Indonesia
NovelToon NovelToon

Resep Cinta Dokter Narendra

Teritori dan Tahta

Bangsal anak lantai empat Rumah Sakit Medika Adiwijaya selalu memiliki atmosfernya sendiri. Di saat lorong-lorong lain didominasi warna putih yang kaku dan aroma antiseptik yang pekat, tempat ini dipenuhi mural warna-warni dan aroma bedak bayi. Bagi dr. Nayla Kartikasari, Sp.A, bangsal ini adalah dunianya. Tempat di mana ia bisa menjadi apa saja demi membuat pasien kecilnya tersenyum—mulai dari menjadi pesulap amatir hingga pendongeng.

Namun, kedamaian siang itu mendadak koyak oleh suara tangisan melengking dari Kamar 302. Itu suara Kiki, pasien usia lima tahun yang baru kemarin menjalani operasi usus buntu.

Nayla yang sedang menulis rekam medis di meja perawat langsung meletakkan penanya. Dengan langkah bergegas, ia mendorong pintu Kamar 302 dan seketika terpaku oleh pemandangan di dalamnya.

Kiki sedang meringkuk ketakutan di sudut ranjang, menyembunyikan wajahnya di balik selimut bermotif pahlawan super sambil menangis histeris. Sementara itu, di samping ranjang, berdiri seorang pria jangkung yang memancarkan aura luar biasa intimidatif. Pria itu mengenakan jas dokter putih yang potongannya sangat sempurna—terlihat jelas bukan jas konveksi standar rumah sakit, melainkan hasil jahitan custom dari bahan premium yang tidak berkerut sedikit pun. Postur tubuhnya tegak dengan bahu lebar yang dominan. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, namun ekspresinya sedingin es saat menatap papan rekam medis di tangannya.

Insting protektif Nayla sebagai dokter anak seketika menyala. Tanpa memedulikan siapa pria itu, Nayla melangkah maju dan pasang badan di depan ranjang Kiki, memutus tatapan dingin pria itu dari pasiennya.

"Maaf, Dokter," tegur Nayla dengan nada rendah namun menuntut, berusaha meredam kekesalannya agar tidak membuat Kiki makin panik. "Kalau Anda berniat memeriksa pasien anak-anak, tolong turunkan ego Anda, gunakan hati, dan tersenyumlah. Bukan berdiri tegak seperti sedang menginterogasi tersangka kriminal. Anda tidak lihat pasien saya sampai ketakutan setengah mati?"

Ruangan itu mendadak hening. Dua perawat yang berjaga di luar pintu bahkan menahan napas. Baru kali ini ada yang berani berbicara dengan nada seperti itu kepada pria di depan Nayla.

Pria itu tidak berkedip. Pasangan mata elangnya yang kelam menatap Nayla dengan tatapan menilai yang kosong dari emosi. Ia menurunkan papan rekam medisnya perlahan, sebuah gerakan yang sangat tenang namun entah kenapa membuat atmosfer ruangan terasa makin berat. Bukannya mendebat atau meminta maaf, pria itu hanya mengangkat tangan kirinya, lalu dengan ujung telunjuknya yang jemarinya panjang dan bersih, ia mengetuk ringan papan nama kuningan yang tersemat di dada jasnya.

Mata Nayla tanpa sadar mengikuti arah ketukan itu. Di sana, terukir grafir emas dengan nama yang membuat seluruh sendi di lutut Nayla mendadak lemas dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B.

Narendra Adiwijaya. Spesialis Bedah. Dan yang paling mengerikan... nama belakangnya sama dengan nama yang tertera di papan nama besar di gerbang depan rumah sakit ini. Dia adalah putra mahkota keluarga konglomerat pemilik Adiwijaya Healthcare Group.

