Indonesia
NovelToon NovelToon

Rawa Dibelakang Rumah

Pendaki kota

Malam itu, suara klakson bersahutan dari jalan raya yang padat. Deretan kendaraan bergerak perlahan seperti ular panjang yang tak pernah berhenti merayap. Asap kendaraan bercampur debu menggantung di udara sore, sementara suara mesin dan teriakan pedagang kaki lima memenuhi setiap sudut kota. Bagi sebagian orang, pemandangan itu adalah tanda kehidupan. Namun bagi Arga, itu adalah alasan mengapa ia selalu ingin pergi. Remaja berusia delapan belas tahun itu berdiri di balkon kamar lantai dua rumahnya. Dari sana ia bisa melihat gedung-gedung tinggi yang menjulang dan jalan utama yang nyaris tak pernah sepi. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.

"Aku butuh udara yang lebih segar," gumamnya.

Di dalam kamar, sebuah ransel gunung berukuran besar tergeletak di atas tempat tidur. Berbagai perlengkapan pendakian tersusun rapi di sekitarnya. Sleeping bag, jas hujan, headlamp, kompas, pisau lipat, hingga kotak P3K telah diperiksa satu per satu.

Besok pagi ia akan berangkat mendaki.

Mendaki gunung bukan sekadar hobi bagi Arga. Kegemaran itu telah menjadi bagian penting dalam hidupnya sejak duduk di bangku SMA. Saat teman-temannya menghabiskan akhir pekan di pusat perbelanjaan atau kafe, Arga justru lebih suka menghabiskan waktu di alam.

Di gunung, ia merasa bebas.

Tidak ada suara klakson.

Tidak ada kemacetan.

Tidak ada tekanan.

Hanya udara dingin, suara angin, dan hamparan pepohonan yang seolah tak berujung.

"Ayah bilang kamu harus lebih hati-hati kali ini." Suara ibunya membuat Arga menoleh.

Perempuan itu berdiri di ambang pintu sambil membawa segelas teh hangat.

"Aku selalu hati-hati, Bu."

Ibunya tersenyum tipis.

"Kalau begitu kenapa waktu mendaki bulan lalu kakimu keseleo?"

Arga tertawa kecil.

"Itu kecelakaan kecil."

"Yang namanya kecelakaan tetap saja kecelakaan. Obat maag juga jangan lupa dibawa."

"Aman Bu. Sudah aku letakkan ditempat teraman dan mudah dijangkau."

Ya, dia selalu membawa butir-butir pil kecil itu dalam weisbag nya, yang memudahkan nya untuk menemukan dan mengambilnya.

Arga menerima gelas teh yang disodorkan ibunya.

"Aku janji akan baik-baik saja. Ibu doa nya jangan berhenti juga."

"Kalau itu pasti dong."

Sang ibu mengangguk dengan tersenyum meski raut wajahnya masih menyimpan kekhawatiran.

Sebagai anak tunggal, Arga memang sering membuat kedua orang tuanya cemas. Namun mereka juga tahu bahwa melarangnya mendaki sama saja dengan melarang seekor burung untuk terbang.

Malam itu Arga tidur lebih cepat dari biasanya. Ia ingin berangkat dalam kondisi segar. Namun rasa antusias membuat matanya sulit terpejam.

Pikirannya sudah melayang ke jalur pendakian, ke hutan-hutan lebat, dan ke puncak gunung yang akan ia kunjungi.

Gunung itu terkenal di kalangan pendaki.

Masih sangat alami.

Belum banyak tersentuh pembangunan.

Medannya menantang.

Dan yang paling penting, pemandangannya luar biasa indah.

Itulah alasan komunitas pendaki yang diikutinya memilih lokasi tersebut.

Pukul empat pagi Arga sudah berada di titik kumpul.

Sebuah minibus besar menunggu di tepi jalan.

Beberapa anggota komunitas terlihat sibuk memindahkan perlengkapan ke bagasi.

"Arga!"

Seorang pemuda bertubuh tinggi melambaikan tangan.

Namanya Dimas, ketua komunitas.

"Siap menaklukkan gunung?" tanyanya.

"Selalu siap."

