Suara mesin bus bergemuruh pelan, berpadu dengan derit roda yang sesekali beradu dengan jalan berlubang. Kendaraan itu melaju membelah padatnya lalu lintas sore, berhenti di setiap halte untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Di dalamnya, udara terasa pengap. Aroma parfum, keringat, dan sisa makanan yang dibawa beberapa penumpang bercampur menjadi satu. Meski begitu, dua kursi di bagian tengah masih ditempati dengan santai oleh dua pemuda yang sama sekali tidak terlihat terganggu oleh keadaan sekitar.
Salah satunya duduk menyandarkan punggung sambil memainkan ponselnya. Rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin dari jendela yang terbuka. Sesekali sudut bibirnya terangkat karena membaca sesuatu di layar, entah pesan dari teman atau komentar-komentar konyol di media sosial. "Bro, coba liat ini."
Ponselnya disodorkan pada laki-laki di sampingnya. Tawa temannya langsung menyembur begitu melihat layar ponsel. "Parah, sih. Orang kayak gini masih aja ada," jawabnya masih diselingi tawa.
"Iya kan? Makanya gue bilang lucu."
Obrolan mereka mengalir begitu saja. Kadang membahas pertandingan sepak bola semalam, kadang saling mengejek tanpa alasan yang jelas. Tawa kecil beberapa kali terdengar dari bangku mereka, seolah hiruk pikuk di dalam bus bukan sesuatu yang perlu dipedulikan. Bus kembali berhenti, pintu otomatis terbuka perlahan.
Beberapa penumpang turun, tetapi jumlah yang naik justru lebih banyak. Dalam hitungan detik, lorong bus yang semula masih cukup lega berubah menjadi penuh sesak. Orang-orang saling bergeser, berusaha mencari ruang untuk berdiri tanpa saling bertabrakan. Seorang nenek dengan tas belanja kain menggenggam erat tiang besi di dekat pintu. Tak lama kemudian, seorang ibu hamil ikut masuk sambil melindungi perutnya dari desakan penumpang lain.
Bus kembali berjalan. Guncangan kecil membuat beberapa orang kehilangan keseimbangan. Ibu hamil itu refleks memegang tiang lebih kuat, sementara sang nenek harus mengatur napas agar tidak terjatuh. Terlihat jelas bahwa keduanya membutuhkan kursi saat ini. Tapi, tidak ada yang bergerak. Semua orang seakan sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang tetap menatap layar ponsel, ada yang berpura-pura tidur, dan ada pula yang sengaja mengalihkan pandangan ke luar jendela.
"Permisi."
Suara khas manusia bergender perempuan memecah riuh di dalam bus. Tidak keras, namun cukup jelas hingga beberapa kepala menoleh ke arahnya. Dua pemuda yang duduk di bangku tengah tetap asyik mengobrol, tidak teralihkan perhatiannya oleh suara perempuan itu. "Permisi," ucapnya lagi. Kali ini ia berdiri di hadapan dua pemuda yang asyik sendiri.
Kedua remaja laki-laki itu serempak mengangkat kepalanya. "Lo ngomong sama kita?" tanya salah satu remaja laki-laki itu.
"Kalian duduknya nyaman, ya?" gadis itu bertanya datar. Tatapannya bergantian mengarah pada mereka berdua, lalu pada seorang nenek dan seorang ibu hamil yang masih berdiri sambil berpegangan pada tiang bus. "Soalnya dari tadi ada nenek sama ibu hamil yang berdiri, tapi kalian kelihatannya ngga terganggu sama sekali."
"Masalah emangnya? Lagian, yang duduk di kursi itu bukan cuma kita. Banyak, tuh, remaja-remaja lain yang juga duduk di kursi, kenapa ngga ngomongnya sama mereka aja?" balas Jasver santai, sama sekali tidak merasa bersalah.
Gadis itu menghela napas pelan. "Jawaban lo itu cuma bikin gue makin yakin kalau lo emang ngga punya rasa malu."
Atmosfer di dalam bus mendadak sunyi. Beberapa penumpang tampak mencuri dengar perdebatan antara dua remaja yang sedang terjadi. Laki-laki bernama Jasver itu terdiam beberapa saat. Matanya beradu tatap dengan gadis di hadapannya.
"Gue sama Ren udah disini duluan sejak tadi. Kalo masalah mereka ngga kebagian tempat duduk, ya, bukan salah kami doang. Salah mereka juga yang ngga gercep," kilah Jasver, masih enggan mengakui kesalahannya.
Gadis itu mengangguk pelan. "Oke."
Jasver mengira perdebatan mereka akan selesai. Namun, di detik berikutnya, gadis itu kembali bersuara yang cukup menarik perharian penumpang. "Semoga nanti kalau orang tua lo ada di posisi mereka, orang lain juga mikirnya kayak gitu."
Tubuh Jasver membeku seketika. Kalimat gadis itu seolah menggantung di udara, membuat suasana di dalam bus semakin sunyi. Tatapannya perlahan bergeser ke arah seorang nenek yang masih berdiri sambil menggenggam erat tiang pegangan. Di sampingnya, seorang ibu hamil tampak mengusap pelan perutnya, berusaha menjaga keseimbangan setiap kali bus berguncang.
