"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak."
Naura tersenyum sambil mengusap pipi putra bungsunya yang belepotan saus tomat. Di seberangnya, putri sulung mereka sedang sibuk menghabiskan segelas susu sebelum berangkat sekolah.
"Ma, nanti Mama jemput aku, ya?" tanya putrinya.
"Oke sayang, selama ini kan... Mama selalu jemput kalian."
Naura mengacak lembut rambut putrinya, meski tubuhnya kini jauh lebih berisi dibandingkan delapan tahun lalu tapi senyumnya tetap hangat.
Dua kehamilan yang berdekatan membuat berat badannya naik drastis. Bekas operasi caesar, kurang tidur karena mengurus anak, ditambah kesibukan mengurus rumah membuat tubuhnya tak pernah kembali seperti dulu.
Namun Naura tidak pernah menyesal. Baginya, kedua anak itu adalah anugerah terbesar dalam hidupnya.
Tak lama kemudian, suara klakson terdengar dari luar. Mobil penjemput sekolah sudah datang, Naura mencium kening kedua anaknya bergantian.
"Hati-hati di sekolah, ya."
"Iya, Ma!"
Setelah anak-anak pergi, rumah mewah itu mendadak terasa sunyi. Naura membereskan meja makan seorang diri.
Biasanya, Erwin sudah berangkat ke kantor sejak pagi. Namun hari ini, pria itu justru duduk di ruang keluarga dengan kaki disilangkan, mengenakan setelan jas mahal berwarna hitam. Tatapannya dingin, seolah sedang menunggu sesuatu.
"Kok belum berangkat?" tanya Naura sambil tersenyum.
"Ada yang ingin kubicarakan." Nada suara Erwin terkesan dingin.
Naura menghampiri, masih dengan raut wajah biasa saja tanpa ada kecurigaan apapun. "Ada apa?"
Tanpa banyak bicara, Erwin meletakkan sebuah map di atas meja. "Aku ingin bercerai."
Perkataan suaminya itu membuat senyum Naura menghilang seketika. "A-apa?"
"Aku sudah menyiapkan semua berkasnya."
Naura menatap map itu, lalu kembali menatap wajah suaminya. Ia berharap mendengar tawa, dan berharap semua ini hanya candaan yang kelewatan. Namun wajah Erwin sama sekali tidak berubah.
"Kau serius?"
"Sangat serius."
Jantung Naura berdegup semakin cepat. "Kenapa?"
"Aku sudah lelah."
"Lelah karena apa?"
Erwin berdiri, tatapannya perlahan turun mengamati tubuh Naura dari kepala hingga kaki. Pandangan pria itu merendahkan. "Lihat dirimu, Naura!"
Refleks Naura memegang ujung bajunya. "Apa maksudmu?"
"Kau berubah!“ Erwin mendengus jijik.
“Setelah melahirkan dua anak kita, memang tubuhku belum kembali seperti dulu..." suara Naura mulai bergetar, "Tapi Mas, aku sedang berusaha menurunkan berat badan."
Erwin justru tersenyum sinis. "Sudah tiga tahun, kau bilang masih berusaha?"
"Kau tahu bagaimana rasanya ketika semua kolega bertanya kenapa istriku terlihat seperti kau ini, gendut? Mereka membawa istri yang cantik, langsing, dan berkelas. Sementara aku... harus berdiri di samping wanita gemuk yang membuatku kehilangan rasa percaya diri." Setiap kata yang keluar dari mulut pria itu terasa seperti pisau.
Wajah Naura memucat. "Jadi... kau malu memiliki istri sepertiku?"
"Bukankah itu sudah jelas?" Erwin tersenyum sinis.
"Tubuh ini berubah karena mengandung anak-anakmu, Mas." Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Naura. "Karena setelah melahirkan mereka, setiap malam aku begadang saat mereka sakit... sementara kau sibuk bekerja tanpa pernah mau membantuku mengurus mereka."
"Itu pilihanmu." Erwin mengembuskan napas pelan.
