Indonesia
NovelToon NovelToon

Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin

Menjadi Istri yang Terbuang

"Nona Muda, bangunlah. Tuan Muda Kedua dan Tuan Muda Ketiga sudah menunggu di paviliun utama."

Terdengar samar, menembus kabut kesadaranku.

Kelopak mataku terasa berat.Saat akhirnya aku membuka mata. Rasa pusing langsung menghantam kepalaku.

Di sekelilingku terbentang tirai sutra merah yang megah, meski tampak usang. Ingatan asing mengalir deras membanjiri benakku.

Jantungku berdegup kencang saat potongan kehidupan pemilik tubuh ini mulai tersusun di kepalaku.

Hah... Ternyata aku benar-benar bertransmigrasi ke dalam novel buatanku sendiri. Gumamku yang tak percaya.

Aku hampir tersedak. Lebih buruk lagi, aku terjebak dalam tubuh tokoh wanita utama yang tragis; seorang istri yang diabaikan tepat di malam pengantin oleh ketiga suaminya sendiri. Ini plot yang gila, gumamku dalam hati, masih mencerna kenyataan ini. Di dunia ini, pemilik tubuh asli adalah gadis malang yang selalu merengek dan memohon kasih sayang, yang justru membuat ketiga suaminya merasa jijik dan muak.

"Nona Muda, akhirnya Anda bangun."

Seorang pelayan muda dengan wajah cemas berdiri di sisi tempat tidur. Itu Xiao Chu, satu-satunya pelayan yang masih setia menemani pemilik tubuh ini di tengah penghinaan keluarga.

Jika dulu tubuh ini menjadi beban bagi semua orang, mulai hari ini tubuh ini tak akan lagi menjadi sasaran ejekan.

Aku bangkit perlahan, membiarkan Xiao Chu membantuku mengenakan gaun berat nan mewah.

"Xiao Chu, ke mana Tuan Muda Pertama?" tanyaku dengan nada sedatar mungkin.

Xiao Chu tampak ragu.

Bahunya merosot. Kilatan takut tampak di matanya, khawatir aku akan meluapkan amarah seperti pemilik tubuh ini dulu.

"Nona Muda, Tuan Muda Pertama sudah lama tidak kembali ke kediaman utama," jawabnya dengan suara gemetar.

Ke mana dia? Paviliun Jinsheng?

Pikiranku langsung tertuju pada lokasi favorit sang tokoh utama pria dalam novelku—sebuah paviliun di mana ia sering menghabiskan waktu dengan wanita yang sengaja kuciptakan sebagai musuh bebuyutan tokoh utama.

"Nona Muda, sudah siap," bisik Xiao Chu sambil merapikan sanggul rambutku.

Aku menghela napas sambil menatap bayanganku di cermin perunggu.

Pertanyaan berikut mungkin terdengar konyol...bagi pelayanku, seolah aku adalah orang asing di rumah sendiri—memang benar begitu—tapi aku butuh konfirmasi untuk menyusun strategi.

"Xiao Chu, apa selama ini ketiga pangeran jarang pulang ke rumah?"

Xiao Chu menunduk dalam, hampir menyentuh lantai. "Nona Muda, Tuan Muda Mo memang jarang pulang, bahkan bisa dibilang tidak pernah benar-benar menemui Anda sejak malam pernikahan."

Tentu saja, batinku. Pelayan ini terlalu jujur. Aku tahu persis mengapa dia jarang pulang; dia lebih memilih menghabiskan malam di Paviliun Jinsheng, terbuai oleh pesona wanita penggoda yang memang aku ciptakan untuk menyiksa hatinya—atau lebih tepatnya, kini menyiksa hidupku.

"Sudah, biarkan saja. Sekarang, mari kita temui kedua pangeran lainnya," perintahku tegas.

Aku melangkah dengan anggun menuju halaman utama. Di balik cadar tipis, aku menyembunyikan senyum penuh arti. Mereka semua mengira pemilik tubuh ini adalah wanita buruk rupa dan tidak berpendidikan.

