Indonesia
NovelToon NovelToon

Dikira Sampah Ternyata Pemegang Nasib Dunia

Terlahir Kembali Sebagai Pangeran

"Apa kamu menyukai bintang?"

Kalimat itu sangat membekas dalam jiwa seorang pemuda yang tengah berbaring di atas atap gedung sekolah.

Ia masih mengingatnya. Sosok yang begitu ia sayangi. Orang yang selalu menemaninya saat malam hari sambil memandangi langit yang dipenuhi bintang, membacakan buku cerita ketika ia masih kecil, dan orang yang membuatnya jatuh cinta pada astronomi.

Ibunya.

Rasi bintang—sekumpulan bintang yang tampak berdekatan dan membentuk pola, konfigurasi, atau objek tertentu di langit malam jika ditarik dengan garis imajiner. Masing-masing memiliki bentuk dan kisah uniknya sendiri.

"Kalau ibu sangat suka dengan rasi bintang Cassiopeia."

Kalimat itu kembali terlintas, membangkitkan kenangan lama di dalam benaknya.

Hembusan angin hangat menerpa wajahnya. Rasa kantuk kembali menjalar, membuat matanya terasa berat. Dengan enggan, ia memaksakan diri untuk bangun dan berdiri, lalu meregangkan tubuhnya.

"Uuugghhh…"

"Hoaaamm…"

Ia menoleh ke sekeliling.

Tidak ada seorang pun.

Sepertinya ia sudah tertidur cukup lama, dan kelas telah dimulai.

Pemuda itu mulai melangkah menuju tangga turun, berniat pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. Langkahnya pelan, melewati satu demi satu anak tangga.

Namun... Karena kantuk yang belum sepenuhnya hilang, pijakannya meleset. Tubuhnya oleng. Untung saja, tangannya sempat meraih pagar tangga.

"Huft... hampir saja. Telat sedikit, aku bisa pindah ke isekai." Ia terkekeh kecil, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuruni tangga.

Sesampainya di lorong sekolah, ia berjalan santai, seolah tak merasa bersalah karena membolos. Tujuannya sederhana, menuju kamar mandi untuk membasuh muka.

Entah sedang sial atau memang hanya kebetulan... Saat kakinya baru saja melangkah masuk—ada sebuah sabun batang tergeletak di lantai. Dan dengan sangat tepat, kakinya menginjaknya.

"Woaaah!"

Brak!

Benturan keras menghantam kepalanya.

Pandangannya mulai berkunang-kunang. Namun, di antara semua warna yang memudar, ada satu yang terlihat begitu jelas—merah. Warna darah yang mengalir dari kepalanya yang bocor akibat menghantam lantai dengan keras.

"Ini... tidak lucu..." gumamnya lirih.

Saat kesadarannya perlahan memudar, sebuah suara terdengar di telinganya.

"Apa kau menyukai bintang?"

Pemuda itu tersenyum tipis.

Lalu, dalam hatinya, ia menjawab, "Ya... aku sangat menyukainya."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Setelah kesadarannya tenggelam bersama rasa dingin yang merambat di seluruh tubuh, ia sempat berpikir bahwa semuanya telah berakhir. Ia sudah tidak bisa merasakan rasa sakit dan mendengar suara dari sekitar. Ia merasa sedang berada di sebuah ruangan gelap yang hampa.

Entah berapa lama ia berada di sana. Ia bahkan tidak bisa memastikan apakah dirinya masih berpikir, atau hanya sebuah kesadaran yang tersisa tanpa bentuk.

Namun perlahan, sesuatu mulai berubah.

Suara-suara asing mulai terdengar samar, seperti datang dari tempat yang sangat jauh. Hangat mulai menggantikan dingin yang sebelumnya menyelimutinya. Lalu, perlahan-lahan, cahaya mulai masuk.

Ketika ia membuka mata untuk pertama kalinya, dunia yang dilihatnya terasa kabur. Ada wajah-wajah yang tidak dikenalnya. Suara-suara yang tidak dipahaminya. Dan tangan-tangan besar yang mengangkat tubuhnya yang terasa begitu kecil.

