...Pada mulanya tidak ada gunung yang menjulang, tidak ada ombak yang bergulung, tidak ada burung yang mengepakkan sayap, bahkan tidak ada waktu yang menghitung dirinya sendiri....
Kesunyian telah ada jauh sebelum cahaya mengenal kilau. Ia bukan sekadar sunyi, melainkan ruang tanpa batas yang bahkan tidak mengenal arah. Tidak ada timur tempat matahari lahir. Tidak ada barat tempat senja berpulang. Kata atas ataupun bawah belum memiliki makna. Jauh dan dekat hanyalah kemungkinan yang belum tercipta.
Tidak ada warna. Tidak ada suara. Tidak ada nama.
Yang ada hanyalah kehampaan yang begitu purba sehingga bahkan keheningan pun belum mengenal dirinya sendiri.
Namun di balik kehampaan itu, tersembunyi sebuah kehendak. Ia belum berbentuk. Belum lagi bersuara. Belum punya cahayanya sendiri. Tetapi ia hidup.
Lalu, untuk pertama kalinya... alam semesta menarik napas. Bukan napas manusia. Bukan napas naga. Bukan pula napas para dewa.
Melainkan napas Sang Awal.
Dari satu tarikan napas itu lahirlah cahaya pertama. Bukan berupa cahaya yang menyilaukan, melainkan cahaya yang lembut, terasa hangat, seperti seorang ibu yang membelai anaknya sebelum anak itu mengenal dunia.
Cahaya itu mengembang tanpa tergesa. Ia menari dalam kehampaan. Ia membelah kesunyian. Ia memberi bentuk kepada sang ruang.
Dan ketika cahaya menyentuh kehampaan, terdengarlah suara pertama. Bukan berupa dentuman yang menggelegar. Melainkan sebaris firman yang menggema ke seluruh semesta.
..."Segala sesuatu memiliki waktunya. Segala kehidupan memiliki tempatnya."...
Firman itu bergema beberapa kali. Setiap gemanya melahirkan sebuah lapisan alam yang baru. Maka seketika itu terciptalah tiga banua, tiga dunia yang saling menopang.
Yang pertama adalah Banua Ginjang, dunia cahaya yang mengapung di atas segala sesuatu.
Di sana langit bukan sekadar hamparan biru, melainkan lautan sinar keemasan. Pulau-pulau indah melayang tanpa tiang penyangga. Air terjun mengalir ke atas, seakan tersedot kembali ke mata airnya.
Pepohonan Hariara menjulang hingga dahannya memeluk bintang-bintang, sementara daun-daunnya berkilauan bagai ribuan ulos yang ditenun dari benang emas murni. Burung-burung bersayap enam yang indah terdengar terbang berdesing sambil menyanyikan lagu yang kelak menjadi asal dari segala doa dan pujian.
Yang kedua adalah Banua Tonga, dunia tengah.
Namun pada saat itu, ia belumlah menjadi bumi seperti tempat kita tinggal sekarang ini. Ia hanya berupa samudra purba yang tak bertepi. Air membentang ke segala arah, bergulung dalam badai yang tak pernah berhenti bergejolak. Kabut putih menggantung di atas permukaan laut, menutupi segala kemungkinan.
Belum ada gunung. Belum ada lembah. Belum juga ada tanah, tempat sebutir benih dapat beristirahat.
Yang ketiga adalah Banua Toru, dunia yang tersembunyi jauh di bawah samudra purba. Gelap. Dalam. Sunyi. Tetapi bukan dunia kematian.
Di sanalah akar segala kehidupan bersemayam. Batu-batu menyimpan ingatan, sungai-sungai bawah tanah membawa mimpi dan makhluk-makhluk purba menjaga keseimbangan alam.
Di antara mereka, yang paling tua adalah seekor naga raksasa, Naga Padoha, yang tubuhnya melingkari dasar samudra seperti lingkaran tanpa ujung. Sisiknya hitam berkilau laksana batu obsidian, matanya menyimpan cahaya zaman ketika waktu bahkan belum lagi dilahirkan. Ia tidak mengenal benci ataupun kasih; ia hanya mengetahui bahwa tugasnya sebagai penjaga dunia belum lagi selesai ditunaikan.
