Indonesia
NovelToon NovelToon

Fitnah Dibalik Gaun Pengantin

Tipu Muslihat Sang Kakak

Lampu-lampu kristal Hotel Grand Imperial menyala terang memantul di setiap sudut ruangan. Para staf hotel berlalu-lalang mempersiapkan segala sesuatu untuk pesta pernikahan keluarga Hartono yang akan digelar esok pagi. Semuanya sudah disiapkan jauh-jauh hari penuh niat dan waktu yang cukup matang.

Di lantai paling atas, seorang wanita berdiri di depan cermin dengan gaun tidur berbahan satin yang membalut tubuhnya. Wanita itu adalah Alicia Grace. Ia menatap pantulan dirinya beberapa saat sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

"Besok..." gumamnya lirih. "Semua akan berakhir."

Entah apa yang sedang dipikirkan oleh calon mempelai itu, namun detik berikutnya senyumnya perlahan memudar karena ia mendengar suara ketukan di pintu.

Tok... tok... tok...

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan. Seorang gadis berwajah lembut masuk sambil membawa paper bag berisi beberapa perlengkapan yang diminta Alicia.

"Kak, ini semua barang yang tadi Kakak pesan."

Naomi Clarisse tersenyum kecil, lalu meletakkan kantong belanja itu di atas sofa. Alicia segera menghampirinya, senyum ramah kini terukir jelas di bibirnya.

"Terima kasih sudah mau datang malam-malam begini."

Naomi menggeleng. "Besok Kakak menikah. Masa aku menolak permintaan calon pengantin?"

Mendengar jawaban itu, Alicia terkekeh pelan lalu memeluk adiknya erat. Waktu benar-benar berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin mereka masih berlarian dan bersepeda bersama di halaman rumah. Namun sejak kecil, setiap kali Alicia menangis atau terluka karena kesalahannya sendiri, Naomi-lah yang selalu menjadi pihak yang disalahkan oleh mama mereka. Seolah apa pun yang terjadi, adiknya itu memang diciptakan untuk menanggung kesalahan orang lain.

  "Dek, Kakak minta maaf ya, karena sedari kecil Adik suka dimarahi Mama hanya gara-gara masalah sepele," ujarnya setelah melepas pelukan dari adiknya.

Naomi sedikit tertegun. Ia tak pernah menyangka kakaknya akan mengakui kesalahpahaman yang terjadi bertahun-tahun lalu. Selama ini, ia selalu berpikir Alicia tak ubahnya sang mama—sama-sama lebih mudah menyalahkan dirinya daripada mencari tahu kebenaran.

"Kak," ucap Naomi pelan. "Aku tidak menyangka kalau Kakak masih mengingat kejadian itu. Jujur saja... selama ini aku pikir Kakak juga menyalahkanku."

  "Dulu memang begitu, tapi seiring dengan perjalanan waktu, Kakak sadar. Ternyata selama ini kamu banyak menanggung kesalahan yang tidak pernah kamu lakukan, dan itu semua pasti tentang aku. Untuk itu di malam ini Kakak minta maaf ya," ucapnya seolah penuh ketulusan.

 Alicia memandang Naomi dengan senyum lembut yang tampak tulus. Percakapan mereka mengalir begitu saja, diselingi tawa kecil dan kenangan masa lalu yang perlahan mencairkan kecanggungan di antara keduanya. Naomi bahkan mulai percaya bahwa malam itu adalah awal dari hubungan kakak beradik yang selama ini ia dambakan. Tepat ketika suasana terasa begitu hangat, Alicia menggenggam tangan adiknya erat dan mengucapkan sebuah permintaan yang ia sebut sebagai permintaan terakhir sebelum resmi menjadi seorang istri.

  "Oh ya Dik, untuk malam ini saja. Apa boleh Kakak minta sesuatu?" tanya Alicia.

"Apa itu Kak," sahut Naomi.

  "Temani Kakak malam ini, ya?" ucap Alicia lembut. "Besok Kakak sudah punya kehidupan baru. Jadi, malam ini Kakak ingin kita benar-benar menjadi kakak dan adik seperti yang seharusnya. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi luka yang kita simpan sendiri. Percayalah, seburuk apa pun keadaan nanti, kita tetap saudara kandung. Hubungan kita tidak boleh dipisahkan oleh apa pun."