Jawaban singkat pria itu menghancurkan seluruh pertahanan Naura.
Pilihannya? Bukankah dulu Erwin sendiri yang memintanya berhenti bekerja agar fokus mengurus keluarga? Bukankah Erwin juga yang berkata... bahwa dirinya akan menjaga Naura seumur hidup?
Ternyata semua janji itu hanya berlaku saat tubuhnya masih sempurna.
"Sayang..." Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan seorang wanita muda melangkah masuk sambil membawa tas bermerek.
Ia berhenti sesaat ketika melihat Naura. "Oh, apa aku mengganggu?"
Naura mengenal wajah itu, Davina—sekretaris pribadi Erwin.
Tatapan keduanya bertemu, Davina sama sekali tidak tampak canggung. Sebaliknya, wanita itu berjalan mendekat lalu berdiri tepat di sisi Erwin. Tangannya bahkan dengan santai melingkar di lengan pria itu.
"Jadi benar..." Dada Naura terasa sesak, Ia menatap Erwin. "Kalian memiliki hubungan?"
Erwin tidak melepaskan tangan Davina.
"Iya." Jawab pria itu singkat, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Naura tersenyum pahit. "Sejak kapan?"
"Sudah cukup lama, sejak kau mulai berubah."
Naura mengangguk pelan, kini semuanya masuk akal. Lembur suaminya yang terlalu sering, dan perjalanan bisnis mendadak. Pesan yang selalu disembunyikan, dan parfum wanita asing yang beberapa kali menempel di jas Erwin. Semuanya bukan sekadar kecurigaannya, melainkan kenyataan.
"Aku akan menandatangani surat cerai itu." Suara Naura terdengar jauh lebih tenang. "Tapi... aku ingin tetap bersama anak-anak."
Belum sempat Erwin menjawab, Davina terkekeh pelan. "Maaf, Naura. Tapi sepertinya... itu tidak mungkin."
"Apa maksudmu?" Naura mengernyit.
Erwin mengambil satu map lain dari atas meja. "Aku sudah mengajukan hak asuh penuh, kedua anak akan tinggal bersamaku."
Seolah disambar petir, tubuh Naura membeku. “Kau tidak serius..."
"Aku sangat serius, anak-anak membutuhkan lingkungan yang lebih baik." Erwin menatap tubuh Naura tanpa sedikit pun rasa iba. "Dan seorang ibu... yang bisa mereka banggakan. Lihat saja keadaanmu sekarang, bagaimana mungkin kau bisa membesarkan mereka?"
Naura memejamkan mata beberapa saat. Dadanya sesak, tetapi ia menolak menangis di hadapan mereka. Ia membuka matanya, lalu perlahan menarik map berisi surat perceraian itu ke hadapannya.
Delapan tahun pernikahan, dan dua anak yang ia lahirkan. Semua pengorbanannya, ternyata berakhir hanya dengan beberapa lembar kertas. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil pena. Namun, ia tetap membubuhkan tanda tangannya.
Brak!
Naura meletakkan pena di atas meja. "Sekarang kita sudah resmi berpisah secara kesepakatan."
Erwin mengambil kembali map itu tanpa sedikit pun keraguan, tatapan pria itu justru tampak lega.
Naura menatap pria bajingan itu dengan pandangan dingin menusuk. "Lalu tentang hak asuh anak, aku tidak akan menyerah. Kedua anak itu lahir dari rahimku, aku yang mengandung mereka selama sembilan bulan, mempertaruhkan nyawaku di ruang operasi, dan membesarkan mereka dengan tanganku sendiri. Aku akan memperjuangkan hak asuh mereka, apa pun yang terjadi!"
Davina yang berdiri di samping Erwin terkekeh pelan. "Naura, jangan bermimpi deh! Mas Erwin punya kekuasaan, uang, dan pengacara terbaik. Menurutmu, siapa yang akan dipercaya hakim? Seorang miliarder... atau ibu rumah tangga yang bahkan tidak punya penghasilan?"