Untuk pertama kalinya sejak perdebatan itu dimulai, Jasver kehabisan kata-kata. Sementara Ren yang sedari tadi hanya menjadi penonton, kini mulai merasa tidak enak hati. Ia melirik Jasver sebentar, lalu kembali melihat ke arah nenek dan ibu hamil itu. "Ver..." bisiknya pelan. "Udah lah."
Rahang Jasver mengeras. Harga dirinya seperti sedang ditampar di depan puluhan pasang mata. Beberapa penumpang mulai melirik ke arahnya, bahkan ada yang mengangguk kecil seolah membenarkan ucapan gadis itu.
Sial. Kenapa jadi gue yang disalahin? batinnya dengan tangan yang masih terkepal.
"Silahkan duduk, nek," ucap Jasver singkat kepada nenek itu, berusaha terdengar biasa seolah keputusan itu datang dari dirinya sendiri.
Nenek tersebut tersenyum hangat. "Terima kasih ya, nak."
Ren ikut berdiri tanpa banyak bicara. "Ibu, silahkan duduk."
Ibu hamil itu membalas dengan senyum penuh rasa syukur sebelum perlahan menempati kursi yang baru saja dikosongkan. Bus kembali dipenuhi suara mesin dan percakapan pelan. Ketegangan perlahan menghilang. Jasver refleks menoleh ke arah gadis tadi. Ia berniat mengatakan sesuatu. Entah membalas atau menyindir.
Namun, gadis itu sudah lebih dulu memalingkan wajah. Baginya, urusan itu telah selesai. Ia kembali memasang earphone, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, sama sekali tidak tertarik melihat Jasver lagi. Remaja laki-laki itu mengernyit. Setelah ngomong setajam itu, gadis di hadapannya malah bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Jasver mendecak pelan seraya menyandarkan tubuhnya di badan bus. Tatapannya masih sempat mencuri pandang ke arah gadis itu. "Cantik sih... Tapi sayangnya kelakuannya mines. Amit-amit dah kalo di sekolah ada cewek modelan dia," gumam Jasver masih sempat curi-curi pandang.
♧♧♧
Bel istirahat baru saja berbunyi.
Dalam hitungan detik, koridor SMA Astra Nova yang semula sepi berubah menjadi lautan siswa. Suara obrolan bercampur dengan langkah kaki yang saling bersahutan. Beberapa siswa berhamburan menuju kantin, sementara yang lain memilih tetap berada di depan kelas masing-masing.
Jasver berjalan santai menyusuri koridor bersama Ren. Satu tangannya masuk ke dalam saku celana, sedangkan tangan satunya sibuk memainkan tutup botol minuman yang baru saja dibelinya. "Uy, Ver."
"Hm?"
"Pacar lo mana?" tanya Ren iseng.
Jasver mendengus pelan. "Ayangnya gue? Katanya, sih, nunggu di depan perpustakaan."
"Itu pacar yang baru jadian minggu kemarin kah?"
"Yashh."
Ren hanya terkekeh kecil. "Buset, baru seminggu doang udah ayang-ayang."
Jasver mengangkat bahu santai. "Namanya juga pacaran."
Baru beberapa langkah berjalan, pandangan Jasver menangkap sosok seorang gadis yang berdiri membelakangi mereka. Rambutnya panjang sebahu. Tinggi badan yang tidak sampai 170 cm dan tas sekolah yang dikenakan pun tampak begitu familiar. "Nah, itu dia."
Tanpa menunggu lebih lama, ia mempercepat langkahnya. Ren yang masih berada beberapa meter di belakang hanya mengernyit bingung.
"Lah? Cepet amat."
Sementara itu, Jasver sudah berdiri tepat di belakang gadis tersebut. "Hai sayang!" Tanpa pikir panjang, lengannya langsung melingkar santai di bahu gadis itu. "Dari tadi gue cariin malah diem di sini aja. Ngambek, ya?" tanyanya santai.
Gadis yang dirangkul Jasver menolehkan kepalanya, membuat dirinya dan laki-laki disampingnya saling memandang. Waktu seolah berhenti. Jasver yang awalnya masih memasang senyum santai mendadak membeku. Sepasang mata dingin itu menatap lurus ke arahnya. Dan entah mengapa Jasver merasa tak asing.
Dengan hitungan detik, Jasver langsung menarik lengannya secepat mungkin seolah baru saja menyentuh benda panas. "Eh–"
Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar. Ren yang baru tiba di samping Jasver ikut membelalakkan mata. "Astaga, Ver..."
Jasver menelan ludah. "Sorry..." Suara percaya dirinya yang biasa terdengar lantang kini berubah canggung. "Gue kira... lo pacar gue."
Koridor yang semula ramai mendadak terasa sunyi bagi Jasver. Beberapa siswa yang melihat kejadian itu mulai melirik penasaran. Sementara gadis di hadapannya masih diam seribu bahasa. Ia hanya menatap Jasver tanpa ekspresi. Tatapan itu justru membuat Jasver merasa jauh lebih tidak nyaman.