Mereka tertawa. Tak lama kemudian perjalanan dimulai. Kota perlahan tertinggal di belakang.

Gedung-gedung tinggi berubah menjadi rumah-rumah kecil. Jalan raya berubah menjadi jalan desa yang berkelok.

Udara pun terasa semakin sejuk.

Arga menyandarkan kepala ke jendela sambil menikmati pemandangan yang terus berganti.

Perjalanan menuju kaki gunung memakan waktu hampir delapan jam. Namun rasa lelah itu langsung menghilang ketika mereka tiba. Gunung yang akan mereka daki berdiri megah di hadapan mereka. Puncaknya menjulang tinggi menembus awan. Hutan hijau menutupi hampir seluruh lerengnya.

Arga tersenyum lebar.

Inilah tempat yang selama ini ingin ia kunjungi.

Pendakian dimulai menjelang siang.

Jalur awal masih cukup ramah.

Mereka melewati perkebunan warga, ladang sayur, dan jalan setapak yang relatif landai.

Sesekali mereka berhenti untuk beristirahat dan minum.

Suasana rombongan terasa hangat.

Canda dan tawa terdengar sepanjang perjalanan.

Namun semakin tinggi mereka mendaki, jalur mulai berubah.

Pepohonan menjadi lebih rapat.

Akar-akar besar melintang di tanah.

Udara terasa lebih dingin.

Sinar matahari yang menembus dedaunan menciptakan bayangan-bayangan panjang di atas jalur.

Arga justru menyukai bagian ini.

Ia selalu merasa hutan memiliki kehidupan tersendiri.

Suara burung.

Gemerisik daun.

Aliran air kecil yang tersembunyi di antara semak.

Semuanya menghadirkan ketenangan yang tidak pernah ia temukan di kota.

Menjelang sore mereka tiba di area perkemahan.

Tempat itu berada di sebuah tanah lapang yang dikelilingi pohon-pohon tinggi.

Pemandangannya menakjubkan.

Di kejauhan tampak deretan bukit yang memanjang hingga ke cakrawala.

Langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan.

"Ini luar biasa," kata Arga pelan.

Dimas mengangguk.

"Besok dari puncak lebih bagus lagi."

Mereka segera mendirikan tenda.

Setelah makan malam, sebagian anggota berkumpul mengelilingi kompor lapangan.

Obrolan mengalir ringan.

Tentang pengalaman mendaki.

Tentang sekolah dan kuliah.

Tentang mimpi-mimpi masa depan.

Arga ikut tertawa bersama mereka.

Malam itu terasa sempurna.

Udara dingin.

Langit penuh bintang.

Dan perasaan damai yang sulit dijelaskan.

Namun tanpa ia sadari, perjalanan ini akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pendakian biasa.

Sesuatu yang akan mengubah hidupnya.

Sesuatu yang akan membawanya ke sebuah kampung terpencil yang tidak tercantum di peta wisata mana pun.

Sebuah kampung yang menyimpan rahasia selama bertahun-tahun.

Rahasia yang tersembunyi di balik hamparan perkebunan kopi.

Rahasia yang perlahan membusuk di sebuah rawa kecil di belakang rumah yang telah lama ditinggalkan salah satu warganya.

Dan semuanya bermula dari gunung ini.

Dari langkah-langkah sederhana seorang remaja kota yang hanya ingin mencari ketenangan di alam.

Arga memandang langit malam untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam tenda.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa beberapa hari kemudian dirinya akan berharap bisa kembali ke malam yang tenang itu.

Malam sebelum kabut datang.

Malam sebelum ia tersesat.

Malam sebelum takdir membawanya menuju sebuah kebenaran yang selama bertahun-tahun terkubur dalam lumpur hitam dan kesunyian.

Kabut yang menyesatkan

Pagi di gunung selalu memiliki keajaibannya sendiri.

Arga membuka resleting tenda dan langsung disambut udara dingin yang menusuk kulit. Embusan angin pegunungan membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang masih dipenuhi embun. Di ufuk timur, matahari perlahan muncul dari balik lautan awan, menyebarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh lereng gunung tampak berkilau. Beberapa anggota rombongan sudah bangun lebih dulu. Ada yang sedang merebus air untuk kopi, ada yang sibuk mengemasi perlengkapan, dan ada pula yang berdiri menikmati pemandangan sambil mengabadikan momen dengan kamera.