Napas Nayla tercekat. Panas menjalar dengan cepat dari leher hingga ke kedua pipinya. Di dunia medis, seorang residen atau dokter spesialis baru dilarang keras menyinggung konsulen senior, apalagi seseorang yang secara harfiah "memiliki" gedung tempatnya bekerja.

"Jahitannya bagus, kering, dan tidak ada tanda-tanda infeksi sekunder," suara Narendra memecah keheningan. Suaranya berat, bariton yang seksi namun sangat datar, tanpa ada nada tersinggung ataupun marah. Namun, justru ketenangan itulah yang terasa dominan. Narendra memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku jas, menatap Nayla dari atas ke bawah sejenak sebelum menambahkan, "Lain kali, edukasi dokternya untuk membaca laporan operasi di sistem sebelum mulai menghakimi. Saya tidak punya waktu untuk tersenyum pada pasien yang jahitannya sudah aman."

Tanpa menunggu balasan dari Nayla yang masih membeku seperti patung, Narendra berbalik. Aroma parfum woody mahal yang maskulin berbaur dengan wangi kulit yang intimidatif tertinggal di udara saat pria itu melangkah keluar kamar dengan ritme yang konstan.

**

Nayla mengira insiden memalukan itu adalah akhir dari segalanya. Ia keliru. Takdir rumah sakit tampaknya senang melemparkannya kembali ke dalam pusaran Dokter Narendra.

Malam harinya, hujan badai mengguyur kota, memicu kecelakaan beruntun di jalan tol. Jam baru menunjukkan pukul dua dini hari ketika alarm merah IGD berbunyi. Seorang pasien anak laki-laki berusia tujuh tahun masuk dengan trauma toraks berat akibat benturan hebat. Kondisinya kritis, mengalami pendarahan dalam, dan mengalami gagal napas. Sebagai dokter anak yang bertugas malam itu, Nayla langsung melakukan resusitasi darurat, namun detak jantung pasien terus melemah. Pasien butuh operasi pembukaan rongga dada darurat dalam hitungan menit.

Nayla ikut mendorong brankar pasien menembus lorong-lorong sepi menuju Kamar Operasi Utama di lantai tiga. Saat pintu otomatis ruang operasi terbuka, suasana berubah menjadi tegang dan steril.

Di sana, di bawah sorot lampu operasi yang terang benderang, Narendra sudah bersiap. Pria itu telah berganti pakaian dengan scrubs—baju operasi katun tipis bermotif hijau tua yang mencetak jelas lekuk tubuhnya yang atletis dan tegap. Ia sedang membasuh tangannya di wastafel sensorik dengan gerakan yang sangat presisi, lalu membiarkan perawat instrumen memasangkan gaun operasi steril dan sarung tangan lateks ke tangannya.

Ketika Narendra berbalik dan melangkah mendekati meja operasi, aura dominan pria itu terasa berlipat ganda. Di dalam ruang operasi, dia bukan lagi sekadar dokter kaya; dia adalah seorang komandan perang. Semua asisten dokter, dokter spesialis anestesi, dan perawat instrumen bergerak dengan senyap dan patuh luar biasa, seolah pergerakan sekecil apa pun yang salah akan memicu amarah sang arsitek bedah.

Narendra melirik sekilas ke arah Nayla dari balik masker bedahnya. Tatapan matanya tajam, seolah mengunci pergerakan Nayla.

"Dokter Nayla," panggil Narendra. Suaranya terdengar meredam di balik masker, namun terdengar mutlak dan tak terbantahkan di seluruh penjuru ruangan. "Berdiri di zona aman di belakang dokter anestesi. Amankan tanda-tanda vital pasien dari sisi pediatri. Dan jangan mengalihkan fokus saya atau mengeluarkan suara yang tidak perlu selama tiga jam ke depan. Paham?"

Nayla refleks menelan ludah, menunduk patuh, dan mundur dua langkah menuju posisinya. "Paham, Dokter."