Ia ingin berbicara, tetapi yang keluar hanya tangisan. Saat itu, ia belum mengerti. Ia belum tahu bahwa dirinya telah lahir kembali.

Waktu terus berjalan.

Hari-hari berganti menjadi bulan, lalu tahun. Tanpa menyadarinya, ia tumbuh sebagai seorang anak di lingkungan yang sama sekali berbeda dari kehidupan sebelumnya.

Namanya sekarang adalah Ash van Astoria.

Ia adalah pangeran keempat dari Kerajaan Astoria, sebuah kerajaan besar yang berdiri megah dengan sejarah panjang dan keluarga kerajaan yang dihormati oleh rakyatnya.

Sejak kecil, Ash tumbuh dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kamarnya begitu luas hingga terasa seperti rumah kecil tersendiri. Jendela-jendelanya tinggi, memperlihatkan taman istana yang selalu terawat rapi, dan setiap malam ia bisa melihat langit dengan jelas dari sana.

Meskipun begitu, ada sesuatu dalam dirinya yang selalu merasa kosong.

Ia tidak tahu alasannya.

Kadang-kadang, saat menatap bintang terlalu lama, dadanya terasa sesak oleh perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah ada sesuatu yang penting yang telah hilang, namun tak mampu ia ingat.

Ash memiliki penampilan yang cukup berbeda dibandingkan saudara-saudaranya.

Rambutnya berwarna hitam kebiruan, gelap namun memantulkan warna lembut ketika terkena cahaya, dengan beberapa helai putih yang menyebar tidak beraturan di antara rambutnya. Banyak pelayan istana mengatakan bahwa rambut itu membuatnya tampak seperti langit malam yang tersapu cahaya bintang.

Matanya pun memiliki warna yang serupa—hitam kebiruan, tenang dan dalam, seperti langit malam yang tak berujung.

Meski usianya baru tujuh tahun, Ash dikenal sebagai anak yang pendiam dan lebih suka menghabiskan waktu sendiri. Ia senang membaca di perpustakaan kecil dalam istana, berjalan-jalan di taman belakang, atau sekadar duduk diam di dekat jendela sambil menatap langit malam.

Pada malam ulang tahunnya yang ketujuh, seperti biasa, ia duduk sendiri di dekat jendela kamarnya.

Langit malam itu sangat cerah.

Bintang-bintang terlihat lebih banyak dari biasanya.

Tanpa alasan yang jelas, Ash terus menatap salah satu gugusan bintang di langit, merasa ada sesuatu yang menarik pikirannya ke sana.

Lalu tiba-tiba, kepalanya terasa nyeri.

Rasa sakit itu datang begitu mendadak hingga membuatnya memegang sisi tempat tidur untuk menjaga keseimbangan.

Bayangan-bayangan aneh mulai bermunculan di benaknya.

Sebuah atap sekolah.

Langit malam.

Suara seorang wanita yang terdengar lembut.

"Apa kamu menyukai bintang?"

Ash menutup kepalanya dengan kedua tangan. Napasnya menjadi tidak teratur. Gambar-gambar lain mulai bermunculan, hal itu membuat dirinya mengingat sesuatu.

Di antara gambar-gambar itu ada satu yang paling ia ingat, suara dirinya sendiri yang menjawab dalam hati.

"Ya... aku sangat menyukainya."

Ia terjatuh berlutut di lantai kamarnya. Butuh beberapa saat hingga rasa sakit itu perlahan mereda.

"..."

Napasnya masih berat dan tidak teratur. Tangannya gemetar ketika ia menatap telapak tangannya sendiri. Ia terkejut karena melihat ukurannya yang lebih kecil, lalu ia melihat pakaiannya, dan terakhir ia melihat pantulan dirinya di cermin.

Namun kenangan yang baru saja kembali terasa jauh lebih nyata dari apa pun. Ia perlahan memahami satu hal yang sulit dipercaya.