Ketiga banua itu terhubung oleh Pohon Hariara Agung. Akarnya menembus Banua Toru, batangnya menjulang melewati Banua Tonga dan dahannya menaungi Banua Ginjang. Di setiap urat kayunya mengalir kekuatan yang menjaga keseimbangan semesta.
Di puncak Banua Ginjang bersemayam Mulajadi Nabolon. Ia memandang ketiga dunia itu dengan kebijaksanaan yang tak terukur. Ia mengetahui bahwa alam telah memiliki bentuk, tetapi belum memiliki kehidupan yang akan mengisinya dengan cinta, harapan dan pilihan.
Sebab dunia tanpa kehidupan, hanyalah sebuah hamparan pemandangan yang indah, namun tak pernah bercerita apa-apa.
Dan sejatinya, kehidupan hanya dapat lahir melalui keberanian, pengorbanan, serta kasih yang melampaui ketakutan.
Maka Sang Pencipta menatap jauh ke taman-taman cahaya di Banua Ginjang.
Di sana, di antara bunga-bunga yang mekar dari embun bintang, seorang bayi perempuan baru saja membuka matanya. Ia menyusul ada dari serombongan dewa-dewi yang sudah terlebih dahulu bermanifestasi.
Kehadirannya tidak disertai tangisan. Yang terdengar hanyalah desir angin yang tiba-tiba membawa harum bunga ke seluruh penjuru Banua Ginjang.
Para burung berhenti bernyanyi. Air terjun cahaya bahkan sempat berhenti mengalir sesaat ketika bintang-bintang seolah meredup karena takzim.
Sebab mereka tahu, telah lahir sesosok mahluk yang kelak akan mengubah wajah alam semesta.
Seorang putri yang suatu hari akan meninggalkan langit demi menciptakan bumi.
Seorang ibu yang akan melahirkan leluhur manusia.
Seorang perempuan yang namanya akan dikenang sepanjang zaman. Namanya adalah... Si Boru Deak Parujar, Sang Putri Langit.
..."Setiap dunia lahir karena sebuah kehendak. Namun setiap peradaban lahir karena keberanian satu jiwa untuk melangkah menuju takdirnya."...
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke BAB 1. Anak Cahaya dari Banua Ginjang.
..."Tidak semua kelahiran diawali tangis. Ada kehidupan yang lahir bersama nyanyian alam."...
Tak seorang pun di Banua Ginjang dapat mengingat kapan cahaya pertama kali bersinar.
Di sana, cahaya bukanlah lawan kegelapan, sebab kegelapan tidak pernah benar-benar ada. Cahaya adalah napas, adalah air, adalah udara yang memenuhi segala ruang. Ia mengalir lembut di antara pulau-pulau yang melayang tanpa penyangga, membelai dedaunan yang berkilau bagai helaian emas, lalu menetes menjadi embun yang setiap pagi berubah menjadi mutiara bening di ujung daun.
Langit Banua Ginjang bukan satu hamparan yang diam. Ia hidup.
Kadang berwarna keemasan seperti padi menjelang panen, kadang memerah laksana ulos sirara yang baru selesai ditenun, lalu perlahan berubah menjadi nila tua yang dipenuhi bintang-bintang hidup. Bintang-bintang itu tidak sekadar bercahaya; mereka bergerak perlahan, saling menyapa, seolah setiap titik cahaya memiliki jiwa dan kisahnya sendiri.
Di tengah keluasan langit itu menjulang Hariara Bolon, sang Pohon Kehidupan Agung.
Batangnya begitu besar sehingga seratus burung garuda langit terbang berdampingan pun belum mampu mengelilinginya. Kulit batangnya berkilau seperti tembaga yang disiram cahaya fajar. Dari cabang-cabangnya bergelantungan buah-buah bening sebesar kendi kecil. Bila masak, buah itu tidak jatuh ke tanah, melainkan berubah menjadi cahaya yang beterbangan, lalu menjelma bagaikan kupu-kupu berwarna keemasan yang sangat indah.