Mereka tak tahu wajah ini adalah mahakarya yang mampu meruntuhkan kota dan negara.

Setibanya di halaman utama, kedua suamiku sudah menunggu. Mereka berdiri di sana, dikelilingi oleh aura dingin yang menekan. Tuan Muda Kedua dan Ketiga tampak begitu gagah dengan jubah sutra berwarna gelap yang menonjolkan bahu bidang mereka.

Mereka bahkan tidak menoleh saat aku mendekat, seolah kehadiranku hanyalah debu yang lewat di angin lalu.

"Selamat pagi, Tuan Muda Kedua, Tuan Muda Ketiga," sapaku dengan nada yang tenang dan penuh hormat.

"Apakah begitu caramu menghormati suamimu dengan panggilan 'Tuan Muda'?"

Suara berat dan dingin menyambar, membuat suasana seketika mencekam. Itu Tuan Muda Shen, sang pria dengan watak paling kejam di antara ketiganya. Tatapannya setajam belati, seolah aku hanyalah kotoran di sepatunya.

Aku tidak gentar. Justru sebaliknya, aku balas menatapnya dengan tenang.

"Tenanglah, Tuan Muda Shen. Kita menikah hanyalah karena perjodohan yang dipaksakan oleh orang tua kita. Jadi, aku akan tetap memanggilmu dengan sebutan Tuan Muda. Ini bukan karena rasa cintaku yang tidak ada, melainkan sebagai cara untuk menjaga martabat kita masing-masing di depan para pelayan," jawabku dengan suara yang jernih dan berwibawa.

Detik itu juga hawa dingin menyusup ke kulitku. Kedua pria di depanku menatapku lekat-lekat, terkejut dengan perubahan nada bicaraku yang biasanya penuh rengekan. Seolah-olah mereka ingin menelanjangiku dengan tatapan mereka, mencoba mencari tahu apakah wanita di depan mereka ini benar-benar wanita yang sama dengan yang mereka benci selama ini.

Aku tidak membuang muka. Aku berdiri tegak, membiarkan angin pagi memainkan ujung cadarku. Jika mereka menginginkan sebuah sandiwara, maka aku akan memberikan pertunjukan yang tidak akan pernah mereka lupakan.

"Kau berani menjawab?" Tuan Muda Kedua, yang sedari tadi diam, kini melangkah maju. Matanya menyipit, meneliti gerak-gerikku.

"Kenapa tidak?" sahutku enteng. "Jika aku diam, kalian menganggapku bodoh. Jika aku bicara, kalian merasa terganggu. Sepertinya, tidak ada hal yang bisa aku lakukan untuk memuaskan hati kalian. Jadi, mengapa aku harus membuang energi untuk sekadar menyenangkan pria yang bahkan tidak sudi melirikku?"

Halaman seketika sunyi. Xiao Chu di belakangku sudah bergetar ketakutan, namun aku tetap tenang. Dalam novel yang kutulis, aku selalu membuat karakter wanita utama ini menjadi sosok yang lemah. Namun, sekarang aku adalah pengarangnya, dan aku tidak akan membiarkan karakter ini hancur begitu saja.

Dunia ini milikku. Aku yang menulis setiap baris takdir mereka, dan sekarang, aku akan menulis ulang masa depanku sendiri.

Tatapan tajam para suamiku tak lagi membuatku takut justru, ini adalah awal dari permainan kekuasaan yang sesungguhnya.

Aku tidak akan tunduk pada mereka. Aku akan menjadi diriku sendiri, bukan Tang Anning. Aku Anna, perempuan dari dunia modern tahun 2026.

Pion yang Mulai Melawan

"Terserah kau saja, tapi di depan orang tua, statusmu tetaplah sebagai istri kami."