Tiga jam berikutnya adalah demonstrasi kegeniusan yang mutlak. Nayla menyaksikan sendiri bagaimana jari-jari Narendra yang biasanya memegang pulpen mewah kini menari dengan luar biasa cepat dan akurat di antara pembuluh darah yang pecah. Pria itu tidak pernah ragu, tidak pernah panik bahkan saat monitor hemodinamik berbunyi nyaring menandakan tekanan darah pasien anjlok. Narendra hanya memberikan instruksi satu-dua kata yang tenang namun tegas, dan seluruh tim mengeksekusinya dalam hitungan detik. Dia memegang kendali penuh atas hidup dan mati di atas meja itu.

Haiii guyss, welcomeee di cerita pertama akuu semoga kalian sukakkk

yang punya kritik dan saran boleh disampaikan baik baik yaa, thankyou guyss loppp

Rahasia di Bawah Meja

Ketika jam dinding menunjukkan pukul lima pagi, lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam. Operasi dinyatakan sukses besar. Pendarahan berhasil dihentikan, dan kondisi pasien anak tersebut berhasil distabilkan sebelum dipindahkan ke ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit).

Nayla berjalan keluar dari ruang ganti dengan tubuh yang terasa remuk. Shift malamnya telah berakhir, dan yang ia inginkan hanyalah pulang dan tidur. Sambil memijat lehernya yang kaku, ia berjalan menyusuri lorong lobi utama rumah sakit yang masih sepi dan temaram oleh sisa fajar.

Namun, langkah kaki Nayla melambat saat melihat sosok Narendra berjalan beberapa meter di depannya. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kemeja hitam pekat berbahan satin-sutra yang pas di badannya, dipadukan dengan celana kain berpotongan mahal. Di pergelangan tangan kirinya, sebuah jam tangan mewah berdesain klasik dengan dial hitam mengintip dari balik kemejanya—jam tangan yang harganya mungkin setara dengan rumah tipe klaster di pinggir kota. Narendra berjalan dengan tenang, memancarkan kemewahan yang senyap namun mutlak, tipe orang yang tidak perlu berteriak untuk memberi tahu dunia bahwa dia berkuasa.

Di depan pintu kaca lobi, langkah Narendra berhenti karena hujan rintik-rintik masih membasahi aspal. Namun, ia tidak perlu menunggu lama.

Sebuah mobil sedan mewah Mercedes-Benz Maybach berwarna hitam mengilap berukuran panjang merapat tepat di depan lobi—sebuah area yang sangat dilarang untuk parkir kendaraan umum, namun aturan itu jelas tidak berlaku untuknya. Seorang pria paruh baya berjas hitam rapi bergegas turun dari kursi kemudi, memayungi Narendra dengan payung hitam besar, lalu membungkuk dengan hormat yang sangat dalam.

"Selamat pagi, Den Narendra. Tuan Besar menyampaikan pesan agar Anda langsung kembali ke rumah utama di Menteng setelah ini. Ada pertemuan keluarga yang harus Anda hadiri," ucap sopir pribadi itu dengan nada yang sangat santun.

Narendra hanya mengangguk samar, menerima payung tersebut dari tangan sopirnya. Sebelum ia melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang super mewah itu, Narendra tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuhnya sedikit, menembus jarak beberapa meter untuk menatap langsung ke arah Nayla yang masih berdiri mematung di dekat meja resepsionis.

Narendra menaikkan sudut bibirnya tipis—sangat tipis hingga hampir tidak terlihat seperti senyuman, melainkan sebuah seringai kepuasan yang dominan.

"Kerja yang bagus untuk manajemen resusitasi awalnya di IGD tadi, Dokter Nayla," ucap Narendra, suaranya yang berat menggema di lobi yang sepi. Tatapannya turun ke arah mata panda Nayla. "Sekarang pulanglah. Anda terlihat seperti zombi yang butuh asupan kafein dosis tinggi. Saya tidak mau melihat dokter anak saya pingsan di bangsal nanti malam."