Akar Hariara Bolon tidak hanya menembus tanah Banua Ginjang.
Ia menjalar hingga Banua Tonga yang masih berupa samudra purba, lalu terus merambat ke Banua Toru yang sunyi. Melalui akar-akar itulah keseimbangan ketiga dunia dijaga. Orang-orang bijak di Banua Ginjang percaya bahwa bila satu akar terluka, ketiga dunia akan ikut merasakan sakitnya.
Karena itulah Hariara tidak pernah dipandang sekadar pohon. Ia adalah pengingat bahwa segala kehidupan saling terhubung.
...****************...
Pada suatu pagi yang tidak pernah tercatat oleh sang waktu, embun turun lebih banyak daripada biasanya. Burung-burung berhenti bernyanyi. Angin yang biasanya berlarian di antara taman-taman langit mendadak melambat, seolah takut mengganggu sesuatu yang agung.
Di sebuah taman yang disebut Sopo ni Hasurungan —Taman Permulaan— ribuan bunga cahaya bermekaran serentak.
Kelopaknya bukan hanya berwarna merah ataupun putih. Sebagian berwarna biru seperti langit setelah hujan. Sebagian lagi hijau seperti daun muda. Sebagian lagi memancarkan cahaya keemasan yang lembut.
Bunga-bunga itu hanya mekar ketika Banua Ginjang hendak menyambut sebuah kehidupan baru. Para penjaga taman saling berpandangan. Mereka telah menyaksikan banyak kelahiran. Namun tak pernah sekali pun seluruh bunga mekar bersamaan.
"Pertanda apakah ini?" bisik seorang penjaga tua.
Belum sempat pertanyaan itu dijawab, terdengarlah desir angin yang membawa aroma tanah basah —aroma yang belum pernah ada di Banua Ginjang sebelumnya, sebab di sana belum pernah turun hujan.
Aroma itu begitu asing, tetapi entah mengapa menghadirkan rasa rindu yang sulit untuk dijelaskan logika.
...****************...
Di istana cahaya, Mulajadi Nabolon berdiri memandang ke arah taman.
Takhta-Nya tidak dibuat dari emas ataupun batu mulia, namun terbuat dari sinar yang memadat. Sederhana, tapi memancarkan kewibawaan yang membuat siapa pun yang memandangnya menundukkan kepala, bukan karena takut, melainkan karena hormat.
Di hadapan-Nya berkumpul para penghuni Banua Ginjang. Ada penjaga mata angin. Ada penenun cahaya. Ada pembawa embun. Ada pemahat awan.
Masing-masing memiliki tugas menjaga keteraturan semesta. Mereka hidup tanpa iri hati. Tanpa rasa rakus. Tanpa niat perang. Sebab mereka memahami satu ajaran yang kelak akan menjadi dasar kebijaksanaan banyak keturunan manusia:
..."Tidak ada kehidupan yang berdiri sendiri."...
...Segala sesuatu hanya dapat menjadi utuh ketika semuanya saling menopang....
Dalam budaya Batak kelak, kebijaksanaan itu akan hidup dalam banyak bentuk —dalam gotong royong, dalam penghormatan kepada keluarga dan dalam keseimbangan hubungan antar-manusia.
Benihnya telah tumbuh sejak Banua Ginjang ada.
...****************...
"Sudah waktunya." Suara Mulajadi Nabolon mengalun lembut. Tidak keras. Tetapi setiap daun Hariara bergetar mendengarnya.
Setiap tetes embun berkilau lebih terang. Setiap burung mengepakkan sayapnya bersamaan. Lalu, cahaya turun dari langit seperti hujan.
Bukan seperti cahaya yang menyilaukan mata. Melainkan ribuan benang-benang halus berwarna emas. Benang itu berkumpul di tengah taman. Berputar seakan sedang menari. Semakin lama semakin padat. Sampai akhirnya membentuk sebuah kepompong bercahaya.
Seluruh Banua Ginjang menahan napas ketika retakan kecil muncul di permukaan kepompong. Satu. Dua. Tiga. Lalu perlahan, kelopaknya terbuka.