Suara dingin Shen Changge memecah kesunyian di halaman paviliun yang luas itu. Angin pagi yang dingin menyapu dedaunan kering, menambah kesan mencekam di antara kami. Kalimat itu bukan sekadar perintah, melainkan sebuah pengingat akan belenggu yang sengaja ia pasang di kakiku. Aku tahu posisiku di sini; aku hanyalah pajangan yang harus dipelihara demi martabat keluarga, meski sebenarnya aku hanyalah target dari kebencian mereka yang tak berdasar.

Dingin sekali... mungkin mereka terlalu banyak makan es hingga hati mereka membeku, pikirku sinis. Aku menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang bergejolak di dada.

Aku mengomel panjang lebar di dalam hati, namun di hadapan mereka, yang kudapatkan hanyalah tatapan datar dan tajam dari dua pria yang kejam itu. Mereka berdiri tegak, memancarkan aura dominasi yang membuat siapapun merasa kecil.

Kenapa aku harus menciptakan karakter sekaku dan semenyebalkan mereka di dalam novelku sendiri? sesalku dalam batin. Jika aku tahu akan berakhir menjadi korban dalam cerita ciptaanku sendiri, aku pasti akan membuat mereka menjadi pria yang penuh kasih sayang dan perhatian.

Aku memanyunkan bibir, meski wajahku tertutup cadar yang menyembunyikan ekspresi kekesalanku. Tentu saja, mereka tidak akan pernah tahu gejolak emosi yang sedang kualami di balik topeng kain ini. Aku merasa seperti burung dalam sangkar emas—terlihat megah dari luar, namun mati perlahan di bagian dalam.

"Kembalilah. Jangan keluar dari kediaman ini tanpa izin," ucap suara lain yang terdengar lebih lembut, namun sarat akan otoritas.

Itu Hou Juntian, suami ketigaku. Suaranya kontras dengan sikapnya—lembut di telinga, namun wajahnya tetap sedatar batu tanpa ekspresi. Aku menatapnya sejenak, mencoba mencari secercah kehangatan, namun yang kutemukan hanyalah ketegasan militer yang kaku. Pria ini adalah seorang jenderal muda, dan kedisiplinan sudah mendarah daging dalam setiap gerak-geriknya.

"Kalian ini, benar-benar mengurungku seperti burung yang takut lepas," gerutuku dengan nada yang sengaja kutinggikan, lalu berbalik pergi meninggalkan mereka tanpa menoleh sedikit pun. Langkah kakiku terdengar tegas di atas ubin halaman, diikuti Xiao Chu yang tampak pucat pasi ketakutan, napasnya tersengal-sengal berusaha menyamai langkahku.

Shen Changge dan Hou Juntian mematung di tempat mereka berdiri, menatap punggungku yang perlahan menjauh, menghilang di balik gerbang paviliun. Hening panjang menyelimuti udara, seolah dunia sedang menunggu apa yang akan mereka katakan selanjutnya. Tidak ada suara burung, tidak ada desau angin, hanya ada ketegangan yang menggantung di antara kedua pria itu.

"Adik ketiga," Shen Changge akhirnya memecah keheningan dengan suara rendah yang berat, "kenapa aku merasa Tang Anning hari ini terasa berbeda? Dulu, dia bahkan tidak berani menatap mata kita, apalagi melayangkan protes. Sekarang, lihatlah... dia bahkan berani menunjukkan kemarahan secara terang-terangan dan membalas setiap kata kita."

Hou Juntian terdiam, sepasang matanya yang tajam menyapu area paviliun dengan insting seorang jenderal muda. Meskipun usianya baru delapan belas tahun, firasatnya jarang sekali meleset. Ia merasakan sesuatu yang ganjil, sebuah pergeseran dalam aura yang dipancarkan oleh wanita yang seharusnya mereka abaikan.

"Aku merasakan hal yang sama. Sesuatu tentang dirinya telah berubah drastis," jawab Hou Juntian dingin. "Awasi dia. Jangan sampai dia membuat masalah di luar sana; firasatku mengatakan dia sedang merencanakan sesuatu yang tidak terduga dan bisa membahayakan reputasi keluarga kita."

