Kabut pagi yang tipis masih menyelimuti lereng Pegunungan Bambu ketika lonceng Sekte Hutan Bambu berdentang perlahan, bergema di antara hamparan bambu hijau yang menjulang tinggi.
Angin menerpa dedaunan hingga saling bergesekan, menghasilkan desiran yang terdengar damai bagi siapa pun yang mendengarnya—kecuali bagi seorang pemuda yang tengah memanggul dua ember air besar di atas pundaknya, dengan kedua lengan gemetar menahan beban.
Pakaian abu-abunya yang lusuh telah basah oleh keringat, sementara telapak tangannya dipenuhi kapalan dan luka lama yang belum sempat mengering. Meski usianya baru delapan belas tahun, wajahnya terlihat jauh lebih dewasa daripada anak seusianya. Kehidupan telah mengikis senyum dari wajah itu bertahun-tahun yang lalu.
Namanya Yan Kai. Seorang pelayan Sekte Hutan Bambu—bukan murid luar, bukan murid dalam, apalagi murid inti. Hanya seorang pelayan. Setiap hari sebelum matahari terbit, ia sudah harus bangun untuk mengambil air dari mata air di kaki gunung, membersihkan aula utama, mencuci pakaian para murid, memotong kayu bakar, memasak di dapur, mengantar makanan, hingga membersihkan kandang binatang.
Pekerjaan itu baru selesai ketika malam telah larut, tanpa hari libur, tanpa ucapan terima kasih—yang ada hanyalah perintah demi perintah.
"Yan Kai! Cepat bersihkan halaman timur!"
"Yan Kai! Kayu bakarnya kurang!"
"Yan Kai! Air mandiku masih dingin!"
Semua orang memanggil namanya, tetapi tidak satu pun yang benar-benar menganggapnya sebagai manusia. Bagi mereka, Yan Kai hanyalah seorang pelayan rendahan.
Ketika ia sedang membawa ember air melewati lapangan latihan, terdengar suara tawa beberapa murid luar.
"Lihat, si sampah itu lewat."
"Hahaha... delapan tahun tinggal di sekte, tetap saja tidak bisa berkultivasi."
"Mana mungkin bisa? Dia cuma pelayan."
Salah seorang murid tiba-tiba mengulurkan kaki.
Bruk!
Tubuh Yan Kai langsung tersungkur ke tanah, ember di kedua sisinya terlempar, dan air yang ia angkut dengan susah payah tumpah membasahi jalan berbatu. Pemuda itu terdiam beberapa saat—bukan karena marah, melainkan karena ia sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
Gelak tawa langsung memenuhi halaman. Seorang murid bertubuh tinggi berjalan mendekat, lalu menginjak salah satu ember kayu hingga penyok.
"Apa kau sengaja menjatuhkannya? Air itu harus kau ambil lagi dari bawah gunung."
Yan Kai perlahan bangkit. Lututnya berdarah akibat menghantam batu tajam, tetapi ia hanya menundukkan kepala. "Maaf," katanya pelan.
Jawaban itu justru membuat mereka tertawa semakin keras.
"Lihat dia, tak punya harga diri."
"Kalau aku jadi dia, lebih baik bunuh diri saja."
Ucapan itu menusuk jauh lebih dalam daripada luka di lututnya. Yan Kai mengepalkan tangan di balik lengan bajunya hingga kuku-kukunya menancap ke telapak sendiri. Bukan sekali dua kali ia mendengar kata-kata seperti itu—setiap hari, selama delapan tahun, ia sudah terbiasa. Atau setidaknya, ia memaksa dirinya untuk terbiasa.
Salah seorang murid mengambil sapu bambu yang tergeletak di dekat halaman, lalu memukulkannya ke punggung Yan Kai.
Plak!
"Jangan cuma diam! Bersihkan air itu! Apa kau ingin kami terpeleset?"
Yan Kai menahan rasa sakit, segera mengambil kain lap, dan membersihkan halaman tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Murid-murid itu kembali tertawa sebelum akhirnya pergi menuju arena latihan, meninggalkan halaman yang kembali sunyi.
Yan Kai memandangi pantulan wajahnya di genangan air yang belum sempat mengering—wajah pucat, rambut hitam yang berantakan, sepasang mata yang telah kehilangan cahaya. Tak ada sedikit pun kemiripan dengan para murid sekte yang penuh semangat mengejar impian menjadi pendekar hebat.
Dahulu, ia juga pernah memiliki mimpi seperti itu.