Tak sampai disana, Davina bahkan tersenyum mengejek. “Lagian, mikir aja sih! Kenapa kau sampai dicerai Mas Erwin. Lihat tubuhmu itu, perutmu bergelambir dipenuhi lemak dari kepala sampai kaki. Lemakmu bahkan tidak muat lagi ditutupi pakaian. Sekali melihatmu saja sudah membuat orang kehilangan selera makan. Kau benar-benar menjijikkan, Naura! Aku saja muak melihatmu, apalagi Mas Erwin yang harus berhadapan denganmu setiap hari."
Naura seketika menatap Davina, tatapannya sedingin es hingga senyum penuh kemenangan di wajah wanita pelakor itu perlahan menghilang.
"Yang sebenarnya kau banggakan apa, Davina? Wajah yang sudah dirombak habis-habisan? Matamu, hidungmu, bibirmu, dagumu... semuanya hasil operasi. Payudaramu pun hanya silikon. Dari kepala sampai kaki, nyaris tak ada yang benar-benar milikmu." Suara Naura tenang, tetapi setiap katanya menusuk.
"Mas..." Davina langsung merapat ke sisi Erwin dengan wajah memelas, merengek dengan wajah manjanya.
Namun Naura tak memberi pria itu kesempatan, tatapan dinginnya beralih pada Erwin. "Dan kau, Mas? Demi wanita palsu seperti ini, kau menghancurkan rumah tangga kita? Kau meninggalkan yang asli demi yang serba buatan."
Senyum Naura tipis, penuh sindiran. "Memang... tubuhku gemuk. Wajahku tak lagi secantik dulu, tapi semua yang ada padaku asli. Kulitku tidak diputihkan dengan suntikan, dan wajahku tidak dipahat oleh dokter. Tubuhku tidak diisi silikon, berbeda dengan wanita yang sekarang kau pilih ini."
Erwin terpaku, mulutnya terbuka tetapi tak satu kata pun keluar. Ia nyaris tak mengenali Naura yang selama ini selalu lembut dan memilih diam, kini menghina orang lain secara blak-blakan.
Tanpa menunggu tanggapan, Naura berbalik menuju kamar. Langkahnya mantap, kepalanya tegak. Ia membuka lemari, lalu memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper kecil. Tak satu pun perhiasan pemberian Erwin disentuhnya. Ia hanya membawa pakaian, dokumen pribadinya, dan sebuah album foto yang berisi kenangan bersama kedua anaknya.
Sebelum keluar dari kamar, pandangannya sempat berhenti pada foto keluarga yang terpajang di atas nakas. Di foto itu, mereka tampak begitu bahagia.
Naura tersenyum tipis. "Ternyata... hanya aku yang menganggap semua ini nyata."
Ia mengangkat kopernya, lalu melangkah keluar. Sesampainya di ruang tamu, ia berhenti sejenak di depan Erwin.
"Mulai hari ini, aku memang bukan lagi istrimu. Tapi ingat baik-baik, aku akan kembali. Aku tidak akan datang untuk mendapatkanmu kembali, aku datang untuk merebut kedua anakku. Dan saat itu, tidak ada yang bisa menghentikanku!"
Erwin tersenyum meremehkan. "Aku tunggu kalau memang kau mampu!“
Naura tersenyum tipis, tatapannya sengaja meluncur ke arah bawah tubuh Erwin sebelum kembali menatap Davina.
"Davina, apa dia pernah bilang kalau beberapa tahun lalu dia bahkan kesulitan memuaskan istrinya sendiri? Apa kau tahu... pria yang kau banggakan ini, dulu bahkan punya masalah ejakulasi dini? Kalau bukan karena aku yang mencari dan meracik obat herbal, mungkin sampai sekarang kondisinya tak akan membaik." Bibirnya melengkung penuh ejekan.
Wajah Erwin seketika pucat. "Naura!"
