"Selina, cepat pilih pria untuk tidur denganmu malam ini!"
Suara teriakan itu bercampur dentuman musik yang memekakkan telinga. Cahaya lampu berwarna-warni menari di langit-langit bar, membuat kepala Selina berdenyut.
Perlahan ia membuka mata.
Pandangan pertamanya adalah beberapa pria dan wanita berpakaian mewah yang sedang mengelilinginya. Wajah mereka dipenuhi senyum jahil, seolah sedang menunggu pertunjukan paling menarik malam ini.
"Kau jangan bilang ingin kabur!"
"Tidak boleh! Kau kalah taruhan!"
"Tunjuk satu pria sekarang juga!"
Selina mengerutkan kening.
Taruhan?
Ia memandang sekeliling dengan bingung.
Bukankah...
"Aku sudah mati..."
Gumamannya tenggelam di antara hiruk-pikuk musik.
Ingatannya kembali pada kecelakaan yang merenggut nyawanya. Rasa sakit itu begitu nyata hingga ia yakin tidak mungkin masih hidup.
Lalu...
Mengapa ia berada di tempat asing seperti ini?
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, sebuah suara datar bergema di dalam kepalanya.
Ding!
[Selamat datang, Tuan. Anda telah dipilih oleh Sistem Balas Dendam.]
Selina membeku.
Ia menoleh ke kanan dan kiri.
Tak seorang pun berbicara.
Suara itu terdengar jelas, tetapi seolah hanya dirinya yang mampu mendengarnya.
"Siapa kau?"
[Saya adalah Sistem Balas Dendam.]
Selina menghela napas pelan.
"Bukankah aku sudah meninggal? apa, kecelakaan itu hanya mimpi? Tapi, dimana ini?" gumamnya yang masih sedikit tidak percaya.
Sistem balas dendam? Hidup kembali? Apa ini dunia novel?
[Ini bukan mimpi. Anda telah meninggal, kemudian dipanggil ke dunia ini untuk menegakkan keadilan yang gagal ditegakkan oleh hukum dunia ini.]
Kalimat itu membuat sorot mata Selina berubah.
Semasa hidup, ia adalah seorang pengacara.
Ia rela membela korban tanpa meminta bayaran, selama masih ada kesempatan mengembalikan keadilan kepada mereka.
Karena itulah kata "keadilan" selalu berhasil menarik perhatiannya.
"Apa maksudmu?"
Belum sempat sistem menjawab, seorang wanita kembali menarik lengannya.
"Selina! Cepat! Semua orang menunggu."
Selina menoleh.
Wanita itu tampak begitu akrab dengannya.
Namun...
Ia sama sekali tidak mengenalnya.
Kepalanya tiba-tiba berdenyut.
Potongan-potongan ingatan asing membanjiri pikirannya.
Nama tubuh ini...
Selina.
Usia dua puluh dua tahun.
Mahasiswi.
Dan malam ini...
Ia kalah taruhan.
Hukuman yang diterimanya adalah menghabiskan malam bersama pria asing pilihan sendiri.
Otot rahang Selina menegang.
"Taruhan macam apa ini?"
[Taruhan yang bodoh.]
Jawaban sistem terdengar datar.
(Jadi, Tuan, apa anda tertarik untuk mengikat sistem balas dendam?)
"Kenapa aku harus mengikatnya?" tanyanya dengan wajah dingin.
Sistem masih terlihat tenang.
(Karena, hanya dengan mengikat sistem, anda akan selamat malam ini.)
[Namun, bila Anda menolak sekarang, konsekuensinya jauh lebih buruk.]
"Apa maksudmu?"
[Dalam garis waktu sebelumnya, pemilik tubuh ini memilih seorang pria yang terlihat sopan.]
Selina terdiam.
[Sayangnya pria itu memiliki kecenderungan melakukan kekerasan saat berhubungan intim.]
Jantung Selina berdegup keras.
[Tiga hari kemudian, tubuh pemilik asli ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.]
Wajah Selina langsung mengeras.
"Jadi..."
[Saya bisa membantu anda memilih pria yang tepat.]