Naomi benar-benar tersanjung mendengar kalimat itu, ia pun mengangguk tanpa rasa curiga.

"Tentu, Kak. Aku juga ingin kita bisa dekat seperti dulu. Kalau malam ini bisa menjadi awal yang baru untuk kita, aku akan menemani Kakak."

"Makasih banyak ya Dek," ucap Alicia sekali lagi.

Naomi mengangguk kecil. Keheningan kembali menyelimuti kamar hotel. Setelah obrolan panjang tentang masa lalu, Alicia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu tersenyum kecil.

"Sepertinya kurang lengkap kalau kita mengobrol tanpa camilan dan minuman dingin."

 Usai mengucapkan kalimat itu, Alicia beranjak dari kursinya meninggalkan Naomi yang sama sekali tidak menaruh curiga. Wanita itu berjalan menuju minibar yang tersedia di dalam kamar hotel. Ia mengambil dua gelas kristal. Menuangkan jus jeruk ke dalam keduanya.

Namun saat punggung Naomi membelakanginya, Alicia membuka sebuah botol kecil dari dalam laci. Beberapa tetes cairan bening jatuh ke salah satu gelas.

Alicia mengaduknya perlahan. Senyumnya semakin lebar, saat melirik wajah polos Naomi yang tidak mengerti apa-apa.

Setelah selesai, Alicia membawa nampan yang berisi dua gelas dan juga beberapa cemilan.

"Ini."

Ia menyerahkan salah satu gelas kepada Naomi. "Untuk calon adik ipar keluarga Hartono."

Naomi tertawa kecil. "Kakak ini."

Tanpa berpikir apapun, ia langsung meminum habis jus itu. Mereka mengobrol cukup lama.

tentang masa kecil, juga tentang kenangan bersama yang penuh dengan asam manis kehidupan keduanya.

Namun beberapa menit kemudian. Naomi mengerutkan kening. Entah mengapa kepalanya terasa sangat berat.

"Kak..."

Alicia menoleh. "Ada apa?"

"Aku..." Naomi memijat pelipisnya. "Kenapa tiba-tiba mengantuk sekali?"

Alicia berjalan mendekat. Tangannya mengusap lembut rambut sang adik. "Capek, mungkin."

"Iya... mungkin...."

Akan tetapi beberapa detik kemudian penglihatan Naomi mulai kabur. Ruangan di depannya perlahan berputar ia mencoba berdiri. Namun tubuhnya justru limbung.

Bruk!

Untung Alicia lebih dulu menahan tubuhnya, namun di sisi lain wanita itu langsung tersenyum tipis seolah misinya berhasil ia jalankan.

"Maafkan aku, Naomi." Suara Alicia terdengar begitu dekat di telinganya.

Naomi berusaha membuka mata. "Kak...?"

Tatapannya semakin buram. Ia melihat Alicia tersenyum tapi senyum itu terasa asing. Bukan senyum hangat yang selama ini dikenalnya tetapi senyum penuh kemenangan.

"Mulai malam ini, kau yang akan menjalani hidup yang seharusnya menjadi milikku."

Jantung Naomi berdetak semakin cepat.

Ia ingin bertanya, ingin memahami maksud ucapan itu. Namun bibirnya terasa kelu dan tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.

Tok... tok...

Alicia membukanya. Tiga pria berbadan tegap mengenakan setelan hitam memasuki ruangan.

"Semuanya sudah siap, Nona?" tanya salah satu dari mereka.

Alicia mengangguk pelan. "Ya."

"Lalu wanita ini?"

Alicia menoleh ke arah Naomi yang kini tak sadarkan diri di atas sofa, tatapannya datar seolah tak ada sedikit pun rasa bersalah.

"Bawa dia..."

Ia berhenti sejenak. Lalu mengucapkan kalimat yang akan menghancurkan kehidupan adiknya. "...ke kamar Nathaniel Wijaya."