Hou Juntian tidak mau mengambil risiko. Ia menoleh ke sudut kegelapan yang tersembunyi di balik pilar kayu besar.

"Pengawal!" serunya tiba-tiba.

Dalam sekejap, sosok bayangan hitam muncul di hadapan mereka, berlutut dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Kehadirannya begitu senyap, seolah-olah ia muncul langsung dari bayang-bayang yang memanjang di tanah.

"Ya, Tuan."

"Awasi Nona Muda. Ikuti setiap langkahnya, dengarkan setiap bisikannya, dan laporkan kepada kami apa pun yang ia lakukan," perintah Hou Juntian tegas, auranya memancar penuh wibawa.

"Baik, Tuan."

Sosok bayangan itu menghilang dalam sekejap mata, kembali ke dalam kegelapan tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Hou Juntian segera memperketat keamanan di sekitar Kediaman Jianwu. Ia tahu, istri mereka bukanlah orang yang bisa diremehkan lagi. Namun, bagi Shen Changge, tindakan ini terasa berlebihan, atau mungkin, ia hanya tidak ingin mengakui bahwa ia mulai tertarik pada perubahan sang istri.

"Adik ketiga, kau terlalu kejam padanya," gumam Shen Changge, meski jauh di lubuk hatinya, ia setuju dengan langkah tersebut. Baginya, perubahan sikap Tang Anning adalah ancaman nyata terhadap ketenangan hidup mereka yang teratur.

"Kakak kedua," sahut Hou Juntian tanpa menoleh, matanya masih menatap ke arah pintu paviliun tempatku menghilang, "kita sebagai suami memiliki tanggung jawab untuk menjaga gadis itu. Meskipun pernikahan ini hanyalah karena perjodohan konyol yang dipaksakan orang tua, dia adalah kunci kesuksesan garis keturunan kita. Kita tidak bisa membiarkannya hancur atau melakukan sesuatu yang memalukan keluarga di luar sana."

Shen Changge mendengus sinis, tangannya mengepal erat di sisi jubahnya. "Ikuti saja kemauanmu. Tapi aku tidak yakin akan hasilnya. Hatiku sudah terlanjur tertuju pada wanita lain—satu-satunya wanita yang kusayangi sejak masa kecilku, penyelamatku yang sesungguhnya di masa kelam itu."

Hou Juntian menghela napas panjang, menatap kakaknya dengan tatapan penuh keheranan.

"Lagi-lagi soal penyelamat masa kecilmu itu. Sampai kapan kau akan terus terobsesi? Apakah kau sudah benar-benar menemukannya, atau kau hanya sedang bermimpi dalam tidurmu? Dunia tidak berputar hanya untuk mencari seorang gadis dari masa lalu."

Pertanyaan itu membuat Shen Changge terdiam. Ia pun sebenarnya tidak tahu jawabannya. Obsesinya pada sosok penyelamat masa kecil itu telah menjadi dinding yang memisahkan dirinya dari kenyataan, termasuk dari istri sahnya sendiri, Tang Anning.

Sementara itu, di dalam paviliun, aku sedang duduk di depan meja rias, menyusun rencana di kepalaku. Aku tahu mereka pasti akan mengawasiku, mungkin mengirim pengawal bayangan untuk mengintip gerak-gerikku. Namun, mereka lupa satu hal: penulis dari cerita ini adalah aku. Aku tahu setiap sudut rumah ini, setiap rahasia gelap yang kusembunyikan di balik dinding-dinding kayu tua ini.

Jika mereka memainkan peran suami dingin dan kejam, maka aku akan menjadi istri yang tidak bisa diatur oleh mereka.

Malam itu, di balik tirai sutra yang bergoyang pelan tertiup angin, aku mulai menuliskan bab baru dalam hidupku. Sebuah lembaran di mana Tang Anning tidak lagi menjadi korban, melainkan sang penguasa takdir. Dan untuk kedua suami yang sombong itu, mereka baru saja memulai permainan yang tak akan pernah bisa mereka menangkan.