Di dalamnya terbaring seorang bayi perempuan. Kulitnya secerah embun pagi. Rambutnya hitam legam seperti warna langit persis sebelum fajar. Matanya masih terpejam. Namun senyum kecil telah menghiasi wajahnya.
Anehnya, bayi itu tidak menangis. Ia justru menghela napas pelan. Dan ketika napas kecil itu akhirnya keluar, ribuan bunga di seluruh Banua Ginjang langsung bermekaran untuk kedua kalinya.
Burung-burung bernyanyi. Air terjun cahaya mengalir lebih deras. Pelangi-pelangi kecil bermunculan di udara.
Bahkan Hariara Bolon menggugurkan satu helai daun emasnya. Daun itu melayang perlahan. Turun. Hingga menutupi dada bayi tersebut seperti selimut.
Para tetua Banua Ginjang saling berpandangan. Belum pernah Hariara melakukan itu.
"Anak ini..." bisik seorang tetua, "...telah dipilih oleh semesta."
Mulajadi Nabolon mendekat. Untuk pertama kalinya sejak terciptanya tiga banua, senyum tipis menghiasi wajah Sang Pencipta. Ia mengangkat bayi itu dengan kedua tangan.
Mulanya mata si-bayi masih terpejam, namun sesaat kemudian, mata bayi mungil itu terbuka. Tatapan mereka bertemu.
Bukan cahaya yang terpancar dari kedua matanya. Melainkan rasa ingin tahu. Seolah-olah ia sedang bertanya kepada seluruh alam: "Dunia apakah ini?"
Mulajadi Nabolon menjawab dengan suara yang hanya dapat didengar oleh angin. "Ini adalah rumahmu... untuk sementara."
Kalimat terakhir itu tidak dipahami siapa pun. Namun angin menyimpan informasi itu rapat-rapat.
Sebab suatu hari nanti, ketika sang putri harus meninggalkan Banua Ginjang, angin akan mengembalikan kalimat itu sebagai pengingat, bahwa takdir sering kali memaksa seseorang meninggalkan rumahnya agar dapat membangun rumah bagi banyak orang lainnya.
Sang Pencipta lalu mengangkat bayi itu tinggi ke arah langit sambil berkata: "Namamu adalah Si Boru Deak Parujar."
Begitu nama itu diucapkan, seluruh Banua Ginjang bergema. Bukan oleh suara para penghuni langit. Melainkan oleh suara alam itu sendiri. Hariara Bolon berdesir. Air terjun cahaya bernyanyi. Bintang-bintang berkelip serempak.
Dan jauh... sangat jauh... di dasar Banua Toru, seekor naga purba yang telah tertidur selama ribuan zaman perlahan membuka sebelah matanya.
Belum ada yang mengetahui bahwa pada saat nama Deak Parujar pertama kali menggema di langit, takdir telah mengetuk pintu dunia bawah.
Naga Padoha juga telah mendengar nama itu.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 2: Taman Para Dewa dan Ramalan Sang Burung Erung.
..."Setiap bunga memiliki musimnya. Setiap bintang memiliki lintasannya. Tetapi hanya takdir yang mampu membuat keduanya bertemu."...
Pagi di Banua Ginjang tidak pernah datang dengan tergesa. Ia lahir perlahan, seolah-olah cahaya sendiri sedang menenun selimut baru bagi alam semesta.
Di ufuk timur, hamparan awan bening berwarna keperakan mulai mengembang seperti helaian ulos yang dibentangkan oleh tangan-tangan tak kasatmata. Sinar keemasan tidak langsung memenuhi langit. Mula-mula ia hanya berupa butiran embun cahaya yang melayang dari pucuk Hariara Bolon, lalu jatuh perlahan ke udara dan berubah menjadi ribuan kunang-kunang keemasan.
Ketika kunang-kunang itu menyentuh dedaunan, daun-daun pun terbangun. Mereka tidak bergemerisik. Mereka bernyanyi.
