Indonesia
NovelToon NovelToon

Reinkarnasi Raja Iblis

kesadaran yang kembali

Suhu udara di Hutan Gelap Utara terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis selalu menyelimuti wilayah ini sepanjang tahun, membuat siapa pun yang melintasinya merasa was-was dan takut. Bagi penduduk kerajaan Aetheria, wilayah ini adalah batas paling ujung dari peradaban. Di sinilah letak Desa Hutan Kecil, tempat seorang anak bernama Ryn mulai membuka matanya.

Ryn merasakan sakit yang menusuk seluruh tubuhnya saat pertama kali membuka mata. Cahaya redup yang masuk melalui celah dinding gubuk kayu terasa menyilaukan, membuatnya memejamkan mata kembali selama beberapa saat. Perlahan-lahan, penglihatannya mulai jelas dan ia bisa melihat bentuk-bentuk sederhana di sekelilingnya.

"Aku... masih hidup?"

Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar kecil dan lemah. Itu bukan suaranya yang dulu. Suara yang ia ingat adalah suara berat, menggelegar, dan penuh dengan otoritas yang membuat siapa pun yang mendengarnya akan gemetar ketakutan. Tapi sekarang, suara ini milik seorang anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun.

Ryn mencoba menggerakkan tangannya, namun tubuhnya terasa ringkih dan lemah. Ia merasakan adanya energi yang tertidur di dalam dadanya—sebuah energi yang sudah ada di sana sejak lama, namun kini terasa terputus dan terkurung.

Ingatan mulai mengalir deras seperti air banjir yang menerjang pikirannya.

Vorthar. Itulah nama yang dulu melekat padanya. Raja Iblis yang memerintah Wilayah Kegelapan selama ribuan tahun. Penguasa yang ditakuti oleh semua makhluk di seluruh penjuru dunia. Kekuatannya begitu besar hingga para Dewa pun harus bersatu untuk melawannya.

Namun, kemenangan mereka hanyalah sebuah tipuan.

Vorthar ingat dengan jelas bagaimana ia dikhianati oleh orang-orang yang ia anggap sebagai sekutu. Di hari pertempuran terakhir, ketika pedang para Dewa menembus tubuhnya, ia melihat bahwa salah satu dari mereka adalah teman dekatnya sendiri. Mereka tidak memusuhinya karena kejahatan, tapi karena ketakutan. Ketakutan akan kekuasaan yang tak terbatas yang dimilikinya.

"Kamu terlalu kuat," kata Dewa Agung saat itu, senyum sinis terukir di wajahnya. "Dunia ini tidak bisa menampung keberadaanmu. Kamu harus lenyap."

Meskipun tubuhnya hancur, Vorthar tidak bisa sepenuhnya mati. Kutukan para Dewa membuat jiwanya terpisah dari jasadnya dan diasingkan ke alam reinkarnasi. Ribuan tahun berlalu, dan kini... ia terlahir kembali sebagai anak kecil bernama Ryn di dunia yang sama, namun dalam waktu yang berbeda.

"Jadi ini nasibku," gumam Ryn pelan. Ia mencoba duduk dan menopang tubuhnya dengan tangan kecilnya. "Aku kembali ke dunia ini bukan untuk hidup tenang. Aku kembali untuk membalas dendam. Dan aku akan mendapatkan kembali segala sesuatu yang dirampas dariku."

Saat ini, ia belum memiliki kekuatan seperti dulu. Inti kekuatannya yang besar telah terpecah menjadi serpihan kecil dan tertanam di dalam tubuh anak kecil ini. Sistem kultivasi di dunia ini juga berbeda dengan apa yang ia ketahui dulu. Di Aetheria, kekuatan dibagi menjadi tingkatan yang jelas: Pemula, Pejuang, Ahli, Master, dan seterusnya hingga mencapai tingkat Dewa. Namun, kekuatan kegelapan yang ia miliki dulu dianggap sebagai hal terlarang dan iblis oleh semua orang di sini.

