Seorang pemuda berdiri di barisan antrean imigrasi Bandara Internasional Taoyuan, Taiwan. Tangan kanannya mencengkeram erat pegangan sebuah koper usang yang isinya tidak seberapa. Saat antrean bergerak maju dengan lambat, tatapannya tidak sengaja tertuju pada pantulan dirinya di cermin pilar bandara.
"Apakah ini benar-benar aku?" batin Gavin, menatap nanar bayangannya sendiri. "Apakah semenyedihkan ini nasibku sekarang?"
Pakaian kusam yang melekat di tubuhnya terasa begitu asing. Sangat kontras dengan penampilannya setahun lalu, sebelum semua dunianya hancur berkeping-keping.
Kilas Balik — Satu Tahun Lalu
Dentuman musik bas yang memekakkan telinga memenuhi seisi klub malam mewah di Jakarta. Di bawah pendar lampu neon yang temaram, Gavin duduk di sofa VIP layaknya seorang raja kecil.
"Ayo, Bro! Minum sepuasnya malam ini. Jangan ada yang pulang sebelum mabuk, semua aku yang bayar!" seru Gavin lantang sambil mengangkat gelas sloki berisi alkohol mahal ke udara.
Tubuhnya langsung dikerumuni oleh wanita-wanita penghibur klub yang aroma parfumnya menusuk hidung.
"Sini, Sayang, sama Kakak. Biar Kakak temani minum malam ini," bisik salah satu wanita bergaun ketat sambil merangkul pundak Gavin dengan posesif, lalu menyodorkan segelas minuman keras ke bibirnya.
Wanita lain di sisi kirinya ikut mendekat, mengusap rahang Gavin dengan manja.
"Ih, Adek manis ini tampan sekali. Sini, biar Kakak kasih kepuasan malam ini."
Di usianya yang menginjak 27 tahun, Gavin memang memiliki visual yang menipu. Wajahnya masih terlihat seperti remaja belia yang tampan. Efek dari gaya hidupnya yang rajin berolahraga dan perawatan tubuh kelas atas, meskipun ironisnya, sisa seluruh hidupnya hanya dihabiskan untuk foya-foya, menghamburkan uang orang tua, dan bermain perempuan.
Di atas meja kaca yang penuh dengan botol-botol minuman, sebuah ponsel pintar mahal terus bergetar tanpa henti. Layarnya menyala, menampilkan nama panggilan darurat yang terabaikan. Namun, Gavin menghiraukannya. Dia terlalu sibuk menenggak alkohol dan tenggelam dalam pelukan wanita-wanita di sekelilingnya, sama sekali tidak tahu bahwa malam itu adalah akhir dari kehidupan mewahnya.
Gavin sama sekali tidak tahu bahwa getaran ponsel yang ia abaikan malam itu adalah panggilan terakhir dari rumah sakit. Di malam yang sama, kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan maut.
Hanya dalam hitungan bulan setelahnya, bisnis keluarga yang tidak tahu cara ia kelola langsung hancur, menyisakan tumpukan utang dan vonis bangkrut yang menyita seluruh asetnya.
Plak!
Sebuah tepukan keras di pundak membuyarkan lamunan Gavin, menarik kesadarannya kembali ke lantai marmer Bandara Taoyuan yang dingin.
"Hei! Maju, jangan melamun! Petugas imigrasinya sudah melotot itu!" tegur agen penyalur TKI yang mendampinginya, seorang pria paruh baya berwajah galak.
Gavin tersentak. Dia mengerjapkan mata, buru-buru melangkah maju mendekati loket imigrasi dengan senyum yang dipaksakan. Petugas imigrasi Taiwan berkacamata tebal di balik kaca pembatas menatap paspor Gavin, lalu menatap wajah Gavin bergantian.
"Gavin awijaya?" tanya petugas itu dalam bahasa Mandarin.
Gavin tersentak. Sebagai pemuda keturunan Tionghoa yang besar di Jakarta, dia paham arti kata itu. Tapi masalahnya, selama hidupnya dia hanya menggunakan bahasa Mandarin saat mengincar angpao Imlek dari kakeknya.