"Bangun juga akhirnya," kata Dimas sambil tertawa.

Arga menguap.

"Aku tidur nyenyak sekali."

"Bagus. Soalnya hari ini kita ke puncak."

Kalimat itu langsung membuat semangat Arga kembali penuh.

Setelah sarapan sederhana berupa roti dan mi instan hangat, rombongan mulai bergerak menuju puncak. Jalur semakin menanjak dibandingkan hari sebelumnya. Tanah berbatu dan akar pohon yang menjulur membuat mereka harus lebih berhati-hati. Namun rasa lelah seolah terbayar setiap kali mereka berhenti dan melihat pemandangan di belakang. Hamparan hutan membentang sejauh mata memandang. Gunung-gunung lain terlihat seperti pulau-pulau hijau yang mengapung di lautan awan. Arga berkali-kali mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto.

"Kalau begini rasanya nggak mau pulang," katanya.

"Biasanya semua pendaki bilang begitu," jawab Dimas.

Menjelang pukul sembilan pagi, mereka akhirnya tiba di puncak. Sorak kegembiraan langsung pecah. Beberapa orang berpelukan. Sebagian lainnya berfoto sambil membentangkan bendera komunitas.

Arga berdiri agak terpisah dari kerumunan.

Ia memandang dunia dari ketinggian itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Di bawah sana terbentang lembah, hutan, sungai kecil yang berkelok-kelok, dan perkampungan yang terlihat begitu kecil. Semua masalah yang biasanya memenuhi pikirannya terasa jauh. Seakan tidak ada yang penting selain langit biru dan angin yang berembus pelan.

"Ini alasan kenapa aku selalu kembali ke gunung," gumamnya.

Beberapa jam kemudian, rombongan mulai bersiap turun.

Langit masih cerah.

Cuaca terlihat bersahabat.

Tidak ada satu pun orang yang menduga bahwa keadaan akan berubah begitu cepat.

Perjalanan turun berlangsung lancar pada awalnya. Mereka melewati jalur yang sama saat naik. Suasana rombongan tetap ramai. Sesekali terdengar candaan dan tawa. Namun sekitar tengah hari, Arga mulai memperhatikan sesuatu yang aneh.

Kabut tipis muncul di sela-sela pepohonan. Awalnya tidak ada yang menganggapnya serius. Kabut di gunung adalah hal biasa. Tetapi semakin lama, kabut itu semakin tebal. Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, jarak pandang berkurang drastis. Pohon-pohon yang tadi terlihat jelas mulai berubah menjadi bayangan samar.

"Rapatkan barisan!" teriak Dimas dari depan.

Semua anggota menjawab serempak.

"Siap!"

Arga yang berada di bagian belakang mempercepat langkahnya. Namun jalur licin membuatnya tidak bisa bergerak terlalu cepat. Kabut terus bertambah tebal. Udara menjadi lebih dingin. Bahkan suara-suara di sekitar terdengar berbeda. Seolah semuanya teredam oleh dinding putih yang mengelilingi mereka.

Peluit Dimas terdengar dari depan.

Tuit!

Tuit!

Tuit!

Itu adalah kode agar rombongan tetap saling mengetahui posisi masing-masing. Arga membalas dengan peluit kecil yang tergantung di lehernya. Namun beberapa menit kemudian, suara peluit itu terdengar semakin jauh.

Arga mengernyit.

Ia mempercepat langkah.

Tetapi jalur yang menurun curam membuatnya harus berhati-hati.

Tiba-tiba kakinya tersangkut akar pohon.

Bruk!

Tubuhnya terjatuh.

Ransel besar di punggungnya menghantam tanah.

"Astaghfirullah..."

Ia meringis sambil bangkit.

Lututnya terasa nyeri meski tidak sampai terluka parah. Saat berdiri kembali, ia langsung melihat ke depan.

Tidak ada siapa-siapa.

Kabut putih menutupi seluruh jalur.

"Mas Dimas!"

Tidak ada jawaban.