Ryn turun dari tempat tidur gubuknya dan berjalan menuju pintu. Angin dingin menyapa wajahnya, namun ia tidak merasakan rasa sakit atau ketakutan. Di dalam dirinya, ada api yang perlahan mulai menyala kembali.

"Ryn!"

Suara panggilan membuatnya menoleh. Seorang wanita tua dengan wajah keriput dan mata yang penuh kelembutan mendekat. Itu adalah Ibu Marta, penduduk desa yang telah mengasuhnya sejak bayi. Ia menemukan Ryn terbaring di pinggir hutan saat itu dan membawanya ke desa untuk dirawat.

"Kamu sudah bangun? Aku khawatir sekali tadi malam," kata Ibu Marta sambil memegang bahu Ryn. "Kamu terlihat sedikit berbeda hari ini, Nak. Seperti ada beban besar yang kamu bawa."

Ryn tersenyum tipis, senyum yang jarang ia berikan sebelumnya. "Tidak apa-apa, Ibu. Aku hanya merasa lebih kuat dari sebelumnya."

Wanita itu menggelengkan kepala, merasa aneh dengan perubahan sikap anak itu. Selama ini Ryn selalu pendiam, jarang berbicara, dan sering menjadi sasaran ejekan anak-anak lain di desa karena penampilannya yang agak berbeda. Matanya yang berwarna ungu gelap jarang terlihat pada orang biasa, dan rambutnya yang berwarna hitam pekat seolah menyerap cahaya di sekelilingnya.

"Makanlah dulu. Aku sudah menyiapkan bubur hangat untukmu," ajak Ibu Marta.

Ryn mengangguk dan duduk di meja kayu yang sederhana. Saat ia memegang mangkuk bubur, ia bisa merasakan aliran energi kecil yang mengalir dari ujung jarinya ke seluruh tubuhnya. Ia mulai memahami bahwa tubuh barunya ini memiliki potensi yang luar biasa, meskipun belum bisa digunakan dengan maksimal.

Saat makan, ia mulai mempelajari situasi di sekitarnya. Desa Hutan Kecil adalah tempat yang sangat terpencil dan miskin. Penduduknya hanya terdiri dari sekitar lima puluh orang yang hidup dengan bertani dan berburu di hutan sekitar. Mereka tidak memiliki kekuatan kultivasi yang kuat, hanya sedikit yang bisa mencapai tingkat pemula saja.

Dan di luar desa, jauh di dalam hutan, ada wilayah yang dilarang dimasuki oleh siapa pun. Orang tua di desa sering bercerita bahwa di sana ada makhluk-makhluk jahat dan kekuatan gelap yang berbahaya. Namun Ryn tahu, wilayah itu dulunya adalah wilayah kekuasaannya sendiri.

Setelah selesai makan, Ryn keluar gubuk dan berdiri di bawah langit yang mulai terang. Kabut tipis perlahan menghilang, menampakkan pepohonan besar yang menjulang tinggi dan rimbun. Angin berhembus membawa aroma daun-daun dan tanah basah.

"Di sini aku akan mulai lagi," bisiknya dalam hati. "Aku akan membangun kekuatanku kembali, lebih kuat dari sebelumnya. Dan suatu hari nanti, aku akan menghadapi mereka yang mengkhianatiku. Para Dewa yang menganggap dirinya suci dan benar."

Di kejauhan, di atas bukit yang tinggi, sepasang mata merah menyala tiba-tiba terbuka. Itu bukan mata manusia biasa, melainkan mata yang penuh dengan kebijaksanaan kuno dan kekuatan yang tersembunyi. Sebuah kehadiran yang telah mengamati Ryn sejak ia terlahir kembali ke dunia ini.

"Raja Iblis telah kembali," bisik suara berat yang terdengar seolah datang dari jauh. "Permainan baru akan segera dimulai."