"Shi de, wo shi Gavin Wijaya..." (Ya, saya Gavin Wijaya), jawab Gavin terbata-bata. Lidahnya terasa kaku, aksen Jakartanya terlalu kental hingga terdengar aneh di telinga orang lokal.
Petugas itu mengernyitkan dahi. Dia melihat foto di paspor Gavin di mana Gavin berfoto dengan gaya rambut klimis pomade mahal dan jas desainer lalu membandingkannya dengan pemuda di depannya yang memakai ritsleting jaket murah dan kantung mata hitam sebesar mata panda.
"Foto ini... kamu?" Petugas itu memastikan dalam bahasa Mandarin yang cepat, curiga ini adalah kasus pemalsuan identitas.
Otak Gavin berputar keras menyusun kosakata Mandarin yang sudah karatan di kepalanya. "Aya... Petugas, itu foto waktu saya masih punya uang. Sekarang saya versi lowbat," gurau Gavin, mencampurkan bahasa Mandarin seadanya dengan bahasa Indonesia karena panik.
Petugas itu tentu saja tidak paham lelucon Gavin dan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat TKI Chindo yang aneh ini. Setelah memberikan cap stempel yang berbunyi nyaring pada paspor, petugas itu mengembalikannya dengan wajah datar.
Gavin mengembuskan napas lega. Dia berjalan melewati pintu keluar bandara, menyusul rombongan pekerja migran lainnya.
Saat pintu otomatis bandara terbuka, embusan angin Taiwan langsung menerpa wajahnya. Di saat para TKI lain tampak tegang memikirkan pekerjaan pabrik mereka besok, perut Gavin justru mengeluarkan suara keroncongan yang sangat keras.
Pikirannya mendadak melantur. Dia melihat papan nama toko di bandara yang penuh tulisan aksara Mandarin yang kurang dia mengerti mungkin hanya sedikit saja yang dia tahu tapi matanya justru berhalusinasi melihat gerobak Nasi Goreng Gila langganannya di Menteng.
"Aduh... baru mendarat lima menit, kenapa aku sudah kangen aroma kerupuk udang dan sambal terasi, ya?" ratap Gavin dalam hati, meraba dompetnya yang kini hanya berisi beberapa lembar mata uang Dolar Taiwan.
Jangankan untuk foya-foya seperti dulu, untuk membeli sepiring mi instan di negara ini saja dia harus menghitung sisa uangnya berkali-kali.
Sementara itu di gedung pencakar langit Chen Corp berdiri megah di pusat distrik bisnis Xinyi, membelah langit malam Taipei dengan dinding-dinding kaca anti peluru yang berkilau mewah.
Dari ruang kerja utama yang berada di lantai empat puluh lima, pemandangan kota di bawah sana tampak seperti hamparan lampu mini yang berkedip. Ruangan itu sangat luas, didominasi oleh interior marmer hitam dan furnitur kayu jati impor yang memancarkan aura wibawa sekaligus kekayaan yang tidak habis tujuh turunan.
Namun, semua kemegahan itu seolah tidak berharga bagi seorang wanita yang duduk di balik meja kerja raksasanya.
Di bawah pendar lampu kerja yang temaram, tumpukan dokumen setinggi tiga puluh sentimeter menjadi fokus utamanya. Di baliknya, seorang wanita dengan kacamata anti-radiasi berbingkai hitam sedang mengetik dengan kecepatan penuh.
Jari-jarinya menari di atas papan ketik komputer tanpa jeda, seirama dengan detak jarum jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.
Dia adalah Tiffany Chen.
Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, dia sudah memikul tanggung jawab besar sebagai pewaris sekaligus pengelola utama Chen Corp, salah satu raksasa bisnis manufaktur di Taiwan.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruang kerja terbuka. Asisten pribadinya masuk membawa secangkir kopi hitam tanpa gula kesukaan Tiffany, sekaligus cangkir keempatnya hari ini.
"Nona Chen, ini laporan keuangan triwulan dari pabrik cabang Taoyuan," ujar sang asisten ragu-ragu.
Matanya sempat melirik penampilan atasannya.