Suasana bar masih riuh.
Namun bagi Selina, semua suara itu seakan menghilang.
Ia hanya mendengar satu kalimat.
Aku akan mati malam ini. Mati lagi.
Tangannya perlahan mengepal.
"Tidak."
Ia sudah mati sekali.
Ia tidak berniat mati untuk kedua kalinya.
"Kalau begitu, siapa yang harus kupilih?"
Suara sistem kembali terdengar.
(Jadi, Tuan, apa anda tertarik mengikat sistem balas dendam ini?)
Selina menggertakkan gigi. "Bukankah aku tidak memiliki pilihan?"
Sistem tersenyum puas.
(Baiklah, dalam hitungan tiga, sistem balas dendam akan langsung terikat dengan jiwa Tuan.)
Satu.
Dua.
Tiga.
[Selamat, sistem berhasil diikat, dan target telah ditemukan.]
Selina mengangkat kepala. Ada perasaan seperti menyengat di kepalanya saat pengikatan selesai. Seperti ada sesuatu yang lain, yang diam diam menyusul di tubuhnya. namun, ia mengabaikannya. Ada hal yang jauh lebih penting.
Tatapannya mengikuti arah yang ditunjukkan sistem.
Di sudut ruangan, seorang pria duduk sendirian.
Setelan jas hitam yang dikenakannya tampak rapi tanpa sedikit pun kerutan. Wajahnya dingin, membuat orang-orang di sekitarnya enggan mendekat.
Selina memperhatikannya tanpa berkedip.
"Dia?"
[Benar.]
"Kenapa dia?"
Tak ada jawaban dari sistem, dan hal itu membuat Selina menggertakkan gigi.
Teman-temannya kembali bersorak.
"Selina! Cepat pilih!"
“Selina,” panggil teman temannya lagi.
Seolah sudah membulatkan tekat, Selina mengangkat kepalanya. Wajah cantiknya membuat beberapa pria yang melihatnya terpesona.
“Baiklah, aku akan memilih pria itu sendiri,” ucap Selina yang membuat semua orang bersorak.
Sorakan itu membuat pria dengan jas rapinya mengerutkan kening.
“Tuan Maxim, apa anda membutuhkan teman?” tanya pelayan wanita yang sejak tadi mengagumi wajah Maxim.
Maxime yang mendengar itu memasang wajah dingin. Melihat seragam pendek yang dikenakan wanita itu, ia menatapnya tajam.
“Enyah!” usirnya tanpa berpikir dua kali.
Sementara Selina yang sejak tadi tidak mendengar instruksi apa pun lagi dari sistem dengan tegas berjalan ke arah pria berjas itu.
Jika hanya pria itu yang bisa menyelamatkannya dari kematian, untuk apa ragu?
Dengan sepatu hak tingginya, serta gaun merahnya yang mencolok membuat beberapa pasang mata menatapnya.
“Tuan, bisakah saya meminta waktu anda sebentar?” tanya Selina sopan.
Dia bahkan tersenyum tipis. Bukan senyum sanjungan, hanya senyum formal yang membuat beberapa teman Maxime yang baru saja menertawakan pelayan wanita yang diusir oleh Maxime itu tertegun.
Maxime sendiri, yang tak menyangka akan ada wanita yang berani mendatanginya itu mendongak. Baru saja ia hendak memarahinya, matanya sedikit berkedip saat bertemu dengan tatapan dalam dari wanita asing itu.
Selina yang melihat itu tersenyum. Sementara sistem yang sejak tadi sunyi tiba tiba berbicara.
[“Target terkunci!”]
(Misi Pertama, tidurlah dengan pria bernama Maxime)
“Tolong jangan tertawakan saya,” ucap Selina dengan telinga memerah.
Maxima yang melihat rona merah itu tersenyum kecil. “kenapa aku harus menertawakan mu. Tindakanmu sama sekali tidak salah. Yang salah itu, pola pikir teman temanmu. Jika kau ... ekhm ... masih p3rawan sampai saat ini, itu bukan karena kau gagal, atau kurang bergaul. Itu membuktikan kau mampu menjaga dirimu.”