Sebelum menjadi Ash van Astoria... ia pernah hidup sebagai orang lain.

Sebagai seorang siswa SMA biasa yang mencintai bintang karena ibunya. Dan seseorang yang mati karena kecelakaan yang bahkan terasa terlalu konyol untuk disebut tragis.

Ash menundukkan kepala sambil tertawa kecil, meski rasa bingung masih memenuhi pikirannya.

"Jadi... aku bereinkarnasi setelah mati konyol di kamar mandi?"

Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Hanya keheningan malam yang menemaninya.

Ia bangkit perlahan, lalu berjalan menuju jendela. Di balik kaca, langit malam tetap sama seperti yang diingatnya.

Bintang-bintang masih bersinar dengan tenang.

Untuk pertama kalinya setelah mengingat semuanya, ia merasa sedikit lega. Ash tersenyum kecil sambil mengangkat pandangannya.

"Aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini," gumamnya pelan, "tapi kalau ini benar-benar kehidupan baruku... maka aku ingin menjalaninya dengan baik."

Malam terus berlalu, sementara seorang anak berusia tujuh tahun berdiri diam di depan jendelanya, mencoba menerima kenyataan bahwa dirinya kini adalah Ash van Astoria, pangeran keempat dari Kerajaan Astoria.

Dan tanpa ia sadari, kehidupan barunya baru saja benar-benar dimulai.

Pangeran Sampah

Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan dalam kehidupan Ash.

Bulan demi bulan berganti, lalu tahun demi tahun berlalu dengan ritme yang hampir selalu sama. Setelah mendapatkan kembali ingatan tentang kehidupan sebelumnya, ia sempat berpikir bahwa hidup barunya akan dipenuhi hal-hal luar biasa seperti yang sering muncul dalam cerita fantasi yang pernah ia baca.

Namun kenyataannya, sebagian besar waktunya justru diisi dengan rutinitas yang tenang dan cenderung membosankan.

Ash tidak terlalu keberatan dengan itu.

Sebagian besar waktunya ia habiskan di perpustakaan istana. Tempat itu perlahan menjadi ruang favoritnya. Rak-rak buku yang menjulang tinggi dan aroma kertas tua memberinya ketenangan yang sulit ia temukan di tempat lain. Di sanalah ia mempelajari dunia tempat ia kini hidup, mulai dari sejarah Kerajaan Astoria, geografi dunia luar, kisah para raja terdahulu, hingga teori dasar mengenai sihir dan mana.

Bagaimanapun juga, meski tubuhnya kini adalah milik seorang pangeran, jiwanya masih membawa kebiasaan lamanya sebagai seseorang yang selalu mencari jawaban melalui buku.

Di luar kegiatan membaca, Ash tetap menjalani pendidikan yang diwajibkan bagi keluarga kerajaan. Etika, politik, sejarah, hingga latihan pedang harus ia ikuti tanpa terkecuali.

Latihan pedang bukan sesuatu yang ia sukai, tetapi juga tidak ia benci. Ia memang tidak berbakat, namun setidaknya masih mampu mengimbangi latihan dasar.

Berbeda dengan sihir.

Tidak peduli seberapa banyak teori yang ia pelajari atau seberapa keras ia mencoba mengikuti arahan para pengajar, mana di dalam tubuhnya tidak pernah merespons.

Suatu sore, seorang guru sihir kembali menggeleng pelan setelah melihat Ash mencoba mengumpulkan mana.

"Cukup. Istirahatlah untuk hari ini Yang Mulia," ucapnya pelan tampak mengandung kekecewaan.

Ash menatap telapak tangannya yang tetap kosong.

"Maaf," balasnya lirih.

Guru itu menghela napas pelan dan berbicara pelan, "Aku sudah mengajari Anda selama bertahun-tahun, Yang Mulia. Jika tetap tidak ada perubahan..."

Kalimat itu menggantung.

Ash sudah tahu kelanjutannya.

Harapan mereka perlahan menghilang.