Tunggu saja, bisikku pada bayangan di dinding. Dunia ini mungkin milik kalian, tapi naskah ceritanya... ada di tanganku.

Langkah dalam Bayang-Bayang

"Sudah. Dia berada di Paviliun Jinsheng, aku masih belum menemukannya."

Suara Shen Changge terdengar parau di tengah denting lonceng angin. Pandangannya menembus langit malam yang mulai menggelap, sementara wajah dinginnya menyimpan kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan.

"Apa kau yakin dia penolongmu atau bukan? Apakah ada tanda khusus, atau giok, atau mungkin sesuatu yang ia tinggalkan sebagai bukti?" tanya Hou Juntian. Tatapannya sedingin es, namun ada secercah rasa prihatin yang tersembunyi jauh di balik sikap militeristiknya.

Hou Juntian tahu, kakaknya sudah terlalu larut dalam obsesi. Bagi Shen Changge, gadis yang pernah menyelamatkannya bertahun-tahun lalu jauh lebih penting daripada kenyataan di hadapannya.

"Aku hanya tahu dia sangat mahir menyulam bunga plum, dan saputangan ini... polanya persis sama dengan apa yang dia miliki," jawab Shen Changge, tangannya sedikit gemetar saat menunjukkan sehelai kain sutra usang kepada Hou Juntian. Tatapannya dipenuhi kerinduan yang tak pernah pudar.

Hou Juntian menghela napas panjang, menepuk pundak saudaranya dengan gerakan kaku. "Ya sudah, simpanlah keyakinan itu. Tapi ingat satu hal, Jenderal Tang tidak akan tinggal diam jika tahu menantunya diperlakukan seperti pelayan, apalagi jika suaminya terang-terangan memelihara selir di Paviliun Jinsheng. Pikirkanlah konsekuensi dari tindakanmu ini sekali lagi, Kakak Kedua. Kita berada di atas puncak kekuasaan, dan satu kesalahan kecil bisa membuat kita jatuh tersungkur."

Tanpa menunggu jawaban, Hou Juntian berbalik dan melangkah pergi. Suara sepatunya menggema pelan di lantai kayu.

Ia meninggalkan Shen Changge yang masih tenggelam dalam lamunannya sendiri di tengah halaman. Shen Changge tahu apa yang ia lakukan adalah sebuah pengkhianatan terhadap komitmen pernikahan yang suci, namun di matanya, kesetiaan pada janji masa kecil terasa jauh lebih penting daripada kontrak perjodohan yang tidak pernah ia kehendaki.

**

Sementara itu, di dalam Paviliun Kedamaian, kediaman milik Tang Anning, suasana jauh berbeda. Aku sedang duduk di depan cermin, memperhatikan bayanganku sendiri yang tampak kontras dengan nasib tragis tokoh ini.

"Xiao Chu, bantu aku mengganti pakaian. Aku ingin memakai pakaian pria," perintahku tegas, suaraku memecah keheningan malam yang sunyi.

Xiao Chu membeku. Matanya membelalak seolah baru saja mendengar perintah yang mustahil.

"Nona Muda... untuk apa? Apakah Anda ingin membuat kekacauan lagi? Jika Tuan Muda mengetahui hal ini, nyawa kita bisa terancam!"

Aku mendengus pelan sambil tersenyum misterius. "Ikuti saja. Aku sudah bosan mendekam di kediaman ini seperti burung dalam sangkar emas. Malam ini, aku akan keluar menyamar. Dan dengarkan baik-baik, Xiao Chu, jika ada yang datang mencariku, katakan saja aku sedang beristirahat total karena kelelahan dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun, bahkan oleh mereka."

"Nona Muda! Itu sangat berbahaya! Jika ketiga Tuan Muda tahu bahwa Anda menyelinap keluar..."