"Hobi banget ya..." ucap gadis itu datar. Jasver mengernyit. "...asal nyentuh perempuan."
Deg.
Kalimat itu sukses membuat pipi Jasver memanas. Ia spontan mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. "Eh, serius! Gue beneran salah orang tadi! Gue kira lo pacar gue."
Tatapan si cewek turun sebentar ke bahunya yang tadi dirangkul Jasver, lalu kembali menatap wajah laki-laki itu. "Kesalahan yang cukup sering dilakukan, atau baru pertama kali?"
Jasver langsung kehilangan kata-kata. Ren yang melihat sahabatnya dibungkam dua kali oleh orang yang sama hanya bisa menahan tawa. "Ver...," bisiknya pelan sambil menepuk bahu Jasver. "Kayaknya... karma lo dateng cepet, deh."
Si remaja laki-laki langsung memelototi sahabatnya. "Bangsat lo."
Ren semakin terkekeh. Sementara itu, gadis tersebut sudah berbalik dan melanjutkan langkahnya, seolah kejadian barusan bukan sesuatu yang pantas dipikirkan lebih lama. Jasver tanpa sadar mengikuti sosok itu dengan matanya hingga menghilang di balik belokan koridor.
Ia mengusap wajahnya kasar. "Kenapa lagi-lagi harus dia?" gumamnya.
Untuk kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut, harga diri Jasver berhasil dijatuhkan oleh gadis yang sama. Dan yang lebih menyebalkan... ia bahkan belum mengetahui nama gadis itu.
Bunyi bel panjang seolah menjadi aba-aba yang paling ditunggu hari itu. Dalam sekejap, kelas yang tadinya sepi langsung berubah menjadi ruang diskusi kecil yang acak. Beberapa anak sibuk merencanakan tempat nongkrong, sementara yang lain sibuk memasukkan buku tebal ke dalam tas dengan asal. Di koridor, langkah-langkah kaki terasa lebih santai, tidak ada lagi ketegangan jam pelajaran terakhir.
Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut siswi yang berjalan beriringan menuju gerbang, sambil sesekali tertawa renyah membahas hal bodoh yang terjadi di kelas tadi. Aroma takoyaki dan es teh manis dari seberang gerbang sekolah sudah melambai-lambai, menyambut mereka yang siap melepas penat.
Di bangku paling belakang, Jasver memasukkan buku seadanya ke dalam tas ranselnya. Resleting tas bahkan belum sempat ditutup rapat ketika Ren sudah berdiri di samping mejanya. "Buruan, Ver. Keburu penuh nanti keretanya."
"Iya, iya. Bawel."
Tak lama kemudian, mereka bertiga keluar dari kelas. Koridor sekolah masih dipenuhi lalu-lalang siswa yang hendak pulang. Beberapa guru tampak berjalan menuju ruang guru, sedangkan lapangan sekolah mulai dipenuhi anggota ekstrakurikuler yang bersiap latihan sore. Jasver mengembuskan napas panjang, membiarkan pundaknya merosot lesu. "Sumpah..."
Ren melirik sahabatnya itu sekilas dari sudut mata. "Kenapa lagi, lo?"
"Dua hari ini gue lagi apes banget."
Mendengar itu, Bumi yang tadinya berjalan santai di sisi kanan Jasver langsung menoleh tertarik. "Apes kenapa?"
"Gara-gara satu cewek."
Sebelah alis Bumi terangkat. "Hah? Gimana ceritanya?"
Belum sempat Jasver membuka mulut untuk menjelaskan, Ren sudah terkekeh lebih dulu. "Kalo diceritain tuh asli lucu banget, Bum!"
"Lo diem," desis Jasver sambil menyenggol bahu Ren dengan sikutnya.
Bukannya ciut, Ren justru semakin bersemangat. Ia berdeham pelan, menegakkan punggung seolah-olah hendak memulai sebuah dongeng besar. "Jadi gini... Kemarin di bus, ada cewek yang negur gue sama Jasver gara-gara kita tetep duduk, padahal ada nenek-nenek sama ibu hamil yang lagi berdiri."
Bumi mengangguk-angguk paham. "Terus?"
"Terus si Jasver malah ngajak debat."
"Kan gue cuma jelasin kondisinya–"
"Debat," potong Ren cepat, sama sekali tidak memberi ruang untuk pembelaan diri.
Jasver hanya bisa mendecak kesal, memilih memalingkan wajah. "Abis itu?" tanya Bumi yang mulai penasaran.
"Abis itu... si cewek cuma ngomong satu kalimat." Ren sengaja menjeda ucapannya, memberi efek dramatis. "'Semoga nanti kalo orang tua lo ada di posisi mereka, orang lain juga mikirnya kayak gitu.'"
Seketika Bumi meringis pelan. "Waduh! Langsung kena mental nih."
"Iya, kan?" Ren mengangguk mantap, puas karena mendapat simpati Bumi. "Habis itu Jasver langsung kicep. Ngga berkutik sama sekali."