Tanpa menunggu jawaban atau pembelaan dari Nayla, Narendra masuk ke dalam mobil. Pintu mobil tertutup dengan suara redam yang mewah, dan kendaraan mahal itu pun melesat membelah jalanan kota yang masih basah, meninggalkan Nayla yang hanya bisa melongo menahan kekesalan sekaligus kekaguman yang aneh di dalam dadanya.

**

Sebelum Narendra menapakkan kakinya di hotel, malamnya di kediaman besar keluarga Adiwijaya di kawasan Menteng dimulai dengan ketenangan yang dingin. Di dalam kamar pribadinya yang luas dan bernuansa minimalis modern, Narendra sedang berdiri di depan cermin besar. Jemarinya yang panjang dan kokoh bergerak dengan sangat presisi saat mengancingkan kemeja katun abu-abu gelapnya. Dari luar jendela kamar, suara gerimis sisa hujan sore tadi masih terdengar, namun tidak ada yang bisa mengusik ketenangan pria itu.

Bagi Narendra, makan malam yang dirancang ibunya malam ini hanyalah satu dari sekian banyak agenda formalitas bisnis yang harus ia penuhi. Ia tidak pernah peduli siapa yang akan ditemuinya, karena di kepalanya saat ini hanyalah jadwal operasi toraks untuk esok hari. Tepat ketika ia menyemprotkan parfum beraroma woody-leather mahal di pergelangan tangan, pintu kamarnya diketuk. Gibran, sepupunya yang sudah rapi dengan kemeja biru dongker, menyembul dari balik pintu sambil menyeringai jahil. "Ayo, Tuan Muda Adiwijaya. Sopir paman sudah memanaskan mesin Maybach di bawah. Jangan sampai kolega bisnis ibumu menunggu lama." Narendra hanya merespons dengan lirikan datar, memakai jam tangan safirnya, lalu melangkah keluar kamar dengan aura dominan yang mutlak.

Di sisi lain kota Jakarta, kesibukan yang berbeda terjadi di salah satu rumah mewah berdesain modern tropis di kawasan Jakarta Selatan. Di kamar tidurnya, Nayla sedang mematut diri di depan cermin. Gaun batik pastel pilihan ibunya baru saja selesai ia kenakan, dan ia masih sibuk membetulkan beberapa helai rambutnya yang sedikit berantakan.

"Kak Nayla! Ayo cepat, mobilnya sudah siap di depan. Papa sama Mama sudah masuk ke kabin!" seru Bintang, adiknya, dari balik pintu kamar sambil mengetuk gemas.

"Iya, sebentar, Bintang! Kakak lagi pasang anting!" sahut Nayla setengah berteriak. Jantungnya berdegup agak kencang, bukan karena tidak sabar, melainkan karena ia malas harus menghadiri makan malam rekan bisnis ibunya. Sebagai dokter anak yang mandiri, ia paling tidak suka jika sudah ada kode-kode perjodohan yang terselubung dari orang tuanya.

Setelah memastikan penampilannya sempurna, Nayla meraih tas kecilnya dan berjalan cepat menuruni tangga, menyusul keluarganya yang sudah menunggu di dalam mobil Toyota Alphard hitam milik mereka. Sepanjang perjalanan menembus kemacetan Jakarta yang basah, Mama Citra dan Papa Arga tidak berhenti bercerita dengan antusias tentang betapa baik dan terhormatnya keluarga Adiwijaya. Nayla hanya bisa menghela napas panjang sambil menatap ke luar jendela, sama sekali tidak menyangka badai seperti apa yang sedang menunggunya di tempat tujuan.

Hingga akhirnya, mobil pribadi keluarga Nayla dan mobil mewah Narendra tiba di waktu yang hampir bersamaan di pelataran lobby.