Baru saja ia melangkah keluar dari ruang latihan ketika suara tepuk tangan terdengar dari lorong.

"Hebat sekali."

Ash bahkan tidak perlu menoleh untuk mengenali suara itu.

Pangeran Cedric, kakak keduanya, berjalan mendekat bersama dua kakaknya yang lain.

"Masih gagal lagi?" tanya Cedric sambil tersenyum tipis. "Kudengar kau bahkan tidak bisa menyalakan percikan api," lanjutnya.

"Jangan terlalu keras padanya," sahut kakak sulungnya sambil terkekeh. "Bukankah adik kita memang spesial? Mana saja tidak mau mendekatinya."

Ketiganya tertawa pelan.

Ash hanya menundukkan kepala. "Aku masih akan terus berlatih," balasnya lirih.

"Berlatih?" Cedric mendengus. "Kalau memang tidak punya bakat, berlatih seratus tahun pun hasilnya tetap sama."

Saat Ash mencoba melewati mereka, Cedric sengaja menyenggol bahunya cukup keras hingga tubuh Ash kehilangan keseimbangan.

"Bahkan berjalan dengan benar saja tidak bisa," ejeknya.

Ketiga pangeran itu berlalu sambil tertawa kecil.

Ash mengusap bahunya yang terasa nyeri.

"Huft~ emang anak-anak bangsat yang cuma suka nindas orang lemah," gerutunya pelan.

Ia memilih berjalan menuju perpustakaan.

Melawan mereka hanya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk.

Hal itu pernah ia coba beberapa tahun lalu.

Saat itu ia membalas ejekan kakaknya dengan satu kalimat. Akibatnya, latihan pedang hari itu berubah menjadi alasan bagi mereka untuk "memberinya pelajaran". Memar di tubuhnya baru benar-benar hilang hampir dua minggu kemudian.

Sejak saat itu Ash belajar satu hal.

Diam jauh lebih mudah.

Setidaknya rasa sakit karena ejekan akan lebih cepat berlalu dibandingkan jika ia mencoba melawan.

Meskipun begitu, bisikan para pelayan tetap terdengar di mana-mana.

"Itu Pangeran Ash."

"Pangeran yang tidak bisa memakai sihir."

"Kasihan Yang Mulia Raja..."

Ash berpura-pura tidak mendengar.

Ia terus berjalan hingga akhirnya tiba di perpustakaan, satu-satunya tempat di istana yang terasa seperti rumah baginya. Tempat ia bisa menenangkan diri dari lelahnya.

Setidaknya, sampai suatu malam ketika seluruh keluarga kerajaan berkumpul untuk makan malam bersama.

.

.

.

Malam itu, aula makan keluarga kerajaan dipenuhi cahaya lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit. Meja makan panjang telah dipenuhi berbagai hidangan mewah, sementara para pelayan berdiri berjajar di sepanjang dinding, menunggu perintah dalam diam.

Seperti biasa, seluruh anggota keluarga kerajaan hadir.

Ash duduk di kursinya tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak perlahan memotong daging di atas piring, sementara telinganya hanya menangkap potongan-potongan percakapan mengenai pajak wilayah utara, perdagangan dengan kerajaan tetangga, dan laporan para kesatria.

Topik-topik itu sudah sangat akrab baginya.

Ia memilih diam dan makan dengan tenang.

Suasana baru berubah ketika Raja Astoria meletakkan gelasnya.

"Ada satu hal yang perlu kita bicarakan," ucapnya dengan nada tenang.

Seluruh ruangan seketika menjadi hening.

Raja memandang satu per satu putra-putranya sebelum akhirnya berhenti pada Ash.

"Beberapa bulan lagi, kalian yang telah mencapai usia lima belas tahun akan mengikuti Upacara Vassal."

Ash mengangkat kepalanya.

Ia tentu mengetahui upacara itu.