Tubuh Naomi diangkat perlahan. Kepalanya terkulai lemah, sementara kesadarannya benar-benar telah menghilang. Di saat yang sama, Alicia meraih koper yang sudah dipersiapkannya sejak beberapa hari lalu.

Ponselnya bergetar, ia membuka pesan itu.

Adrian: Aku sudah menunggumu di parkiran belakang.

Senyum tipis terukir di bibir Alicia, perempuan itu menatap kamar hotel ini untuk yang terakhir kalinya.

"Selamat tinggal, Nathan." Tatapannya beralih ke arah Naomi. "Dan selamat tinggal... Naomi."

Tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, Alicia melangkah keluar dari kamar hotel.

Bersambung .....

Assalamualaikum Kak ....

Aku datang lagi dengan karya baruku. Minta doa dan dukungannya untuk buku terbaruku ini.

Pagi Yang Menghancurkan

Sinar mentari pagi perlahan menyelinap melalui celah tirai kamar Hotel Grand Imperial. Cahaya keemasan itu jatuh tepat di atas ranjang berukuran king size yang masih tampak berantakan.

Di atas ranjang itu, seorang pria bertubuh tegap mengerjapkan matanya perlahan.

Nathaniel Wijaya mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya. Semalam ia baru bisa memejamkan mata menjelang dini hari setelah menghadiri jamuan keluarga dan menyelesaikan beberapa urusan penting.

Hari ini seharusnya menjadi hari paling berbahagia dalam hidupnya. Nathan duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih segelas air mineral di atas nakas. Namun baru saja hendak meneguknya, gerakannya mendadak terhenti.

Alisnya bertaut di sampingnya seseorang masih tertidur pulas dengan posisi membelakanginya. Rambut panjang wanita itu menutupi sebagian wajahnya. Nathan menatap beberapa saat. Dadanya mendadak dipenuhi firasat buruk.

"Itu bukan Alicia...."

Rahangnya mengeras. Tanpa berpikir panjang, ia menarik selimut yang menutupi tubuh wanita itu.

"Bangun!" Bentakannya menggema di dalam kamar.

Naomi mengerang pelan. Kepalanya terasa sangat berat. Dengan susah payah ia membuka mata. Pandangannya masih buram.

Namun begitu melihat seorang pria asing berdiri tepat di hadapannya, tubuhnya langsung menegang.

"Kak Nathan...."

Seketika tubuh Naomi membeku, ia benar-benar tidak percaya melihat pria yang berdiri di hadapannya itu.

Sementara Nathan tertawa sinis. "Berani juga kamu berucap begitu."

Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Naomi dengan kasar hingga gadis itu meringis kesakitan.

"Kubilang, kamu siapa? Dan kenapa bisa berada di kamarku?" paksa Nathan.

"Lepaskan... sakit...."

Naomi berusaha menarik tangannya. Namun cengkeraman Nathan justru semakin kuat, selama ini dirinya memang tidak pernah diajak dalam perkumpulan keluarga, bahkan acara pernikahan sang kakak pun dia tidak diikut sertakan hingga membuat pria itu tidak mengenali siapa dia. Tapi hal itu sama sekali tidak penting untuk di jelaskan sekarang.

Sementara Nathan masih dipenuhi amarah karena kemunculan seorang gadis lain didalam kamarnya.

 "Aku tidak pernah membawa wanita asing ke kamar ini!" bentaknya. "Siapa yang menyuruhmu masuk?"

Naomi menggeleng panik. "Aku... aku juga tidak tahu," jelas Naomi sambil memegangi pilipisnya yang masih terasa pening.

"Bohong!"

Nathan melepaskan tangannya dengan kasar hingga Naomi terdorong dan kembali terduduk di atas ranjang.

"Hari ini hari pernikahanku!" geramnya. "Lalu aku bangun dan menemukan wanita asing di sampingku. Menurutmu aku harus percaya begitu saja?"

Naomi memegang kepalanya yang kembali berdenyut. Potongan-potongan ingatan semalam mulai bermunculan. Kamar Alicia dan satu gelas jus, dan yang ia rasakan kantuk tiba-tiba datang, lalu ....

Wajah Naomi seketika memucat. "Astaga...."