Selina menunduk. Kali ini, tidak hanya telinganya yang memerah, tapi pipinya juga memiliki semburat merah.
“Kau ... kau jug berpikir seperti itu?” tanyanya hati hati.
Maxim yang mendengar itu tersenyum. Ia mengangguk. Anggukan yang membuat Selina tanpa sadar tersenyum. Senyum yang membuat Maxim tertegun, dan merasakan gejolak asing di hatinya.
Sementara itu, sistem yang melihat perkembangan hubungan tuannya dengan target misi itu bersorak penuh semangat.
[“Tuan, jangan membuang buang waktu. Cepat tarik target ke ranjang, habiskan malam bersama dengannya!”]
Namun, Selina hanya mengabaikannya tanpa memberi tanggapan.
Sistem ini menurutnya terlalu sialan. dia masih terlalu asing dengan dunia ini, dan tiba tiba diberitahu jika tanpa tidur dengan pria asing di depannya, dia akan mati.
“Sekali lagi saya ucapkan terimakasih, Tuan,” ucap Selina dengan wajah sedikit malu.
Maxiam mengangguk. Ia melonggarkan dasinya. Entah mengapa, tubuhnya tiba tiba terasa panas.
“Anda jangan khawatir, setelah saya memastikan teman teman saya sudah pergi, saya akan pindah ke kamar yang lain,” lanjutnya sungguh sungguh.
Maxim tak terlalu mendengarnya. Kepalanya sedikit berdengung. Matanya tanpa sadar menatap ke arah bibir merona milik Selina yang bergerak itu.
Melihat bibir itu, tenggorokannya terasa kering.
“Ekhm, saya izin ke kamar mandi terlebih dahulu, tuan. Jika anda lelah, anda bisa beristirahat di ranjang, saya pastikan, saya tidak akan mengganggu privasi anda,” ucapnya sungguh sungguh.
Tak menunggu jawaban Maxim, selina langsung bergegas.
Maxim yang tak mendengar apa pun yang dikatakan Selina, namun melihat wanita yang sejak tadi menarik untuknya itu mengerutkan kening.
“Jangan pergi,” ucapnya yang tiba tiba menggenggam pergelangan tangan selina.
Selina yang terkejut dengan tarikan di pergelangan tanganya itu mengerutkan kening. Namun, sebelum ia sempat bereaksi, tubuhnya lebih dulu di dekap, membuat matanya melebar dan sedikit meronta.
“tuan, apa yang Tuan lakukan?” tanyanya dengan suara cemas.
Maxima mengendus aroma tubuh Selina, membuat Selina semakin kuat meronta.
Sistem yang melihat itu mengingatkan.
[“Tuan, jangan menolaknya. Obat itu sudah bekerja, anda harus cepat menarik target ke ranjang dan segera menyelesaikan misi pertama.”] peringat sistem saat melihat selina yang meronta.
Selina yang mendengar kata obat bius juga terkejut.
"Sial, kau tidak pernah memberitahuku tentang obat bius ini. Apa kau ingin aku menjadi korban pelecehan?" raungnya kesal dalam hati.
Namun, sistem tak lagi bersuara. Hanya ada keheningan tanpa jawaban.
“Tuan_”
“Maxim, panggil aku Maxim,” bisik Maxim dengan bibir mengecup tulang selangka Selina. Pria itu terlihat benar benar kehilangan kendali.
Tubuh selina menegang. Matanya membola seperti boneka. Membuat Maxim yang kebetulan mendongak semakin tidak bisa mengendalikan diri.
“Ma .. Maxim,” panggil Selina dengan suara gugup.
“Yah, panggil aku seperti itu,” ucap Maxim dengan suara sangau.
Tubuh Selina menggigil. Maxim sendiri yang merasa kepuasaan yang belum pernah ia rasakan semakin mengeratkan pelukannya pada Selina.
“Maxim, kita tidak bisa melakukan ini,” bisik selina dengan suara serak.