Setiap helai daun mengeluarkan nada yang berbeda. Jika didengar dari kejauhan, seluruh Banua Ginjang terdengar seperti sebuah gondang yang dimainkan tanpa tangan manusia. Irama itu mengalun lembut, mengisi udara dengan ketenangan yang hanya dimiliki dunia para dewa.
Para penghuni Banua Ginjang percaya bahwa selama Hariara Bolon masih bernyanyi setiap pagi, keseimbangan tiga banua akan tetap terjaga.
Mereka menyebut keseimbangan itu Hasangapon ni Banua —kemuliaan semesta yang lahir ketika setiap makhluk menjalankan tugasnya tanpa kesombongan.
Di kemudian hari, ketika manusia mulai menghuni bumi, kebijaksanaan itu akan menjelma menjadi nilai hidup: bahwa kehormatan tidak datang dari kekuasaan, melainkan dari kesediaan menjaga keseimbangan dengan sesama, alam dan iman kepada Sang Pencipta.
...****************...
Tidak jauh dari akar Hariara Bolon terbentang sebuah taman yang sangat indah, bahkan cahaya pun melangkah dengan hormat ketika mendekatinya.
Namanya Taman Sihaporas.
Tidak ada bunga yang layu di sana, karena tidak ada ranting yang patah. Setiap pohon tumbuh sesuai kehendaknya sendiri, namun tak satu pun saling berebut cahaya. Pohon-pohon berbuah kristal biru, bunga-bunga memancarkan aroma yang berubah mengikuti musim langit dan kolam-kolam bening-nya memantulkan bukan hanya pantulan wajah, melainkan isi hati siapa pun yang menatapnya.
Di taman inilah para dewa berkumpul setiap awal putaran waktu. Mereka bukan penguasa yang duduk di singgasana sepanjang hari. Masing-masing memikul amanah.
Ada yang menjaga angin agar tak pernah lupa jalan pulang. Ada yang mengatur hujan cahaya agar turun pada saat yang tepat. Ada yang membangunkan bintang setiap malam dan ada pula yang bertugas menenangkan mimpi seluruh penghuni Banua Ginjang.
Tak ada tugas yang dianggap lebih mulia daripada yang lain. Karena di hadapan keseimbangan, semua memiliki arti.
...****************...
Pagi itu, taman dipenuhi wajah-wajah yang jarang berkumpul dalam satu waktu. Penjaga empat penjuru langit datang. Para penenun cahaya datang. Para pemahat awan datang. Bahkan roh-roh sungai langit meninggalkan aliran mereka untuk beberapa saat.
Mereka semua berdiri menghadap ke arah balai batu kristal di tengah taman. Di sanalah Mulajadi Nabolon telah menunggu. Di pangkuannya tertidur tenang seorang bayi perempuan. Si Boru Deak Parujar.
Usianya baru beberapa hari menurut hitungan Banua Ginjang, tetapi setiap makhluk yang memandangnya dapat merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah anak kecil itu membawa musim baru yang belum pernah dikenal alam semesta. Saat ia menarik napas, bunga-bunga bermekaran. Saat ia tersenyum dalam tidurnya, burung-burung seakan bernyanyi dengan lebih merdu. Dan saat ia membuka mata, warna langit menjadi sedikit lebih cerah daripada biasanya.
Tidak seorang pun berani mengucapkannya. Namun semua merasakan hal yang sama. Anak itu tidak sekadar hidup di Banua Ginjang. Banua Ginjang sendiri seolah ikut hidup bersamanya.
...****************...
"Sudah lama kita tidak menyaksikan pertanda sebesar ini." Suara itu berasal dari seorang tetua berjanggut putih yang rambutnya memanjang hingga menyentuh tanah cahaya.
Ia dikenal sebagai Parbaringin, penjaga Pohon Kehidupan. Konon, setiap urat pada rambutnya menyimpan satu kisah sejak awal penciptaan.
Mulajadi Nabolon mengangguk perlahan, lalu berkata: "Semesta telah memilihnya."
"Tetapi..." Parbaringin menatap bayi itu dengan sorot mata yang dipenuhi kekhawatiran. "Setiap pilihan selalu meminta harga."