Nathan menatap gadis itu dengan sorot mata tajam. "Jangan berpura-pura tidak tahu!"

"Aku sungguh tidak ingat apa-apa...."

Nathan mengepalkan kedua tangannya. "Aku muak dengan wanita licik sepertimu."

Naomi masih mencerna apa yang dia ingat barusan, tidak mungkin Alicia menjebak dirinya ke dalam pelukan Nathan, sedangkan selama ini dia tahu jika sang kakak begitu mencintai priadi hadapannya itu.

"Aku beneran tidak bohong Tuan, tapi semalam aku ingat tidur di dalam kamar kak ..." belum sempat Naomi melanjutkan pria itu langsung menyerobot pertanyaannya.

 "Kamar siapa yang kamu maksud itu," selanya. "Ingat ya beribu alasan yang keluar dari mulutmu sekalipun aku tidak percaya, dan aku tidak akan memaafkanmu jika sampai acaraku hancur gara-gara ulahmu!"

Pria itu baru saja hendak meraih ponselnya untuk memanggil petugas keamanan.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan terdengar dari balik pintu.

"Nathan!" Suara Eric terdengar cukup keras dari luar.

"Kami masuk!"

Nathan mengerutkan dahi. Ia melirik Naomi yang masih terduduk lemas di atas ranjang, lalu kembali menatap ke arah pintu.

"Tunggu sebent—"

BRAAAAK!

Kalimatnya terputus ketika pintu kamar didobrak dari luar.

Eric Hartono berdiri paling depan, disusul istrinya Merry, lalu dibelakangnya pasangan Wijaya, beberapa kerabat keluarga Hartono, hingga beberapa staf hotel yang sejak tadi bertugas mempersiapkan prosesi pernikahan.

Mereka datang dengan wajah penuh senyum. Karena mengira calon mempelai perempuan ada di kamar calon pengantin pria. Namun senyum itu lenyap dalam sekejap begitu pandangan mereka mengarah ke dalam kamar.

  Semua orang tercengang saat menyadari ternyata perempuan yang duduk di pinggiran ranjang itu bukan Alicia, tapi justru adiknya

sementara Nathan berdiri hanya beberapa langkah darinya.

Pemandangan itu cukup untuk menimbulkan berbagai prasangka, apalagi beberapa keluarga Hartono yang tahu siapa Naomi.

 "Wah ternyata ini alasan Alicia kabur dari pernikahannya," bisik salah satu keluarga.

  "Iya pantas saja dia memilih pergi, ternyata sang adik yang selama ini berperan sebagai Upik Abu, lebih badas dari kakaknya," timpal lainnya.

Bisikkan itu samar-samar terdengar Wajah Richard yang semula dipenuhi kebanggaan perlahan berubah pucat. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya tampak menonjol menahan amarah. Di sampingnya, Merry spontan menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya membelalak seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

"Na... Naomi?" lirihnya dengan suara bergetar.

Nathan mengatupkan rahang. Tatapannya berubah semakin dingin. Ia sama sekali tidak menyangka keluarganya akan datang di saat yang paling buruk.

Sementara itu, Naomi merasa seluruh tubuhnya gemetar. Wajahnya semakin pucat ketika melihat kedua orang tuanya berdiri di ambang pintu.

"P-Papi... Mami..." ucapnya lirih sambil menggeleng pelan. "Ini bukan seperti yang kalian pikirkan...."

Namun belum sempat Naomi menjelaskan apa pun, Eric melangkah lebar menghampirinya. Tatapannya dipenuhi amarah yang selama ini belum pernah Naomi lihat.

"NAOMI!"

Bentakan itu menggema memenuhi kamar hotel, membuat semua orang tersentak. Naomi refleks menundukkan kepala. Dadanya berdegup begitu keras, sementara firasat buruk mulai menyelimuti hatinya.

"Tidak Pi... Naomi bisa jelasin sekarang," pintanya penuh permohonan.

"Diam!" bentak Eric sambil mengangkat telunjuknya. "Masih berani kamu membela diri setelah kami memergoki semua ini dengan mata kepala sendiri?"

