Sebuah Pesawat berbadan lebar melesat meninggalkan ujung landasan dengan hidung yang perlahan menengadah ke langit. Dalam hitungan detik, roda-roda besarnya terangkat dari aspal, menyisakan jejak panas yang bergetar di belakang semburan mesin jet.
Sebuah pemandangan yang lumrah di sebuah bandara. Di salah satu tempat di bandara itu, seorang wanita cantik yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih bersih dengan potongan yang pas di tubuh, kerahnya tersusun rapi, sementara deretan kancing di bagian depan menambah kesan formal. Ujung lengan dikancingkan dengan manis di pergelangan tangan, membuat penampilannya tampak anggun dan berkelas. Tampak menarik kopernya dengan wajah yang begitu cerah, secerah sinar matahari yang ada di luar bandara.
Wanita itu Tatiana Ramos, usianya memang sudah tidak muda lagi, sudah 32 tahun. Dan sudah dua bulan dia meninggalkan kota ini, bahkan negara ini untuk urusan bisnis. Begitu dia keluar dari bandara, dia melihat mobil suaminya.
Tania tersenyum dan melangkah ke arah mobil itu.
Dari dalam mobil, seorang pria matang 37 tahunan tampak keluar dengan senyuman yang terlihat cukup tulus.
"Sayang, akhirnya kamu kembali. Aku sangat merindukanmu!" kata pria itu yang langsung merentangkan tangannya memeluk Tatiana.
Tatiana yang juga sangat merindukan suaminya, membalas pelukan itu tak kalah erat.
"Aku juga sangat merindukanmu, kita ke perusahaan dulu ya. Aku mau memeriksa sesuatu!"
"Baiklah"
Pria itu, Brandon Wirawan adalah suami Tatiana. Pernikahan mereka sudah berlangsung selama 10 tahun. Dengan wajah masih tersenyum, pria itu meraih koper Tatiana dan membuka bagasi mobil.
Tatiana masih terus memperhatikan suaminya, sampai suaminya membuka pintu penumpang bagian belakang.
Wajah Tatiana mulai berubah,
"Sayang, kenapa..."
Ucapan itu terjeda, ketika dari pintu penumpang bagian depan, keluar seorang wanita muda, dengan pakaian yang begitu minim dan tersenyum pada Tatiana.
"Nyonya, maaf tadi aku merapikan rambutku. Jadi tidak menyambut anda. Selamat datang kembali nyonya!"
Tatiana memalingkan wajah dari wanita genit itu ke arah suaminya.
"Siapa dia?" tanya Tatiana yang wajahnya berubah menjadi serius.
"Sayang, dia sekertaris baruku. Namanya Siska, dia lulusan Cambridge, sama denganmu!"
Tatiana menghela nafas berat. Bahkan setelah menyapa Tatiana, wanita malah kembali masuk ke dalam mobil, di tempat yang sama. Di mana seharusnya itu menjadi tempat Tatiana.
"Sayang, ayo! katanya mau ke perusahaan. Disini sudah mulai panas, nanti kamu kepanasan!" Brandon bicara dengan begitu lembut, seolah pria itu sangat perduli pada Tatiana.
Tapi, kalau dia memang perduli. Kenapa dia membiarkan kursi yang katanya dulu hanya bisa di duduki istrinya. Diduduki oleh wanita lain, bahkan saat dia satu mobil bersama Tatiana.
'Ini hanya hal kecil, hanya hal kecil. Kami sudah menikah 10 tahun, tidak boleh hanya karena hal kecil seperti ini, aku membuat mas Brandon malu di depan sekertarisnya' batin Tatiana.
Bahkan dia masih memikirkan muka suaminya. Setelah suaminya sebenarnya sudah tak memberi muka lagi padanya di depan sekertaris barunya itu.
Tatiana berjalan ke arah pintu mobil yang sudah di buka oleh Brandon. Dia masuk, dan suaminya itu segera menutup pintu.
Mereka pun meninggalkan bandara. Selama perjalanan Tatiana hanya diam, dia lebih senang melihat pemandangan di luar kaca jendela mobil, dibandingkan melihat suaminya yang sejak tadi asik mengobrol dengan Siska. Padahal mereka sudah tidak bertemu selama dua bulan. Bahkan suaminya tidak menanyakan bagaimana penerbangan yang sudah dilalui Tatiana selama 8 jam.
