semoga saja rahim Dira sehat. Sejauh ini mas Arhan dan Dira juga sedang mengusahakan."
"Minum dulu Ra," Arhan membawakan segelas air putih dan pil berwarna putih yang rutin Dira minum setiap harinya.
Dira yang sedang merapikan selimut tebal diranjang langsung menghela nafas pelan, kesabarannya mulai menipis.
"Mas, Dira Minum setiap hari pil penyubur ini tapi belum juga menunjukan keberhasilan. Mas, apa kita gak mau coba periksa ke dokter." ucap Dira sambil memandangi segelas air putih dan pil yang berada pada tangan Arhan.
Tanpa Dira sadari cengkraman tangan Arhan pada segelas air semakin kuat, rahangnya mengatup rapat dan menegas, sorot matanya menajam tapi berusaha Arhan untuk menyembunyikan kekesalannya dari hadapan Dira.
"Sabar Ra, kamu tau kan biaya periksa kandungan itu mahal. Mas lagi keteteran sama biaya pengobatan ibu dirumah sakit. Kita coba aja dulu rutin dengan meminum pil ini, siapa tahu tahun depan atau bulan depan kamu bisa hamil" ucap Arhan dengan nada bicara dibuat sehalus mungkin.
Akhirnya Dira lagi-lagi harus menurut, tidak mampu membantah ucapan Arhan. Ia meneguk lagi pil putih itu dengan segelas air, kemudian senyum terukir di wajah Arhan.
"Kamu nurut sekali Ra, mas memang gak salah pilih buat jadikan kamu sebagai istri. Mas berangkat, jaga ibu ya." ucap Arhan sambil mengambil ponsel dan kunci mobilnya.
"Mau kemana mas, hari ini kan hari libur. Apa gak mau mas nikmatin hari libur dirumah?" ucap Dira sambil menahan lengan kokoh milik Arhan.
"Mas suntuk kalau dirumah Ra, mas mau cari angin dulu dirumah. Mas titip ibu ya, hanya sebentar saja." ucap Arhan kemudian langsung pergi meninggalkan Nadhira yang masih mematung diambang pintu.
"Padahal aku juga mau mas, pergi liburan setiap akhir pekan. Sekedar menghilangkan penat dan setres dengan pekerjaan rumah. Tapi kamu tidak pernah sekalipun mengajak aku untuk pergi keluar." gumam Dira setelah melihat punggung Arhan yang perlahan menghilang dibalik pintu utama.
Kemudian Dira berjalan kearah ruang cuci pakaian, akhir pekan biasanya Dira habiskan untuk memicu pakaian kerja milik Arhan, dengan cekatan Dira mulai memisahkan pakaian putih dengan pakaian berwarna milik Arhan. Tidak lupa Dira selalu cek bagian saku celana, takutnya ada suatu benda yang tertinggal disana.
Ketika Dira memeriksa saku celana hitam yang dipakai oleh Arhan kemarin, Dira mendapati suatu kertas yang ternyata sebuah nota pembelian.
"Nota perhiasan?" Dira mengernyitkan dahinya, jantungnya berdebar kencang. Kejanggalan yang paling besar selama menikah dengan Arhan.
"Mas Arhan beli cincin untuk siapa?" wanita bermata bening itu menyapu semua tulisan yang tertera pada nota. Jantungnya kian berdebar dan tangannya sedikit bergetar.
"Apa mas Arhan?"
Tapi kemudian Dira langsung menggelengkan kepalanya, menghapus semua perasaanku buruk yang datang pada pikirannya.
"Tidak, tidak mungkin. Selama ini mas Arhan pria yang baik, tidak mungkin dia melakukan hal buruk di belakangku." ucap Dira seraya mengambil ponselnya untuk menelpon Arhan.
Dira : Halo mas...
Arhan : Iya ada apa Ra?
Dira : Emh... ini ada nota pembelian perhiasan, ini punya kamu mas? Soalnya ada disaku celananya mas.
Arhan : Bukan. itu punya rekan mas Ra, dia mau ngasih suprise pada istrinya yang lagi ulangtahun, jadi dia titip mas buat beliin cincin itu. Oh ya Ra, simpan aja nota itu nanti mas ambil buat dikasih ke rekan kerja mas sebagai bukti pembelian.
Dira : oh ya udah, Dira sempet kaget juga si. Kirain mas....
Arhan : ya gak mungkinlah Ra, jangan berpikir aneh-aneh ya. Mas tidak akan melakukan hal itu tenang aja.