Ia bahkan mendorong pelan tubuh maxime. Dorongan yang membuat tubuh maxima bergejolak, dan keinginan untuk menaklukan wanita di pelukannya semakin menguat.
“Kenapa?” tanya Maxim dengan suara serak.
Selina tak memiliki jawaban. Ia menggigit bibir bawahnya kuat, menatap Maxime dengan tatapan malu bercampur takut.
“Kita ... kita tidak saling mengenal,” jawabnya akhirnya.
Mata Maxime menyipit. Ia mengangkat Selina, membuat Selina dengan cepat melingkarkan kedua kakinya di pinggang Maxime erat dan menjerit pelan.
“Kau ....”
Suara gugup ditambah ketakutan di sana membuat Maxime terkekeh. Ia mempercepat langkah kakinya. Membawa Selina ke atas ranjang dan memprangkap tubuh wanita itu.
“Kalau begitu, mulai saat ini, kita berkenalan,” bisiknya yang membuat mata Selina berkedip.
“Aku Maxime,” lanjutnya dengan suara serak diikuti dengan tangan yang mengelus lehernya pelan, penuh sensual.
Mulut selina terbuka, sedetik kemudian tertutup. Matanya bertemu dengan mata Maxime yang membara.
“Tetap, kita tidak bisa,” ucap Selina tergagap.
Tangannya berusaha mendorong tubuh Maxim menjauh, membuat Maxime mengerutkan kening merasa tak nyaman.
Melihat celah itu, selina menambah kekuatannya. Membuat maxim mundur dan sistem berteriak.
[“Tuan rumah, kenapa kau mendorongnya. Ingat, kelangsungan hidup anda juga tergantung pada keberhasilan misi ini.”]
Selina yang mendengar itu menggertakkan gigi.
Terlebih, melihat Maxime yang tampak diam dengan tangan mencubit pangkal hidungnya kuat. Wajahnya terlihat semakin memerah, dengan nafas yang terdengar memburu.
“Maxime, apa ... kau baik baik saja?” tanya selina hati hati.
Namun, maxime yang mendapatkan sedikit kendali dan kesadarannya menggelengkan kepala.
“Pergi,” perintah Maxime dingin. Seolah ia menyadari jika ada yang tidak beres dengan tubuhnya.
Namun, alih alih pergi, rasa khawatir, dan pengingat sistem membuat selina malah mendekat.
“Maxime, wajahmu memerah. Apa kau demam?” tangan Selina dengan lembut menyentuh pipi Maxime, membuat Maxime yang merasakan tangan dingin itu tersentak dan menatap tajam Selina.
Selina yang melihat tatapan mata itu ketakutan. Ia segera menjauhkan tangannya, namun, terlambat.
Maxime dengan cepat mencengkram tangan wanita itu, membuat selina dengan gugup menelan ludahnya sendiri dan menatap Maxime dengan tatapan khawatir bercampur malu.
“Selina, sepertinya ada yang membiusku,” gumam Maxime yang membuat Selina pura pura terkejut.
“Membiusmu?”
Maxime memejamkan mata. Ia semakin mengeratkan cengkraman tangannya pada Selina, membuat wanita itu meringis kesakitan.
“Biskah kau membantuku?”
Pertanyaan itu membuat Selina sedikit linglung . Alih alih memaksanya seperti tadi, Maxime malah meminta izin.
Matanya menatap Maxim yang kini juga menatapnya.
“Ini .... tapi kita ....” selina bahkan tidak bisa melanjutkan kata katanya.
Hanya dengan melihat wajah maxime yang kesakitan, dan bagaimana Maxime yang menatapnya penuh harap, ia kehilangan kata kata.
“selina,” panggil maxime lagi.
Kali ini, tidak ada paksaan.
(Tuan, percayalah, Maxime pria baik. Dan pilihan sistem tidak pernah salah) pengingat sistem.
Selina mengangguk dengan kepala tertunduk. Membuat Maxime yang sejak tadi menahan diri seperti serigala yang terlepas dari kandangnya.
Dengan gesit menarik selina, menerkam wanita itu dan membuat Selina sedikit kewalahan.