Rambut Tiffany disanggul asal-asalan menggunakan sebatang pensil. Wajahnya polos tanpa sentuhan makeup sedikit pun. Setelan blazer kerjanya berwarna abu-abu kaku, tipe pakaian yang biasanya dipakai oleh ibu-ibu pejabat paruh baya.
Minggu lalu, seorang klien baru dari Eropa bahkan membungkuk hormat padanya sambil menyapa,
"Selamat malam, Madam Chen. Senang berbisnis dengan wanita matang berusia 30 tahun seperti Anda."
Tiffany hanya membalasnya dengan senyum tipis. Dia tidak peduli dianggap terlihat tua.
Baginya, merawat diri, memakai skincare sepuluh tahap, atau berburu baju modis di kawasan Ximending hanyalah kegiatan buang-buang waktu yang tidak menghasilkan keuntungan finansial.
Pikirannya murni seratus persen berisi bisnis, angka, dan saham.
"Letakkan saja di sana," jawab Tiffany dingin, matanya tidak beralih dari layar komputer. "Ada jadwal lain setelah ini?"
Asistennya menelan ludah.
"Anu... Nona Chen. Tuan Besar Chen baru saja menelepon. Beliau mengingatkan tentang acara makan malam keluarga besok malam di Restoran Shin Yeh."
Mendengar itu, ketukan jari Tiffany di papan ketik mendadak terhenti. Atmosfer di dalam ruangan seketika mendingin.
"Makan malam? Atau ajang perjodohan terselubung lagi?" tanya Tiffany dengan nada datar yang menusuk.
"Tuan Besar mengatakan... putra mahkota dari Lin Group akan hadir besok, Nona," ujar sang asisten dengan suara pelan.
Tiffany memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri.
Ini sudah kali kelima dalam tahun ini ayahnya mencoba menjodohkannya dengan anak-anak rekan bisnis. Mereka semua pria manja yang hanya mengincar aset Chen Corp.
Tiffany beranjak dari kursi kebesarannya, berjalan mendekati jendela kaca besar lantai empat puluh lima. Dia menatap tajam ke arah gemerlap lampu kota Taipei di bawah sana dengan kedua tangan bersendekap di dada.
"Keluargaku sudah gila," gumam Tiffany dengan nada dingin yang menusuk.
Dia membalikkan badan, menatap asistennya dengan mata yang menyipit tegas.
"Daripada aku harus menikahi tuan muda manja yang hanya menginginkan perusahaan Chen Corp, aku lebih memilih lelaki yang bisa aku kendalikan dan aku kuasai saja," ucap Tiffany mantap.
Baginya, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan sebuah transaksi strategis.
Dia tidak butuh suami yang setara atau dominan. Dia butuh boneka yang penurut. Seorang pria asing tanpa koneksi politik atau bisnis di Taiwan, yang bersedia menandatangani kontrak hitam di atas putih demi uang, dan bisa dia kendalikan sepenuhnya di bawah telapak tangannya.
Tiffany kembali meraih cangkir kopinya yang sudah mendingin.
Di luar sana, takdir sedang menuntun seorang mantan sultan asal Jakarta yang kelaparan untuk masuk ke dalam jebakan kontraknya.
"Ayaaa... Punggungku seperti mau patah!"
Gavin meratap dalam hati sambil menyeka keringat yang bercucuran di dahinya. Hari ini adalah minggu kedua dia bekerja di pabrik komponen elektronik daerah Taoyuan. Tugasnya sederhana tapi menyiksa lahir batin: berdiri selama delapan jam sehari di depan ban berjalan, memilah pasokan kabel, dan memasukkannya ke dalam kotak karton besar.
Bagi seorang Gavin yang dulunya menganggap aktivitas fisik terberat adalah mengocok botol shaker protein di tempat gym elit Jakarta, pekerjaan ini terasa seperti romusha. Tangannya yang dulu halus, wangi parfum mahal, dan rajin dirawat di salon metroseksual, kini dipenuhi kapalan dan lecet-lecet kemerahan.
Saat jam istirahat makan siang tiba, Gavin menyeret langkah kakinya yang lemas menuju kantin asrama pekerja migran. Dia duduk di bangku panjang, menatap menu makan siang yang disajikan di atas nampan stainless: sepiring nasi putih, tumis sayur kucai yang layu, dan sepotong tahu goreng kotak yang kerasnya mirip batu bata.