"Kamu tahu gak? Kakakmu pergi di saat hari pernikahannya, sudah bisa dipastikan dia melihat kalian berdua bermesraan di kamar seperti ini!" lanjut Eric dengan nada yang menggebu-gebu.

Merry menggeleng berkali-kali. Air matanya mulai mengalir karena menahan rasa malu.

"Naomi... kenapa kamu melakukan ini? Dia calon suami kakakmu!" isaknya.

Naomi menatap kedua orang tuanya dengan wajah pucat. "Demi Tuhan, aku tidak tahu bagaimana bisa berada di kamar ini. Aku benar-benar tidak ingat apa pun."

"Masih berbohong!" Eric melangkah semakin dekat. "Apa selama ini kami kurang memberimu? Sampai-sampai kamu tega merebut kebahagiaan kakakmu sendiri?"

Ucapan itu membuat Naomi membeku. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya, tetapi ia tetap menggeleng kuat.

"Bukan... bukan seperti itu...."

Selama ini ia menerima diperlakukan tidak adil oleh keluarganya, tapi hari ini. Ia tidak akan membiarkan harga dirinya dikuliti atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan sama sekali.

Bersambung ....

Bab Kedua semoga suka.

Keputusan Sepihak

Ruangan itu semakin berubah gaduh. Bisik-bisik para keluarga semakin keras memenuhi kamar hotel.

"Astaga... ternyata begini kelakuan keluarga itu."

"Calon pengantin malah tidur dengan adik calon istrinya."

"Benar-benar memalukan."

Naomi tertunduk pilu di hari ini harga dirinya kembali dipertaruhkan, meskipun ia sudah berkata sejujurnya akan tetapi tak satu orang pun percaya dengan ucapannya. Sebagai seorang anak ia harus berlindung pada siapa sementara orang tua yang seharusnya menjadi rumah tidak pernah memberinya kesempatan untuk bicara.

"Tidak ... aku tidak seperti yang kalian tuduhkan!" bantah Naomi.

Mendengar bantahan sang anak. Wajah Eric semakin memerah. Ia melangkah maju, lalu tanpa memberi kesempatan Naomi menjelaskan...

Plaak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Naomi. Tubuh gadis itu limbung hingga hampir terjatuh, tak ada satu pun yang menolong ataupun melerai kejadian itu. Naomi mencoba berdiri sendiri. Ia kembali menatap wajah ayahnya dengan tatapan berani.

"Tanpar! Sekali lagi Pi tampar!" teriak Naomi. "Kalau boleh bunuh aku sekalian biar tidak terus mengusik kehidupan kalian!" cetus Naomi.

Tubuh gadis itu bergetar napasnya memburu entah energi dari mana yang didapat hingga berani melawan orang tuanya.

"Pi ....," suara Naomi kembali memanggil, air matanya berlinang tapi kali ini ia tidak mau menunjukkan kelemahannya pada siapapun.

"Jangan panggil aku Papi!" bentak Eric. "Mulai detik ini kamu bukan anakku!"

 "Baik, bukankah sejak dulu Papi yang tidak pernah anggap aku anak, Naomi masih ingat bagaimana perlakuan kalian, dan sekarang kata-kata itu sudah tidak gentar lagi," sahut Naomi.

Amara Eric semakin memuncak pria itu kembali mengangkat tangan namun Naomi berhasil mencekalnya. "Sudah cukup, anda menyakiti tubuhku. Meskipun anda seorang ayah, tapi anda tidak berhak menyentuh pipiku untuk yang kesekian kalinya," tegas Naomi di dalam kesengsaraan ini tak ada satu pun orang yang mencoba memisahkannya.

Merry langsung menangis histeris. "Kau selalu saja menyalahkan kita sebagai orang tua, padahal sedari kecil kamu yang bakal dan tidak nurut. Dan sekarang...," ucap Merry terputus. "Kenapa kamu tega menghancurkan keluarga kita, Naomi?"

Naomi menggeleng kuat. "Aku tidak melakukannya! Aku juga korban!"

"Korban?" Eric tertawa sinis. "Semua orang melihatmu berada di atas ranjang Nathan. Masih berani mengaku korban?"