Restoran privat di lantai teratas Hotel The Grand Adiwijaya malam itu menyuguhkan pemandangan lampu kota Jakarta yang berkilauan menembus dinding kaca setinggi langit-langit. Alunan musik piano klasik berdentang lembut, mengiringi atmosfer makan malam yang luar biasa mewah. Di tengah ruangan, Narendra duduk dengan postur tegak yang dominan. Kemeja abu-abu gelap berbahan katun mesir yang ia kenakan tampak sangat serasi dengan jam tangan mewah berpiringan safir yang melingkar di pergelangan tangannya.

Narendra hanya sesekali menyesap air mineralnya, mendengarkan obrolan hangat antara kedua orang tuanya, Arsenio dan Widya Adiwijaya. Di sebelah Narendra, sepupunya yang gemar memprovokasi, dr. Gibran, Sp.An, sibuk menahan senyum sambil terus menyenggol siku Narendra.

"Katanya anak perempuan mereka juga dokter spesialis baru di rumah sakit kita, Ren. Kebetulan sekali, kan?" bisik Gibran pelan, hampir tak terdengar.

Narendra tidak menyahut. Baginya, makan malam keluarga malam ini tak lebih dari sekadar formalitas bisnis untuk merayakan kontrak eksklusif jangka panjang antara Adiwijaya Group dengan perusahaan katering digital milik keluarga Dewantara.

Pintu geser kayu ruang privat itu terbuka. Arsenio Adiwijaya langsung berdiri dari kursinya dengan senyum lebar yang jarang ia perlihatkan. "Ah, ini dia yang kita tunggu-tunggu. Selamat malam, Pak Arga, Ibu Citra."

Narendra ikut berdiri demi sopan santun. Pandangannya lurus ke arah pintu, dan dalam hitungan detik, tubuh tegap Dokter Bedah itu mendadak kaku.

Di sana, melangkah masuk di antara Papa Arga dan Mama Citra, adalah dr. Nayla Kartikasari, Sp.A. Perempuan itu mengenakan gaun batik modern berwarna pastel yang membuatnya tampak sangat anggun, rambutnya disanggul modern menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya. Di belakang Nayla, adiknya, Bintang, berjalan sambil sibuk membetulkan kerah kemejanya dengan kikuk.

Mata Nayla dan Narendra bertemu di udara.

Nayla seketika menghentikan langkahnya, matanya membelalak sempurna seolah baru saja melihat hantu di siang bolong. Monster Kamar 302? jerit Nayla dalam hati, tangannya mendadak dingin seketika. Panas langsung menjalar ke pipinya saat memori ia mengomeli pria itu kembali berputar di otaknya.

Sementara itu, Narendra berhasil menguasai ekspresi wajahnya dengan cepat, kembali memasang topeng sedingin es, meski sudut bibirnya sempat berkedut samar.

"Wah, Nayla, perkenalkan ini Narendra, Spesialis Bedah utama di Medika Adiwijaya. Dan ini sepupunya, Gibran," ujar Mama Citra penuh semangat, menuntun Nayla untuk duduk tepat di hadapan Narendra.

Nayla tersenyum sangat terpaksa, mengangguk kaku. "Malam, Dokter Narendra... Dokter Gibran."

"Malam, Dokter Nayla," sahut Narendra, suaranya berat dan bariton, terdengar sangat formal seolah mereka baru pertama kali bertukar sapa.

Gibran yang tahu persis insiden ’Monster Kamar 302’ dari laporan perawat bangsal, langsung batuk yang dibuat-buat. "Uhuk! Iya, malam Dokter Nayla. Dunia sempit ya, Ren?" Narendra membalasnya dengan injakan maut di atas sepatu mewah Gibran di bawah meja, membuat dokter anestesi itu meringis tertahan.

Makan malam pun dimulai. Hidangan pembuka disajikan, namun bagi Nayla, makanan mewah itu terasa seperti pasir karena tatapan elang Narendra yang duduk tepat di depannya terus mengunci pergerakannya. Atmosfer makin memanas ketika Widya Adiwijaya mulai membuka kartu.