"Gue bukannya ngga berkutik, ya." Jasver akhirnya bersuara, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang tersisa. "Cuma... males aja debat panjang lebar."
"Iya, iya. Males," sahut Ren defensif sambil mati-matian menahan tawa. Jasver memutar bola matanya jengah.
"Nah, apesnya ngga berhenti di situ. Hari ini..." Ren sengaja menggantung kalimatnya, melirik Jasver yang mulai memasang wajah siap membunuh. "...si bego ini salah rangkul cewek."
"WOI!"
"Lah, emang bener, kan? Salah rangkul."
Bumi langsung menghentikan langkah, menatap Jasver dengan mata membelalak. "Jangan bilang..."
"Iya," potong Jasver pasrah.
"Cewek yang sama?" Jasver tidak menjawab, membuat keheningan sesaat di antara mereka sebelum akhirnya tawa Bumi pecah begitu saja, menggema di koridor sekolah.
"HAHAHAHA! Serius lo, Ver?" Bumi sampai harus memegangi perutnya yang mendadak kram.
Jasver langsung menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan sebelah tangan. "Gue kira dia pacar gue, Jelas-jelas dari belakang rambutnya sama. Tasnya juga mirip banget."
"Terus pas ceweknya nengok..." Ren kembali menyambar cerita, menirukan ekspresi syok Jasver dengan mata melotot jenaka. "...dia langsung mematung, Bum!"
Tawa Bumi semakin meledak hingga sudut matanya berair. "Kasihan banget hidup lo, Ver. Sialnya borongan."
"Sumpah, diem lo berdua." Jasver mempercepat langkahnya karena tengsin.
Setelah beberapa saat, tawa mereka perlahan mereda. Bumi mengusap air mata di sudut matanya menggunakan ujung jempol, mencoba mengatur napasnya kembali normal. "Emangnya siapa sih ceweknya?"
Jasver hanya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Gatau."
"Kita juga belum kenalan," tambah Ren.
Bumi hanya mengangguk kecil. Namun, sebelum sempat menanggapi ucapan sahabatnya, suara dengung pengeras suara stasiun mendadak memutus obrolan mereka, menggema di langit-langit peron.
"Kereta tujuan berikutnya akan segera memasuki peron. Para penumpang diharapkan berdiri di belakang garis kuning."
Seketika itu juga, arus manusia di peron mulai bergerak gelisah. Kerumunan pelajar yang masih mengenakan seragam tampak memenuhi sisi peron. Sebagian asyik mengobrol heboh, beberapa memakai earphone sambil memejamkan mata, sementara sisanya sibuk menunduk menatap layar ponsel sembari sesekali melirik ke arah rel yang masih kosong.
Jasver, Ren, dan Bumi ikut bergeser, mengambil posisi di belakang garis pembatas kuning. Jasver kembali mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir sisa penatnya. "Semoga hari ini udah ngga ada kesialan lagi."
Ren meliriknya sekilas, lalu mendecak pelan. "Mulut lo tuh dijaga."
"Hah? Kenapa?"
"Biasanya, kalau lo ngomong kayak gitu–"
Belum sempat Ren menyelesaikan kalimatnya, Bumi tiba-tiba menghentikan langkah. Sudut matanya menangkap sesuatu. "Oh."
"Hm?" Jasver dan Ren menoleh hampir bersamaan, mengikuti arah pandang Bumi.
Seketika itu juga, dunia seolah berhenti berputar bagi Jasver. Wajah cowok itu langsung berubah datar. Tatapannya terkunci pada satu titik. "Ngga mungkin..." bisik Jasver tak percaya.
Beberapa meter dari tempat mereka berdiri, seorang gadis tengah berdiri menunggu kereta dengan tenang. Rambut hitam sebahunya bergerak tipis ditiup angin peron. Tas sekolahnya disampirkan santai di bahu kiri. Dan yang paling penting: tatapan matanya yang dingin, jenis tatapan yang masih sangat terekam jelas di memori Jasver.
Jasver membeku. "Dia lagi."
Bukannya bersimpati, Ren justru langsung membekap mulutnya sendiri, menahan tawa yang siap meledak. "Ver..."
"Sial," umpat Jasver lirih.
"Kesialan lo emang konsisten banget, asli," bisik Ren dengan bahu bergetar menahan tawa.
"Berisik, lo."
Namun, alih-alih ikut bersembunyi atau terdiam seperti kedua temannya, Bumi justru menunjukkan reaksi yang tak terduga. Cowok itu melangkah maju dengan santai, berjalan lurus menghampiri si gadis bus.
Jasver mengernyitkan dahi dalam-dalam. "Lah? Si Bumi mau ngapain?"
"Mau ngapain tuh anak?" Ren ikut berbisik heran, rasa tawanya mendadak lenyap digantikan rasa penasaran.
Bumi berhenti tepat di samping gadis itu, menyisakan jarak aman yang masih terhitung sopan. "Hai."
Mendengar suara asing di dekatnya, gadis itu menoleh, mengalihkan pandangan dari rel kereta. "Iya?"
"Maaf ganggu bentar," ucap Bumi ramah, lengkap dengan senyum tipis andalannya.