Begitu sampai di depan perusahaan. Brandon turun terlebih dahulu. Tatiana melepaskan sabuk pengamannya, dan menunggu suaminya membuka pintu untuknya. Tapi, lagi-lagi Tatiana harus dibuang menghela nafas berat, ketika dia melihat suaminya berjalan dengan cepat ke arah pintu mobil, dimana Siska berada.
Tatiana mendengus pelan dan membuka sendiri pintu mobilnya. Dia bahkan tidak menunggu suaminya, dia segera masuk ke dalam perusahaan.
"Sayang, tunggu..."
Brandon baru akan mengejar istrinya, namun Siska dengan cepat menahan tangan Brandon.
"Tuan, sebenarnya nyonya kenapa? dari tadi di dalam mobil dia diam saja. Bahkan seperti marah padaku. Apa aku melakukan sebuah kesalahan pada nyonya?" tanya Siska dengan tatapan memelas di depan Brandon.
"Kamu bicara apa? mana ada Tatiana marah. Dia sudah dua bulan tidak ke perusahaan. Dia mungkin merindukan perusahaan ini!"
Siska mengangguk lega.
"Aku pikir nyonya marah padaku, aku jadi merasa tidak enak!"
"Jangan dipikirkan, ayo masuk!"
Sungguh pertanyaan yang sebenarnya kalau ditanyakan oleh Siska di depan Tatiana, mungkin akan membuat darahh Tatiana mendidih. Bayangkan saja, bagaimana perasaan seorang istri ketika ada wanita lain yang duduk di samping suaminya, alih-alih dirinya. Dan masih bertanya, dimana letak kesalahannya? sungguh muka tembok kulit badak.
Ting
Pintu lift terbuka, Tatiana keluar dari dalam lift. Lantai 10 itu adalah lantai dimana kantornya sebagai wakil direktur berada.
Seorang karyawan yang melihatnya kembali ke perusahaan sangat senang.
"Nyonya Tatiana, anda sudah kembali?"
Beberapa orang yang lain juga begitu senang mendekati Tatiana.
"Syukurlah nyonya kembali!"
Kening Tatiana sedikit berkerut. Kenapa anak buahnya bicara seperti itu?
"Aku hanya pergi dua bulan, selama ini Mas Brand bilang perusahaan baik-baik saja kan? bagaimana dengan pekerjaan kalian? oh ya, proyek yang aku usahakan dengan Legal Company sudah berhasil, nanti aku akan berikan sebagai bonus tahunan untuk kalian..."
"Nyonya..."
Wajah-wajah di belakang Tatiana itu tampak cemas ketika Tatiana memasang gagang pintu ruangannya.
"Ada apa?" tanya Tatiana.
Tapi, alih-alih segera memberitahukan pada Tatiana tentang apa yang terjadi. Mereka tampaknya malah ragu. Seperti takut, dan khawatir.
Tatiana jadi semakin merasa aneh.
"Sebenarnya ada apa? kalau tidak ada masalah, aku mau periksa data bulan ini dulu..."
Tatiana membuka pintu. Sekertaris nya Lulu segera berlari mendekati bosnya itu. Dan sepertinya sudah terlambat. Tatiana sudah terkejut melihat ruangannya yang berubah, bukan hanya tata letak meja. Tapi semua yang ada di dalamnya berubah.
"Nyonya maaf..." lirih Lulu.
Tatiana mendesah kasar, dan menoleh ke arah semua orang yang ada di belakangnya.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Tatiana masih berusaha menahan emosinya.
"Itu... tuan yang memberikan ruangan ini pada sekertaris barunya. Saya sudah bilang untuk minta ijin dulu pada nyonya. Tapi tuan melarang, katanya nyonya tidak akan marah. Nyonya sangat menurut pada tuan, hanya ruangan saja, pasti nyonya tidak akan perhitungan!" jelas Lulu yang mengatakan itu dengan sangat sedih.
Tatiana kembali menghela nafas panjang. Dia memegang keningnya. Tapi, ini di perusahaan, dia berusaha untuk menahan diri.
"Kalian kembalilah bekerja!" katanya yang diangguki semua orang yang lalu keluar dari ruangan itu.
Tatiana memegang keningnya, bersandar di tepi meja kerja yang sekarang benar-benar tidak seperti ruangannya itu.