Setelah menutup telponnya senyum Arhan mengembang sempurna, "Untung banget kamu mudah sekali dibohongi Ra, dasar wanita bodoh." umpat Arhan kemudian kembali tanjab gas menuju rumah yang sering ia kunjungi.
Arhan memarkirkan mobil sedan hitamnya dengan sempurna, senyum mengembang pada wajahnya yang manis. ia turun dengan kacamata hitam yang bertengger dihidungnya yang mancung.
Senyumnya semakin melebar kala mendapati seorang wanita yang berdiri diambang pintu sambil tersenyum pada Arhan.
"Hari ini seperti ada yang berbeda mas?" ucap wanita berambut hitam tebal dengan sebagian rambutnya ia ikat.
"Bahagia karena mau ketemu sama pujaan hati mas, kangen banget." ucap Arhan seraya memeluk tubuh wanita itu, seraya mengecup pipi wanita itu.
"Didalam yuk mas, takutnya ada orang yang lewat kesini." ajak Ayu, wanita yang selama ini dicintai Arhan, tapi belum bisa dinikahi karena ayu ini adalah wanita yang materialistis alias pandang harta. Ia tidak mau menikah dengan Arhan jika Arhan belum naik jabatan di tempat kerjanya.
Arhan mengangguk, ia berjalan bersisian dengan Ayu, dengan tangan yang merangkul pundak Ayu.
"Lihat sayang.." Arhan memperlihatkan sebuah kontak beludru yang berisikan sebuah cincin emas seharga limapuluh juta.
"Astaga mas, ini bagus sekali. Aku suka...." ucap ayu yang kini duduk diatas pangkuan Arhan.
"Jelas ini harganya sangat mahal sekali sayang." ucap Arhan lagi-lagi mengecup pipi Ayu.
"Mas pakein!..." ucap ayu dengan nada bicara dibuat seimut mungkin dan terkesan manja.
"Sangat pas sekali dijari kamu sayang, cincin ini begitu sangat terlihat cantik pada jari kamu yang lentik dan bagus ini." Arhan mengecup punggung tangan ayu.
"Makasih ya mas.... Aku seneng banget." kini tangannya memeluk leher Arhan.
"Mas mau hadiah dari aku?" ucap ayu, sorot mata yang sayu bertabrakan dengan mata milik Arhan yang sudah sarat akan hal normal sebagai seorang pria.
Arhan perlahan mengangguk, sorot matanya tidak beralih pada wajah Ayu. Tubuhnya kian menghangat dan semburat merah memenuhi wajah kedua manusia itu.
"Mas kangen banget sama kamu yu." bisik Arhan saat mengangkat tubuh Ayu, kini langkah tegap itu mulai memasuki sebuah kamar dengan sinar lampu temaram.
Beberapa menit kemudian, dengan nafas yang masih terengah-engah. Arhan memeluk tubuh ayu erat.
"Mas tadi tembak didalam?" tanya Ayu dengan sorot mata yang sangat lelah, setelah melakukan pertempuran panas. Tangannya membetulkan posisi tangan Arhan yang masih melingkar diatas perutnya.
"Heem, karena kita akan segera menikah sayang. Posisi mas Minggu depan sudah naik jadi direktur." ucap Arhan dengan suara serak.
"Lalu istri kamu gimana mas, aku takut nanti dia sering marah terus jambak-jambak rambut aku yang sangat indah ini."
"Kamu tengang aja, wanita itu sangat bodoh sekali sayang. Setelah kamu jadi istri aku kamu tinggal duduk manis sambil menikmati semua uang aku, karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh wanita bodoh itu."
Ayu menghadapkan tubuhnya pada Arhan. tangannya menangkup pada wajah Arhan yang masih terasa panas.
"Aku mau nikah sama kamu mas, tapi apa alasan yang akan kamu ucapkan pada ibumu mas."
"Alasan kalau Dira tidak bisa hamil dan aku akan nikah lagi buat beri ibu cucu. Aku sangat yakin sekali jika soal cucu ibu akan luluh." ucap Arhan.
"Kamu tau kan sayang, setiap pagi mas kasih Dira pil KB agar dia gak hamil-hamil."
"Kamu pintar sekali sayang...." ucap ayu sambil mengecup ujung hidung Arhan. Senyum penuh kemenangan mengembang sempurna diwajah Ayu.
"Lagi?" ucap Arhan dengan binar mata yang sulit diartikan.
Ayu mengangguk, tangannya sudah mencengkram erat bahu Arhan. Kemudian Arhan bangkit dan langsung mengukung tubuh Ayu dibawahnya.
Bersambung.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!