"Ada apa, ya?"
Bumi mengulurkan tangan kanannya dengan percaya diri. "Kenalin, aku Bumi."
Di belakangnya, Jasver dan Ren saling berpandangan dengan mata membelalak. "Kok dia sok akrab banget?" bisik Jasver, mendadak gemas sendiri.
Ren kembali menahan tawa, tapi kali ini karena takjub melihat kenekatan Bumi. "Iya, asem. Tau-tau ngajak kenalan."
Gadis itu terdiam sesaat, menatap uluran tangan Bumi sebelum akhirnya menyambutnya singkat. "...Aery."
"Boleh tau nama lengkapnya?" tanya Bumi lagi, suaranya terdengar begitu kasual.
"Aery Brooklyn."
"Nama yang bagus."
"Terima kasih," jawab Aery.
Kalimat yang keluar dari bibir gadis itu memang tetap singkat dan padat. Tetap saja, ada perbedaan besar yang kasatmata. Nadanya terdengar jauh lebih lembut dan tenang, berbanding terbalik dengan intonasi judes yang Jasver terima selama dua hari terakhir.
Jasver sampai harus berkedip beberapa kali, memastikan penglihatannya tidak salah. "Lah?"
Ren juga ikut melongo, kehilangan kata-kata. "Ver... Perasaan pas sama lo, dia kalau ngomong kayak mau nelen orang idup-idup."
"Iya, kan?!" sahut Jasver berapi-api, merasa mendapat validasi. "Gue ngga salah, kan?"
"Ini kok... sama Bumi biasa aja? Sopan malah."
Jasver menatap punggung Aery dengan dahi berkerut dalam. Pikirannya mendadak penuh dengan pertanyaan retoris. Loh... kenapa kalau sama Bumi bisa sesopan itu? Terus kenapa giliran sama gue... dia kayak punya dendam kesumat tujuh turunan?
Belum sempat Jasver menyelesaikan perang batinnya, Bumi tiba-tiba membalikkan badan. Dengan senyum tanpa dosa, cowok itu melambaikan tangan ke arah dua sahabatnya yang masih mematung di belakang garis kuning.
"Ver! Ren! Sini!" panggil Bumi cukup keras, membuat beberapa pelajar di sekitar mereka sempat menoleh.
Jasver rasanya ingin lenyap dari muka bumi saat itu juga. "Sialan si Bumi," desisnya panik.
"Maju, Ver. Jangan pengecut," goda Ren sambil menyenggol punggung Jasver, lalu dengan sengaja melangkah lebar membiarkan Jasver terpaksa ikut berjalan di sampingnya.
Begitu mereka berdua sampai di dekat Bumi, Aery otomatis menoleh. Sepasang mata jernih namun sedingin es itu langsung terkunci pada wajah Jasver. Detik itu juga, Jasver bisa melihat sudut alis Aery berkedut samar, tanda bahwa gadis itu langsung mengenali siapa cowok tegap di hadapannya ini.
"Kenalin, Ry. Ini temen-temenku," ucap Bumi santai, seolah tidak ada ketegangan kasatmata yang sedang terjadi. "Yang ini Ren."
"Aery," ucap Aery datar, mengangguk kecil pada Ren.
"Ren. Salam kenal, cewek bus–eh, maksudnya Aery," sahut Ren keceplosan, yang langsung mendapat injakan maut di atas sepatunya dari Jasver.
Bumi terkekeh pelan, lalu menepuk pundak Jasver agak keras. "Nah, kalau yang ini..."
"Ngga usah dikenalin. Gue udah tahu," potong Aery cepat. Suaranya mendadak turun satu oktav, kembali memancarkan aura mengintimidasi yang tempo hari membuat Jasver mati kutu di bus.
Jasver menarik napas dalam-dalam, mencoba menegakkan punggungnya demi menjaga harga diri laki-lakinya. "Gue juga ngga berniat kenalan, ya. Lagian yang hari ini... gue beneran ngga sengaja. Rambut sama tas lo mirip pacar gue dari belakang."
Aery melipat kedua tangan di dada, menatap Jasver dari atas ke bawah dengan tatapan menghakimi. "Yang kemarin di bus juga ngga sengaja?"
"Kalo yang di bus itu gue punya alasan–"
"Alasan males berdiri?" tembak Aery telak.
"Bukan!" Jasver mulai frustrasi, wajahnya memerah antara kesal dan malu. "Gue tuh kemarin abis latihan fisik buat tanding voli sampai kram! Makanya gue duduk!"
Aery terdiam sesaat. Tatapannya sedikit melunak, namun ekspresi datarnya tidak berubah. "Oh. Tapi tetep aja, sopan santun ngga bisa ditawar pakai alasan kram."
Jasver hendak membalas lagi, tetapi suara gemuruh roda kereta yang bergesekan dengan rel perlahan memotong perdebatan mereka. Angin kencang berembus seiring dengan datangnya rangkaian kereta yang perlahan melambat dan berhenti tepat di depan mereka. Pintu kereta terbuka otomatis, mengeluarkan embusan hawa AC yang dingin.