Ryn tidak menyadari kehadiran pengamat itu. Saat ini, satu-satunya hal yang ada di pikirannya adalah kekuatan, balas dendam, dan takhta yang akan ia rebut kembali. Hari ini hanyalah awal dari perjalanan panjang yang akan mengubah nasib seluruh dunia.

ingatan yang terbuka

Hari-hari berikutnya, Ryn hidup seperti anak-anak desa lainnya. Ia membantu Ibu Marta mengurus kebutuhan sehari-hari, membersihkan ladang kecil mereka, dan kadang ikut berburu di pinggiran hutan. Namun, di dalam pikirannya, hal-hal yang jauh lebih besar sedang terjadi.

Setiap malam setelah semua orang tidur, Ryn akan duduk bersila di tengah ruangan kecilnya dan mencoba mengendalikan energi yang ada di dalam tubuhnya.

Awalnya sangat sulit. Energi itu seperti api liar yang tidak mau terikat. Setiap kali ia mencoba memusatkannya, energi itu akan meledak atau kabur keluar, membuat tubuhnya terasa lemas dan sakit. Namun, Ryn tidak menyerah. Ia mengingat teknik pengendalian energi yang pernah ia gunakan sebagai Raja Iblis, meskipun sekarang harus disesuaikan dengan tubuh anak kecil ini.

Ribuan tahun pengalaman dan pengetahuan masih tersimpan dalam jiwanya. Itu adalah harta terbesar yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya. Meskipun ingatan visual dan kemampuan fisiknya telah berubah, pemahamannya tentang alam semesta, energi, dan hukum kekuatan tetap utuh.

Suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang di langit, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Saat Ryn memusatkan perhatiannya pada pusar, di sana ada titik kecil yang berkilau dengan cahaya ungu gelap. Perlahan-lahan, ia mulai memandu energi itu bergerak mengikuti jalur yang telah ia ingat. Jalur ini berbeda dengan jalur kultivasi yang digunakan oleh orang-orang di desa dan sekte-sekte besar di Aetheria.

Orang biasa mengikuti jalur cahaya dan kebaikan, energi yang mereka gunakan bersumber dari alam semesta yang murni dan suci. Tapi Ryn menggunakan jalur yang gelap dan tersembunyi—jalur yang dulunya disebut sebagai Jalur Iblis.

"Teruslah mengalir..." gumamnya pelan.

Energi di dalam tubuhnya mulai bergerak perlahan, mengikuti pola yang ia tentukan. Perlahan namun pasti, rasa sakit yang selama ini ia rasakan mulai hilang. Sebaliknya, ia merasakan aliran kekuatan yang hangat dan menyegarkan yang bergerak dari ujung kaki hingga ke kepala.

Saat itu, ingatan yang lebih dalam mulai terbuka. Bukan hanya ingatan tentang perang terakhir, tapi seluruh sejarah hidupnya yang panjang dan tak terhitung.

Ia melihat dirinya di masa muda, saat ia pertama kali menemukan kekuatannya. Ia melihat bagaimana ia membangun Wilayah Kegelapan dari tanah kosong menjadi tempat yang makmur dan kuat. Ia melihat bagaimana para makhluk kegelapan datang kepadanya, mengakui kekuasaannya dan menjadi pengikut setianya.

Ia juga melihat para Dewa dari sudut pandang yang berbeda. Dulu ia menganggap mereka sebagai musuh yang jahat, tapi sekarang ia mulai memahami sifat sebenarnya dari mereka. Mereka bukanlah makhluk suci yang menjaga keadilan, melainkan kelompok yang ingin menguasai segalanya. Mereka memandang kekuatan yang melebihi mereka sebagai ancaman, bukan sebagai sesuatu yang bisa dipelajari atau dipahami.

"Kekuatan itu tidak baik atau buruk," suara yang terdengar di dalam pikirannya. "Hanya tujuannya yang menentukan. Jika digunakan untuk kebaikan, maka ia adalah berkah. Jika digunakan untuk kejahatan, maka ia adalah kutukan. Tapi hal itu tidak berubah dari sifat kekuatannya sendiri."