Namun Naura tak menggubris bentakan Erwin. "Selama ini hanya aku yang tahu ramuan herbal yang membuat kondisinya membaik. Aku yang mencari bahannya, aku yang merebusnya setiap hari. Wanita sepertimu mana mungkin tahu."
Davina menoleh pada Erwin dengan mata membelalak, sementara pria itu hanya mampu mengatupkan rahangnya.
"Sayang sekali, mulai hari ini aku berhenti meraciknya. Kalau nanti kondisinya kembali seperti dulu, jangan salahkan aku. Anggap saja itu bonus perpisahan untuk kalian berdua, semoga bahagia. Jika dipikirkan, kalian berdua benar-benar cocok. Wanita palsu berdampingan dengan pria... yang selama ini harus bergantung pada istrinya agar tetap bisa memuaskan wanita."
Naura terkekeh pelan, tak ada lagi air mata atau luka di wajahnya. Yang tersisa hanya kepuasan karena akhirnya Erwin merasakan betapa memalukannya sebuah rahasia ketika dibuka di depan orang lain.
Naura tidak bicara apapun lagi, Ia melangkah keluar dari rumah tanpa menoleh sedikit pun. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ponsel di dalam tasnya berdering. Nama yang telah delapan tahun tak pernah muncul kini memenuhi layar, Kakek.
Naura mengangkat panggilan itu.
"Naura." Suara pria tua di seberang terdengar penuh wibawa. "Sudah cukup kau hidup sebagai istri keluarga Gentala, kembalilah. Kakek menunggumu mengambil kembali, tempat yang seharusnya menjadi milikmu."
Naura menoleh sekali ke arah rumah yang baru saja meninggalkannya, tatapannya berubah tajam.
"Baik, Kek. Kali ini... aku akan pulang."
Erwin tak menyadari bahwa wanita yang baru saja mereka usir, adalah pewaris tunggal keluarga konglomerat yang nilainya berkali-kali lipat lebih besar daripada seluruh aset keluarga Gentala.
Mobil hitam yang ditumpangi Naura akhirnya berhenti di depan sebuah mansion megah bergaya klasik, perlahan gerbang besi perlahan terbuka.
Lambang keluarga Ardynata terpampang gagah di tengahnya. Sudah delapan tahun, Naura tak pernah menginjakkan kaki di rumah itu lagi.
"Dulu aku pergi dengan hati hancur dari rumah ini, dan hari ini... aku kembali dengan hati yang jauh lebih kuat." Bisiknya pelan.
Pintu mobil dibukakan oleh seorang pria paruh baya berjas hitam.
"Selamat datang, Nona Naura." Pria itu membungkuk hormat. "Saya Dion, kepala pelayan keluarga Ardynata."
Naura hanya mengangguk tipis.
Belum sempat ia melangkah masuk, pintu mansion terbuka. Seorang pria tua berambut putih berjalan tergesa-gesa sambil bertumpu pada tongkatnya.
"Naura..." Tatapan matanya langsung berkaca-kaca, suara itu bergetar.
"Kakek..."
Tanpa memedulikan puluhan pelayan yang sedang menyaksikan, pria tua itu langsung memeluk cucunya erat. "Kakek minta maaf... Kakek terlambat menemukan kebenaran."
Naura memejamkan mata, sudah lama ia tidak merasakan pelukan sehangat ini.
"Semuanya sudah berlalu, Kek."
"Tidak."
"Kakek tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Namun kehangatan itu hanya berlangsung sesaat. "Ternyata benar, dia pulang."
Suara seorang wanita terdengar dari arah tangga, Naura mengangkat kepalanya. Delapan tahun berlalu, wajah itu masih sama. Cantik dan lembut. Namun senyum yang terukir di bibirnya selalu terasa palsu, Tania.
Di belakangnya berdiri seorang wanita anggun yang wajahnya mulai dipenuhi kecemasan, Miranda. Tatapan wanita paruh baya itu langsung berkaca-kaca saat melihat Naura.
"Naura..." Wanita itu melangkah beberapa langkah.