"Keretanya udah dateng. Yuk masuk," sela Bumi dengan nada super tenang, seolah baru saja menyelamatkan Jasver dari hukuman mati.
Aery tidak mengatakan apa-apa lagi. Gadis itu membalikkan badan dan melangkah masuk lebih dulu ke dalam gerbong yang lumayan senggang. Bumi menyenggol lengan Jasver yang masih berdiri kaku di peron. "Ayo, Ver. Malah bengong."
"Gue mau di gerbong lain aja," gerutu Jasver ketus.
"Halah, gengsi lo segede gaban," sahut Ren sambil merangkul leher Jasver dan menyeret cowok itu masuk ke dalam gerbong yang sama dengan Aery.
Di dalam gerbong, entah karena takdir atau memang Bumi yang sengaja, mereka akhirnya berdiri di area yang sama, hanya berjarak dua tiang pegangan dari tempat Aery berdiri. Jasver sengaja memalingkan wajahnya ke jendela, berpura-pura sangat tertarik melihat pemandangan dinding terowongan stasiun yang gelap.
Namun diam-diam, lewat pantulan kaca jendela kereta, Jasver bisa melihat Aery yang sedang mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk karakter anime kecil dari tasnya yang sempat lepas.
Seketika, mata Jasver membelalak kecil. Lho? Itu kan merchandise limited edition yang langka banget?
Satu alis Jasver terangkat. Rasa kesalnya mendadak buyar, digantikan oleh rasa penasaran yang luar biasa. Cowok itu melirik Aery lagi lewat pantulan kaca, menyadari bahwa di balik sifat judes dan dinginnya, gadis misterius ini ternyata punya sisi lain yang sama sekali tidak dia duga.
Matahari pagi baru saja meninggi ketika Jasver bersandar di pagar koridor lantai dua, menunggu bel masuk berbunyi. Di sampingnya, seorang gadis berambut panjang dengan tas ransel berwarna pastel sedang sibuk menceritakan pengalamannya berburu kosmetik akhir pekan lalu.
Gadis itu adalah pacar Jasver.
Jasver mendengarkan sambil sesekali mengangguk dan tersenyum, meski pikirannya agak melayang. Tangannya sesekali merapikan sejumput rambut pacarnya yang tertiup angin. Dari belakang, penampilan gadis ini memang persis seperti yang dia ingat: rambut hitam lurus yang jatuh di bahu dan tas pastel yang khas. Gara-gara detail itulah kemarin dia menanggung malu tujuh turunan di stasiun.
"Terus ya, Ver, masa kemarin–"
Ucapan sang pacar mendadak terputus saat derap langkah kaki lain mendekat dari arah tangga. Jasver secara refleks menoleh, dan detak jantungnya seolah melompat sedetik.
Seorang gadis berjalan melewati mereka dengan langkah tenang. Jasver mengerjap. Tunggu. Dia...
Itu Aery. Tapi penampilan gadis itu hari ini berubah total. Rambut hitam lurus sebahunya yang biasa dibiarkan tergerai kini dijalin menjadi kepangan rapi. Tidak ada lagi tas sekolah berwarna pastel yang kemarin sempat membuat Jasver salah mengenali orang. Hari ini, Aery menyampirkan tas ransel kain berwarna hitam polos yang tampak kontras dengan seragam putihnya.
Aery berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jasver. Namun, tepat saat melewati mereka, sudut matanya melirik Jasver sekilas. Tatapan dingin khasnya seolah berkata, 'Gue udah ganti tas sama model rambut, jadi jangan berani-berani salah rangkul lagi.'
Jasver menelan ludah, menahan diri untuk tidak mendecak. Segitunya banget biar ngga dibilang mirip, batin Jasver gemas.
Namun, kejutan aslinya baru saja dimulai.
"Eh, Aery!" Panggilan dari pacar Jasver membuat langkah kaki Aery seketika terhenti.
Jasver melotot kecil, menatap pacarnya dengan bingung. "Lo... kenal?" bisik Jasver panik.
Pacarnya tidak menjawab pertanyaan Jasver, melainkan justru melambaikan tangan ramah ke arah Aery. "Aery, tugas sosiologi kelompok kita yang bab kemarin udah lo rangkum, kan? Nanti gue minta catatannya di kelas, ya?"
Aery membalikkan badan dengan anggun. Ketegangan yang tadi sempat Jasver rasakan mendadak mencair dari wajah gadis itu. Dia mengangguk kecil, memberikan senyuman tipis –yang menurut Jasver terasa tidak adil karena sangat manis–ke arah pacar Jasver.
"Udah kok. Nanti pas jam pertama langsung gue kasih," jawab Aery, suaranya terdengar lembut dan normal. Sangat berbeda dengan nada judes yang biasa Jasver terima.
"Okey, makasih ya, Ry! Untung sekelas sama lo, lo penyelamat banget emang," sahut pacar Jasver sambil terkekeh pelan.