'Pertama tempat dudukku di mobil, lalu ruanganku, apa selanjutnya kamu akan berikan hatimu pada wanita itu, mas?' batin Tatiana yang mulai geram.
***
Bersambung...
Tatiana melihat ke sekitar ruangan itu, semua sekarang seperti bukan ruang kerja. Tapi seperti ruangan belajar anak manja. Piagam penghargaan dan semua tropi bisnis yang didapatkan oleh Tatiana, dia tidak tahu ada dimana semua barang-barang itu. Semua rak berisi boneka dan hiasan yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. Bahkan sebagian besar ruangan ini yang tadinya berwarna putih, berubah menjadi berwarna pink.
Tatiana memandang ke salah satu dinding. Disana duku dia menggantung foto pernikahannya dengan Brandon. Tapi, sekarang juga sudah tidak ada.
Ceklek
"Sayang, ruangan ini..."
"Aku baru mau bertanya padamu!" sela Tatiana begitu Brandon masuk ke dalam ruangan itu.
Siska menyusul dengan tangan yang menarik ujung lengan jas Brandon. Tatiana melihat itu, tapi dia mencoba untuk pura-pura tidak melihatnya. Dia punya hal yang lebih penting yang harus dia pertanyakan pada suaminya.
"Kenapa kamu memberikan ruanganku pada sekertaris mu?" tanya Tatiana.
Nada suara itu masih normal. Dia belum meninggikan sama sekali nada suaranya, mesin sebenarnya dia yakin kalau tensinya sudah mulai naik. Karena kepalanya mulai terasa sakit, dia baru kembali setelah menyelesaikan masalah yang sebenarnya dibuat oleh suaminya. Tapi begitu kembali, suaminya memberinya banyak sekali kejutan yang membuatnya sakit kepala.
Brandon masih dengan wajah tenang, mendekati Tatiana, bahkan tangannya mencoba menyentuh lengan Tatiana. Tapi Tatiana menghindar.
"Jelaskan!" kata Tatiana dengan tegas.
"Aku tidak pernah bilang memberikannya. Ruanganku kan memang paling dekat dengan ruangan ini. Kamu akan pergi cukup lama, aku hanya meminjamkan ruangan ini pada Siska. Begitu kamu kembali, dia akan pindah di tempat sekertaris!"
"Hanya pinjam?" tanya Tatiana.
Emosinya sedikit tersulut, suaminya bilang hanya meminjamkan. Tapi, kalau hanya meminjamkan, apakah semua barang-barang Tatiana harus di keluarkan?
"Iya sayang, hanya aku pinjamkan sementara saja!"
"Lantas kenapa kamu memperbolehkan dia merombak seenaknya ruangan ini? dimana semua barang-barang ku?" tanya Tatiana.
Wanita genit itu mendekat, dan kembali menarik ujung jas Brandon.
"Tuan maaf, aku yang salah. Aku yang mengganti semua barang-barang disini. Kata tuan, aku boleh memasukkan apapun yang bisa membuat aku kerja dengan nyaman..."
"Memasukkan apapun, apa kamu harus menyingkirkan semua barang-barang ku?" sela Tatiana mulai kehabisan kesabaran.
Wanita genit itu bicara dengan nada suara yang sangat manja pada suaminya. Bahkan terus menempel pada suaminya. Tatiana mulai kehilangan kendali.
Brukk
"Maafkan aku nyonya, hiks... hiks...!"
Bahkan sekarang, Siska berlutut dan berakting sangat tersakiti di depan Brandon.
Brandon yang melihat itu, bukannya menenangkan istrinya. Malah membantu Siska untuk bangkit berdiri.
"Sudah... sudah, jangan menangis. Ayo bangun dulu!"
Dan wanita genit itu, bangun perlahan sambil merangkul lengan Brandon. Dan yang membuat Tatiana muak, suaminya bukannya menghindar, malah merangkul wanita genit itu dan mengusap lengannya dengan sangat lembut.
"Sudah jangan menangis ya!"
Tatiana hampir tak bisa percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Suaminya bahkan menyeka air mata wanita genit itu. Menyentuh wajahnya dengan tangannya. Tangan yang katanya seumur hidup hanya akan menyeka air mata Tatiana saja.
Tatiana masih berusaha untuk mengendalikan dirinya, melihat suaminya terang-terangan menyeka air mata wanita yang jelas-jelas tak ada hubungan kekerabatan dengan mereka sampai, suaminya bisa secara wajar melakukan hal itu. Brandon dalam sekejap menatap Tatiana.