Delapan tahun yang lalu, saat usianya baru menginjak sepuluh tahun, Yan Kai masih tinggal di sebuah desa kecil yang damai bersama kedua orang tuanya.
Ayahnya adalah seorang pedagang kain sederhana yang selalu membawa pulang makanan kesukaan Yan Kai setiap kali kembali dari kota. Ibunya adalah wanita lembut yang sering duduk di depan rumah sambil menjahit pakaian, dengan senyum yang selalu membuat rumah kecil mereka terasa hangat.
Kehidupan mereka memang sederhana, tetapi Yan Kai tidak pernah merasa kekurangan. Sampai suatu hari, ibunya jatuh sakit. Penyakit itu datang tanpa peringatan, dan tubuh wanita itu semakin kurus dari hari ke hari.
Semua tabungan keluarga habis untuk membeli obat, tetapi tidak ada tabib yang mampu menyembuhkannya. Pada malam terakhirnya, sang ibu menggenggam tangan Yan Kai yang masih kecil.
"Kai'er... jadilah anak yang kuat. Itu... keinginan ibu."
Senyumnya begitu lembut. Namun sesaat kemudian, genggaman tangan itu perlahan melemah, dan untuk selamanya menghilang. Hari itu, dunia Yan Kai runtuh untuk pertama kalinya.
Ayahnya berusaha tetap tegar demi putra semata wayangnya. Ia bekerja lebih keras, bahkan menerima perjalanan dagang yang lebih jauh demi mendapatkan uang.
Namun takdir kembali menunjukkan kekejamannya: di tengah perjalanan menuju kota, rombongan dagang yang diikuti ayah Yan Kai disergap oleh sekelompok bandit gunung. Tak seorang pun selamat. Yang kembali ke desa hanyalah pedang patah milik ayahnya, berlumuran darah yang telah mengering.
Dalam waktu kurang dari satu bulan, Yan Kai kehilangan kedua orang tuanya. Sejak saat itu, ia menjadi anak yatim piatu. Tak ada keluarga yang bersedia merawatnya—sebagian tetangga memang merasa iba, tetapi mereka sendiri hidup dalam kemiskinan.
Pada akhirnya, seorang tetua dari Sekte Hutan Bambu yang sedang melewati desa melihat bocah kurus itu duduk seorang diri di depan makam kedua orang tuanya. Karena belas kasihan, tetua tersebut membawa Yan Kai ke Sekte Hutan Bambu.
Saat itu, Yan Kai kecil benar-benar percaya bahwa hidupnya akan berubah. Ia membayangkan dirinya belajar ilmu pedang, berlatih bersama murid-murid lain, menjadi pendekar hebat yang melindungi orang-orang yang ia cintai agar tragedi seperti yang menimpa keluarganya tidak pernah terulang lagi.
Namun mimpi itu hancur bahkan sebelum sempat dimulai. Setelah dilakukan pemeriksaan bakat, para tetua menemukan bahwa Yan Kai memiliki akar spiritual yang sangat lemah, bahkan nyaris tidak dapat digunakan untuk berkultivasi. Dalam sekejap, semua harapan menghilang. Tidak ada yang bersedia menerima anak tanpa bakat sebagai murid.
Akhirnya, Yan Kai ditempatkan sebagai pelayan sekte.
"Setidaknya dia masih bisa bekerja."
"Itu lebih berguna daripada mengusirnya."
Kalimat itulah yang mengubah seluruh jalan hidupnya. Sejak usia sepuluh tahun hingga kini delapan belas tahun, Yan Kai hidup bukan sebagai murid, melainkan sebagai bayangan yang tak pernah dianggap ada.
Ia menyaksikan anak-anak yang dahulu datang bersamanya satu per satu tumbuh menjadi murid luar, murid dalam, bahkan beberapa telah menjadi murid inti yang dihormati. Sementara dirinya masih memanggul ember, masih menyapu halaman, masih menjadi sasaran hinaan dan pukulan setiap hari.
Di bawah langit biru Sekte Hutan Bambu yang tampak begitu megah, Yan Kai mengangkat kembali kedua ember kayunya yang telah penyok. Bahunya terasa nyeri, lututnya masih berdarah, tetapi ia tetap melangkah menuruni jalan setapak menuju mata air di kaki gunung.
Malam harinya, di saat sebagian besar murid Sekte Hutan Bambu telah selesai berlatih dan menikmati waktu beristirahat, seorang pemuda masih sibuk bekerja tanpa henti.