“Max ... Maxime, jangan menggigitnya,” bisik Selina dengan suara tercekat saat bibir maxime mengecup setiap jengkal wajahnya, dan menggigit tulang selangkanya.
Saat pakaian di tubuhnya benar benar terlepas, dan Maxime manatap tubuh mulusnya dengan tatapan membara, wajahnya merah padam.
“Jangan menatapku seperti itu,” cicit Selina yang membuat maxime langsung menatapnya.
Wajahnya masih semerah tadi. Hanya saja, ada kepuasan di sana.
“Kenapa? Biarkan aku menganggumi pemandangan indah ini sebentar lagi, sebelum aku memilikinya,” bisik Maxime yang membuat Selina semakin tersipu.
“Max,” lirih Selina yang membuat Maxime terkekeh.
Sedetik kemudian, sentuhan hangat dan basah menyentuh titik paling sensitifnya. Membuat selina menggigit bibirnya kuat kuat, dan berharap bisa menahan suara des*hannya itu.
“Jangan menggigitnya. Biarkan aku mendengar suaramu,” bisik Maxime.
Selina menggelengkan kepala. Namun, tangan Maxime yang menganggur dengan lembut membelai bibirnya, kemudian memasukkan jarinya agar gigi gigi kecil itu tidak menyakiti bibir wanita itu.
“Gigit tanganku saja,” bisiknya dengan nafas memburu.
Selina yang merasakan tangan panas milik Maxime menguasi mulutnya tertegun. Namun, matanya berubah melebar saat ia melihat cincin yang melingkar di jari manis Maxime.
Maxime sendiri, pria itu benar benar terhanyut dalam aksinya. Saat matanya melihat area tersembunyi milik Selina, yang hanya ditumbuhi bulu halus di sana, bahkan tidak akan terlihat jika tidak disentuh langsung menelan ludah.
Tubuh pribadinya yang sudah terasa panas dan sesak sejak tadi kian meronta. Membuat ia yang awalnya ingin menikmati wanitanya dengan lembut dan pelan kehilangan kendali. Segera, fokusnya beralih.
Tubuhnya Dengan gesit masuk ke tengah tubuh Selina, membuat Selina yang masih tertegun dengan cincin manis itu segera tersadar saat merasakan benda asing yang mulai mengetuk daerah pribadinya yang belum tersentuh siapa pun.
“Tidak! Kita tidak bisa melakukannya!” teriak Selina keras.
Namun, Maxime sama sekali tak peduli. Pengaruh obat itu terlalu berat, ditambah kekagumannya pada tubuh wanita di bawahnya membuat ia benar benar kehilangan kendali.
Tanpa ragu, ia menyentak masuk, membuat Selina yang masih ingin berusaha mencegah hubungan itu menjerit kesakitan.
“Sekarang, kau benar benar menjadi wanitaku,” bisik maxime merasakan kepuasan yang luar biasa saat ia berhasil membuka segel itu.
("Selamat, misi pertama selesai.")
[“Tuan, kenapa kau meninggalkan pria itu. Seharusnya, kau tetap di sana, sampai pria itu bangun. Biarkan dia menyadari apa yang dia lakukan, dan bertanggung jawab padamu.”]
Selina yang sedang bersandar di kursi dan menikmati segelas susu hangat itu tampak marah.
"Kau baru saja memintaku tidur dengan pria beristri."
Sistem terdiam.
Selina mengepalkan tangan.
"Aku seorang pengacara."
"Aku menghabiskan seluruh hidupku membela korban perselingkuhan, kekerasan, dan penipuan."
"Lalu sekarang kau memintaku menjadi orang ketiga?"
Nada suaranya semakin dingin.
"Kalau ini yang kau sebut keadilan..."
"...aku menolak."
Keheningan menyelimuti beberapa detik.
Kemudian...
Suara sistem kembali terdengar.
[Permintaan penolakan ditolak. Anda sudah terikat dengan sistem, dan anda tidak bisa menolak perintah sistem begitu saja)
Selina mencibir.
"Aku tidak peduli. Bahkan, jika aku berakhir harus kehilangan nyawaku, aku tidak peduli."