"Bu Citra, karena Narendra dan Nayla ini sama-sama sibuk di rumah sakit, sepertinya bagus kalau kita sering-sering menjadwalkan makan malam berdua untuk mereka. Siapa tahu... mereka bisa saling mengisi?" pancing Widya sambil tersenyum penuh arti. Papa Arga dan Mama Citra langsung mengangguk kompak menyetujui.

Nayla hampir tersedak sup jamurnya. Di bawah meja yang tertutup taplak kain tebal panjang, kaki Nayla tanpa sengaja bergerak panik dan menendang sesuatu yang keras.

Duk!

Nayla tersentak. Ia mendongak dan mendapati Narendra sedang menatapnya lekat-lekat dengan satu alis terangkat. Nayla baru saja menendang tulang kering Dokter Bedah itu. Dengan panik, Nayla menggerakkan kakinya berniat menarik diri, namun gerakan kakinya justru ditahan oleh sepatu mahal Narendra. Pria itu sengaja mengunci kaki Nayla di bawah meja, tidak membiarkannya kabur.

Nayla menatap Narendra dengan tatapan protes yang tajam, seolah berkata, Lepaskan kaki saya!

Namun Narendra justru menyesap minumannya dengan tenang, membalas tatapan Nayla dengan kilatan mata yang dominan dan penuh kepuasan. Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan meja, membuat aroma parfum woody mahalnya kembali mengintimidasi indra penciuman Nayla.

"Saya rasa ide Ibu sangat bagus," ucap Narendra tenang, suaranya yang berat memotong obrolan orang tua mereka. Matanya tidak lepas dari wajah Nayla yang kini sudah memerah. "Sebagai senior di rumah sakit, saya dengan senang hati akan... membimbing Dokter Nayla. Baik di dalam, maupun di luar jam kerja."

Bintang yang duduk di sebelah Nayla berbisik pelan, "Kak, muka lo udah kayak udang rebus, aman nggak?"

Nayla hanya bisa mengepalkan tangannya di atas pangkuan, sementara di bawah meja, Narendra masih mengunci pergerakannya dengan dominasi mutlak yang membuat jantung Dokter Anak itu berdegup dua kali lebih cepat.

Kecan Pertama

Pukul dua siang, sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal masuk ke ponsel Nayla.

Ke ruangan saya di Lantai 5 sekarang. Ada hal penting mengenai Bangsal Anak yang harus dibahas. dr. Narendra, Sp.B.

Nayla menatap layar ponselnya dengan gusar. Kalimatnya begitu singkat, dingin, dan bernada perintah mutlak—khas seorang Narendra. Meskipun enggan, kakinya tetap melangkah menuju lift menuju lantai lima, area eksklusif tempat ruangan para dokter spesialis senior dan direksi berada.

Nayla mengetuk pintu kayu jati bertuliskan nama Narendra dengan ragu. Setelah mendengar gumaman berat dari dalam yang mengizinkannya masuk, Nayla membuka pintu dan melangkah ke dalam ruangan yang luas, beraroma woody maskulin, dan ditata dengan selera quiet luxury yang kental.

Narendra sedang duduk di balik meja kerja marmer hitamnya. Pria itu fokus menatap layar iPad tanpa mengenakan jas putihnya, hanya kemeja biru muda yang lengannya digulung hingga siku, mengekspos lengan bawahnya yang kokoh dan berurat.

Narendra menggeser sebuah dokumen fisik ke ujung meja, lalu menatap Nayla datar. "Duduk, Dokter Nayla."