Tatapan yang selama 12 tahun mereka kenal, selama 10 tahun mereka menikah, belum pernah Tatiana lihat sebelumnya.
"Kamu ini sebenarnya kenapa sih, Tatiana? haruskah kamu membuat Siska ketakutan dan menangis seperti ini?"
Dan suara itu, juga adalah suara yang selama 10 tahun belakangan ini tak pernah dia dengar. Suara tinggi yang terlihat seolah Tatiana berhak menerima ucapan dengan nada marah itu.
Hati Tatiana rasanya sakit sekali, istri mana yang tidak sakit hati, ketika suaminya membentaknya demi wanita lain. Apalagi, jelas-jelas Tatiana tidak salah, dia hanya bertanya dimana barang-barangnya. Barang-barang itu sangat berharga, dia dapatkan dengan kerja keras selama hampir 10 tahun.
"Kamu membentak ku?" tanya Tatiana dengan wajah tak percaya.
"Kamu keterlaluan! dia ini masih sangat muda, dia baru lulus kuliah. Perbandingan usianya denganmu saja 10 tahun. Kenapa menakutinya, hanya karena barang-barang tidak berguna itu!"
Tatiana diam, tadinya tangannya mengepal karena dia sangat kesal. Tapi mendengar ucapan suaminya, kalau barang-barang itu hanya barang-barang yang tidak berguna, dia... diam.
Tatiana menghela nafas panjang.
"Terserah, tapi singkirkan semua ini dalam satu jam. Kembalikan meja kerjaku dan posisinya seperti semula!"
Tatiana segera keluar dari tempat itu. Daripada amarah dan rasa kesal, dia lebih merasa sangat muak.
Saat dia keluar dari pintu, arah langkahnya hanya tertuju ke arah ujung koridor lantai 10 itu. Ada sebuah ruangan, yang biasa digunakan untuk dia istirahat, disana dindingnya terbuat dari kaca, dan banyak tanaman yang bisa menghasilkan udara bersih. Dia merasa sejak kembali dari luar negeri, sejak tiba di bandara. Dia terlalu banyak menghirup udara kotor.
Tatiana membuka ruangan itu, semuanya masih sama. Tatiana menghela nafas lega. Dia menatap ke arah pemandangan yang ada di depannya. Tak lama ponselnya berdering.
Senyum terukir tipis di wajahnya, ketika dia melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya itu.
"Halo..."
[Sudah sampai? sudah beritahu kabar baiknya pada suamimu? jangan khawatir tentang perusahaan Tatiana, dananya sudah disiapkan. Tinggal kamu bilang saja kapan kami bisa Investasi. Kami akan segera datang kesana]
"Aku belum beritahu mas Brandon, nanti saja!"
[Baiklah, tapi kamu baik-baik saja kan? nada suaramu...]
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir!"
[Jangan sampai lupa, kamu punya kami berdua. Jika ada masalah, ada yang menyakitimu...]
Suasana hati Tatiana sungguh tidak seburuk tadi. Dia terkekeh, dia bicara dengan orang yang bisa membuat suasana hatinya benar-benar menjadi lebih baik.
"Iya... iya, aku tahu. Aku akan langsung lapor pada kalian berdua!"
[Baiklah, jaga dirimu]
"Iya"
Dan baru saja Tatiana menutup panggilan telepon itu. Ponselnya kembali berdering. Kali ini, ayah mertuanya yang menghubunginya.
"Halo ayah!"
[Tatiana, ayah dengar kamu sudah kembali. Datanglah ke rumah nak, ayah sudah minta pelayan memasak makanan kesukaanmu. Makan siang lah bersama Brandon di rumah]
"Ayah sudah menghubungi Brandon?" tanya Tatiana. Dia sedang tidak ingin bicara pada suaminya itu.
[Ada apa nak? kalian bertengkar? jangan khawatir, nanti ayah marahi anak nakal itu]
"Tidak ayah, hanya saja dia sedang tidak bersamaku saat ini!"
[Baiklah, ayah akan hubungi dia. Atau mau ayah jemput nak?]
"Tidak ayah, aku akan pergi sendiri!"
[Sampai bertemu di rumah ya Mak]
"Iya ayah!"
Panggilan itu berakhir. Tatiana kembali menghela nafas panjang.