Selama bertahun-tahun ia membaca berbagai buku yang menjelaskan sejarah Senjata Vassal. Setiap orang hanya memperoleh satu Senjata Vassal sepanjang hidupnya. Bentuknya berbeda-beda, mulai dari pedang, tombak, busur, perisai, hingga benda-benda yang bahkan tampak tidak cocok digunakan dalam pertempuran.

Tak seorang pun benar-benar memahami bagaimana pemilihannya bekerja.

Sebagian percaya bahwa itu adalah kehendak dunia.

Sebagian lagi meyakini bahwa para dewa memilih sendiri senjata yang paling sesuai dengan jiwa pemiliknya.

Namun satu hal tidak pernah berubah.

Semakin kuat Senjata Vassal yang diterima, semakin tinggi pula masa depan seseorang. Terlebih bagi anggota keluarga kerajaan.

Cedric kemudian melirik Ash. "Saat upacara nanti kurasa ada seseorang yang mungkin justru cocok mendapat sapu."

Tawa kecil terdengar.

Ash tetap menatap piringnya, ia sudah terbiasa mendengar ejekan dari para saudaranya.

"Jangan bersikap tidak sopan, Cedric," ujar Raja dengan nada datar.

Ruangan kembali sunyi.

Cedric segera menundukkan kepala. "Maaf, Ayah."

Meski ditegur, senyum tipis di wajahnya belum benar-benar menghilang.

Raja kemudian kembali menatap Ash. "Walaupun kau tidak bisa menggunakan sihir..."

Kalimat itu membuat Ash menggenggam garpu sedikit lebih erat.

"Setidaknya dapatkan Senjata Vassal yang kuat."

Tidak ada nada marah atau bentakan, namun juga tidak ada sedikit pun kehangatan seorang ayah. Kalimat itu terdengar lebih seperti harapan terakhir daripada sebuah dukungan.

Ash menundukkan kepala. "Ya, Ayah," balasnya lirih.

Hanya itu yang mampu ia ucapkan.

Pangeran ketiga menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil berbisik pelan, cukup keras agar Ash mendengarnya.

"Kalau Vassal pun menolaknya, mungkin dia benar-benar tidak berguna."

Cedric tersenyum kecil. "Jangan bilang begitu. Siapa tahu dia mendapat sendok emas."

"Atau tongkat pel," sambung Pangeran ketiga.

Keduanya kembali tertawa pelan.

Ash mendengar semuanya. Namun ia tidak bereaksi. Ia hanya terus memotong makanan di piringnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Di dalam hati, ia sudah terlalu lelah untuk merasa marah. Ia hanya ingin makan malam ini segera berakhir.

Beberapa saat kemudian, Raja kembali membahas urusan kerajaan, seolah percakapan sebelumnya hanyalah bagian kecil dari agenda makan malam.

Tak lama setelah jamuan selesai, Ash berdiri dan memberi hormat.

"Kalau begitu, izinkan aku kembali ke kamar," ucapnya pelan.

Raja hanya mengangguk singkat.

Ash berbalik meninggalkan aula makan tanpa menunggu siapa pun.

Baru ketika pintu besar itu tertutup di belakangnya, ia mengembuskan napas panjang.

"Capek banget rasanya... Padahal cuma makan malam, udah kayak rapat aja," keluhnya.

Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu segera menghilang.

Langkahnya membawanya menuju balkon kamarnya.

Di hadapannya, langit malam terbentang luas, dipenuhi ribuan bintang yang berkilauan. Entah mengapa, hanya saat memandang langit seperti ini ia merasa pikirannya sedikit lebih tenang.

"Upacara Vassal, ya..."

Ia menyandarkan kedua siku di pagar balkon.

"Aku benar-benar penasaran."

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan secercah harapan.

Mungkin... Upacara itu akan menjadi awal dari perubahan dalam hidupnya.

Upacara Vassal

Hari yang selama ini terus ditunggu akhirnya tiba.

Sejak fajar menyingsing, seluruh Istana Astoria telah dipenuhi kesibukan. Para pelayan berlalu-lalang membawa berbagai perlengkapan upacara, sementara para kesatria berjaga di setiap sudut aula utama. Kereta para bangsawan berdatangan silih berganti, memenuhi halaman istana dengan lambang keluarga masing-masing.