Nayla melangkah maju, melirik sekilas dokumen bertajuk 'Evaluasi Alokasi Dana Departemen Pediatri Q3' yang tergeletak di sana. Jantungnya berdesir kesal. Kemarin sore, ia baru saja mendapat memo resmi dari bagian administrasi bahwa proyek renovasi halaman bermain terapeutik di bangsal anak resmi dipangkas hingga lima puluh persen. Semua itu terjadi atas rekomendasi langsung dari meja dr. Narendra selaku perwakilan jajaran direksi medis. Alasan tertulisnya: efisiensi anggaran demi pengadaan robotic surgery terbaru untuk ruang operasi utama.

Nayla duduk di kursi kulit di hadapan pria itu, menegakkan punggungnya dengan sisa-sisa kekesalan yang coba ia tahan profesional. "Ada apa ya, Dokter Narendra? Jika ini soal pemotongan anggaran taman bermain di bangsal anak kemarin, saya tetap pada pendirian saya bahwa—"

"Ini bukan soal rumah sakit," Narendra memotong kalimat Nayla dengan tenang. Ia meletakkan iPad-nya, lalu menopangkan dagu di atas kedua tangannya yang saling bertautan, menatap Nayla lekat-lekat dengan sepasang mata elangnya. "Ini soal makan malam tadi malam. Dan soal kelancaran bisnis katering digital ibu Anda."

Nayla mengerutkan kening. "Maksud Anda?"

Narendra mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka hingga Nayla bisa melihat dengan jelas kerlingan tajam di mata pria itu. "Orang tua kita sangat serius dengan ide perjodohan ini, Nayla. Dan saya tahu, perempuan mandiri dan idealis seperti Anda pasti sangat membenci konsep diatur seperti ini, bukan?"

Nayla mendengus pelan, merasa tertantang. "Kalau Anda sudah tahu, baguslah. Jadi kita bisa sepakat untuk memberi tahu orang tua kita bahwa kita tidak cocok. Saya tidak punya waktu untuk drama perjodohan, apalagi dengan dokter bedah yang... kaku seperti Anda."

Bukannya marah karena disebut kaku, sudut bibir Narendra justru terangkat, membentuk sebuah seringai tipis yang luar biasa tampan sekaligus mengintimidasi.

"Sayangnya, pembatalan sepihak tidak semudah itu, Dokter Anak yang terhormat," ujar Narendra, suaranya merendah, memberi penekanan pada setiap kata. "Kontrak Adiwijaya Group dengan bisnis katering keluarga Anda bernilai puluhan miliar. Ayah saya tipe pria yang sangat menghargai ikatan kekeluargaan dalam bisnis. Jika kita menolak mentah-mentah sekarang, itu akan menyinggung egonya. Anda mau mengambil risiko merusak kontrak terbesar dalam sejarah bisnis ibu Anda?"

Nayla tertegun. Ia menelan ludah yang mendadak terasa getir. Narendra benar. Ayah pria ini adalah penguasa bisnis medis yang tidak terbiasa ditolak. Nayla tidak mungkin mengorbankan kerja keras Mama Citra dan Papa Arga demi egonya sendiri.

"Lalu... apa mau Anda?" tanya Nayla, suaranya sedikit melemah, tanda ia mulai terdesak.

Narendra bersandar kembali ke kursinya, menatap Nayla dengan pandangan penuh kemenangan. Aura dominannya kini memenuhi ruangan. "Kita ikuti permainan mereka. Kita pura-pura mencoba dekat di depan mereka. Tapi di rumah sakit, kita tetap bersikap profesional seolah tidak terjadi apa-apa."

"Hanya itu?" Nayla memastikan.

Narendra mengetukkan jemarinya di atas meja marmer, senyum tipisnya tidak memudar. "Tentu saja. Tapi sebagai gantinya, karena saya yang memegang kendali atas skenario ini untuk melindungi bisnis keluarga Anda... Anda harus mematuhi beberapa aturan saya."

Nayla membelalakkan matanya. "Aturan apa?!"