Kalimat itu membuka pemahaman baru bagi Ryn. Selama ribuan tahun ia dipandang sebagai Raja Iblis yang kejam, padahal ia hanya ingin menciptakan dunia di mana semua makhluk, baik itu dari cahaya maupun kegelapan, bisa hidup bersama dalam keseimbangan. Namun, keinginan itu ditolak oleh para Dewa karena mereka ingin menjadi satu-satunya penguasa dunia.

Saat ingatan itu terus mengalir, Ryn merasakan bahwa inti kekuatannya di dalam tubuhnya mulai tumbuh sedikit demi sedikit. Ukurannya bertambah, dan kualitas energinya menjadi lebih murni dan kuat.

"Namun sekarang," pikirnya, "aku harus berhati-hati. Di dunia ini, siapa pun yang menggunakan kekuatan gelap akan diburu dan dimusuhi. Aku tidak bisa menampakkan kekuatanku secara terang-terangan sebelum aku cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri."

Saat matahari mulai terbit dan cahaya pertama menyelinap masuk ke gubuknya, Ryn akhirnya membuka matanya. Matanya yang berwarna ungu kini tampak lebih terang dan tajam, seperti dua permata yang berkilau di dalam kegelapan.

Ia merasakan perubahan yang nyata. Tubuhnya yang tadinya lemah kini terasa lebih kuat dan lincah. Ia bisa merasakan setiap hembusan angin, setiap detak jantung hewan di kejauhan, dan bahkan aliran energi yang mengalir di dalam tanah di bawah kakinya.

"Ini baru awal," katanya pada dirinya sendiri. "Setiap hari aku akan menjadi lebih kuat. Dan suatu hari nanti, semua orang akan tahu bahwa Raja Iblis belum mati. Ia hanya terlahir kembali dengan wujud baru."

Keesokan harinya, saat Ryn pergi ke ladang untuk membantu Ibu Marta, ia diperhatikan oleh beberapa anak desa. Anak-anak itu adalah kelompok yang sering mengejeknya dulu. Di antaranya ada anak laki-laki bernama Tiras, anak kepala desa yang merasa dirinya paling kuat dan paling berkuasa di desa.

"Heh, lihat siapa itu," seru Tiras sambil tertawa. "Anak aneh itu sudah bangun lagi? Aku dengar kamu sering masuk ke hutan larangan, kan? Kamu ingin dimakan oleh monster di sana?"

Teman-teman Tiras tertawa bersama, menatap Ryn dengan pandangan meremehkan.

Ryn berhenti berjalan dan menatap mereka satu per satu. Di mata anak-anak itu masih ada ketidaktahuan dan kekanak-kanakan, namun di dalam dirinya, tidak ada rasa marah yang tiba-tiba. Hanya ada ketenangan dan penilaian yang tajam.

"Jangan mendekati hutan itu," kata Ryn dengan suara yang tenang namun terdengar jelas dan tegas. "Karena apa yang ada di sana bukanlah monster seperti yang kamu pikirkan."

"Hah, berani sekali kamu bicara seperti itu!" Tiras berjalan mendekat, mengangkat tangan kecilnya seolah ingin memukul Ryn. "Kamu hanya anak tidak berguna yang tidak punya kekuatan. Hanya karena kamu ditemukan di hutan, kamu merasa lebih hebat?"

Saat tangan Tiras hampir menyentuh bahu Ryn, secara otomatis Ryn menggerakkan tangannya ringan. Tanpa menggunakan kekuatan yang berlebihan, ia hanya menahan pergelangan tangan Tiras dan mendorongnya perlahan.

Tiras yang berat tubuhnya justru terhuyung mundur beberapa langkah dan hampir jatuh ke tanah. Wajahnya memerah karena malu dan marah.