Namun Naura justru mundur, gerakan sederhana itu membuat langkah Miranda terhenti. Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya keluar dari ruang kerja. Raut wajahnya tampak kaku, dialah Sakti Ardynata—Ayah Naura.
Delapan tahun, dan ini adalah pertama kalinya mereka kembali bertemu.
Naura tidak memeluk siapa pun ataupun menyapa mereka. Ia hanya mengedarkan pandangannya, menatap satu per satu orang yang berdiri di hadapannya. Delapan tahun lalu... rumah ini adalah neraka baginya.
Semua berawal dari kedatangan seorang wanita, namanya Dahlia. Ia datang membawa seorang gadis berusia dua puluh dua tahun, dan gadis itu adalah Tania. Dahlia datang Dengan membawa hasil tes DNA, dia mengaku bahwa puluhan tahun lalu terjadi penukaran bayi di rumah sakit.
Menurut hasil tes tersebut, Tania adalah putri kandung Sakti dan Miranda, sedangkan Naura bukan. Kabar itu menghancurkan keluarga Ardynata. Miranda yang semula sangat menyayangi Naura mulai menjaga jarak. Sakti yang merasa telah 'membesarkan anak orang lain' perlahan berubah dingin.
Sementara Tania, dengan mudah mengambil tempat Naura di rumah itu. Awalnya Naura mencoba bertahan, Ia percaya kedua orang tuanya akan tetap mencintainya. Namun, kenyataan berkata lain.
Setiap kali Tania menangis, Naura yang disalahkan. Setiap kali terjadi kesalahpahaman, Naura yang dimarahi. Sampai akhirnya, Ia memilih pergi meninggalkan rumah. Hari itu, tak seorang pun menahannya.
Lamunan Naura buyar, tatapannya kembali tertuju kepada Sakti. Pria itu tampak jauh lebih tua dibanding delapan tahun lalu.
"Naura..." Suara Sakti terdengar pelan.
Naura tersenyum tipis. "Lama tidak bertemu, Pak Sakti."
Deg!
Sakti membeku, dulu putrinya selalu memanggilnya Papa. Kini, hubungan mereka bahkan terasa lebih asing daripada orang yang baru bertemu.
"Naura... Mama..." Miranda tak kuasa menahan air matanya.
"Maaf." Naura memotong lembut. "Orang yang delapan tahun lalu percaya bahwa aku bukan anaknya, tidak perlu memanggil dirinya Mama di depanku."
Kata-kata Naura yang menusuk, membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
Sementara Tania diam-diam tersenyum puas. Baginya, selama Naura masih membenci kedua orang tuanya, posisinya di keluarga Ardynata akan tetap aman.
Suasana ruang keluarga mansion Ardynata masih dipenuhi keheningan selama beberapa saat. Tak seorang pun berani membuka suara. Naura berdiri dengan tenang di samping Kakeknya.
Sementara Sakti dan Miranda terus menatap putri mereka dengan perasaan bersalah yang sulit diungkapkan.
Sebaliknya, Tania justru terlihat santai. Bahkan sesekali sudut bibirnya terangkat tipis, seolah yakin kedatangan Naura tak akan mengubah apa pun.
Kakek Ardynata mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Dion."
"Ya, Tuan Besar."
"Bawa semua berkasnya."
"Baik."
Tak lama kemudian, Dion datang membawa sebuah koper aluminium berukuran sedang. Semua mata langsung tertuju ke arah koper itu.
Klik.
Begitu koper dibuka, terlihat beberapa map tebal tersusun rapi.
"Apa itu?" Tania mengernyit.
Kakek Ardynata tak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah map berwarna hitam, lalu mengeluarkan dua lembar hasil pemeriksaan laboratorium.
"Delapan tahun lalu..."
"Papa..." Miranda menatap pria tua itu penuh kecemasan.
"Kalian menerima sebuah hasil tes DNA." Kakek tetap melanjutkan. “Hasil itu menyatakan... bahwa Naura bukan anak kandung kalian. Itulah alasan kalian berubah, perlahan menjauh dari Naura. Dan kalian, selalu lebih membela Tania."