"Aku tidak akan menghancurkan rumah tangga orang lain."
[Lalu, bagaimana jika saya memberitahu Tuan jika apa yang anda lakukan tidak lah salah.]
Selina sama sekali tak peduli. namun, sedetik kemudian sebuah layar transparan perlahan terbuka.
Bukan berisi misi.
Melainkan...
Foto-foto.
Nama-nama.
Dan berkas kematian.
Selina mengerutkan kening.
[“Target balas dendam anda adalah Helena. Dia kakak kandung anda saat ini. Semasa hidup, Helena sudah melakukan berbagai kejahatan. Bahkan, di usianya yang berumur tujuh belas tahun, dia sudah menghancurkan pernikahan mentornya. Membuat istri mentornya meninggal bersama janin yang dikandungnya saat mengetahui perselingkuhan mereka.]
Rahang Selina mengeras. Pandangannya bahkan menggelap. Namun, ia mencoba tenang.
"Bagaimana jika data yang kau berikan itu palsu?" tanyanya sambil mengetuk meja cafe.
namun, alih alih menjawab, sistem malah memunculkan bukti baru.
[“Tidak hanya itu, saat dia menjadi mahasiswa, ia memiliki seorang sahabat. Dia berasal dari keluarga kaya, memiliki banyak pelamar hingga akhirnya menikah dengan pria yang menjanjikan. Namun, karena Helena yang dari awal membenci sahabatnya itu, ia sengaja merayu suami sahabatnya itu, sehingga membuat pernikahan mereka hancur. Tidak hanya itu, saat sahabatnya memutuskan untuk bercerai, dan menyerahkan mantan suaminya pada Helena, alih alih menyerah, Helena malah semakin membenci sahabatnya.”]
Tangan Selina mengepal. Bukti bukti yang diberikan sistem terlalu nyata, namun ia benar benar tidak ingin merasa tertipu seperti semalam.
[“Saat sang sahabat menikah untuk kedua kalinya, dengan pria yang jauh lebih menjanjikan dibanding mantan suaminya, Helena kembali berulah. Kali ini, ia tidak hanya menggoda suami sahabatnya itu, bahkan dengan sengaja menghasut suami sahabatnya untuk membunuh sahabatnya dengan imbalan pernikahan dengannya. Namun, setelah suami sahabatnya membunuh istrinya sendiri, alih alih menikahinya, Helena malah memanggil polisi, mengatakan jika sahabatnya dibunuh oleh suaminya, dan melemparkan semua kejahatannya pada pria itu hingga membuat pria itu berakhir gila di penjara.”]
Nafas Selina naik turun, pertanda emosinya sedang mempermainkannya. Jika semua data ini benar, wanita bernama Helena benar benar menjijikan. Namun, ia benar benar berusaha menahan diri.
"Karena ini, kau memintaku untuk tidur dengan suaminya?"
【Karma tidak mengambil nyawa. Karma mengambil apa yang paling dicintai pelakunya.】
Sistem melanjutkan.
[Helena menghancurkan rumah tangga orang lain untuk memperoleh kepuasan.]
[Karena itu, hukuman yang paling setara adalah kehilangan rumah tangganya sendiri.]
Selina terdiam cukup lama.
(Tuan, saya tahu mungkin anda tidak mempercayai saya, tapi Tuan bisa menilai wanita itu secara langsung saat bertemu. Dengan pengalaman anda sebagai pengacara, saya yakin, anda akan langsung melihat karakter seseorang)
Setelah mengucapkan itu sistem kembali menghilang. Hal itu membuat Selina menggertakkan gigi karena marah.
Entah marah karena sistem tidak menjelaskan semuanya secara langsung dari awal, dan membuatnya serasa tertipu, atau karena kejahatan wanita bernama Helena.
***
Sementara itu, di dalam hotel, Maxime yang baru saja bangun dan langsung melihat kekacauan di kamarnya tertegun.
Ingatan malam panas antara ia dan wanita asing bernama Selina membuat kepalanya terasa berat, ditambah, surat yang yang baru ia temukan dari Selina.