"Kamu... apa yang kamu lakukan?!" teriaknya.

Ryn tidak menjawab. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan yang membuat semua anak-anak itu tiba-tiba merasa takut dan tidak nyaman. Seolah ada sesuatu yang besar dan menakutkan bersembunyi di balik mata anak kecil ini.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Ryn berbalik dan melanjutkan perjalanannya menuju ladang. Ibu Marta yang melihat kejadian itu hanya menggelengkan kepala dengan cemas.

"Ryn, jangan menantang mereka. Mereka anak-anak desa, kita harus hidup damai di sini," kata wanita itu dengan suara lembut.

"Aku tidak ingin menantang mereka, Ibu," jawab Ryn sambil terus berjalan. "Aku hanya ingin mereka tahu bahwa tidak semua yang terlihat lemah itu mudah disakiti."

Di dalam hatinya, Ryn tahu bahwa hari ini adalah awal dari perubahan. Orang-orang di desa ini akan mulai melihatnya dengan pandangan yang berbeda. Namun itu bukan hal yang buruk. Karena untuk mencapai tujuannya nanti, ia tidak bisa tetap bersembunyi di tempat yang kecil dan terpencil seperti ini.

Ia butuh kekuatan. Ia butuh pengetahuan. Dan suatu hari nanti, ia harus meninggalkan desa kecil ini untuk memasuki dunia besar di luar sana. Dunia tempat para Dewa berkuasa, dan tempat di mana nasibnya akan ditentukan kembali.

dunia yang asing

Hari-hari di Desa Hutan Kecil berlalu dengan lambat, namun bagi Ryn, setiap detik terasa sangat berharga. Ia tidak hanya hidup seperti anak desa biasa, melainkan menggunakan waktu luangnya untuk memahami dunia tempat ia terlahir kembali.

Setiap malam, setelah semua orang tertidur pulas, Ryn akan duduk bersila di sudut gubuk kecilnya dan mempraktikkan teknik kultivasi yang ia ingat. Berbeda dengan orang-orang di desa yang hanya mengonsumsi energi alam yang lembut dan murni, Ryn belajar memisahkan dan mengolah energi gelap yang tersimpan di dalam dirinya.

Ia telah mempelajari bahwa di dunia ini, sistem kekuatan dibagi menjadi sepuluh tingkatan utama: Tingkat Awal, Tingkat Pemula, Tingkat Ahli, Tingkat Master, Tingkat Raja, Tingkat Kaisar, Tingkat Dewa Rendah, Tingkat Dewa Tengah, Tingkat Dewa Tinggi, dan akhirnya Tingkat Pencipta. Namun, yang paling ironis adalah bahwa kekuatan yang ia miliki sekarang—kekuatan Iblis—tidak terdaftar dalam sistem ini dan dianggap sebagai kekuatan terlarang yang bertentangan dengan alam semesta.

"Di mata mereka, kegelapan adalah kejahatan," gumam Ryn sambil merasakan aliran energi yang mulai stabil di dalam tubuhnya. "Padahal cahaya dan kegelapan hanyalah dua sisi dari satu koin. Satu tidak bisa ada tanpa yang lain. Namun karena ketakutan, mereka memilih untuk mengucilkan salah satunya."

Saat itu, Ryn memutuskan untuk tidak membuka identitas aslinya sebelum ia cukup kuat. Ia harus menyesuaikan teknik kekuatannya agar tidak terdeteksi sebagai kekuatan terlarang oleh siapa pun. Ia akan menyamarkan energi gelapnya menjadi energi biasa yang mirip dengan energi manusia, namun tetap menjaga kualitasnya agar tidak melemah.

Suatu sore, saat Ryn sedang membantu Ibu Marta memanen sayuran di ladang belakang desa, kepala desa—seorang pria tua bernama Bapak Goren—datang bersama dua orang pemuda desa. Mereka berjalan dengan langkah tegas dan wajahnya tampak serius.