"Pertama, kurangi nada ketus Anda jika berbicara dengan saya di rumah sakit. Kedua," Narendra menjeda kalimatnya, tatapannya turun ke bibir Nayla sejenak sebelum kembali mengunci matanya, "jangan pernah mencoba dekat-dekat atau menerima ajakan makan siang dari dokter spesialis lain selama skenario ini berjalan. Saya tidak suka barang yang sudah diberi label nama saya... disentuh oleh orang lain, bahkan jika itu hanya status formalitas."

Nayla meremang mendengar kata-kata posesif yang diucapkan dengan begitu tenang dan berwibawa oleh Narendra. Pria di depannya ini jelas bukan hanya ingin menyelesaikan masalah, tapi sedang sengaja menjebaknya ke dalam teritorinya.

"Anda... egois sekali," desis Nayla kesal.

Narendra hanya bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu berhenti tepat di samping kursi Nayla. Ia sedikit membungkuk, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Nayla berdiri di dekat telinganya. "Saya seorang dokter bedah, Nayla. Mengambil kendali penuh dan bersikap egois demi keselamatan hasil akhir adalah keahlian utama saya. Rapat selesai, silakan kembali ke bangsal Anda."

**

Hari Sabtu malam, sebuah mobil Mercedes-Benz Maybach hitam sudah terparkir rapi di depan gerbang rumah modern tropis milik keluarga Nayla di Jakarta Selatan. Bukan sopir pribadi yang turun, melainkan Narendra sendiri. Pria itu tampil luar biasa menawan dengan kemeja rajut hitam berkerah tinggi yang membungkus pas tubuh tegapnya, dipadukan dengan celana kain desainer berwarna senada.

Nayla turun menemui Narendra setelah berpamitan dengan Papa Arga dan Mama Citra yang melepasnya dengan senyum super lebar. Malam ini, Nayla memilih pakaian yang simpel namun elegan—blouse sutra berwarna krem dan celana kulot satin.

Narendra membukakan pintu mobil untuk Nayla tanpa ekspresi, namun matanya sempat menelusuri penampilan Nayla dari atas ke bawah. "Pilihan baju yang manis, Dokter Anak," gumam Narendra rendah sebelum memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi.

Narendra membawa Nayla ke sebuah restoran fine dining Prancis tersembunyi di kawasan Menteng yang hanya menerima beberapa tamu dalam semalam. Suasananya sangat privat, intim, dan mewah.

"Jadi, ini tempat kencan pura-pura versi Tuan Muda Adiwijaya?" sindir Nayla pelan setelah pelayan selesai menyajikan hidangan pembuka dan meninggalkan mereka berdua.

Narendra menyesap anggur merahnya tenang, membiarkan cahaya lilin temaram menyoroti rahang tegasnya. "Saya tidak suka tempat yang bising, Nayla. Dan di sini, tidak akan ada mata-mata rumah sakit atau paparazi bisnis yang mengganggu konsentrasi saya."

"Konsentrasi untuk apa? Menatap saya seperti mau memotong usus buntu?" ketus Nayla, meski sebenarnya detak jantungnya menggila sejak tadi karena wangi parfum Narendra yang begitu pekat memenuhi indra penciumannya.

Seringai tipis yang mematikan kembali muncul di wajah Narendra. "Konsentrasi untuk memastikan Anda tidak melanggar aturan saya."

Makan malam mengalir dengan perdebatan kecil yang justru terasa hidup. Narendra yang biasanya irit bicara, entah kenapa selalu punya cara untuk memancing emosi ekspresif Nayla, dan diam-diam, pria bedah itu sangat menikmati setiap kerutan di dahi Nayla saat perempuan itu sedang protes.

Namun, ketenangan itu terusik saat hidangan utama disajikan. Dari arah pintu masuk restoran, serombongan pria muda berpenampilan necis masuk. Salah satu dari mereka tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat ke arah meja mereka.

"Nayla? Kamu... Nayla Kartikasari, kan?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!