Yan Kai berdiri di dapur utama sekte dengan lengan yang terasa semakin berat. Asap dari tungku kayu memenuhi ruangan, membuat dahinya dipenuhi keringat.
Sejak sore tadi ia belum sempat duduk barang sebentar—setelah mengambil air untuk mengganti ember yang tumpah, ia masih harus memotong sayuran, mencuci beras, menyiapkan sup, memanggang daging hasil buruan para murid, hingga mengangkat puluhan nampan makanan menuju aula makan.
Luka di lututnya terus berdenyut setiap kali ia melangkah, dan punggungnya yang dipukul dengan sapu bambu siang tadi pun masih terasa nyeri. Namun ia tetap menggertakkan gigi dan bekerja. Ia tahu, jika makan malam terlambat disajikan, hukuman yang menantinya akan jauh lebih menyakitkan.
Tak lama kemudian, aula makan mulai ramai. Murid-murid luar maupun murid dalam memasuki ruangan sambil bercanda dan tertawa, aroma makanan hangat memenuhi udara. Yan Kai berdiri di sudut ruangan dengan kepala menunduk, menunggu jika ada yang membutuhkan sesuatu.
Saat itulah terdengar suara yang sangat dikenalnya.
"Hei, bukankah itu pelayan sampah kita?"
Yan Kai perlahan mengangkat kepala. Seorang pemuda bertubuh tegap berjalan masuk dengan dagu terangkat tinggi, pakaiannya jauh lebih mewah dibanding murid biasa, menunjukkan bahwa keluarganya berasal dari kalangan berada.
Namanya Ji Hao. Di sampingnya berjalan seorang gadis cantik berwajah manis dengan rambut panjang yang diikat rapi—jika hanya melihat wajahnya, siapa pun akan mengira ia gadis yang lembut. Sayangnya, sifatnya justru sama buruknya. Namanya Ai Ling, kekasih Ji Hao. Di belakang mereka masih ada beberapa murid lain yang selalu mengikuti ke mana pun Ji Hao pergi.
Mereka berhenti tepat di depan Yan Kai. Ji Hao memandang pemuda itu dari atas sampai bawah sebelum menyeringai sinis.
"Lihat keadaanmu. Bau keringat, pakaian lusuh, wajah menyedihkan. Kau benar-benar merusak suasana makan."
Beberapa murid langsung tertawa. Yan Kai tetap diam. Ai Ling menutup hidungnya dengan lengan baju sambil berpura-pura jijik.
"Benar juga. Kenapa pelayan seperti dia diizinkan berdiri di sini? Selera makanku jadi hilang."
Tawa kembali memenuhi aula. Yan Kai hanya menundukkan kepala lebih dalam. "Maaf," gumamnya.
Ji Hao mendengus. "Maaf?" Tiba-tiba ia mengambil semangkuk sup panas dari meja, dan tanpa peringatan...
byur!
Seluruh isinya disiramkan ke tubuh Yan Kai. Kuah panas membasahi pakaian lusuhnya, sebagian mengenai dada dan lengannya hingga kulitnya memerah karena panas. Yan Kai hanya memejamkan mata sejenak. Ia tidak berani melawan.
Ji Hao tertawa puas. "Lihat. Bahkan dia tidak berani marah."
Ai Ling ikut mengambil sumpitnya, lalu dengan sengaja menjatuhkan beberapa potong daging ke lantai. "Oh tidak ... makananku jatuh." Ia memandang Yan Kai sambil tersenyum mengejek. "Pelayan, ambilkan."
Yan Kai berjongkok perlahan. Saat tangannya hampir menyentuh potongan daging itu...
brak!
Ji Hao menginjak punggung tangannya dengan sengaja. Rasa sakit yang tajam membuat tubuh Yan Kai bergetar, tetapi ia hanya menarik napas pelan dan menahan suara kesakitan agar tidak keluar.
"Pelan sekali." Ji Hao menambah tekanan kakinya hingga buku-buku jari Yan Kai memutih. "Pelayan sepertimu memang pantas diinjak."
Beberapa murid mulai merasa tindakan itu keterlaluan, namun tidak ada seorang pun yang berani menegur. Ayah Ji Hao merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi Sekte Hutan Bambu, dan bahkan beberapa tetua pun sering menutup mata terhadap tingkah lakunya.