"Ryn," panggil Bapak Goren. Suaranya berat dan penuh wewenang. "Aku ingin bicara sedikit denganmu."

Ryn berhenti bekerja dan menoleh. Ia melihat ketegangan di wajah Bapak Goren, serta pandangan curiga dari kedua pemuda di belakangnya.

"Ada apa, Bapak?" tanya Ryn dengan sopan.

"Kamu sering pergi ke arah Hutan Terlarang, bukan?" tanya Bapak Goren langsung tanpa berbelit-belit. "Orang tua di desa sudah berkali-kali memperingatkan. Hutan itu bukan tempat bagi anak sepertimu. Di sana ada makhluk-makhluk jahat yang dipanggil oleh kekuatan gelap."

Ryn menunduk sedikit, namun tidak merasa takut. "Aku hanya berjalan ke pinggirannya saja, Bapak. Tidak pernah masuk terlalu dalam."

"Itu juga berbahaya!" seru salah satu pemuda bernama Luka. Ia adalah keponakan Bapak Goren dan salah satu anak yang paling sombong di desa. "Kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya anak yang ditemukan di sana, jadi kamu merasa punya hubungan dengan tempat itu? Aku mendengar cerita dari kakekku bahwa di sana dulunya adalah tempat tinggal makhluk yang ingin menghancurkan dunia."

Ryn menatap Luka dan Bapak Goren dengan tenang. "Aku tidak bermaksud membahayakan siapa pun. Aku hanya ingin melihat sekeliling."

Bapak Goren menghela napas panjang, seolah sedang menahan emosinya. "Aku mengerti kamu anak yatim dan mungkin merasa kesepian, Ryn. Tapi demi keselamatan seluruh desa, aku memintamu untuk tidak mendekati hutan itu lagi. Jika kamu terus melanggar, aku akan meminta kamu meninggalkan desa ini."

Kalimat itu membuat Ibu Marta yang berdiri di samping Ryn menjadi cemas. "Bapak Goren, mohon berikan dia kesempatan. Dia anak yang baik dan tidak pernah menyusahkan siapa pun."

"Tidak bisa dihindari, Ibu Marta," jawab Bapak Goren dengan tegas. "Keamanan desa lebih penting daripada satu anak. Aku sudah memberi peringatan yang cukup."

Ryn merasakan tekanan di dadanya. Bukan tekanan fisik, melainkan tekanan karena ketidakadilan. Ia tahu bahwa ketakutan mereka bukan tanpa alasan, namun ketakutan itu membuat mereka menutup mata dari kebenaran.

"Baik, Bapak," jawab Ryn pelan. "Aku akan mematuhi perintahmu. Aku tidak akan mendekati Hutan Terlarang lagi."

Bapak Goren tampak lega mendengar jawaban itu. "Baiklah. Ingatlah perkataanku. Sekarang kembali ke rumah dan jangan keluar sembarangan."

Setelah mereka pergi, Ibu Marta menatap Ryn dengan wajah khawatir. "Maafkan mereka, Ryn. Mereka hanya takut. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya ada di sana."

"Aku tidak marah, Ibu," jawab Ryn sambil tersenyum tipis. "Tapi suatu hari nanti, mereka akan mengerti bahwa apa yang mereka takuti sebenarnya bukan musuh, melainkan bagian dari dunia ini."

Malam harinya, Ryn duduk di gubuknya dan memikirkan percakapan tadi. Ia mulai menyadari bahwa tinggal di desa kecil ini tidak akan membantunya berkembang. Pengetahuan dan kekuatan yang ia butuhkan tidak bisa didapatkan hanya dengan bekerja di ladang dan berburu. Ia butuh guru, ia butuh literatur, dan ia butuh tempat di mana orang tidak akan menghakiminya hanya karena jenis kekuatan yang ia gunakan.