Aery hanya mengangguk sopan, lalu matanya bergulir pelan menatap Jasver yang sedari tadi mematung seperti patung selamat datang. Selama beberapa detik, tatapan mereka beradu. Ada kilat geli yang tersembunyi di balik mata dingin Aery saat melihat ekspresi syok Jasver yang luar biasa.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi pada Jasver, Aery membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam ruang kelas X-A yang terletak tepat di belakang mereka. Jasver masih melongo, menatap pintu kelas yang baru saja dilewati Aery. Otaknya mendadak loading keras.
"Ver? Kok bengong?" Pacarnya menyenggol lengan Jasver, membuyarkan lamunannya.
"Dia... sekelas sama lo?" tanya Jasver dengan suara yang agak serak karena terlalu syok.
"Iya, si Aery kan emang temen sebangkunya sekretaris kelas gue. Anaknya pinter banget tau, tapi emang agak pendiam dan kelihatan galak kalo belum kenal," jelas pacarnya panjang lebar tanpa curiga sama sekali. "Kenapa emang? Lo kenal dia?"
Jasver buru-buru menggelengkan kepala, memasang senyum sekaku kanebo kering. "Engga. Ngga kenal. Cuma... nanya aja."
Dalam hati, Jasver menjerit frustrasi. Dunia ternyata sempit sekali, dan kesialannya tampaknya baru saja naik ke level yang jauh lebih ekstrem. Kalau Aery sekelas dengan pacarnya, itu artinya... riwayatnya benar-benar berada di ujung tanduk kalau sampai gadis kepang satu itu buka mulut soal insiden bus dan salah rangkul kemarin.
♧♧♧
Jasver tahu hari ini adalah hari penghakiman. Sejak membuka mata di pagi hari, kepalanya sudah memutar skenario terburuk: pacarnya mengamuk, menuduhnya selingkuh dengan cewek kepang dua, lalu hubungan mereka berakhir tragis di koridor sekolah.
Ngga boleh. Ini ngga boleh terjadi, batin Jasver mantap sambil mengepalkan tangan di depan dada.
Maka di sinilah dia sekarang. Berdiri di koridor belakang sekolah yang sepi, tepat di dekat belokan menuju Lab Biologi yang jarang dilewati orang pagi-pagi begini. Jasver sengaja menunggu di sana karena dia tahu itu adalah rute satu-satunya dari gerbang belakang menuju kelas X-A.
Begitu mendengar derap langkah kaki yang teratur, Jasver langsung memasang badan.
Aery berjalan dengan langkah santai, kepangannya berayun pelan di punggung. Begitu matanya menangkap sosok tinggi Jasver yang berdiri menghalangi jalan, langkahnya melambat. Gadis itu tidak tampak terkejut, melainkan hanya menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi super datar.
"Minggir," ucap Aery dingin, langsung pada intinya.
"Tunggu, tunggu! Ry–eh, Aery. Gue mau ngomong bentar. Serius, bentar aja," pinta Jasver dengan nada setengah memohon, kedua tangannya merapat di depan dada sementara tangan kanannya menggenggam ponselnya erat-erat karena gugup.
Aery melirik jam tangan digitalnya. "Satu menit."
"Oke, satu menit cukup!" Jasver menarik napas dalam-dalam, lalu merendahkan suaranya hingga nyaris berbisik. "Gue mohon banget... lo jangan sampai bilang apa-apa soal kejadian salah rangkul kemarin, atau kejadian di bus, ke pacar gue. Tolong ya?"
Aery melipat kedua tangannya di dada, menatap Jasver dengan pandangan menilai. "Kenapa gue ngga boleh bilang? Bukannya jujur itu lebih baik?"
"Ya emang! Tapi posisinya salah paham banget, Ry!" Jasver mulai panik sendiri, tangannya yang memegang ponsel bergerak-gerak heboh menjelaskan. "Pacar gue tuh tipe yang gampang kepikiran. Kalau dia tahu gue salah rangkul cewek lain, yang kebetulan sekelas sama dia dan seimut... eh, maksudnya secantik lo–eh? Pokoknya dia bisa ngambek seminggu! Hubungan gue taruhannya, Ry. Tolonglah."
Aery diam. Sudut bibirnya berkedut samar mendengar Jasver yang nyaris keceplosan tadi, tapi dia cepat-cepat menyembunyikannya. Bukannya menjawab, pandangan mata Aery justru mendadak turun, terkunci pada bagian belakang ponsel yang dipegang Jasver.
Di balik softcase transparan ponsel Jasver, terselip sebuah photocard hologram berukuran saku. Itu adalah official merch photocard karakter anime favorit yang sangat langka karena hanya bisa didapat dari blind pack impor. Efek hologramnya berkilau indah saat terkena pantulan cahaya lampu koridor.
Aery mengerutkan keningnya sedikit, matanya sedikit melebar. "Itu..."
"Hah?" Jasver refleks melihat ponselnya sendiri. "Oh, ini?"
"Gue ngga akan sengaja cari gara-gara sama pacar lo," ucap Aery lambat-lambat, matanya masih menatap lekat-lekat pada photocard (PC) hologram tersebut. "Tapi kalau dia nanya, gue ngga suka bohong. Kecuali..."