[“Tuan, aku benar benar minta maaf. Aku tidak tahu anda sudah menikah. Jika saya tahu, saya tidak akan pernah meminta bantuan anda malam itu. Aku harap, kita bisa melupakan malam ini, dan ... lebih baik kita berpura pura tidak saling mengenal nanti.”]
Secercah rasa bersalah tidak bisa ia tahan. Bukan hanya pada Selina, tapi pada istrinya yang belum pernah ia temui.
“Apa yang harus aku lakukan,” gumamnya merasa pusing.
Terlebih, saat ia mengingat dengan jelas jika malam itu adalah malam pertama wanita itu, dan juga malam pertamanya.
Ia juga teringat, di tengah tengah pergumulan mereka, wanita itu kembali menolak. Sepertinya, wanita itu sadar jika ia sudah memiliki istri.
“Sial, aku benar benar menghancurkan kehidupan gadis kecil,” gumamnya yang teringat jika wanita itu masihlah seorang remaja berusia delapan belas tahun.
Drt ... Drt ...
Suara getaran ponsel membuat Maxime langsung tersadar. Ia menunduk, melihat nama Helena di sana, tubuhnya tiba tiba menegang.
[“Maxime, aku dengar, kau kembali hari ini. Apa aku perlu menjemputmu di bandara?”]
Melihat pesan itu, rasa bersalah kembali mucul.
“Bagaimana jika dia tahu, suaminya sudah tidur dengan wanita lain,” gumamnya pelan.
Drt ... Drt ...
Suara getaran kembali muncul. Kali ini bukan sebuah pesan, melainkan panggilan masuk.
Melihat nama mamanya yang tertera di sana, wajahnya yang muram semakin muram.
“Iya, Ma.”
“....”
“Hmm, aku akan pulang sekarang juga. Jangan khawatir.”
Setelah menutup panggilan itu, maxie kembali melalukan panggilan. Kali ini pad asistennya.
“Tolong selidiki apa yang terjadi semalam. Selidiki, semua orang yang hadir malam itu.”
“....”
“Satu lagi, siapkan hadiah mewah untuk istriku.”
Setelah itu, ia mematikan sambungan telfonnya. Matanya kembali melirik ke arah noda di seprai putih itu. Mengingat kembali malam panas itu, perasaannya kembali rumit.
“Aku tidak bisa mengulangi kesalahan ini lagi. Aku akan menebusnya,” putusnya akhirnya.
Ya, seperti yang dikatakan Selina dalam surat itu. Mari kita lupakan malam itu. Menganggap jika malam itu tidak pernah ada.
“Aku akan memperlakukan Helena jauh lebih baik,” gumamnya merasa jika ia harus menebus kesalahannya pada istrinya itu.
***
“Apa kau berhasil semalam? Katakan, pria seperti apa yang mendapatkan keper4wananmu. Apa ia sekuat itu?” tanya Helena tepat saat Selina muncul.
Selina yang melihat penampilan Helena yang terlihat lembut menatap wanita itu penuh penilaian.
“Kenapa? Apa pria itu kurang bagus di ranjang? Apa perlu kakak carikan pria yang sudah teruji?”
Pertanyaan itu langsung dibalas dengan gelengan kepala.
“Tidak, tidak perlu. Dia ... baik baik saja,” tolak Selina seadanya.
Helena menatap adiknya dengan pandangan curiga. “Tidak ada yang kau tutupi kan?”
Selina menggelengkan kepala. “Tidak, tidak ada. Sejak kapan aku bisa menutupi sesuatu dari kakak. Bahkan, jika aku kehilangan satu celana dalam, kakak pasti akan mengetahuinya,” jelasnya dengan wajah cemberut. Ia baru saja mendapatkan detail ingatan tentang hubungannya dengan Helena. Dan seperti ini lah sikap Selina asli pada kakaknya.
Helena yang melihat itu mengangguk. Ya, tidak ada yang bisa lepas dari pengamatannya.
“Lalu kenapa dengan ekspresimu. Apa ada masalah?”
Selina tampak ragu sejenak.