***
Bersambung...
Taksi yang ditumpangi Tatiana berhenti di depan sebuah rumah mewah yang begitu besar. Pagarnya saja sangat tinggi, dengan dua penjaga di belakang pintu gerbang itu.
Tatiana turun dari taksi itu, berjalan ke arah pintu gerbang langkah ringan. Rumah itu, entah sudah berapa kali dia kunjungi dalam 10 tahun ini. Ayah mertuanya, Tatiana bahkan sudah anggap seperti ayahnya. Beliau sangat baik, bahkan akan selalu tersenyum ketika bertemu dengan Tatiana. Tapi, ibu mertuanya... sangat berbeda. Banyak hal memang yang ibu mertuanya tidak ketahui, karena memang ibunya Brandon itu punya riwayat lemah jantung. Terkadang, Tatiana bahkan malas datang karena ibu mertuanya hanya akan menambah panas suasana dengan terus mengatakan, kapan Tatiana akan memberinya seorang cucu.
"Nyonya muda, selamat siang!" sapa dua penjaga itu.
Tatiana mengangguk pelan, dan keduanya langsung membuka pintu. Salah satunya bahkan berniat mengantarnya sampai pintu utama.
"Tidak usah, aku bisa sendiri!" kata Tatiana.
Dari jauh saja, dia sudah bisa melihat ayah mertuanya menunggu di depan pintu. Tadinya Tatiana masih sedih memikirkan apa yang sudah suaminya lakukan. Tapi, melihat sang ayah mertua melambaikan tangannya, bahkan melangkah maju menghampirinya semua perasaan sedih itu langsung hilang begitu saja.
"Tatiana, anakku!" kata Burhan Wirawan dengan senyum tulus yang bisa Tatiana rasakan dari kejauhan.
"Ayah, di luar panas. Kenapa menunggu di luar?" tanya Tatiana ketika ayah mertuanya menyambutnya.
"Haih, ayah sudah tidak melihatmu dua bulan. Kamu bisa panas-panasan di luar, kenapa ayah tidak bisa, nak? lagipula kemana Brandon? sudah tahu istrinya tidak bisa menyetir, kenapa dia tidak mengantarmu?"
Seperti itulah, ayah mertua Tatiana cenderung sangat membela dan menyayangi Tatiana. Ada banyak hal yang terjadi selama 10 tahun ini yang melatarbelakangi semua itu. Tapi, hanya diketahui oleh keduanya.
"Bagaimana perjalanan mu, di pesawat lama punggungmu pegal tidak?"
Ayah mertuanya terus bicara, banyak hal yang menunjukkan pria paruh baya itu sangat perduli pada Tatiana.
"Lain kali ayan akan menasehati Brandon, supaya dia tidak sembarangan tanda tangan proyek. Berapa kali dia mengacaukan wirawan grup"
"Ayah, jangan khawatir. Semua masalah sudah beres!" kata Tatiana.
Dia pergi ke luar negeri memang untuk menyelesaikan masalah yang dibuat oleh Brandon.
"Kalau tidak ada kamu di sisi Brandon. Ayah juga tidak sudi menyerahkan tanggung jawab perusahaan padanya!"'
"Kalian bicara apa? sudah puas menghina anakku? sebaiknya pikirkan, bagaimana caranya punya anak!" celetuk Feby, ibunya Brandon.
Wanita itu tidak menyapa, hanya sekedar lewat, lalu pergi begitu saja setelah bicara seperti itu.
"Tatiana, jangan dengarkan apa yang dikatakan ibu mertua mu!"
Tatiana hanya mengangguk perlahan.
"Ayo masuk, ayah sudah minta bibi Dian memasakkan semua makanan kesukaan mu!" kata Burhan membuat Tatiana tersenyum.
Tatiana dan Burhan sudah sampai di ruang makan. Di sana Burhan bahkan mengambilkan lauk untuk membantunya itu. Tatiana juga menuangkan air minum untuk ayah mertuanya. Sementara Feby tampak mendengus pelan.
"Yang tidak tahu, pasti mengira kalau anakmu itu Tatiana, bukan Brandon!" celetuk Feby lagi.
"Tatiana bukan hanya menantu kita, dia sudah seperti anak kita!"
"Terserah!" sahut Feby dengan cepat dan acuh.