Ai Ling justru tertawa kecil melihat wajah Yan Kai yang mulai pucat. "Kau tahu, Yan Kai?" Nada suaranya terdengar lembut, tetapi penuh penghinaan. "Aku heran kenapa kau masih hidup. Kalau aku jadi dirimu, mungkin aku sudah melompat dari tebing sejak lama."
Ucapan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada injakan Ji Hao. Yan Kai terdiam. Sesaat, bayangan wajah ayah dan ibunya kembali muncul dalam ingatannya. Jika mereka masih hidup, apakah ia akan menjalani kehidupan seperti ini?
Ji Hao akhirnya mengangkat kakinya. "Sudah cukup." Ia mengambil cangkir teh, meminumnya seteguk, lalu tanpa alasan melemparkan cangkir kosong itu ke arah Yan Kai.
Prang!
Cangkir tanah liat itu menghantam pelipis Yan Kai sebelum pecah berkeping-keping di lantai. Darah tipis segera mengalir dari pelipisnya.
"Hahaha! Tepat sasaran!"
Seluruh kelompok Ji Hao tertawa puas. Yan Kai mengusap darah yang mengalir di wajahnya, lalu kembali membersihkan pecahan cangkir tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Malam semakin larut. Satu demi satu murid meninggalkan aula makan. Sementara itu, Yan Kai masih harus mencuci ratusan mangkuk, membersihkan meja, menyapu lantai, membuang sisa makanan, hingga memadamkan seluruh tungku dapur. Barulah ketika bulan telah berada tinggi di langit, pekerjaannya benar-benar selesai.
...
Dengan langkah gontai, Yan Kai berjalan menuju tempat tinggal para pelayan yang berada di sudut paling terpencil sekte. Kamarnya bahkan tidak pantas disebut kamar—hanya sebuah ruangan kayu sempit yang hampir kosong.
Sebuah ranjang bambu tua, selimut tipis yang mulai robek di beberapa bagian, sebuah meja kecil yang sudah miring, serta lentera minyak yang cahayanya redup, menjadi seluruh isi ruangan itu.
Yan Kai menutup pintu perlahan. Begitu memastikan tidak ada siapa pun di luar, tubuhnya yang selama ini dipaksakan tetap tegak akhirnya kehilangan tenaga. Bruk. Ia terduduk di lantai.
Luka di lututnya kembali terbuka akibat aktivitas seharian. Punggungnya terasa seperti terbakar. Tangan kanannya membengkak karena diinjak Ji Hao. Pelipisnya masih mengeluarkan sedikit darah, sementara bekas kuah panas di dada dan lengannya terasa perih.
Perlahan ia menyandarkan tubuh ke dinding kayu yang dingin, menatap langit-langit kamar yang dipenuhi retakan. Tak ada air mata yang mengalir—mungkin karena ia sudah terlalu sering menangis sejak kecil, hingga kini bahkan air matanya pun seolah telah habis.
Di tengah keheningan malam, hanya suara angin yang berembus di sela-sela rumpun bambu di luar kamar yang menemaninya. Yan Kai memejamkan mata dengan napas yang berat.
Besok pagi, saat lonceng sekte kembali berbunyi, hari yang sama akan kembali terulang.
Pagi pun tiba diiringi dentangan lonceng Sekte Hutan Bambu yang memecah keheningan pegunungan.
Bagi para murid, dentangan lonceng itu adalah pertanda dimulainya latihan pagi. Namun bagi Yan Kai, itu adalah awal dari hari yang melelahkan.
Bahkan sebelum lonceng berbunyi, ia sudah lebih dahulu bangun. Setelah mencuci wajah dengan air dingin, ia mengenakan kembali pakaian abu-abu lusuh yang telah dijahit berkali-kali karena robek. Bekas luka di pelipisnya telah mengering, tetapi memar di pipi, lengan, dan punggungnya masih terasa nyeri setiap kali bergerak.
Yan Kai menarik napas panjang sebelum mengambil sapu bambu yang hampir setinggi tubuhnya. Lapangan latihan utama Sekte Hutan Bambu terbentang begitu luas, dan ratusan daun bambu yang gugur semalaman memenuhi permukaan batu-batu putih di sana.
Tanpa mengeluh sedikit pun, ia mulai menyapu, suara gesekan sapu dengan lantai batu terdengar berulang-ulang di tengah sunyinya pagi.
Tak lama kemudian para murid mulai berdatangan. Sebagian bahkan melewati Yan Kai tanpa memedulikannya sedikit pun, seolah keberadaannya tidak lebih berarti daripada sapu yang sedang ia pegang.