"Kecuali apa?! Sebutin aja, gue turutin!" potong Jasver cepat.
Aery mendongak, menatap mata Jasver dengan senyum tipis yang tampak penuh kemenangan. "Kecuali lo lepas case HP lo sekarang, dan kasih PC hologram itu ke gue."
Jasver melotot, hampir menjatuhkan ponselnya. "Gila! Ini PC hologram limited edition, Ry! Gue bela-belain beli blind pack sampai habis lima ratus ribu demi dapet satu kartu ini!"
"Oh, yaudah." Aery melangkah maju, bersiap melewati Jasver. "Gue duluan. Mau nyari pacar lo di kelas."
"EH, IYA! IYA! AMBIL! AMBIL!" pekik Jasver panik.
Dengan gerakan super terburu-buru, Jasver melepas softcase ponselnya. Dia mengambil kartu tipis berkilau itu dengan sangat hati-hati, seolah sedang memegang barang pecah belah lalu menyerahkannya kepada Aery dengan wajah yang amat sangat melas.
Aery menerima kartu itu. Detik itu juga, pertahanan dingin di wajahnya runtuh sesaat. Matanya berbinar senang melihat karakter favoritnya yang berkilau di genggamannya. Dia memandangi kartu itu bolak-balik dengan senyum puas yang sangat manis, sebelum akhirnya menyelipkannya ke dalam saku rok seragam dengan aman.
"Deal," ucap Aery, kembali memasang wajah datarnya dalam sekejap. "Gue ngga tau apa-apa soal salah rangkul."
Jasver mengembus napas lega yang luar biasa, meski dadanya terasa sesak merelakan PC langkanya berpindah tangan. "Awas ya lo kalo bohong."
"Gue selalu pegang kata-kata gue," sahut Aery tenang. "Dan satu lagi..."
Aery melangkah mendekat, membuat Jasver refleks mundur satu langkah karena kaget. Gadis itu mendongak sedikit, menatap Jasver dengan tatapan geli.
"...rambut gue hari ini bagus, kan? Jadi lo ngga punya alasan lagi buat salah rangkul."
Sebelum Jasver sempat memproses kalimat itu, Aery sudah berjalan melewatinya dengan langkah ringan, menyisakan aroma samar buah persik yang harum dan Jasver yang mendadak mematung dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
♧♧♧
Jasver berjalan menyusuri koridor menuju kelas dengan langkah terseret, persis seperti zombi di film-film subuh. Bahunya merosot turun, pandangannya kosong menatap ubin lantai, sementara tangan kanannya menggenggam ponselnya yang kini tampak... sangat polos dan menyedihkan.
Begitu dia melangkah masuk lewat pintu kelas, dua pasang mata langsung menyambutnya dengan tatapan penuh selidik.
Ren dan Bumi sudah duduk manis di meja paling belakang. Di atas meja mereka, sudah ada beberapa bungkus gorengan hangat yang baru dibeli dari kantin.
"Waduh, panjang umur. Baru juga diomongin," celetuk Ren sambil mengunyah bakwan. Namun, begitu melihat ekspresi wajah Jasver, kunyahannya langsung melambat. "Lah, Ver? Muka lo kenapa lecek amat? Kayak habis ditolak semesta."
Jasver tidak menjawab. Dia menarik kursi kayu di sebelah Bumi dengan kasar, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana hingga menimbulkan bunyi berderit nyaring. Kepalanya langsung diletakkan di atas meja, berbantalkan kedua lengannya yang terlipat.
Sebuah helaan napas yang teramat sangat panjang terdengar dari sela-sela lipatan tangannya. Bumi yang sedari tadi sedang asyik membolak-balik buku matematika, perlahan menurunkan bukunya. Matanya langsung tertuju pada ponsel yang diletakkan Jasver di atas meja dengan posisi telentang.
Softcase transparan milik Jasver masih terpasang rapi di sana. Namun, pemandangan di balik case itu kini berubah drastis. Tidak ada lagi kilau holografis dari kartu anime kesayangannya. Yang tersisa hanyalah bagian belakang ponsel berwarna abu-abu polos yang tampak hampa.
Bumi menaikkan sebelah alisnya. "Ver, case HP lo kok polosan gini? PC hologram lo kemana?"
Ren langsung mencondongkan badannya ke depan, ikut mengamati ponsel Jasver. "Eh, iya asem! Kosongan begitu? PC hologram sejuta umat kesayangan lo yang biasa lo pamerin itu mana?!"
Mendengar kata "PC hologram", Jasver langsung menegakkan punggungnya dengan cepat. Wajahnya yang biasa terlihat tegap kini tampak memelas, matanya berkaca-kaca menatap kedua sahabatnya.
"Udah ngga ada," bisik Jasver dengan suara parau yang dibuat-buat dramatis. "Jiwa HP gue... udah direbut."
"Direbut siapa, bego? Begal?" tanya Ren bingung sekaligus gemas melihat dramatisasi sahabatnya.
"Sama penyihir berkepang," gumam Jasver lesu, lalu kembali menjatuhkan dahinya ke atas meja kayu yang dingin.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!