"Teman-teman!"

Hening.

Jantung Arga mulai berdetak lebih cepat.

Ia meniup peluitnya.

Tuit!

Tuit!

Tuit!

Beberapa detik kemudian terdengar balasan. Namun suaranya sangat jauh.

Sangat samar.

Sulit ditebak berasal dari arah mana.

Arga mencoba berjalan mengikuti jalur. Tetapi setiap beberapa meter, bentuk jalan terlihat berbeda.

Semua pohon tampak sama.

Semua semak tampak sama.

Kabut membuat orientasinya perlahan menghilang.

Ia kembali meniup peluit.

Kali ini tidak ada balasan.

Hanya suara angin yang berembus di antara dedaunan. Rasa tidak nyaman mulai menjalar dalam dadanya. Ia berhenti dan mencoba menenangkan diri. Sebagai pendaki, ia tahu panik adalah musuh terbesar.

"Tenang... tenang..." Ia menarik napas panjang. Kemudian membuka aplikasi peta offline di ponselnya.

Layar menyala.

Namun sinyal GPS tidak stabil.

Posisinya tidak dapat terbaca dengan jelas. Arga mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ketidakpastian.

Untuk pertama kalinya sejak mendaki gunung, ia benar-benar tidak tahu harus ke mana.

Satu jam berlalu.

Kabut belum juga menipis.

Sebaliknya, keadaan semakin memburuk. Arga terus berjalan mengikuti jalur yang menurutnya benar. Namun semakin lama, jalan setapak yang ia lalui terlihat semakin asing.

Tanah berubah lebih sempit.

Vegetasi semakin rapat.

Dan yang paling mengkhawatirkan, ia tidak menemukan satu pun jejak anggota rombongan.

Tidak ada bekas sepatu.

Tidak ada sampah.

Tidak ada tanda pita jalur.

Tidak ada apa pun.

Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya meski udara sangat dingin.

Ia berhenti di dekat sebuah batu besar. Jam tangannya menunjukkan pukul tiga sore. Artinya rombongan seharusnya sudah jauh turun ke bawah. Kemungkinan mereka juga sedang mencarinya. Namun bagaimana jika mereka tidak tahu ke mana ia tersesat?Bagaimana jika ia justru semakin menjauh dari jalur utama?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat pikirannya semakin kacau.

Arga kembali meniup peluit.

Tuit!

Tuit!

Tuit!

Tidak ada jawaban.

Hanya kesunyian.

Kesunyian yang terasa jauh lebih menakutkan daripada suara apa pun. Untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari kemungkinan yang selama ini hanya menjadi cerita pendaki lain.

Ia tersesat.

Benar-benar tersesat. Matahari mulai bergerak turun. Cahaya di dalam hutan perlahan memudar. Kabut membuat suasana sore terasa seperti menjelang malam.

Arga menatap sekeliling.

Pepohonan tinggi menjulang tanpa ujung. Kabut putih bergerak perlahan di antara batang-batang pohon. Dan di hadapannya terbentang jalur sempit yang tidak ia kenali. Tidak ada pilihan selain terus bergerak. Jika ia berhenti sekarang, malam akan datang lebih cepat daripada yang ia kira. Dengan ransel di punggung dan jantung yang terus berdegup keras, Arga melangkah kembali ke depan. Ia belum tahu bahwa langkah itulah yang akan membawanya semakin jauh dari jalur pendakian.

Semakin jauh dari rombongannya.

Dan semakin dekat menuju sebuah kampung terpencil yang selama bertahun-tahun menyimpan rahasia mengerikan di balik kesunyian hutan dan aroma busuk dari sebuah rawa yang terlupakan.

Dan sayangnya Arga pun lupa. Lambungnya belum terisi apapun sejak siang tadi. Saat kegelapan mulai menguasai semua sisi yang terlihat olehnya, alarm itu datang. Alarm dalam dirinya sendiri yang memprotes karena lambung nya sudah lama dibiarkan kosong.

"Ah... Sshh."

Perih dan mual mulai menyerangnya.

Dengan gerakan pelan, dia tetap berusaha tenang. Diambilnya 1 butir pil di weistbag nya. Dan dengan satu tegukan air pil itu ikut masuk kedalam organ pencernaan nya.