Ada pula beberapa murid yang dengan sengaja menginjak bagian halaman yang baru saja selesai ia bersihkan, membuat daun-daun kembali berhamburan. Yan Kai hanya bisa menghela napas pelan sebelum kembali menyapu dari awal.
Setelah lapangan selesai dibersihkan, ia berlari menuju dapur untuk membantu menyiapkan sarapan—mengangkat karung beras, memotong sayuran, menyalakan tungku, mengantar makanan ke aula makan, mencuci peralatan masak, kemudian kembali mengangkut air untuk dapur. Seluruh pekerjaannya baru sedikit berkurang ketika matahari telah mencapai puncak langit.
Saat para murid menikmati makan siang mereka, Yan Kai berdiri seperti biasa di sudut aula untuk melayani setiap permintaan. Hari itu, anehnya Ji Hao dan kelompoknya tidak terlihat. Bagi Yan Kai, itu justru menjadi satu-satunya ketenangan yang ia rasakan sejak pagi.
Setelah seluruh peralatan makan selesai dibereskan, seorang murid pelayan lain berlari menghampirinya.
"Yan Kai." Yan Kai segera menoleh. "Ada apa?"
"Tetua Lu memanggilmu."
Mendengar nama itu, Yan Kai sedikit terkejut. Tetua Lu dikenal sebagai salah satu tetua yang bertugas mengurus berbagai urusan administrasi dan penjagaan aset sekte. Meski tidak terlalu kuat dibanding tetua lain, beliau memiliki kedudukan yang cukup dihormati.
Yan Kai segera membersihkan tangannya sebelum berjalan menuju aula para tetua. Sesampainya di sana, ia langsung memberi hormat. "Tetua Lu."
Seorang pria tua berjanggut putih sedang membaca beberapa gulungan bambu. Mendengar suara Yan Kai, ia perlahan mengangkat kepala dengan tatapan yang tenang. "Aku mendengar kau cukup rajin bekerja."
Yan Kai menundukkan kepala. "Itu memang tugas murid... maksudku, tugas pelayan ini."
Tetua Lu mengangguk pelan. "Hari ini ada pekerjaan yang sedikit berbeda." Beliau membuka sebuah laci kayu, lalu mengeluarkan sebuah surat yang telah diberi cap resmi Sekte Hutan Bambu. "Perpustakaan sekte sudah lama tidak dibersihkan. Para penjaga tidak memiliki cukup waktu untuk mengurusnya."
Yan Kai sedikit membelalakkan mata. Perpustakaan sekte—tempat itu merupakan salah satu lokasi paling penting di seluruh Sekte Hutan Bambu. Di sanalah berbagai kitab teknik bela diri, catatan sejarah sekte, hingga pengetahuan para tetua terdahulu disimpan. Tidak semua murid diizinkan masuk. Bahkan murid luar pun hanya boleh memasuki lantai pertama setelah memperoleh izin.
Tetua Lu menyerahkan surat itu kepada Yan Kai. "Bawa surat ini kepada penjaga perpustakaan. Isinya menjelaskan bahwa kau diperintahkan langsung olehku untuk membersihkan seluruh bagian perpustakaan."
Yan Kai menerima surat itu dengan kedua tangan. "Baik, Tetua."
"Ingat." Suara Tetua Lu menjadi lebih serius. "Jangan menyentuh kitab-kitab selain untuk membersihkan debunya. Jangan membuka gulungan atau buku apa pun. Tugasmu hanya membersihkan."
"Pelayan ini mengerti."
...
Beberapa saat kemudian, Yan Kai tiba di depan bangunan perpustakaan. Bangunan itu berdiri di bagian terdalam sekte, jauh dari keramaian.
Seluruh bangunannya terbuat dari kayu hitam berkualitas tinggi yang masih tampak kokoh meski telah berusia ratusan tahun, dengan atap bertingkat tiga berukir bambu dan burung bangau di setiap sudutnya. Suasananya begitu sunyi, seolah seluruh dunia luar berhenti begitu seseorang menginjakkan kaki di sana.
Dua murid penjaga berdiri di depan pintu utama dan segera menghalangi langkahnya. "Berhenti. Perpustakaan bukan tempat pelayan masuk."
Yan Kai segera mengeluarkan surat pemberian Tetua Lu. "Saya mendapat perintah dari Tetua Lu untuk membersihkan perpustakaan."