"Desa ini adalah kandang sementara," pikirnya. "Aku akan tinggal di sini sebentar lagi untuk menyempurnakan dasar kekuatanku, tapi kemudian aku harus pergi. Aku harus memasuki dunia besar dan mencari jalan untuk menjadi kuat kembali."

Saat ia sedang melatih energinya, tiba-tiba udara di sekitarnya berubah. Suasana menjadi dingin dan sunyi, seolah waktu berhenti sejenak. Ryn segera menghentikan gerakannya dan membuka matanya dengan waspada.

Di sudut ruangan yang gelap, sebuah bayangan perlahan mulai terbentuk. Bayangan itu tidak memiliki bentuk yang jelas, namun Ryn bisa merasakan kehadiran yang sangat tua dan kuat. Kehadiran itu tidak berniat jahat, melainkan seolah sedang mengamatinya dengan penuh minat.

"Kamu memiliki rasa yang aneh, anak kecil," suara itu terdengar di dalam pikiran Ryn, bukan keluar dari mulut bayangan itu. Suaranya lembut namun membawa kekuatan yang membuat Ryn tidak bisa bergerak.

"Siapa kamu?" tanya Ryn dengan tenang, meskipun hatinya sedikit berdebar.

"Aku hanyalah seorang pengembara yang lama tinggal di sini," jawab suara itu. "Aku sudah mengamatimu sejak kamu terbangun di desa ini. Aku melihat bagaimana kamu melatih dirimu, dan aku melihat bahwa di dalam dirimu ada api yang jauh lebih besar daripada yang kamu sadari."

Ryn menatap bayangan itu dengan tajam. "Apakah kamu juga menganggapku sebagai makhluk jahat karena kekuatanku?"

Bayangan itu perlahan bergerak mendekat, dan kini Ryn bisa melihat sepasang mata berwarna emas yang bersinar samar di tengah kegelapan.

"Kekuatan itu sendiri tidak baik atau buruk," kata sang pengembara. "Hanya tujuannya yang menentukan. Aku melihat bahwa kekuatan dalam dirimu bersumber dari keinginan untuk melindungi dan membalas ketidakadilan. Itu bukan sifat kejahatan. Itu sifat keberanian."

Ryn merasa lega mendengar kata-kata itu. Selama ini ia selalu merasa terisolasi dan dipandang rendah karena jenis kekuatannya. Mendengar penilaian dari makhluk yang begitu kuat membuatnya merasa bahwa ia tidak sendirian.

"Siapakah nama mu?" tanya Ryn.

"Nama lama sudah terlupakan," jawab sang pengembara. "Banyak orang memanggilku Tuan Bayangan. Aku tinggal di pinggiran hutan ini dan kadang membantu penduduk desa jika ada bahaya besar. Hari ini aku datang karena aku ingin menawarkan sesuatu padamu."

"Apa itu?"

"Aku bisa mengajarkanmu cara mengendalikan kekuatanmu dengan benar," ucap Tuan Bayangan. "Tapi ada syaratnya. Kamu harus tetap menjaga rahasia ini, dan suatu hari nanti, jika dunia membutuhkan, kamu harus memilih jalan yang benar, bukan jalan yang ditetapkan oleh orang lain."

Ryn terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Aku menerima tawaran itu. Aku siap belajar."

"Bagus," jawab Tuan Bayangan. "Mulai besok malam, datanglah ke tempatku di dalam hutan. Jangan memberitahu siapa pun. Dan ingatlah, jalan yang kamu pilih ini akan penuh rintangan, tapi itu adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran."

Setelah berkata demikian, bayangan itu perlahan menghilang dan udara kembali hangat seperti semula. Ryn duduk diam di tempatnya, merasakan harapan baru yang mulai tumbuh di dalam hatinya.

"Mulai besok, perjalanan nyataku akan dimulai," bisiknya. "Aku tidak akan kembali menjadi orang yang sama seperti sebelumnya. Aku akan menjadi kuat, dan suatu hari nanti, aku akan membalas semua yang telah dirampas dariku."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!