Hari itu adalah Upacara Vassal. Sebuah ritual sakral yang hanya berlangsung sekali seumur hidup dan dipercaya menentukan masa depan setiap orang.

Ash berdiri diam di depan cermin kamarnya. Seorang pelayan tua dengan telaten merapikan kerah jubah kebesaran yang dikenakannya, memastikan tidak ada sedikit pun lipatan yang terlihat.

"Sudah selesai, Yang Mulia," ujar pelayan itu sembari mundur selangkah. "Semoga upacara hari ini berjalan lancar."

Ash menatap pantulan dirinya di cermin selama beberapa saat sebelum tersenyum tipis.

"Terima kasih," balasnya pelan.

Pelayan itu membungkukkan badan, lalu meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, senyum tipis di wajah Ash perlahan memudar. Lalu mengembuskan napas panjang.

Selama beberapa hari terakhir, ia terus berusaha meyakinkan dirinya sendiri agar tidak berharap terlalu tinggi.

Jika ia memperoleh Senjata Vassal yang kuat, mungkin perlakuan keluarganya akan sedikit berubah.

Jika senjatanya biasa saja, setidaknya ia masih memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.

Namun ada satu kemungkinan yang terus menghantui pikirannya.

Gimana kalo aku ga dapet apapun?

Ash segera menggeleng pelan. "Jangan mikir yang aneh-aneh," gumamnya sambil menepuk kedua pipinya perlahan. "Belum ada kejadian kayak gitu."

Meski berusaha menenangkan diri, jantungnya tetap berdegup lebih cepat dari biasanya.

Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu.

"Yang Mulia Pangeran Ash," panggil seorang pelayan dari luar ruangan. "Upacara akan segera dimulai."

Ash menarik napas dalam-dalam.

"Baik. Aku akan segera ke sana," balasnya.

Ia membuka pintu dan melangkah keluar dengan langkah yang berusaha tetap tenang.

...----------------...

Aula ritual kerajaan jauh lebih megah daripada biasanya.

Langit-langitnya menjulang tinggi dengan ukiran kuno yang menggambarkan para raja Astoria dari generasi ke generasi. Di tengah ruangan terbentang sebuah lingkaran sihir raksasa yang terukir di atas lantai marmer putih, memancarkan cahaya kebiruan yang lembut.

Ratusan pasang mata tertuju ke arah tempat itu.

Para bangsawan memenuhi kursi-kursi yang telah disediakan. Di sisi lain, para kesatria kerajaan berdiri tegak menjaga ketertiban.

Di ujung aula, Raja Astoria duduk di singgasananya dengan wajah tanpa ekspresi. Di sampingnya, sang ratu mempertahankan sikap anggun yang selama ini selalu ia tunjukkan di hadapan publik.

Ketiga kakak Ash berdiri tidak jauh dari mereka.

Begitu melihat Ash memasuki aula, Cedric menyunggingkan senyum tipis.

"Akhirnya datang juga," ujarnya pelan kepada kedua saudaranya.

"Semoga adik kita tidak membuat kejutan," sahut kakak sulungnya sambil terkekeh lirih.

"Kejutan?" Cedric mengangkat sebelah alisnya. "Kalau dia berhasil mendapatkan Vassal saja sudah merupakan keajaiban."

Ketiganya tertawa pelan.

Ash mendengar ucapan itu. Namun seperti biasanya, ia memilih berpura-pura tidak mendengarnya dan berjalan menuju tempat para peserta tanpa menoleh sedikit pun.

Tak lama kemudian, pendeta agung melangkah ke tengah aula.

"Atas restu para leluhur dan kehendak dunia," ucapnya lantang hingga menggema ke seluruh ruangan, "Upacara Vassal Kerajaan Astoria resmi dimulai."

Satu per satu peserta dipanggil maju.

Seorang putra bangsawan melangkah ke dalam lingkaran sihir.