Angin tiba-tiba berhenti. Para dewa saling berpandangan. Kalimat itu menggantung seperti kabut yang enggan menghilang.
Belum sempat percakapan dilanjutkan, langit bergetar pelan. Bukan karena badai. Bukan pula karena petir. Melainkan oleh suara kepakan sayap yang sangat besar.
Bayangan panjang melintas di atas taman. Semua kepala menengadah. Seekor burung raksasa melayang turun dari ketinggian yang bahkan belum pernah dijelajahi penghuni Banua Ginjang.
Bulu-bulunya hitam kebiruan, tetapi setiap ujung sayap memancarkan cahaya keperakan seperti gugusan bintang. Paruhnya melengkung anggun. Matanya keemasan. Tatapannya tajam, namun tidak menakutkan.
Dialah Burung Erung.
Dalam kepercayaan para penghuni Banua Ginjang, Erung bukan sekadar burung. Ia adalah pembawa pertanda. Ia tidak pernah datang untuk memberi kabar baik ataupun buruk. Ia hanya menyampaikan apa yang telah ditulis oleh sang empunya waktu.
Selama ribuan putaran langit, Burung Erung hanya muncul sembilan kali. Dan setiap kemunculannya selalu mengubah sejarah semesta.
...****************...
Burung itu tidak hinggap di tanah. Ia melayang tepat di atas kepala Mulajadi Nabolon. Kemudian mengepakkan sayapnya sekali.
Seluruh bunga di taman menunduk. Kolam-kolam cahaya bergetar. Hariara Bolon menggugurkan tujuh helai daun emas. Lalu, Burung Erung mengeluarkan suara.
Bukan kicau. Bukan pekikan. Melainkan nada panjang yang terdengar seperti ribuan gondang dipukul bersamaan dari kejauhan.
Semua makhluk memejamkan mata. Karena mereka tahu, ramalan hanya dapat didengar oleh hati yang tenang.
Suara Burung Erung perlahan berubah menjadi kata-kata:
..."Anak cahaya akan berjalan menuju air. Air akan menjadi tanah. Tanah akan menjadi kehidupan. Kehidupan akan melahirkan manusia. Namun sebelum itu..."...
Burung Erung terdiam. Matanya yang keemasan menatap jauh melewati Banua Ginjang, seolah mampu melihat hingga ke dasar Banua Toru. Suasana menjadi sunyi.
Lalu ia melanjutkan dengan suara yang lebih berat:
..."Ia harus kehilangan langit... agar dunia memiliki rumah."...
Kalimat itu mengguncang hati setiap penghuni taman. Beberapa dewa menundukkan kepalanya merenung. Sebagian lain menatap bayi yang masih tertidur damai dengan raut khawatir.
Hanya Mulajadi Nabolon yang tetap tenang. Seakan-akan ramalan itu bukanlah kejutan baginya. Melainkan sesuatu yang telah lama ia ketahui.
Burung Erung kembali mengepakkan sayap.
Namun sebelum terbang meninggalkan taman, ia menjatuhkan sehelai bulu berwarna perak. Bulu itu melayang perlahan dan berhenti tepat di dada Deak Parujar.
Ajaibnya, bulu itu tidak jatuh lagi ke bawah. Ia melebur menjadi cahaya, lalu menghilang ke dalam tubuh sang bayi.
Tak seorang pun mengerti maknanya.
Tetapi Parbaringin berbisik lirih, "Mulai hari ini... takdir telah mengenali namanya."
Dan jauh di dasar Banua Toru, tempat cahaya tak pernah menyentuh dasar samudra purba, sepasang mata berwarna hijau tua kembali terbuka.
Naga Padoha tidak bergerak.
Namun untuk pertama kalinya sejak zaman tanpa waktu, ia mengangkat kepalanya, seolah mendengar gema ramalan yang baru saja diucapkan di langit.
Takdir mulai bergerak.
Dan bahkan para dewa belum mengetahui ke mana ia akan membawa putri kecil yang sedang tertidur damai di pangkuan Sang Pencipta.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke bab 3. Putri yang Berbicara kepada Angin.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!