Naomi mengepalkan kedua tangannya. "Demi Tuhan, aku tidak pernah berniat merebut siapa pun... dan sebelum menyalahkan ku lebih baik tanyakan saja sama putri kesayangan kalian, kenapa aku bisa dijebak seperti ini!"

"Tutup mulutmu!" bentak Eric.

Suasana kembali ricuh. Di sisi lain, Nathan berdiri dengan wajah dingin. Tatapannya bergantian menatap Naomi, lalu kedua orang tuanya, pria itu sedikit mengernyit bingung dengan hubungan ayah dan anak itu yang menang sangat berbanding jauh dengan perlakuan keduanya terhadap Alicia.

"Sudah cukup aku tidak mau mendengar alasan apapun dari kalian. Dan anda Tuan Eric, selamat anda sudah berhasil menipu keluarga kami dengan akting keluarga anda yang begitu apik," ungkap Nathan dengan sinis.

Sementara Eric semakin menatap Naomi dengan penuh kebencian. "Kau dengar itu Naomi, gara-gara ulahmu semua keluarga akhirnya kena dampaknya!" cetus Eric yang kembali menyalahkan anaknya.

Naomi mengembuskan napas pelan. Air mata memang masih menggenang di pelupuk matanya, tetapi kali ini ia tidak lagi takut untuk disalahkan. Gadis itu perlahan mengangkat wajahnya, menatap sang ayah dengan sorot mata penuh luka sekaligus kekecewaan.

"Aku memang ada di kamar ini... tapi bukan berarti aku datang atas kemauanku sendiri."

"Alasan!" cibir Eric.

"Bukan alasan, Pi." Naomi menatap ayahnya lurus penuh keberanian. "Ini fakta. Sayangnya, sejak dulu Papi lebih memilih mempercayai prasangka daripada mendengarkan anak sendiri."

Sementara itu Ayah Nathan Alan Wijaya yang tidak ingin keributan ini semakin memanas akhirnya pria paruh baya itu angkat bicara,

"Yang paling penting sekarang bukan mencari siapa yang salah."

Semua orang menoleh kepadanya, suasana perlahan hening saat langkah kaki itu terdengar memasuki kamar hotel. Ia berdiri diantara Naomi dan juga Nathan, tatapannya terus menyelidik pada sosok gadis yang sedari tadi hanya ditindas.

"Tapi Tuan Alan, kejadian ini sangat memalukan," ujar Eric.

"Sudah aku bilang jangan menyalahkan satu sama lain, yang pergi biarkan pergi, kita cari solusinya saja," sahut Alan cepat.

"Apa solusinya Tuan?" tanya Eric dengan perasaan kesal.

"Salah satu cara agar nama baik kita tidak hancur," ucapnya tegas. "Kita harus melanjutkan pernikahan ini.

Deg!

Nathan mengepalkan tangannya cukup kuat. "Tapi Alicia sudah kabur."

Alan mengangguk tenang seolah faham dengan situasi ini. "Kalau berita ini sampai keluar, semua media akan menertawakan keluarga kita," lanjut sang ayah.

Seorang kerabat menyela pelan. "Kalau pernikahan dibatalkan sekarang... harga saham perusahaan bisa ikut terdampak."

Ucapan itu membuat suasana kembali hening. Nathan memejamkan mata sejenak.

Kemudian. Ia membuka matanya perlahan. Tatapannya jatuh tepat ke arah Naomi.

"Dari semua kekacauan ini..." ucap Nathan terputus. Semua orang menahan napas.

"Hanya ada satu cara agar pernikahan tetap berlangsung."

Naomi membelalak. Jantungnya berdetak semakin cepat, ia menyeret langkahnya ke belakang saat Nathan melangkah mendekat hingga berdiri tepat di hadapannya.

Lalu, dengan suara datar yang justru terdengar mengerikan, ia berkata,

"Mulai hari ini... kamulah yang akan menggantikan kakakmu menjadi istriku."

"APA?!" seru semua orang hampir bersamaan.

Naomi menggeleng panik. "Tidak! Aku tidak mau!"

Nathan menatapnya tajam. "Aku tidak sedang meminta persetujuanmu."

Bersambung ....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!