Cahaya putih berkumpul di hadapannya sebelum berubah menjadi sebuah tombak panjang berwarna perak.

Tepuk tangan langsung memenuhi aula.

"Vassal Tombak!"

"Bagus sekali!"

"Anak itu memiliki masa depan cerah."

Peserta berikutnya memperoleh pedang berhias ukiran emas.

Disusul seorang gadis bangsawan yang menerima busur dengan aura sihir yang begitu kuat hingga membuat banyak orang berdecak kagum.

Setiap kemunculan Senjata Vassal selalu disambut sorak kagum.

Ash mengamati semuanya dalam diam.

Ia berusaha mengingat kembali setiap teori yang pernah dibacanya. Tidak ada satu pun catatan yang menyebutkan seseorang gagal memperoleh Senjata Vassal.

Akhirnya, pendeta agung mengangkat suaranya sekali lagi. "Pangeran Ash van Astoria."

Ash menarik napas panjang.

"Inilah saatnya," gumamnya pelan.

Ia melangkah menuju lingkaran sihir. Begitu kedua kakinya menginjak ukiran kuno itu, cahaya kebiruan langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.

Ash memejamkan mata.

Ia menunggu sembari berharap, selama itu waktu terus berjalan. Namun tidak terjadi apa-apa.

Ash mulai merasakan sesuatu yang aneh. Hingga akhirnya perlahan membuka matanya. Tatapannya langsung tertuju ke ruang kosong di hadapannya.

Lingkaran sihir yang semula bersinar perlahan kehilangan cahayanya hingga akhirnya kembali menjadi ukiran biasa.

Keheningan memenuhi aula.

Pendeta agung mengernyitkan dahi. Ia menatap lingkaran sihir beberapa saat, seolah memastikan tidak ada kesalahan dalam ritual yang baru saja berlangsung.

"Pendeta Agung..." ujar Ash pelan sambil menoleh kepadanya. "Apa... ritualnya sudah selesai?"

Pendeta itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya menganggukkan kepala.

"Ya," jawabnya lirih. "Ritual telah selesai."

Ash menatapnya dengan bingung. "Kalau begitu..." katanya perlahan, "di mana Senjata Vassalku?"

Pertanyaan itu tidak langsung mendapat jawaban.

Pendeta agung hanya menghela napas pelan. "Aku... tidak mengetahuinya, Yang Mulia."

Jawaban singkat itu membuat suasana aula berubah.

Bisikan mulai terdengar dari berbagai penjuru.

"Tidak mungkin..."

"Dia tidak mendapatkan Senjata Vassal?"

"Belum pernah ada kejadian seperti ini."

"Jangan-jangan dunia benar-benar menolaknya."

Suara-suara itu semakin lama semakin keras.

Ash dapat merasakan puluhan tatapan tertuju kepadanya. Tatapan heran, iba dan meremehkan.

Cedric menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. "Hebat sekali," ujarnya dengan nada mengejek. "Kupikir kau hanya tidak bisa menggunakan sihir." Lalu ia menggeleng pelan sambil menyeringai. "Ternyata bahkan Senjata Vassal pun tidak mau memilihmu."

Kakak sulungnya ikut tersenyum tipis. "Kurasa kita baru saja menyaksikan sejarah."

"Sejarah yang memalukan," timpal kakak ketiganya sambil terkekeh.

Ash mengepalkan kedua tangannya. Dadanya terasa sesak. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah singgasana.

"Ayah..." panggilnya lirih.

Raja Astoria membalas tatapan itu tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.

Setelah beberapa saat, ia akhirnya membuka suara.

"Upacara telah selesai," ujarnya datar.

Kalimat itu sederhana. Namun bagi Ash, rasanya seolah seluruh harapan yang selama ini ia genggam runtuh begitu saja.

Ia masih berdiri di tengah lingkaran sihir, sementara bisikan dan tatapan merendahkan dari seluruh penjuru aula terus menghujaninya tanpa henti.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!