Tanpa melanjutkan perjalanan, dia langsung memasang tenda nya dan memutuskan untuk bermalam disitu. Dia butuh pikiran yang jernih dan cahaya matahari untuk memutuskan langkah yang akan diambilnya besok.

Mencari jalan keluar

Arga terbangun saat suara burung-burung hutan bersahut-sahutan dari kejauhan. Cahaya matahari yang menembus celah dedaunan menyinari dinding tenda berwarna hijau tua, membuat bagian dalamnya perlahan menjadi terang. Selama beberapa detik ia hanya diam, mencoba mengingat di mana dirinya berada.

Lalu semuanya kembali memenuhi pikirannya.

Ia masih tersesat.

Arga mengembuskan napas panjang sebelum membuka resleting tenda. Udara pagi terasa lembap dan dingin, tetapi kabut semalam sudah jauh berkurang. Pepohonan tinggi kini terlihat lebih jelas. Hutan yang tadi malam tampak menyeramkan kini memperlihatkan wajah yang berbeda. Burung-burung beterbangan dari satu dahan ke dahan lain. Serangga mulai bersuara. Sinar matahari menembus sela-sela kanopi, membentuk garis-garis cahaya yang indah di antara batang pohon.

Namun keindahan itu tidak mampu mengusir kenyataan bahwa ia sendirian.

Arga segera membereskan perlengkapannya. Tenda dilipat serapi mungkin dan dimasukkan kembali ke dalam ransel. Ia tahu, mulai hari ini setiap tenaga dan setiap barang yang dimilikinya harus digunakan sehemat mungkin.

Setelah semuanya rapi, ia membuka kantong logistik.

Dua bungkus mi instan.

Empat potong roti yang masih terbungkus.

Beberapa bungkus biskuit.

Persediaan makanan sebenarnya masih cukup jika digunakan dengan bijak selama beberapa hari.

Namun saat membuka kantong minum, wajahnya berubah muram.

Air yang tersisa hanya memenuhi satu tumbler kecil.

Tak sampai setengah liter.

Arga memutar tutup tumbler itu, menatap air bening di dalamnya beberapa saat, lalu kembali menutupnya rapat.

"Ini harus cukup sampai aku menemukan sumber air," gumamnya.

Ia hanya membasahi bibir dengan seteguk kecil tanpa benar-benar menghabiskan dahaganya.

Hari itu ia harus mengambil keputusan.

Tetap menunggu bantuan, atau mencari jalan keluar sendiri.

Mengingat ia sama sekali tidak tahu apakah keberadaannya sudah diketahui tim pencari, Arga memilih terus bergerak. Setidaknya ia masih memiliki tenaga.

Ia mengingat kembali pelajaran dasar bertahan hidup yang pernah diajarkan senior pecinta alam.

Jangan berjalan tanpa tujuan.

Amati medan.

Cari jalur yang memungkinkan dilalui manusia atau aliran air.

Ia menatap sekeliling. Hutan di hadapannya terlihat semakin rapat. Semak berduri tumbuh hampir menutupi setiap celah. Jika memaksa masuk ke sana, tenaganya hanya akan habis untuk menebas ranting-ranting kecil.

Di sisi kanan, ia melihat area yang pepohonannya lebih renggang. Cahaya matahari lebih banyak masuk ke sana.

"Lebih baik lewat situ."

Arga mengencangkan tali ransel lalu mulai melangkah.

Perjalanan pagi itu berlangsung lambat. Beberapa kali ia harus memanjat batang pohon tumbang, menyeberangi tanah berlumpur, atau memutar arah karena terhalang semak yang terlalu rapat.

Sesekali ia berhenti, berharap menemukan bekas jalur pendakian.

Bekas jejak sepatu.

Potongan pita penanda.

Atau bahkan bungkus makanan yang mungkin tertinggal.

Namun tidak ada apa pun.

Hutan seolah belum pernah dilalui manusia.

Semakin lama berjalan, suara langkahnya sendiri menjadi satu-satunya suara yang selalu menemaninya.