Gavin menyendok nasi itu dengan raut wajah yang luar biasa nelangsa. Bibirnya mencebik ke bawah, matanya berkaca-kaca menahan rindu. Pikiran metroseksualnya langsung melantur.
Setahun lalu, jam segini aku pasti lagi nungguin steak daging sapi Wagyu A5 di restoran bintang lima Sudirman. Dagingnya meleleh di mulut... saus truffle-nya gurih...Gavin mengunyah tahu gorengnya dengan gerakan lambat, mencoba menghipnotis otaknya sendiri. Oke Gavin, bayangkan ini adalah Wagyu. Ini Wagyu... tapi kenapa rasanya seperti karet ban, ya Tuhan?
Sambil mengunyah dengan wajah sekuyu handuk basah, Gavin merogoh saku celana training murahnya. Dia mengeluarkan ponselnya.
Bukan lagi ponsel pintar seri terbaru berlogo apel digigit seharga tiga puluh juta yang dulu sering dia lempar-lempar ke sofa klub malam. Benda di tangannya sekarang adalah ponsel merek antah-berantah berharga satu jutaan yang dia beli di pasar loak Jakarta sebelum berangkat. Lebih mirisnya lagi, layar ponsel itu sudah retak seribu di bagian sudut kanan atas, membentuk pola mirip sarang laba-laba.
Gavin membuka aplikasi perbankannya untuk mengecek saldo Dolar Taiwan miliknya. Angka yang muncul di layar sukses membuat jantungnya copot.
"Hah? Cuma sisa dua ribu NTD (Dolar Taiwan)?" batin Gavin, matanya melotot horor ke arah layar yang retak.
Jika dikonversi ke Rupiah, uang itu bahkan tidak cukup untuk membayar biaya parkir mobil sportnya dulu di mal Grand Indonesia. Gavin mengembuskan napas berat, mengetuk-ngetukkan dahi pasrahnya ke atas meja kantin.
"Dulu saldo rekeningku digitnya mirip nomor telepon, sekarang digitnya mirip ukuran sepatu," ratapnya pelan dalam bahasa Indonesia, membuat pekerja migran asal Vietnam di sebelahnya menatap Gavin dengan pandangan heran, mengira pemuda tampan ini sudah gila karena tekanan kerja pabrik.
Gavin mengusap layarnya yang retak, hendak menutup aplikasi bank, ketika sebuah notifikasi berita bisnis lokal Taiwan tiba-tiba muncul di beranda ponselnya. Karena berita itu menampilkan foto seorang wanita dengan latar belakang gedung mewah, jemari Gavin iseng mengetuknya.
Di bawah foto itu, terpampang judul artikel dalam aksara Mandarin. Otak Gavin berputar keras, mengeja judul tersebut dengan kemampuan bahasanya yang pas-pasan.
"Chen... Yu-ting... alias Tiffany Chen... Pewaris Tunggal Chen Corp... Wanita Terkaya di Taipei... Masih Lajang dan Belum Menikah..."
Gavin mendekatkan matanya ke layar yang retak seribu, mengamati foto Tiffany yang sedang memakai kacamata tebal, baju formal abu-abu kaku, dan rambut disanggul asal-asalan tanpa makeup. Dia memandangi foto itu dari atas sampai bawah dengan saksama.
Sebagai mantan pencinta wanita di kelab malam Jakarta, radar estetika Gavin langsung menilai penampilan Tiffany secara sepihak.
"Waduh, gaya bajunya kaku banget, mukanya pucat, auranya dingin," gumam Gavin sambil menggelengkan kepala. "Ini sih fiks tipe tante-tante kaya raya umur tiga puluh lima tahun ke atas yang kurang belaian. Dengan dandanan kayak gini, mana ada yang mau, ya? Kecuali hartanya, aku mau."
Gavin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi besi kantin, menatap langit-langit pabrik dengan senyum licik yang mendadak terukir di wajah tampannya. Otak foya-foyanya yang dulu langsung aktif kembali.