Tatiana sudah kenyang dengan tingkah ibu mertuanya itu. Sejak awal, Feby memang tidak suka pada Tatiana. Tatiana itu dari panti asuhan, dia sudah yatim piatu sejak kecil. Dia bahkan tidak ingat bagaimana dia berada di panti asuhan itu. Tapi dia pintar, pekerja keras. Dia bisa lulus kuliah dengan kemampuannya sendiri. Dan 5 tahun lalu, sebenarnya dia sudah ingat kenapa dia bisa berada di panti asuhan itu, bahkan sudah kembali pada keluarganya. Hanya saja, dia belum menceritakan semuanya pada keluarga suaminya. Karena tak ingin membuat suaminya merasa rendah diri.
"Punya menantu, tapi pulang dari luar negeri pun tidak bawa apa-apa untuk ibu mertuanya!"
Tatiana baru saja akan menyendokkan makanan ke mulutnya. Tapi kemudian gerakan itu berhenti. Ucapan Feby membuatnya tak selera makan sama sekali.
"Kamu ini, dua bulan lalu kamu baru minta perhiasan pada Tatiana kan?" tanya Burhan.
"Huh, menantu lain tidak seperti itu!"
"Kamu... Tatiana ini ke luar negeri bukan untuk liburan, tapi untuk menyelesaikan pekerjaan...!"
Tatiana menyentuh lengan ayah mertuanya perlahan.
"Ayah... tidak apa-apa! aku minta maaf Bu, aku benar-benar tidak sempat belanja. Nanti akan aku carikan tas yang bagus untuk ibu!"
Wajah Feby masih tampak tidak puas.
"Ck, tidak perlu. Aku bisa beli sendiri!" balasnya.
Tatiana hanya bisa menghela nafas. Belum juga suasana hatinya berubah menjadi baik kembali. Dia mendengar suara langkah menuju ke ruang makan, tapi bukan satu orang.
"Ayah, ibu..."
"Paman, bibi..."
Tatiana menoleh, itu bukan hanya suara suaminya. Tapi suara wanita yang baru saja membuatnya kesal di kantor.
Tatiana tertegun, bagaimana bisa suaminya mengajak sekertaris nya itu ke rumah orang tuanya.
"Bibi, aku bawakan tas keluaran terbaru. Tadi kebetulan aku lihat di mall, jadi aku pilihkan untuk bibi!"
Siska mendekati Feby dan memberikan sebuah tas dengan merek ternama pada Feby. Dari mereknya saja, itu harga belasan juta yang paling murah. Mustahil seorang sekertaris bisa membelikan barang mahal seperti itu. Pasti di beli dengan uang Brandon. Tatiana makin tak percaya dengan semua ini, suaminya terang-terangan mengeluarkan belasan juta untuk menyenangkan wanita lain.
"Siska, kamu memang sangat pengertian! tidak seperti orang yang tidak berguna. Sudah tidak bisa punya anak, kerjanya cuma keluyuran ke luar negeri menghabiskan uang Brandon!"
Tangan Tatiana terkepal di pangkuannya. Dadanya benar-benar penuh dengan amarah. Tapi karena masih berada di samping Burhan, dia berusaha menahan dirinya.
"Brandon! ini acara keluarga, kenapa kamu membawa orang luar?" tanya Burhan yang jelas tidak suka pada kelakuan anaknya yang membawa Siska di acara makan siang bersama keluarga.
"Ayah, Siska bukan orang luar. Dia sekertaris pribadiku. Dia banyak membantuku di perusahaan!" jawab Brandon.
"Jangan dengarkan ayahmu! dia terlalu berpihak pada seseorang yang tidak berguna!" kata Feby.
Tatiana sudah mulai menyatukan geraham atas dan bawahnya. Tapi dia masih berusaha menahan diri.
"Duduklah di sini Siska, mau makan apa?" tanya Feby.
Tatiana melihat ke arah suaminya. Apakah suaminya diam saja, ibu mertuanya mengatakan semua itu padanya. Dan ya, kenyataannya Brandon juga sibuk menarik kursi untuk Siska. Bahkan menyangkan air untuk wanita itu.
Pandangan Tatiana lalu tertuju ke pergelangan tangan Siska.
"Mas, gelang yang dipakai wanita itu, itu punyaku kan?" tanya Tatiana yang mengenali gelang miliknya. Gelang yang dia beli sendiri dengan hasil tabungannya selama beberapa tahun.
***
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!