Menjelang pukul sebelas siang, sinar matahari mulai terasa lebih terik. Meski berada di bawah naungan pepohonan, udara menjadi lebih pengap. Keringat mulai membasahi pelipisnya.

Arga memutuskan berhenti sejenak di bawah pohon besar.

Ia mengeluarkan sepotong roti dan memakannya perlahan. Tidak sampai habis.

Separuh sisanya kembali ia simpan.

Air dari tumbler kembali ia minum sedikit saja.

Ia benar-benar menghitung setiap tegukan.

Saat hendak berdiri kembali, rasa nyeri yang sangat dikenalnya tiba-tiba muncul.

Awalnya hanya seperti ditusuk jarum kecil di ulu hati.

Namun dalam hitungan menit rasa itu berubah menjadi perih yang menjalar ke seluruh lambung.

Arga langsung memejamkan mata.

"Astaghfirullah..."

Tangannya refleks memegang perut.

Maagnya kambuh lagi.

Rasa mual mulai muncul. Mulutnya terasa pahit. Tubuhnya mendadak lemas.

Ia tahu penyebabnya.

Sejak kemarin pola makannya benar-benar berantakan. Ditambah rasa cemas yang terus menghantuinya sejak tersesat.

Dengan napas tertahan, ia membuka waist bag dan mengambil satu tablet obat maag yang masih tersisa.

Ia menatap obat itu beberapa saat.

Persediaannya tinggal sedikit.

Kalau habis sebelum ia keluar dari hutan...

Arga tidak ingin memikirkan kemungkinan itu.

Obat segera ditelan dengan satu tegukan kecil air.

Ia menyandarkan tubuh ke batang pohon sambil mengatur napas.

Rasa nyeri itu belum langsung hilang.

Butuh hampir dua puluh menit sampai lambungnya mulai terasa lebih tenang.

"Ayo, Ga... jangan menyerah."

Ia mengusap wajahnya sendiri, seolah sedang memberi semangat.

Setelah kondisinya agak membaik, perjalanan kembali dilanjutkan.

Langkahnya kini lebih pelan dibanding pagi tadi.

Tenaganya mulai berkurang.

Beberapa kali ia hampir kehilangan keseimbangan karena akar-akar pohon yang menjalar di permukaan tanah.

Waktu terasa berjalan sangat lambat.

Matahari perlahan bergeser ke barat.

Bayangan pepohonan mulai memanjang.

Arga mulai khawatir.

Jika sampai sore nanti ia belum menemukan apa pun, ia harus kembali mendirikan tenda dan menghemat sisa air yang tinggal sedikit.

Pikiran itu membuat dadanya semakin sesak.

Namun tepat ketika harapan mulai menipis, telinganya menangkap sesuatu.

Sangat pelan.

Nyaris tidak terdengar.

Cip...

Cip...

Cip...

Arga berhenti berjalan.

Ia menahan napas.

Suara itu muncul lagi.

Gemericik air.

Matanya langsung berbinar.

Ia berdiri diam beberapa saat untuk memastikan arah datangnya suara.

Kali ini terdengar lebih jelas.

Air.

Benar-benar suara air yang mengalir.

Tanpa membuang waktu, Arga mulai melangkah mengikuti arah suara itu. Semakin jauh ia berjalan, suara gemericik itu semakin kuat. Pepohonan mulai merenggang. Tanah yang tadinya kering berubah menjadi lebih lembap. Udara pun terasa lebih sejuk.

Harapan yang sejak pagi hampir padam perlahan kembali menyala.

Mungkin di sana ada sungai kecil.

Mungkin ia bisa mengisi kembali persediaan airnya.

Atau...

Mungkin aliran air itu akan membawanya menuju perkampungan.

Dengan langkah yang lebih cepat meski tubuhnya masih lelah, Arga terus mengikuti suara gemericik itu, tanpa menyadari bahwa sumber air yang sedang ia tuju telah lama menjadi tempat yang dihindari oleh siapa pun yang mengenal hutan di kaki Gunung ini.

Semakin dekat Arga melangkah, suara gemericik air terdengar semakin jelas. Rasa lelah yang sejak siang menggerogoti tubuhnya seolah terlupakan. Harapan kembali tumbuh. Dalam keadaan tersesat, air bukan hanya pelepas dahaga, tetapi juga sumber kehidupan.