Wah... tante-tante kaya raya tapi kesepian, batin Gavin mulai berhalusinasi. Seandainya wanita ini butuh boneka mainan, aku bisa jadi boneka mainan tante kaya ini. Dia pasti mau denganku yang tampan ini. Dengan modal wajah tampanku yang awet muda dan aku pura-pura menjadi cowok penurut yang manis, hehehe. Yang penting aku bisa dapat uang banyak dan keluar dari pabrik jahanam ini! Apa pun akan kulakukan, menjadi simpanan tante-tante pun akan kulakukan!
Gavin terkekeh sendiri membayangkan dirinya menjadi simpanan seorang miliarder Taiwan. Gavin sama sekali tidak menyadari bahwa wanita di artikel itu sebenarnya baru berusia 25 tahun dan merupakan bos besar pemilik pabrik tempat dia bekerja saat ini. Dan yang paling penting, wanita itu justru sedang menginginkan pria "boneka" yang persis seperti dirinya untuk dikendalikan.
Suasana di ruang VIP restoran hotel bintang lima di Taipei terasa elegan, tetapi kaku. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar besar telah dipenuhi berbagai hidangan mewah kelas atas. Semua orang sudah duduk di kursi masing-masing, kecuali satu orang.
Ayah Tiffany beberapa kali melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangannya dengan gelisah. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di seberang meja duduk Tuan Besar Lin dan Nyonya Lin—pemilik Lin Group—bersama putra mereka, Tuan Muda Lin.
"Ah, Tuan Lin, Nyonya Lin... saya benar-benar meminta maaf atas keterlambatan putri saya. Jalur menuju hotel malam ini sangat padat," ujar Ayah Tiffany sambil membungkuk sopan, berusaha mencairkan suasana.
Tuan Besar Lin tersenyum maklum sambil mengibaskan tangan.
"Tidak apa-apa, Tuan Chen. Kita semua tahu betapa sibuknya Nona Tiffany mengelola Chen Corp. Jiwa pebisnis mudanya benar-benar mengagumkan."
Di sampingnya, Tuan Muda Lin yang berpenampilan klimis dengan setelan jas desainer mahal ikut menimpali sambil menyesap teh.
"Betul, Paman Chen. Mungkin Tiffany sedang sibuk sehingga sedikit terlambat. Tidak apa-apa. Setelah kami menikah nanti, saya bisa membantu Tiffany mengelola Chen Corp agar dia bisa lebih fokus pada keluarga," ucapnya dengan nada tenang.
Sebenarnya, alasan Tiffany terlambat bukan karena macet. Selama tiga puluh menit, dia hanya duduk diam di dalam mobilnya di basement hotel sambil menatap kosong ke luar jendela. Dia benar-benar tidak bersemangat menghadiri acara ini. Jika bukan karena ancaman ayahnya yang terus-menerus meneror ponselnya selama seminggu terakhir, dia lebih memilih memeriksa laporan gudang daripada datang ke perjodohan terselubung ini.
Tok! Tok!
Pintu geser ruang VIP akhirnya terbuka.
Tiffany Chen melangkah masuk. Dia datang dengan kacamata kerja tebal, rambut disanggul rapi, dan blazer abu-abu polos tanpa sentuhan riasan sedikit pun. Wajahnya masam, sementara sorot matanya menunjukkan keterpaksaan yang begitu jelas.
Ayah Tiffany mengembuskan napas lega sekaligus kecewa melihat penampilan putrinya, tetapi buru-buru menyembunyikan kekesalannya.
"Ah, Tiffany! Akhirnya kamu datang. Sini, duduk di sebelah Tuan Muda Lin."
Tiffany hanya membungkuk singkat sebagai salam, lalu duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Acara perkenalan pun dimulai. Percakapan mengalir seputar rencana masa depan dan peluang kerja sama bisnis. Tuan Muda Lin mencoba membuka pembicaraan dengan Tiffany untuk menunjukkan kemampuannya.
"Nona muda chen, saya dengar Chen Corp sedang berencana membuka lini produksi baru di Taoyuan," ujarnya dengan senyum penuh percaya diri. "Lin Group memiliki jaringan logistik terbaik di sana. Jika kita menikah, saya bisa membantu proyek tersebut sehingga Anda tidak perlu kelelahan bolak-balik ke pinggiran kota. Anda bisa lebih fokus pada hal-hal ringan di kantor pusat."