"Jangan takut," potongku sambil menepuk pundaknya dengan lembut, mencoba menenangkan kegelisahan yang memancar dari matanya. "Mereka bahkan tak peduli aku hidup atau mati. Mereka tak akan sadar aku keluar. Lagi pula, aku ini istri mereka, bukan tahanan."

"Nona Muda, kumohon, segeralah kembali sebelum malam benar-benar larut dan gerbang ditutup," rengek Xiao Chu dengan wajah yang sudah sepucat kertas, jemarinya bertaut cemas.

"Baiklah, baiklah... Xiao Chu, berhentilah menangis. Jika aku kembali dengan selamat, aku akan membelikanmu hadiah paling mewah dari pusat kota. Muaach!" aku menggoda pelayanku yang masih cemas itu sebelum berbalik arah menuju jendela.

Aku merapikan pakaian pria yang kukenakan, memastikan ikatannya cukup ketat untuk menyamarkan bentuk tubuhku.

Dengan satu tarikan napas panjang, aku melompat ringan ke atas atap kediaman.

Bruk!

Aku mendarat dengan mulus. Sensasi pendaratan yang ringan itu membuatku terkejut setengah mati. Ternyata pemilik tubuh ini memiliki ilmu Qinggong (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa!

Baru sekarang kusadari keuntungan menjadi penulis dunia ini. Tang Anning bukan hanya cantik, tetapi juga menguasai qinggong dan bela diri. Kemampuan itu akan sangat berguna untuk rencanaku. Aku bisa menggunakan kemampuan ini untuk memata-matai mereka, atau sekadar melarikan diri jika keadaan menjadi tidak terkendali.

Aku berjalan melintasi atap-atap rumah penduduk dengan langkah yang nyaris tak bersuara, bayanganku menari-nari di bawah cahaya bulan purnama. Di bawah sana, pusat kota tampak hidup dengan ratusan lampu lampion yang temaram dan suara pedagang yang masih menjajakan dagangannya. Bau mantou kukus yang manis dan gurih menusuk indra penciumanku, membuat perutku mendadak keroncongan.

"Wah... dunia ini benar-benar terasa nyata jika aku bisa menikmatinya tanpa gangguan mereka," gumamku sambil tersenyum lebar.

Aku mampir di sebuah gerobak pedagang kaki lima dan membeli tanghulu—manisan buah yang rasanya asam manis nan legit. Sambil mengunyah manisan itu dengan santai, mataku tertuju pada sebuah bangunan megah yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri.

Ah... Paviliun Jinsheng. Tempat di mana suami-suami nakalku menghabiskan malam mereka.

Aku belum berniat bertindak. Terlalu gegabah. Malam ini aku hanya ingin melihat sendiri wanita yang berhasil merebut perhatian suami-suamiku.

**

Malam itu, di bawah cahaya bulan yang terang, aku bukan lagi Tang Anning yang terabaikan. Aku adalah Anna sang pengamat, sang bayangan yang mulai menyelinap ke dalam rahasia mereka. Aku tahu persis apa yang terjadi di paviliun itu karena akulah yang menulis setiap detailnya dalam naskah asliku.

Aku harus berhati-hati. Sekali ketahuan menyusup, nyawaku bisa melayang. Anehnya, justru bahaya itu membuat darahku berdesir. Aku sudah terlalu lama menjadi boneka, dan malam ini adalah pembuktian bahwa boneka itu pun bisa memutus talinya sendiri.

Aku memanjat pohon besar tepat di samping balkon paviliun. Dari sini, aku bisa melihat dengan jelas sosok Shen Changge sedang berbincang dengan seorang wanita cantik berbaju sutra merah muda. Hati yang biasanya tenang, kini sedikit bergetar, bukan karena cemburu, tapi karena amarah yang mulai memuncak.

Jadi, ini dia wanita itu, batinku. Mari kita lihat seberapa jauh sandiwara ini akan bertahan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!