Semak-semak mulai menipis. Tanah berubah menjadi lebih lembap. Beberapa batu besar tampak dipenuhi lumut hijau. Tak lama kemudian, pepohonan terbuka membentuk sebuah celah sempit.

Di hadapannya mengalir sebuah sungai kecil. Airnya jernih, mengalir tenang melewati bebatuan hitam yang licin. Cahaya matahari sore memantulkan kilauan keemasan di permukaannya. Arga mengembuskan napas lega.

"Alhamdulillah..."

Ia segera berlutut di tepi sungai. Namun sebelum meminum air itu, ia teringat kembali nasihat senior pendakinya.

Jangan langsung meminum air dari alam tanpa memastikan keamanannya.

Arga mengambil botol lipat kecil dari ranselnya, mengisinya dengan air sungai, lalu meneteskan cairan penjernih yang selalu ia bawa dalam perlengkapan darurat. Sambil menunggu beberapa menit, ia membasuh wajah dan kedua tangannya.

Air yang dingin membuat tubuhnya terasa lebih segar.

Setelah proses penjernihan selesai, ia meminum beberapa teguk perlahan.

Rasa haus yang sejak pagi ditahannya akhirnya sedikit terobati.

Ia kemudian mengisi penuh tumbler kecilnya dan satu botol cadangan. Kini setidaknya ia tidak perlu terlalu khawatir tentang persediaan air. Sambil duduk di atas batu besar, Arga mulai memperhatikan aliran sungai itu. Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Jika ia mengikuti aliran sungai, kemungkinan besar ia akan menemukan perkampungan atau setidaknya jalan yang pernah dilalui manusia.

Itulah harapan terbaik yang dimilikinya saat ini.

Tanpa membuang waktu, Arga mulai berjalan menyusuri tepian sungai.

Medannya memang tidak mudah. Sesekali ia harus melompati batu besar atau memotong jalan melewati akar pohon yang menjulur ke tepi air. Namun dibandingkan menembus hutan yang rapat, mengikuti sungai terasa jauh lebih mudah.

Sore semakin tua.

Langit di balik pucuk-pucuk pohon mulai berubah jingga. Suara burung perlahan berganti dengan nyanyian serangga malam. Arga mempercepat langkah. Ia berharap menemukan tempat yang cukup aman sebelum matahari benar-benar tenggelam.

Langkah demi langkah ia ayunkan dengan hati-hati. Beberapa kali kakinya hampir terperosok ke tanah yang lembek.

Cahaya matahari kini tinggal sedikit.

Bayangan pepohonan semakin panjang. Saat itulah matanya menangkap sesuatu di kejauhan. Di balik rumpun bambu yang tumbuh rapat, tampak sebuah tiang kayu berdiri miring.

Arga menyipitkan mata.

Bukan...

Itu bukan sekadar tiang.

Seperti papan penunjuk.

Dadanya berdegup lebih cepat.

Dengan langkah tergesa ia mendekatinya.

Papan itu sudah lapuk dimakan usia.

Sebagian permukaannya dipenuhi lumut.

Tulisan yang terukir hampir tidak terbaca.

Arga mengusap lumut itu perlahan menggunakan telapak tangannya.

Sedikit demi sedikit huruf-huruf tua mulai terlihat.

"...Kampung..."

Tulisan berikutnya hampir hilang.

Ia mengusap lagi dengan lebih hati-hati.

Akhirnya seluruh tulisan itu dapat terbaca.

"Kampung Ciburial."

Di bawahnya terdapat tulisan kecil yang nyaris pudar.

"Pendatang dilarang masuk setelah matahari terbenam."

Arga mengernyit.

Ia melihat ke arah langit.

Matahari tinggal sejengkal lagi sebelum tenggelam di balik lereng Gunung ini.

Tanpa ia sadari, waktu yang dimilikinya tinggal sangat sedikit. Dan di balik rumpun bambu, jauh di depan sana, hanya puluhan kilometer lagi samar-samar mulai terlihat beberapa atap rumah tua yang berdiri membisu di tengah hutan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!