Tiffany meletakkan sumpitnya perlahan.
"Terima kasih atas niat baik Tuan Muda Lin. Saya menghargai tawaran kerja sama dari Lin Group."
Dia membetulkan kacamatanya, lalu menatap pria di depannya dengan tenang.
"Namun, saat ini prioritas saya adalah memperkuat posisi Chen Corp di pasar Taiwan. Perusahaan sedang berada dalam fase penting, dan saya tidak ingin mengalihkan fokus saya pada hal lain."
Ayahnya langsung mengernyit.
"Tiffany, ini bukan hanya soal pekerjaan. Pernikahan dengan keluarga Lin akan memperkuat posisi Chen Corp."
Tiffany tetap tenang.
"Saya mengerti maksud Ayah. Pernikahan dengan keluarga Lin mungkin memberikan keuntungan tertentu di atas kertas. Namun, berdasarkan perhitungan saya, hubungan ini tidak memberikan dampak strategis yang cukup besar bagi Chen Corp."
Tiffany berdiri dari kursinya dan merapikan blazer yang dikenakannya.
"Maaf, Tuan Muda Lin. Bagi saya, pernikahan adalah sebuah kemitraan strategis yang harus benar-benar menguntungkan. Dari sudut pandang bisnis, saya tidak melihat adanya keuntungan finansial maupun stabilitas yang cukup jika harus berkomitmen dengan Anda. Maaf, saya harus kembali ke kantor karena ada rapat darurat."
Tanpa menunggu jawaban, Tiffany membungkuk hormat kepada Tuan Besar Lin dan Nyonya Lin yang terperangah, lalu melangkah keluar dari ruangan dengan tegas.
Makan malam itu pun berakhir dengan kegagalan total.
Namun, badai yang sesungguhnya baru dimulai ketika Tiffany tiba di kediaman keluarga Chen.
Begitu menginjakkan kaki di ruang tamu rumah utama, suara benturan meja terdengar keras.
"Tiffany! Apa-apaan sikapmu tadi?!" bentak ayahnya dengan wajah memerah menahan amarah. "Kamu sudah mempermalukan Ayah di depan keluarga Lin!"
Tiffany berdiri tegak, menatap ayahnya tanpa rasa gentar.
"Aku hanya jujur, Ayah. Tuan Muda Lin mungkin hanya mengincar pengelolaan proyek Taoyuan."
"Diam!" potong ayahnya kasar. Napasnya memburu akibat tekanan darahnya yang meningkat. "Ayah tidak peduli dengan alasan bisnismu! Ayah adalah kepala keluarga ini! Kamu sudah berusia dua puluh lima tahun, belum menikah, dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin memberikan keturunan penerus bagi keluarga Chen! Sikap keras kepalamu ini membuktikan bahwa kamu belum cukup matang memimpin perusahaan sendirian!"
Ayahnya menunjuk wajah Tiffany dengan tangan yang gemetar.
"Dengar baik-baik, Tiffany. Ini peringatan terakhir dari Ayah. Jika dalam waktu empat belas hari kamu tidak membawa calon pasangan yang setara dengan keluarga Lin, Ayah akan menggunakan hak suara Ayah untuk menjual seluruh saham mayoritas keluarga ke Lin Group! Biarkan dewan direksi mencopotmu secara tidak hormat dari kursi Direktur Utama!"
Tiffany mengepalkan tangannya di balik saku blazer hingga buku-buku jarinya memutih.
Ucapan ayahnya bagaikan hantaman palu godam yang menghantam dadanya. Jerih payah, waktu tidur, dan masa mudanya yang telah dikorbankan demi Chen Corp kini terancam lenyap hanya dalam waktu dua minggu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berbalik dan meninggalkan rumah itu dengan amarah serta tekanan yang mencapai titik puncak.
Di dalam mobil yang melaju membelah malam Taipei, otak bisnisnya yang terdesak mulai memikirkan sebuah langkah nekat.
Dia harus menemukan solusi untuk mengatasi masalah ini.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!