Salah seorang penjaga menerima surat itu, membacanya dengan saksama, lalu memeriksa cap resmi sekte yang tertera di bagian bawah. Setelah memastikan semuanya benar, ekspresinya sedikit berubah. "Silakan masuk. Tetapi ingat, jangan melakukan hal-hal di luar tugasmu."
Yan Kai mengangguk hormat. "Terima kasih."
Pintu kayu besar perlahan dibuka. suara engsel tua bergema pelan. Begitu memasuki ruangan, aroma khas kayu tua dan kertas kuno langsung memenuhi indera penciumannya. Rak-rak kitab berdiri berjajar rapi memenuhi seluruh ruangan, ribuan buku, gulungan bambu, dan naskah tua tersusun dengan teratur.
Yan Kai sempat terdiam beberapa saat. Untuk pertama kalinya sejak tinggal di Sekte Hutan Bambu, ia akhirnya dapat melihat isi perpustakaan yang selama ini hanya bisa dipandang dari kejauhan. Namun ia segera mengingat tugasnya, mengambil kain lap, dan mulai bekerja.
Lantai pertama dibersihkan dengan teliti—ia menyapu setiap sudut ruangan, mengelap meja-meja baca, membersihkan debu pada rak-rak kitab, lalu mengepel lantai batu hingga kembali mengilap. Tak ada sesuatu yang aneh. Semuanya berjalan seperti biasa.
Setelah selesai, ia menaiki tangga kayu menuju lantai kedua, yang jauh lebih sunyi. Kitab-kitab yang tersimpan di sana tampak jauh lebih tua, sebagian bahkan sudah mulai menguning dimakan usia. Yan Kai tetap bekerja dengan hati-hati, membersihkan setiap rak tanpa berani membuka satu pun kitab yang ada di sana.
Waktu terus berlalu. Tak terasa matahari mulai condong ke arah barat ketika ia akhirnya menaiki tangga terakhir menuju lantai ketiga.
Begitu kakinya menginjak lantai itu, entah mengapa suasananya terasa berbeda. Ruangan itu jauh lebih redup meski cahaya matahari masih masuk melalui jendela-jendela kecil.
Rak-raknya jauh lebih sedikit, dan kitab-kitab yang tersimpan pun tampak jauh lebih kuno dibanding dua lantai sebelumnya. Debu tebal menutupi hampir seluruh permukaannya.
Yan Kai mulai membersihkan satu per satu rak dengan gerakan perlahan, sampai akhirnya tangannya berhenti pada sebuah rak kayu tua yang berada di sudut paling dalam ruangan.
Di sana terdapat sebuah buku yang bentuknya sangat berbeda dengan kitab-kitab lain. Sampulnya telah kusam dimakan usia, tanpa judul, tanpa nama penulis, dan seluruh permukaannya tertutup debu yang begitu tebal hingga hampir menyerupai lapisan tanah.
Yan Kai mengernyit. "Aneh... kenapa buku ini seperti sudah sangat lama tidak disentuh?"
Karena mengira buku itu hanya perlu dibersihkan seperti kitab lainnya, ia mengangkatnya perlahan. Debu-debu langsung berjatuhan memenuhi udara, dan ia meniup sisa debu yang menempel di sampulnya. Kemudian, tanpa berpikir panjang, ia membuka halaman pertamanya agar bagian dalamnya juga bisa dibersihkan.
Namun pada saat halaman pertama terbuka—
Wuuung!
Seluruh buku itu tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan yang begitu menyilaukan.
"Apa...?!"
Mata Yan Kai membelalak. Belum sempat ia bereaksi, cahaya itu berubah menjadi pusaran yang berputar semakin cepat. Ruangan lantai tiga langsung dipenuhi hembusan angin yang sangat kuat, rak-rak kayu bergetar hebat, sementara lembaran-lembaran kitab di sekitarnya berkibar liar.
Tubuh Yan Kai tiba-tiba terasa begitu ringan. "Tidak... apa yang terjadi?!"
Ia mencoba melepaskan buku itu, namun telapak tangannya seolah melekat pada sampulnya. Sebuah kekuatan misterius menarik tubuhnya ke arah pusaran cahaya.
"Tolong...!"
Yan Kai berusaha meraih rak terdekat, tetapi jari-jarinya hanya menyentuh udara kosong. Dalam sekejap, seluruh tubuhnya tersedot masuk ke dalam cahaya yang berasal dari buku kuno tersebut.
Wuuusss!
Cahaya keemasan itu menghilang secepat kemunculannya. Lantai tiga kembali sunyi, seolah tidak pernah terjadi apa pun.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!