Tak ada yang membantah, karena semuanya memang benar.
Naura hanya berdiri tanpa ekspresi, semua luka itu sudah terlalu lama ia simpan. Kini, ia bahkan tak lagi ingin memperdebatkannya.
Kakek kembali mengangkat lembar hasil pemeriksaan di tangannya. "Tiga tahun lalu, setelah aku menjalani operasi dan kondisiku membaik... aku selalu merasa ada yang janggal."
Tatapan pria tua itu beralih kepada Sakti dan Miranda. "Selama bertahun-tahun aku melihat Naura tumbuh di keluarga ini. Wajahnya begitu mirip dengan Sakti saat masih muda. Tatapan matanya, cara berbicaranya, bahkan sifat keras kepalanya sangat mirip denganmu Miranda. Semakin kupikirkan, semakin sulit bagiku mempercayai hasil tes DNA delapan tahun lalu. Karena itulah aku diam-diam meminta dilakukan penyelidikan ulang."
Tania mulai merasa tidak nyaman, tatapannya berpindah-pindah antara Kakek dan kedua orang tua Naura.
"Penyelidikan?"
"Aku menggunakan laboratorium forensik terbaik, bukan laboratorium yang dipakai delapan tahun lalu. Dan hasilnya..."
Pria tua itu meletakkan dua lembar hasil tes DNA di atas meja. "Naura, adalah putri kandung Sakti dan Miranda."
Wajah Sakti langsung memucat. Miranda menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya mengalir semakin deras.
Sedangkan Tania, tubuhnya membeku. "Tidak... itu tidak mungkin."
"Hasil tes itu sudah diperiksa tiga kali!" Kakek menatap Tania dengan tajam. "Hasilnya tetap sama, Naura adalah anak kandung keluarga Ardynata. Sedangkan kau... tidak memiliki hubungan darah sedikit pun dengan keluarga ini."
"Mustahil! Kalau begitu... hasil tes delapan tahun lalu bagaimana?"
"Itu juga yang ingin kutahu." Kakek memberi isyarat kepada Dion, Kepala pelayan itu segera menyerahkan sebuah map lain. Di dalamnya terdapat hasil investigasi selama tiga tahun terakhir. "Aku menyewa penyelidik terbaik, kami menelusuri laboratorium yang mengeluarkan hasil tes delapan tahun lalu."
"Hasilnya, tes DNA itu dipalsukan."
"Dipalsukan?" Sakti membelalak.
"Benar."
"Beberapa pegawai laboratorium telah mengaku menerima uang untuk mengganti hasil pemeriksaan."
Miranda terduduk lemas. "Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan pada putriku..."
Air matanya pecah, Ia menoleh kepada Naura. "Naura, Mama minta maaf. Maaf karena Mama gagal mempercayaimu."
Naura memandang wanita yang telah melahirkannya itu dengan wajah datar. Delapan tahun lalu, Ia berkali-kali menjelaskan bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan. Namun tak seorang pun mau mendengarnya. Kini, hanya karena dua lembar kertas... mereka dengan mudahnya meminta maaf.
"Maaf?" Naura tersenyum tipis. "Kalau kata itu bisa menghapus semua lukaku... mungkin aku sudah memaafkan kalian sejak lama."
Miranda menangis semakin keras, sementara Sakti hanya mampu menundukkan kepala. Ia menyadari, bahwa dirinya telah gagal menjadi seorang ayah.
Tanpa disadari siapa pun, sepasang mata tengah mengamati seluruh kejadian itu.
Pria itu perlahan mengeluarkan ponselnya. "Lapor, rahasia delapan tahun lalu akhirnya terbongkar."
"Kalau begitu, jangan biarkan Naura hidup terlalu lama. Putriku, Tania... harus jadi pewaris satu-satunya." Sebuah suara dingin terdengar dari seberang telepon.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!