(Tuan, anda bisa menguji Helena saat ini. setelah itu, anda akan tahu, apa data data yang saya berikan benar atau salah.)
Melihat wajah Helena, dan bagaimana ketergantungan pemilik asli pada kakaknya itu, ia tanpa ragu menceritakan semuanya.
Helena yang mendengar itu terdiam. Sedetik kemudian, ia menyeringai.
“Kalau begitu, rebut saja dia dari istrinya,” ucap helena tanpa bersalah.
Selina terkejut. Matanya menatap Helena yang tampak sungguh sungguh dengan kata katanya itu.
“Ini ... bukankah itu tidak baik. Aku akan menjadi wanita simpanan.”
Mata Helena melotot. “Siapa yang kau maksud simpanan. Hanya wanita yang tidak dicintai yang disebut simpanan.”
Selina menunduk ketakutan. Selama ini, karakter pemilik asli akan selalu patuh dan takut pada kakaknya. Bahkan, kejadian semalam tak luput dari campur tangan kakaknya yang ingin adiknya cepat menjadi dewasa.
namun, hanya dia yang tahu, ia menunduk karena ingin menyembunyikan emosi di matanya.
“Kalau kau menyukai pria itu, rebut dia. Omong kosong dengan kata simpanan. Selama kalian saling mencintai, itu sudah cukup!” tegas Helena yang tak pernah tahu jika pria yang disebutkan Selina adalah suaminya sendiri.
Pria yang tak pernah bisa ia taklukan, dan hanya bisa ia taklukan dengan sebuah pernikahan bisnis saja.
“Nyonya, tuan sudah kembali,” lapor kepala pelayan yang sejak tadi sudah diberi perintah oleh Helena untuk memberitahu dia jika Maxime kembali.
Wajah Helena yang awalnya tegas berubah melembut. Senyum manis pun tersungging, berbeda dengan tatapan tegasnya tadi.
“Oh, aku akan menyambutnya,” ucapnya yang langsung berdiri.
Selina yang sejak tadi menunduk perlahan mendongak. Matanya menatap punggung punggung Helena.
“Maxime,” sapa Helena lembut.
Wajahnya terlihat lemah lembut, membuat Maxime yang sudah melupakan wajah istrinya sendiri tertegun.
Bukan karena kecantikannya, melainkan, karena bentuk mata wanita itu yang cukup mirip dengan bentuk mata Selina.
Helena yang melihat Maxime menatapnya terus terusan diam diam tersenyum puas.
“Apa ada yang salah dengan wajahku?” tanya Helena dengan ekspresi bingung.
Maxime yang tersadar itu mengerjap. Ia menggelengkan kepalanya, kemudian berdahem.
“Tidak, ayo masuk.”
Helena tersenyum. Ia mengikuti Maxime dari samping. Kemudian dengan lembut bercerita tentang enam bulannya tinggal di sini.
Namun, saat mereka memasuki ruang tamu, langkah Maxime terhenti. Helena yang masih ingin berbicara itu tampak kebingungan. Baru setelah ia melihat Selina yang berdiri mematung di tempatnya, dan Maxime yang juga memiliki ekspresi sama ia tersenyum.
“Oh ya, dia adikku. Selina. Karena ia akan kuliah di kota ini, dia akan tinggal di sini untuk sementara. Maaf, aku tidak memberitahumu sebelumnya. Kau tidak keberatan kan?” tanya Helena hati hati, tanpa menyadari jika mata Maxime tampak berkabut saat bertemu dengan tatapan Selina, terlebih saat melihat bekas merah di sekitar lehernya itu.
(Misi selanjutnya, taklukan Maxime, buat dia jatuh cinta dan hancurkan Helena)
(Biarkan Helena merasakan apa yang dirasakan wanita wanita yang kehidupannya dia hancurkan di masa lalu)
(Pengingat, Tuan tidak boleh mengubah karakter Selina asli, dan membuat Helena curiga.)
(Tetaplah menjadi adik polosnya, yang tampak bergantung pada kakaknya, Helena)
Selina yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat kelopak matanya.
"Misi diterima."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!